romantis

My Mate (Dina & Alex Story) – Part 3 (End)

MyMate

My Mate

Sekali lagi typo bertebaran yaa.. hhahhha semoga suka… 

 

PART III 

-Alex-

 

Tubuhku menegang seketika ketika aku mendengar kalimat itu. Dina mengucapkanya, mengucapkan jika dia menyayangiku. Apa memang begitu kenyataannya?? Atau dia mengucapkan kalimat tersebut hanya karena tidak ingin aku meninggalkannya???

Entahlah…

Aku meraskan napasnya mulai teratur. Dia tertidur… dengan pelan aku bangun. Ku lihat sepanjang kulitnya penuh dengan jejak kemerahan akibat cumbuanku. Kemudian aku mengangkat tubuhnya, menidurkannya di atas ranjang. Dan Aku pun ikut berbaring di sebelahnya. Ku rengkuh tubuh rapuhnya dalam pelukanku.

Aku menyakiti hatinya, Aku tau itu. Aku melihat matanya saat ia memohon supaya ku sentuh, aku merasakan Airmatanya saat jatuh dan menempel di pipiku. Dia tersakiti karena sikapku.

Maafkan Aku Dina.. Maafkan Aku.. Karena Kamu juga tidak sadar, Bahwa kamu juga sudah menyakiti hatiku, Kamu Tidak mencintaiku, tapi Kamu memanfaatkanku, itu yang membuatku Sakit.

Tapi betapa pun aku tersakiti karenamu, Cintaku tidak pernah hilang sedikitpu. Aku tak tau kenapa bisa seperti itu, Aku mencintaimu, Sungguh, dari hatiku yang paling dalam. Bisakah kamu membalas Cintaku dan melupakan masa lalumu???

Kini, Mataku kemudian terpejam, Lalu kemudian kesadaran mulai hilang dariku..

***

Siangnya, aku merasakan Dina semakin bergelung di dalam pelukanku, Seakan tubuhku menghangatkannya, membuatnyanya nyaman, dan Aku pun memeluknya semakin erat.

“Kamu sudah bangun??” Suara serak itu membuatku menundukkan kepala dan mendapati mata indah itu menatapku.

“Ya.. Aku tidak bisa tidur terlalu lama, mengingat ini siang hari.”

Aku melihat dia kembali menenggelamkan wajahnya dalam dadaku. Pipinya memerah. Apa dia mengingat kejadian tadi pagi di antara kami?? Dan sialnya, setelah mengingat itu, Aku kembali menegang seutuhnya.

Aku menjauhkan diri darinya. “Aku mandi dulu.” Ucapku memberinya Alasan, Aku tidak mungkin berdekatan dengannya terus, jika aku melakukan iu, mungkin aku tidak akan bisa berhenti menyentuhnya.

Ketika aku berbalik dan hendak berdiri meninggalkannya, Dia tiba-tiba memelukku dari belakang.

“Kamu menghindariku??”

Aku membatu seketika. “Kenapa Kamu berpikir seperti itu??”

“Karena Aku mersakannya. Kamu menghindariku..”

Suaranya sudah bergetar. Dia menangis, aku tau itu. Aku membalikkan tubuhku, kemudian memeluknya erat-erat.

“Aku tidak menghindarimu, Aku hanya tidak tau bagaimana harus bersikap padamu.”

Dia menjauhkan diri dari ku kemudian menatapku dengan tatapan tanda tanyanya. “Kenapa bisa nggak tau??”

“Dina, Aku sudah tau semuanya. Semua tentang Kamu dan Reynald. Dan juga tentang hubungan kita.” Lirihku.

Dina membulatkan matanya, Seakan Ia terkejut dengan apa yang ku katakan. “Aku… Aku..”

“Kamu nggak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Aku sudah tau. Dan Kamu nggak perlu berpura-pura lagi di hadapanku.” Ucapku sambil melepaskannyaa dan bergegas berdiri untuk meninggalkannya.

“Alex..” Panggilnya yang kemudian menghenikan langkahku. “Kamu nggak tau apa-apa tentangku, Kamu nggak tau apa yang ku rasakan dulu dan sekarang… Tapi kalau memang Kamu lebih percaya dengan apa yang kamu dengar atau apa yang Kamu lihat, Aku menyerah. Aku menyerah untukmu.” Ucapnya yang kemudian membuat hatiku bergetar.

Dina… Sebenarnya apa yang Kamu rasakan padaku???

***

-Dina-

 

Dia sudah tau semuanya. Tau tentangku dan juga tentang Mas Rey.. Tau tentang Aku yang hanya memanfaatkan keberadaannya. Tapi dia tidak tau apa yang kini ku rasakan.

Ini Sudah tiga minggu setelah pagi panas yang kami lalui berdua saat itu. Dan kami, tidak lagi melakukannya. Hubungan kami benar-benar mendingin, merenggang. Tak ada tegur sapa sedikitpun jika itu tidak penting.

Dia sakit hati karena ulahku yang memanfaatlkannya, tapi dia tidak tau bagaimana sakit hatinya Aku saat dia menghindariku. Yang ku sadari saat ini adalah, Aku mulai mencintainya, mencintai seperti aku mencintai Mas rey dulu.

Rasa ini rasa yang sama dengan rasa yang kurasakan pada Mas Rey dulu. Aku menginginkannya, menginginkan Alex, Suamiku, Tapi dia menghindariku. Setiap malam, aku tidak berhenti menangis ketika menyadari dia lebih memilih tidur di sofa dari pada di sebelahku. Alex benar-benar menghindariku.

“Kamu sakit??” Pertanyaannya membuatku mengangkat wajah ke arahnya.

Aku menggelengkan kepalaku kemudian kembali menatap Piring yang berisi nasi dan lauk di hadapanku. Yaa.. kini kami memang sedang sarapan pagi bersama.

“Kamu terlihat kurus, dan pucat.” Ucapnya lagi.

Tentu saja. Aku tidak nafsu makan saat melihat Sikapmu Alex.. kenapa Kamu tidak mengerti??

“Nafsu makan ku menurun, itu saja.”

“Makanlah yang banyak, Supaya Kamu bisa menghadapai bulan depan.” Ucapnya dengan datar.

Aku mengangkat sebelah alisku. “Bulan depan??” Tanyaku dengan nada penuh tanya.

Alex masuk ke dalam kamar, lalu kembali keluar sambil membawa sesuatu. Kemudian memberikannya padaku Sambil berkata. “Ku pikir ini yang terbaik untuk kita. Kita pisah saja..”

Aku ternganga dengan ucapannya. Tanpa sadar Aku bahkan menjatuhkan Sendok yang sedang ku genggam. Dia ingin pisah dengan ku?? Dia menceraikanku???

Mataku mulai berkaca-kaca, dan air mataku menetes begitu saja. Aku memandang Map berwarna merah tersebut yang bahkan belum ku sentuh. Tangan ku sudah gemetar, bahkan Aku sudah mulai terisak.

“Maafkan Aku, Aku hanya tidak ingin membuatmu tersiksa dengan hubungan ini.” Dia berbicara lagi, dan aku hanya mendengarnya, Aku bahkan tidak mampu menatap ke arahnya.

“Ku pikir aku sudah terlalu memaksakan kehendakku, keinginanku. Jadi, Aku ingin mengakhirinya di sini, melepaskanmu dari status yang membuatmu sesak.”

Alex masih saja berbicara sedangkan Air mataku tidak berhenti menetes dari pelupuk mataku. Apa dia tidak melihatku saat kesakitan seperti sekarang ini???

“Tanda tanganlah di sana.. Dan kita akan berpisah secara baik-baik.” Ucapnya kemudian membuat tubuhku semakin gemetar. Aku benar-benar tidak menyangka jika Alex akan melakukan ini terhadapku.

***

Beberapa minggu berlalu. Tubuhku semakin lemah. Kini Aku sudah kembali ke jakarta sejak dua hari yang lalu. Orang tua Alex tidak tau dengan rencana perceraian kami, tapi mereka tentu tau jika kami sedang tidak baik-baik saja.

Aku hampir saja jatuh tersungkur jika Ibu Alex tidak menarik tubuhku.

“Astaga.. Kamu tidak Apa-apa nak??” Tanya nya dengan nada khawatir.

Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku. “Tidak Bu, Saya baik-baik saja.” Ucapku masih dengan membawa keranjang yang berisi baju-baju kotor yang akan ku cuci.

“Istirahatlah.. Kamu terlihat tidak sehat.”

“Saya baik-baik saja.” Ucap ku meyakinkan. Kemudian aku kembali berjalan dan baru dua langkah, kepalaku pening, mataku terasa berat, dan aku tidak dapat mengingat apapun lagi.

***

Aku terbangun di atas ranjang kamarku.  Mendapati Ibu mertuaku yang sudah duduk di pinggiran ranjang sambil menatapku dengan tatapan khawatirnya.

“Aku kenapa Bu..?”

Pertanyaanku di jawab dengan pelukan oleh Ibu mertuaku tersebut. Aku melihat Alex sudah berdiri di belakang Ibu mertuaku, menatapku dengan tatapan kosongnya.

“Astaga sayang.. bagaimana mungkin Kamu tidak tau. Kamu Hamil..”

Mataku membulat seketika. Hamil?? Bagaimana mungkin?? Lalu.. Lalu bagaimana denganku nanti?? Dengan Bayiku?? Bukankah Aku akan bercerai dengan Alex?? Mataku mulai berkaca-kaca, dan aku kembali meneteskan airmata. Kenapa takdir hidupku menyedihkan seperti saat ini??

***

Malamnya, Aku masih belum turun dari ranjang. Tubuhku masih lemah, dan pikiranku masih kacau. Aku melihat Alex berjalan ke arahku sambil membawa sebuah nampan. Dia kemudian duduk di pinggiran ranjang tepat di hadapanku.

“Makanlah.. Kamu harus banyak makan.” Ucapnya dengaan lembut.

Aku hanya diam. Ku raih nampan yang di bawanya. Kemudian aku mulai makan dalam diam. Aku tidak tau harus berbicara apa dengannya. Kepalaku masih pusing memikirkan semua ini.

“Aku sudah memikirkannya.. Kita.. Kita batalkan saja perceraian kita.”

Aku membatu seketika. Apa karena bayinya?? Apa dia membatalkan semuanya karena aku sedang Hamil?? Karena kasihan terhadapku??

“Kita lanjutkan saja.” Ucapku kemudian dengan nada datar.

“Tidak, Kita akan membatalkannya. Aku tidak bisa menceraikanmu saat Kamu sedang mengandung Anak ku.”

“Kalau begitu kita lanjutkan nanti setelah aku melahirkan.” Ucapku masih dengan nada yang ku buat sedatar mungkin. Padahal kini Aku merasa hatiku bagaikan di remas-remas.

“Kamu.. benar-benar ingin berpisah denganku??” Tanyanya dengan nada lirih.

“Bukannya Kamu yang ingin menceraikanku??” Aku berbalik bertanya. Alex termenung karena pertanyaanku.

“Baiklah, Aku yang salah.” Katanya kemudian.

“Alex, Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kamu membuatku seakan menjadi wanita yang paling jahat di muka bumi ini.”

“Tapi memang Aku yang salah Dina.. Aku salah karena sejak Awal Akulah yang memaksakan kehendakku untuk memilikimu.”

Aku melihat Alex berdiri, Dia mengacak kepala seperti oran yang sedang frustasi.

“Saat itu Aku tau kalau Kamu hanya memanfaatkan Aku, kamu masih mencintai Lelaki lain dan Aku tetap bersikeras memperistrimu. Karena Aku terlalu cinta dengan mu Dina.. Aku terlalu sayang Hingga perasaan ini membuatku Gila, Membuatku tidak bisa berpikir jernih kalau hubungan yang di paksakan seperti ini hanya akan menyakiti kita berdua.. Aku yang salah..”

“Lalu apa Aku tidak salah?? Apa aku tidak salah saat menerima lamaranmu padahal hatiku masih untuk lelaki lain?? Apa Aku tidak salah saat membuatmu semakin mencintaiku??”

Alex mendekat ke arahku. Dia menangkup kedua pipiku. “Tidak Ada yang salah denganmu. Akulah yang salah..” Ucapnya lirih.

Kemudian Aku memeluknya. “Ya.. Kamu yang salah, Kamu salah karena kamu hanya percaya dengan apa yang kamu lihat atau yang kamu dengar Dulu.. Kamu tidak memeberiku kesempatan untuk berbicara jika Kini semuanya sudah berubah. Perasaanku sudah Berubah Alex… Aku menyayangimu lebih dari yang ku tau.. Aku menginginkanmu sebesar Kamu menginginkan Aku.. Aku merasa tersiksa bukan karena hubungan ini tapi karena Sikapmu yang selalu menhindariku…” Aku berkata panjang lebar sambil terisak.

Tubuh Alex terasa kaku dalam pelukanku. Kenapa?? Apa dia masih tidak percaya dengan pengakuanku?? Lalu aku harus membuktikannya dengan Apa???

Aku melepaskan pelukanku kemudian menatap tajam ke arahnya. “Kaytakan Sesuatu Alex.. Aku ingin mendengar sesuatu darimu, Jangan Hanya diam..” Ucapku dengan Kesal.

Alex menggelengkan kepalanya. “Aku masih tidak percaya..”

“Kamu ingin bukti apa?? Apa dengan aku pergi kamu baru akan percaya dengan apa yang ku katakan??”

Tanpa ku duga, Alex memelukku dengan sangat erat. “Jangan.. jangan pergi dariku.. Seberapa menjengkelkannya Aku, Ku mohon jangan pernah tinggalkan Aku.”

Aku kembali menangis. “Tapi kamu yang memberiku Surat cerai saat itu.. Kamu yang ingin Aku pergi dari hidupmu..”

“Surat cerainya sudah ku robek sejak lama.. jadi kita lupakan saja permintaan konyolku kemarin.”

“Apa??? Kamu yakin??”

Alex kemudian menangkup kedua pipiku. “Dina, Saat itu aku terlalu gila. Aku tidak berpikir panjang saat memberimu surat sialan itu. Tapi ketika melihatmu menangis dan bergetar saat menandatangani surat tersebut, Hatiku tersentuh. Dengan bodohnya aku merobek surat tersebut malam itu juga, dan aku berpikir akan mencari alasan lain agar kamu tetap mau bersamaku nantinya. Kehamilan Kamu bukanlah alasan kenapa Aku membatalkan perceraian kita, Karena dari dalam hatiku yang paling dalam, Aku tidak menginginkan perceraian tersebut. Aku hanya ingin membuatmu bahagia, tapi jika perceraian itu membuatmu menagis, Untuk apa aku melanjutkannya??”

“Jadi.. Kita tidak jadi cerai??” tanyaku dengan polos.

“Tidak. Tapi kamu harus ingat, Bukan karena Bayinya yang menjadi alasan tapi Bayi itu semakin mengukuhkan Alasasanku supaya tidak menceraikanmu..”

“Lalu apa alasan  mu yang sebenarnya??”

“Karena Aku Cinta Kamu.”

Empat kata itu seakan membuat jantungku meledak saat itu juga.

“Itu alasan utama kenapa Aku membatalkan perceraian kita, Merobek sura-surat sialan tersebut. Karena Aku cinta kamu. Aku tidak ingin melihatmu menagis.. Dan Aku ingin selalu berada di dekatmu. Maaf kalau aku terlalu egois.”

Dan tanpa banyak bicara lagi Aku memeluknya. Memeluk Alex dengan sangat erat. “Aku juga mencintaimu Alex… Cinta yang terlambat untuk ku sadari.. Cinta yang membuatku menerima lamaranmu.. Cinta yang membuatku sedih saat Kamu menghindariku.. Dan Cinta yang membuatku menangis saat mengetahui Kamu ingin berpisah dariku. Aku mencintaimu dan Aku bru menyadarinya.. Maafkan Aku…” Alex membalas pelukanku dengan sangat Erat. Sesekali ia mengecup lembut kepalaku.

“Berhenti minta maaf.. kita sama-sama salah, sama-sama bodoh karena cinta..” Dan Aku hanya bisa mengangguk dalam pelukannya.

***

Beberapa bulan kemudian…

“Ibu Dina duduk saja, Astaga..”  Suara Emi membuatku mengangkat wajah ke arahnya.

“Aahhhh.. hanya menata ini saja, nggak akan capek kok..”

“Tapi Pak Alex pesan..”

“Kamu hanya perlu bilang sama Pak Alex kalau saya sedang butuh olah raga.” Kataku dengan menyunggingkan senyuman.

“Ibu Dina terlalu rajin.” Ucap Emi lagi yang hanya ku balas dengan senyuman.

Saat ini aku memang sedang sibuk menata barang di rak-rak supermarket. Yaa.. ini seakan menjadi kebiasaan baru untukku. Sejak usia kandungaanku empat bulan, Aku sangat betah berada di rak-rak Bagian bahan-bahan pembuatan kue.. entah kenapa Aku sangat menyukai baunya. Dan sejak saat itu, Aku selalu menyempatkan diri berada di sana untuk menata barang atau sekedar menghirup aromanya saja.

Yaa inilah Anehnya orang Hamil. Aku tidak pernah ngidam yang macam-macam. Alex bahkan dengan lucunya memintaku untuk meminta sesuatu yang Aneh darinya, tapi aku tidak pernah meminta hal tersebut. Aku hanya ingin berada di sini, Di rak-rak bagian bahan pembuatan kue, untuk menghirup aromanya. Hanya itulah yang ku inginkan setip harinya hingga usia kendunganku kini mencapai Delapan bulan.

Aku merasakan sebuah lengan memelukku dari belakang. Siapa lagi jika buka Alex, Suamiku yang tak tau malu. Ya.. Alex benar-benar tidak tau malu saat di hadapan karyawan nya. Ia seakan tidak ingin di lihat sebagai atasan, tapi igin di lihat sebagai teman, maka dari itu Ia tidak pernah malu-malu bermesraan denganku di depan karyawannya.

“Kamu kok masih di sini??”

“Aku masih belum puas menghirup aroma pandan ini Alex..”

Aku merasakan Alex tersenyum. “Sepertinya dia perempuan.” Ucapnya sambil mengusap lembut perutku, kemudian aku merasakan bibir basahnya menyentuh kulit leherku.

“Astaga.. harusnya kalian melakukan itu di tempat lain. Dasar nggak tau malu.” Suara Angkuh tersebut memaksa kami berdua menjauhkan diri masing-masing dan menoleh ke arah suara tersebut berasal.

Dan benar saja. Di sana sudah Ada Clara dengan Troli yang di dorongnya beserta Mas Rey yang sedang menggendong Denny, putera pertama mereka.

Aku tersenyum mungkin kini wajahku sudah memerah karena malu. Aku dan Clara kini sudah semakin dekat, itu bermula ketika Aku menjenguk Clara saat melahirkan Denny. Clara benar-benar sudah sangat Berubah. Sikap dan perilakunya berubah, Dan kini kami bisa menjadi teman baik.

Clara sering sekali bertemu denganku, karena hampir tiap hari dia belanja di supermarket kami, dan hampir tiap hari juga aku berada di sini. Kedekatan kami terjalin begitu saja.. Saat bertemu, kami berbicara banyak, tentang kehamilan, tentang bayi.. dan aku suka.. Aku suka dengan Clara yang saat ini. Dia sangat pantas bersanding dengan Mas Rey..

“Kalian mencari sesuatu??” tanya Alex pada Mas Rey dan Clara.

“Aku Cuma mengantarnya mencari bahan Kue..”

“Ku pikir kemarin kamu sudah belanja banyak bahan kue Cla..” Kataku kemudian.

“Bahan-bahan itu habis karena dia selalu gagal membuat Chese Cake yang dia inginkan..” jawab mas Rey dengan wajah datarnya.

“Heeiii Aku tidak akan gagal kalau kamu tidak menggangguku Rey..”

“Yaa.. dan aku tidak akan mengganggu kalau kamu tidak menggodaku.”

“Menggoda?? Dasar..” Clara mulai mencubit-cubit lengan Mas Rey.

Aku dan Alex tersenyum saat melihat mereka berdua saling bertengkar seperti kucing dan tikus. Yaa.. mereka berdua memang sangat aneh, Pasangan aneh tapi manis, aku suka melihatnya.

***

“Kapan-kapan main kerumah kami yaa.. Aku sudah bisa membuat Brownis..” Ucap Clara dengan antusias.

“Aku akan main kesana kalau kamu sudah berhasil membuat Chese Cake.” Ucapku kemudian.

“Baiklah, Aku akan buktikan kalau aku bisa membuatnya” Ucapnya dengan tertawa lebar. Lalu dia berjalan menuju mobil  yang di dalamnya sudah ada Mas Rey. Keduanya kemudian melambaikan tangan padaku dan Alex. Lalu mereka pergi..

Aku menatap Alex dan tersenyum padanya. “Ku pikir hari ini tidak pernah terjadi padaku.”

Alex mengerutkan keningnya. “Hari apa??”

“Hari dimana aku sangat bahagia, saat melihat Cinta pertamaku bahagia dengan Cinta terakhirnya.. Dan Aku sendiri bahagia dengan Cinta terakhirku..”

Alex kemudian membawa tangannya di pinggangku. “Dan Aku juga tidak pernah berpikir hari ini akan terjadi.. Hari dimana Aku sangat bahagia, melihat Wanita yang ku cintai menjadi Cinta terakhirku, Jodoh yang di berikan tuhan untukku.. dan dia bahagia dengan kehadiranku..” Ucapnya sambil menggosok-gosokkan hidung mancungnya pada hidungku.

“Memangnya Aku bahagia dengan kehadiranmu??” Tanya ku menggodanya.

“Jadi kamu nggak bahagia??” Dia mulai merajuk.

Aku kemudian mengalungkan lenganku pada lehernya. “Aku bahagia Alex.. sangat bahagia….”

Alex mengecup keningku lembut. Aku merasakan kelembutannya.. kebahagiaan saat Ia berada di sisiku.. Terimakasih Tuhan.. karena Kau telah menciptakan dia untukku, menuntunnya padaku.. dan membuatnya menjadi Jodoh terakhirku.. Terimakasih….

 

***END***

Akhirnya end juga yaa… makasih semangatnya selama ini yaa.. akhirnya Dina danAlex ikut bahagia seperti yang lainnya,,, hahahha lunas yaa hutangku,,, Next akan ada Oneshoot Daesung Bigbang dengan judul ‘Smiling Angel.’ tunggu aja yaa… *KissKiss

Advertisements

7 thoughts on “My Mate (Dina & Alex Story) – Part 3 (End)

  1. keren cerita nya. dmn kt bisa melepaskan cinta lama untuk yg baru. dan bisa mendapat kan kebahagiaan dngan cinta yg baru

    Like

  2. terlalu singkat kisah mereka tapi suka suka suka
    buruh kejujuran yang besar buat mengambil keputusan yang tak salah
    akhirnya semua ada penyelesaiannya kan
    happy ending lah

    Like

  3. Nah gitu dong saling jujur tentang perasaan masing-masing, jadinya salah paham diantara mereka dapat dihilangkan…gak malu” lagi buat memperlihatkan kemesraan dihadapan orang lain…
    Senangnya hubungan dina dan clara membaik…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s