romantis

Love Between Us – Part 2 (Pertemuan ketiga)

1461672642101Love Between Us

-Part 2-

-Pertemuan Ke Tiga-

Hari ini Denny pulang lebih sore tepatnya pukul 06.00. Ia baru sampai di kontrakannya. Tentu saja, ini hari senin bukan. Segala macam pekerjaannya pada weekend lalu harus di selesaikannya hari ini. Denny mendengus sebal. Jadi seperti ini rasanya menjadi pegawai biasa??.

Denny duduk di teras rumah kontrakannya sambil melepas sepatu yang kenakannya. Di lihatnya langit sore, mendung. Rupanya hujan akan segera turun. Biar lah.. toh ia tak akan kemana-mana juga. Tetapi saat ia hendak masuk ke dalam rumah. Denny berhenti seketika seakan mengingat sesuatu.

Gadis itu…

Denny menggelengkan kepalanya. Aahh mana mungkin Gadis itu benar-benar menunggunya di Cafe seperti yang di ucapkannya tadi pagi. Paling Gadis itu tak akan datang. Akhirnya Denny menjalankan kembali aktifitas sorenya, Mandi lalu dengan santai memainkan Gitarnya di teras rumah seperti biasanya.

***

Aira memilah pakaian yang akan dikenakannya. Ia pusing sendiri harus mengenakan yang mana. Aira mengerutkan keningnya, ia sudah lelah. Di banting tubuhnya di atas ranjang, ia menindih semua dress yang dijajalnya tadi. Setengah jam kemudian Aira sudah rapi dengan T-shirt putih dan rok mini berbahan jeans. Tak lupa sneaker putih bermerek Nike.

“Nona Aira, jadi pergi?” Tanya Indra, pengawal Aira. Saat Aira keluar dari kamarnya. Gadis itu memincingkan matanya.

“Apa kalau kamu nggak ikut ayah nggak akan marah?” Aira mendengus kesal melewatinya. Kemana pun Aira pergi Pengawal itu harus ikut. Kebebasannya seolah direnggut. Indra gelagapan, ia tidak mau dimarahi Rizky atau bisa jadi dipecat.

“Maaf nona, sesuai yang diperintahkan tuan Rizky. Saya harus ikut kemana pun nona Aira pergi” Ia mengucapkan dengan tegas.

Lain kali Indra harus ku kerjai dengan obat pencahar.

Aira tersenyum misterius, ide gilanya terlintas begitu saja. Entah sudah berapa Pengawal yang dikerjainya dengan obat itu. Hanya Indra yang belum merasakannya. Disepanjang jalan Aira terkikik sendiri membayangkan Indra bolak-balik ke kamar mandi dengan wajah pucat.

“Kita ke Cafe Flowers, aku ada janji dengan seseorang disana” Indra dengan cepat berlari menyiapkan mobil.

***

Saat Denny sedang asik memainkan Gitarnya, ponselnya berbunyi. Dari Arga teman kantornya. Ia akhirnya mengangkat telepon dari Arga.

“Ada apa Ga??”

“Gue mau ke rumah lo, tapi hujan.”

“Ya udah nggak usah ke sini.”

“Sialan..!!! Gue udah di depan gang kontrakan lo Den. Buruan kesini jangan lupa bawain gue payung.”

“Sial..!!” Umpat Denny. Tapi mau tak mau tentunya ia tetap menjemput Arga ke depan gang kontrakannya.

Sesampainya di dekat mobil Arga, Denny meruntuki dirinya sendiri. Ia menyesal, kenapa tadi mau-maunya menjemput Arga. Temannya itu ternyata membawa serta adik manjanya yang menyebalkan. Manja dan centil mirip dengan Gadis itu.

Gadis itu?? Ahh sial..!! kenapa juga ia memikirkannya??

“Lo ngapain sih kemari?” Tanya Denny dengan sikap cuek dan dingin khasnya.

“Gue mau ngunjungin lo Den..”

“Kenapa juga dia ikut?” tanya Denny sembari menunjuk dengan dagunya.

“Ihh Kak Denny kok gitu sih..” jawab seorang gadis yang ada di kursi penumpang tepat di sebelah Arga yang masih duduk di balik kursi kemudinya.

“Sudah, pakai ini.” Denny memberikan sebuah payung untuk mereka berdua.

“Terus aku sama siapa Kak??” Tanya Gadis itu dengan nada manjanya.

“Sama kakakmu saja.” Jawab Denny berlalu meninggalkan mobil Arga begitu saja.

“Issshhh kapan sih sikap menjengkelkannya itu bisa sembuh?” ucap Gadis itu dengan kesal sedangkan Arga hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Denny duduk di uang tamu sederhananya dengan berbagai macam makanan yang sudah tersedia di meja tepat di hadapannya. Tak tanggung-tanggung, Arga ternyata membawakannya beberapa makan malam lengkap dengan cemilannya.

“Lo habis ngerampok?” Tanya Denny dengan wajah datarya.

“Nggak tau nih si Dinda ngotot mau bawain lo makanan sebanyak ini.”

“Aku kan cuma perhatian sama Kak Denny.”

“Tapi nggak perlu sampai seperti ini Din..”

Denny memalingkan wajahnya dan tanpa sengaja ia menatap ke arah jam dindingnya. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, entah kenapa perasaannya jadi tak enak.

“Lo ada masalah Denn?? Kayaknya gelisah banget.”

“Nggak kok” Denny mengelak. Padahal sesungguhnya pikiran ia saat ini sedang tak nyaman. Hatinya bertanya-tanya bagaimana kalau Gadis itu benar-benar datang dan menunggunya??. Ahhh tidak mungkin sepertinya, pikirnya kemudian.

Tapi tak lama nalurinya sebagai seorang pria mengingatkan hal lain. Ia harus memastikan apa Gadis itu benar-benar datang ke Cafe atau tidak.  Mengingat ini sudah malam dan hujan masih lebat. Denny menjadi khawatir jika yang dipikirkannya benar-benar terjadi. Semoga saja Gadis itu tak datang atau tak menunggunya di sana.

“Ga.. Gue pinjem mobil lo!” Ucap Denny kemudian. Ia harus bertindak cepat. Denny tak tenang karena pikirannya bercabang kepada Gadis yang bernama Aira.

“Buat pa?? Memangnya lo mau kemana??” Arga menyerahkan kunci mobil miliknya.

“Ada urusaan penting.” Sambar Denny mengambil kunci mobil.

Arga meminjamkan mobil bututnya tersebut pada Denny. “Awas kalau banjir Denn, dia suka mogok” amanatnya.

“Gue akan balik sebelum banjir.” Jawab Denny dengan pasti. Adik Arga mengerutu tidak jelas, susah payah ia membujuk kakaknya untuk ikut malah ditinggal pergi oleh gebetannya.

Aira sudah gelisah menunggu Denny. Tatapannya selalu tertuju pada pintu masuk Cafe. Ia menghembuskan napasnya. Indra yang duduk di tempat lain pun ikut bosan. Anak tuannya itu menunggu siapa sampai rela menghabiskan 3 jam hanya duduk di Cafe. Setengah jam lagi Cafe pun akan tutup. Aira mencoba menelepon Denny, ia masih menyimpan kartu namanya. Namun hasilnya nihil tidak ada jawaban, diangkat pun tidak. Ia menoleh pada Indra yang berdiri. Pengawal itu bergerak melangkah menuju toilet.

Dengan terburu-buru Aira berlari keluar. Ia mencari tempat bersembunyi dari Pengawalnya tersebut. Hujan deras menghambat langkahnya, licin. Di pinggir Cafe terdapat lorong yang sempit dan gelap. Aira bersembunyi disana. Ia mengatur napasnya yang tersengal. Pakaiannya kebasahan saat ia berjalan tadi.

Mudah-mudahan Indra tidak menemukanku disini.

Bibir Aira komat-kamit berdo’a agar Indra pergi. Ia mengintip dari balik dinding. Indra sedang mengedarkan penglihatannya ke segala arah. Kemudian ia masuk ke mobil. Gadis itu bersorak senang, ia berhasil kabur lagi. Pundaknya disentuh seseorang lalu ia berbalik. Aira terjungkal saking kagetnya. Ekpresi wajahnya ketakutan, jantungnya pun berdebar cepat. Bokongnya jatuh menyentuh lantai. Bagaimana tidak kaget Denny tiba-tiba muncul dari dalam lorong yang gelap gulita hanya menampakkan sileutnya saja.

“Apa yang kamu lakukan?” Tanyanya dingin. Aira mengumpat, bokongnya sakit.

“Kamu membuatku kaget, Denny!!!” Ia berusaha berdiri namun sulit. Denny mengulurkan tangannya berniat membantu. Aira menyambutnya. Rok jeans Aira basah, kakinya pun kotor. “Kotor” Ia mengibas-ngibaskan roknya. Denny jengah melihat kelakuan Aira yang menampilkan paha putihnya.

“Kenapa kamu nggak pulang saja?” Aira cemberut.

“Aku bukanlah orang yang mengingkari janjinya” Sahutnya, Denny tertegun.

“Kalau saya nggak datang bagaimana? Apa kamu tetap menunggu?”

“Tentu saja aku akan menunggunya sampai pagi” Dasar gila, pikir Denny. “Karena ayahku mengajarkan untuk bertanggung jawab dalam hal apapun termasuk janji” ucap Aira bangga. Denny tersenyum miring sembari mengusap wajahnya yang basah terkena air hujan.

“Saya akan mengantarmu pulang” ucap Denny berlalu ke mobil sedan yang wujudnya membuat Aira terngangga. Ia di antar dengan mobil itu?. Mobil antik. “Mau sampai kapan kamu disitu?” Denny sudah membuka pintu mobil untuk Aira. Dengan perlahan Aira masuk dan duduk di kursi.

Denny membanting pintu mobil cukup keras, Aira sampai berlonjak kaget. “Maaf, pintunya kalau nggak dibanting nggak bisa menutup” Aira mengira jika Pria ini sedang marah. Hujan semakin deras mengiringi lajunya mobil, hening. Tiba-tiba mesin mobil mati.

Sial! Mobil Arga ngadat lagi!.

“Kenapa?” Tanya Aira.

“Mobilnya mogok” Denny mencoba menstater tapi mesin mobil tidak berbunyi sama sekali. Banjir itulah masalahnya, jalanan di genangi air cukup tinggi.

“APA?? Lalu aku pulang bagaimana??” Ia mulai panik. Terjebak di tengah jalan yang sepi dan rumahnya pun masih jauh. Pikirannya menjadi kalut, ayahnya pasti akan memblokir kartunya lagi. Ia sudah bertingkah dengan kabur dari pengawalnya. “Aku harus bagaimana ini?!” Ia duduk dengan gelisah.

“Tenang saja, saya akan mengantarmu” Denny menatap Aira yang seketika menciut. “Kita cari taksi sekarang. Tunggu disini saya yang akan menunggu taksi. Kalau sudah menemukannya saya akan memanggilmu” Amanatnya sebelum keluar.

Setengah jam berlalu tidak ada taksi atau pun kendaraan yang lain. Aira memandangi Denny berdiri menggigil kedinginan. Guyuran air hujan belum berhenti. Aira merasa kasihan. Ia pun menyusul Denny dengan berhujan-hujanan.

“Apa yang kamu lakukan, cepat masuk ke mobil!” Titahnya marah. Aira menggeleng.

“Tidak ada mobil yang lewat, sebaiknya kita tunggu di dalam mobil saja!” Teriak Aira. Suaranya tidak begitu terdengar karena riuhnya hujan.

“Jangan bodoh! Kalau kita berdua di dalam mobil. Nanti tidak ada yang melihat kita!” Sahut Denny keras.

“Ya sudah kita berdua saja disini!!” Aira menemani Denny. Denny berdecak, betapa keras kepalanya Gadis ini. Denny menarik tangan Aira memaksanya masuk ke mobil. T-shirt putih Aira begitu kentara karena kehujanan. Ia tidak mau ada orang yang melihat pemandangan itu. Takut jika ada orang yang berbuat jahat di tempat sepi seperti ini. Gadis itu mengigiti kukunya, ia sangat kedinginan. Wajahnya pun sudah pias.

Dasar Arga brengsek. Mobil butut masih saja dipakai!!. Umpatnya dalam hati.

***

Denny masih menenggelamkan wajahnya di antara ke dua sikunya yang menopang di kemudi mobil Arga. Ingin rasanya ia membakar habis mobil ini hingga hangus tak bersisa. Sial..!! bisa-bisanya ia terjebak dalam situasi ini. Situasi dimana dirinya tak bisa berbuat apa-apa karena sosok Gadis di sebelahnya yang mau tak mau mulai mempengaruhi pikiran dewasanya.

Aira terlihat berbeda dengan pakaian basah kuyup, bentuk tubuhnya hampir terlihat jelas, belum lagi rok pendek sialan yang dikenakannya benar-benar membuat suasana di sekitar Denny memanas. Denny benar-benar tak berani menatap Aira terlalu lama. Ia lebih memilih menenggelamkan wajahnya di antara kedua sikunya seperti saat ini.

“Dingin… Dingin…”

Denny mengangkat wajahnya ketika mendengar suara rintihan tersebut. Ia lalu melemparkan pandangan ke arah Aira. Gadis itu tertidur dengan gelisah, lengannya memeluk tubuhnya sendiri seakan tak kuasa menahan rasa dingin yang menderanya. Kening Gadis itu berkerut seakan menahan rasa tak nyamannya. Bahkan wajah gadis itu terlihat sedikit memucat.

“Aira…” Panggil Denny dengan pelan.

“Dingin..” Hanya itu jawaban dari Aira. Denny tau jika Gadis itu kini sedang mengigau. Dengan ragu Denny menempelkan telapak tangannya pada dahi Aira. Dan ia tau, ternyata saat ini Gadis itu sedikit demam.

Sial..!! Ku mohon jangan sakit pada saat seperti ini.. pinta Denny dalam hati.

Tapi nyatanya, Aira masih saja merintih kedinginan. Denny tak berhenti meruntuki dirinya dalam hati. Kenapa juga tadi ia pergi dengan mobil sialan ini?? Kenapa tidak dengan motornya saja?? Atau kenapa tidak dengan Taxi saja.?? Sial.. Benar-benar sial..!!

Dengan sedikit kesal Denny membuka T-shirt lengan panjang yang di kenakannya. Dan meninggalkan tubuhnya yang semakin kedinginan karena hanya mengenakan kaus dalam yang masih basah. Di bangunkannya Aira dan di suruhnya gadis itu mengenakan T-Shirt lengan panjangnya.

“Pakai ini, kamu kedinginan.” Ucap Denny dengan nada datar seperti biasanya.

Aira menatap Denny dengan tatapan Anehnya. “Tapi kalau kamu kedinginan bagaimana?” Tanyanya dengan wajah polos dan manja.

“Aku nggak apa-apa, cepat pakailah.” Ucap Denny lagi tak bisa di bantah. Ia mulai tidak terganggu dengan kehadiran Aira hingga tidak berbicara formal lagi dengan kata ‘Saya’.

Akhirnya Aira menurut, ia mengenakan T-shirt kebesaran milik Denny yang membuatnya sedikit menghangat meski sebenarnya T-shirt itu juga masih sedikit basah. Tapi entah kenapa ada rasa hangat tersendiri yang menyelimutinya.

“Tidurlah..” Perintahnya.

Lalu Aira kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang di dudukinya. Ia kembali memejamkan mata dan tidur senyaman mungkin. Denny melihat Aira yang sedikit membaik membuatnya lega. Setidaknya T-shirt nya sedikit membantu menghangatkan tubuh Gadis itu sekaligus menutupi pemandangan yang sejak tadi mengganggunya.

Lima belas menit berlalu, Denny yang tadi sedikit tertidur akhirnya kembali membuka matanya saat mendengar suara gemeletuk gigi yang berasal dari Gadis di sebelahnya.

Aira terlihat masih menggigil kedinginan. Denny kembali mendaratkan telapak tangannya di dahi Aira, dan ternyata, suhu tubuh gadis itu semakin panas. Sial..!! ini Tidak bisa begini terus. Denny memikirkan ide bagaimana caranya membuat keadaan Aira membaik. Lalu Denny memejamkan matanya dengan frustasi saat mendapatkan jawaban itu. Sial..!! itu tak mungkin Den..!! Pikirnya kemudian. Tapi nyatanya, Denny tetap melaksanakan ide gilanya tersebut.

“Aira… Bangun.” Denny mencoba membangunkan Aira.

“Kenapa..?” tanya Aira tanpa tenaga.

Denny memundurkan kursi kemudinya lalu pindah ke kursi belakang dengan canggung berkata. “Kemarilah”.

Aira yang tadinya hanya setengah terbangun akhirnya terbangun seketika dengan mata membelalak ke arah Denny ketika mendengar kalimat itu. ‘kemari kemana??’ pikir Aira sedikit tak tenang.

“Apa maksudmu?”

“Kamu kedinginan dan demam. Ayo pindah kebelakang. Aku.. Aku akan menghangatkanmu.” Denny benar-benar meruntuki dirinya sediri karena sudah menawarkan penawaran yang ia tau akan membuatnya kesulitan sepanjang malam ini.

“Apa nggak apa-apa?” Ia ragu.

“Daripada kamu mati kedinginan!” Dengan kikuk Aira berpindah tempat duduk, ia mendaratkan pinggulnya tepat disebelah Denny. Melihat Ekspresinya yang sedikit aneh membuat Aira berencana menggoda pria yang kini sedang merangkul bahunya tersebut. Apa Pria ini akan tetap dingin dan datar?? Atau akan berubah memerah karena gugup?? Sungguh, Aira sangat penasaran akan hal itu. Di saat genting seperti ini ia masih memikirkan akal jahilnya.

Aira lebih mendekatkan tubuhnya seakan ingin mencari posisi yang tepat sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang Denny seakan mencari-cari kehangatan di sana.

Sedangkan Denny sendiri tak berhenti mengumpat dalam hati. Aira benar-benar membuatnya menggila dan menegang seutuhnya. Kulit mulus Aira yang tak sengaja menyentuh kulitnya, Gerakannya Gadis itu seolah menggoda saat mencari kehangatan pada tubuhnya benar-benar memancing sesuatu dari dalam tubuh Denny. Membuatnya frustasi dengan rasa yang ia rasakan saat ini.

“Apa kamu bisa berhenti bergerak??” Tanya Denny sambil menggertakkan giginya karena kesal.

“Kenapa?? Bukannya kamu yang menyuruh aku pindah kesini? Kenapa aku nggak boleh gerak?” Tanya Aira dengan wajah polosnya.

“Kamu akan membangunkan sesuatu.” Desis Denny.

“Membangunkan apa??” Lagi-lagi Aira memasang wajah polosnya seakan tak mengerti apa yang di ucapkan Denny. Padahal saat ini ia sedang menahan tawanya karena melihat wajah aneh Denny. Dan ia sangat tau apa yang di maksud pria tersebut.

“Sial..!! Lupakan..!!” Jawab Denny dengan ketus.

Sedangkan Aira memilih menenggelamkan wajahnya kembali di dada bidang Denny yang entah kenapa terasa sangat nyaman untuknya. Pelukkan Denny terasa menghangatkannya. Aira tersenyum saat mengingat ekspresi frustasi dari Pria ini. Denny terlihat sangat Lucu dan menggemaskan untuknya.

***

Keesokan harinya..

Denny terbangun dari tidurnya. Ia melihat beberapa kendaraan yang sudah berlalu lalang di sekitarnya. Denny menatap Aira yang masih tertidur pulas disebelahnya. Wajah Gadis itu menyandar dengan nyaman di dadanya.

Sangat cantik…

Pikirnya saat matanya menelusuri setiap inci dari wajah Aira. Tanpa sadar Denny sudah mendekatkan wajahnya pada wajah Aira, semakin dekat, semakin dekat. Hingga saat kulit mereka hampir bersentuhan Gadis itu membuka matanya. Seketika Denny menjauhkan diri dari wajah Aira.

“Sudah pagi ya..??” Tanya serak Aira dengan wajah bantalnya.

“Hemm..” hanya itu jawaban dari Denny. Ia lalu menatap ke arah Aira, Gadis itu benar-benar pucat. Matanya pun sayu.

Apa Gadis ini masih demam?? Bagaimana kalau dia sakit??

“Ayo, aku akan mengantar mu pulang. Wajahmu terlihat pucat.” Ucap Denny dengan dingin untuk menutupi kegugupan yang telah menderanya.

“Apa mobilnya sudah bisa?”

“Belum, kita tinggal saja mobilnya di sini. Aku akan mengantarmu dengan Taxi.” Aira hanya mengangguk patuh. Tak sampai satu jam Taxi tersebut berhenti di depan sebuah rumah besar dengan pagar besi tinggi. Setelah keluar dari Taxi, Denny berdiri di gerbang rumah besar yang menjulang tinggi di hadapannya. Memandanginya dengan seksama dari celah-celah pagar.

“Jadi ini rumah kamu??” Sangat mewah.

Aira mengangguk. “Ayo masuk dulu.” Tanpa sungkan lagi Aira menarik lengan Denny. Dua orang Satpam dan seorang Pengawal yang berjaga di depan pintu gerbang lantas menyambut kedatangan Aira dengan suka cita. Aira bahkan melihat Indra, Pengawalnya berlari dari dalam halaman rumahnya menuju tepat di hadapannya.

“Haduh, nona Aira kemana saja?? Ayah nona marah besar.” Ucap Indra dengan kepanikannya. Sedangkan Aira dengan santai mengibaskan tangannya. Ia tau bahwa sang Ayah pasti saat ini sudah berangkat ke kantornya. “Sudahlah, nanti ku jelaskan sendiri pada Ayah.” Katanya masih dengan melangkah santai menuju pintu rumahnya.

Tepat di depan pintu rumahnya Aira menghentikan langkahnya. Saat ia akan membuka pintu tersebut, tiba-tiba pintu tersebut sudah terbuka dari dalam dan menampilkan wajah sangar dari balik pintu. Dan sosok tersebut kini sedang menatapnya dengan tatapan membunuh.

“Aira.. Dari mana saja kamu? Kenapa baru pulang!!” Suara Rizky terdengar dingin dan menggeram, itu benar-benar membuat setiap orang yenga berada di sana seakan merinding ketakutan. Sedang Aira hanya bisa menunduk ketakutan. ‘Mati aku.. Ayah akan membunuhku..’ Pikir Aira dalam hati. Denny mengerutkan keningnya karena Rizky memberikan tatapan tajam kepadanya.

“Siapa anda?!” Bentak Rizky marah. Mengetahui putrinya pulang pagi dan di antar oleh seorang pria.

-TBC-

Haii… setelai ingi ingsya kami memutuskan untuk Update cerita ini semingguu sekali yaa.. karena kami juga memiliki kesibukan masing2.. jehehheh okay.. See U sama Denny dan Aira minggu depan yaa… *Zenny Arieffka & Cutelfishy

Advertisements

5 thoughts on “Love Between Us – Part 2 (Pertemuan ketiga)

  1. Ending partnya keren mb, bikin greget.
    Penasaran next partnya, arrgh..
    Moga cepet di upload deh.
    Fighting buat para writternya 🙂

    Like

  2. ini part bikin senyam senyum gk jelas hahahahaha
    mereka berdua lucu banget sich
    aira mah emang sengaja banget yakk
    denny makin gk bisa lepas dari sosok aira
    adeknya arga si dinda kayaknya emang suka ama denny

    Like

  3. Tingkah Aira ada kemiripan nih dgn sosok Ibunya Denny alias Clara,,,itu prtanda jodoh hahahha
    jgn2 stlh ini mrka baklan disuruh nikah wahhhh snengnyaaaaa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s