romantis

That Arrogant Princess – Chapter 7 (Berakhir..)

TAP2That Arrogant Princess

Chapter 7

-Berakhir…-

 

Reynald menggulingkan badannya kesamping dan sedikit heran saat mendapati Ranjang di sebelahnya kosong. Yaa tentu saja, bukankah tadi malam ia bergelung dengan tubuh Clara semalaman?? Tapi dimana Wanita itu saat ini? bukankah seharusnya Dia masih disini karena sakit??

Reynald membuka matanya sedikit demi sedikit, memandang sekeliling kamar Clara. Kamarnya terlihat rapi, tapi penuh dengan barang-barang wanita. Reynald lalu menatap tubuhnya, Ia ternyata masih telanjang dada. Teringat dengan kejadian tadi malam, Astaga.. bagaimana mungkin Ia bisa tergoda dengan Sosok Clara???

 

*FlashBack

 

“Sudahlah.. ayo tidur, Supaya besok cepat sembuh..” Ucap Reynald masih dengan memeluk Clara.

Reynald merasakan Clara memeluknya semakin erat, wajah Clara yang tenggelam di dadanya entah kenapa membuatnya sedikit bergetar. Gesekan-gesekan kulit lembut itu membuat semua yang dibawah sana mengeras seketika. Yaa… Reynald benar-benar mulai terpancing gairahnya.

Dirabakannya telapak tangannya di sepanjang punggung Clara, Diusap-usapnya lembut dengan sesekali menggodanya. Siall..!! Reynald benar-benar menginginkan wanita tersebut. dan tanpa permisi Reynald membuka kaitan Bra yang ada di punggung Clara.

Clara terkesiap, Ia lalu mendongak menatap kearah Reynald yang sudah berkabut.

“Kamu.. Kamu mau apa?”

“Aku menginginkanmu..” Ucap Reynald dengan parau.

Lalu tanpa aba-aba Reynald mencengkeram dagu Clara dan menyambar Bibir ranum tersebut. Menciumnya penuh gairah. Melumatnya hingga sama-sama saling terengah, tangan Reynald kini bahkan sudah mendarat sempurna di payudara lembut milik Clara. Membuat Clara memekik karena terkejut dengan apa yang di lakukan Reynald.

Reynald semakin memperdalam ciumannya, bertukar saliva dengan panasnya saling mencecap rasa satu sama lain, Saling mengerang dan saling mendesah. Bibir Reynald mulai turun ke leher jenjang milik Clara, mengecupnya di sana, membuat Clara tak berhenti mendesah.
Bibir itu semakin turun dan turun hingga menemukan puncak payudara Clara. Reynald menatap Clara dengan tatapan tajamnya, lalu mendaratkan bibirnya pada payudara tersebut.menghisapnya.. mendambanya…

“Rey..” Erang Clara. Astaga.. Clara tak pernah merasa se intim ini dengan seorang lelaki.

“Hemm..” hanya itu jawaban Reynald. Reynald benar-benar telah di kuasai oleh gairah hingga tak dapat memikirkan logikanya. Dilanjutkannya aksinya tersebut. membuat Clara semakin mengerang nikmat.

Reynald mengusap-usap punggug belakang Clara yang terasa semakin panas. Panas?? Astaga.. Akhirnya Reynald menghentikan aksinya saat itu juga, lalu menatap Clara dengan tatapan Anehnya.

“Kamu demam.” Ucap Reynald dengan parau.

“Yaa.. Aku memang demam.” Suara Clara pun terdengar parau.

Reynald menelah ludahnya dengan sudah payah karena menahan ketegangan sialan di pangkal pahanya. “Kita tidur saja.”

Clara lantas memeluk erat kembali tubuh Reynald, menenggelamkan kembali wajahnya di dada Reynald. Sedangkan Reynald tak berhenti mengumpat dalam hati karena hasratnya tak tersampaikan, Ia butuh pelepasan namun nyatanya.. Sialan..!!!

 

Reynald Menggeleng-gelengkan kepalanya. Astaga.. apa yang Ia lakukan tadi malam?? Bisa-bisanya Ia mencumbu wanita itu?? tergoda dengan Wanita itu?? jika sekarang saja Ia sudah tergoda, bagaimana dengan nanti??

Reynald berdiri dan bergegas masuk kedalam kamar mandi. Ia harus mandi air dingin. Membayangkan betapaa erotisnya mereka tadi malam tanpa sadar ternyata membuatnya menegang kembali. Sial.!!

Saat keluar dari kamar mandi Clara, Reynald kembali merasa kikuk saat mendapati Clara yang sudah duduk di pinggiran Ranjang.

Wanita itu tampak sehat, tampak lebih segar karena terlihat Rona merah di pipinya. Rambutnya tergerai indah. Hanya mengenakan Sweater berlengan panjang yang sedikit lebih besar dari tubuhnya dan tanpa mengenakan celana. Sial..!! apa Clara ingin menggodanya??

Tanpa banyak bicara Reynald melangkah mendekat kearah Clara, lalu mendaratkan telapak tangannya di kening Clara dengan maksud mencari tau apa Clara masih demam atau sudah sembuh. Tapi nyatanya Clara malah menampik tangan Reynald.

“Kamu apaan sih..” Ucap Clara sambil memalingkan wajahnya. Astaga.. Bahkan Clara tak pernah semalu ini di hadapan lelaki. Ia selalu bisa mengendalikan diri, terlihat sombong dan berkelas di hadapan lelaki, tapi entah kenapa setelah kejadian tadi malam pandangannya terhadap Reynald berubah, Dan perasaannya pun sepertinya juga berubah.

“Aku Cuma mau memeriksa, apa kamu masih demam atau sudah sembuh.”

“Sudah sembuh.” Jawab Clara dengan ketus.

Reynald lalu mencari pakaiannya. “Kalau begitu Aku pulang, Aku haruske kantor.” Kata Reynald sambil mengenakan pakaiannya.

“Makan itu dulu.” Clara menunjuk meja yang di atasnya sudah tersedia beberapa potong Roti isi dan juga secangkir kopi.

Reynald tersenyum. “Jadi mau belajar jadi istri yang baik ya..” Entah kenapa melihat wajah Clara yang malu-malu membuat Reynald ingin menggodanya.

“Kalau nggak mau ya sudah, Biar aku sendiri yang makan.” Kata Clara sambil meraih nampan di meja tersbut tapi belum sempat , Reynald sudah lebih dulu mengambilnya.

Reynald lalu menyeruput Kopi buatan Clara.

‘Pppffffttt…. Ini terlalu manis.” Ucapnya Reynald sambil sedikit menyemburkan kopi yang di minumnya.

“Masa ini kemanisan sih..?”

“Iya ini kemanisan.”

“Ya sudah nggak usah di minum, gitu aja Sewot.” Ucap Clara dengan kesal.

“Aku nggak sewot. Cuma kasih tau aja, Nanti kalau bikinin aku Kopi jangan di kasih gula.”

“Nggak ada Nanti. Ini yang terakhir kalinya.” Ucap Clara maasih dengan keketusannya.

“Kamu masih marah.?”

“Ya iya lah aku marah.. Kamu sudah ninggalin aku dan bikin aku kayak gembel. Dan kamu belum minta maaf.” Clara mulai mengungkit kejadian kmarin hari.

“Maaf..”

“Aku nggak butuh maaf kamu. Kamu keterlaluan tau nggak.”

“Ya.. aku memang keterlaluan, jadi aku minta maaf..” Kali ini Reynald berkata pelan, Ia tau jika Ia salah. Bagaimanapun juga meninggalkan Clara seperti itu adalah suatu kesalahan. “Boleh aku makan Rotinya??”

Pertanyaan Reynald membuat Clara sedikit menyunggingkan senyumannya. “Makan aja, aku kan sengaja buat untuk kamu.”

Reynald akhirnya duduk di pinggiran ranjang di sebelah Clara, lalu memakan Roti isi buataan Clara. “Cla.. aku sudah memikirkan Surat perjanjian usulan kamu.”

“Lalu..??”

“Apa kamu yakin akan tetap menjalankan surat perjanjian tersebut setelah tadi malam..”

“Jangan lagi sebut tadi malam, itu bukan aku. Mungkin aku Cuma terpengaruh Efek Parasetamol yang sudah ku minum.”

Reynald tersedak karena menertawakan Clara. “Kamu gila?? Sejak kapan Parasetamol bisa mempengaruhi gairah seseorang??”

“Please, jangan bicara itu lagi.”

“Oke.. oke.. aku berhenti bicara itu. tapi apa kamu benar-benar yakin kalau kita akan bercerai setelah dua tahun menikah??” tanya Reynald dengan sungguh-sungguh.

“Tentu saja, Aku bukan type orang yang suka hidup dengan orang yang sama selama bertahun-tahun, aku gampang bosan.”

“Benarkah?? Bagaimana jika suatu saat nanti kita…”

“Tidak ada bagaimana.” Bantah Clara.

“Baiklah, Aku menyetujui permintaanmu. Kita akan bercerai setelah dua tahun pernikahan kita.”

Setelah pernyataan Reynald tersebut keduanya sama-sama terdiam cukup lama. Reynald lalu berdiri membenarkan pakaiannya dan mulai berkata lagi.

“Aku pulang dulu. Ini sudah siang, aku harus ke kantor.” Clara masih diam membatu dalam duduknya. Ia masih memikirkan perkataan Reynald tadi yang tiba-tiba menyetujui permintaannya.

Karena tak mendapatkan respon dari Clara, akhirnya Reynald pergi begitu saja. Tapi saat Reynald menggenggam knop pintu kamar Clara, Clara berlari kearahnya dan memanggilnya.

“Rey..” Clara menghampiri Reynald dan ‘Cuppp’ Clara mendaratkan bibirnya di pipi Reynald. “Terimakasih sudah mau menyetujui pemintaanku, Dan terimakasih juga sudah merawatku tadi malam.” Ucap Clara pelan.

Reynald ternganga, Jantungnya memompa lebih cepat seakan ingin meledak. “Kupikir dalam surat perjanjian itu tertulis tentang kontak Fisik.”

“Yaa.. tentu saja di tulis disana.” Ucap Clara sambil sedikit malu-malu.

“Kamu melanggarnya. Dan sepertinya Aku juga.” Reynald lalu menyambar bibir mungil milik Clara, Melumatnya sebentar lalu melepaskannya. Reynald tersenyum saat melihat Clara yang hanya ternganga setelah mendapat ciuman darinya.

“Senang bekerja sama denganmu Cla…” Akhirnya Reynald pergi begitu saja masih dengan senyuman di wajahnya.

***

Dina masih sibuk membantu ibunya mencuci piring di dapur. Pikirannya maih melayang dengan tawaran Reynald kemarin hari. Reynald menyuruhnya untuk menunggu selama kurang lebih dua tahun. Apa Ia mampu menunggu selama itu?? Bagaimana jika nanti Reynald berubah terhadapnya?? Bagaimana jika Reynald berpaling dan jatuh hati ada wanita itu??

Dina menggelengkan kepalanya. Apa ia harus menunggu Reynald selama itu?? Tidak, Tidak mungkin. Bukankah Reynald bilang jika Ia mencintainya?? Apa sebaiknya Ia mendesak Reynald saja?? Ahhh pikiran-pikiran itu terus saja berperang daam kepaalanya.

“Din.. Nanti bantu ibu ke supermarket ya.. kebutuhan dapur ada yang habis.”

Dina terkesiap karena ucapan ibunya mengagetkannya dari lamunan. “Iya bu..” Akhirnya dari pada membingungkan masalahnya dengan Reynald, Dina bergegas merapikan dirinya dan berangkat di supermarket.

***

Di supermarket.

“Haii.. kita bertemu lagi.”

Astaga.. itu pegawai Supermarket yang selalu menggodanya. Bagaimana mungkin Pegawai itu bertemu kembali dengannya setiap hari??

“Maaf saya sibuk.” Ucap Dina sedikit tak menghiraukan pegawai tersebut.

“Aku nggak ganggu kok, Cuma mau nyapa saja.”

Lalu Dina melanjutkan memilih-milih bahan makanan yang di butuhkannya tanpa menghiraukan pegawai supermarket tersebut yang mengikuti d belakangnya.

“Maaf, apa anda tidak memiliki pekerjaan lain selain mengikuti saya?” tanya Dina dengan sedikit kesal. Yaa Ia merasa sangat risih di ikuti di belakangnya apa lagi beberapa pegawai Supermarket lainnya selalu memperhatikan mereka.

“Aku punya pekerjaan, Ini aku lagi memeriksa tanggal kadalursa barang-barang disini.”

Dina memutar bola matanya dan mendengus kesal. Astaga.. bagaimana mungkin ada Lelaki tak tau malu seperti lelaki yang sedang mengikutinya saat ini???

“Kamu belanja banyak. Mau diantarkan atau….???”

“Apa atasan anda membayar anda untuk mengantar saya?? Tidak bukan??”

“Tapi sepertinya aku bisa merundingkan pada atasanku.” Ucap pegawai terebut dengan tersenyum.

Lagi-lagi Dina melanjutkan jalannya tanpa menghiraukan pegawai supermarket tersebut. Tak lama seorang pegawai lainnya menghampiri mereka.

“Maaf pak, Ada tamu untuk bapak.” Ucap pegawai wanita tersebut.

Dina sedikit heran, kenapa pegawai wanita tersebut memanggil pegawai lelaki yang mengikutinya dengan sebutan bapak?? Belum lagi nada pegawai wanita itu saat berbicara seakan teerdengar hormat. Bukankah mereka sama-ssama seorang pegawai ika dilihat dari seragam yang mereka kenakan.?? Apa jangan-jangan???

“Baiklah.. Saya pergi sebentar, semoga kita bertemu lagi lain hari.” Ucap pegawai Lelaki tersebut sambil menyunggingkan senyumannya pada Dina dan pergi meninggalkan Dina begitu saja.

Dina menggelengkan kepalanya. Aahh lupakan, Bukankah ia memiliki masalah yang lebih serius di bandingkn mengurusi pegawai supermarket yang tak ia kenal tersebut??? Akhirnya Dina melanjutkan belanjanya.

Setelah dirasa cukup dan sudah terbeli semua, Dina menuju ke kasir. Setelah membayar barang belanjaannya, Dina sedikit terkejut saat penjaga kasir tersebut memberikan Dina sesuatu.

Kartu nama..

“Apa ini mbak??” tanya Dina sedikit bingung.

“Pak Alex ingin mbak menghubunginya, Silahkan.” Kata kasir tersebut sambil memberikan kartu nama tersebut.

Pak Alex..??? Dina mengernyit. Lalu dengan spontan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru Supermarket tersebut. dan pada saat itu Dina melihat lelaki itu. Lelaki pegawai Supermarket yang hampir seetiap hari menggodanya saat Ia belanja di supermarket ini. Lelaki itu bersandar di sebuah Rak yang berisi peralatan memasak, Memasang senyuman mempesona pada Dina dan mengangkat tanganya seakan mengisyaratkan pada Dina untuk meneleponnya nanti.

“Maksud Mbak orang itu??” tanya Dina kepada penjaga kassir tersebut.

“Iya mbak.. Itu pak Alex.”

“Maaf, simpan saja, saya nggak mau.” Dina mengembaikan kartu nama tersebut. Lalu beranjak pergi, tapi sebelum pergi Dina sempat menatap Pegawai Lelaki tersebut bahkan menjulurkan lidahnya mengejek lelaki tersebut yang disambut dengan senyuman lebar Lelaki sang pegawai Supermarket tersebut.

***

Saat ini Reynald sedang sibuk memilih-milih warna untuk dekorasi resepsi pernikahan sialannya. Sial!! Benar-benar Sial..!! Reynald merasa Clara sedang mengerjainya. Bagaimana mungkin Ia saat ini yang sedang di kantor, sibuk mengurus pekerjaannya, lalu tiba-tiba sekertaris pribadinya datang membawa sebuah paket besar berisi album-album dekorasi pernikahan. Lalu tak lama Wanita sialan itu meneleponya dan dengan entengnya menyuruh memilihkan sebuah warna untuk dekorasi resepsi pernikahan mereka nanti.

Dan Bodohnya Reynald menuruti permintaan Sialan Clara tersebut. Siall..!!! bisa saja saat ini Ia membuang semua album-album tersebut lalu melanjutkan pekerjaannya. Tapi entah kenapa Reynald tak bisa. Akhirnya disinilah saat ini. Reynald duduk di atas kursi kebesarannya, dengan wajah seriusnya Ia memilah-milah Dekorasi yang paling bagus untuk pernikahannya.

Tak lama, Pintu ruangannya tersebut di buka oleh seseorang. Reynald mendengus kesal, siapa yang berani-berani mengganggu konsentrasinya saat ini?? dan kekesalan tersebut lenyap sudah saat Reynald melihat sosok yang di hormatinya masuk kedalam ruangannya. Itu Om Ramma, bersama dengan Bella, Puterinya.

“Apa Om mengganggu??”

Reynald berdiri dan menghampiri Ramma dan juga Bella. “Ahh tidak Om.. Bagaimana kabarnya Om??”

“Baik, semuanya baik.”

“Bella??” Reynald melirik kearah adik sepupunya tersebut.

“Baik.” Hanya itu yang di ucapkan Bella. Gadis itu memang tak suka banyak bicara.

“Ada yang Om perlukan sampai Om datang sendiri kemari??” Tanya Reynald sambil mengikuti Ramma dan Bella duduk di Sofa di dalam ruang kerjanya.

“Tidak, tadi hanya mampir, kebetulan makan siang di dekat sini.”

“Sama Bella??”

“Yaa… Dia sekarang kan kerja dengan Brandon.”

“Kalau bukan Papa yang paksa aku nggak akan mau kerja di sana.” Gerutu Bella.

“Kenapa tidak kerja di sisni saja om??”

“Biar lebih mandiri, Papamu Bilang kamu mau nikah, Apa benar Rey??”

“Emm Yaa.. awal bulan depan Om.” Reynald tampak ragu memberi tau kabar pernikahannya.

“Benarkah? Kenapa cepat sekali?? Jangan bilang kalau kamu….” Ramma menggantungkan kalimatnya.

Reynald mengerti apa yang ada dalam pikiran Ramma. “Ahh tidak Om.. bukan seperti yang Om Ramma pikirkan.”

“Lalu??”

“Sedikit rumit Om.. Dia model dan Aahh… saya enggan membicarakannya.”

“Pikirkan baik-baik Rey… Menikah bukan perkara muda, jangan permainkan Pernikahan, Kasian Orang tuamu akan kecewa.”

Entah kenapa perkataan Ramma tersebut menggugah hati Reynald, Yaa bagaimanapun juga Ia tak boleh mempermainkan ikatan pernikahan. Lalu bagaimana dengan perjanjian sialannya dengan Clara?? Bagaimana dengan janjinya terhadap Dina??? Ahhh sial.!! Datangnya Ramma membuat pikiran Reynald semakin terbebani. Yaa tentu saja benar, Orang tuanya pasti akan sangat kecewa jika tau Ia mempermainkan penikahan.

“Kalau begitu, Om kembali dulu. Sepertinya kamu sedang sibuk” Kata Ramma sambil berdiri.

“Ahh yaa Om.. nanti kapan-kapan saya main kesana.”

“Ajak calon mu ya..” Ramma akhirnya bergegas pergi.

“Balik dulu Mas..” Bella pamit masih dengan nada ketusnya.

“Yaa… Hati-hati di jalan yaa..”

Setelah Ramma dan Bella keluar, kepala Reynald kembali penuh dengan pikiran-pikiran tentang hubungan rumitnya. Bagaimana langkah yang harus Ia ambil selanjutnya?? Haruskah Ia tetap melaksanakan pernikahan konyol ini?? ataukah Cukup sampai disini saja Ia membohongi semuanya??

Pada saat pikiran-pikiran itu penuh di kepalanya, Ponsel Reynald kembali berbunyi. Saat ini sebuah pesan yang di terimanya.

Dina : ‘Aku ingin Bicara sesuatu sama Mas Rey nanti sore di tempat biasa.’

Itu Dina yang mengirimkan pesan. Ada apa?? Kenapa tiba-tiba ingin bicara??

Reynald : ‘Tunggu aku sepulang kerja.’

Hanya itu yang dapat di tulis Reynald. Jika biasanya Reynald menambahkan panggilan Sayang, Maka entah kenapa saat ini Ia enggan menambahkan panggilan itu.

***

Dina meremas kedua telapak tangannya karena ssedikit gugup dengan apa yang akan Ia lakukan. Yaa.. ini saatnya Ia harus menuntut pada diri Reynald. Jika biasanya Ia hanya diam dan menuruti apa mau Reynald, maka tidak dengan saat ini.

Kegugupan Dina semakin menjadi saat melihat Sosok Reynald datang menghampirinya. Reynald duduk di sebelahnya. Di bangku taman belakang rumah, tempat mereka sering menghabiskan waktu bersama.

“Apa yang ingin kamu bicarakan??” tanya Reynald secara langsung tanpa basa-basi lagi.

Dina sedikit terkejut dengan sikap Reynald yang terkesan berbeda, Reynald terkesan sedikit lebih jauh dari jangkauannya, bukan Reynald yang dulu yang selalu menempel padanya dan tak mempedulikan statusnya yang hanya sebagai seorang anak pembantu rumahnya.

Sedangkan Reynald sendiri tak tau, kenapa Ia bersikap sedemikian rupa kepada Dina. Yang Ia tau adalah Ia merasa bersalah pada Dina. Bayangan saat Ia Mencumbu Clara dengan sadar menyeruak begitu saja dalam pikirannya, membuatnya seakan merasa bersalah, dan merasa menghianati Dina.

“Emm… Kupikir aku nggak akan menerima tawaran Mas Rey kemarin.”

Reynald terkejut dengan apa yang di ucapkan Dina. Baru kali ini Dina menolak apa yang Ia inginkan. Sebenarnya tidak salah, Siapa juga yang mau menunggu selama lebih dari dua tahun, sedangkan Reynald tau jika sekarang saja perasaannya sudah tak menentu terhadap Clara, bagaimana nanti??

“Kenapa nggak bisa menerima??”

“Karena aku ingin Mas Rey menikah denganku.”

Reynald benar-benar membelalakkan matanya saat mendengar permintaan Dina tersebut. Sungguh, ini Benar-benar bukan Dinanya. Dina tak pernah menuntut lebih dari hubungan mereka, tapi saat ini, Dina malah ingin Reynald menikahinya.

“Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan??” tanya Reynald pelan.

“Yaa.. aku sadar Mas, kamu adalah majikanku dan aku hanyalah Anak pembantu, tapi apa aku salah jika aku menuntut Hak Ku?? Kita sudah menjalin hubungan sekian lama, saling mencintai satu sama lain, apa salah jika aku ingin lebih?? Karena jujur, aku tak sanggup melihatmu dekat dengan wanita lain.”

“Dina, Kamu tau jika ini bukan yang ku mau.”

“Aku tau, aku mencoba mengerti walau aku tak tau apa alasan sebenarnya kamu menikahi dia. tapi disini aku hanya ingin memberikan kamu Pilihan. Tinggalkan dia dan kembali padaku Atau kita sudahi sampai disini hubungan kita.”

“Jadi kamu nggak mau menungguku?”

“Tidak. Maaf Mas.. Aku tidak bisa menunggu sesuatu yang belum pasti, Sesuatu yang mungkin bisa berubah suatu saat nanti.” Kata Dina dengan tegas.

Reynald membatu mendengar jawaban Dina. Yaa apa yang dikatakan Dina tentu saja benar. Jika Reynald ada dalam posisi Dina maka Reynald tentu tak akan mau menunggu selama Itu. tapi untuk memilih menikahi Dina dan meninggalkan Clara rasanya… rasanya… Ahhh entahlah.. Reynald bahkan tau jika Ia tak bisa meninggalkan Clara setelah apa yang Ia lakukan terhadap wanita Itu, yaa.. meskipun mereka belum sempat melakukan apa-apa, tapi tetap saja, Mengingat Clara membuat Reynald mengesampingkan Dina.

“Maaf.. tapi aku juga tak bisa mengabulkan permintaanmu.” Ucap Reynald dengan lemas.

Dina merasakan sesuatu mengiris Hatinya, Monohok jantungnya, rasanyaa nyeri.. benar-benar sangat sakit saat Di tolak dengan orang yang Ia Cintai setelah Ia memberanikan Diri untuk membuat Permintaan.

“Baiklah. Jadi sekarang sudah jelas, Hubungan kita berakhir sampai disini.” Ucap Dina dengan suara yang sedikit bergetar. Lalu tanpa banyak bicara lagi, Dina bangkit dan meninggalkan Reynald sendiri. Dina tak Ingin air matanya jatuh disana, cukup harga dirinya saja yang jatuh di hadapan Reynald, tidak dengan Air matanya.

Sedangkan Reynald hanya Membatu, Ia bahkan tak melihat Dina yang pergi meninggalkannya. Ia hanya menatap rumput hijau yang sedang ia Pijaki. Rumput itu semakin lama semakin mengabur, Seperti ada yang menghalangi matanya. Dan benar saja penghalang itu jatuh menjadi butiran-butiran Air mata. Reynald menangis, Hatinya juga Hancur bersama dengan hubungan yang Ia bina bersama dengan Dina, Kekasih yang sangat Ia cintai..

***

Malam Ini Clara sibuk mengobati luka lecet di kakinya. Sial..!! Harusnya Ia marah memaki atau menampar Wajah Reynald, karena lelaki itu kulitnya jadi rusak seperti saat ini. tapi apa?? Hanya bermodalkan pelukan dan cumbuan, Clara bahkan Jatuh dengan mudah dalam pesona seorang Reynald.

Cumbuan?? Astaga.. Jangan pikirkan itu lagi. Clara menggelengkan kepalanya cepat-cepat saat bayangan Erotis itu masuk kembali dalam kepalanya.

Seharian ini Clara hanya di rumah, tak ada pemotretan atau kegiatan lain yang ia lakukan. Mily belum juga pulang sejak kemarin malam. MungkinMily sedang pulang ke rumah orang tuanya. Karena bosan, tadi siang Clara sengaja menggoda Reynald dengan menyuruh Reynald memilihkan Dekorasi untuk resepsi pernikahan mereka, Clara bahkan tertawa puas saat mendengar Reynald mengumpat karena kesal.

Saat Clara sedang mengingat tentang Reynald, entah kenapa jantungnya menjadi berdebar tak menentu. Clara tak mengerti perasaan apa ini. Mengingat Reynald yang begitu lembut tadi malam membuat Clara selalu membayang kan Lelaki itu, bahkan diam-diam Clara mulai merindukan kehadiran lelaki tersebut.

Rindu?? Tunggu dulu, itu bukan Dirimu Cla..?? Untuk apa Kamu merindukan Lelaki itu?? saat Clara berperang melawan pikiran-pikiran Anehnya, tiba-tiba pintu Apartemeennya di ketuk oleh seseorang. Clara mengernyit, siapa yang malam-malam begini bertamu?? Apa Itu Mily?? Ahh tidak mungkin. Jika Mily pasti akan langsung masuk tanpa mengetuk pintu.

Ketukan itu semakin lama semakin keras. Akhirnya dengan sedikit Kesal Clara bangkit dan membuka pintu Apartemennya.

Tubuh tinggi Reynald langsung ambruk dalam pelukannya begitu saja saat Clara membuka pintu Apartemnnya. Ada apa dengan lelaki ini??

“Rey.. apa yang terjadi??”

“Aku merndukanmu..” Racau Reynald.

“Kamu mabuk?”

“Enggak sayang.. Aku merindukanmu.”

Reynald lalu melepaskan pelukannya, menatap Clara dengan tatapan mendambanya, membuat Clara merona memererah karena Ia tak pernah mendapatkan tatapan seperti itu dari seorang lelaki dalam posisi sedekat ini.

“Kamu cantik.” Lagi-lagi kata itu yang di ucapkan Reynald sambil semakin mendekatka diri pada Clara.

“Apa yang akan kamu lakukan Rey??”

“Aku menginginkanmu..”

Dan setelah perkataan Reynald tersebut, Clara tak dapat merasakan apapun karena tubuhnya seakan melayang seiring dengan sentuhan lembut bibir Reynald pada Bibirnya…

 

-TBC-

Maaf.. Harusnya ini Jadwal Abang Brand di Post, tapi karena kecerobohan saya, lagi-lagi cerita abang Brand terhapus semua, kali ini bukan karena bella anak saya yang masih unyu2 tapi ini Murni kecerobohan saya.. hahhaha jadi saya harus Copast lagi dari awal… jadi yang nunggu abang Brand mohon sabar yakk… ingsya aloh kalo nggak besok ya lusa baru bisa di post… makasih udah mau membaca… :* :* #BiGHugFromAkku…

Advertisements

7 thoughts on “That Arrogant Princess – Chapter 7 (Berakhir..)

  1. Setuju sma Dina , kamu harus tegas, jngan cuman diem aja nerima apa aja yg di lakuin rey sedangkan kamu ga bisa apa” :3 . Abang Rey kamu mabuk kh???

    Liked by 1 person

  2. baguslah kalo dina gk mau menerima tawaran reynald bener juga kan gk akan ada yang tahu apa yang terjadi selama 2 tahun nanti dalam pernikahan reynald dan clara
    lagian dina udah ada yang naksir kekeke
    jodoh udah ada yang ngatur

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s