romantis

My Cool Lady – Chapter 5 (Sekelebat masa lalu)

MCLN2My Cool lady

Pernahkah kalian merasa sangat mencintai seorang Lelaki??

Bagaimana jika Lelaki itu tiba-tiba meninggalkan kalian saat Kalian berada pada titik tak bisa melupakannya??

Lalu bagaimana jika Setelah bertahun-tahun Ia menghilang tanpa Kabar kemudian kembali dan tiba-tiba menjadi calon suami kalian??

Apa Kalian Menerimanya? Atau menolaknya??

kalau Aku?? Aku akan menerimanya.. yaa Karena aku terlalu Bodoh dan munafik, terlalu percaya dengan Jodoh, belahan Jiwa dan lain sebagainya yang berhubungan dengan keajaiban Cinta. padahal semua itu Bulshit..!!!  tapi aku Bersyukur, Setidaknya sampai Enam tahun ku lalui bersamanya, Aku tak pernah merasa salah untuk menerimanya kembali……

Chapter 5

-Sekelebat Masa lalu-

 

“Karena Dia Calon istriku..”

Aaron menatap wajah Bella yang masih menyiratkan rasa keterkejutannya. Wanita itu nampak tak percaya dengan apa yang di dengarnya, Wajah Bella nampak Memucat, Seakan Takut akan sesuatu, dan itu membuat Aaron tak suka.

Sial..!! Kau sudah menakutinya Sialan..!!! Aaron meruntuki dirinya sendiri.

Secepat kilat Aaron merubah ekspresi wajahnya. Ia menatap Bella dengan senyuman lebarnya, lalu Ia mulai tertawa terbahak-bahak seakan menertawakan Bella dan Dimas yang masih Shock dengan kata-katanya tadi.

Bella mengerutkan keningnya karena heran dengan apa yang di lakukan Aaron, Lelaki di hadapannya itu tampak menertawakannya. Ada apa?? Apa yang membuat Aaron tertawa terbahak-bahak seperti itu??

“Wajah kalian lucu tau nggak..” Kata Aaron masih dengan tawa lebarnya.

“Apa maksudmu?” tanya Bella dengan wajah bingungnya.

“Kalian percaya dengan yang ku katakan tadi?? Hahahahaha Astaga… mana mungkin dia menjadi Calon istriku??” Aaron berkata masih dengan nada mengejeknya dan tawa lebarnya.

Seketika itu juga Emosi Bella memuncak. Ia benar-benar merasa di permainkan Aaron saat ini. Dengan gusar Bella Berdiri dan meninggalkan tempat itu secepat mungkin.

Dimas pun ikut berdiri hendak mengejar Bella, Tapi Aaron menahannya dengan kembali memasang wajah sangarnya.

“Gue peringatkan, Jauhi Calon Istri Gue.” Ucap Aaron penuh penekanan. Lalu Ia berlari pergi menyusul Bella.

***

Aaron masih berlari mengejar Bella tak mempedulikan beberapa karyawan yang melihatnya. Mungkin saja saat ini Bella merasa terhina dengan ucapannya tadi. Saat Bella masuk ke dalam sebuah Lift, Aaron mengejarnya hingga mereka berdua berada pada lift yang sama.

Saat pintu lift sudah tertutup, Aaron mendorong Bella ke ujung lift dan memenjarakan tubuh bella diantara kedua tangannya.

Sedangkan Bella hanya Diam, Ia seakan menganggap Aaron tak berada di hadapannya. Ekspresinya datar, sangat datar. Dan itu membuat Aaron tak suka.

“Berhenti menampilkan Ekspresi sialan itu saat di hadapanku.” Desis Aaron.

“Kenapa? Kamu nggak berhak melarangku..”

Aaron tersenyum miring. “Aku atasanmu.”

“Hanya Atasan, Dan Maaf, hari ini juga saya akan mengundurkan diri.”

“kamu terikat kontrak dan nggak bisa mengundurkan diri seenaknya.” Ucap Aaron penuh penekanan.

“Papaku bisa membayar ganti Rugi kontrak sialanmu itu.” Bella tak dapat lagi menahan perasaannya. Emosinya benar-benar memuncak. Ia merasa di permainkan oleh iblis yang satu ini.

“Katakan Bell.. Kamu kecewa bukan kalau aku tadi hanya bercanda?? Apa kamu ingin itu menjadi kenyataan?? Kamu ingin menjadi Calon istriku??”

Aaron menatap Bella dengan tatapan menilainya, sedangkan Bella sendiri hanya bisa membatu, tak tau jawaban apa yang cocok di berikan pada Lelaki di hadapannya ini. Pada saat bersamaan, Suara lift berbunyi.

Dengan sekuat tenaga Bella mendorong Aaron hingga lelaki itu menjauh darinya.

“Dalam Mimpimu.” Ucap Bella dengan ketus lalu meninggalkan Aaron yang tersenyum miring karena mendengar ucapannya.

***

Ke esokan harinya..

Bella bangun sangat siang. Rasanya sangat nyaman karena Ia tak lagi di wajibkan bangun pagi seperti biasanya, Kini Ia bisa malas-malasan di dalam rumah, Berlatih taekwondo Seperti saat Ia belum sibuk di kantor Brandon. Dan pastinya, ia tak akan bretemu kembali dengan wajah tengil sialan itu.

Bella bergegas mandi lalu mengenakan pakaian santainya seperti biasa dan dengan santainya dia turun ke meja makan untuk sarapan. Sedikit terkejut saat ia masih melihat sang Papa masih berada di rumah jam segini.

“Kenapa kamu nggak berangkat ke Kantor?”

Bella duduk dengan santai lalu mengambil selembar roti tawar dan mengolesnya dengan selai cokelat. “Aku berhenti kerja Pa.” Jawab bella dengan nada santainya.

“Kenapa berhenti kerja??”

“Malas.” Hanya itu jawabannya. Bella benar-benar harus di ajari cara bersopan-santun.

“Tidak ada kata Malas Bella. Cepat ganti bajumu dan berangkat kerja.”

“Sampai kapanpun aku nggak mau kerja dengan Iblis sialan itu.” Kata Bella yang langsung berdiri dan meninggalkan Papa Mamanya dengan Ekspresi ternganga.

Shasha yang berada di sana menepuk lembut bahu suaminya. “Sabar, Dia memang seperti itu.”

“Dia terlalu banyak di manja Sayang. Pokoknya dia harus segera di nikahkan.”

“Mas.. Bella sepertinya sudah punya pacar.” Ucap Shasha sedikit khawatir.

“Aku nggak peduli, Tak ada Lelaki yang kupercaya untuk meminang puteri kita selain Aaron. Dan bella mau tak mau harus menerimanya.”

“Bagaimana kalau dia membenci kita nanti.” Shasha masih terlihat Khawatir.

“Nggak akan lama. Dia akan kembali menyayangi kita setelah Aaron menjelaskan semuanya nanti pada waktunya.”

Shasha mengangguk. Yaa kini semuanya masih terasa rumit, tapi Ia yakin jika nanti semua akan membaik. Bella akan tau mana sosok yang benar-benar mencintainya bahkan Rela mengorbankan apapun demi dirinya.

***

“Dia nggak mau berangkat ke kantor.” Ucap suara di sebrang.

“Biar saja Om.. Kemarin siang saya memang sedikit keterlaluan.” Aaron tersenyum mengingat Ekspresi yang di tampilkan Bella dan Dimas kemarin siang. “Nanti malam saya akan kesana mengunjunginya.”

“Baguslah kalau begitu,.” Aaron tersenyum menyeringai.

“Terimakasih pengertiannya Om..”

“Yaa jangan sungkan, ingat, Saya sudah mempasrahkan Bella di tangan Kamu, Kamu hanya perlu membuktikan pada saya Cara membuatnya bahagia.”

“Nanti, Om ramma akan melihat bagaimana cara saya membahagiakannya.” Ucap Aaron penuh keyakinan. Telepon pun akhirnya di tutup. Aaron tersenyum lebar. Gadis itu benar-benar keras kepala.. Lihat saja nanti malam aku akan menghukummu. Kata Aaron dalam hati.

***

Malam harinya..

Aaron sudah nampak tampan dengan Kemeja lengan panjangnya yang rapi, di padukan dengan celana Jeans yang membuatnya tampak begitu mempesona bagi wanita-wanita yang telah menatapnya.

Aaron berdiri tepat di depan pintu besar yang akan di ketuknya. Ini pertama kalinya Ia bertamu di rumah keluarga Aditya. Bertamu untuk menemui wanita yang sudah di anggapnya sebagai belahan jiwanya sejak kecil.

Aaron membunyikan Bell pintu tersebut dan sesekali mengetuknya. Saat pintu di buka, tampaklah sosok wanita paruh baya yang masih terlihat Cantik di usianya. Itu Tante Shasha.

“Astaga Aaron??” Shasha nampak tak percaya dengan apa yang Ia lihat di hadapannya. Aaron berdiri menjulang lebih tinggi dari pada dirinya, Memang tak se tinggi Brandon atau Dhanni, tapi tetap saja Aaron tampak berbeda setelah bertahun-tahun lamanya mereka tak bertemu.

“Iya tante.. Bella nya ada?” Tanya Aaron tanpa basa basi.

“Ada, Ayo masuk.” Ajak Shasha yang masih tak ingin berpaling dari ketampanan wajah Aaron. “Ya Ampun.. tante benar-benar pangling sama Kamu. Kamu terlihat semakin dewasa, dan tampan pastinya, Mirip sekali sama Mama kamu, tapi tidak mengurangi sedikitpun kemiripan dari Papamu.”

“Tante berlebihan.” Ucap Aaron sedikit malu dengan pujian yang di berikan Shasha. “Om Ramma Ada?”

“Bella ada di kamarnya, sedangkan om Ramma masih di ruang kerjanya. Kamu mau menemui siapa??” tanya Shasha pada Aaron.

“Bella, Apa boleh??”

Shasha tersenyum “Tentu saja, Naiklah ke atas, Lantai Dua hanya ada satu kamar dengan pintu Putih, Itu kamarnya.”

Aaron tersenyum dan mengangguk lalu ia bergegas pergi menuju ke arah yang di tunjuk shasha.

***

Bella benar-benar kesal karena sejak tadi ada yang mengetuk pintunya. Jika itu sang Mama tentu saja mamanya itu akan segera membuka pintunya dan masuk ke dalam, tapi jika itu salah satu pelayan rumahnya, mereka jelas tak akan mengetuk pintu kamarnya berkali-kali saat dirinya tak ingin di ganggu seperti saat ini.

Dengan malas Bella bangkit dari ranjangnya dan membuka pintu kamarnya tersebut. Alangkah terkejutnya saat ia menatap Sosok yang paling tak ingin ia temui di dunia Ini, Aaron dengan Seringaian liciknya.

“Hai Bell..”

“Kamu.. Ngapain kamu kesini??”

“Aku ada perlu sama kamu.” Kata aaron dengan santai.

“Maaf, Kita nggak ada hubungan apa-apa lagi. Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri dan segala apa pun yang berhubungan dengan kontrak, Papaku yang akan mengurusnya.”

Aaron menyandarkan tubuhnya di pinggiran pintu kamar Bella, Ia mengambil sebuah Amplop coklat yang berada di dalam saku celananya.

“Jadi maksud kamu surat ini??” tanya Aaron sambil memperlihatkan Amplop tersebut pada Bella. Lalu tanpa banyak bicara, Aaron merobeknya tepat di hadapan Bella. “Tak ada pengunduran diri Bella, kamu masih sah menjadi karyawan perusahaan Kami, Dan Kamu masih menjadi Sekertaris pribadiku.”

Bella membelalak dengan sikap semena-mena dari Aaron. Lelaki ini, kenapa jadi seribu kali menjengkelkan di banding yang dulu??

“Sebenarnya apa mau mu?? Aku terlalu malas berurusan dengan mu.” Bella berbicara dengan suara kerasnya.

Aaron berdiri tegak tepat di hadapan Bella. Lalu mencondongkan wajahnya hampir menempel pada wajah Bella. Sedangkan bella sendiri memang tak berniat untuk mundur, ia berpikir jika Ia mundur Maka Aaron dengan senang hati akan selalu menggodanya.

“Aku hanya ingin berteman dengan mu Bell..” Ucap Aaron dengan parau.

“Nggak mau.”

“Kenapa??”

“Kamu suka Usil, menyebalkan, Bandel, tengil, pengganggu…”

“Aku akan hilangkan semua sikap buruk ku itu, bagaimana??”

Bella tampak berpikir. “Aku pernah bilang bukan, Jika aku tak ingin berteman dengan orang yang Bodoh.”

Tanpa di Duga, Aaron tertawa lebar. “Aku tidak Bodoh Bella, See, Aku lulusan Harvard dengan nilai terbaik, Apa itu masih kurang untuk membuktikan kalau aku bukan orang yang bodoh??”

“Ohh jadi kamu Sekolah di Harvard hanya untuk pamer dan membuktikan padaku jika kamu tidak Bodoh??” ucap Bella dengan nada menyindir.

Tanpa di duga Aaron kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Bella, menatap mata Bella dengan tatapan tajamnya, Dan wajahnya berubah menjadi serius.

“Yaa.. Aku sekolah Di sana hanya untuk membuktikan, jika hanya aku yang pantas bersanding denganmu.” Ucap Aaron penuh penekanan tanpa sedikitpun embel-embel seringaian tengil yang biasanya ia tampakan.

Deg.. deg… deg…

Jantung Bella memacu lebih cepat. Rasa gugup seketika itu juga merayapi dirinya. Betapapun ia menolak, Ia tetap akan sadar jika Aaron benar-benar mempengaruhinya. Membuatnya gugup dan sedikit salah tingkah.

Aaron menelusuri Wajah Bella, Lalu berbisik di sekitar telinga Bella. “Apa Kamu tau, Kalau aku sudah melakukan banyak hal untuk mendapatkanmu??” Suaranya parau dan pelan hampir tak terdengar.

Bella hanya mampu memejamkan matanya, tak ingin terlalu jatuh dalam pesona lelaki Iblis di hadapannya kini, Bella bahkan menahan nafasnya, Aroma tubuh Aaron yang memabukkan benar-benar menggodanya, Seakan menggelitik diri Bella untuk segera memeluk tubuh Lelaki di Hadapannya kini.

“Lihat Aku Bella… Apa kamu tidak merindukanku..”

Aaron masih saja menggodanya dengan suara-suara menggoda yang membuat bulu kuduk Bella berdiri.

“Apa Kamu sudah melupakan Ciuman pertama kita..” Kini suara Aaron tepat berada di Bibir Bella, Bibir mereka bahkan Hampir menempel saat ini.

Sekelebat bayangan terlintas di kepala Bella..

 

“Heii…” Suara itu mengagetkan Bella, Membuat Bella menatap pada sosok yang berdiri di belakangnya. Seketika itu juga Bella nampak gugup. Entah sejak kapan Lelaki itu mempengaruhinya. Apa sejak Ia menulis sesuatu di baju seragamnya pada saat itu???

“Kenapa kamu di sini?” tanya Bella tak menghilangkan rasa Gugupnya.

Tanpa sungkan lagi Aaron duduk di kayu panjang tepat di sebelah Bella. “Kamu sendiri ngapain di sini?” Aaron bertanya balik.

“Disana terlalu ramai, Aku nggak suka.” Bella menatap sekelompok anak-anak di depan Api unggun. Yaa saat ini mereka memang sedang mengadakan Kemping bersama selam tiga hari untuk perpisahan, tak ada pesta kelulusan karena semua murid serempak memilih kemping bersama di alam bebas seperti saat ini.

“Kamu sekolah di mana nanti?” Tanya Aaron mengalihkan perhatian.

“Aku sudah pernah bilang bukan, Dimana pun, asal tidak satu kampus denganmu.” Ucap Bella dengan nada ketusnya, dan itu membuat Aaron tersenyum.

“Kenapa kamu begitu benci sama Aku Bell??” Aaron bertanya dengan nada santainya, Wajahnya pun terlihat santai.

“Kamu Bandel.”

“Hanya Itu?”

“Tengil.”

“Lalu?”

“Pengganggu..”

“Apa Lagi?”

“Usil.”

“Terus?”

“Bodoh.”

“Masih ada?”

“Banyak sekali alasanku membencimu.” Bella menjawab masih dengan nada ketusnya.

Aaron tertawa lebar, tapi secepat kilat Ekspresinya berubah menjadi serius. Ia menatap bella dengan tatapan tajamnya dan menelusuri wajah gadis di hadapannya tersebut.

“Akan ku buktikan jika aku tak seburuk yang kamu bilang.” Ucap Aaron dengan parau.

Bella terpesona dengan wajah tampan lelaki di hadapannya ini, Wajah tampan tanpa seringaian licik seperti biasanya, tanpa tampang tengil seperti biasanya, dan itu membuat jantung Bella seakan menggila. Tanpa sadar Bella berkata “Buktikanlah..” dengan suara tak kalah Parau dari suara Aaron.

Dan ketika Aaron mendekatkan Wajahnya, Bella hanya mampu memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut dari bibir seorang Lelaki untuk pertama kalinya, Sungguh, Bella sangat menikmatinya. Ia merasa seakan terbang jauh tinggi dan tak ingin kembali Lagi. Ia ingin Aaron tetap menjadi sosok lembut seperti saat ini, bukan sosok yang selalu usil dan mengganggunya…

 

Bella merasakan sesuatu yang lembut dan basah Hampir menyentuh permukaan bibirnya. Itu Bibir Aaron, Bella tau itu, Bella pernah merasakannya, Jadi Bella tau walau kini Bibir mereka belum saling menempel dan hanya meninggalkan jarak kurang dari satu inci.

Seketika itu juga Bella membuka matanya lebar-lebar, Dan benar saja, Lelaki itu hampir saja menciumnya lagi seperti yang dia lakukan beberapa tahun yang lalu saat kemping perpisahan sekolah.

Ketika Bella akan menjauhkan diri, Suara itu menyadarkan mereka berdua.

“Maaf, Mama ganggu yaa..” Itu suara Shasha yang ada di ujung tangga, ia melihat Bella dan juga Aaron begitu dekat seperti orang yang akan saling berciuman.

Secepat kilat Bella menjauhkan diri dari Aaron dengan kegugupan yang melandanya. Wajahnya memerah, benar-benar merah karena malu. Berbeda dengan Aaron yang nampak santai bahkan mampu menjawab pertanyaan Shasha.

“Tidak tante.. Kalau tante kemari, berarti ada yang penting yaa.”

“Emm.. tante buatkan makan malam special, Ayo turun, Kita makan malam Bareng.” Ajak Shasha.

“Yaa tante, kebetulan saya sangat lapar, Bukan begitu Bella?” Aaron bertanya pada Bella sambil mengerlingkan matanya. Sedangkan Bella hanya memutar bola matanya ke arah lain. Ia masih merasa gugup di sebelah Aaron.

Akhirnya tanpa banyak bicara lagi, Aaron meninggalkan Bella dan memilih untuk turun bersama Shasha. Mau tak mau Bella pun menyusul mereka, dan mereka berakhir makan malam bersama layaknya keluarga.

***

Bella masih saja memasang wajah masamnya. Tubuhnya kini masih menyandar di pilar besar depan pintu rumahnya. Sang papa tadi menyuruhnya untuk mengantar Aaron kedepan saat pulang.

“Jadi, besok kamu akan kembali bekerja kan??” Tanya Aaron memastikan.

“Nggak tau.”

“Aku sudah janji nggak akan ganggu kamu Bell. Kita akan profesional.”

Bella masih menatap ke arah lain seakan enggan menatap pada wajah Aaron. Yaa.. sejak tadi ia memang sudah tak berani lagi menatap wajah itu. Ia takut terpesona, dan jatuh kembali pada daya tarik seorang Aaron Revaldi.

“Kenapa kamu nggak berani menatapku.” Tanya Aaron sambil mengangkat sebelah alisnya. Ia tau, gadisnya itu sudah mulai terpengaruh olehnya.

“Malas.”

Aaron tersenyum miring. Lalu tanpa permisi Ia menangkup kedua pipi Bella, mengarahkan tepat di hadapannya.

“Bukan karena Malas, Tapi karena kamu takut, Takut kembali jatuh cinta padaku.” Ucap Aaron penuh penekanan lalu tanpa permisi mendaratkan Bibirnya pada Bibir Bella. Melumatnya lembut, mencecap rasanya, rasa yang dulu pernah membuatnya seakan candu.

Sedangkan Bella hanya mampu membulatkan matanya. Tak percaya apa yang di lakukan Aaron saat ini. Meskipun pikirannya menolak, namun entah mengapa tidak dengan hatinya, hatinya terasa sedikit berbunga, perutnya seakan penuh dengan gejolak, dan jantungnya.. ohh jangan di tanya lagi… Aaron seakan membangkitkan rasa yang dulu pernah ia rasakan, Rasa yang tak pernah lagi bangkit setelah ia kehilangan sesuatu dalam hatinya…

 

-TBC-

Abaikan cetakan miring di atas… saya memang sedang Galau+Lebbay,, wkwkwkkwk Vote dan Coment selalu di tunggu..

Advertisements

5 thoughts on “My Cool Lady – Chapter 5 (Sekelebat masa lalu)

  1. uuuuuu bella bella udah sampai pada tahap menyerah nich kayaknya
    jatuh cinta lagi dan msin gk bisa lepas
    dimas good bye

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s