Novel Online · romantis

My Everything (Novel Online) – Chapter 15 (End)

mecover1My Everything

NB : ye.. ye… ye… Congrulations… Akhirnya ME tamat juga yaa… Walau nggak sekeren atau semanis yang kalian bayangkan, tapi aku cukup senang karena bisa mengEksekusi ME ini dengan sebaik-baiknya (Setidaknya bagiku sendiri hahah). Aku mau ngucapin terimakasih bangett sama yang sudah mau Baca cerita-cerita nggak jelas ini, Yang sudah Rela ngasih Like Atau Coment buat Cerita ini, Yang sudah mau nunggu bahkan membuang tenaga untuk berbaper2an Ria dengan Cerita ini, yang sudah baca Dari Buku pertama hingga Buku terakhir Serial The Badboys ini (mulai dari Dhanni Renno dan Ramma), Yang mau ngasih masukan-masukan dan juga semangat-semangat untukku. terima kasihhhhh bangettt… tanpa kalian aku bukan apa-apa.. Hikksss… 😥 Okk Langsung saja kalau begitu… Ehhyaa… masih ada Epilognya yaa… jadi tunggu Epilognya juga yaaa.. heheheh

Chapter 15

 

“Saya ingin Melamar Shasha Oom.”
Setelah perkataanku itu semuanya tampak hening. Tak ada yaang bersuara satupun.Ada apa.. Apa tak ada yang mau menerimaku sebagai menantu di rumah ini..?
“Oom. Bagaimana..? Saya benar-benar ingin menikahi Shasha Oom.” Kataku lagi karena tak ada sedikitpun Respon dari semua orangyang berada di dalam ruangan ini.
“Nak Ramma yakin dengan ucapan Nak Ramma.?”
“Saya yakin Oom.” Kataku dengan pasti.
“Apa yang membuat nak Ramma yakin.?”
“Saya mencintainya.”
“Hanya itu.?”
“Saya tidak bisa hidup tanpanya.”
“Bagaimana denganmu Sha..?” Kali ini Oom Handoyo menatap Shasha yang kini sedang meremaas tanganku.
“Aku.. Aku sayang Mas Ramma Pa..”
“Pa.. Apa Cinta cukup untuk menjadi modal berumah tangga.?” Kali ini Renno mulai berbicara. Sialan.. dia pasti mengacaukan semuanya.
“Maksud kamu apa Renn.?”
“Aku nggak akan terima dia jika dia hanya melamar bermodalkan Cinta.”
“Lalu.. Apa mau kamu.?” Oom Handoyo masih tak mengerti arah pembicaraan Renno.
“Aku hanya butuh bukti dan kepercayaan.” Jawabnya tegas sambil menatapku dengan tatapan membunuhnya.
“Papa masih tak mengerti.”
“Shasha adalah sesuatu yang sangat berharga di dalam keluarga ini. Aku nggak akan membiarkan seorangpun menyakitinya. Aku hanya butuh bukti bahwa dia berubah dan tak akan menyakiti Shasha lagi..” katanya dengan pasti.
“Saya akan membuktikannya Oom.” Kataku pada Oom Handoyo tapi tatapan mataku terarah pada Renno.
“Dengan Apa.?” Kali ini Renno menantang.
Aku berdiri tepat di hadapannya. “Lo Akan tau, tapi saat Gue sudah memenuhi Syarat Lo, Gue akan tagih Janji Lo ntuk merestui hubungan Kami.”
Renno mengangguk pasti. Aku tau dia tak akan ingkar janji.
Akhirnya malam menegangkan itu di tutup dengan kepergianku. Meski aku belum mendapat jawaban pasti, setidaknya aku senang karena Renno mau memberiku kesempataan untuk membuktikan padanya jika aku bisa berubah.
***
Siang ini aku berada di sebuah Butik langganan Mamaku untuk mengambil baju untuk resepsi pernikahanku besok. Resepsi pernikahan..? Yaaa… Akhirnya besok, hari yang kutunggu-tunggu itu tiba juga.
Ini Sudah setahun setelah kejadian dimalam Aku melamar Shasha di hadapan kedua orang tuanya. Apa kalian fikir aku mendapatkan Shasha dengan begitu mudah..? Seperti Dhanni yang hanya mengandalkan Perjodohan kunonya untuk mendapatkan Nessa..? Atau seperti Renno yang hanya mengandalkan Keadaan yang membuatnya harus bertanggung jawab terhadap Allea..? Ayolah… ini tak sesederhana itu. Bisa di bilang waktu setahun terakhir ini adalah Waktu dimana aku memasuki Neraka. Sialan..!!
Aku benar-benar berusaha sangat keras untuk mendapatkan kepercayaan dari keluarga Shasha terutama Kakak Sialannya itu. Dimulai dari berbenah diri, Aku memutuskan semua kontakku terhadap para wanita-wanita yang dekat denganku entah itu Model atau sekertaris-sekertaris Seksi yang sering kutemui. Aku berhenti menjadi Fotografer, mungkin ini terdengar lebih berani, tapi aku sudah bertekat akan melakukan apapun demi mendapatkan Shasha.
Belum lagi Kantor pribadiku yang saat ini sudah seperti Asrama Pria karena tak ada seorang wanitapun yang bekerja disana. Sialan…!!!
Tak hanya itu. Tak Jarang Renno memperburuk suasana dengan mengadakan Rapat santai disebuah Pub atau mengadakan acara-acara minum bersama disebuah Club dengan wanita bayaran untuk menemani minum disebelah kami. Aku tau dia hanya mengujiku, bahkan mungkin mengerjaiku. Dan aku berusaha sekuat tenaga jika aku tak akan tergoda meski sebenarnya tubuhku berkata lain. Yaa tentu saja aku tergoda dan berakhir Mastrubasi didalam kamar mandi. Sial…!!!
Renno juga membatasi pertemuanku dengan Shahsa, kami hanya bertemu seminggu duaa kali dan itupun harus di ruang tamu mereka.
Shiitt…!!! Dia benar-benar membunuhku.
Larangan Renno hanya berlaku beberapa bulan bagiku, sisanya tentu saja aku melanggarnya. Dengan diam-diam dan mengendap-endap seperti seorang pencuri, aku memasuki kamar Shasha yang berada di lanta dua. Tentu saja aku menyuap beberapa pelayan dan penjaga rumah mereka. Aku tak peduli lagi dengan Syarat Sialan Renno yang terakhir itu.
Pada akhirnya, Dua bulan yang lalu Renno menyerah dan menyetujui Lamaranku. Dia mengakui bahwa kini aku sudah berubah. Yahh tentu saja sudah berubah, berubah total malah. Tak ada kata wanita atau Seks lagi dalam hidupku setahun terakhir ini.
“Ramma..” Suara lembut itu mengalihhkan pikiranku. Jangan bilang kalau itu mantanku.
Aku menoleh kebelakang dan mendapati sosok wanita yang cukup lama tak kutemui. “Nadia.” Yah.. dia Dokter Nadia teman Zoya.
“Heii… lama Nggak ketemu, apa kabar.?” Sapanya.
“Aku baik, kamu sendiri.?”
“Seperti yang kamu lihat, Aku juga baik.” Jawabnya kemudian. “Ramma, apa kita bisa ngopi sebentar.? Ada yang pengen aku omongkan.” Kataanya kemudian.
Aku melihat jaam tanganku, sepertinya ada cukup waktu. “Baiklah, tapi aku tak bisa lama.” Kataku kemudian lalu kami menuju kesebuah Cofee shop dissebelah Butik langganan mamaku.
***
“Kamu ngapain kebutik itu sendirian.?” Tanyanya saat kami sudah duduk menikmati Cofee pesanan kami.
“Aku mengaambil baju pesanan Mama untuk resepsi pernikahanku besok.”
“Apa..? Kamu menikah.? Sama Shasha..?” Tanyanya dengan raut terkejut.
“Kamu tau dari mana tentang aku dan Shasha.?”
“Kamu kan pernah mengajaknya ketempatku untuk memasang kontrasepsi.” Dan aku mengangguk, sejujurnya aku sudaah lupa.
“Ramm, Bagaimana kabar Zoya.?”
Sontak aku menatap mta Nadia. “Harusnya kamu yang tau kabarnya, kamu kan sahabatnya. Aku nggaak tau apa kabarnya dan aku nggak mau tau.”
“Kamu pikir sejak kejadian itu dia mau mengaanggapku sebagai temannya lagi.?”
Aku mengangkat kedua bahuku. “Mungkin.”
Nadia menggeleng. “Dia sangat marah kepadaku karena secara tak langsung aku yang membuat hubungan kalian putus.”
Aku tersenyum hambar. “Sialan..!!! Harusnya dia sadar jika da sendiri yang menghancurkan hubungan kami.” Gerutuku.
“Kupikir dia sekarang berada di rumahnya di Singapore, Apa kamu nggak mau menemuinya..?”
“Untuk apa..? hubungan kita sudah selesai malam itu juga. Aku terlalu muak dengannya apa lagi saat mengingat jika selama ini dia sudah membohongiku.”
Nadia hanya terdiam dambil sesekali memainkan cangkir Cofeenya.
“Nad.. apa benar jika Zoya sebenarnya masih cinta dengan suaminya walau sudah hidup bersamaku saat itu.?”
Nadia menghembuskan nafas panjang. “Sejujurnya aku juga tak tau bagaimana perasaannya, aku hanya berpikir bahwa dia belum mau berpisah dengan Ardi karena setauku Dia masih sering menemui Ardi.”
Sial..!! Ternyata wanita itu benar-benar sudah menipuk selama ini.
“Ramma.. apa nggak sebaiknya kamu berbaikan dengannya, walau kalian nggak mungkin bersama tapi setidaknya hubungi dia, aku benar-benar merasa tak enak dengannya.”
“Maaf Nad.. Aku nggak bisa, aku nggak akan mau mengenalnya lagi.” Kataku dengan pasti. “Emm… Siapa tau kamu nggak ada acara besok, datangah ke resepsi pernikahanku.” Kataku mengalihkan pembicaraan.
Nadia tersenyum. “Aku minta maaf sebelumnya, besok aku juga ada acara lamaran adikku.”
Akupun tersenyum kepadanya. “Baiklah, Sepertinya memang kamu sangat sibuk. Kupikir kita masih tetap bisaberteman walau tanpa Zoya.”
“Tentu saja.” Jawabnya cepat. “Aku masih ingin melihat tampang bodohmu nanti saat kamu mengantar istrimu melahirkan.” Katanya sambil tertawa.
“hahhaha Kamu salah, aku nggak akan memperlihatkan tampang bodohku. Lihat saja nanti.”
Dan begitulah, kami mengobrol sepanjang siang itu… seperti menemukan teman baru. Nadia akan menjadi teman baikku dengan Shasha nantinya, tentunya teman untuk konsultasi masalah Seks dan sebagainya. Sial..!! kenapa aku sudah memikirkan hal itu..??
***
Aku keluar dari kamar Rias mendapati wanita yang sangat kucintai menatapku dengan berlinang air mata. Air mata bahagia tentunya, dia menghampiriku dan memelukku dengan sesenggukan.
“Mama nggak nyangka Kamu sudah gede seperti ini bahkan sudah memiliki istri.” Kata Mama dalam pelukanku. Yaaa wanita itu adalah Mama. Mama tek berhenti menangis haru sejak upacara pernikahan yang terasa sangat sakral tadi pagi. Kini Mama menghampiriku sebelum acara Resepsi dimulai.
“Mama udah Ahh… nanti jelek loh..” kataku menenangkannya.
Mama melepaskan pelukannya. “Ingat, Jadi suami yang baik, janganpernah sakitin istri kamu.”
“Tentu Ma… astaga.. aku bahkan bisa gila saat berusaha mendapatkannya. Aku nggak akan menyia-nyiakannya lagi.” Janjiku pada Mama.
“Permisi, Acara sudah akan dimulai.” Kata seorang yang kuyakini sebagai Wedding Organizer pernikahanku. Aku ngangguk dan mengikuti orang tersebut masuk kedalam Pesta.
Disana sudah ramai sekali orang. Aku melihat Dhanni dengan istrinya sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang yang kuyakini sebagai Klien perusahaan mereka. Dhanni lalu melihat kearahku, dia tersenyum sambil mengangkat Gelasnya. Tak jauh dari sana aku melihat Renno sedang berkumpul dengan keluarga besarnya, yang kini juga sudah menjadi keluarga besarku. Dia menatapku, tersenyum lalu mengangkat gelasnya juga untukku seperti yang dilakukan Dhanni. Aku tersenyum melihat tingkah Mereka.
Tiba-tiba kurasakan tanganku di genggam oleh sebuah tangan Mungil Nan lembut. Menoleh kesebelahku dan aku sudah mendapati Shasha berdiri dengan Anggun dan cantiknya. Sialan..!! dia benar-benar sangat cantik. Dan dia milikku.
Kami menuju ketengah-tengah pesta, Berbaur bersama, berdansa bersama, nuansa hitam menyelimuti ruangan ini karena tema dari resepsi kami adalah ‘Dark Heaven’ jadi seluruh tamu di wajibkan mengenakan pakaian Hitam.
Begitupun dengan aku Dan Shasha. Aku mengenakan Tuxedo hitamku yang kata Mama terlihat sangat gagah saat kukenakan, Dan Shahsa, Ya tuhan.. aku tak dapat berkata-kata lagi. Dia terlihat sempurna. Dan sepertinya aku tak bisa lama-lama berada di dalam Pesta ini.
***
Malam ini aku masih harus pulang kerumah Shasha, dan baru besok pagi kami akan pindah kerumahku. Shasha masih membersihkan diri di kamar mandi, sedangkan aku masih sibuk mengatur peralatan kami kedalam Koper. Tiba-tiba aku mendengar pintu diketuk. Kubuka dan mendapati Sosok itu, Sosok yang beberapa bulan terakhir ini menjadi Sosok yang menyebalkan untukku, Renno.
“Bisa keluar sebentar.?” Ajaknya kemudian, aku tak menjawab, aku hanya mengikutinya dari belakang.
Dia menuju kesebuah Balkon yang berada di tengah-tengaah antara kamarnya Dan kamar Shasha. Mau apa dia mengajakku kemari.? Apa dia ingin memberi Syarat sialannya lagi.?
“Gue nggak nyangka Kalo Lo yang bakalan jadi Adek ipar Gue.” Kata Renno tiba-tiba. Aku hanya Diam mendengarkan semua ocehannya. “Ramm, Shasha sangat berarti buat Gue, Gue Harap Lo….”
“Renn.” Aku memotong kalimatnya. “Shasha juga sangat berarti buat Gue, Gue nggak mungkin ngotot melakukan semuanya sampai saat ini jika Gue nggak benar-benar sayang sama Dia.”
“Gue Ngerti, Gue Cuma…”
“Renn… Gue tau Lo sayang sama Shasha, Lo nggak mau dia tersakiti, Tapi Please… Kali ini pegang janji Gue, Gue nggak akan nyakitin dia, Gue akan berusahaa sekeras mungkin untuk membahagiakanya. Gue janji.” Kataku dengan sungguh-sungguh.
Renno menepuk bahuku. “Gue percaya sama Lo.” Aku menghembuskan nafas lega. “Ramm.. gimana, Apa Lo menikmati siksaan Gue setahun belakang ini..??” Tanyanya yang kali ini disertai dengan senyuman mengejeknya.
“Sialan Lo..!! Gue sudah seperti masuk Neraka.” Dan kamipun lalu tertawa terbahak-bahak bersama. “Thanks Renn.. Lo mau kasih Gue kesempatan.” Kataku lagi dengan serius.
“Itu sebagai imbalan, jadi sekarang kita impas.”
“Imbalan apa maksud Lo..?”
“Imbalan karena Dulu Lo mau minjamin Apartemen Lo ke Gue, dan Akhirnya Gue Bertemu dengan Allea disana.” Aku mengangguk.
“Itu Takdir Renn yang mempertemukan Kalian, Sama seperti Dhanni dan Nessa, atau Gue Dan Shasha. Semua karena takdir.”
“Sialan..!!! Sejak Kapan Lo bisa bicara lebbay kayak gini..? Hhahaha”
“Brengsek Lo.” Umpatku kemudian. “Renn.. Apa Gue harus panggil Lo Kakak..?” Tanyaku dengan wajah sok serius. Kami saling pandang dan terdiam sebentar lalu mulai tertawa terbahak-bahak lagi.
“Hahhaha Brengsek Lo..!!” Kali ini Renno yang mengumpat kepadaku masih dengan tertawa.
“Heiii.. kalian Sedang apa.? Ini sudah malam, Mas… Reynald Nanti bangun kalau kamu teriak-teriak kayak gitu lagi.” Allea menegur kami.
“Ooo iya sayaang aku lupa.” Renno lalu Meninju bahuku. “Gue Balik dulu, istri Gue sudah marah-marah.”
“Ok… Gue juga harus balik, Karena ada Hal yang harus Gue lakuin dengan istri baru Gue.” Kataku sambil menyeringai.
“Sialan Lo..!!” Umpatnya.
***
Aku kembali kekamar, dan sudah mendapati Shasha yang sudah duduk manis dan masih mengenakan Juba mandinya. Dia terlihat segar. Dan Astaga… mengingat ini malam pengantin kami, Gairah langsung menyelimuti tubuhku.
Aku menuju kearahnya dan duduk disebelahnya. Aku menggenggam tangannya dan sesekali mengecupnya. Shiitt…!!! perasaan apa ini.? Kenapa aku jadi segugup ini..? tanpa kusangka tiba-tiba Shasha duduk diatas pangkuanku. Membuka dua kancing atasku. Sialan..!! ini terlihat begitu Erotis, dan dia terlihat begitu menggairahkan.
Aku menggenggam telapak tanganya. “Aku belum mandi sayang..”
“Tidak perlu mandi.”
“Kamu ingin aku melakukannya tanpa mandi..?”
Dia mengangkat sebelah alisnya, “Siapa bilang aku ingin melakukannya.?” Katanya dengan suara manja, “Aku hanya mau menggodamu saja.” Lanjutnya lagi.
“Beneran..?” Kali ini aku yang menggoda.
Dia mengangguk dengan pelan. Aku ingin menjawab namun dia menutup mulutku dengan telunjuknya. “Mas Ramma, Aku tau mungkin kamu akan bosan mendengarkan ini, Tapi aku hanya ingin bilang jika dari dulu aku mencintaimu, tak bisa berpaling darimu, dan kamu sudah seperti segalanya untukku, jadi aku mohon jangan pernah tinggalin aku.” Katanya dengan sungguh-sungguh.
Aku menangkup kedua pipinya. “Harusnya aku yang berkata dan memohon seperti itu. Aku mencintimu sejak dulu, kamu juga sudah seperti segalanya untukku. Jadi sebrengsek apapun aku nanti, aku mohon tetaplah bersamaku, jangan pernah tinggalin aku.”
“Jadi, ini sudah seperti janji kita berdua..?” tanyanya dengan polos.
“Tentu saja sayang.” Jawabku dengan mencubit pipinya. Lalu aku memeluknya, memeluknya dengan erat. “Makasih Sayang.. kamu sudah mau nunggu aku dan mau melalui semua kerumitan ini untukku.”
“Aku juga berterimakasih karena kamu mau kembali padaku Mas,.. Kembali mengakui bahwa kamu memang mencintaiku sejak dulu.”
“Dulu, sekarang dan seterusnya.” Ralatku.
“Baiklah-baiklah… terserah Mas Ramma saja. Tapi ngomong-ngomong, apa bisa pelukannya nggak seerat ini..? Kami nggak bisa bernafas.”
Dan aku tersenyum mendengar pernyataannya. Tapi tunggu dulu, Kami..? Apa maksudnya..? Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya dengan tajam.
“Kami..?” Tanyaku dengan sedikit heran.
Dia meraih telapak tangan kananku lalu membawanya keperutnya. Aku menatapnya dengan ternganga. “Me And Her.”
“Her..?” tanyaku lagi kali ini dengan nada tak percaya.
Yes.. Kupikir dia seorang Princess.” Katanya dengan pasti.
“Princess.?” Aku masih tak percaya dengan apa yang dikatakannya.
Dia tersenyum kearahku. “Kamu nggak Shock Kan Mas..?”
“Maksud Kamu.. Kamu.. Hamil..?”
Dia terkikik melihat ekspresi bodohku. “Yaa… Sudah Dua belas minggu.” Bisiknya ketelingaku.
“Apa..?” aku sedikit berteriak. Menatapnya masih dengan tatapan tak percaya. “Kamu nyembunyiin semua ini dariku..?”
“Aku hanya mau kasih kamu kejutan.”
“Bagaimana dengan yang lain.?”
Dia masih saja tersenyum melihat tingkahku. “Nggak ada yang tau, kamu orang pertama yang kukasih tau.”
Lalu tanpa banyak bicara lagi kupeluk kembali tubuhnya, menciumi leher jenjangnya. “Kamu nakal.” Bisikku di telinganya. Aku melepaskan pelukanku, lalu manatap perut datarnya, mengusapnya dan menciumnya lembut.
Sialan..!!! Aku akan jadi ayah.. Aku akan jadi ayah… dan ini benar-benar sangat membuatku bahagia. Membuatku tak bisa berkata apa-apa lagi.
Aku menatap Shasha penuh dengan kasih sayang, begitupun tatapannya terhadapku. “Terimakasih, Kamu sudah memberikan semuanya untukku. Aku nggak tau harus bilang apa lagi terhadapmu.”
Dia menangkup kedua pipiku. “Kamu cukup bilang mencintaiku setiap Harinya, dan aku akan sangat senang dan berterima kasih terhadapmu Mas..”
“Yaa.. aku akan mengatakannya, aku akan mengatakan itu setiap hari untuk kamu.” Kataku dengan semangat.
“Mengatakan Apa..?”
“Mengatakan Bahwa aku mencintaimu, Nattasha Handoyo.”
Kataku dengan pasti, kaami sama-sama tersenyum, lalu tanpa pikir panjang lagi aku mendekatkan bibirku kepada bibirnya, lebih dekat hingga ciuman ini tak terelakkan lagi. Ciuman Lembut dan manis, seperti kebahagiaan kami saat ini.

 

___END___

 

 

10553363_1240602369289643_5792808083769134030_n

Btw… Ada penampakan Cowok2 ganteng Nihhh… hahhahahah See You Next My Story… 😀 :*

 

Advertisements

9 thoughts on “My Everything (Novel Online) – Chapter 15 (End)

  1. wahhh akhirnya end juga..seneng dehh bisa bca trilogy ini.. skrg ssa nnggu my brown eye sm pswm… mupeng mbaa.. aplg bkal ada trilogi lainn… waahhh.. nggak sabar

    Like

  2. hadeuhhjh ramma …. tuh kan sasha udah ndung duluan
    ya iyalah gairahnya aja selalu membludak gk ketahan hahahahaha
    disiksa renno sampai setahun gk berinteraksi dengan wanita” seksi
    baguslah ternyata dia lolos

    Like

  3. aq udah bca novel karya author mlah novel lady killerx aq download sumpah dari jman dhani-nessa,renno-allea,n skarang ramma-shasha buat aq senyum” sendiri….ceritax bagus” semua,,untuk epilogx aq tunggu yahh
    semangat buat author

    Like

  4. Gak kebayang liat mukanya renno yg cengo pas ramma dan shasha ngumumin tentang kehamilan shasha 😁
    Akhirnya ketiga bad boys insyaf dan punya pasangan masing-masing, dan bertekuk lutut sama para ratu 😎

    Like

  5. Hahaha gk heran deh klo Sasha udh hamil duluan,, lalu bgmn reaksi Renno klo tau adiknya udh di apa2in ama Ramma…
    Akhir yg sgt mmbhgiakn

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s