Uncategorized

My Everything (Novel Online) – Chapter 12

me12My Everything

NB : Nahh… tuhh lihat covernya… mereka udah tersenyum2 nggak jelas tuh…. wahh,,, semoga saja hubungan mereka semakin membaik ya… hehheheeh yang nunggu Revan dan Dara sabar yaaa…. heheheeh

Chapter 12

 

Memutari Kota adalah jalan satu-satunya untuk menenangkan fikiranku. Aku tak mungkin pergi minum karena saat ini Mama membutuhkanku. Mama..? Sialan, Aku baru sadar jika Mama sedang sakit dan mungkin saja saat ini sedang menungguku. Ketika ingin menghubungi Ponsel Papa tiba-tiba Ponselku berbunyi. Ternyata Papa lebih dulu menghubungiku.
“Halo Pa..”
“Ramma Kamu dimana.? Papa mencarimu di kantin rumah sakit, kata Mama tadi kamu kesana.”
“Aku diluar Pa.. tadi ketemu teman.”
“Kalau begitu kamu pulang saja, Kamu pasti capek, Biar Papa yang menunggu Mama disini.”
“Enggak Pa.. sebentar lagi aku balik, Aku nggak mau ninggalin Mama sendiri.”
“Anak Bandel, Ya sudah, hati-hati jangan ngebut.” Pungkas Papa lalu memutus sambungan telepon begitu saja. Yaa Papa memang seperti itu orangnya.
Lagi-lagi aku mengacak Rambutku. Sungguh, aku benar-benar tak habis fikir. Jadi selama ini aku sudah di bohongi mentah-mentah oleh seorang Zoya..? seharusnya aku tau jika Zoya bukanlah wanita polos biasa, aku cukup tau sejarahnya. Dia wanita sosialita yang berkelas. Gaya hidupnya bak selebriti belum lagi dunia malam yang selalu dijalaninya, Harusnya aku tau jika dia tak sebaik dan sepolos yang kukira.
Sialan…!!!!
Aku lalu memutar balikkan Mobilku, kembali menuju rumahsakit. Semoga saja Zoya sudah tak ada di sana. Aku benar-benar sudah terlalu muak untuk melihat wajahnya.
***
Pagi ini aku terbangun di sofa rumahsakit. Mama sudah bangun dan saat ini sedang sarapan makanan yang di siapkan oleh rumahsakit dengan Papa yang menyuapinya.
“Kamu sudah bangun sayang..?” tanya Mama yang melihatku bau terbangun dan masih mengcek-ucek mataku.
“Heemm.. Pagi Ma.. Pa..”
“Lebih baik kamu kembali pulang, Tidur. Kamu terlihat berantakan Ramm..” Kata Papa kemudian.
“Iya Pa.. sepertinya aku memang harus pulang.”
“Salam Buat Zoya yaa… jangan bilang kalau Mama sakit.” Kata Mama kemudian. Dan aku hanya mengangguk. Aku belum bisa menceritakan batalnya pernikahanku dengan Zoya saat ini terhadap Mama dan Papa. Bagaimanapun juga kesehatan Mama adalah yang paling utama.
Keluar Rumah sakit, aku kembali menuju kerumah. Sepertinya mandi air hangat akan menyegarkan otot-ototku. Menyegarkan pikiranku kembali. Tak sengaja aku mengingat kejadian tadi malam. Dimana aku memutuskan hubungank dengan Zoya.
Aku tersenyum…
Yaa…. setelah berhari-hari dan berminggu-minggu, Baru kali ini aku bisa tersenyum lepas, Aku merasa bebas… Aku merasa bisa bernafas kembali setelah akhir-akhir ini aku merasa sesak karena memaksakan hubunganku dengan Zoya.
Lalu bagaimana selanjutnya…?
Tiba-tiba pertanyaan itu datang di Otakku. Yaa.. bagaimana selanjutnya..? Haruskah aku kembali kepada Shasha dan mengajaknya kembali berhubungan denganku..?? Masihkah dia bersedia menerimaku..? yaa mungkin saja. Aku kan belum mencoba.
Akhirnya dengan semangat kulajukan mobilku supaya cepat sampai di rumah, Mandi lalu berangkat menemui Shasha. Aku tak peduli jika ini terlalu pagi atau apalah, yang jelas aku ingin semua kerumitan ini cepat berakhir dan aku kembali lagi dengan Shasha.
***
Sejak jam sepuluh siang aku sudah menunggu Shasha di depan Cafe tepat kerjanya. Tapi dia tak juga datang. Apa hari ini dia sedang Off..? tapi tak lama aku melihat sepasang lelaki dan Wanita sedang berboncengan Mesrah dan berhenti tepat didepan Cafe tersebut.
Wanita itu adalah Shasha.. dan lelaki sialan itu Adalah Ricky…
Brengsek..!!!
Apa Shasha kembali menjalin hubungan dengan Lelaki sialan itu..? Kenapa mereka mesrah sekali.? Aku bahkan melihat si Ricky sedang melepaskan Helm yang sedang di kenakan Shasha. Sialan..!!! apa aku sudah terlambat.? Tidak.. tidak mungkin. Aku bahkan masih melihat Shasha masih mengenakan Kalung pemberianku.
Saat aku sedang sibuk memperhatikan mereka, tiba-tiba Ponselku berbunyi. Sialan..!! ternyata Dhanni yang menelepon.
“Lo Dimana.?”
“Ada Apa..?” tanyaku ketus tanpa menghiraukan pertanyaannya.
“Sialan.. ita ada Meeting mendadak. Gue tunggu di ruangan Renno.” Dan Dhanni langsung menutup teleponnya begitu saja.
Sial..!! Aku benar-benar Malas jika harus berhadapan dengan Wajah dingin Renno hari ini..? Apa Metting sialan ini tak bisa di batalkan..?
Yaaa.. hingga sekarang, Si Renno sialan itu masih bersikap dingin terhadapku. Bahkan tak jarang dia menganggapku tak ada di ruangannya saat aku jelas-jelas berada disana. Sial..!!
Aku memutar balikan Mobilku dan mengemudikannya menuju kekantor Renno. Semoga saja hari ini tak bertambah berat dengan Sikap sialannya si Renno.
***
Tak ada masalah serius di kantor. Dan itu membuatku cukup lega. Apalagi mengingat tadi Renno sudah bersikap cukup baik terhadapku. Mungkin Dhanni sedikit menasehatinya hingga dia sedikit berubah terhadapku.
Sore ini aku memutuskan untuk pulang lebih cepat. Aku ingin menemui Shasha kembali. Ingin mengajaknya bicaraa, apa aku masih memiliki kesempatan atau tidak. Jika aku masih memiliki kesempatan aku akan memperjuangkannya, jika tidak.. kita lihat saja nanti, apa aku sanggup melepaskannya atau aku akan berubah menjadi lelaki brengsek yang merebutnya paksa dari genggaman kekasihnya.
Mengingat hubungan ini lagi-lagi aku mengutuk diriku sendiri. Sialaan….!!! aku masih tak percaya jika aku sudah menjadi Lelaki terbodoh yang pernah ada di dunia ini. Di tipu mentah-mentah dan ya tuhan…. aku melepaskan orang yang kucintai..??? Mengingat itu aku bersumpah jika aku tak akan pernah memaafkan Zoya lagi.
Aku sudah membuat gadisku menangis semalaman hanya karena aku lebih memilih bersama wanita penipu itu, Sial..!! Aku bahkan masih ingat saat aku dan Shasha menghabiskan malam terakhir kami. Malam yang benar-benar penuh dengan gairah, Perasaan, serta Emosi. Aku tak pernah bercinta hingga seperti itu. Bercinta sambil terisak seakan-akan sesuatu yang kumiliki akan pergi jauh dan itu benar-benar menyakitkan.
Sungguh… Aku tak akan pernah bisa melepaskan Shasha sampai kapanpun juga. Aku sadar.. aku sadar jika aku sangat membutuhkannya. Aku sangat menginginkannya..
Dia segalanya untukku… Dan aku tak bisa lepas dari kenyataan itu..
Memarkirkan mobilku di tempat biasa aku mengamati Shasha, aku berharap jika saat ini dia keluar dan melihatku. Ini masih jam 5 sore. Tapi aku bersikeras untuk menunggunya. Tapi tentu saja aku tak berani menghampiriya begitu saja saat ini juga, aku takut, aku takut jika dia akan menolakku dan aku tak bisa menerima hal itu.
Lama aku menunggunya hingga beberapa kali aku menguap bahkan tertidur di dalam mobil. Aku terbangun ketika hari sudah mulai gelap. Aku melihat jika Cafe tempat Shasha bekerja sudah tutup, Sial..!! apa Shasha sudah pulang..?
Ketika aku memperbaiki letak dudukku di dalam mobil, tak sengaja mataku menatap ke arah depan, seorang laki-laki dengan motor sialannya itu berhenti tepat di depan Cafe tempat Shasha bekerja. Siapa lagi, tentunya dia adalah Lelaki Brengsek yang beberapa hari ini mengantar jemput Shasha sesuka hatinya.
Sepertinya Emosiku sudah tak terbendung lagi. Aku ingin menemuinya dan merebut Shasha kembali. Tapi ketika aku akan membuka pintu Mobilku, aku melihat Shasha keluar dengan wajah sumringahnya, senyum bahagianya jelas terpancar dari wajah Cantiknya. Sebahagia itukah dirinya dengan lelaki tersebut..?? Aku mengurungkan niatku dan berakhir membuntuti mereka seperti seorang pengecut yang tak memiliki keberanian.
***
Memata-matai orang layaknya seorang Agen rahasia adalah satu-satnya hal terakhir yang pernah kupikirkan, nyatanya saat ini aku melakukannya, Sial..!!
Aku memata-matai Shasha, membuntuti kemanapun mereka pergi. Mereka tadi sempat makan malam bersama, meski makan malam itu tak terkesan romantis, tapi tetap saja itu bisa membakar api cemburu dalam hatiku. Api cemburu..??? Ayolah.. apa sekarang aku berubah menjadi seorang lelaki pencemburu bahkan ketika aku sama sekali tak memiliki hubungan apapun dengan wanita tersebut..?? Aku tak peduli. Nyatanya sekarang aku benar-benar merasa cemburu.
Shasha disana sedang tersenyum bahagia disebelah Lelaki brengsek yang bertampang Sok imut dihadapnnya. Sedangkan aku..? Sungguh aku sangat menyedihkan. Pernikahanku batal, meski aku bahagia dengan batalnya pernikahan tersebut tapi tentu saja itu tak mengurangi kesedihanku karena sudah meninggalkan Shasha demi wanita penipu itu. Bahkan sekarang aku tak sudi untuk menyebut namanya. Aku kesal.. aku marah… karena dia aku kehilangan Shasha, bahkan mungkin kini aku sudah terlambat untuk kembali padanya.
Aku masih mengikuti Shasha dan juga lelaki itu, Mereka kini berhenti disebuah Rumah kontrakan. Aku memicingkan mataku, untuk apa mereka berhenti disitu.? Lelaki itu bahkan memasukkan motornya kehalaman rumah kontrakan tersebut, mereka berdua sama-sama masuk kedalam rumah tersebut. Dan itu membuatku murka.
Apa Shasha tinggal disana..? Dengan Lelaki itu..? Sialan..!! Apa mereka sedekat itu..? ingin rasanya aku masuk kedalam rumah tersebut, memukuli bahkan mungkin mencincang lelaki itu, tapi sekali lagi aku harus ingat, Aku siapa..?
Mungkin jikka Renno memukuliku karena aku memiliki hubungan dengan Shasha itu masih dibenarkan, karena Renno adalah kakaknya, Dia tak ingin adiknya memiliki hubungan dengan lelaki Brengsek sepertiku, tapi Aku..? Apa aku punya Hak untuk memukuli pacar Shasha saat ini..? harusnya aku tau diri jika aku hanya Mantan pacar Brengseknya yang dengan mudah mencampakkannya.
Sial.. siall…!! kenapa hidpku kini begitu sial.. tak lama aku melihat Lampu rumah tersebut padam seketika. Sialan..!! Apa yang mereka lakukan dengan keadaan gelap seperti itu..?
Emosiku benar-benar tak terbendung lagi, Daripada malam ini aku berakhir menghilangkan nyawa seseorang, lebih baik aku pergi. Aku akan kembali besok. Yaaa aku akan kembali menyelidiki mereka besok.
***
Aku menjatuhkan diri di Sofa ruang inap mama. Lelah.. sangat lelah. Hari ini pikianku sangat penuh dengan Shasha, aku bahkan Lupa jika ada wanita yang paling kucintai di dunia ini yang sedang sakit di hadapanku saat ini.
“Ada apa sayang.. kamu sepertinya ada beban..?” Tanyanya mengagetkanku, kupikir Mama sudah tidur.
“Mama belum tidur..?”
“Mama sudah tidur seharian, jadi sepertinya malam ini Mama nggak akan bisa tidur. Ada apa..?” laagi-lagi Mama bertanya, apa aku harus memberitahukan semuanya..??
“Maa… Sepertinya aku sudah telat.” Kataku sambil berjalan menuju keranjang Mama, duduk di kursi di sebelah ranjangnya, menggenggam tangan rapuhnya dan menciuminya.
“Telat kenapa Sayang..? Zoya mana..? Kenapa Mama nggak melihatnya..?”
“Jangan sebut namanya lagi Ma.”
“Kamu marahan sama dia..? Ramma kamu harus mengontrol emosi Kamu Nak.. kalian akan menikah, jadi harus meredam ego masing-masing.”
“Nggak akan ada pernikahan antara aku dan dia Ma.”
“Apa yang kamu bicarakan..??” tanya Mama dengan wajah terkejutnya.
“Aku sudah membatalkan pernikahan kami.” Jawabku kemudian, lalu aku mulai bercerita tentang semua yang terjadi, jika Zoya menipuku, bahkan mungkin memanfaatkanku karenya nyatanya sampai saat ini dirinya masih mencintai mantan suaminya tersebut.
“Ya tuhan. Kamu yakin itu yang terjadi..?”
“Jika aku mendengarnya dari orang lain mungkin aku akan sedikit tak percaya Ma, Tapi aku mendengar darinya secara langsung ketika dia tak menyadarai keberadaanku. Sungguh, aku sangat membencinya Ma..”
“Apa kamu mencintainya..?” Tanya Mama kemudian.
“Tidak.” Jawabku dengan tegas.
“Lalu kenapa kamu sangat membencinya..? Bukankah lepas dari tangannya saja sudah Cukup..?”
Aku menggelengkan kepalaku. “Secara tidak langsung dia yang bembuatku meninggalkan Wanita yang kucintai Ma.. dan sekarang, Aku sepertinya sudah terlambat untuk mendapatkannya kembali.” Kataku sambil menunduk lesu.
“Apa wanita itu Shasha..?”
Aku mengangguk lemah.
Mama lalu tersenyum. “Apa kamu belum makan seharian..? Kenapa kamu selemah dan selembek ini..? ini bukan seperti Ramma yang Mama kenal. Ramma yang Mama kenal adalah Ramma yang giat berusaha, bahkan dia mampu membangun perusahaannya sendiri dari Nol, jadi kenapa sekarang dia menjadi tak bergairah seperti ini ketika dia menginginkan Sesuatu untuk dimilikinya..?”
“Dia sudah memiliki orang yang bisa membahagiakannya Ma..”
“Apa Kamu tak dapat membahagiakannya juga..?”
“Aku tak Yakin Ma.. Yang kutau, Aku selalu membuatnya menangis.”
“Ramma… Orang yang sering membuat kita menangis adalah orang yang kita Cintai.”
Aku mengernyit dengan perkataan Mama. “Kenapa seperti itu..?”
“Karena Kamu tidak akan sakit hati begitu dalam dan menangis terisak-isak jika Kamu tak mencintai orang itu.” Jawab Mama dengan pasti.
“Jadi.. dengan kata lain dia menangis karena dia mencintaiku..?”
“Yaa seperti itulah. Ramma… Kejar dia jika kamu benar-benar yakin bahwa dia yang terbaik untukmu.” Nasehat Mama.
“Dia bukan hanya yang terbaik untukku Ma.. Dia bahkan sudah membuatku gila, menjungkir balikkan perasaanku, dan dia juga yang membuatku ingin merasakan bahagianya mempunyai seorang istri.” Kataku jujur dengan Mama.
“Lalu.. kamu tunggu Apa lagi.?”
Aku tersenyum kearah Mama. “Sepertinya Mama sudah ngebet banget ingin melihatku Menikah.”
“Mama kepengen punya menantu Ramma, Menantu yang tiap pagi memasakkan masakan enak untuk Mama.”
Dan mendengar kata-kata Mama aku langsung tertawa terbahak-bahak. “Ma… jika Shasha benar-benar menjadi Istriku nanti, Aku Mohon, jangan menyuruhnya memasak, masakannya Aneh, aku tak Mau Mama dan papa keracunan karena memakan masakannya.. hahaha” kataku masih dengan tertawa.
“Tapi kamu menyukainya Kan..? Mama Bahkan pernah dengar kalau kamu kangen sama masakannya.”
Aku mendelik mendengar ucapan Mama. “Mama dengar dari mana.?”
“Saat kamu Mabuk berat, kamu ngelantur ngomongnya, Sayurnya Aneh, Telur yang masih banyak kulitnya, ikannya Gosong, Astaga… sejak saat itu Mama tau Kalau perasaan Kamu kepada Shahsa bukan perasaan yang biasa.”
Aku menggaruk tengkukku, memerah karena Malu. “Tapi Mama nggak masalah kan kalau punya menantu yang nggak bisa masak..?”
Mama menggeleng sambil tersenyum. “Asal dia bisa membuat putra Mama bahagia, Apapun itu akan Mama terima.”
Aku memeluk Mama dengan sangat erat. “Aku sayang Mama.” Bisikku kemudian. Oh tuhan.. Aku benar-benar menyayangi Wanita ini. Meski bukan dia yang mengandung dan melahirkanku, nyatanya aku menyayanginya lebih dari apapun di bumi ini. Mama bahkan bisa membuat hari yang melelahkan bagiku berubah menjadi hari yang membuatku penuh dengan semangat. Mama menyemangatiku untuk mendapatkan kebahagiaanku seperti dia menyemangatiku saat aku berusaha membangun perusahaanku sendiri Dari Nol. Aku menyayanginya.. sungguh sangat menyayanginya..
***
Entah ini sudah hari keberapa aku mebuntuti Shasha dan Lelaki sialan itu. Oke, Aku memang pengecut. Malam itu dengan penuh semangat dihadapan Mama aku bertekat untuk merebut Shasha. Nyatanya… Sampai sekarang Aku masih tak berani menghampirinya, bahkan aku lebih memilih mengintainya seperti seorang Banci sejati. Sialan..!!!
Mereka sering jalan Bersama, Sejauh ini mereka memang terlihat sangat dekat. Mereka belanja bersama, Nonton bersama, Nongkrong bersama, dan yang kutau mereka tinggal bersama.. Sialan..!! Aku benar-benar tak bisa terima kenyataan terakhir tentang mereka tinggal bersama. Shahsa hanya boleh tinggal bersamaku. God… Mau tak mau malam ini aku harus merebut Shasha entah itu dengan sukarela atau dengan paksaan.
Aku mengikuti mereka seperti biasanya. Ternyata mereka berhenti di Taman Hiburan, Taman hiburan yang penuh dengan kenanganku dan Shasha. Sialan..!! untuk Apa mereka kemari..? Apa Shasha ingin menghapus semua kenangan Kami dan menggantinya dengan kenangan bersama Lelaki busuk itu..? tidak.. Kenangan kami tak akan pernah terhapuskan.
Aku turun dari Mobil dan mengikuti mereka sedekat mungkin. Aku tak mau kehilangan jejak mereka diantara Ratusan orang yang berada di taman hiburan ini. Ini Malam minggu dan masih jam 7 malam. Pantas saja sangat Ramai.
Aku melihat mereka berdua menghampiri seorang gadis yang tengah melambaikan tangan kepada mereka. Siapa lagi gadis ini..? Mereka lalu berjalan bersama. Mencoba beberapa Wahana. Kumohon Sha… Jangan sampai kamu menaiki Kincir Ria bersama Lelaki itu. Itu akan menyakiti hatiku. Kamu hanya boleh menaiki wahana itu denganku, Karena hanya Kincir Ria itu satu-satunya saksi betapa aku sangat tulus ingin melamarmu dan menjadikanmu sebagai istriku.
Dan terimakasih tuhan.. Do’aku terjawab Sudah. Shasha lebih Memilih duduk di tempat tunggu dari pada harus ikut naik di wahana tersebut. Aku memperhatikannya dari jauh. Wajahnya terlihat sendu, tangannya menggenggam kalung yang melingkari lehernya. Kalung pemberianku. Dan pada saat ini aku tau jika dia sedang mengingatku. Apa dia rindu terhadapku..?? Aku memejamkan Mata, merasakan sakit yang sangat menusuk di dadaku.
Astaga… bahkan hanya dengan melihat wajah sendunya saja aku sudah merasa sakit. Melihatnya sedih membuatku turut sedih, melihatnya menangis membuatku sangat marah hingga aku ingin menangis juga. Apa ini..? Perasaan apa ini..? Aku Parah.. Benar-benar sangat parah hingga tak ada yang dapat menolongku jika itu bukan Shasha sendiri.
Aku melihat mereka sudah berkumpul bersama lagi setelah Lelaki dan teman wanitanya itu turun dari wahana Kincir Ria. Mereka lantas bergegas menuju ke Danau buatan. Manaiki perahu kecil. Lagi-lagi aku melihat Shahsa hanya duduk menunggu di Gazebo yang disediakan disebelah danau sedangkan Lelaki sialan itu tetap naik perahu-perahu kecil yang disiapkan dengan Teman wanita Shasha. Sial..!! Sebenarnya Mereka sedang pacaran atau sedang apa..? jika Shasha tak mau naik harusnya lelaki sialan itu juga tak naik, bukan malah meninggalkan Shahsa sendirian.
Lagi-lagi aku memperhatikan wajah sendu Shahsa. Wajahnya terlihat sangat sedih. Ya tuhan.. Aku benar-benar tak tega melihatnya seperti itu..?? Apa itu karena aku..? Atau karena Cemburu pada Lelaki sialan itu karena terlihat mesrah dengan teman Wanitanya..? Sungguh, jika aku jadi Renno, aku akan memukuli Lelaki bajingan itu habuis-habisan. Bisa-bisanya dia membuat Shasha sedih seperti itu.
Tak lama aku melihat mereka berkumpul kembali. Duduk bersila bertiga di dalam Gazebo tersebut. Aku iri. Aku ingin berada di sana dengan Shahsa, tertawa bersamanya dan mengatakan jika semua masalah ini sudah berakhir, Aku ingin mengatakan jika aku kini sepenuhnya hanya miliknya. Tapi…. Ahhh lupakan Saja. Itu tak akan mungkin.
Aku melihat Shasha bergegas meninggalakan lelaki dan teman wanitanya itu. Mau kemana dia..? Bisa-bisanya dia meninggalkan pacarnya dengan teman wanitanya, Ketika aku akan mengikuti Shahsa, Langkahku terhenti ketika melihat Lelaki busuk itu tiba-tiba mendekati teman Wanita Shahsa. Sangat dekat. Aku bahakan melihat dia menggenggam tangan wanita itu dengan mesrahnya. Sialan…!!!
Tanganku mengepal saat tau jika Lelaki yang bersama Shahsa tersebut tak ada bedanya dengan Lelaki Brengsek yang hanya mempermainkan perasaan Shasha. Emosiku semakin menjadi-jadi ketika melihat Lelaki itu… sialan… Mereka berciuman.. Berciuman dengan panas Di belakang Shasha..??
Tanpa pikir panjang lagi aku melangkahkan kakiku dengan Cepat kearah mereka. Menarik lelaki brengsek itu dengan sekali tarikan dan memukulnya hingga tersungkur di tanah. Aku memberikan berkali-kali pukulan kearah Wajahnya. Biar saja, biar dia babak belur dan tak ada wanita yang mau dengannya lagi. Aku mendengar teriakan-teriakan histeris dari wanita teman Shasha tersebut, tapi aku tak mempedulikannya.
Tapi ketika aku sedikit lengah, dia memberiku sebuah pukulan yang tepat mengenai ujung bibir kananku. Aku berhenti sejenak, Rasa pedih langsung menghampiri tepat di bibirku, Aku tau saat itu jika bibir Seksiku Robek dan berdarah, Sialan..!! Aku tak akan dapat melakukan Ciuman panas dengan bibir terluka seperti ini. Amarahku semakin memuncak Mataku Berapi-api. Aku menerjangnya memberinya beberapa jurus Taekwondo yang kupelajari. Saat dia jatuh ketanah, bukan berhenti aku malah menguncinya dan ‘Bugghh…’ ‘bugghh..’ kudaratkan berkali-kali pukulan kerasku tepat di wajahnya, tanganku kini penuh dengan darahnya, mungkin hidungnya patah, aku tak peduli. Dia sudah memukulku dan yang terpenting dia Sudah menyakiti Shashaku….
Tak lama setelah itu aku merasakan tangan halus memeluk tubuhku dari belakang. Aku masih tak menghentikan Aksiku hingga aku mendengar suaranya. Suara lembut yang sudah sangat lama kurindukan.
“Mas.. Hentikan Mas.. aku mohon hentikan…”
Aku berhenti seketika, aku tau jika itu suara Shasha. Aku berdiri meninggalkan Tubuh lelaki sialan itu tergolek lemah penuh darah. Wanita teman Shasha itu langsung menghampiri lelaki itu dan menangisinya, sedangkan Shasha masih memelukku dari belakang, menenangkanku. Banyak orang yang berkumpul melihat kejadian tadi bahkan petugas keamana Taman hiburan inipun hanya melihat kami. Yaaa tentu saja, mereka tak akan berani melerai jika itu aku yang berkelahi. Mereka tau jika Ayahku yang memiliki tempat ini, maka jangan Heran jika aku bisa masuk sesuka hatiku bahkan mengosongkan tempat ini saat aku melamar Shasha dulu.
“Mas Ramma Kenapa..? Aku takut melihatmu seperti itu..” Kata Shasha yang masih memelukku dari belakang.
Aku menggenggam tangannya, lalu berbalik dan memeluknya erat. “Dia Brengsek, Tinggalkan dia.” Kataku dingin sambil sesekali menghirup aromanya, Astaga.. Aroma yang sangat kurindukan.
Aku lalu melepaskan pelukan kami. Masih dengan menggenggam erat Tangan Shasha dengan posesif. Aku lalu menatap lelaki itu dengan tatapan membunuhku. “Kalo Lo berani deketin Shasha lagi, Gue Bunuh Lo.” Ancamku dengan nada dingin.
Lalu aku pergi begitu Saja dengan menggenggam tangan Shasha meninggalkan semua orang yang sedang ternganga menatap kepergian kami.

Advertisements

8 thoughts on “My Everything (Novel Online) – Chapter 12

  1. ada yang aneh nich kayaknya sepertinya ramma salah paham ama kedekatan sasha dan teman laki lakinya
    pasti mereka gk berhubungan kan
    semoga ramma masih ada kesempatan buat kembali ama sasha

    Like

  2. Waduh ramma, malah langsung mukul temen cowoknya shasha. Harusnya tanyain dulu kek, klo ngelak baru hajar.. hadeuh.. untung shasha cepet dateng dan nenangin ramma.
    Dan kata yg gw seneng pas rama bilang : “Kalo Lo berani deketin Shasha lagi, Gue Bunuh Lo.”

    Like

  3. Ramma knp km gk hampiri Sasha aja,,apa km trlalu malu menemuinya??? Smpe2 km hnya bsa mmbuntutinya aja,, Ramma sprtinya slh phm deh ama Ricky,,qu ykin Sasha gk mnjlin hbngan dgn Ricky,,mgkin mlh Ricky nya yg jlin sm tmnnya Sasha…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s