romantis

Lovely Hubby (Boy & Mily Story) – Part 3 (End)

13177534_1112118572141804_3253115716525958682_nLovely Hubby

Ada yang nunggu part terakhir cerita ini?? Okay enjoy reading.. maaf baru sempet posting yaa.. hehheheh Sedikit cerita nih.. kemaren aku susah Move on gitu dari Boy.. hahah entah kenapa aku juga gk tau.. wkwkkwk okay langsung baca aja deh kalo gitu.. heheheh

Yang pengen baca dari Part 1 dan 2 silahkan klik di bawah ini…

Lovely Hubby Part I

lovely Hubby Part II

Part III

-Mily-

 

Aku masih tak habis pikir dengan apa yang ada di dalam kepala Boy, Bagaimana mungkin dia mengajak Pacar nya yang jauh lebih muda darinya tinggal di sini? bersama kami?? Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Astaga… tentu saja, sekarang ini tak ada lagi Foto Clara yang di pajang di sepanjang dinding dan Meja kamarnya, mungkin karena kehadiran gadis itu yang membuat Boy menyingkirkan semua tentang Clara.

Aku duduk di pinggiran ranjang, mengusap lembut perutku yang sejak tadi kurasakan sedikit berkedut. Ku ambil sesuatu di dalam tas ku, sebuah amplop dan di dalamnya ada gambar hitam putih dari calon bayiku.

Setetes air mata meluncur begitu saja pada pipiku. Kenapa orang yang mencintai harus selalu tersakiti???

Haruskah aku pergi meninggalkan Boy? Atau aku bertahan untuknya?? Menunggu dia hingga berpaling padaku??

Tanpa sadar ternyata Pintu kamarku di buka oleh seseorang, Dan sosok Lelaki yang kini sudah Berstatus sebagai suamiku berdiri di sana, dengan Nampan yang berisi makanan dan segelas susu.

“Kenapa nggak ikut makan malam bersama tadi??” Tanyanya sambil mendekatiku.

“Emmm Aku takut mengganggu kalian.” Jawabku pelan, Aku tak berani menatap kearahnya, tentu saja, jika dia melihatku, mungkin dia akan tau jika aku telah menangis hingga mataku membengkak.

“Mulai besok, kita akan makan bersama, bertiga.”

Tidak berperasaan,!!! Bagaimana mungkin dia memaksaku untuk berbagi suami?? Ini nggak adil untukku Boy… Tapi bodohnya aku hanya bisa mengangguk.

“Ini, aku bawakan makan malam dan juga susu buat kamu.”

“Kamu bisa buat susunya??”

“Kan ada petunjuknya.. aku tinggal mengikuti saja kan.” Dan aku pun menerima nampan yang diberikan Boy lalu memakan makanan yang ada di atas nampan tersebut dengan lahap. Aku bahkan melupakan rasa sakit di hatiku karena rasa Lapar yang sejak tadi sudah membuat perih perutku.

“Mil.. Kamu beneran nggak apa-apa kalau Kiara tinggal di sini??”

Aku membatu seketika, Perlukah dia bertanya seperti itu?? Sial..!!! “Enggak.” Jawabku dengan nada yang kubuat sedikit ketus.

“Terimakasih sudah mengeti aku.”

Boy lalu mengecup lembut keningku, dan kemudian meninggalkanku begitu saja. Lagi-lagi aku membatu, tak tau apa yang sedang kurasakan saat ini, Sakit, bahagia, atau entahlah…

***

-Boy-

 

“Kak Bobby Keterlaluan tau nggak.” Lagi-lagi Kiara melempar Guling ke arahku.

“Heii… Sudah, hentikan itu, Mily bisa mendengar suaramu.”

“Biarlah… bagaimana mungkin Kak Bobby menyuruhku menyamar sebagai pacar Kakak, astaga…”

Aku mengetuk-ngetukkan kakiku. “Aku juga nggak tau, Aku Cuma pengen lihat reaksinya saat aku mengenalkanmu sebagai pacarku.”

“Issshhh.. Kakak Aneh.”

“Jangan lagi panggil aku Kakak di hadapan Mily. Kalau kamu masih memanggilku itu, Aku nggak akan menambah uang jajanmu.”

“Tuh kan, main ancam seenaknya…” Aku melihat Kiara merajuk. Yaa Adikku yang satu itu memang sangat manja denganku.

Kiara adalah Adikku. Saat ini, sebenarnya Dia masih tinggal dan sekolah di Luar negri, tepatnya di Inggris, tapi karena liburan, kemarin dia pulang. Mily tentu tak tau jika Kiara adikku.

Dia hanya mengenalku, dan juga Mama dan Papaku. Bahkan sekalipun aku tak pernah mengajak Mily main ke rumahku. Pernikahan kami waktu itu sungguh mendadak, hanya aku dan keluarga yang datang ke rumahnya, Menikah di sana, tepatnya di daerah Bekasi. Lalu Mily kembali tinggal di Apartemen Clara sampai kemarin Ku jemput dan ku ajak pindah kemari.

Brengsek memang, tapi biarlah, toh aku juga tak seberapa kenal Dia, jadi wajar jika dia juga tak seberapa mengenalku. Mily hanya tau dari Mama jika Aku memiliki Adik yang tinggal dan sekolah di Inggris, itu pun mama menyebutnya sebagai Kiki, Panggilan untuk Kiara dari kami keluarganya.

Dan aku juga bingung, kenapa tadi Sore aku bersikap seperti itu pada Mily, Mengenalkan Kiara sebagai Pacarku hanya karena ingin mengetahui bagaimana Reaksinya, Sebenarnya aku kenapa sihh??

“Kak.. Ehh malah ngelamun..”

“Udah deh.. pokoknya ikutin aja rencana Kakak.”

“Tapi aku kasihan ama Kak Mily Kak.. Apa Kak Bobby nggak lihat tadi gimana Mukanya?? Dia bahkan sampek nggak ikut makan malam sama kita.”

“Itu akan jadi Urusan kakak, pokoknya lanjutkan sandiwara kamu.”

“isshh,,, Dasar Aneh.”

***

Lagi, aku membuka pintu kamarku. Di sana, Mily sudah tidur meringkuk membelakangi pintu. Aku masuk kedalam kamar, menutup pintunya lalu berjalan mendekat. Ku pandangi tubuh yang sedang meringkuk itu. Apa aku keterlaluan??

Tentu saja, Bodoh..!!

Tanpa banyak bicara lagi aku berbaring tepat di belakang Mily, Dan ku rengkuh tubuh rapuh itu ke dalam pelukanku.

Mily bangun seketika, seakan dia tersadarkan oleh sesuatu.

“Boy..” ucapnya parau.

“Yaa.. ini Aku..”

“Kenapa kamu tidur di sini??”

“Memangnya aku harus tidur di mana??”

“ku pikir Kamu akan tidur dengan Kiara, Dia bagaimana??”

“Lupakan Dia.” Pungkasku sambil menenggelamkan diri di tengkuk Leher Mily. Wangi rambutnya membuatku sangat nyaman berada lama di sana.

“Maafkan aku…” tiba-tiba kata-kata itu terucap begitu saja dari mulutku. Biarlah.. aku memang harus minta maaf padanya, Aku terlalu banyak salah kepadanya…

***

-Mily-

 

Meski dia sudah berubah menjadi lebih lembut dan perhatian padaku,tapi tetap saja tak mengurangi rasa Sakit hatiku padanya. Ini sudah tiga minggu, dan Kiara masih tinggal di sini. Mereka bahkan tak segan-segan bersikap saling manja di hadapanku.

“Makan ini.” Boy menaruh Sepotong ikan yang sudah dibersihkannya dari duri-duri ke piringku. Aku menatapnya, ekspresinya masih sama datarnya. Lalu aku menatap ke arah Kiara, Dia malah tersenyum dan mengangguk padaku. Apa gadis itu tak merasa cemburu sedikitpun padaku??

“Akhir-akhir ini Kamu banyak melamun, Tubuhmu pun makin kurus, Nggak baik buat Bayi kita.”

Aku membatu. Meski di katakan dengan nada sedatar yang ku dengar, tapi tetap saja perhatian Boy benar-benar membuat perutku bergolak seakan penuh dengan ribuan kupu-kupu di dalamnya. Apa lagi saat mendengar kata ‘Bayi Kita’ terucap dari mulutnya.

“Emm.. nafsu makanku menurun.”

“Bukankah seharusnya Wanita Hamil itu sering merasa lapar??”

“Entahlah, aku juga tak mengerti dengan tubuhku.”

“Kita ke dokter saja Sore ini.”

“Memangnya kamu nggak ada kerjaan??”

“Ada, tapi bisa di cancel.” Aku hanya diam tak menjawab. ku lirik ke arah Kiara, Dia masih sama, Cuek, seakan tak memperdulikan percakapan kami.

***

“Boy..” Panggilku takut-takut.

“Kenapa??”

“Emm.. kita batalin saja ke Dokternya, Aku hanya butuh suasana baru.”

Boy menyipitkan matanya padaku. “Maksud kamu??”

“Aku mau pindah ke Apartemen Clara lagi saja. Aku lebih nyaman tinggal di sana.”

“Nggak bisa.” Bantahnya. “Kamu harus tetap tinggal di Apartemenku.”

“Tapi aku nggak bisa Boy.. aku nggak bisa tinggal dengan kamu Dan Pacar Kamu di Apartemen itu..” Kataku dengan sedikit berteriak. Yaa rasanya sakit dan sesak saat setiap hari melihat orang yang Kau Cintai bermanja-manja dengan Kekasihnya.

“Aku akan mengusir Kiara jika itu membuatmu nyaman.”

“Enggak, kamu nggak perlu mengusir dia, Aku bisa keluar dari Apartemen mu kok.” Jawabku kemudian. Tapi tak ada tanggapan dari Boy. Dia hanya diam dan aku tau jika dia akan melaksanakan kemauannya nanti kepada Kiara.

***

Aku menghela napas lega saat Dokter berkata jika tak ada yang serius dengan kandunganku. Aku hanya di minta untuk banyak makan supaya Bobot tubuhku kembali Normal seperti ibu Hamil pada umumnya. Sedangkan Boy hanya diam tak berkata sepatah katapun.

Entah apa yang sedang di pikirkannya aku juga tak tau. Sepanjang pulang melewati lorong-lorong rumah sakit, Boy tak lepas dari menggenggam telapak tanganku. Seakan menunjukkan pada semua orang yang sedang menatap ke arah kami jika kami adalah pasangan yang sangat bahagia karena sedang menanti sang buah hati. Padahal sebenarnya tidak.

Di mobil pun sama. Boy selalu menatap lurus ke depan tanpa sedikitpun menoleh ke arahku, tak ada sepatah katapun yang di ucapkannya selama perjalanan kami pulang dari rumah sakit.

“Kamu marah?” tanyaku saat kami sudah berada di dalam lift yang menuju ke kamar Apartemennya.

“Kenapa aku marah??”

“Kamu diam, nggak bicara sama sekali.”

“Orang diam bukan berarti marah.”

Yaa tentu aku tau, tapi Aura mu menunkjukan kalau kamu sedang Marah Boy.. Lirihku dalam hati. Da akhirnya sampai juka kami di Apartemen Boy.

Tepat di depan televisi aku melihat Kiara sedang terbaring santai di atas Siofa sambil memakan cemilannya, dia terlihat tenang, kadang aku pikir, apa benar dia Kekasih Boy?? Aku tak pernah sekalipun melihat raut cemburu dari wajah Gadis itu, tentu sangat berbeda denganku yang berubah menjadi pendiam ketika ada Kiara di dekatku.

Aku melihat Boy menghampiri Kiara, menepuk lembut kaki gadis itu. “bangun.” Katanya.

“Apaan Sih..”

“Bangun dan bereskan pakaianmu, Ayo ku antar pulang.”

Aku terkejut mendengar perintah Boy yang terdengar sedikit kasar di telingaku. Bisa-bisanya dia mengusir kekasihnya seperti itu..

“Boy, Apa yang kamu lakukan?” Tanyaku tak mengerti dengan sikap Aneh yang di tampilkan Lelaki di hadapanku ini.

Boy tak menjawab perkataanku, dia malah berjalan menuju kamar Kiara, yang saat ini sudah di susul Kiara di belakangnya.

“Kamu kenapa sih?” tanya Kiara tepat di belakang Boy.

“Kita selesai. Ayo sekarang Pak barang-barang kamu dan Ku antar Kamu pulang.”

“Isshhh Kak Boby nyebelin banget sih..”

“Biarin.” Jawab Boy Cuek masih dengan mengeluarkan pakaian Kiara dari dalam Lemari di kamar Kiara.

Aku akhirnya berjalan menuju ke arah mereka.

“Boy.. ini bisa di bicarakan baik-baik, kamu nggak perlu ngusir Kiara.”

“Dia membuatmu nggak nyaman Kan?? Jadi biarlah dia pergi dari sini.”

“Tapi bukan begini caranya Boy..” Ucapku seperti anak kecil sambil merengek di lengan kanan Boy.

Boy menatap rangkulan tanganku, lalu pandangannya beralih menatap tepat pada mataku. Aku terpaku, menatap mata Cokelat nan indah itu.

“Ehhemmm,,, Sepertinya Kamu harus mulai menjelaskan padanya siapa aku sebenarnya Kak.” Ucapan kiara sontak membuatku dan Boy menatap ke arahnya.

Boy menegakan tubuhnya. “Oke, Sepertinya aku harus mengenalkan kalian sekali lagi.” Aku mengerutkan keningku tak mengerti. “Mil.. Ini Kiara, kami biasa memanggilnya Kiki, Dia Adikku satu-satunya yang tinggal dan sekolah di Inggris.”

Aku tercengang mendengar ucapan Boy. Ku perhatikan lekat-lekat wajah Gadis di hadapanku ini. Tentu saja, Aku baru sadar jika mereka sedikit mirip, dan warna matanya pun sama, Cokelat gelap seperti milik Boy.

Aku menatap Boy dengan tatapan menuduh. “Jadi kamu membohongiku?”

Aku melihatnya sedikit tersenyum sambil menggaruk tengkuknya. “Emm maafkan aku.. aku tak bermaksud membohongimu.”

“Tapi kamu membohongiku Boy..” Teriakku. Dan aku pun langsung saja meninggalkan kamar Kiara menuju ke kamarku, mengunci diri di sana dan tak menghiraukan Boy yang mengetuk-ngetuk pintu kamar kami sesekali memanggil namaku.

***

Tengah malam…

Aku terbangun karena perut yang keroncongan. Rupanya Bayiku memang tak bisa di ajak kompromi. Seakan dia berteriak di dalam ingin menyerap sesuatu dariku. Aku terduduk di atas ranjang dengan mata yang sudah sembab bekas menangis, ku peluk erat perut buncitku. Astaga.. Aku lapar sekali….

Akhirnya aku berdiri, berjalan sepelan mungkin. Semoga saja Boy sudah pergi mengantar adiknya itu pulang. Adik?? Astaga.. saat ku tau jika Kiara adalah Adiknya dan bukan kekasihnya, Rasanya aku ingin berteriak karena senang, tapi tentu saja Rasa kesal lebih mempengaruhiku karena Boy sudah membohongiku. Apa untungnya buat dia coba??

Akhirnya ku buka pelan-pelan Pintu kamarku, dan betapa terkejutnya aku saat mendapati tubuh limbung Suamiku tepat di bawah kakiku.

Dia menungguku tepat di depan pintu…

“Heii.. Akhirya kamu membuka pintu juga.” Ucapnya sambil melompat berdiri dan membersihkan celana yang ia kenakan.

Aku hanya ternganga menatapnya. Apa aku sudah keterlaluan karena sudah mengurung diri di kamar dan membuatnya menungguku? Ayolah Mil.. Itu belum seberapa, dia sudah membohongimu selama 3 minggu terakhir, ingat itu.

“Aku lapar.” Tanpa tau malu aku mengucapkan dua kata itu.

“Oh.. baiklah, Aku akan menyiapkan makan malam untukmu.” Katanya lalu tanpa ku duga dia mulai menuntunku menuju meja dapur.

Aku melihat Boy sibuk memeriksa perlengkapan masaknya.

“Emmm hanya ada nasi, Apa kamu mau nasi Goreng??”

Aku hanya mengangguk pelan. Dan akhirnya Boy memulai aksinya berperang dengan peralatan dapur. Boy ternyata memang pandai masak. Selama aku hidup dengannya, Dia yang sering menyiapkan makanan untuk kami. Tentu saja, setelah kehamilanku semakin tua, aku semakin malas. Hanya tidur, dan tidur yang selalu ku kerjakan.

Saat aku sibuk menatap Boy dengan segala macam khayalanku tiba-tiba saja dia sudah menyiapkan sepiring besar Nasi Goreng lengkap dengan telur urak-ariknya. Sederhana memang, tapi entah kenapa membuatku ingin segera melahapnya.

“Hanya ini??” Tanyaku.

“Yaa.. kenapa???”

“Lalu kamu makan apa?”

“Kita makan berdua.” Jawabnya dengan santai. “Ayo.. kita duduk di sana..” Ajaknya sambil menuntunku ke sofa depan televisi. Aku pun menurutinya.

Akhirnya dengan akur kami duduk di depan televisi, memutar Film Action kesukaan kami, Mr. & Mrs. Smith. (Film kesukaan Author nihh.. wkwkwkkwkwk)

“Emm.. Kiara Mana Boy?” aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Sudah pulang.” Jawabnya datar.

“Jadi.. Dia benar-benar adikmu??”

Boy hanya mengangguk. “Makan saja dulu nanti ku jelaskan.. Oke??” katanya sambil menatapku lekat-lekat. Akhirnya kami melanjutkan acara makan bersama kami pada tengah malam ini.

***

Aku duduk sambil menyandarkan tubuhku di sandaran sofa, terasa sangat nyaman karena kenyang dan juga suasananya yang sepi namun hangat. Aku masih menonton Film Action yang tadi ku putar dengan Boy, sedang Boy sendiri sibuk mencuci piring dan juga beberapa peralatan dapur yang tadi sempat di gunakannya untuk memasak. Sesekali aku melihat ke arahnya.. Astaga.. Aku masih tak percaya, jika Dia adalah suamiku. Seorang Fotografer terkenal bernama Bobby William adalah Suamiku?? Sungguh, aku harus berterimakasih padamu nak.. pikirku sambil mengusap lembut perutku.

“Ada yang kamu pikirkan??” Tanpa ku sadari Boy sudah berdiri tepat di sebelahku.

Aku menegakkan posisi dudukku kembali, mencoba bersikap se sopan mungkin. Bagaimanapun juga hubungan kami tak seperti suami istri pada umumnya.

Tanpa sungkan lagi Boy duduk tepat di sebelahku, lalu sebelah lengannya melingkari pinggangku dan telapak tangannya berhenti di perutku.

“Apa masih ingin sesuatu??” tanyanya, dan aku hanya terdiam, Sibuk dengan detakan jantung sialan yang berdebar tak menentu.

“Mil..” Panggilnya dengan lembut.

“Ahh yaa… Aku.. tak membutuhkan apapun.” Jawabku dengan gugup.

“Tidurlah kalau begitu.” Ucapnya sambil membawa kepalaku di dadanya.

Dan nyaman.. terasa sangat nyaman, bahkan aku dapat merasakan detakan jantungnya yang seakan sama menggilanya dengan detakan jantungku, apa dia juga gugup???

“Kamu berdebar Boy..”

Aku melihat dia tersenyum saat sendengar perkataanku. “Yaa.. Aku nggak tau kenapa, sejak malam itu aku selalu begini saat bertemu denganmu.”

“Kenapa??” tanyaku sambil mendongakkan wajah ke arahnya.

“Aku sudah bilang bahwa aku juga nggak tau kenapa..” katanya sambil mencubit pipiku. Aku melihat tatapan matanya tepat ke arah bola mataku. “Aku minta maaf…” Ucapnya parau.

“Untuk apa??”

“Untuk semuanya..”

“Aku masih tak mengerti.” Ucapku lagi.

“Aku sudah membohongimu tentang Kiara, Aku sudah bersikap Brengsek padamu selama ini, Dan aku sudah menyia-nyiakan mu dan bayi kita…” Perkataannya sangat pelan, tapi kenapa aku merasakan kata-kata itu sampai pada dasar hatiku yang sangat dalam???

“Kamu nggak perlu minta maaf Boy… Aku nggak pernah membencimu.”

“bagaimanapun juga aku harus tetap meminta maaf..”

Aku tersenyum mendengar kekeras kepalaannya. “Baiklah, aku memaafkanmu..”

Lalu aku melihat Boy kembali menatapku dengan tatapan intensnya, seakan menelanjangi ku, mengorek semua tentangku. Aku melihat gerakan jakun nya yang naik turun, seakan ia sedang susah payah menelan sesuatu..

“Mil.. Aku ingin…” Dia tak lagi melanjutkan kalimatnya dan lebih memilih menempelkan bibirnya dengan bibirku, sedangkan aku sendiri memilih memejamkan mata, tak ingin kebersamaan ini berakhir begitu saja.

***

Aku terbangun saat udara dingin menerpa kulit pundakku yang polos. Sedikit membuka mata, dan ternyata aku masih berada di sini, Di atas Sofa besar depan televisi dengan tubuh Polos tanpa sehelai benang pun, lengan kekar yang melingkari perut buncitku, serta selimut tebal yang menyelimuti tubuh kami berdua.

Tubuhku terasa kaku karena sulit bergerak, sepanjang pundak dan leherku terasa sedikit pedih, Aku tau itu karena cumbuan-cumbuan Boy yang diberikan padaku, mungkin saat ini sudah meninggalkan bekas kemerahan.

Saat aku bergerak, Boy mengeratkan pelukannya, Lalu memberiku kecupan basah di punggungku.

“Jangan bangun dulu.. Aku nggak mau di ganggu..” Ucapnya parau.

“Ini sudah siang.”

“Biarlah… Aku mau seperti ini dulu.” Ucapnya lagi.

Dan seperti inilah sekarang yang ku rasakan. Nyaman.. sangat nyaman berada dalam pelukan seorang yang sudah lama ku cintai dalam diam.. Aku merasa sangat di sayangi. Dia tak berhenti mengecupi sepanjang punggung telanjangku, mengusap lembut perut besarku dan astaga.. sepertinya aku akan jatuh semakin dalam lagi pada pesona suamiku sendiri..

***

Beberapa bulan berlalu, hubunganku dengan Boy sudah jauh membaik. Dia tak sungkan-sungkan lagi berada di dekatku, menggodaku dan melalukan hal yang mesra denganku. Seperti saat ini. Kami sedang berada di sebuah supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan mingguan kami.

Sejak tadi, telapak tangan ku tak pernah lepas dari ngeggaman tangannya. Seakan dia menjaga setiap langkahku. Perutku yang semakin membesar memang mempengaruhi cara jalanku yang sekarang menjadi semakin lambat.

“Ada yang kamu perlukan lagi??” tanyanya padaku dengan lembut.

Aku memeriksa barang belanjaan kami. “Sepertinya tidak, Ayo kita kembali, Aku sudah capek.”

Dia tersenyum manis, Akhir-akhir ini Boy memang sering memperlihatkan senyuman manisnya yang membuanya terlihat sangat tampan.

“Oke, kita ke kasir yaa..”

Dan akhirnya kami berjalan menuju kasir, saat melewati Rak-rak Ditergen, Aku melihat sosok yang tak asing untukku. Dia Clara, berdiri di sana dengan sosok wanita paruh baya, mungkin itu mertuanya. Aku melepaskan tangan Boy dan berjalan menuju ke arah Clara.

“Cla..” Panggilku sambil menyentuh pundaknya.

Clara membalikkan badanya dan terkejut melihatku. “Mily..?? Astaga..” katanya sambil memelukku

Tentu saja kami tak bisa berpelukan dengan erat, perut kami sama-sama besar. Usia kandungan kami Mungkin hanya berbeda beberapa minggu saja.

“Mil.. Astaga,, Aku nggak nyangka ketemu kamu di sini, Sama siapa??” Tanyanya, dan aku menunjuk ke arah Boy yang kini sudah berdiri tepat di belakangku.

“Haii Cla..” Sapa Boy dengan santai.

“Hai.. Wahhh kalian terlihat Mesra..” Goda Clara, clara memang tampak sangat berbeda, Ku pikir Reynald bisa sedikit merubahnya menjadi sosoknya yang dulu, yang kata Mommynya sangat berbanding terbalik dengan sosok yang kukenal selama ini.

“Emm kamu belanja apa??” Tanyaku sambil menatap barang belanjaan yang ada di Troli yang sedang di dorong oleh Clara.

“Kebutuhan dapur.” Ucapnya, “Kapan-kapan main ke rumah ya, Aku bisa masak loh, nanti ku masakkan yang special.” Ucapnya. Sungguh, Clara benar-benar berubah menjadi sosok yang tak ku kenal, seperti inikah sosoknya dulu??

***

Setelah bercakap-cakap sebentar dengan Clara, kami melanjutkan menuju Kasir untuk membayar barang belanjaan kami, lalu setelah itu kami pulang. Sepanjang perjalanan aku masih memikirkan Clara. Dia tampak lebih bahagia.

Setelah tau Hamil, Reynald memboyong Clara ke rumah barunya. Dan sejak saat itu Clara vakum dari dunia permodelan. Sedangkan aku masih setia tinggal di Apartemen Clara yang memang tak terpakai sampai Boy menjemputku untuk pindah ke Apartemennya beberapa bulan yang lalu.

Setelah aku pindah ke Apartemen Boy, aku dan Clara tak pernah lagi bertemu, kami hanya hubungan Via telepon, dia sibuk dengan profesi barunya menjadi istri dan calon ibu yang baik untuk Reynald dan bayi yang ada dalam kandungannya, dan aku pun sama, aku menghabiskan waktu hanya di dalam Apartemen Boy, sesekali aku ke Apartemen Clara, itupun kalau aku rindu suasana di sana. Dan melihat Clara tadi entah kenapa menjadi suatu kebahagiaan tersendiri, Dia berubah, benar-benar berubah…

“Apa yang kamu pikirkan??” Pertanyaan Boy menyadarkanku dari lamunan.

“Emmm aku hanya berpikir tentang Clara, dia sedikit berbeda.”

“Biarlah.. mungkin dia bahagia dengan hidupnya yang saat ini.”

“Apa kamu juga bahagia Boy??” Tamnyaku sambil menatap ke arahnya.

Dia menatapku sebentar, mengusap pipiku dengan lembut dan tersenyum manis kepadaku. “Tentu aku bahagia..” Hanya itu jawabannya tapi aku masih merasa ada yang kurang.

Aku melihat jalanan yang di lewati Boy, ini bukan arah ke Apartemennya. Tapi aku hanya mencoba diam, hingga saat dia berhenti di depan sebuah rumah besar aku mengernyit.

“Ini dimana Boy??”

“Ini Rumahku, Kita nginep sini nanti. Dan minggu depan kita akan pindah kemari.” Aku menatapnya dengan tatapan kosongku. Benarkah?? Aku akan tinggal di rumahnya?? Serumah dengan keluarganya??

Selama ini aku memang tak mengenal dekat keluarga Boy, dia seakan menjauhkanku dari jangkauan keluarganya, seakan aku adalah sesuatu yang tak patut di kenal keluarganya, tapi kini, Dia membawaku ke rumahnya..??

Setelah memasuki gerbang dan memparkirkan mobilnya, Boy keluar dari mobilnya dan membantuku turun dari mobil. Kami masuk ke dalam rumah tersebut, dan sosok wanita paruh baya yang ku tau sebagai Mama daro Boy datang menghampiriku, dan menyambutku dengan pelukan hangatnya.

“Akhirnya kamu ke sini juga, Astaga… perutnya sudah sebesar ini.” Kata wanita itu sambil mengusap perut besarku. Dan aku hanya tersenyum malu.

“Ma.. biarkan dia istirahat, sepertinya kecapekan.” Ucap Boy yang langsung menuju ke arah lain lalu menghilang di balik tembok yang menghalangi pandanganku.

“Ayoo kemari, Bobby sudah menyiapkan kamar untuk kalian di sini.” Kami menuju ke arah lain, masih di lantai yang sama. Dan saat melewati sebuah ruangan ternyata di sana ada Kiara, yang kini ku tau sebagai Adik dari Boy.

“Halo Kak… Welcome Home..” Sapanya ramah dengan melambaikan tangannya. Aku hanya mampu membalas lambaian tangannya dengan kembali melambai dan tersenyum padanya.

“Harusnya dia sudah kembali ke Inggris, tapi memang dasar pemalas jadi dia baru kembali minggu depan.” Aku tersenyum melihat Mertuaku ini menggerutu.

Akhirnya, sampailah kami di ujung ruangan. Mama Boy membuka pintu ruangan tersebut, dan aku sangat takjub melihatnya.

“Ini kamar baru kalian. Boy sendiri loh yang merancangnya seperti ini, katanya supaya kamu betah tinggal di sini bersama kami. Dia bahkan memilih di lantai dasar, katanya biar kamu nggak naik turun tangga, dan semua peralatan bayi itu, dia sendiri yang memilihnya.” Jelas mama Boy, dan aku sudah tak menghiraukannya lagi, aku hanya ternganga melihatnya.

Kamar yang luas.. amat sangat luas… dengan dinding-dinding kaca yang ku tau bisa di buka dan langsung menuju ke taman samping rumah, di sana bahkan ada kolam ikan kecil. Kamar ini menjadi satu dengan kamar anak-anak, karena aku juga melihat Boks bayi dan ranjang anak-anak yang sudah di siapkan di ujung ruangan yang lain bersebrangan dengan Ranjang King Size yang ku yakini akan menjadi ranjang kami. Foto-foto pernikahan sederhana kami sudah ada di sana, menghiasai kamar dan juga beberapa meja yang ada di ruangan ini.

Aku terharu melihatnya.. meski hanya hal kecil tapi aku tau Boy melakukan ini untukku.

“bagaimana?? Apa kamu suka??” suara Bariton itu menyadarkanku jika kini yang ada di belakangku hanyalah Boy, tak ada lagi ibu mertuaku. Aku menatapnya dan dia sedang berdiri santai dengan tangan yang bersedekap.

Sikapnya terlihat kaku, tapi entah kenapa aku suka, Aku menghangat saat melihat kekakuannya.

“Kamu melakukan ini semua untukku?” Tanyaku masih tak percaya.

Dia melangkah mendekat ke arahku, mengusap lembut pipiku. “Ya.. untukmu..” Ucapnya lembut.

“Boy.. aku nggak pantas mendapatkan semua ini, Aku… Aku bukan siapa-siapa, aku tak punya apa-apa, dan aku….” Dia membungkam bibirku dengan bibirnya, dan aku tak dapat melanjutkan kalimatku.

“Dengar, Kamu istriku, mengandung bayiku, dan kamu punya ini.” Dia membawa telapak tanganku ke dadanya. “Hatiku..” Katanya lagi.

Aku menatap tanganku yang ada di dadanya lalu menatap tepat pada bola matanya dengan tatapan terkejutku.

“Maksudmu??” Tanyaku memastikan.

“Kamu yang memiliki hatiku, dan menolak mengembalikan pada tempatnya.” Ucapan manisnya tersebut di akhiri dengan lumatan lembut pada bibirku.

“Aku mencintaimu Mil. Terimakasih sudah mengajariku mencintai untuk yang kedua kalinya.” Ucapnya lembut setelah mengecup lembut bibirku.

Aku memeluk tubuhnya erat-erat. Tak percaya jika ini yang terjadi. “Harusnya aku yang berterimakasih karena kamu mau membalas Cinta tak bersaratku Boy..” Ucapku dengan berlinang airmata haru.

“Aku yang harus berterima kasih karena kamu sabar menungguku.” Bantahnya dengan nada lembut. Aku tersenyum megingat kelakukan kami berdua saat ini.

Tuhan.. aku tau jika malam itu kami salah, tak seharusnya kami melakukannya dan berakhir seperti ini, Atau apa mungkin begitulah takdirmu untuk kami?? Menyatukan kami dengan awal sebuah kesalahan dan akhir yang manis seperti saat ini?? Apapun itu aku berterimakasih padamu, karena Kau telah membuat kamu bersatu, Saling menyayangi dan menemukan jalan untuk saling mencintai…. Terimakasih tuhan.. terimakasih….

 

***-End-***

Akhirnya End juga… wkwkkwkwk Untuk My Mate nya dina dan Alex, sabar yaa… masih belum End aku nulisnya.. wkwkkwkwk

Advertisements

10 thoughts on “Lovely Hubby (Boy & Mily Story) – Part 3 (End)

  1. Entah tau kenapa aku membaca cerita ini sampai meneteskan air mata . Aku terharu dengan kesabaran dan ketulusan melly mencintai boy dengan tanpa syarat. Dan boy akhirnya menyayangi melly dengan tulus… walaupun ceritanya singkat to sangat berkesan .. terimakasih kak..

    Like

  2. Kesabaran emng akn brujung pd kebhgiaan,,sprti yg dirasakan Mily saat ini,,dia sllu sbr menunggu Boy mmbuka hatinya,,dan skrg kesampean.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s