romantis

My Mate (Dina & Alex Story) – Part 1

MyMate

My Mate

 

Halooo… mana yang dari kemaren pengen tau kisah dina dan Alex?? yuukkk mari mampir yaaa.. wkwkwkwk okay.. enjoy reading yaa.. *KissKiss

 

 

Tittle : My Mate…

Cast : Ardina & Alex

Genre : Roman Dewasa

 

Part I

 

-Alex-

 

Pagi ini Aku benar-benar sibuk. Aku harus mengurus beberapa barang yang datang, belum lagi beberapa karyawan baru yang harus melakukan training denganku secara langsung. Yaa tentu saja aku tak begitu mempercayakan pekerjaan kepada orang-orang yang tak jujur. Jadi mau tak mau aku sendiri yang harus menyeleksinya.

Seperti biasa, jakarta pagi ini sangat macet, benar-benar macet seperti hari-hari sibuk biasanya. Pantas saja setiap hari pasti ada saja karyawanku yang telat masuk kerja, mungkin salah satunya karena kemacetan yang semakin parah ini.

Saat aku jenuh dengan kemacetan yang menimpaku, tiba-tiba aku melihat Seorang Nenek yang berjualan buah jambu biji terjatuh tepat ddi pinggiran jalan. Buah-buah si nenek itu berhamburan bahkan ke tengah jalan. Tak ada satu orang pun yang mau membantuunya. Karena kasihan, aku memutuskan untuk keluar dari mobil dan membantu nenek-nenek tersebut, tapi saat aku akan keluar. Aku melihatnya….

Dia seperti cahaya yang menyinari gelapnya malam.. Seperti hujan yang membasahi gersangnya tanah gurun… Wajahnya cantik dan entah kenapa aku merasa dapat melihat kecantikan hatinya juga…

Aku memandangnya, sibuk membantu nenek tua tersebut memunguti buah jambu, padahal kulihat dia juga sedang sibuk membawa barang belanjaannya. Tak ada satu orang pun yang membantu nenek tersebut kecuali wanita itu. Wanita cantik dengan wajah sendunya.

Klakson mobil di belakang mobilku menyadarkanku dari lamunan. Aku harus segera menjalankan mobilku dan meninggalkan pemandangan menyejukkan hati tersebut. Wanita itu…. jika kita bertemu lagi… Ku pastikan Kamulah jodohku…

***

Aku membantu para pegawai pria menurunkan barang-barang yang baru datang dan membawanya ke area Gudang. Yaa, beginilah pekerjaanku. Supermarket ini di dirikan oleh Ayahku. Dulu sekali saat aku masih kecil, supermarket ini hanya sebentuk toko kecil pada Umumnya. Yaa tentu saja, kami bukanlah orang kaya.

Dengan usaha keras Ayahku, sedikit demi sedikit semuanya berubah. Toko kecil kami berubah menjadi lebih besar dan lebih besar lagi hingga seperti saat ini, bahkan setelah aku ikut terjun di dalamnya, Kami membuka beberapa cabang supermarket di kota ini. Karena itulah Aku tak bisa main-main dengan usaha ini. Sebisa mungkin semuanya ku kerjakan sendiri. Bahkan beberapa pelanggan mengira jika aku ini hanya karyawan biasa. Biarlah, aku sangat suka di kira sebagai orang biasa.

Setelah selesai membantu para karyawanku, Aku duduk dengan peluh yang menetes di dahiku. Seragam yang ku kenakan ini pun basah kuyub. Yaa aku juga mengenakan seragam yang sama dengan para karyawanku. Entah kenapa bagiku itu lebih nyaman dibandingkan harus mengenakan setelan dan lain sebagainya.

Saat aku masih terengah karena kelelahan. Mataku menangkap bayangan itu.. Sosok beberapa hari yang lalu yang ku lihat sedang membantu seorang nenek di pinggir jalan. Dia sedang berjalan dengan seorang wanita paruh baya. Berbelanja di tempatku.

Aku tersenyum. Mungkinkah dia benar-benar Jodohku??

Aku berjalan pelan di belakang mereka, sesekali membenarkan barang di  Rak-rak barang. Ku dengar sesekali mereka sedikit bicara.

“Jadi… Bu Allea nanti akan memasaknya dengan ini?”

“Iya Din..  Rey sangat suka saat saya membuatkannya itu.”

“Saya mau di ajari juga cara membuatnya.” Kata wanita itu dengan sedikit malu.

“Benarkah?? Baiklah, nanti kita akan membuatnya bersama.”

Aku melihat ada yang aneh, Wanita itu nampak sangat sopan dan patuh dengan Wanita paruh baya yang sedang mengajaknya berbelanja tersebut. Jika di lihat dari gerak gerik dan cara bicaranya, mereka tentu jelas bukan seorang ibu dan Anak. Lalu… Apa mereka sepasang menantu dan Mertua?? Ahhh jika benar, berarti aku sudah terlambat.

Pikirku ingin mengenyahkan bayangannya dan menghindar pergi, namun nyatanya otak dan syarafku berkata lain. Pandanganku seakan enggan berpaling dari wanita itu, wanita yang hingga saat ini tak kukenal.

Saat setelah mereka sudah keluar dari Supermarketku, aku menghampiri kasir yang tadi melayani mereka.

“Ada apa pak?”

“Emm.. Wanita yang tadi, Apa dia sering belanja kemari, atau baru pertama kali ini??”

“Yang mana Pak??”

“Yang baru saja kamu layani ini tadi.”

“Ohh Mbak-mbak dan ibu yang tadi itu?? Mereka memang sering belanja kemari Pak, Mereka pelanggan tetap kita.”

Aku membulatkan mataku, “Benarkah??”

“Iya pak.. Rumahnya kan tak jauh dari Kontrakan saya. Besar sekali pak..”

Aku mangut-mangut mendengar cerita karyawanku ini. “Terus, Kamu tau nggak apa hubungan mereka? Saya pikir mereka bukan ibu dan Anak.”

“Ohh Bukan Pak, Mbak-mbak yang tadi itu hanya pembantu dari Ibu-ibu yang tadi itu Pak…”

Deg… Deg… Deg…

Jantungku seakan tak berhenti berdetak cepat. Aku tidak kecewa jika dia hanya seorang pembantu, Tidak, Aku malah senang, Lega, dan entahlah… kupikir dia sosok yang selama ini ku cari. Sosok baik, cantik dan sederhana… dan Semoga saja dia benar-benr menjadi jodohku…

 

***

 

-Dina-

 

Hari ini Dia memutuskanku…

Aku tak tau apa yang ku rasakan saat ini. Sakit yang amat sangat hingga aku tak mampu merasakannya lagi.

Mas Rey, Adalah sosok yang sangat sempurna bagi siapapun wanita yang mengenalnya. Dia tampan, Baik, Sayang keluarga, dan dia bukan Lelaki buruk pada umumnya. Aku mencintainya, Sangat mencintainya melebihi apapun di dunia ini. Bukan karena dia kaya, atau dia majikanku dan aku ingin menjadi Nyonya besar di rumah ini, Tidak, bukan karena itu. Aku hanya mencintainya tanpa sarat, Hanya itu saja.

Tapi dia memutuskan untuk menikah dengan orang lain. Mas Rey berkata jika semua itu hanya permainan saja, Dia tidak benar-benar mencintai waita yang akan di nikahinya, dan dia memintaku untuk menunggunya dua tahun kemudian.

Sungguh, Aku ingin melakukannya, menunggunya selama dua tahun dan menjadikannya Milikku seutuhnya. Tapi hatiku berkata lain, pikiranku mengingkarinya. Bagaimana jika Mas Rey berubah sebelum dua tahun berlalu?? Bagaimana jika perasaannya padu hilang dan tergantikan oleh cinta kepada istrinya tersebut?? Bukankah sama saja jika aku sudah kalah??

Yaa.. Aku menyerah, Aku menyerah bahkan sebelum berperang. Ku pikir, Mas Rey memang bukanlah jodohku. Entah kenapa ketika Dia melamarku berkali-kali, Hanya rasa ragu yang kurasakan dan aku berakhir dengan menolaknya. Mungkin karena ini alasannya, Karena dia memang bukanlah jodohku.

Aku kembali menangis, menangis sesenggukan sendiri di dalam kamar kecilku..

***

Siang ini menjadi siang yang menyebalkan untuk ku. Bagaimana tidak, Sejak tadi si pegawai Supermarket yang sedang aku belanjai ini menggangguku terus. Memang tidak bisa di katakan mengganggu, karena dia hanya bersikap ramah padaku. Tapi kelakuannya yang selalu menguntit tepat di belakangku membuatku jengkel.

Aku risih karena sejak tadi Beberapa orang yang sedang belanja di Supermarket langganan ibu Allea ini menatap kearahku dengan rasa keingin tahuan.

Namanya Alex. Dia salah satu pegawai Supermarket yang sudah lama menjadi langganan ibu Allea. Mungkin dia pegawai baru, karena aku baru melihatnya beberapa bulan yang lalu. Dia pernah memberiku kartu nama nya, entah apa maksudnya aku sendiri tidak tau. Dan aku menolaknya.

Yaa.. tentu saja, saat ini bukanlah saat yang tepat untuk mengenal seorang lelaki. Setelah putus dengan Mas Rey beberapa minggu yang lalu, perasaanku kacau, htiku masih terluka, aku masih butuh untuk menyembuhkan luka di hatiku ini. Dan aku tidak ingin mengambil resiko terluka lagi dengan mengenal sosok Lelaki baru.

Alex tidak sala, tentu saja, yang salah adalah waktu. Kami bertemu di waktu yang tidak tepat, dia menggoda ku saat aku sedang ingin sendiri.

Alex adalah Lelaki yang tampan, perawakannya mirip dengan Mas Rey, Tinggi tegap, Wajahnya kalem, terlihat seperti orang yang baik, yaa.. dia memang sangat sopan dan mungkin jika suasana hatiku tidak seperti ini, mungkin aku sudah jatuh hati padanya.

“Biar saya Antar.” Ucapnya yang saat ini masih setia menempel di belakangku.

“Maaf, sudah berapa kali saya bilang, saya bisa pulang sendiri.” Ucapku dengan ketus, aku sendiri tak tau kenapa bisa bersuara dengan nada ketus seperti itu.

“Baiklah, ampai jumpa besok siang.” Katanya dengan ramah.

Aku mengangkat sebelah alisku, “Besok siang?? Anda yakin sekali kalau saya akan kemari lagi besok siang.”

Dia tersenyum, “Tentu saja, Kamu kan sudah menjadi pelanggan setia supermarket ini.” Ucapnya penuh dengan keyakinan. Dan aku tidak bisa menjawab lagi.

Andai saja ini bukan supermarket langganan ibu Allea, mungkin aku sudah belanja di tepat lain. Akhirnya dengan setengah mendengus, aku berjalan keluar. Hari ini aku memang tidak bersama supir rumah, karena pak supir sedang mengantai Ibu Allea ke tempat Adik Pak Renno. Jadi mau tidak mau aku harus naik angkutan umum.

Tapi baru saja sampai di parkiran supermarket, Sebuah kantung belanjaanku yang di dalamnya ada dompetku di rampas begitu saja oleh orang yang tidak ku kenal. Orang tersebut lantas berlari sedamngkan aku hanya mampu berteriak keras-keras.

Sebagian besar pegawai supermarket dan juga pengunjung supermarket tersebut menghambur keluar ke arahku. Tubuhku bergetar hebat, aku tidak pernah kecopetan seperti ini, bagaimana jika tadi Si copet tersebut membawa senjata tajam??

Beberapa orang sudah mengejar copet tersebut, sedangkan aku hanya bisa terduduk lemas.

“Heii… minumlah dulu..”

Itu Alex, dia membawakanku sebotol air mineral dingin, yaa aku memang butuh minum, aku takut. Ku raih botol minuman tersebut dan ku tegak airnya dengan rakus hingga aku tersedak dan terbatuk-batuk seperti orang bodoh.

“Tenanglah, Kami sudah melapor polisi..”

“Aku takut… itu.. itu Uang Ibu allea..” bahkan suaraku pun terdengar bergetar.

Tentu saja, di dalamnya ada beberapa kartu kredit khusus untuk belanja dari ibu Allea, KTP, dan juga kartu ATM satu-satunya yang menjadi milikku yang paling berharga. Bagaimana jika semua itgu hilang?? Dan kemungkinan terburuknya si copet dapat menguras semua uang yang ada di sana.

Tiba-tiba aku ingin menangis…

“Hei.. tenanglah..” Suara Alex menenangkanku, tanpa tau malu lagi aku memeluknya. Astaga…. Aku benar-benar sudah gila.

***

Si pencopet tersebut akhirnya tertangkap. Syukurlah, aku bisa bernapas lega meski tidak mengurangi rasa merinding saat membayangkan wajah si copet tersebut.

Akhinya setelah mengurus semuanya bahkan sampai ke kantor polisi di temani alex, Aku pulang saat malam sudah sedikit larut. Orang-orang rumah pasti mencemaskanku, karena kebetulan ponsel yang ku bawa sudah mati larena kehabisan batrei.

“Ayo naiklah.” Ajak Alex. Saat ini dia sudah di atas sebuah sepeda motor. Wajahnya terlihat lelah, yaa karena sejak tadi memang dia sibuk mengurus segala sesuatunya tentang si pencopet tersebut. Dan entah kenapa, aku merasa nyaman di dekatnya.

“Emm.. aku pulang sendiri saja, kamu terlihat kecapekan.”

“Sudahlah, ayo ku antar, aku nggak tenag saat belum melihatmu sampai di rumah.”

Perkataannya membuatku hangat. Aku merasa di perhatikan kembali, Dia mengingatkan ku pada Mas Rey, Sosok yang selalu perhatian denganku.

“Heii… kenapa bengong?? Ayo, naiklah.”

Dan aku pun menuruti perintahnya. Aku akhirnya menerima tawarannya untuk mengantarku pulang.  Dan aku benar-benar merasa terlindungi oleh kehadiran Alex.

***

Entah sudah berapa minggu berlalu setelah kejadian pencopetan tersebut, Kini hubunganku dengan Alex dan beberapa karyawan di supermarket tersebut semakin dekat. Beberapa diantaranya bahkan menjadi teman dekatku. Aku lebih suka berlama-lama di supermarjet tersebut dari pada di rumah.

Tentu saja, semua ada hubungannya dengan Mas Rey dan juga Clara.  Clara hamil, dan tingkahnya tentu semakin manja. Jujur saja, saat awal mereka menikah, Aku tidak suka, Aku cemburu, dan itu wajar.

Bagaimana jika hal ini menimpa kalian?? Tentu saja kalian akan merasakan apa yang ku rasakan. Benar-benar menyakitkan saat melihat orang yang kita cintai dan mencintai kita menikah dan hidup bersama dengan Wanita lain.

Tapi itu dulu, Saat ini aku senang saat melihat Mas rey bahagia, entah kenapa bisa seperti itu aku juga tidak mengerti. Hanya saja, Clara selalu curiga dengan hubungan kami. Yaa.. aku mengerti apa yang dia rasakan. Siapapun akan tidak suka saat melihat pasangannya dekan dengan mantan kekasihnya. Dan itu membuatku sedikit bingung.

Saat ini Mas Rey dan Clara memang sudah pindah ke rumaah baaru mereka, hanya saja itu tidak mengurangi rasa cemburu Clara padaku apalagi dengn kondisinya yang hamil muda, Hormon mempengaruhinya dan membuat emosinya lebih labil.

Dia tidak suka denganku dan dia terang-terangan memperlihatkaan hal itu padaku. Aku merasa tidak nyaman, dan ku pikir aku harus mengakhiri semua kecurigaan Clara terhadapku.

“Kamu diam aja, ada yang kamu pikirkan??” pertanyaan Alex membuatku gelagapan.

Yaa saat ini aku memang masih berada di supermarket, seperti biasa, setelah belanja kebutuhan dapur, aku menyempatkan diri berhenti sejenak dan menyapa mereka para karyawan supermarket yang kini sudah kenal akrab denganku.

“Iya, hanya sedikit.” Jawabku.

“Cerita saja, Siapa tau aku bisa membantu..” Ucap alex dengan senyuman manisnya. Yaa Alex memang sangat murah senyum dan aku sangat suka melihatnya tersenyum karena dia semakin terlihat manis dan tampan.

Aku berpikir sebentar, lalu ide itu muncul begitu saja dalam pikiranku. Apa aku harus melakukannnya???

“Emmmm Alex, Aku… Aku menyukaimu.” Ucapku kemudian dan aku yakin jika saat ini pipiku sudah merah seperti tomat karena menahan malu.

Alex membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ku katakan.

“Apa?? Kamu.. kamu yakin??” Tanya nya masih tidak percaya dengan apa yang ku katakan.

Aku mengangguk. “Ya, aku yakin, aku menyukaimu dan ingin, Em….” Ya tuhan, aku tidak sanggup melanjutkan kalimatku lagi.

Tanpa ku duga Alex langsung menyambar tubuhku, mememlukku ke dalam pelukannya. Erat, dia memelukku sangat erat.

“Alex…” lirihku.

“Diamlah… Astaga… terima kasih kamu sudah mau membalas cintaku.” Ucapnya kembali mengeratkan pelukannya pada tubuhku.

Aku membatu dalam pelukannya. Alex… Maafkan aku.. Sungguh maafkan Aku…

 

-TBC-

 

Advertisements

4 thoughts on “My Mate (Dina & Alex Story) – Part 1

  1. Si alex low profile banget, sebagai atasan tapi dia mau ngebantuin kerjaan bawahannya..gak takut keringetan ato minder..
    Dina jual mahal banget nih,,hehehe…Kasian juga klo nerima cinta alex cuman untuk pelampiasan aja…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s