romantis

Love Between Us – Part 1 (Pertemuan kedua)

1461672642101Love Between Us

Haii haii… Denny dan Aira udah balik loh.. maaf yaa lama bgt.. soalnya  si Author @Cutelfishy sedang sibuk2nya ngurusin bukunya yang sedang naik cetak.. yeee… kita doakan aja semoga laris manis yaa.. Aminn… Okay, mungkin kalian lupa ceritanya gimana jadi klik di bawah ini yaaa untuk melihat Prolognya… *Salam sayang -Zenny Arieffka & Cutelfishy-  😉 😉

Love Between Us Prolog

Part 1

-Pertemuan Kedua-

 

Selepas dari supermarket mood Aira hancur. Pertama ia bertemu dengan Pria yang menyebalkan dan kedua semua kartu kredit dan atmnya di blokir oleh sang ayah. Turun dari mobil Aira membanting pintu mobil saking kesalnya. Ia harus segera menemui Rizky, ayahnya. Menanyakan alasan kenapa semua kartunya di blokir. Dengan mengenakan high heels Aira melebarkan langkah kakinya. Tepat di depan pintu, ia menarik napas panjang. Aira mempersiapkan diri bertemu Rizky. Ia masuk ke dalam rumah dengan wajah cemberut.

“Ma! Ayah mana?!” Zeeva sedikit tersentak dengan suara Aira yang begitu menggelegar.

“Salam dulu, Aira!” Ucap Zeeva tegas. Bibir putri pertamanya itu mengerucut. Ia menghampiri Zeeva yang sedang duduk menonton TV bersama adik keduanya, Bunga. Ia mengucapkan salam dan mencium tangan mamanya. Tak lupa mencium pipi gembil Bunga Pramita Arveansyah.

“Ayah mana, ma?” Ia duduk disebelah Zeeva sembari sesekali menggelitiki Bunga.

“Ada di ruang kerjanya, kenapa?” Tanya Zeeva penasaran. Aira malah menghela napas.

“Nggak ada apa-apa, ma” Zeeva menatap Aira penuh selidik. Ia tidak bisa bohong. “Semua kartu ku diblokir ayah” cicitnya. Aira menyenderkan punggungnya ke sofa. Ia merasakan tangannya hangat ternyata Zeeva menggenggamnya.

“Temui ayah kalau begitu, minta penjelasannya. Ingat jangan sampai ayah bertambah marah” Ucap Zeeva lembut sekaligus memberi peringatan. “Ambil hati ayah mu dulu, sayang” Aira mengganguk. Ia bangkit sebelumnya ke ruang kerja Rizky. Aira mencium pipi Zeeva.

“Terimakasih, mama” Senyum tulusnya terukir.

Ia memandangi pintu berbahan kayu jati yang ada di hadapannya. Ada perasaan ragu untuk mengetuknya. Di matanya Rizky jika diam sangat menyeramkan. Pola didik yang Rizky terapkan padanya begitu keras. Hingga Aira tidak punya ruang kebebasan untuk dirinya sendiri.

Aira membuka pintu dengan pelan mengintip Rizky yang sedang duduk di kursi kerjanya. Rizky mendongakkan kepalanya, suara kecil deritan pintu terdengar. Ia tau ada seseorang yang ingin masuk.

“Masuklah” Aira memejamkan matanya, suara berat sang ayah membuatnya meremang. Tangannya mendadak kaku untuk membuka pintu lebih lebar lagi. Dengan susah payah kini ia berdiri di depan ayahnya. “Ada apa?” Jantung Aira berdebar kencang.

“Itu yah.. itu..” Lidahnya tiba-tiba kelu.

“Apa?!” Aira meremas tangannya. Antara gugup, takut dan kesal menjadi satu. Rizky menunggu Aira membuka suaranya yang jelas.

“Kenapa ayah memblokir semua kartu ku?” Tanya Aira memelas.

“Kenapa kamu kabur dari pengawalmu?” Rizky melipat tangan di dadanya seolah menantang Aira untuk berbicara. Auranya begitu dingin.

“Itu.. karena aku..”

“Ayah sudah memperingatkan mu untuk tidak jauh-jauh dari pengawal. Tapi kamu malah kabur!” Bentak Rizky, Aira meringis.

“Apa karena Aira kabur saja? Ayah memblokir semua kartuku?” Aira memberanikan diri mengajukan pertanyaan.

“Kamu tidak hanya sekali tapi sudah sering kali, Aira!. Ayah tidak mempermasalahkan mu untuk menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan. Akan tetapi harus ada batasannya, kartumu itu sudah over limit” Aira mengangguk samar. “Ayah hanya mau keselamatan mu itu saja” Nada suaranya melembut. “Apa itu sangat berat untukmu” Mata Aira mulai berkaca-kaca. Hatinya begitu sensitif.

“Maafkan Aira, ayah” Isaknya.

“Kemarilah” Rizky berdiri memeluk putri sulungnya. “Maafkan ayah terlalu keras padamu. Ini untuk kebaikanmu” Ia mencium pelipis Aira. “Kamu sangat berharga bagi ayah”

“Sebenarnya aku ingin om Jhon yang menjadi pengawalku, yah” Aira masih betah mengeratkan tangannya di tubuh Rizky.

“Jhon sudah tua, sayang. Bagaimana dia bisa berlari secepat dulu” Aira terkikik. Memang benar Jhon sudah pensiun bertahun-tahun yang lalu. Istrinya melarang ia menjadi Bodyguard karena nyawa menjadi taruhannya. Kini Jhon bahagia dengan keluarganya. “Ayah selalu was-was kalau kamu kabur dari pengawalmu, Aira”

“Aira, janji nggak akan kabur lagi. Tapi ayah jangan blokir kartuku lagi ya?” Wajah Rizky berubah masam. Aira melepaskan pelukannya sembari menatap Rizky dengan cengiran khasnya.

“Asal jangan boros-boros!. Hargai kerja keras ayah, sayang. Memang itu semua untukmu dan adik-adikmu. Tapi sebaiknya kamu lebih menghargai uang yang kamu hamburkan itu. Bisakah kamu lebih berhemat?” Aira tertegun. Ayahnya benar ia banyak berpoya-poya, membeli sesuatu yang tidak penting. Rizky memaklumi itu mungkin Aira ingin membalas ketika ia masih kecil dulu. Rizky berpikir ulang bagaimana jika kekayaannya itu hanya sekejap saja?. Ia takut Aira menjadi anak yang gila akan harta. Rizky harus menerapkan hidup sederhana pada Aira.

“Baiklah, yah” ‘Aira akan mencobanya walaupun sulit’, tambahnya dalam hati.

Aira Noer Arveansyah, gadis cantik berusia 22 tahun. Parasnya yang mempersona yang di warisi dari ibu kandungnya Almeera Atmaja. Dengan postur tinggi tubuh 170 cm. Rambutnya yang panjang bergelombang. Tidak heran jika Zeeva ingin menjadikan Aira model seperti dirinya.

Ya, Aira cukup menikmati dirinya menjadi model. Walaupun hanya model iklan kosmetik. Rizky melarang keras jika Aira menjadi model yang berlenggak-lenggok di cat walk. Pekerjaan model hanya selingannya karena obsesi Zeeva. Semenjak Zeeva mendirikan agensi sendiri. Dari sanalah Mama tiri Aira bertekad menjadikannya model profesional. Sayangnya itu tidak bisa karena Rizky membatasinya.

Putri sulung dari Rizky Arveansyah seorang pengusaha batu bara terkaya di Bali. Sebenarnya tidak bekerja pun Aira dijamin tidak akan kekurangan uang. Aira kuliah mengambil jurusan desain grafis dan sudah selesai. Kini ia ingin menikmati hidupnya. Terbalik dengan kisah percintaannya yang begitu menyedihkan.

***

Denny menghempaskan tubuh di atas ranjang kontrakannya. Rasa lelah menghampirinya ketika ia mulai masuk kedalam kamar sederhananya. Pandangannya menuju ke seluruh penjuru ruangan. Tak ada yang berarti di dalam kamarnya tersebut. Hanya ada sebuah lemari sedang yang berisikan beberapa baju miliknya, rak buku yang berukuran sedang juga yang ber isi beberapa buku bacaan dan juga berkas-berkas kerjanya, lalu ada sebuah meja kecil yang di jadikannya sebagai meja kerjanya saat ia harus lembur mengerjakan sesuatu.

Di dekat kepala ranjangnya terdapat sebuah gitar. Di raihnya gitar tersebut, ia lalu mulai memetik senar demi senar dari gitar tersebut hingga mengeluarkan alunan nada yang sangat terdengar harmonis dengan suaranya.

Ia mulai bernyanyi….

Tak lama, aksinya tersebut di hentikan oleh sebuah deringan dari ponsel yang berada di saku celananya. Di ambinya ponsel tersebut benar saja, sang Mama ternyata meneleponnya.

“Halo Ma..”

“Sayang, kamu dimana? Sudah makan apa belum??” tanya Clara dengan perasaan gundah.

“Sudah Ma, aku di kontrakan” Denny mencoba menenangkannya. Ia berbohong. Sepulang dari kantornya tadi ia memang langsung menuju ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhannya. Namun sepulang dari supermarket ia belum sempat memasak atau memakan apapun. Moodnya hilang begitu saja saat mengingat Gadis menyebalkan yang ditemui di supermarket.

“Kapan kamu pulang sayang?? Ayolah, Mama merindukanmu, Papa juga.” ucapnya sedih.

“Tidak, sebelum Papa merubah sikapnya.”

“Kamu keras kepala Den. Sama seperti Papamu!” ujar Clara kesal.

Denny tersenyum. “Aku hanya menginginkan kebebasanku Ma. Aku akan pulang jika nanti kurasa sudah tepat waktunya.”

“Tapi kapan?? Mama tidak tega melihat hidupmu yang serba kekurangan.” Ia membujuk putranya untuk pulang. Clara ingin keluarganya berkumpul seperti dulu.

“Mama tenang saja, aku disini baik-baik saja kok.”

“Ya sudah kalau begitu, jaga dirimu baik-baik. Mama sayang sama kamu.” Nasehatnya.

“Yaa Denny juga.”

Sambungan telepon pun di tutup. Denny memejamkan matanya sambil menghela nafas panjangnya. Apa ia harus kembali dan terkurung dalam kekangan sang Papa seperti dulu?? Apa dia juga harus kembali dalam lingkungan orang-orang kaya menyebalkan yang hanya bisa membuatnya risih??. Ia tidak nyaman akan hidupnya yang dulu.

***

Pagi ini Aira bersiap ke suatu tempat. Menemui seseorang yang membuat dirinya berhutang. Ia tidak suka memiliki hutang kepada siapa pun. Aira merias dirinya dengan make up yang minimalis namun tetap cantik.

“Kita lihat, apa dia tidak melirikku lagi?” Di ambil tas branded miliknya yang berada di atas ranjang. Dari ujung kaki hingga rambut semuanya barang branded. Aira menuruni tangga, ia tersenyum keluarganya sudah berkumpul untuk sarapan.

“Selamat pagi semuanya!!” Ucapnya penuh bahagia. Ia mencium satu persatu pipi anggota keluarganya.

“Agi!!” Ucap Bunga senang. Aira memonyongkan bibirnya memberikan flying kiss untuk Bunga yang diseberangnya.

“Pagi-pagi, mau kemana?” Tanya Zeeva sembari memberikan roti yang sudah diolesi coklat pada Aira. Narendra sibuk memakan nasi gorengnya.

“Bertemu seseorang” Aira mengigit roti kesukaannya.

“Pacar matre mu itu?” Sahut Rizky cepat.

“Mantan ayah. Tapi aku nggak mau bertemu dengannya. Aku menemui seseorang yang sudah meminjamkan uang padaku” ucap Aira merengut.

“Kamu punya hutang?” Tanya Rizky tajam.

“Iya, gara-gara ayah kemarin memblokir kartuku” balas Aira sewot.

“Berapa banyak?”

“Dua ratus ribu”

“Segera bayarkan!”

“Iya, ini mau yah”

“Kartu mu sudah bisa dipakai. Hanya satu kartu kredit dan atm saja. Jangan boros!. Kalau tidak ayah akan memblokir semuanya” Sesuai perjanjian semalam. Aira menyanggupinya.

“Mengerti ayah” Semalaman Aira merenungi hidupnya. Selama ini yang dekatnya hanya orang-orang munafik. Mereka mendekati dirinya karena uang. Pacarnya yang matre dan teman-temannya yang memanfaatkannya saja. Ia muak akan semua itu. Mungkin dengan hidup sederhana Aira akan menemukan cinta sejati dan sahabatnya. Mulai hari ini ia akan menstop membeli barang-barang branded. Yang sudah dibeli terlanjur tinggal dipakai saja, pikirnya.

Aira didampingi seorang pengawal masuk ke dalam sebuah kantor properti. Semua orang yang ada disana terpukau akan kedatangannya. Dress berwarna peach di atas lutut dengan dipadu padankan sliletto senada. Menampilkan kaki jenjangnya putih nan bersih.

“Selamat pagi” sapanya ke Resepsionist.

“Selamat pagi, Bu” kata ‘Bu’ membuat Aira menatapnya tajam. Karyawan Resepsionist itu menunduk takut. Ia masih muda untuk dipanggil ‘Ibu’. Padahal panggilan ‘Ibu’ hanya untuk kesopanan.

“Saya ingin bertemu Denny Handoyo”

Sontak Resepsionist menatap Aira dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Apa Gadis cantik ini kekasihnya Denny?? Jika iya, pantas saja Denny tak pernah sekalipun tergoda oleh wanita-wanita cantik di dalam kantor ini.

***

Hari senin selalu menjadi hari yang sibuk untuk seorang Denny, meski ia hanya bekerja di bagian pemasaran. Namun tetap saja itu tak mengurangi kesibukannya pada senin pagi ini.

Saat ia kembali dari meeting yang baru saja selesai bersama atasannya. Tiba-tiba telepon di meja kerjanya berdering. Denny mengangkat telepon tersebut, rupanya dari bagian Resepsionist.

“Den..” ucap Resepsionist yang memang sudah berumur lebih tua dari pada Denny.

“Iya mbak.”

“Ada tamu yang mau bertemu.”

“Siapa mbak??”

“Katanya sih namanya ibu Aira.”

Denny mengernyit. Ibu Aira?? Lalu tiba-tiba ia teringat kejadian yang di alaminya di supermarket kemarin malam. Aira, pasti Gadis menyebalkan waktu itu.

“Bilang saja saya lagi banyak kerjaan mbak.”

“Duh Den.. Orangnya sudah nunggu sejak kamu meeting tadi. Aku kan jadi nggak enak.” sahutnya lagi sembari melirik pengawal Aira yang berdiri di belakang Aira. Pengawal itu memang tampan tapi tatapannya itu membuat tubuh merinding.

Denny menghela nafasnya dengan kasar. “Ya sudah, suruh tunggu. Saya akan segera turun menemuinya.” Ia menutupnya.

***

Denny akhirnya turun ke lantai dasar dimana Gadis yang mengaku bernama Aira itu menunggunya.

Setelah keluar dari lift, Denny mengedarkan pandangannya. Saat itulah matanya terpaku menatap sesosok gadis cantik dengan dress warna peach yang sedang duduk santai di kursi tunggu sambil memainkan ponsel. Cantik, memang ia harus akui itu.

Dengan santai Denny berjalan ke arah Gadis tersebut. “Ada apa mencari saya.” Ucapnya dengan ekspresi datarnya.

Aira yang tadi sibuk memainkan ponselnya akhirnya menatap Denny yang sudah berdiri di hadapannya. Lelaki itu tampak rapi dan sederhana tapi tak sedikitpun mengurangi ketampanannya. Tampan?? Lupakan Aira, ia meruntuk dalam hati.

“Ohh haii.. ternyata kamu benar-benar bekerja di sini.” Sapa Aira sok akrab dengan seulas senyuman dibibir tipisnya yang merah delima.

“Nggak usah basa-basi, saya sedang banyak pekerjaan.”

Aira mendengus kesal, betapa sombongnya Pria ini. “Jadi seperti ini caramu menyambut seorang tamu??”

“Lalu mau kamu bagaimana?? Saya benar-benar sibuk dan tidak punya waktu untuk main-main.”

“Aku juga nggak mau main-main.” Jawab Aira cepat. Ia sudah tidak sanggup menghadapi Pria ini. “Oke, begini saja, nanti malam aku tunggu kamu di tempat ini.” Aira mengambil secarik kertas kecil dan sebuah bolpoin lalu menuliskan alamat sebuah Cafe padabkertas kecil itu. Di berikannya kertas tersebut pada Denny.

Denny membaca kertas tersebut sambil mengernyit. “Untuk apa aku datang ke sana??”

“Aku mau bayar hutang.”

“Kenapa nggak sekarang saja?”

“Aku lupa bawa dompet.” ucapnya sembari menampilkan cengiran khasnya. Ia memang bodoh sampai lupa memasukkan dompetnya ke dalam tas. Entahlah karena terlalu bersemangat ingin menemui Denny hingga ia melupakan barang yang sangat penting itu atau pikunnya kumat.

Denny kehabisan kata-kata saat mendengar alasan gadis di hadapannya tersebut yang terdengar sangat tak masuk akal.

“Oke Denny, nanti malam aku tunggu di sana jam tujuh. Jangan telat ya..” ucap Aira sambil bergegas pergi meninggalkan Denny yang masih terdiam. Ia tidak habis pikir dengan sikap dari seorang Aira. Ia menatap jauh Aira yang pergi di ikuti seorang Pria. Denny tidak tau jika Pria itu adalah pengawal Aira.

Dasar Gadis aneh!

“Cie.. cie.. ternyata kamu sudah punya pacar toh Den. Pantes saja cewek-cewek di kantor ini nggak ada yang bisa mendapatkan kamu.” ucap Resepsionist yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Denny dan Aira. Resepsionist itu mengacungi jempolnya, “Pacarnya cantik banget, kalian cocok”

“Pacar?? Mbak sembarangan mikirnya.” Denny mengelak.

“Hahaha.. buktinya pake acara janjian segala.” Resepsionist itu masih saja menggodanya.

Dengan sikap cueknya, Denny hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Kemudian ia pergi meninggalkan Resepsionis tersebut yang masih terkikik geli karena melihat kelakuan Denny dan gadis yang mengaku bernama Aira tadi. Resepsionist itu menganggap pasangan ini lucu dengan kekakuan Denny. Resepsionist itu mengira Denny dan Aira benar-benar menjalin hubungan kekasih.

-TBC-

Maaf bgt kalo banyak Typo dan lain sebagainya, sungguh, aku nggak sempet edit, tau sendiri kan kesibukanku seperti apa.. wkwkwkwk

Advertisements

4 thoughts on “Love Between Us – Part 1 (Pertemuan kedua)

  1. Ada masalah apa ya yg udah terjadi antara denny sama ayahnya…
    Wah tampaknya si aira udah penaaran nih sama si denny yg udah nyuein dia…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s