romantis

My Cool Lady – Chapter 6 (Hanya teman)

MCLN2My Cool Lady

Chapter 6

-Hanya Teman-

 

Bella melemparkan tubuhnya di atas Ranjang besarnya. Wajahnya masih memerah. Ia meraba sepanjang bibirnya, disana masih terasa panas, bekas Ciuman Intens yang di berikan Oleh Aaron. Ciuman yang sarat akan kerinduan yang menggebu. Apa lelaki itu merindukannya?? Ayolah Bell… jangan mudah percaya lagi. Bisik Bella pada dirinya sendiri.

Bella masih mengingat bagaimana Aaron memperlakukannya tadi. Membuat jantungnya kembali berdetak tak menentu, membuat tubuhnya seakan panas dingin karena ucapannya..

 

Lumatan itu terhenti, bibir mereka masih sangat dekat bahkan masih sedikit menempel satu sama lain. Desah nafas bersahutan di antara keduanya. Hening, tak ada kata. Keduanya hanya diam, seakan saling menikmati satu sama lain.

Telapak tangan Aaron masih menangkup kedua pipi Bella, Ibu jarinya sesekali mengusap lembut Pipi Wanita di hadapannya tersebut, mengagumi kecantikannya, kelembutannya yang seakan membuat Aaron menegang seketika dan ingin mendaratkan bibirnya kembali pada permukaan kulit lembut tersebut.

“Aku sudah kembali Bell.. Aku kembali untukmu..”

Kata itu di ucapkan Aaron sangat pelan, Seakan tak terdengar. Tapi Bella dapat mendengarnya, merasakan ketulusannya. Apa Lelaki di hadapannya ini benar-benar tulus??

Tidak…

Seakan tersadarkan oleh Sesuatu, Secepat kilat Bella mendorong dada Aaron menjauh. Bella lalu membalikkan badannya memunggungi Aaron.

“Pergilah..” Kata Bella sambil menahan perasaannya yang sudah mulai kacau oleh kedekatannya dengan Aaron.

“Kenapa Bell..??”

“Ku bilang pergi.” Ucap Bella dengan suara lebih keras lagi.

Bukannya marah, Aaron malah tersenyum lebar. “Baiklah, aku akan pergi. Tapi ingat, Aku pasti kembali.”

“Terserah apa katamu.”

Dan tanpa mempedulikan Aaron lagi, Bella masuk ke dalam rumahnya. Ia bahkan setengah berlari saat melewati kedua orang tuanya dan langsung menuju kamarnya.

 

Bella menghela napas panjang. Sesekali jemarinya menelusuri bibirnya. Ya tuhan.. kenapa Ia kembali jatuh pada pesona iblis sialan itu???

Tak lama ponselnya berbunyi. Bella mengernyit saat melihat layar di Ponselnya. Itu Dimas, Secepat kilat Ia mengangkat telepon dari lelaki tersebut.

“Dim.. Ada apa?”

“Aku di luar rumah.” Bella membulatkan matanya. Lalu berlari menuju ke jendela kamarnya. Dan benar saja, di luar gerbang ia melihat Dimas berdiri di sebelah Motornya.

“Kamu ngapain di sana? Sejak kapan??”

“Cukup lama.” Suara Dimas terdengar dingin. Apa dimas tadi melihatnya berciuman dengan Aaron??

“Oke, Aku kesana, Tunggu Aku.” Dan akhirnya Bella menyambar jaketnya lalu berlari ke luar rumah.tak mempedulikan orang tuanya yang lagi-lagi menatapnya dengan tatapan herannya.

***

Aaron Keluar dari mobilnya dengan senyuman Lebarnya. Sesekali ia bahkan bersiul ria karena kebahagiaan yang memuncak di hatinya.

Issabella Aditya…

Wanita itu benar-benar membuatnya gila. Dulu, Saat Kecil, Aaron sering menganggap Bella sebagai pengantinnya. Setiap anak yang dekat dengan Bella pasti di ganggunya habis-habisan hingga anak-anak tersebut menjauhi Bella. Di tambah lagi sikap Bella yang benar-benar susah di ajak bergaul membuat wanita itu tak memiliki teman semasa kecilnya.

Aaron menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa gadis kecil se imut Bella kini menjadi wanita menggoda untuknya?? Bahkan ia sejak tadi berusaha memilikikan hal lain supaya tak selalu menegang saat berdekatan dengan Bella.

Issabella Aditya benar-benar mempengaruhinya…

“Malam Ma…” Sapa Aaron sambil memeluk Mamanya dengan manja.

“Kamu kenapa? bahagia sekali.”

“Aku nggak sabar nunggu minggu depan.” Ucap Aaron masih dengan senyuman lebarnya.

Nessa menggelengkan kepalanya. “Kamu benar-benar Cinta yaa sama Bella??”

Dengan tersenyum Aaron meraih telapak tangan Mamanya lalu menempelkan di dadanya, tepat pada jantungnya yang berdetak cepat seakan menggila.

“Mama bisa merasakan ini?? Aku hanya begini saat memikirkan Issabella Aditya, Apa ini yang namanya Cinta??”

Nessa hanya bisa ternganga mendengar ucapan putera bungsunya tersebut. Hal ini mengingatkannya pada beberapa tahun yang lalu, Saat Dhanni pertama kali berkunjung ke rumahnya, dan melamarnya. Dhanni pun memikiki detak jantung yang sama seperti Aaron saat ini, irama nya cepat seakan menggila, dan itu membuat Nessa tau, Jika Aaron memang sudah jatuh hati pada seorang Issabella Aditya, perasaan puteranya ini tidaklah main-main.

Nessa menangkup kedua pipi Puteranya. “Mama bisa merasakannya, Kamu seperti Papamu yang selalu berdetak seperti itu saat dekat dengan Mama.”

“Apa itu bisa di bilang cinta?” tanya Aaron dengan polos.

“Mungkin, Mama juga kurang mengerti, hanya saja Papa kamu pernah berkata, Jika kamu jatuh cinta pada seseorang, Maka Mata, Hati dan pikiran kamu tak akan bisa lepas darinya. Hanya itu yang Mama tau.” Kata Nessa sambil mencubit hidung mancung aaron.

“Berarti, Aku sudah jatuh cinta sama Bella..” kata Aaron sambil tertawa lebar menertawakan dirinya sendiri.

Nessa ikut tertawa sambil menggelengkan kepalanya. “Dasar bocah Gila.. sudah sana masuk, sudah malam.”

Aaron lalu mengecup pipi mamanya kemudian berlari menuju kamarnya. “Night Ma..” Ucap Aaron sambil berlari pergi meninggalkan Nessa.

Nessa sendiri hanya menggelengkan kepalanya, meski sudah dewasa, nyatanya Aaron masih saja betah bermanja-manja ria dengannya. Aaron memang berbeda dengan Brandon yang cenderung lebih pendiam. Tapi tentu saja keduanya memiliki keistimewaan tersendiri untuk Nessa dan Dhanni.

***

Bella masih sedikit bingung saat Dimas mengajaknya mengelilingi jakarta malam ini. Dimas tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, Dia sangat pendiam, apa Dimas tadi sempat melihat kedekatannya dengan aaron?? Aahhh semoga saja tidak.

“Dim.. kita mau kemana?? Papa akan mencariku kalau aku terlalu lama keluar.” Ucap Bella sedikit keras karena takut suaranyatak terdengar oleh dimas yang saat ini masih konsentrasi mengemudikan laju motornya.

“Kita jalan-jalan sebentar saja, Aku kangen kamu.”

Suara itu membuat jantung Bella berdetak tak menenntu. Dimas bukanlah lelaki romantis pada umumnya, Dia cenderung pendiam, dan jarang sekali mengucapkan kata-kata lebbay layaknya sepasang kekasih. Kadang Bella Bosan dengan Dimas yang begitu-begitu saja, tapi tentu saja, perhatian dimas padanya sedikit banyak menambah rasa sayang Bella pada diri Dimas dan mengubur rasa bosan tersebut.

“Kamu Aneh malam ini.”

“Apa yang aneh jika aku Kangen sama Pacarku?”

Pertanyaan dimas seakan di tunjukkan sebagai alat untuk menyindir Bella, mengingatkan Bella jika dirinya adalah kekasih dari seorang Dimas.

“Ya enggak aneh, tapi kamu nggak kayak biasanya.”

“Mulai saat ini aku nggak mau seperti biasanya.” Ucap Dimas penuh penekanan dan entah kenapa itu membuat Bella seakan tak mengenal sosok Dimas yang selama ini ia kenal.

***

Dimas menurunkan Bella tepat di depan pintu gerbang Rumah Bella. Mereka masih dalam keadaan sama-sama terdiam.

“Besok kamu mulai kerja lagi??” Tanya Dimas mencoba mencairkan suasana.

Bella hanya mengangguk. Entah kenapa Ia sedikit tak nyaman dengan Dimas yang sekarang ini.

“Aku jemput seperti Biasa.” Ucap Dimas tanpa bisa di ganggu gugat.

Tanpa di Duga, Dimas menangkup sebelah pipi Bella, Mengusapnya lembut. “Aku nggak suka melihatmu dan Aaron seperti itu.” Ucap Dimas lembut yang mampu membuat Bella membulatkan matanya seketika.

“Dim… itu nggak seperti yang terlihat.”

“Aku tau..” Dimas lalu mendekatkan diri pada Bella “Jangan Berpaling dariku Bell…” Ucap Dimas Parau lalu mendaratkan bibirnya pada Bibir mungil Bella. Bella hanya mampu mememjamkan matanya. Entah kenapa Ciuman dimas dan juga Ciuman Aaron terasa berbeda. Ada yang kurang di sini, entah apa Bella sendiri tak tau.

***

Paginya, Mau tak mau Bella kembali masuk kerja, sedikit malu karena kembali menginjakkan kaki di kantor lelaki yang sangat di bencinya itu, tapi mau bagaimana lagi, Ia terikat dengan kontrak. Lagi pula sang papa sepertinya sangat mendukung Aaron, Sebenarnya ada apa sih dengan Papanya dan juga Aaron…??

Bella masuk ke dalam ruangannya yang satu ruangan denga Aaron, ternyata di dalam sana sudah duduk Aaron di kursi kebesarannya dengan wajah seriusnya dan juga berkas-berkas kerja di hadapannya.

Bella canggung, ingin menyapa atau tidak. Jika tidak, maka akan terlihat sangat tidak sopan, bagaimanapun juga Aaron adalah atasanya.

“Selamat pagi pak..” Ucap bella sedikit hormat.

“Pagi.” Hanya itu jawaban Aaron.

Entah kenapa jawaban Aaron membuat Bella tak suka. Aaron tak terlihat seperti biasanya, Dia terlihat bersikap cuek pada diri Bella, dan entah kenapa Bella merasa tak nyaman dengan semua itu.

Bella lalu bergegas duduk di kursinya dengan pandangan masih mengarah pada Aaron. Lelaki itu.. kenapa bersikap seperti itu padanya??

“Bella..” Panggilan Aaron membuat Bella sedikit berjingkat.

“Iya pak..”

“Tolong bawa berkas-berkas ini pada pak Brandon.” Ucap Aaron dengan sikap profesionalnya, dan itu membuat Bella sedikit ternganga.

Aaron tak pernah menampilkan sikap seserius itu di hadapannya. Aaron pasti akan selalu menggodanya saat bertemu, tapi entah kenapa pagi ini Lelaki di hadapannya ini berbeda, Ada apa dengannya??

“Bella?? Kamu mendengar saya kan??”

Lagi-lagi Suara Aaron mengagetkan Bella dari lamunannya. “Iya Pak, maaf.” Ucap Bella sambil bergegas ke arah Aaron dan mengambil beberpa berkas yang di sebutkan Aaron.

“Kamu cantik pagi ini.” Dan kalimat itu membuat Bella Membatu.

Apa ada yang salah dengan penampilannya saat ini?? Ia masih mengenakan pakaian kerja seperti biasanya, Kaca mata besar untuk kerjanya seperti biasanya, Sepatu yang tak terlalu tinggi seperti biasanya. Hanya saja… Bibirnya… Ahhh sial..!! Harusnya Ia tak mengoleskan apapun di bibirnya pada pagi ini seperti biasanya. Apa Aaron melihat perbedaannya?? Astaga.. Bella benar-benar tak dapat menahan malunya.

“Bibir kamu terlihat lebih merah dari pada biasanya.” Ucap Aaron lagi.

Dan bella benar-benar ingin menenggelamkan diri di dasar laut saat ini.

“Perasaan bapak saja.” Ucap bella yang langsung di sertai dengan lari meninggalkan Aaron yang tersenyum manis melihat tingkah lakunya.

***

Bella masih sibuk membersihkan wajahnya di toilet khusus karyawan wanita. Astaga.. apa dandanannya pagi ini terlalu berlebihan?? Sepertinya tidak, tapi kenapa Aaron tadi seperti sedang memperhatikan bibirnya?? Aaahhh tentu saja Bodoh, Dia hanya sedang mengerjaimu, membuatmu salah Tingkah.. Rutuk bella dalam hati.

Saat selesai, dan akan keluar dari toilet tersebut, Bella mendengar sama-samar percakapan beberapa orang perempuan. Biasa pasti mereka sedang bergosip di toilet. Bella tak menghiraukannya tapi saat Ia mendengar namanya di sebut, Bella hanya bisa berdiri membatu sambil mendengarkan percakapan mereka.

“Mereka pelukan, hampir ciuman gitu katanya.”

“ihh nyebelin banget tau nggak si Bella itu, mentang-mentang anak orang kaya, sikapnya juga sombong banget.”

“Katanya sih mereka temenan sejak kecil, mungkin sudah di jodohkan kali..”

“Mata Pak Aaron benar-benar buta kalo sampek mau sama cewek judes kaya Bella. Hahahhaha”

“Hahhaha, Pak Aaron nya mungkin nggak mau, makanya si Bella bela-belain kerja di sini jadi bawahannya.”

“Semoga saja Pak Aaron tak tertarik, jadi kita-kita kan masih punya kesempatan.. hahhahah”

Suara-suara itu semakin menjauh lalu menghilang tak terdengar lagi di telinga Bella. Bella meraba Dadanya yang entah kenapa terasa sesak. Ada apa dengannya???

***

Sesekali Bella masih mengawasi Aaron yang kini sedang Meeting dengan seorang klien perempuan. Aaron sejak tadi tampak cuek dengannya dan sepertinya lebih memilih bercakap-cakap dengan Si Klien tersebut. Dan itu membuat Bella kesal.

Bella menyantap hidangan di hadapannya. Yaa saat ini mereka memang sedang Meeting di sebuah restora tak jauh dari tempat kerja mereka. Karena tak di anggap berada di sana, Bella lebih memilih makan makanan yang sudah di sajikn di hadapannya.

Tak lama si klien perempuan tersebut pamit pergi dan meninggalkan kalimat membingungkan untuk Bella.

“Oke, Terimakasih kerja samanya, Aku menunggu undangan dari kalian.” Ucap Wanita itu dengan menyunggingkan sebuah senyumannya.

“Sialan..!!” Hanya itu jawaban dari Aaron sambil memeluk wanita di hadapannya layaknya seorang yang sudah berteman sejak lama. Akhirnya Aaron memutuskan untuk mengantar wanita tersebut sampai di parkiran restoran.

Bella masih saja Asik menikmati makanannya tak mempedulikan Aaron yang sudah berjalan ke arahnya.

“Kamu seperti orang kelaparaan.”

“Ya, aku memang sedng kelaparan.” Jawab Bella dengan nada ketusnya.

“Kamu juga seperti orang yang sedang cemburu.”

Kali ini perkataan Aaron membuat Bella tersedak makanannya. “Apa?? Cemburu?? Yang benar saja.”

“Mengaku saja..” Aaron masih saja menggoda Bella.

“Heii… Mau kamu pacaran dengan wanita tersebut aku sama sekali tak peduli. Cemburu?? Yang benar saja, tak ada kata cemburu dalam kamus ku.” Bella menjawab dengan keangkuhannya.

Aaron tersenyum miring. “Semakin kamu menjelaskan, semakin kamu terlihat cemburu.”

“Terserah apa katamu.” Bella menjawab dengan Ketus lalu melanjutkan makan makanan di hadapannya.

***

Akhirnya, setelah makan, Mereka memutuskan untuk kembali ke kantor, mengingat Jam masih menunjukkan pukul 3 Sore.

Ketika di parkiran, Bella menghentikan langkahnya saat melihat Seorang Lelaki dengan Kemeja Biru tuanya. Bella tentu sangat tau siapa lelaki tersebut, mengingat tadi pagi lelaki itulah yang mengantarnya ke tempat kerjanya. Itu Dimas, kekasihnya, dan dia sedang bersama dengan seorang wanita. Mereka menuju ke sebuah Mobil mewah. Pasti Mobil dari wanita tersebut.

Sedang Apa Dimas di sini? Bukankah Tadi Dimas berkata jika Dia sedang sibuk?? Yaa, setiap jam makan siang memang Mereka menyempatkan bertemu walau hanya sebentar, tapi ketika mereka tak bertemu, Mereka cukup saling mengabari dengan saling berteleponan. Tapi tadi Dimas berkata jika dirinya sedang sibuk dan tak bisa di ganggu. Inikah sibuk yang di maksud Dimas??

Bella hanya terpaku menatap Dimas dan wanita tersebut masuk ke dalam Mobil lalu pergi berlalu begitu saja.

“Kenapa Bell..??” Suara Aaron menyadarkan Bella dari lamunannya.

“Ahh Enggak.”

“Itu pacar kamu kan tadi?? Si Cupu dimas??” Tanya Aaron dengan senyuman mengejeknya.

“Bukan Urusanmu.” Jawab Bella dengan ketus.

“Oke, memang bukan urusanku, tapi sepertinya akan menjadi Urusanmu, Mengingat dia bersama dengan Wanita kaya tersebut.”

Bella memutar Bola matanya pada Aaron. Entah kenapa Emosinya tersulut begitu saja. “Mereka hanya Teman, tidak Lebih.”

“Kamu yakin??”

“Ya, Aku percaya padanya.” Ucap Bella dengan nada yakin dan percayanya. Padahal sebenarnya hatinya sedang gelisah. Benarkah mereka hanya teman?? Jika Iya, Kenapa juga Dimas berbohong padanya???

Sedangkan Aaron sendiri hanya dapat menahan kekesalannya dalam hati. Secinta itukah kamu dengan Laki-laki sialan itu Bell, Hingga kamu tak dapat melihatku yang jelas-jelas selalu berada di dekatmu?? Yang jelas-jelas selalu berusaha untuk mendapatkan perhatianmu???

-TBC-

Maaf kalo Updatenya agak lama yaa.. wkwkkwkwk Nggak tau kenapa mood sedang turun aja hehehhehe lagi pengen nulis yang lainnya, Jadi maaf kalo Feelnya kurang dapet yaa.. hahahah Komen selalu di tunggu loh.. yang nggak komen Bisulan wkwkkwwkkwk #SayaSedangJahatSoalnya

Advertisements

5 thoughts on “My Cool Lady – Chapter 6 (Hanya teman)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s