romantis

Love Between Us – Part 6 (Kencan)

13393495_138956389842909_724156509_nLove Between Us

 

Hayy.. Met pagi.. pagi2 di temani dengan pasangan manis ini.. wkwkkwkwk ayooo enjoy reading ya… 🙂

 

PART 6

-Kencan-

 

Sore harinya, Denny pulang sedikit telat karena lagi-lagi pekerjaan yang menumpuk. Sesampainya di rumah kontrakan, direbahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. kemudian ia melihat sebuah bingkisan yang tadi siang diberi Aira. Penasaran Denny akhirnya membuka bingkisan tersebut. Ia membulatkan matanya ketika mendapati apa yang ada dalam bingkisan. Sebuah T-shirt yang bertuliskan kata-kata alay ala anak muda jaman sekarang. Denny mengangkat sebelah alisnya, tidak. Ia tidak mungkin menggunakan T-shirt itu malam minggu nanti. Akhirnya Denny merogoh ponsel dalam sakunya untuk menghubungi Aira.

 

“Halo sayang..” Suara lembut Aira benar-benar menyejukkan hatinya.

 

“Hai..” hanya itu yang bisa di ucapkan Denny. Memang ia sendiri tidak tau, kenapa setiap kali dekat dengan Aira tidak bisa berkata banyak. Bukan karena sikapnya yang memang pendiam, tapi entah seperti ada sesuatu yang menahan suaranya di tenggorokannya.

 

“Sudah pulang?? Sudah makan belum?? Kamu lagi apa?? Tumben telepon duluan.” Denny tersenyum ketika mendapati suara cerewet Aira yang sama sekali tidak menghilangkan sedikitpun nada manjanya.

 

“Aku sudah di rumah dan sudah makan di jalan tadi. Aku sudah membuka bingkisan yang kamu berikan tadi siang. Aku menelepon karena aku menolak memakainya.” Jawabnya kemudian. Jika di ingat-ingat, ini adalah kalimat terpanjang yang pernah di ucapkan oleh Denny sepanjang mereka menjalin hubungan.

 

“Kenapa nggak mau pakai??”

 

“Ini terlalu berlebihan Aira. Aku nggak mau terlihat seperti anak alay.”

 

“Itu bukan alay, Denny. Ya ampun, kamu jangan terlalu kaku. Itu adalah T-shirt couple, aku juga nanti akan memakai yang sama denganmu.”

 

“Aku tetap nggak mau.”

 

“Kalau kamu nggak mau, aku nggak akan ngasih hadiah yang spesial lagi buat kamu.”

 

“Hadiah spesial?? Memang hadiah apa lagi??” Denny tampak tertarik dan penasaran dengan apa yang di siapkan Aira untuknya.

 

“Ada saja, pokoknya kamu di wajibkan pakai T-shirt itu!. kalau nggak aku akan marah.” Omelnya. Denny lagi-lagi tersenyum ketika mendengar suara Aira yang di buat merajuk.

 

“Baiklah, aku akan memakainya.” Ucap Denny sambil menghela napas panjang. Astaga.. Aira benar-benar membuat hatinya luluh.

 

“Yeeyy…. Terimakasih sayang…” Sahutnya girang dan tidak lupa suara Aira yang manja benar-benar membuat Denny gemas sendiri.

 

“Aira…”

 

“Iya..”

 

“Aku….” Denny ingin mengucapkan sesuatu, tapi ia tampak ragu. “Aku mau mandi dulu sudah dulu yaa.” Akhirnya hanya itu yang dapat diucapkannya.

 

“Baiklah, nanti aku telepon lagi”

 

“Iyaa..” Mereka mengakhirinya telepon pun di tutup.

 

Denny kembali menyandarkan tubuhnya disandaran sofa ruang tamunya. Jantungnya berdegup kencang seakan ingin meledak. Ia ingin mengatakan kalimat itu pada Aira, tapi entah kenapa semuanya terasa tercekat di tenggorokan. Ia gugup setengah mati bahkan ketika berbicara di telepon dengan Aira. Kenapa bisa begini?? Dulu saat dengan Adelia, Denny tidak merasakan perasaan yang meletup-letup seperti saat ini. Kenapa dengan Aira berbeda?? Kenapa Gadis itu seakan sangat mempengaruhi dirinya??.

 

***

 

Aira melemparkan diri di atas ranjang besarnya. Senyumnya tidak pernah hilang dari wajah cantiknya. Denny, Pemuda itu benar-benar membuatnya merasakan perasaan yang dulu pernah Ia rasakan pada sosok Wisnu. Perasaaannya selalu berbunga-bunga hanya karena mendengar suara Pria itu.

 

Aira bangun dari ranjangnya lalu menuju ke lemari pakaiannya. Ia meraih sebuah T-Shirt yang baru di belinya kemarin. T-Shirt kembaran yang diberikan pada Denny tadi siang.

Aira memeluk T-shirt itu sambil tersenyum sendiri. Ia membayangkan Denny yang kaku mengenakan T-shirt tersebut. Ahh pasti sangat lucu dan menggemaskan. Aira bertekad, bagaimanapun juga ia harus mengubah Denny yang datar dan dingin seperti kutub itu menjadi Denny yang lebih hangat jika berhadapan dengannya.

 

Saat Aira sedang asik menghayalkan dirinya dengan Denny, Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Apa Denny meneleponnya lagi?? Sepertinya tidak mungkin. Pria itu sangat kaku, ia tidak akan menelepon jika tidak penting. Aira meraih ponselnya dan mengernyit saat melihat nomor baru sebagai pemanggil. Ia mengangkat telepon. Aira benar-benar menyesal telah mengangkatnya, karena ternyata si penelepon tersebut adalah orang yang sangat di bencinya.

 

“Aira..” Mendengar suara si penelepon saja, wajah Aira sudah berubah menjadi muak. Ya.. Ia benar-benar muak dengan Wisnu untuk apa lagi Pria sialan itu mengganggunya??.

 

“Wisnu?? Dari mana kamu dapat nomerku??” Tanya Aira dengan marah.

 

“Tidak penting, yang terpenting aku ingin bertemu denganmu Aira.”

 

“Maaf Wisnu, aku tidak bisa.” Ia malas menjawabnya.

 

“Aira.. Aku sayang sama kamu.”

 

“Kamu cuma sayang sama hartaku Wisnu!!.” Ucap Aira telak. Jika Wisnu tau diri, ia akan sakit hati dan tidak akan menelepon lagi. Pikirnya.

 

“Itu dulu Aira. Please.. kasih aku kesempatan kedua. Aku sudah kerja jadi aku tidak lagi mempermasalahkan tentang hartamu.” Aira ingin muntah mendengarnya. Menurutnya Wisnu dulu dan sekarang sama saja matre.

 

“Maaf Wisnu, aku sudah ada yang lain.” Dan setelah kalimat itu, Aira menutup teleponnya. Ia kembali meraba dadanya tepat pada jantungnya yang tidak berhenti berdegup kencang. Aira tidak dapat memungkirinya bagaimanapun juga ia pernah sangat mencintai Wisnu, menyayangi Pria itu dengan tulus. Meskipun kini rasa cintanya tersebut berubah menjadi rasa benci. Aira tidak bisa mengelak jika ia masih sedikit gugup saat berhadapan dengan Wisnu.

Ia hanya bisa meenghela napas panjang. Ah.. Semoga saja Wisnu tidak mengganggu hubungannya dengan Denny nanti.

 

***

 

Malam minggu itu pun akhirnya tiba juga. Denny menghadap bayangan didepannya. Seorang Pria dengan wajah tampan tapi mengenakan T-shirt berwarna putih dengan tulisan “Mr” yang diatasnya terdapat kuping seperti micky mouse. Baginya itu sangat menggelikan. Denny bahkan enggan menatap bayangan sendiri di cermin besar di kamarnya. Bagaimana mungkin seorang Aira bisa memaksanya mengenakan T-shirt seperti ini???. Sembari merutuki dirinya sendiri, Denny menyambar jaket miliknya dan mengenakannya setidaknya T-shirt itu akan tertutup dengan jaket yang kenakannya.

 

Setelah siap dan memastikan dirinya sudah rapi. Denny akhirnya meluncur menuju ke rumah Aira. Semoga saja Ayah Aira nanti tidak bertanya macam-macam terhadapnya. Tiba dirumah Aira seperti biasa Denny mendapat tatapan membunuh dari Rizky, Ayah Aira. Tentu ia tau kenapa Rizky selalu menatapnya seperti itu. Mungkin karena Rizky memang sangat perhatian ingin melindungi puteri manjanya.

 

“Haii…” keceriaan Aira seketika mencairkan suasana yang menegangkan di antara Denny dan Rizky.

 

“Hai…” hanya itu yang dapat di ucapkan Denny. Ia terlalu terpesona dengan apa yang dikenakan Aira. T-Shirt yang sama dengannya ditambah celana jeans ketat khas anak muda yang membuat Aira terlihat casual namun tetap cantik dan mempesona.

 

“Ada yang salah dengan apa yang aku kenakan??” Tanya Aira sambil menatap dirinya sendiri. Denny menggelengkan kepalanya.

 

“Kamu terlihat sangat cantik.” Tanpa sadar Denny mengucapkan kalimat tersebut hingga membuat Rizky membulatkan matanya.

 

Rizky benar-benar tidak suka dengan cara Denny memandang Aira. Seakan-akan dalam matanya tersirat sebuah keinginan dasar yang di miliki oleh setiap Pria ketika melihat Wanita yang di cintainya. Apa Denny mencintai Putri nya dengan tulus hingga ia dapat menunjukkan tatapan memuja pada diri Aira???

 

‘Ehhheemmm..’ Akhirnya berdehem adalah satu-satunya cara Rizky untuk membuat Denny berhenti menatap Aira seperti seekor singa yang sedang kelaparan.

 

“Ayah, kami berangkat dulu yaa.”

 

“Jangan lupa ajak Indra.”

 

“Nggak, Ayah gimana sih. Aku mau kencan masa iya Indra ikut.”

 

“Aira…” Rizky memelototi putrinya yang mulai membantah.

 

“Maaf Om.” Denny memotong kalimat Rizky. “Kali ini ijinkan saya yang menjaga Aira.”

 

“Kamu yakin bisa menjaganya??” Tanya Rizky dengan nada meremehkan.

 

“Saya yakin Om, Aira akan pulang tanpa satu kekurangan apapun.”

Rizky tampak berpikir sejenak. Sebenarnya ia masih tidak percaya dengan Denny. Terlepas dari sikap Denny selama ini yang selalu sopan, Rizky hanya takut jika puteri tersayangnya kembali di kecewakan oleh Pria seperti kejadian yang dulu sempat menimpa Aira.

 

“Ayah, bukannya Ayah janji mau Denny kesempatan??” Aira merengek.

 

“Baiklah” Hanya itu jawaban Rizky tapi mampu membuat Aira bersorak karena senang. Secepat kilat Aira menggandeng lengan Denny, lalu berpamitan dengan sang Ayah dan Mamanya. Setelah itu dengan cepat Aira mengajak Denny pergi. Ia takut jika sang Ayah berubah pikiran.

 

“Indra..” Rizky memanggil pengawal Aira yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari pintu ruang tengah.

 

“Iya Pak??”

 

“Ikuti mereka.” Ucap Rizky dengan datar. “Tapi jaga jarak, jangan sampai mereka tau kalau sedang di awasi.”

 

“Baik Pak.” Dan Indra pun mengikuti kemana Denny dan Aira pergi.

 

***

 

“Kenapa kita tidak menggunakan mobil??” tanya Aira sedikit lebih keras, takut jika Denny tidak mendengar suaranya.

 

“Pakai motor lebih enak,”

 

“Apa yang membuatnya enak??” Tanya Aira kemudian. Denny kemudian meraih sebelah tangan Aira dan menariknya kemudian membawanya tepat di perutnya sendiri. “Saat naik Motor kita bisa lebih dekat.”

Ucapan Denny benar-benar membuat wajah Aira merah padam. Ternyata Denny bisa bersikap romantis juga, mengingat itu iabtersenyum senang. Tanpa sungkan lagi Aira membawa satu tangannya yang lain untuk memeluk perut Denny dari belakang.

 

“Ku pikir hanya aku yang ingin kita supaya semakin dekat.” Ucap Aira kemudian. “Bagaimana nanti kalau hujan??”

 

“Kita bisa berteduh dipinggiran toko.”

Aira terkikik geli membayangkan hal tersebut. “Sepertinya itu romantis.” Kemudian Aira menatap pakaian yang dikenakan Denny. “Kenapa kamu pakai jaket?? Kan T-shirt nya jadi tidak terlihat.” Gerutu Aira.

 

“Malam ini dingin.” Denny mencoba memberi alasan.

 

“Bohong, bilang saja kalau kamu malu menggunakannya.” Denny tersenyum.

 

“Aira, ini sungguh menggelikan untukku.”

 

“Pokoknya aku nggak mau tau. Nanti harus dibuka jaketnya.” Kata Aira dengan manja. Denny menghela napas panjang. Sepertinya lagi-lagi ia tidak mampu menolak permintaan Gadis manja yang kini sedang memeluknya tersebut.

 

“Baiklah, aku akan melepas jaketku nanti.” Ucap Denny dengan pasrah. Sedangkan Aira yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya akhirnya memeluk tubuh kekasihnya semakin erat lagi.

 

***

 

Tujuan mereka adalah sebuah taman hiburan. Entah kenapa Aira ingin sekali mengajak Denny ke sana. Sedangkan Denny hanya bisa menuruti kemauan Aira, ia mengikuti kemanapun kaki mungil Aira melangkah.

 

“Aku mau main itu” tunjuk Aira pada sebuah wahana.

 

“Tidak, itu bahaya.”

 

“Aissh, kamu seperti ayahku saja. Pokoknya kita naik itu.” Aira benar-benar tidak ingin di larang. Denny hanya bisa mengikutinya. Akhirnya mau tidak mau ia pun ikut menaiki Wahana yang terbilang ekstrim tersebut.

 

Lama keduanya saling mencoba beberapa Wahana yang menurut mereka menarik. Aira terlihat begitu antusias sedangkan Denny biasa-biasa saja. Padahal sebenarnya sejak tadi jantungnya tidak bisa berhenti berdetak cepat karena kedekatannya dengan Gadis itu. Aira benar-benar tidak sungkan lagi merangkul Denny kesana kemari. Denny sendiri masih terlihat sedikit kaku dan menahan diri.

 

“Denn, Aku mau itu” Tunjuk Aira dengan manja sambil menuju ke penjual ice cream.

 

“Ayo kita beli.”

 

Duduk santai di sebuah bangku yang di sediakan taman hiburan tersebut dengan menikmati ice cream di tangan masing-masing di tengah-tengah hiruk pikuknya pengunjung taman hiburan.

 

“Kenapa kamu memilih taman hiburan sebagai kencan pertama kita??”

 

Aira tersenyum. “Taman hiburan seperti dunia impian, begitu pun dengan kamu. Kamu seperti dunia impian bagiku. Jadi aku pikir, membawamu kemari adalah hal yang sangat tepat. Aku seperti berada di dunia mimpi, sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.” Denny menatap lekat Aira dengan lembutnya. Gadis di hadapannya sungguh mempesona untuknya. Dengan wajah cantik bercampur dengan ekspresi manja yang khas. Ia menelan ludahnya dengan susah payah.

 

“Aira.” Panggil Denny dengan serak.

 

“Iya…”

 

“Bolehkah aku menciummu??” Aira terbelalak mendengar permintaan Denny. Pria itu meminta ijin?? Lalu bagaimana ia akan menjawabnya???.

 

***

 

Aira menelan ludahnya dengan susah payah, kini dirinya lah yang bingung harus menjawab apa. Apa harus memperbolehkan Denny?? Atau menolaknya?? Ahh kenapa juga sih Denny pakai minta ijin segala, kenapa tidak langsung cium saja seperti kemarin saat dansa?? Ini membuat Aira bingung.

 

Karena Aira diam tidak menjawab, Akhirnya Denny merangkul pundak Aira. “Kalau kamu nggak mengijinkan, nggak apa-apa kok. Masih ada lain kali.” Ucapnya yang membuat Aira semakin tersipu malu.

 

Denny, aku bukannya melarangmu, tapi sangat menggelikan jika aku menjawab ‘Ya.. Silahkan menciumku’ itu sangat memalukan bagiku Denny, gerutu Aira dalam hati.

 

“Baiklah, sudah malam kita pulang ya..” Denny menarik tangan Aira. Dan menuntunnya menuju ke tempat dimana motornya diparkirkan. Aira hanya mengikutinya. Ia merasa tidak enak karena menolak keinginan Denny.

 

Setelah sampai di dekat motor, tiba-tiba Denny melepaskan jaket yang sejak tadi dipakainya.

 

“Kenapa baru di lepas?? Kita kan sudah pulang.” Gerutu Aira. Ia sangat kesal karena Denny mengingkari janjinya. Ia sama sekali tidak melepaskaan jaket yang dikenakannya hingga mereka tidak seperti pasangan yang sedang mengenakan T-shirt couple seperti yang di inginkan Aira.

 

“Aku melepasnya untukmu.” Ucap Denny sambil memakaikan jaket itu pada tubuh Aira. Aira membatu seketika dengan perhatian yang di berikan oleh Denny. “Lain kali kalau keluar, bawalah baju hangat untuk berjaga-jaga. Udara malam nggak bagus buat kesehatan.” Ucap Denny sambil menresleting jaketnya di tubuh Aira. Ia benar-benar tersentuh dengan perhatian dan kelembutan yang di berikan oleh Denny. Secepat kilat ia meraih lengan Denny sambil memanggil nama Pria itu.

 

“Denny..”

 

“Yaa..”

 

Aira kemudian mengalungkan lengannya pada leher Denny, Ia kemudian berjinjit. Denny benar-benar terkejut dengaan apa yang di lakukan Aira, ia tidak menyangka Gadis itu hendak menciumnya ditempat parkir tepat banyak orang sedang melihat mereka. Dengan cepat Denny menahan pinggang Aira dengan kedua tangannya agar menjauh. Sebelum bibir kekasihnya ini mendarat ke bibirnya.

 

“Kamu mau apa?” Tanya Denny.

 

“Eoh, menciummu. Bukannya kamu tadi minta ijin untuk menciumku?”

 

“Nggak jadi” Mata Denny melirik ke sekililing banyak orang yang menatapnya. Aira mengikuti lirikan Denny menjadi malu dengan tingkahnya sendiri. Dengan canggung ia melepaskan tautan tangannya. Aira berdehem mengurangi rasa malunya.

“Ya benar, sebaiknya kita pulang saja.” Aira buru-Buru mengenakan helm untuk menutupi pipinya yang memerah.

 

“Aira” panggil Denny gemas.

 

“Ya?” Ia menoleh.

 

“Itu kan helmku” Ucap Denny sembari menahan tawanya.

 

“Eoh? Aku lupa, maaf” Bisik Aira malu. Ia memang tidak mengenakan helm saat pergi tadi.

 

Mereka menikmati jalan berdua dengan menggunakan Motor. Dengan pikiran masing-masing. Denny membayangkan bibir Aira terasa manis dan lembut itu membuatnya tidak bisa menahan diri dari nalurinya sebagai seorang Pria. Aira mengeratkan tangan hingga menempel sempurna pada tubuhnya. Denny menolak ciuman dari Aira karena ia tau jika ada seseorang yang mengawasi tingkahnya dari kejauhan. Denny menyadari jika ada orang yang mengikutinya. Ia bukanlah Pria bodoh jika tidak mengetahuinya ada sesuatu yang mencurigakan.

 

Mungkin aku akan mencium Aira dilain tempat, bisiknya dalam hati.

 

-TBC-

Bang Aaron mungkin nanti sore atau nnti malam yaa.. 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Love Between Us – Part 6 (Kencan)

  1. abang denny mulai nakal ya hahahahahaha
    baguslah kalo gk jadi ciuman pasti denny tahu kalo indra ngikutin dari rumah tadi

    Like

  2. kapan2 kencannya pake sepeda kayuh aja bang den, lebih romantis tuh. trus bawa bakul ama cangkul biar terasa nuansa tradisionalnya, hhhh. lanjut kakak

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s