romantis

please Stay With Me – Chapter 15 (End)

pswm-1Please Sty With Me

NB: Maaf bgt kalo ending kurang greget dan nggak sesuai ama harapan kalian,, tapi aku bahagia bisa nyeleseikan kisah cinta sedih ini dengan sebaik-baiknya. makasih buat yang sudah mau baca dari awal hingga akhir, kasih dukunga berupa Like / Coment.. aku seneng bgt setidaknya kisah ini ada yang mau baca apalagi ada yang mau nangis gara-gara Baper.. hehheheeh ok langsung saja…

Chapter 15

-Author-

 

-jika mendapat akhir yang bahagia harus kehilangan banyak Air mata, Maka aku Rela melewati jalan tersebut..-

 

Revan benar-benar memucat dengan kata-kata yang diucapkan istrinya tersebut. Dara meminta untuk berpisah dengannya..? Apa wanita ini tak salah bicara..? Pikir Revan kemudian. Tangis pecah Dara membuat Revan bangkit lalu memeluk dara erat-erat.
“Dara.. Jangan bicara seperti itu..” Kata Revan yang kini sudah menarik Dara dalaam pelukannya.
“Aku tidak bisa lagi Mas… Aku lelah.. aku ingin mengakhiri semua ini selagi aku bisa.”
“Aku tidak ingin meninggalkanmu, Dan aku tak akan pernah meninggalkanmu..” Kata Revan dengan tegas.
“Aku ingin sembuh Dari Luka ini Mas.. Lepaskan Aku… Kumohon.” Dara Masih menangis dalam pelukan Revan. Dara bahkan merasakan punggung lelaki itu bergetar. Mungkinkah Revan juga menangis karenanya..?
Revan melepaskan pelukannya, menatap dara dengan Mata basahnya. “Kumohon Dara.. jangan paksa Aku… kita bisa memulainya dari awal, demi anak kita.” Revan memohon.
Dara hanya menggelengkan kepalanya. Tak ada kesempatan lagi untuk Revan. Dirinya selama ini sudah mencintai Revan sepenuh hati, tanpa menuntut balasan, namun entah kenapa Kehadiran bayi yang dikandungnya kini membuat semuanya berbeda. Dara merasa jika dirinya kini juga butuh di cintai, tak hanya tanggung jawab tapi benar-benar cinta yang tulus. Sedangkan Dara tau jika Revan mungkin saat ini tidak bisa memberikan Hal itu padanya.
“Dara..” Kata Revan sambil menangkup pipi Dara.
Lagi-lagi Dara menggeleng. “Aku tidak bisa Mas.. Aku terlalu lelah.” Lirih Dara.
Revan menyadari jika dirinya kini tak memiliki kesempatan lagi. Yahh… ini memang sudah salahnya, sudah sewajarnya Dara pergi meninggalkannya setelah apa yang sudah dia lakukan selama bertahun-tahun pada diri Dara. Tapi kenapa pada waktu seperti ini..? kenapa Pada saat dimana Revan benar-benar menyadari jika tak ada wanita lain selain Dara yang benar-benar dia inginkan dalam hidupnya..? Apa ini yang disebut dengan karma karena telah menyia-nyiakan orang yang mencintainya hingga orang itu pergi meninggalkannya..??
Revan menempelkan keningnya pada kening Dara, Menelusuri wajah itu, wajah yang mungkin saja sebentar lagi tak menjadi miliknya lagi. Nafas mereka saling bersahutan, Revan menyentuh bibir Dara dengan ibu jarinya.
“Aku ingin menciummu untuk terakhir kalinya.” Lirih Revan.
Dara hanya memejamkan matanya, mengisyaratkan jika dirinya mengijinkan Revan untuk menciumnya. Yah… setidaknya Ciuman ini nanti akan menjadi ciuman manis yang dapat mereka ingat nantinya.
Dengan perlahan Revan menyentuhkan bibirnya pada bibir Dara, lembut, sangat lembut. Mengigatkan Revan dengan ciuman pertama Mereka. Revan mulai memangutnya, melumatnya lembut penuh dengan dengan kasih sayang, Revan ingin Dara dapat merasakan Cintanya lewat Ciuman manis ini. Keduanya hanyut dalam suasana, hanyut dalam perasaan yang menyesakkan Dada, Hanyut dalam Cinta yang tak terucap.
Dara sudah tak kuat dengan semua ini, dia tak lagi menahan tangisnya. Isakannya membuat Ciuman Revan terhenti. Ternyata Revan juga ikut menangis bersamanya.
“Heii jangan menangis lagi.. Baiklah.. kita akan berpisah, asal Kau tidak menangis lagi. Jaga anak kita, Dan Kau Harus sembuh.” Kata Revan mengusap Air mata di pipi Dara. Ya… bahkan saking Cintanya dengan Dara, Revan Rela meninggalkan Dara demi kebahagiaan Dara sendiri. Revan Rela melepas Wanita yang entah sejak kapan menjadi Poros hidupnya tersebut. Entah Revan nanti dapat menjalani harinya dengan normal atau tidak Revan sendiri tak tau, Yang Revan tau Kini dirinya harus membahagiakan Dara walau itu dengan Cara meninggalkannya Dan membuat dirinya sendiri kesakitan seumur hidup karena tak bisa memiliki Dara.
Dara tertegun dengan Perkataan Revan. Kenapa lelaki ini sangat mudah sekali menyetujui permintaannya.?
“Kita akan berpisah secara baik-baik.” Tambah Revan lagi. Dan entah kenapa kata-kata itu tepat menusuk di jantung Dara. Dara merasa sakit saat Revan mengatakan kata ‘Berpisah’. Bukankah tadi dirinya yang menginginkan perpisahan ini..?
Revan lalu membenarkan letak rambut Dara yang sedikit berantakan. “Hiduplah dengan bahagia… Jadi aku tak menyesal melepaskanmu.” Kata Revan Lagi. Dara masih tak dapat berkata sepatah katapun.
Revan mengehembuskan Nafas panjang lalu belihat jam tangannya. “Sudah Terlalu sore. Aku akan kembali pulang. Aku akan mengunjungimu lagi nanti.” Kata Revan lalu mengecup kening Dara.
Entah saampai kapan Dara berdiri membatu seperti sekarang ini. Revan sudah tak berada lagi dalam kamarnya. Dan itu membuat Dara Hampa.. bukankah ini keinginanya untuk berpisah dengan Revan…???

***

Revan turun dari tangga menuju kedapur tempat Ibu Dara memasak.
“Lohh Nak Revan sudah turun.” Sapa Ibu Dara pada Revan.
“Emm iyaa bu.. Saya.. Saya ada urusan mendadak. Apa saya boleh menitipkan Dara beberapa Hari ini kepada Ibu.?”
Ibu Dara mengernyit heran. Bukankah tadi Revan berkata jika dirinya akan menemani dara disini.? Kenapa saat ini Revan malah akan meninggalkan Dara..?
“Tenang saja Nak Revan.. Dara akan baik-baaik saja dengan ibu Kok.”
Revan tersenyum lega. “Baiklah Bu.. saya pamit undur diri dulu.”
“Loh… Nak Revan tidak ikut makan Malam.? Ibu masak banyak Nak.”
Revan pura-pura melihat jam tangannya. “Emmm sepertinya tidak Bu.. takut Terlambat Bu..” Jawab Revan Berbohong.
“Baiklah… Hati-hati nak..” Kata Ibu Dara dengan lembut. Revan lalu bersalaman dengan mencium tangan ibu Dara seperti mencium tangan ibunya sendiri. Ibu Dara tau jika saat ini dara dan Revan ada masalah, terlihat jelas pada sorot mata sedih dari Revan.
“Nak Revan..” panggil ibu Dara ketika Revan akan masuk mobilnya. “Kalau ada masalah, bicarakan dengan kepala Dingin Nak.. Nak Revan tau kan keadan Dara saat ini belum stabil. Jadi sementara ini banyak-banyaklah mengalah.” Nasehat Ibu Dara.
“Iya Bu.. saya mengerti.” Kata Revan sambil tersenyum.
Revan lalu masuk kedalam mobilnya, tersenyum pada ibu Dara dan mulai menjalankan Mobilnya. Sedangkan Dara yang melihat pemandangan di luar jendelanya tersebut hanya mampu menangis dari dalam Kamarnya. Ohh Revan yang sangat dicintainya kini sudah lepas dari tangannya, bukan lepas karena pergi tapi karena dirinya sendirilah yang melepaskannya dengan suka rela. Apa nanti dirinya Mampu hidup tanpa Revan..?

***

Revan memijit pelipisnya karena rasa pusing yang menderanya beberapa hari ini. Yahh tentu saja, beberapa hari ini dirinya susah sekali tidur, susah makan dan susah semuanya. Semua itu karena pikirannya hanya tertuju pada satu orang. Dara.
Ini sudah Tiga bulan setelah Revan pergi dari rumah Dara, dan sejak saat itu Revan belum pernah mengunjungi Dara lagi Revan Hanya menghubungi Ibu Dara, untuk memastikan Keadaan Dara. . Apa yang dilakukan dara saat ini.? Apa dia juga merindukan Revan seperti Revan merindukannya.? Apa Dara Juga susah tidur seperti Revan yaang kurang tidur akhir-akhir ini.? Mengingat pertanyaan itu membuat Revan semakin pusing.
“Rev… Kau masih disini.?” Tanya Mike yang kini sudah maasuk kedalam Ruangan Revan.
Revan mengangguk. “Ada apa Mike.?”
“Kupikir Kau ketempat Dara. Rev… Dara membutuhkanmu seharusnya Kau disana Saja.”
Revan menggeleng. “Dia ingin berpisah.”
Mike terkejut dengan perkataan Revan. “Dan Kau menurutinya.?”
Revaan mengangguk.
“Bodoh. Apa hanya seperti ini Cintamu pada Dara.?”
“Kau pikir aku harus melakukan apa Mike.? Dia berjanji akan sembuh dan hidup bahagia jka aku meninggalkannya.”
“Dan Kau percaya perkataannya..?” enRevan Hanya menganguk. “Ayolah Rev.. Buka Matamu, Dara hanya perlu pembuktian darimu jika Kau benar-benar menyayanginya.”
“Aku membuktikan itu dengan meninggalkannya Mike, aku mencintainya hingga aku Rrela meninggalkannya demi dia bisa hidup bahagia.”
“Dan jika Dia tidak hidup bahagia, bukankah pengorbananmu ini sia-sia.? Rev… Yang aku percayai adalah jika aku mencintai orang maka aku harus mendapatkan orang itu bagaimanapun caranya, aku bahkan tak peduli jika aku harus menghianati janjiku di makam adikku sendiri demi bisa hidup bersama dengan Hana, karena aku mencintainya Rev…”
“Lalu aku harus berbuat apa, aku juga tak ingin berpisah dengannya.”
“Berusaha Rev.. yakinkan dia jika Kau Sudah berubah, jika Kau hanya mencintainya.”
“Kau yakin itu bisa berhasil.?”
“Hati Wanita sangat lemah,” Kata Mike dengan tersenyum. “Aku yakin kau bisa meluluhkan Hati Dara kembai seperti aku meluluhkan Hati Hana untuk kedua kalinya.”
Kali ini revan ikut tersenyum. “Itu Karena Kau lelaki perayu.”
“Setidaknya aku merayu Orang yang benar-benar kucintai.” Kata Mike Pasti.
Yaa… perkataan Mike benar juga. Cinta Tak harus memiliki..? Peribahasa apa itu. Jika Cinta kita harus berusaha memilikinya. Kenapa Harus menyerah saat masih bisa berusaha. Akhirnya dengan semangat Revan memutuskan untuk mengejar Dara kemmbali.

Dara… Selama ini kau yang selalu mengejarku, berusaha membuatku jatuh cinta padamu.. tapi kali ini, Biarkan aku yang mengejarmu.. biarkan aku membuatmu jatuh cinta padaku lagi hingga kita bisa bersatu kembali seperti dulu…

***

Dara Duduk dengan wajah sendunya di depan jendela kamarnya. Menatap jauh pada hamparan perkebunan teh yang terlihat sejuk dan Rimbun dalam pandangannya. Entah ini sudah berapa bulan Dara berada di dalam Rumah ibunya, Tanpa Revan Disisinya..
Sesekali dara mengusap perutnya yang kini sudah sedikit berbentuk. Mungkin usianya sudah empat bulan atau mungkin lebih, Kenapa Mas Revan tidak pernah Kemari..? Kenapa dia tak mengunjungiku seperti janjinya..? Lagi-lagi Dara menangis saat mengingat semua tentang Revan. Ahh.. kenapa mencintai bisa sesakit ini..?
Sungguh, beberapa bulan hidup jauh dari Revan, Dara menyadari jika dirinya benar-benar tak bisa jauh dari lelaki tersebut. Lelaki yang sudah menjadi Gravitasinya untuk menahannya di bumi ini. Lelaki yang sudah seperti udara yang membuatnya bisa tetap hidup hanya dengan menghirupnya saja.
Tapi kini lelaki itu pergi karena dirinya yang meminta. Gravitasi itu menghilang seakan membuat Hidupnya kini terombang-ambing tak jelas arah, tak ada yang menahannya.. Udara itu pergi, seakan membuatnya sesak, tak mampu bertahan tanpa bernafas..
Dara menenggelamkan Wajahnya pada lengannya, menangis terisak disana. Ya tuhan… kenapa begini.? Jika ini hanya karena cemburu pada orang yang sudah meninggal seharusnya dirinya tak melepaskan Revan begitu saja. Tapi mengingat Revan selalu mengunjungi makam sang kekasih entah kenapa membuat Dara Sakit. Ini bukan hanya sekedar Cemburu…. ini terlalu rumit untuk di jelaskan…
Tiba-tiba Dara merasakan sebuah tangan besar mengusap permukaan Rambutnya. “Heii… kenapa Disini.? Kau bisa masuk angin jika terlalu lama disini.” Suara itu sontak membuat Dara mengangkat Wajahnya. Suara yaang sangat dia Rindukan.
“Mas Revan.”
“Yaa.. aku disini..” Kata Revan dengan tersenyum. Revan lalu duduk berjongkok dihadapan Dara. “Kenapa Menangis lagi, Bukankah Kau berjanji tak akan menangis lagi setelah aku meninggalkanmu.?” Tanya Revan dengan mengusap air mata Dara.
“Aku tidak menangis, Mataku hanya terkena Angin, makanya merah dan berair.” Kata Dara sambil memalingkan Wajahnya.
Revan tersenyum mendengar pernyataan Dara. “Bagaimana keadaannya.?” Kali ini Revan bertanya sambil mengusap perut dara yang terlihat lebih besar dari pada terakhir mereka bertemu. Revan lalu mengecup perut Dara dengan lembut. “Aku merindukan Kalian.” Kata Revan sedikit serak.
Dan Dara tak bisa menahan diri lagi. Dipeluknya Revan dengan Erat, Tangisnyapun kini pecah. “Aku juga merindukanmu Mas..” kata Dara di sela-sela tangisnya.
Mereka berpelukan cukup lama, sambil sesekali terisak. Revan lalu melepaskan pelukannya. “Jangan menangis lagi.” Kata Revan kemudian.
“Kau jahat.. Kau meninggalkanku.”
“Kau Yang memintaku untuk meninggalkanmu Dara.”
“Aku hanya meminta, bukan berarti Kau harus menurutinya.”
“Aku hanya ingin membuatmu Bahagia Dara, Maka dari itu aku melakukan apapun yang Kau minta meski itu sebenarnya Menyiksaku.” Kata Revan dengan Lirih.
Dara kembali memeluk Revan. “Jangan tinggalkan aku lagi.” Kata dengan sesenggukan.
“Kau ingin kita kembali bersama.? Melupakan perpisahan kita.?” Tanya Revan lagi.
Dara melepaskan pelukannya. Wajahnya kini menunduk, perasaannya tak menentu. Dia tak ingin Revan meninggalkannya tapi disisi lain Dia tau bahwa dirinya akan sakit jika selalu melihat lelaki yang dicintainya masih mencintai wanita lain.
“Aku.. aku hanya tidak ingin Kau meninggalkanku Mas.. Bukan berarti aku menerimamu lagi.” Kata Dara pelan.
“Laalu bagaimana caranya supaya Kau menerimaku lagi.?”
Dara menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tau.”
“Apa Kau masih mencintaiku.?” Tanya Revan penuh harap.
“Perasaanku tidak akan berubaah untukmu Mas.. Hanya saja…”
Revan menangkup pipi Dara. “Dara, aku tau Kau masih Ragu padaku. Tapi aku akan berusaha semampuku untuk membuatmu kembali dalam pelukanku lagi. Aku tidak akan bisa membuktikan bahwa aku mencintaimu karena bagiku tak ada pembuktian untuk Cinta, Aku hanya ingin Kau merasakannya, Merasakan bahwa aku benar-benar mencintaimu melebihi apapun yang ada didunia ini.”
“Kau serius dengan ucapanmu.?”
Revan mengangguk Pasti. “Mungkin tidak sekarang, tapi aku yakin suatu saat nanti Kau akan mengerti bagaimana Dalamnya cinta ini untukmu.”
Dara menelan ludahnya dengan susah payah, dirinya harus menanyakan pertayaaan ini sebelum dirinya memulai kembali dengan Revan.
“Mas… Bagaimana dengan Lita.?” Tanya Dara takut-takut.
“Lita..? Ada apa dengannya.?”
“Emm.. bukankah kau Mencintainya hingga kini.?”
Revan tersenyum pada Dara. Mengusap lembut pipi Dara. “Jadi karena Lita Kau seperti ini.? Kupikir semua ini Karena Manda.” Revan lalu menghela nafas panjang dan mulai bercerita.
“Aku mengenal Lita dan Manda beberapa tahun yang lalu. Mereka baik. Lita Gadis yang ceria tapi sedikit agresif, aku suka itu. Dia baik kepada semua orang dan tak jarang membuatku cemburu buta. Aku mencintainya, sungguh sangat mencintainya, tak ada yang lain selain dia. bahkan ketika aku mendapati foto-foto sialan itu, aku masih tetap mencintainya. Rasa Cintaku semakin besar karena bercampur dengan penyesalan saat aku mendapati jika Lita tidak bersalah. Semuanya bahkan semakin dalam Saat aku mengetahui bahwa Lita meninggal karena patah hati denganku.”
Revan memejamkan matanya lama, seakan mengungkit kembali luka lama yang sudah kering karena berjalannya waktu.
“Lalu Kau datang dengan segaa Cintamu untukku, aku memang tak pernah memandangmu ada, tapi aku tidak bisa memungkiri jika secara tidak langsung kau menarikku kembali dalam Dunia nyata ini, Kau mengobati sedikit demi sedikit lukaku hingga mengering, kau masuk secara perlahan-lahan kedalam hatiku tanpa aku mengetahuinya.”
“Mungkin dulu aku pernah bilang jika aku mencintai Lita, Cinta yang abadi hingga aku mati menyusulnya, tapi sekarang aku menarik kata-kata itu, Tidak ada Cinta abadi untuknya Dara. Cintaku padanya sudah terhenti ketika aku memutuskan untuk memulainya dari awal bersamamu.” Revan lalu membawa telapak tangan Dara pada dadanya. “Mungkin disini masih sedikit ada Lita, Tapi demi tuhan Jika Kaulah pemilih Hati ini Dara, hanya Kau yang memilikinya.”
Revan lalu berdiri mengambil seikat bunga mawar Merah dan sebuah kotak besar berpita yang dibawanya tadi dan di taruh sembarangan di atas ranjang Dara.
Revan kembali berlutut di hadapan Dara. “Apa Kau tau jika aku selalu memberikan Lita bunga Mawar Merah berjumlah delapan tangkai..? Dia pernah bilang bahwa angka Delapan adalah angka yang selalu bersambung dan tidak memiliki titik putus, Biasa disebut dengan angka keabadian. Bunga mawar Merah delapan tangkai bagi kami adalah simbol Cinta yang abadi dan tak pernah putus. Tapi mulai hari ini, aku akan memberikan bunga-bunga ini untukmu dengan harapan Cinta kita akan abadi selamanya. Apa kau mau menerimanya.?”
Dara menitikan air matanya kembali, tak menyangka jika Revan akan berkata semanis ini terhadapnya. Dara menganggukkan kepalanya, lalu menerima Bunga dari Revan tersebut.
“Jangan menangis lagi. Aku disini bersamamu.” Revan manghapus airmata Dara.
“Aku menangis bahagia Mas..” lalu dara memeluk Revan lagi. Ahh rasanya tak akan pernah bosan untuk memeluk lelaki ini. Lelaki yang sangat dicintainyaa, dirindukannya dan diinginkannya.
“Heii.. aku punya satu lagi hadiah untukmu.” Kata Revan smbil menyodorkan kotak besar berpita terssebut di tangannya.
“Apa ini.” Kata Dara menerimanya dan membuka kotak tersebut. Ternyata isinya adalah Coklat. Coklat kesukaan Dara. Dulu saat masih berteman Akrab, Ketika Dara menangis karena jatuh atau di ejek teman-temannya, atau saat Dara marah dan Merajuk, Hana dan Revan memberikan Dara Coklat seperti ini hingga Dara kembali tersenyum lagi seperti sedia kala. Dara menutup mulutnya tak percaya jika Revan masih mengingat cemilan kesukaannya ini. “Mas Revan masih ingat.?”
Revan Tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Sesungguhnya aku sudah Lupa, Hana Yang menyuruhku membawakan Coklat itu untukmu.” Kata Revan tersenyum menyeringai.
Ohhh lelaki ini benar-benar sangat manis. Pikir Dara. Walau ini Hana yang menyuruhnya tapi tetap saja perasaan Dara berbunga-bunga tiada Henti.
“Dara.. Kita pulang kerumah Yaa…” Ajak Revan kemudian.
Dara lalu mengangguk dengan pasti. Yah… setidaknya Dara kini mengerti bagaimana isi Hati Revan sesungguhnya. Bagaimana perasaan Revan padanya. Dara tau, melupakan masalalu bukanlah hal yang mudah, apalagi masalalu tersebut berhubungan dengan orang yang kita cintai. Dara hanya akan berusaha membantu Revan supaya bisa lepas dari bayang-bayang masalalu tersebut, dan mengukir Cerita indah untuk masa depan mereka nantinya.

***

Saat pulang kerumah, Revan membelokkan mobilnya kesebuah arah yang diyakini Dara adalah arah ke pemakaman Lita. Untuk apa mas Revan membawaku kemari..? Pikir Dara kala itu.
Revan yang melihat ekspresi Dara langsung menjelaskan kenapa mereka datang bekunjung kemakam Lita.
“Kau tentu mau menemaniku kesana bukan..? Kita temui dia bersama.” Kata Revan sambil mengecup punggung tagan dara. Dara hanya mengangguk meski hatinya sedikit tidak enak ketika harus kembali menginjakkan kaki di makam Lita.
Sebelumnya mereka pergi ke toko bunga yaang tak jauh dari kompleks pemakaman tersebut, tokoh bunga yang sama dengan pedagang yang sama.
“Bunga mawar atau bunga Lili pak..?” Tanya si penjaga Toko tersebut seakan tau apa yang akan dicari Revan.
“Lili putih.” Kata Revan kemudian sambil melirik kearah Dara.
Sang penjual bungapun menyiapkan pesanan Revan, lalu tak lama kembali dengan seikat Lili putih pesanan Revan. Setelah membayar Revan bergegas pergi dengan Dara menuju makam Lita.
“Penjual bunga itu rasanya akrab dengan Mas Revan, diaa tau Mas Revan ingin memesan apa.” Kata Dara sedikit heran.
“Dia langgananku ketika aku mengunjugi makam lita sejak beberapa tahun yang lalu. Aku selalu memesan mawar Merah untuk makam Lita. Dan sejak kau di Rawat di rumah sakit beberapa bulan yang lalu, Aku mengganti bunganya dengan lili putih.”
“Kenapa.?”
“Karena Mawar merah untuk dirimu.” Kata Revan yang masih tak dimengerti Dara. Daara ingin bertanya lagi tapi mereka sudah sampai di depan Makam Lita. Disana sudah ada Seikat Mawar juga. “Mungkin Mike dari sini.” Kata Revan sambil berjongkok dan menaruh Lili putihnya di sebelah Mawar tersebut.
“Hai Lita.. kita bertemu lagi..” Revan mulai berkata-kata. “Kali ini aku mengajak Istriku Dara, Wanita yang selalu kuceritakan denganmu.” Dara mengernyit mendengar perkataan Revan.
“Dara sedang hamil, Dan aku janji akan selalu menjaganya, aku tidak akan mengulangi kesalahan bodohku untuk kedua kalinya.”
Revan mengambil nafas panjang sambil memejamkan matanya lalu mulai berkata lagi. “Kau pasti heran kenapa akhir-akhir ini aku memberimu Lili putih. Maafkan aku Lita, karena kini aku sudah benar-benar berpaling Hati untuk wanita disebelahhku. Tidak akan ada mawar merah lagi untukmu, karena Cintaku benar-benar sudah berakhir untukmu. Lili putih simbol dari persahabatan, kuharaap Kau mau menjadi sahabat terbaik dihatiku.”
Mendengar pernyataan Revan, Dara langsung memeluk Revan, entah kenapa dara ingin menangis. Terharu bercampur aduk menjadi satu, ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan jika Revan benar-benar mencintainya, tak ada lagi wanita lain selain dirinya.
“Lita, aku juga minta Maaf..” Kata Revan lagi. “Mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya aku kemari. Aku harus mellangkah maju tanpa Bayang-bayangmu. Jadi maafkan aku..” Kata Revan lagi.
“Mas… kau tak perlu melakukan ini.” Kata Dara cepat.
“Tidak dara. Aku harus melakukannya. Aku tidak bisa selalu berputar pada pusaran masalalu yang kubuat sendiri. Aku harus mengakhirinya saat ini juga.” Kata Revan dengan Pasti.
Dara tidak bisa menjawab lagi perkataan Revan, karena apa yang dikatakan revan ternyata benar. Mereka tidak bisa selalu hidup dalam bayang bayang seorang Lita.
Setelah lama berbicara dimakam Lita, akhhirnya mereka memutuskan untuk pulang.
Revan menatap Makam Lita untuk terakhir kalinya. ‘Terimakasih Lita… terimakasih karena pernah hadir dalam hidupku, terima kasih karena pernah menjadi kekasih hatiku… mungkin hati dan cintaku sudah berpaling darimu, tapi aku tidak akan pernah melupakanmu, Terimakasih…’ Kata Revan dalam hati sambil tersenyum.

Darapun demikian. Dara menatap Makam Lita untuk terakhir kalinya. ‘Aku mungkin tidak pernah mengenalmu Lita, tapi aku tau Kau wanita yang baik, Terimakasih karena sudah menjaga Hati Mas Revan selama ini hingga dia bisa menjatuhkan pilihannya untukku. Aku janji akan selalu menjaga dan membahagiakannya selama sisa hidupku hingga nanti saat kita bertemu kembali dialam lain, aku akan mengembalikannya padamu. Terimakasih atas kesempatan yang kau berikan padaku ini Lita…’ Kata Dara dalam Hati sambil sedikit menitikan air matanya.

Dara dan Revan lalu kembali pulang dengan bergandengan tangan bersama. Mereka tau jika hidup mereka yang sebenarnya baru dimulai, akan ada banyak masalah yang menanti untuk mereka. Tapi jika saling percaya dan dihadapi bersama maka masalah tersebut akan mudah untuk dilaluinya.

 

_END_

 

Yahh… udah END deh… BTW masih ada epilognya loh… tunggu sebenktar yaa… heheheh

Advertisements

7 thoughts on “please Stay With Me – Chapter 15 (End)

  1. revan kurang peka banget ama kondisi dara bagus ada mike yang selalu ngingetin
    sekarang perjuangannya kebalik revan harus bisa mencintai dara sebaik-baiknya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s