Novel Online · romantis

My Everything (Novel online) – Chapter 14

MEposter1My Everything

Chapter 14

Renno sialan..!!!
Bisa-bisanya dia menarik Shasha begitu saja dari genggamanku, tak peduli dia menangis dan meringis kesakitan. Apa itu yang disebut dengan seorang Kakak..? Aku tau jika Renno melakukan itu untuk melindungi Shasha dariku yang Brengsek, tapi apa Renno tak bisa membuka mata jika aku juga bisa berubah seperti halnya dia dan Dhanni..?? ini tak adil untukku. Dia menghakimiku dengan apa yang sudah kuperbuat selama ini, padahal aku yakin jika aku bisa memperbaiki semuanya jika itu dengan Shasha..
Dan aku.? Apa aku benar-benar sudah berubah menjadi lelaki yang super bodoh karena aku diam saja saat melihat kekasihku diseret dengan paksa oleh Kakak sialannya..? ingin Rasanya saat itu juga aku menghadiahi Renno dengan Bogem Mentahku, tapi aku masih harus ingat, jika aku harus menghormatinya, Bagaimanapun juga aku ingin dia menjadi Kakak iparku kelak. Aku tak punya pilihan lain selain hanya diam dan mengikuti mereka dari belakang.
Aku mengikutinya hingga sampai di depan Mansionnya. Tentu saja aku tak dapat melihat Shasha dari sini. Aku berusaha menghubunginya tapi Ponselnya tak aktif. Ada apa dengannya..?? Aku benar-benar sangat khawatir terhadapnya. Dan pada Akhirnya aku ketiduran disini, didalam mobilku didepan Mansion Shasha hingga pagi.
***
Masih tak mendapat kabar dari Shasha akhirnya pagi ini aku memilih untuk pulang, mandi, ganti baju lalu bergegas menuju kekantor Renno. Sialan..!!! dia benar-benar mengacaukan semuanya. Aku harus menghampirinya dan menjelaskan semuanya terhadap Si Renno.
Lama aku menunggu Renno didalam ruangannya. Sial..!! dia pasti terlambat lagi hari ini. Tapi aku tetap setia menunggunya. Hingga saat inipun tiba, saat dimana Renno datang di hadapanku dan menatapku dengan tatapan membunuhnya.
“Sedang apa Lo disini.? Kita nggak ada Rapat.” Katanya dingin. Sialan..!!
“Ayolah Renn, Lo tau ngapain Gue kesini.”
“Jika itu menyangkut Shasha, Lupain. Mending Lo Keuar dari ruangan Gue.” Kali ini dia berkata sambil dengan santainya duduk di kursi kebesarannya.
“Sialan Lo..!! Gue pengen Ngomong Baik-baik.” Dan aku tak dapat menahan Emosiku lagi.
Dia Menatapku tajam. “Ramm, Lo lupain semua ini, Lo gila, Lo brengsek, Dan Shasha nggak pantes Buat Lo.”
Aku tersenyum mengejek saat mendengar ucapannya. “Apa Lo terlihat bener.? Apa Lo nggak Brengsek..? Apa Lo pantas bersanding dengan Allea.?”
Kini Renno Sudah terpancing oleh perkataanku. Dia menggebrak meja dihadapannya dengan kedua tangannya. “Sialan..!!! Jangan Samakan Hubugan Gue dan Allea dengan Lo, Bagaimanapun juga Gue sudah berubah.”
“Dan apa Lo tau Gue Bisa berubah atau tidak..?” Tanyaku lantang.
Tiba-tiba pintu di buka oleh seseorang. “Kalian kenapa.?” Tanya orang tersebut yang tak lain adalah Dhanni.
“Bawa dia pergi, Gue Malas bicara dengannya.” Kata Renno dengan angkuhnya.
Aku tersenyum miring. “Lo nggak berani nyelesein ini kan..?” Renno hanya terdiam.
“Sebenernya kalian Kenapa.? Sialan..!! kalian sudah seperti anak gadis yang berebut boneka dengan temannya. Nggak malu kalian sama umur.?”
“Gue Cinta Shasha dan dia mempersulit kami.” Kataku terang-terangan.
Kali ini Renno tertawa mengejek. “Sejak kapan Lo kenal Cinta.?”
“Dan Sejak kapan juga Lo kenal Cinta.?” Aku balik bertanya padanya.
Dhanni menghembuskan nafas kasar. “Sialan..!!! Ramma, sejak awal Gue sudah bilang sama Lo, Tinggalin Shasha, dia nggak pantes untuk Lo, dia terlalu lugu.”
“Lalu apa Nessa pantes Untuk Lo..? Apa Allea pantes untuk Dia..? Kalian Nggak Ngaca, kita sama-sama Brengsek. Jika kalian bisa berubah, kenapa Gue enggak.”
“Oke.. Gue Akui, perkataan Lo memang bener, kita bertiga memang sama-sama brengsek, tapi setidaknya Gue Dan Renno bisa membuktikan kalau kami bisa berubah.”
“Dan Gue akan Buktikan pada kalian Kalau Gue juga akan berubah.” Jawabku cepat.
Dengan tersenyum Renno berkata “Gue masih nggak percaya.” Sialan..!! Nampaknya Renno benar-benar berniat untuk mempersulitku.
Aku sudah mengepalkan tanganku. Ingin Rasanya mendaratkan Pukulan kerasku ini tepat diwajahnya. Memukulinya habis-habisan hingga dia minta ampun. Sialann..!!!
“Renn, Lo juga nggak bisa gitu, Bagaimanapun juga kita harus Kasih Ramma kesempatan, Bukankah Allea pernah kasih kesempatan sama Lo saat Lo punya salah padanya..?” Pernyataan Dhanni terdengar sedikit membantuku. “Dan Lo Ramm. Kalo Lo benar-benar Cinta Shasha, Buktikan, Bagaimanapun juga Shasha seperti Adek Gue sendiri, Dan Gue nggak mau Shasha jatuh di tangan Orang yang salah.”
“Gue Akan Buktikan.” Kataku dingin dan tajam lalu meninggalkan mereka begitu saja. Sialan..!! bisa-bisanya mereka berdua Kompak memojokkanku.
Aku merogoh saku dan mengambil Ponselku, Semoga Saja Ponsel Shahsa sudah Aktif. Saat kulihat, aku mendapat pesan dari Shasha.
‘Mas.. Aku di Apartemen.’
Pesan singkat namun Mampu membuatku tersenyum di tengah-tengah emosi yang melandaku.
***
Masuk kedalam Apartemen aku mendapati Shasha sedang berkutat dengan peralatan dapur. Apa dia sedang memasak..? Tanpa banyak bicara lagi kuhampiri dirinya dan kupeluk tubuhnya dari belakang. Dia sedikit terkejut dengan tingkahku.
“Kamu nggak apa-apa Kan.? Apa dia nyakitin kamu.?” Tanyaku Khawatir.
Shasha menggeleng. “Aku hanya tak suka sikap Kasarnya Mas… Mas Renn bahkan tak saling tegur sapa dengan Mbak Allea pagi ini. Dan itu gara-gara aku..” dia menangis.
Aku membalik tubuhnya dan kembali memeluknya, kini dia terisak di dadaku. “Kita akan Menyelesaikan semuanya, kita pasti bisa melewati semua ini.”
“Aku takut.. Aku takut Mas Renn nggak akan membiarkan kita bersama.”
Aku menangkup Pipinya. “Lihat aku. Jika Dia tetap bersikeras tak mengijinkan hubungan kita, aku akan membawamu kabur, Kita kawin Lari.”
Dia terlihat terkejut. “Benarkah..?”
“Kamu Nggak mau.?” Aku bertanya balik.
Dia lalu tersenyum, “Sepertinya itu bukan ide buruk.”
Aku mencubit pipinya, “Nah.. gitu dong.. jangan nangis Lagi.” Lalu aku kembali memeluknya. “Aku akan berusaha semampuku Sha… Walaupun nanti aku Gagal, Aku nggak akan membawamu kawin lari. Aku menghormatimu sebagaimana aku menghormati Kakak sialanmu itu.”
Lalu dia terkikik di dadaku. “Mas Renn Nggak sialan.”
“Yaaa bagiku dia sialan. Dhannipun sama. Tak ada satupun orang yang mendukungku.”
“Aku mendukungmu Mas..”
Lalu aku mencubit hidung mancungnya. “Kamu nggak termasuk sayang..” lalu aku mengecup bibirnya, bibir yang kurindukan. “Ehhh… tunggu dulu, Ngomong-ngomong.. ini bau apa..?”
“Bau..?” Dia nampak berfikir. “Astaga… Ayamku…” Teriaknya sambil menuju kekompor yang tak jauh di belakangnya.
***
Kami kini sudah duduk berhadapan di meja makan dengan Ayam Rica yang sudah gosong di tengah-tengah Meja. Aku menatap wajahnya yang terlihat lucu bagiku. Raut sedih, menyesal, dan malu bercampur menjadi satu membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Aku tersenyum saat melihat gadis di hadapanku ini seakan terlihat merajuk.
“Kenapa malah Ketawa.?”
“Kamu lucu.” Kataku masih dengan tersenyum.
“Aku bodoh, masak ayam saja Gosong.” Runtuknya.
“Itu salahku sayang.. kalau aku nggak nggodain kamu pasti hasilnya nggak kayak gini.”
“Sama aja, kalau aku nggak tergoda juga nggak akan kayak gini.”
Aku menghembuskan nafas panjang. “Oke.. karena kita sama-sama salah, bagaimana kalau kita makan siang diluar saja..?”
“Tapi…”
“Aku yakin kamu pasti suka.”
***
Aku memarkirkan Mobilku dihalaman sebuah Rumah besar bercat putih.
“Rumah siapa Ini Mas..?” Tanya Shasha sedikit heran.
“Rumahku.” Kataku sambil tersenyum. Lalu membuka pintu mobil, keluar, dan membukakan pintu mobil untuk Shasha.
“Katanya tadi mau makan diluar, kok kesini..? Kita mau apa kesini.?”
“Kamu nggak mau kenal sama Orang tuaku.?” Seketika itu juga aku melihat raut gugup dari wajahnya. “Kamu tenang aja, mereka baik kok.”
Dia hanya mengangguk. Dia meremas telapak tanganku yang sedang menggenggamnya, tangannya basah penuh keringat. Astagaa.. aku tau kalau dia gugup. Sangat gugup malah.
“Aku… sepertinya aku..”
“Kenapa.?”
“Entahlah.. perutku terasa penuh.”
Dan aku tertawa mendengar ucapan polosnya. “Kamu gugup sayang. Ini bukan pertama kalinya kamu ketemu sama mereka, jadi santai saja.” Lagi-lagi dia hanya mengangguk.
Kami masuk kedalam Rumah, kukira mama masih terbaring di Kamar karena baru keluar dari rumah sakit. Nyatanya saat ini dia sedang membantu para pelayan menyiapkan makan siang.
“Mama..” Kataku sambil berjalan kearahnya dan Memeluknya.
“Hai sayang.. tumben kamu pulang jam segini.?”
“Aku pulang membawa Calon menantumu.” Kataku sambil menunjuk Shasha dibelakangku yang wajahnya sudah pucat karena perkataanku. Dia lucu..
“Halo sayang, lama tak bertemu. Pasti kamu susah sekali yaa menghadapi Ramma, dia memang begitu, kamu harus banyak sabar.” Celoteh Mama yang langsung memeluk Shasha dengan Akrab. Sedangkan Shasha terlihat sangat Kaku sekali. Sungguh, aku benar-benar ingin tertawa saat melihat Ekspresinya saat ini.
***
“Is My Room.” Kataku sambil mempersilahkan Shasha masuk kedalam kamarku. Dia masuk dan melihat-lihat semua perabotan didalam kamarku.
“Mas Ramma suka Kartun.?” tanyanya sambil melihat-lihat Miniatur Kartun koleksiku. Aku hanya mengangguk. Sambil mengekorinya. Lalu dia berjalan kearah Lemari yang penuh dengan Koleksi Kameraku. “Suka Kamera juga,?” Tanyanya lagi.
Kali ini aku mengangguk sambil tersenyum. “Aku Fotografer, pastinya suka dengan kamera.”
“Oww….” Dia terlihat salah tingkah.
Aku menggenggam tangannya. Mengajaknya kedepan sebuah lemari yang berada di ujung ruangan, membuka lemari tersebut dan mengeluarkan sebuah kardus besar yang ada didalamnya.
“Apa ini..?” Tanyanya tak mengerti.
“Bukalah.”
Dan ketika dia membuka Kardus tersebut, dia ternganga dengan apa yang di lihatnya. Sebuah Kardus besar yang penuh dengan Foto dirinya. Itu Koleksi foto Shasha yang kumiliki yang sudah kubersihkan dan kusimpan rapat-rapat. Dulu tanpa ia Sadari Shasha menjadi objek Fotoku. Aku memotretnya setiap hari setiap waktu, dan au baru sadar jika kebiasaan itulah yang membuatku tak memiliki perasaan ini dan tak bisa jauh dari dirinya.
“Astaga.. kenapa bisa..”
“Masih banyak lagi, sebagian ada di ruangan khusus di Studio fotoku.” Ujarku penuh dengan kejujura.
“Tapi… Mas Ramma kenapa bisa…”
Aku menggenggam tangannya. “Sha… ini salah satu bukti jika aku Mencintaimu dari dulu sekarang dan seterusnya, aku memang pernah menyakitimu dan memungkiri perasaan ini, tapi nyatanya perasaan ini masih sama seperti dulu. Aku tak bisa berpaling darimu Sha..” kataku menjelaskan. “Sha… Aku sungguh-sungguh dengan perkataanku tadi saat makan malam.” Kataku kini sambil menatap tajam bola matanya.
Siang ini dia berada di rumahku, Mama mengajaknya makan siang lalu berbincang hingga Sore. Bahkan tadi Shasha membantu Mama menyiapkan makan malam. Tadi saat makan malam, aku kembali melamar Shasha di hadapan Orang tuaku. Aku ingin dia tau bahwa aku sungguh-sungguh. Mama terlihat sangat senang, begitupun Papa. Sedangkan Shasha masih diam membatu. Aku tak tau apa yang dia fikirkan. Apa kini dia Ragu terhadapku..? padahal aku hanya butuh jawabannya. Jika dia menjawab iya, aku Akan menjalankan Langkah selanjutnya.
“Mas… Hubungan kita Rumit, Mas Renn…”
“Sha… aku butuh jawaban kamu berupa sebuah dukungan.” Aku memotong kalimatya. Aku menatap wajahnya dengan intens. “Sungguh, Aku benar-benar Gila karena kamu, aku nggak bisa jauh darimu. Kamu masih mau kan meneria lamaranku.?” Tanyaku lagi.
“Tapi Mas Renn..”
“Aku akan urus dia, Aku hanya butuh kepastian dari kamu.”
Dia menunduk, lalu menjawab dengan pelan. “Aku mau Mas..”
Dan tanpa banyak bicara Lagi kusambar bibir mungilnya yang sejak tadi sudah menggodaku. Sedikit demi sedikit kudorong tubuhnya kebelakang hingga terjerembab diatas ranjangku. Dia menikmatinya, aku tau itu, dia membalas ciuman panasku sambil sesekali mengacak Rambutku.
“Sial.. Aku menginginkanmu sekarag juga.” Racauku sambil mengecupi rahang dan lehernya.
“Hemmbbb….” Hanya itu jawabannya. Dan tanpa banyak bicara lagi kulanjutkan apa yang sedang kulakukan, mulai melumatnya, menghisapnya dimana-mana. Lalu tiba-tiba aku tersadar jika ini salah. Bukan, Maksudku aku tak bisa bercinta dengannya disini.
Aku melepaskan Cumbuanku membuatnya menatapku dengan tatapan tanda tanya. “Emm… Maaf, Kita nggak bisa melakukannya disini.” Kataku masih dengan suara Parau penuh gairah.
Sial…!!! siapa Suruh tadi aku mencumbunya.? Aku bangun dan duduk di pinggiran ranjang. “Aku tak pernah bercinta di rumah ini, Mama bisa jantungan kalau melihatku ngapa-ngapain kamu disini.” Jelasku.
“iyaa.. aku mengerti.” Jawabnya denganmembenarkan letak bajunya yang berantakan karena ulahku. Sialan…!!!
***
Kali ini giliranku yang Gugup. Keringat dingin tak berhenti keluar dari dahiku. Perutku terasa mulas, tanganku bahkan sedikit gemetar. Kenapa seperti ini..? Malam ini aku mengantar Shasha pulang. Tentu saja aku memiliki tujuan saat mengantarnya.
“Ehh.. Kamu sudah pulang sayang.” Kata wanita paruh baya yang sedang membukakan pintu rumahnya, dia Tante Ria, Mama Renno dan Shasha.
“Lohh.. ada Nak Ramma.” Tante Ria sedikit terkejut saat melihat aku berada di sebelah Shasha, bahkan saat melihat telapak tangan kami saling bertautan satu sama lain.
Aku tersenyum seramah mungkin. “Malam Tante.. Oom nya ada.?”
“Ada.. kebetulan ada di rumah. Nak Ramma ada perlu.?”
“Iya Tante, saya ingin berbicara sesuatu dengan Oom.”
“Ayoo masuk, jangan diluar saja, biar Tante panggil Oom nya.”
Lalu akupun masuk, duduk di ruang tamu dan Shasha masih di sampingku. Dia duduk tak kalah gelisah dariku.
“Ada apa nihh Nak Ramma kok datang malam-malam gini.?” Tanya Oom Handoyo yang kini sudah berada di ruang tamu. Aku berdiri, bersalaman dengannya dan mulai berbicara ketika beliau sudah duduk.
“Ini Oom.. Saya….”
“Ngapain Lo kesini.?” Sial..!!! itu suara Sialannya si Renno. Harusya aku yang tanya, ngapain dia disini. Mengganggu orang saja.
Aku melihat Renno yang menatapku dengan tatapan penuh amarah, apalagi saat melihaat Shasha meremas tanganku seperti orang yang sedang ketakutan.
Tanpa menghiraukan Renno, Aku kembali menatap Oom Handoyo, berkata dengan tegas dan pasti dalam sekali tarikan Nafas. “Saya ingin Melamar Shasha Oom.”

_TBC_

Bagaimana..?? ada yang udah berhenti penasaran…?? heheheh ooiyaaa sedikit info bahwa Next Chapter adalah Chapter terakhir, tapi tenang saja.. masih ada Epilognya kok… jadi masih 2X Post yaa… hehheeheh selamat menunggu…!!! 🙂 😉

Advertisements

8 thoughts on “My Everything (Novel online) – Chapter 14

  1. renno masih aja belum mau ngalah
    gk tahu aja dia kalo adeknya udah terlalu jauh berhubingan sama sasha
    kayaknya kalo kedua orang tua sasha pasti setuju selama anaknya bahagia

    Like

  2. renno masih aja belum mau ngalah
    gk tahu aja dia kalo adeknya udah terlalu jauh berhubungan sama ramma
    kayaknya kalo kedua orang tua sasha pasti setuju selama anaknya bahagia
    jadi gk ada alasan lagi renno nentangkan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s