Novel Online · romantis

My Everything (Novel Online) – Chapter 13

me12My Everything

Chapter 13
-Shasha-

 

 

Saat ini aku sedang mengobati luka yang ada di ujung bibirnya. Kami sama-sama diam sejak di dalam mobil tadi. Rasa canggung bercampur dengan gugup di tambah perasaan rindu yang menggebu-nggebu bercampur jadi satu didalam diriku. Aku ingin memeluknya, sungguh… aku benar-benar merindukannya.
Setelah berpisah, aku sama sekali tak tau harus berbuat Apa. Sedikit terkejut saat diaa kembali dan berkata jika dia tak bisa meninggalkan wanita itu. Tapi aku sadar, mungkin ada suatu alasan yang mendasarinya. Aku melepasnya dengan ikhlas meski sebenarnya hatiku sangat berat menerima kenyataan itu.
Aku mendengar kabar jika ternyata dia akan menikahi Wanita itu. Dia mencampakanku dan ingin menikahi wanita itu, Sungguh, hatiku sangat sakit, sakit yang berkali-kali lipat kurasakan dari pada sakit yang telah kupikul beberapa tahun belakangan ini. Tapi tetap saja, aku tak dapat membencinya, Dia membekas dihatiku, Rasa sakit itu seakan menjelma menjadi butiran-butiran cinta Kecil yang lalu menumpuk dalam hatiku, Pada Akhirnya bukan rasa benci yang kurasakan padanya, tapi rasa Cinta yang semakin membumbung tinggi hingga hatiku seakan-akan tak sanggup lagi menerimanya. Aku harus bagaimana..? Apa yang harus kulakukan dengan rasa Cinta sebanyak ini..??
Hari-hari yang kulalui berubah menjaadi Suram, tak ada harapan lagi untukku hidup apalagi mengenal cinta lagi. Separuh jiwanya kubawa pergi tapi dia juga tak sadar jika dirinya juga membawa separuh jiwaku pergi bersamanya. Aku hanya mencoba menjalani hari-hari dengan biasa walau sebenarnya aku sudah sangat putus asa.
Aku tau jika dia mengunjungiku setiap harinya. Kami sama-sama saling menatap, saling melempar senyum, seakan-akan saling mengatakan jika kami baik-baik saja walau sebenarnya kami sama-sama hancur, sama-sama terluka.
Aku tak sadar jika luka ini lama-lama mengikisku, Merubahku menjadi sosok yang berbeda, yang lebih dewasa hingga diriku sanggup menerima semuanya. Mbak Allea selalu bilang, jika Cinta memiliki jalannya masing-masing. Aku percaya, Sungguh aku percaya itu. Tapi bagaimana jika Cintaku menemui jalan Buntu..?? bagaimana jika aku tak sanggup dan aku memilih menyerah ketika aku menemui jalan yang sangat sulit..??
Menangis.. hanya menangis setiap malam yang bisa kulakukan.
Beberapa hari yang lalu aku mendapat kabar jika Dia membatalkan pernikahannya. Ada apa..?? Senang..? Ya.. tentu saja aku senang, itu tandanya aku masih memiliki kesempatan. Tapi nyatanya hingga saat ini dia tak kembali kepadaku, tak kembali mencariku. Ada apa dengannya..?
Aku sudah mengatakan jika sampai kapanpun aku akan menunggunya, aku akan menerimanya jika dia kembali, nyatanya dia tak kembali padaku walau sudah berpisah dengan Wanita itu. Hingga malam ini aku mendapatinya saling adu pukul Dengan Ricky. Mas Ramma benar-benar terlihat menakutkan, mungkin saja Ricky akan kehilangan nyawanya saat itu juga jika aaku tak menghentikannya.
Aku memeluknya dengan erat, menenangkannya. tubuhnya tegang, sangat tegang. Tatapan matanya tajam membunuh, suaranya sedingin salju. Ada apa dengannya..? Apa dia memiliki masalah dengan Ricky sebelumnya..?
“Ahhhhh..” Dia sedikit mengerang saat aku mengoles lukanya dengan sedikit Salep untuk memar-memar.
“Maafkan aku, tahan sebentar, ini akan sembuh.” Kataku dengan sedikit Canggung.
Saat ini kami sedang berada di dalam Apartemennya, Apartemen yang memiliki banyak kenangan tentang kami. Sedikit gugup karena jarak kami sekarang sangat dekat, mungkin hanya beberapa Inci.
“Kamu Cantik.” Katanya kemudian tanpa basa-basi.
Aku membatu seketika ketika mendengar ucapannya. Jantungku memompa lebih cepat, tubuhku menegang mendengar dua kata tersebut dari bibirnya. Ya tuhan.. kenapa dia memberiku Efek yang sangat serius seperti sekarang ini..?? Tanpa anyak bicara aku membereskan Kotak obat yang berada di sampingku, lalu bergegas pergi mengembalikan pada tempatnya. Tiba-tiba aku merasakan tangannya melingkari perutku. Memelukku dengan Posesif.
“Jangan pergi… Jangan tinggalin aku.” Katanya sambil menyandarkan wajahnya di punggungku.
“Aku tidak pernah pergi Mas… Kamu yang pergi ninggalin aku.” Jawabku lirih.
“Maafkan aku.. Aku bodoh, aku benar-benar sangat bodoh.”
Aku tersenyum. “Bodoh dan brengsek.”
“Yaa itulah Aku.” Jawabnya lagi masih dengan memelukku.
Aku lalu melepaskan pelukannya, dan memutar tubuhku hingga menghadapnya. “Aku harus pulang, ini sudah malam.”
“Enggak.. Kamu nggak boleh pulang Kerumah lelaki Brengsek itu.”
Aku mengernyit, “Lelaki btrengsek..?” tanyaku yang masih tak mengerti apa yang dibicarakannya.
“Iyaa.. selama ini kamu tinggal dengan Lelaki sialan itu kan..?”
Apa..? Apa dia nggak salah bicara..? Apa dia sedang demam atau kehabisan obat..? Seputus asanya aku saat berpisah dengannya aku tak mungkin tinggal dengan lelaki lain apalagi lelaki yang tak kucintai.
“Kamu ngomong apa sih Mas..? aku nggak ngerti.”
“Aku ngikutin kamu dan kamu tinggal di sebuah rumah kecil dengan Lelaki Brengsek itu kan..?” kali ini dia bertanya sambil memicingkan Matanya.
Aku sedikit tersenyum. “Astaga.. Aku memang tinggal disitu, tapi nggak sama Ricky mas..”
Dia sedikit terkejut dengan jawabanku. “Kamu serius..? Aku lihat dia sering antar jemput kamu, Kalian juga belanja bersama, belum lagi saat itu aku melihat kalian mematikan seluruh lampu di rumah itu saat kalian ada didalam.”
Dan akupun tak dapat menahan tawaku lagi. Dia Cemburu. Aku tau itu. “Jadi kamu selalu membuntutiku..?” Tanyaku masih dengan tertawa.
“Nggak sengaja.” Elaknya
“Kalau nggak Sengaja kok bisa tau semuanya..?” Godaku.
“Ah… Sudah, Jangan bohong, Aku sudah menyelidiki kamu.” Jawabnya dengan bersungut-sungut.
Aku tersenyum saat melihat tingkahnya yang seperti anak kecil. “Jadi karena itu Mas Ramma memukuli Ricky sampai Babak belur..?” Tanyaku kemudian.
“Dia Brengsek, Dia mencium teman kamu dibelakangmu. Aku hanya nggak mau Dia menyakitimu.”
“Mas Ramma juga Brengsek.”
“Yaa aku tau itu, tapi setidaknya aku tak berkencan atau mencium teman dari pacarku sendiri apalagi ketika kami sedang jalan bersama.”
Lagi-lagi aku tersenyum melihat tingkahnya. “Mas.. Ricky bukan Pacarku, Kami nggak sedang dalam suatu hubungan.” Aku menjelaskannya dengan lembut.
Dia membulatkan matanya seakan-akan tak percaya dengan pernyataanku.
“Baiklah, dulu kami memang pernah pacaran, tapi aku sudah memutuskannya karena aku tau aku tak pernah mencintainya. Dia teman yang baik, Dan dia ingin mendekati sahabatku, Devi. Gadis yang diciumnya tadi.”
“Apa..?” Dia terlihat terkejut dengan penjelasanku. “Nggak mungkin. Aku sudah melihat kebersamaan kalian beberapa hari ini.”
Dan lagi-lagi aku tersenyum. “Rumah itu adalah, kontrakan milik Devi. Dan aku menumpang tinggal dirumah kontrakannya karena aku tak mungkin pulang saat aku keluar dari Apartemen Mas Ramma, Mas Renno akan Curiga.”
“Lalu.. Kamu dan lelaaki itu.. kenapa bisa..”
“Ricky sedang PDKT dengan Devi Mas.. Devi yang kerjaannya sebagai perawat di salah satu rumah sakit tentu saja sangat sibuk, jadi mau nggak mau semua urusan Ricky dengan Devi aku yang ngatur. Lagian Ricky teman terbaikku Mas..”
“Kamu Yakin.?”
“Kamu masih nggak percaya..? Astaga..”
“Lalu saat kalian mematikan lampu itu.”
Dan akupun langsung tertawa terbahak-bahak. “Baiklah, Saat itu Voucer listrik kami habis, dan aku lupa beli, akhirnya kami hanya bisa pasrah dengan lilin sebagai penerangan malam itu, lagian aku nggak hanya berdua Kok, Devi sudah pulang saat itu.”
Aku melihat dia memejamkan matanya, terlihat dengan jelas jika dia sangat lega saat mengetaahui apa yang terjadi denganku.
“Kamu benar-benar Cemburu.?” Tanyaku lagi.
“Kamu pikir Apa..? Aku bisa Gila karena memikirkan kamu. Bahkan aku berencana untuk mencincang kaki tangan Lelaki busuk tersebut.”
“Aku selalu disini Mas, Kapanpun kamu mencari, aku akan disini.”
“Dan apa kamu menerima jika aku kembali lagi kepadamu..?”
Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Mungkin aku terlihat Bodoh, tapi sudahlah, dari dulu aku memang bodoh. Aku mencintainya tanpa Syarat. Memujanya walau dengan kesakitan. Aku membutuhkannya seperti aku membutuhkan udara untuk hidup. Aku rela merendahkan harga diriku sendiri hanya demi dia kembali padaku. Semua itu karena aku mencintainya, sungguh mencintainya dari dulu, sekarang dan seterusnya. Mencintai tanpa menggunakan Logika.
Dia lalu mendekatkan bibirnya kepada bibirku, munciumnya, menghisapnya penuh dengan kerinduan. Lalu mulai melumatnya sedikit demi sedikit hingga menjadi lumatan panas.
“Ahhh..” Katanya sambil meringis kesakitan pada bibirnya yang luka.
“Sepertinya kita tak bisa berciuman beberapa waktu dulu.” Kataku sambil tersenyum.
“Kata siapa..?” tanyanya sambil mndorongku hingga kedinding dan memenjarakan aku. “Apa Kamu tau betapa aku merindukan saat-saat seperti ini..? Aku tak peduli jika bibirku sakit atau berdarah, Yang kupedulikan hanyalah melepas rindu denganmu.”
Lalu tanpa banyak bicara lagi dia mulai melumat bibirku dengan kasar menghisapnya seakan-akan menyesap rasanya. “Sialan Sha..!! aku sangat meindukan ini..” Katana di sela-sela ciumannya. Lida kami sudah bertautan menari-nari layaknya mengiringi sebuah lagu cinta, Aku terbuai, aku terlena oleh cumbuannya.
Tangannya mulai menjelajahi tubuhku, bergerilya didalam T-shirt yang kukenakan. Berhenti di perut datarku. “Astaga Sha.. Aku sangat suka saat meraba perutmu.” Aku sedikit tersenyum mendengar racauannya. Tangannya semakin kebawah hingga menyentuh pusatku sedangkan bibirnya kini sudah mencecap leher jenjangku.
“Heemmbbb..” Erangku tak bisa menahan kenikmatan ini.
Dia menghentikan semua aksinya membuatku sedikit kecewa, menatapku dengan tajam. “Kamarku.” Katanya kemudian. Dan tanpa banyak bicara lagi dia mengangkat tubuhku masuk kedalam kamarnya dan membaringkannya disana.
Melucuti pakaianku dan pakaiannya satu persatu hingga kini kami sama-sama dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Aku memalingkan wajahku. Sedikit malu karena sudah cukup lama kami berpisah, kami baru bertemu dan langsung melakukan hal panas ini. Dia mengangkat daguku hingga aku menatap wajahnya.
“Kenapa..?” tanyanya sedikit menyunggingkan sebuah senyuman.
Aku hanya menggeleng. “Aku.. Aku merasa seperti wanita murahan.”
Dia lalu tersenyum. “Apa aku membayarmu hingga kamu merasa murah..?”
“Mungkin…” Jawabku dengan nada sedikit menggoda.
Mas Ramma lalu sedikit tertawa. “Yaa.. aku memang membayarmu. Membayarmu sangat mahal.” Katanya kemudian.
Aku mengernyit. “Dengan apa..?”
“Dengan Cinta dan seluruh hidupku.” Katanya dengan tegas dan mantap lalu mulai menciumku kembali. Akupun menikmati cumbuannya walau dalam hati serasa ingin meledak karena pernyataannya.
Menciumi seluruh permukaan kulitku, seperti dia sedang memujaku. Menghisapku dimana-mana menbuatku semakin menggelinjang. Astaga… kapan siksaan ini akan berakhir..?
Tak lama aku merasakan dia menyentuh pusatku. Aku terkesiap ketika dirinya akan menyatukan diri.
“Ada apa..?” tanyanya sedikit heran.
“Mas Ramma nggak pakek pengaman..? Aku.. aku nggak KB lagi.” Kataku sedikit ragu.
“Memangnya kenapa..?”
“Aku takut hamil.”
Dia tersenyum lalu mengecup singkat bibirku. “Aku akan tanggung jawab, dan itu akan mengalahkan kakak sialanmu itu.”
“Maksudnya..?”
“Kalau Kamu Hamil, mau nggak mau dia merestui kita.”
“Tapi aku….”
Dia menutup bibirku dengan bibirnya. “Percaya padaku Sha..” Dan seperti itulah, dengan kelembutan dan bujuk rayunya sekali lagi aku terjatuh dalam pesonanya. Aku tak mampu mengelak atau menolak. Aku juga menginginkannya sebesar dia menginginkanku, kami sama-sama saling membutuhkan.
Akhirnya menyatulah tubuhnya dan tubuhku tanpa celah apapun, Saling mencumbu satu sama lain, saling memuja satu sama lain. Menikmati rasa satu sama lain. Astaga… aku tak pernah sebahagia ini… ini sangat berbeda dengan percintaan panas terakhir kami yang penuh dengan emosi dan air mata.
Sesekali kami terkikik walau masih penuh dengan gairah.
“Kamu menikmatinya sayang..?” tanyanya dengan lembut.
“Hembb..” aku tak dapat menjawab lagi karna tubuhku seakan penuh dengan sengatan kenikmatan yang diberikan olehnya.
“Aku juga… Kita akan menikmati ini bersama-sama hingga akhir. Percayalah padaku.” Katanya lalu mengecup keningku dengan lembut. Kata-kata itu menenangkanku. Yaa… aku percaya padanya, percaya seutuhnya, tak ada satu keraguan apapun untuk dirinya…
***
Aku terbangun ketika matahari sudah tinggi. Yaa… akhinya kami bangun kesiangan setelah pergulatan panas yang seakan-akan tak pernah berakhir tadi malam. Dia memeluk perutku dengan posesif. Saat aku bergerak ingin meninggalkannya, dia mengeratkan pelukannya.
“Pagi… Mau kemana..?” katanya serak khas orang bangun tidur.
“Pagi… Em.. aku mau pipis.” Jawabku dengan polos.
Dan dia sontak tertawa terbahak-bahak. “Mau pipis bareng..?” Godanya. Dan aku langsung membekap wajahnya dengan Bantalku. Tak berapa lama dia membalas dengan membalik tubuhku seketika hingga berada di bawahnya. “Kamu mau bermain nakal..?”
“Astaga.. aku mau kekamar mandi, Aku sudah gerah Mas..”
“Kita kekamar mandi bareng.”
“Enggak aku mau sendiri.”
“Kenapa..?” Dan aku hanya menggelengkan kepalaku. “Dasar manja.” Katanya lagi sambil menggulingkan tubuh polosnya kesebelahku.
Aku berdiri dengan mengenakan selimut dan bergegas pergi meninggalkannya kekamar mandi.
“Sha..” Panggilnya sebelum aku membuka pintu kamar mandi. Aku menatapnya dan dia menatapku dengan sungguh-sungguh. “Tinggalah disini bersamaku.” Katanya dengan sungguh-sungguh. Dan tanpa berfikir lagi aku menganggukkan kepalaku dengan antusias.
***
Saat ini aku sedang berusaha membuatkan Omlet untuknya. Astaga… Omlet apanya.. Ini lebih mirip dengan telur dadar biasa. Tadi aku sudah memanggangkan roti untuknya, maunya aku menyajikan Roti itu dengan isi sayuran, sosis, beberapa saus, dan juga telur setengah matang. Tapi aku menyerah. Berkali-kali aku memecahkan telur, tapi aku tak bisa memecahkannya dengan sempurna. Ya tuhan.. apa yang salah dengan tanganku..?? Akhirnya aku berakhir dengan mengkocok semua telur-telur tersebut dan membuatnya menjadi Omlet yang sekarang terlihat seperti telur dadar biasa. Astaga…
“Sedang bikin apa..?” tanya Mas Ramma yang kini sedang mengambil segelas air dari dalam kulkas.
“Telur dadar.” Jawabku sedikit kesal.
Dia menghampiriku dan sedikit tersenyum kepadaku. “Masih banyak kulitnya.” Ejeknya sambil tersenyum menyeringai.
“Aku tau, Mas Ramma sarapan diluar saja deh..” kataku ketus.
“Kok Gitu, aku kan mau sarapan telur dadar.”
“Yakin.. mau makan ini..?’
“Yakin lah… masakan kamu kan paling enak.” Katanya dengan sedikit tertawa, dan akupun ikut tertawa. Yaaa… aku tau jika dia hanya menggodaku. Enak dari mana…
Kamipun akhirnya berakhir dengan sarapan telur dadar yang ternyata sedikit lebih asin dari pada biasanya. Astaga…!!!
“Mas… Kita kunjungi Ricky yuk… kamu hutang maaf sama dia.” kataku kemudian. Yaa… tadi dengan khawatir Devi menghubungiku, dan aku mengatakan jika aku baik-baik saja, tapi tidak dengan Ricky. Hidung dan satu tulang rusuknya patah, belum lagi tampangnya yang sudah babak belur mengharuskannnya di rawat intensif d rumah sakit. Separah itukah..?? Astaga.. aku benar-benar harus minta maaf dengannya.
“Nggak, ngapain.”
“Kok gitu, bagaimanapun juga Kamu yang salah Mas, untung saja Ricky nggak lapor polisi.”
“Malas Ahh.. aku nggak pernah minta maaf sama orang.”
Aku datang menghampirinya, memelung lehernya dari belakang dan mengecup singkat pipinya. “Ayolah.. dmi aku, Mas Ramma kan sudah salah sama dia.” rengekku.
“Oke.. nanti siang kita kesana.” Dana kupun loncat-loncat kegirangan sambil sesekali mengecup pipinya. “Dasar Manja.”gerutunya kemudian.
***
Mas Ramma menepati janjinya. Jam tiga Sore dia mengajakku kerumah sakit, saat ini aku masih mengenakan Jeansku yang kupakai tadi malam, sedang atasannya aku megenakan T-shirt milik Mas Ramma lengkap dengan jaketnya.
Tadi kami banyak berbicara, yaa.. tentunya banyak yang harus di selesaikan diantara kami, bukan hanya Seks, tapi kerumitan-kerumitan yang selama ini menjadi kerikil kecil dalam hubungan kami. Aku bertanya tentan Wanita itu. Meski tak ingin membahasnya lebih jauh, Mas Ramma hanya bersumpah jika saat ini dia tak ada lagi hubungan bahkan tak ingin bertatap muka dengan wanita itu. Sebegitu bencinyakah dia dengan wanita tersebut.?
Tak berapa lama kamipun sampai di rumah sakit yang dimaksudkan. Aku langsung bergegas keruang inap Ricky, disana aku melihat Ricky masih terkapar dengan beberapa perban di wajah, kepala, dan aku tak tau dimana lagi. Dia parah. Aku juga melihat Devi yang setia menemaninya masih mengenakan seragam perawatnya, dia sedang mengupaskan apel untuk Ricky, dan entah kenapa sedikit senang melihat mereka bisa seakrab ini.
Aku menyeret masuk Mas Ramma untuk masuk. Ketika dia masuk, ada pandangan sedikit terkejut dari Ricky dan Devi.
“Sha.. ngapain kamu ajak dia kesini.?” Tanya Devi yang terlihat setengah takut dan setengah marah.
Aku hanya tersenyum lalu sedikit menyikut perut Mas Ramma karena sejak tadi dia terlihat cuek dan terkesan biasa-biasa saja saat melihat kondidi Ricky.
Dia mengaduh, Lalu berdehem sebentar dan mulai berkata-kata. “Gue minta Maaf.” Katanya datar dan cuek. Astaga.. apaan sih nih cowok.
Kini aku berakhir mencubit lengannya. “Aapa sih sayang..” Desisnya tajam kearahku.
“Itu bukan minta maaf, ayoo minta maaf yang bener.” Ketaku dengan sedikit kesal.
“Maaf, Gue nggak sengaja, Gue salah paham kemarin.” Dan meskipun terdengar sedikit angkuh dan cuek, tapi aku cukup senang karena Mas Ramma mau meminta maaf dengan tulus.
“Ky.. Maafin Mas Ramma ya… dia memang gitu orangnya.” Aku mendekati Ricky dan Ricky tersenyum padaku.
“Aku ngerti kok, Sha… aku malah berterimakasih, karena dengan ini, aku bisa jadian sama Devi.”
Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. “Apa… yang bener.. astaga.. aku turut bahagia dengan kalian.”
“Sepertinya kamu juga sudah baikan.” Kata Devi kemudian dan aku hanya berakhir tersipu-sipu malu mendengar pernyataan Devi yang benar tersebut.
***
Tepat jam tujuh malam aku berpamitan pulang. Ya.. tadi cukup lama bercerita dengan Ricky dan Devi sedangkan Mas Ramma lebih memilih tidur di sofa daripada mendengarkan celotehan tak jelas dari kami.
“Kita makan malam diluar yaa..” Ajaknya masih dengan pandangan luruh kedepan., saat ini dirinya sedang mengemudi mobil di sebelahku.
“Mas Ramma memaangnya nggak capek, tadi aku lihat tidur terus.”
“Aku tidur bukan karena Capek, tapi Bosan.” Dan aku hanya terkikik geli saat melihat dia sedikit ketus dan merajuk.
“Maaf, aku memang suka menggosip dengan mereka hingga lupa waktu.”
“Bukan hanya lupa Waktu, aku sampek kelaparan saat nunggu kamu tadi.”
“Kenapa nggak ngajak pulang.?”
“Nggak enak.” Katanya cuek. Dan aku masih tersenyum dengan tingkah lakunya.
Dia berhenti di sebuah cafe yang teerbilang cukup ramai. Mengajakku masuk dan duduk di ujung ruangan.
“Mau pesan apa..?” tanyanya kemudian.
“Memangnya apa yang special disini..?”
Mas Ramma tersenyum. “Semuanya disini Special Sayang..” Dan mendengar panggilannya untukku membuatku merinding.
Dan belum sempat aku memesan, tubuhku menegang seketika saat melihat sosok tegap berdiri disebelah Mas Ramma. Dia Mas Renn.
“Sedang apa Kalian disini..?” tanyanya dingin.
Mas Ramma sontak berdiri dengan wajah terkejutnya menatap kearah Mas Renn. “Renn, Kok Lo disini..?” Tanyanya masih dengan nada tak percayanya.
“Gue yang tanya, Ngapain Lo ajak Adek Gue kesini..?” Kali ii tatapan Mata Mas Renn menajam, sakan-akan menusuk orang yang di tatapnya. Aku melihat Mas Ramma tak getar sedikitpun walau Mas Renn menatapnya dengan tatapan Membunuh.
“Gue Dinner Sama Shasha.” Jawab Mas Ramma yang kali ini Nadanya tak Kalah dingin dengan nada bicara Mas Renn.. Ya tuhan.. aku merasa jika saat ini aku berada diantara dua kutub.
Aku bergegas menengahi mereka berdua, betrdiri didepan Mas Ramma, menggenggam tangannya lalu menghadap kearah Mas Renn. Mungkin memang saat ini aku harus jujur padanya, aku bosan dan tak tenang jika harus kucing-kucingan terus dengan Mas Renn.
“Mas Renn.. Aku mohon jangan buat ini jadi sulit.” Kataku kemudian.
“Kita pulang.” Katanya dingin tapi tatapan matanya masih menjurus kearah Mas Ramma.
“Nggak mau, aku mau sama Mas Ramma.”
“Shasha..” Kali ini tatapan Mas Renn beralih padaku dan dia sedikit terkejut melihat pakaianku. “Ngapain kamu pakek bajunya..?” tanyanya dengan sedikit geram.
“Aku…. Aku..” Aku tak bisa menjawab.
“Dia tinggal di Apartemen Gue.” Jawab Mas Ramma terang-terangan, astaga… kenapa dia memperkeruh suasana..?
Aku melihat Rahang Mas Renn mengeras. Dia marah, aku tau itu, dan aku takut. Ya tuhan.. apa yang akan dilakukan Mas Renn terhadapku dan juga terhadap Mas Ramma..?
“Kita pulang.” Mas Renn menarik tanganku dengan Kasar lalu menyeretku begitu saja tanpa mempedulikan aku yang kesakitan. Sedangkan Mas Ramma hanya bisa menatap kepergianku dengan tatapan sendunya…
***
Mas Renn marah. Sangat Marah. Tak ada yang berani menghentikan kemarahannya untng saja dua hari ini Mama sama Papa keluar kota, jadi mereka tak tau apa yang terjadi saat ini.
“Kamu tau Sha.. Berkali-kali Mas Renn bilang, Jauhi Ramma. Dia Brengsek.” Lagi-lagi Mas Renn memaki-maki sambil terus mondar-mandir tak jelas. Sedangkan aku hanya bisa duduk pasrah berlinang air mata. Mbak Allea belum turun, mungkin dia sedang menidurkan Reynald, putera mereka yang lahir beberapa bulan yang lalu.
“Kamu bisa berkencan dengan siapa saja asal jangan Dengan Ramma, Dia Brengsek dan nggak punya hati apa kamu tau itu Haahh..?” Mas Renn benar-benar sudah seperti bom yang sudah meledak.
“Mas.. jangan sekasar itu dengannya.” Itu suara lembut Mbak Allea, aku tau dia akan menyelamatkanku.
“Tidak, aku tidak kasar, aku hanya terlalu sayang dengannya.. sayang…” Suara Mas Renn mulai melembut.
Aku melihat Mbak allea menangkup keduaa pipi Mas Renn dengan penuh kasih sayang. “Mas.. Bukankah Cinta tak bisa memilih..? mereka hanya merasakan perasaan yang disebut dengan Cinta tanpa bisa memilih mana yang boleh dicintai dan mana yang tak boleh dicintai.”
“Tapi itu bukan Cinta Sayang..”
“Lalu Apa..?”
“Mereka hanya main-main, mereka nggak tau Cinta, apalagi Ramma.”
“Lalu bagaimana dengan kita berdua..? Apa ini Cinta..? Apa yang kamu rasakan dan aku rasakan ini Cinta..?”
“Sayang.. jangan bandingkan mereka dengan Kita.”
“Aku tak membandingkannya Mas, aku hanya mencoba untuk membuka pikiran kamu jika Cinta memiliki jalan dan kisahnya tersendiri. Kasih merekaa kesempatan untuk membuktikan jika mereka tak main-main.”
“Aku tak bisa sayang.. itu terlalu beresiko untuk Shahsa, aku tak ingin dia disakiti oleh sahabatku sendiri.”
“Mas Ramma nggak mungkin menyakitinya Mas..”
“Astaga.. kenapa kamu keras kepala sekali sih.. Dari mana kamu tau jika Ramma nggak akan menyakitinya.?” Suara Mas Renn mulai meninggi lagi. Ini adalah pertama kali aku melihat Mas Renn bertengkar dengan Mbak Allea.
“Oke, Sekarang kita Akhiri semuanya, Sha.. Mas Renn tetap nggak suka lihat kamu dekat sama Ramma. Dan Kamu Sayang… Please… Aku nggak mau bertengkar sama kamu hanya karena masalah sepele ini.” Katanya kemudian lalu meninggalkan kami begitu saja, aku berlari kearah Mbak Allea dan memeluknya.
“Mbak akan membantumu sebisa Mbak Sha..” kata Mbak Allea menenangkanku. sambil mengusap rambutku.
***
Pagi ini aku terbangun dengan kepala pusing dan mata sembab karena bayak menangis.ya tuhan… bagaaimana mengaakhiri semua ini..?? Aku mandi, ganti baju, lalu bergegas keruang makan untuk sarapan bersama.
Di ruang makan ada pemandangan dan suasana yang berbeda. Mama dan Papa masiih belum kembali dari luar kota. Tak Ada Mas Renn yang menempel-nempel dengan Mbak Allea, mereka saling berdiam diri seperti orang yang sedang perang dingin. Dan aku tau jika semua itu karenaku. Astaga…
Dengan sedikit menyesal, aku memutar langkahku untuk kembali kedalam kamar dan menangis lagi. Astaga.. sampai kapan ini akan berakhir..??
Aku mengambil ponselku, menyalakanya karena sejak semalam kumatikan, Aku ingin menghubugi Mas Ramma. Tapi baru kunyalakan, berpuluh-puluh MissedCall masuk kedalam pemberitahuanku. Belum lagi beberapa pesan yang masuk didalamnya. Dan semua itu dari Mas Ramma.
‘Kamu nggak apa-apa kan sayang..?’
‘Renno Nggak nyakitin kamu kan sayang..?’
‘Kenapa telepon kamu mati..?’
‘Aku mau ngomong, Jangan diamkan aku..’
‘Tunggulah, aku akan segera menjemputmu’
Itu beberapa pesan yang masuk dari Mas Ramma. Dia terlihat sangat khawatir dengan keadaanku. Dan astaga.. bagaimana aku harus menghadapi semua ini..? haruskah aku membangkang dengan kakakku sendiri dan berlari kepada orang yang kucintai, Atau haruskah aku menuruti kemauan kakakku dan meninggalkan orang yang sangat kucintai..?? aku bingung, ini snagat rumit..

 

_TBC_

Aku hadir terlalu cepat yaa… hehhehe nggak apa-apa deh…. selamat menunggu chapter selanjutnya aja dehh kalo gitu…

https://bronzeaid-a.akamaihd.net/BronzeAid/cr?t=BLFF&g=9e33cc87-030f-472d-a74a-348db3f1f264

Advertisements

6 thoughts on “My Everything (Novel Online) – Chapter 13

  1. wahwah!! ramma mulai nekat kayaknya,shasha yg jd dilema antara cinta dan keluarga,mba memang paling bisa membuat orang penasaran,N i hope cinta bisa menyatukan semuanya,salute untuk author.jgn lama utk chapter berikutx coz udah zzzuper penasaran.

    Like

  2. pengen ngeliat ramma datang kerumah sasha melamar nya pada kedua orang tuanya walaupun bakal ada satu halangan yaitu renno
    yang penting cinta mereka sudah menyatu
    internetnya bikin gedek ya
    commentku ngilang mulu

    Like

  3. Akhirnya nongol juga, setelah nungguin pagi, siang, malem udah di post apa belum :v . Sasha jangan nyerah dong. Ramma ayo buktiin kesungguhan kamu klo kamu ga main” sama Sasha. Renno jangan bikin jalan mereka jadi sulit dong, biarin mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Cepet di lanjut ya jan lama” 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s