romantis

Love Between Us – Part 3 (Debaran yang sama)

1461672642101Love Between us

Denny dan Aira udah balik nihh.. Ayoo merapat… heheheheheh

Part 3

-Debaran yang sama-

 

Denny menelan ludahnya dengan susah payah. Pria paruh baya dihadapannya kini mengajukan pertanyaan dengan tatapan tajam membunuh. Denny merasa seperti seorang maling  yang sedang tertangkap basah. Akhirnya dengan menguatkan diri, ia mencoba menghadapinya dengan setenang mungkin.

 

“Nama saya Denny. Saya teman Aira.”

 

“Hanya itu??”

 

“Iya, om”

 

“Lalu kenapa Aira bisa pulang pagi??” Suaranya benar-benar mengerikan bagi siapapun yang mendengarnya. Menggambarkan keposesifan seorang ayah pada putrinya.

 

Denny melihat Aira yang langsung bergelayut manja dilengan sang ayah seakan mengalihkan perhatian sang ayah padanya. Dasar manja!! Pikirnya.

 

“Ayah… Mobil dia tadi malam mogok, jadi kami terjebak di dalam mobil dan nggak bisa kemana-mana sampai pagi ini.”

 

“Dan kenapa kamu bisa berada di dalam mobilnya??” Kali ini pertanyaan itu terarah pada Aira.

 

Aira terlihat sedikit panik dengan pertanyaan yang di lontarkan Rizky.

 

“Emmm.. Emm.. Kami.. Kami sedang kencan ayah”

 

“Kencan?” Ucap Rizky mengulangi kalimat Aira. Sedangkan Denny terbelalak tidak percaya dengan apa yang di katakan Aira. “Kalian pacaran??” Rizky bertanya kembali. Kini dahinya mengerut tidak percaya sambil menatap Aira dan Denny secara bergantian.

 

“Om.. ini tidak seperti yang om pikirkan.” Denny dengan cepat menyanggah. Sesekali matanya melirik Aira meminta penjelasan dari gadis tersebut.

 

“Sudah-sudah, lebih baik dibicarakan di dalam. Tidak baik ribut di luar rumah.” Suara lembut seorang wanita mencairkan ketegangan yang ada.

 

“Aira, masuk. Dan kamu ikut saya.” Ucap Rizky menunjuk Denny. Aira masuk ke dalam rumah.

 

“Apa yang kamu lakukan??” Bisik Denny pada Aira. Ia masih tidak habis pikir kenapa Aira bisa mengaku pada ayahnya jika mereka sedang pacaran.

 

“Kamu pikir ayah tidak akan semakin marah saat mengetahui puterinya bermalam dengan Pria asing?? Lebih baik aku mengenalkanmu sebagai pacarku, setidaknya ayah akan mengenalmu sebagai orang baik.”

 

“Aku nggak perlu mengenal ayahmu. Aku hanya ingin pulang sekarang.” Gerutu Denny.

 

“Heii ingat, sekarang aku lagi sakit dan itu semua gara-gara kamu.”

 

Denny terdiam seketika. Ia baru menyadari jika Aira memang sedang sakit. Itu semua karena dirinya gara-gara mobil sialan milik Arga.

 

Di ruang kerja Rizky diam mengamati Pria muda yang ada di depannya. Meneliti Denny, putrinya bilang jika mereka sedang berkencan. Hening suasana sekali di dalam ruangan itu. Rizky belum membuka suaranya. Ia sedang berpikir, Denny berbeda dengan pacar-pacar Aira yang dulu. Denny terlihat sederhana namun perawakannya seperti orang yang berpendidikan dan kaya.

 

“Apa benar kamu berpacaran dengan Aira?” Ucap Rizky datar. Ia menumpu tangannya di meja kerjanya. Denny tertegun, jadi ayah Aira percaya kami berpacaran?. Ia mengingat ucapan Aira tadi. Jika ia berbicara terus terang mungkin ia akan digantung saat ini juga. Denny sudah memeluk putrinya padahal mereka baru mengenal. Ia meringis.

 

“Iya, om. Saya berpacaran dengan Aira” Jawab Denny terpaksa.

 

“Berapa lama hubungan kalian?” Denny berpikir keras, ia baru tiga kali bertemu Aira. Jantungnya berdebar, masa iya ia berpacaran hanya tiga kali bertemu. Tidak masuk akal.

 

“Baru sebulan, om”

 

“Mengenal dimana?” Rizky menautkan tangannya. Matanya menelisik kebohongan Denny.

 

“Di supermarket, om” Rizky mengangguk paham.

 

“Kenapa semalam tidak menghubungi keluarga Aira?. Jika kalian terjebak di mobil mogok?”

 

“Kami lupa, om. Handphone saya tertinggal dirumah” Sahutnya pelan. Ia bodoh. Denny begitu tegang hingga ia hanya menjawabnya dengan singkat.

 

“Anak itu memang nakal! Dia kabur dari pengawalnya lagi, coba kalau tidak mungkin kalian tidak terjebak di mobil” Rizky mendesah kasar. Ia cukup kewalahan dengan sikap Aira.

 

Pengawal? Seru hati Denny. Pria berjas rapih itu pengawal Aira?. Denny bertanya-tanya dalam hati. Siapa keluarga Aira sebenarnya?. Keluarga yang berpengaruh di Bali kah??. Dari rumah mewah dan pengawal, mungkin iya.

 

***

 

Denny keluar dari rumah Aira dengan rasa leganya. Arrggghh.. Akhirnya bisa keluar setelah beberapa menit bicara empat mata dengan ayah Aira. Denny menganggap jika Rizky percaya dengan segala ucapannya. Ia salah, Rizky langsung menelepon seseorang untuk mencari kejelasan tentang Denny yang sebenarnya.

 

Mungkin hari ini Denny akan ijin untuk tidak masuk kerja mengingat ia harus mengurus mobil sialan Arga yang masih berda di pinggir jalan. Bicara tentang Arga, anak itu dan adik manjanya pasti masih menunggu di kontrakan rumahnya. Atau pergi menggunakan angkutan umum.

 

“Mas, biar saya antar.”  Kata seorang pemuda yang sebaya dengannya dengan pakaian serba hitamnya khas pengawal pada umumnya. Jadi dia pengawal Aira? Mengingat dia bersama Aira saat ke kantornya kemarin. Ia menyangka Pria yang ada di hadapannya ini adalah pacar Aira.

 

“Kamu siapa?”

 

“Saya Indra, pengawal pribadi nona Aira. Tadi nona Aira meminta saya untuk mengantar mas pulang.”

 

“Terimakasih, saya bisa pulang sendiri.” Ucap Denny sambil melanjutkan langkahnya. Tapi baru beberapa langkah, ia menghentikan langkahnya dan kembali menuju ke arah pemuda yang mengaku bernama Indra tersebut.

 

“Kalau kamu tidak keberatan, saya minta nomor telepon Aira.” Ucap Denny dengan sedikit malu.

 

“Ohh.. Boleh. Sebentar saya carikan.” Dan akhirnya Indra memberi kontak Aira padanya. Denny tersenyum seakan menertawai dirinya sendiri. Kenapa juga ia meminta nomor telepon Gadis manja tersebut?? Ada apa dengannya pagi ini?.

 

***

 

“Suhu badanmu panas sekali Aira?” Zeeva menyentuh dahinya masih panas. Aira sedang bergelung selimut sebelumnya ia sudah mandi air hangat. “Mama panggilkan Dokter ya” Aira hanya mampu mengangguk lemah. Tubuhnya begitu panas, kepalanya pun terasa berat. Ia baru merasakan sakitnya sekarang.

 

“Aira kenapa, ma?” Tanya Rizky di ambang pintu kamar Aira.

 

“Suhu badannya panas, yah. Mama mau panggilan Dokter Dewa dulu” Rizky mengangguk mengerti. Ia berjalan ke ranjang Aira. Duduk di pinggir ranjang sembari mengulurkan tangannya memeriksa dahi Aira. Memang panas, ia memutuskan untuk memarahi Aira setelah sembuh. Ia menunduk mencium kening Aira.

 

“Cepat sembuh, sayang” ucapnya disahuti dengan gumaman Aira. Ia tidak menyangka putri kecilnya kini sudah dewasa. Ada ketidakrelaan jika Aira sampai menikah nanti. Berpisah darinya.

 

Aira diperiksa Dokter pribadi keluarga Rizky. Ia mengatakan hanya panas saja lalu memberikan obat. Aira perlu istirahat. Orangtua Aira cukup lega mendengarnya. Dokter Dewa pamit setelah bercengkrama dengan Rizky sebentar. Sedangkan Aira tertidur karena obat yang diminumnya.

 

***

 

Sorenya…

 

Denny melemparkan diri di kursi ruang tamu. Hari ini benar-benar melelahkan untuknya. Jika pagi tadi ia harus berurusan dengan keluarga Aira, maka siang tadi ia harus membantu mengurus mobil sialannya yang mogok. Ternyata Arga dan Dinda sudah pulang. Denny segera menghubungi Arga sesampainya dikontrakan yang sepi. Ia lupa membawa handphone miliknya. Arga mengomel ditinggal berdua saja di kontrakan hingga ia memutuskan naik angkutan umum.

 

Sesekali Denny mengeringkan rambut basahnya dengan handuk yang masih tersampir di pudaknya. Ia mengambil ponselnya lalu menggeser-geser layarnya.

 

Bagaimana keadaan Gadis itu sekarang??

 

Pikiran itu menyeruak begitu saja dalam kepalanya. Astaga.. kenapa juga dirinya memikirkan keadaan Aira, tentunya Gadis itu baik-baik saja bersama kedua orang tuanya. Denny meruntuki dirinya sendiri dalam hati.

 

Dan pada saat bersamaan handphonenya berbunyi. Denny memejamkaan mata dengan frustasi saat melihat ID Call yang sedang memanggilnya. Itu dari rumahnya.

 

“Halo.”

 

“Kakakkkkkk.” Teriak seorang Gadis di sebrang yang sontak membuat Denny menjauhkan ponselnya dari telinganya.

 

“Cla.. Apa kamu bisa berhenti berteriak saat meneleponku??” tanya Denny dengan kesal.

 

“Nggak. Aku suka berteriak sama kakak. Aku kangen..”

 

Denny menggelengkan kepalanya saat mengingat kemanjaan sang adik. Dan entah kenapa lagi-lagi itu mengingatkannya pada sosok Aira. Aira?? Kenapa semuanya selalu mengngatkannya pada Gadis tersebut??

 

“Aku nggak kangen.” Ucap Denny dengan nada cueknya.

 

“Kakak kok gitu sih. Nanti aku susul ke rumah kontrakan kakak loh.” Denny tersenyum. Ia tau bahwa kini adiknya yang manja tersebut pasti sedang merajuk.

 

Clarista Handoyo, adiknya tersebut memang selalu bersikap seperti itu kepadanya. Denny jelas sangat menyayanginya tapi juga terkadang kesal dengannya. Bagaimana tidak, Clarista tidak jarang mengenalkan Denny sebagai kekasihnya pada teman-temannya.

 

“Nggak usah ke sini Cla.. Kakak sibuk.”

 

“Isshh.. nggak asik. Padahal aku mau ngajak kakak kencan.”

 

“Nggak ada kencan, kakak benar-benar sibuk.”

 

“Kak, Kok gitu sih. Nanti aku laporin Mama..”

 

“Laporkan saja. Ya sudah, kakak tutup teleponnya.”

 

“Kak.. tunggu.. tungg….”

 

‘tut…tut..tutt..’ Denny dengan seenaknya menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan dari sang adik.

 

Clarista, jika Denny sering berhubungan dengan adiknya tersebut pasti ia ingin kembali pulang. Tapi tidak, ia tidak boleh pulang sebelum sang ayah merubah sikapnya yang suka mengatur.

 

Denny akhirnya mengalihkan pandangannya kembali pada handphone yang genggamnya. Ia ingin menghubungi Aira untuk menanyakan keadaannya. Tapi kalau Gadis itu besar kepala bagaimana?? Bagaimana juga kalau nanti Gadis itu merasa terganggu olehnya?? Ahhh persetan! Yang penting niatnya hanya untuk bertanggung jawab karena dirinyalah yang membuat Aira sakit.

 

Di tekannya tombol panggilan pada kontak Aira. Denny mengernyit saat mendengar nada sambung pribadi dari nomor Aira. Kekanak-kanakan sekali pakai nada sambung pribadi segala, pikirnya.

 

“Hallo..”

 

Suara di seberang entah kenapa membuat jantung Denny seakan menggila.

 

“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Denny dengan kaku tanpa basa-basi lagi.

 

“Denny.. ini kamu?” Suara aira terdengar terkejut dan juga senang.

 

“Iya..” Hanya itu jawaban dari Denny.

 

“Ya ampun, aku nggak menyangka kamu akan hubungi aku. Ku pikir…”

 

“Aira..” Denny memotong kalimat Aira. “Aku hanya mau memastikan bagaimana keadaan kamu.”

 

Aira nampak berdiam lama lalu mulai bicara lagi. “Aku parah, tubuhku sekarang masih demam, kepalaku pusing, perutku mual, dan aku juga sedikit pilek.”

 

Denny mengernyit. “Kamu nggak bohongkan??”

 

“Untuk apa aku bohong Denny, pokoknya kamu harus tanggung jawab.”

 

Denny menghela napas panjang. “Baiklah, aku akan tanggung jawab.” Ucap Denny dengan lesu.

 

“Kalau begtu nanti malam bawakan aku martabak manis kemari ya..” Ucap Aira di seberang penuh dengan semangat. Denny tentu sangat terkejut dengan permintaan Aira. Bagaimana mungkin Aira memintanya untuk membawakan makanan ke rumahnya.

 

“Heii.. apa nggak ada cara lain?? Ayahmu akan membunuhku kalau aku kembali ke rumahmu malam ini juga.”

 

“Dia tidak sekejam itu Denny, pokoknya kamu harus ke sini malam ini juga sambil membawa martabak manis. Titik!!”

 

Denny mendengus sebal. “Kenapa kamu jadi seperti orang yang sedang ngidam.?”

 

“Yaa aku memang sedang Ngidam, karena kamu.” Ucap Aira di seberang sambil terkikik geli.

 

“Dasar gadis aneh.” Gerutu Denny. “Baiklah, aku akan ke rumah mu malam ini.” Akhirnya Denny mengalah. Entah kenapa ia tidk bisa menolak kemauan Aira. Mungkin karena merasa bersalah karena sudah membuat Aira sakit. Atau mungkin juga karena sesuatu, Denny sendiri tidak tau.

 

***

 

Aira melempar handphone ke sisinya. Ia kembali berbaring sembari terkekeh setelah menutup telepon dari Denny. Kenapa juga ia bilang sedang ngidam. Kalau Rizky dengar bisa diusir dari rumah. Keadaan Aira mulai membaik, panasnya sudah turun. Hanya tubuhnya masih pegal-pegal. Bibir merahnya terukir sebuah senyuman jika mengingat Denny merangkulnya berbagi kehangatan di malam itu. Terasa sangat nyaman berada dipelukan Pria sombong itu.

 

Pukul 20.00 Aira berada di ruang tv bersama keluarganya. Rizky, Zeeva, Narendra dan si kecil Bunga. Ia duduk disamping Zeeva, tangannya merangkul lengan mamanya. Bunga di pangkuan Rizky sedang Narendra duduk di sofa terpisah.

 

“Bagaimana kondisi mu, Aira?” Tanya Rizky. Ia sudah memarahi Aira sekaligus menasehatinya. Putrinya berjanji tidak akan melanggar lagi. Ayahnya tidak begitu saja percaya hingga memutuskan untuk menerima janji itu kembali. Ia tau watak Aira.

 

“Sudah mendingan, yah. Cuma tinggal badan Aira pada sakit” Terangnya. Aira sesekali mengusik Bunga yang anteng menatap TV.

 

“Ayah, itu kucingnya lucu ya” ucap Bunga ceria melihat kucing yang tercebur di bathup. Ia tertawa, “kayak Molly”

 

“Iya, sayang”

 

Aira baru mengingat jika ia belum mengunjungi anak Caca dan Coco. Hewan peliharaannya sudah mati karena sakit. Sampai Aira tidak kuat saat mengubur hewan kesayangannya itu. Dengan berderai air mata Aira melihat untuk terakhirnya Caca dan Coco. Syukurlah mereka meninggalkan penerus untuk menemani Aira.

 

“Ma, yah.. Aku mau ke belakang dulu ya. Seharian ini aku nggak menengok Mumu” Aira beranjak dari sofa.

 

“Jangan lama-lama kamu masih sakit” Zeeva memperingati.

 

“Yes, mom” Ia memberi hormat. Aira berlari ke belakang dimana kandang hewan peliharaannya berada. Ia tersenyum lebar menatap kandang-kandang hewan peliharaannya. Ada kucing, marmut, kelinci dan juga burung kenari.

 

Aira menuju kandang Mumu. Ia membuka mengambilnya yang sedang bergelung tidur. Aira merasakan tangannya hangat karena bulu Mumu. Ia berdiri berjalan ke kursi yang berhadapan kolam renang. Ditaruhnya Mumu dipangkuannya. Ia mengelus kepala Mumu dengan sayang. Marmut berbulu coklat dan putih itu tertidur.

 

Aira tidak kedinginan, ia memakai celana piyama dan sweater rajut yang menghangatkan tubuhnya. Sesekali bibirnya tersungging senyum dengan tingkah laku Mumu.

 

“Non Aira, disuruh ke dalam sama pak Rizky” Aira menoleh pada Indra yang sudah ada berdiri di sampingnya.

 

“Untuk apa?”

 

“Ada teman non Aira datang” Indra menjelaskan maksudnya.

 

Denny??

 

Aira bangkit dari duduknya sembari memegang Mumu dengan kedua tangannya.

 

“Tolong masukkan Mumu ke kandang” ucap Aira. Indra menadahkan tangannya. Kini Mumu berpindah tangan. “Dan awas jangan membuatnya menangis!” Ancam Aira berlalu. Tampang Indra sangat bodoh, alisnya naik sebelah. Mumu menangis??? Dasar nona besar gila.

 

***

 

Denny tidak pernah merasakan hal seperti yang di rasakannya saat ini. Ia Gugup dan tegang di bawah tatapan seorang pria paruh baya di hadapannya. Siapa lagi jika bukan rizky, ayah dari Aira.

 

Saat ini ia sudah duduk di ruang tamu dengan perasaan campur aduk, sedikit gelisah dan tidak nyaman. Astaga.. dimana sih Gadis manja itu?? Kenapa ia membiarkannya berdua dengan ayahnya yang bertampang tampan namun menyeramkan ini?? Pikir Denny.

 

“Kamu cukup punya nyali kembali ke sini lagi.” Ucap Rizky penuh penekanan.

 

“Emm.. Aira minta di belikan sesuatu om.” Jawab Denny dengan jujur.

 

“Minta apa? Kenapa tidak minta sama saya?”

 

“Heii… Kamu sudah datang” Aira yang baru keluar dari dalam rumahnya langsung menghambur ke arah Denny. Sedangkan Denny sendiri bisa bernapas lega karena tidak lagi mendapat tatapan membunuh dari ayah Aira.

 

“Ini pesanan kamu.” Kata Denny sambil menyodorkan bingkisan yang sejak tadi di bawanya.

 

“Wahhh terimakasih, aku nggak nyangka kamu akan nuruti apa mauku.” Ucap Aira dengan raut wajah gembira dan juga ekspresi manja khasnya.

 

“Ehhmmm..” Merasa di cuekin, Rizky akhirnya memberi isyarat kepada Denny dan Aira. “Sudah kan?? Sekarang tunggu apa lagi? Cepat pulang ini sudah malam.” Ucap Rizky kemudian.

 

“Ihh, ayah kenapa sih. Denny baru juga datang” Aira mendengus tidak suka dengan sikap Rizky.

 

“Sayang, ayo masuk. Bunga pengen main sama kamu.” Zeeva keluar sambil membawakan minuman untuk Denny.

 

“Sayang, kita tidak bisa meninggalkan mereka di sini saja berduaan.” Ucap Rizky pada Zeeva.

 

“Sudah ayoo..” Rizky mau tidak mau mengikuti Zeeva saat lengannya di seret paksa oleh istrinya tersebut. Aira yang melihat tingkah laku kedua orang tuanya akhirnya hanya bisa terkikik geli.

 

“Maaf ya, ayah memang seperti itu.” Ucap Aira pada Denny saat mereka kini hanya berdua di dalam ruang tamunya.

 

“Dia perhatian dan sayang sama kamu, makanya seperti itu.”

 

“Tapi aku merasa di kekang.” Ucap Aira dengan santai sambil membuka bingkisan yang di bawakan Denny.

 

Denny hanya menatap Aira dengan tatapan tidak terbacanya. Ia tentu merasakan apa yang dirasakan Aira karena dulu dirinya juga merasa tidak nyaman karena selalu di kekang dan diatur oleh Papanya.

 

“Denny, ini kok rasa kacang sih. Aku maunya coklat sama keju!. Aku nggak suka kacang.” Rengek Aira dengan manja.

 

“Kamu kan tadi nggak bilang mau rasa apa, sudah makan yang ada aja.” Kali ini Denny berkata dengan nada datarnya. Aira mendengus kesal karena Denny kembali menjadi Pria dengan ekpresi datar seperti biasanya.

 

Tanpa di duga, Denny mendaratkan telapak tangannya di dahi Aira, merasakan suhu tubuh Aira apa masih demam atau sudah membaik. Aira membatu seketika saat telapak tangan Denny menyentuh keningnya.

 

“Kamu sudah baikan.” Ucap Denny kemudian.

 

Aira gugup setengah mati, sungguh. Ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Ia merasa sangat diperhatikan oleh Denny, padahal mereka baru saja kenal. Sedangkan denny sendiri tidak mengerti apa yang dia lakukan tadi. Rasa khawatir itu tiba-tiba muncul begitu saja dalam benaknya. Ia tidak suka melihat Aira yang kesakitan seperti kemarin malam.

 

Akhirnya keduanya sama-sama tertegun, ruangan itu hening tanpa suara sedikit pun. Yang terdengar hanyalah suara debaran jantung dari keduanya yang seakan menggema dalam heningnya ruangan tersebut.

 

Gugup, keduanya sama-sama gugup dan canggung. Denny bahkan tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.

 

“Kalau begitu aku pulang dulu.” Kata Denny kemudian. Ia benar-benar merasa tidak nyaman dengan Aira yang tiba-tiba jadi pendiam dan tidak cerewet seperti biasanya. Belum lagi kecanggungan di antara mereka berdua yang membuat Denny merasa sedikit gugup berada di dekat Aira.

 

“Kenapa buru-buru.” Entah perasaan Denny sendiri atau memang suara Aira yang berubah menjadi parau saat mengucapkan kalimat tersebut.

 

“Sudah malam, aku nggak enak sama orang tua kamu.” Jawab Denny kemudian.

 

“Ya sudah, aku antar pamitan sama ayah dan mama.” Kata Aira yang sudah berdiri. Denny mengangguk dan mengikuti Aira di belakangnya menuju ke ruang keluarga yang di sana sudah ada Rizky, Zeeva dan juga kedua Adik Aira.

 

***

 

Setelah berpamitan, Aira akhirnya mengantar Denny sampai di halaman rumahnya. Entah kenapa saat ini Denny benar-benar merasa sedang mengunjungi kekasihnya. Padahal sebenarnya mereka kan tidak punya hubungan apa-apa.

 

“Denny, terimakasih sudah mau kesini” Ucap Aira kemudian yang seketika itu juga membuat Denny menatap Wajah Aira.

 

Paras cantik nan manja jelas terukir sempurna pada wajah Aira. Hidung mancung, alis tebal, pipi merona, dan juga bibir nerah merekahnya entah kenapa membuat denny menelan ludahnya seketika.

 

Denny memalingkan wajahnya ke arah lain tidak ingin terpesona lebih jauh kedalam kecantikan seorang Aira. “Aku sudah jauh-jauh datang ke sini, jadi awas saja kalau nggak di makan martabaknya.” Ucap Denny dengan nada datarnya. Ia berusaha mengendalikan dirinya supaya tidak gugup saat berada di dekat Aira.

 

Aira tersenyum saat melihat perubahan ekspresi dari Denny. Lalu tiba-tiba ide jailnya muncul dalam pikirannya. Aira semakin mendekatkan diri pada Denny, Kakinya sedikit berjinjit, tangannya bertumpu pada pundak Denny lalu…

 

‘Cup..’

 

Kecupan singkat dari Bibir mungil Aira mendarat sempurna di pipi Denny. Denny terperangah dengan apa yang sudah dilakukan Aira. Sedangkan Aira sendiri tidak mampu menyembunyikan tawa gelinya saat melihat tampang aneh dari wajah Denny.

 

“Hati-hati di jalan yaa..” Ucap Aira dengan tawa menggodanya. Lalu gadis itu lari masuk ke dalam rumahnya.

 

Sedangkan Denny masih mematung di halaman rumah Aira, tangannya mengusap lembut pipinya yang disana ada bekas kecupan dari bibir mungil Aira.

 

‘Deg..Deg..Deg..’

 

Denny meraba dadanya. Setelah bertahun-tahun seakan bergetar kembali. Debaran yang sama. Jantungnya kini berdebar oleh sosok Aira. Gadis yang sangat mirip dengan masa lalunya.

 

-TBC-

Gimana menurut kalian dengan part ini?? kasih komentarmu yaa… heheheheh

Advertisements

5 thoughts on “Love Between Us – Part 3 (Debaran yang sama)

  1. Denny pasti udah jantuh cinta sama aira, iya kan kak? Semangat ya kak nulisnya, biar cepet baca sambungannya lagi, hehehe…..

    Like

  2. Bapaknya aira galak amat, jadi kebayang klo mukanya mirip pak raden 😂😂😂
    Wah, kecupan pertama dapat membuat jantung denny deg deg deg…kayaknya nanti malem gak bisa tidur tuh…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s