Uncategorized

My Everything (Novel Online) – Chapter 11

Me New..My Everything

Chapter 11

 

Lagi-lagi aku terbangun dalam keadaan kepala yang berdenyut. Mabuk lagi dan mabuk lagi, hanya itu yang bisa kulakukan setiap malamnya. Jika pagi akau bersikap biasa-biasa saja, maka dimalam hari aku menggila.
Ini sudah dua minggu setelah aku mempertemukan Zoya da kedua orang tuaku untuk membahas tentang pernikahan. Sialnya, Pernikahanku akan dilaksanakan akhir bulan depan. Saat ini Zoya dan Mama sedang sibuk mengurus segala sesuatunya.
Aku bergegas bangun tak memperdulikan kepalaku yang seakan-akan ingin pecah karena berdenyut, Efek dari kelebihan Alkohol. Aku ingat jika hari ini ada jadwal pemotretan, Bukan aku yang memotret model-model Cantik, Melainkan Akulah yang akan di Potret.
Pemotretan Untuk Prewedding.
Sialan..!!!
Lagi-lagi aku tak berhenti mengumpat kesal dengan semua keadaan ini. Masuk kedalam Bathup menenggelamkan diri lalu mengguyur kepalaku dengan Air dingin dari Shower. Kadang aku berfikir, haruskah aku mati saja supaya tak sesakit ini..? Aku bisa saja menenggelamkan diri sekarang juga atau menelan obat hingga overdosis, percayalah, itu yang kuinginkan.
Tapi melihat Wajah Shasha setiap harinya membuatku sedikit lebih kuat. Yaa…. setiap hari aku selalu mengunjunginya di depan Cafe tempatnya bekerja. Diapun seakan-akan menungguku. Meski kami tak bertemu secara langsung, dan tak berbicara secara langsung, tapi aku merasa sangat dekat dengannya ketika kami saling memandang dan saling melemparkan senyuman meski hanya beberapa detik. Mungkinkah sampai nanti akan seperti itu.?? Apakah aku akan menjadikannya simpananku setelah aku menikahi Zoya..?
Sial..!!
Aku keluar dari kamar mandi mengenakan Celana pendek olah ragaku, Dan Kaus Dalam warna Hitamku. Memasang mengaman di tangan dan menuju keruangan Olahraga yang ada di halaman belakang rumah. Aku ingin memukul Orang, Sepertinya tak ada salahnya jika memukuli Samsak Pagi ini.
Entah sudah berapa Lama aku memukuli Samsak di hadapanku hingga aku kelelahan, tubuhku penuh dengan keringat. Sialan…!!! sepertinya aku harus mandi lagi. Kelika aku mengambi handuk kecil dan mengelap seluruh keringat di wajah dan leherku, tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan melingkari perutku. Aku menghentikan semuanya, dari Aromanya aku tau jika itu Zoya. Untuk apa dia pagi-pagi kesini..??
“Kamu Capek..?” Tanyanya Manja.
“Hemmbb.” Hanya itu yang bisa kujawab.
“Aku bawakan makanan, buatanku sendiri.” Katanya lalu menarik tanganku dan mengajakku duduk di kursi ujung ruangan. Dia membawakanku sebuah bekal. Ayam Rica kesukaanku. Akupun memakannya dalam diam. Enak.. ini enak.. Zoya memang pandai memasak, masakannya selalu enak untukku, tapi nyatanya kali ini aku memakannya tanpa Nafsu, Aku mengingikan Masakan Aneh buatan Shasha…
“Gimana sayang..? Enak kan..?”
Aku mengangguk. “Ini enak.” Kataku datar. Lalu aku meanjutkan makan lagi tanpa banyak kata. Sebenarnya aku sedikit kasihan dengan Zoya, tak seharusnya aku memperlakukannya seperti ini, Dialah disini yang menjadi Korban, kenapa aku bersikap dingin dan berengsek terhadapnya.
Zoya juga membuatkanku segelas Jus Jeruk. Aku menegaknya hingga tandas. Lalu aku menatapnya, wajahnya terlihat sendu, aku tau jika dia terluka, sama sepertiku.
“Maafkan aku..” Kataku sambil mengusap pipinya.
Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Semua salahku.. aku minta maaf, tak seharusnya aku bersikap dingin kepadamu.” Kataku lagi.
Dia lalu memelukku, terisak didadaku. “Aku juga minta maaf, Aku membuatmu menjadi sulit.. tapi aku janji, aku akan melakukan yang lebih baik lagi untuk kamu kedepannya.”
Aku mengangguk. “Kita akan memulainya dari awal lagi.” Kataku kemudian sambil mengusap rambut panjangnya. Yaaa… sepertinya aku memang harus Move On. Shasha memang bukan jodohku, aku harus melupakannya. Cinta memang tak harus memiliki, dan Cinta memiliki jalannya masing-masing. Jika aku berjodoh dengan Dia, aku yakin suatu saat nanti Cinta akan mempertemukan kami kembali.
***
Mama terlihat sangat senang melihat senyumku hari ini. Senyuman yang sepertinya sudah lama menghilang dari wajahku beberapa hari ini.
Karena aku sudah sarapan makanan buatan Zoya, makaa saat ini aku hanya bisa puas menemaninya sarapan bersama Mama dan papaku di ruangan makan. Kami banyak bercerita saat sarapan kali ini, Ralat, Maksudku bukan kami, tapi mereka. Dan aku hanya bisa diam mendengarkannya saja.
Andai saja yang duduk disebelahku kali ini Shasha…
Sialan..!! bukankah tadi aku sudah mengatakan jika akan melupakannya..?? Dan sepertinya aku memang tak bisa melupakannya. Sial..!!!!
“Sayang hari ini kita jadi Prewednya kan..?” tanya Zoya tiba-tiba.
“Iyaa jadi..” jawabku seadanya. Yaa aku kali ini memang harus menemaninya Prewed, setelah kemarin dia belanja kebutuhan pernikahan sendiri, memesan baju pengantin sendiri, hingga mengurus undangan sendiri. Lagi-lagi aku merasa kasihan terhadapnya. Tidak seharusnya aku memperlakukannya seperti itu.
“Terimakasih..” katanya lembut.
“Tak perlu berterimakasih.” Kataku sambil tersenyum dan tanpa sungkan mengusap pipinya dengan ibu jariku.
“Sepertinya kalian sudah baikan.” Kata Mama menengahi. Sedangkan Aku dan Zoya hanya tersenyum simpul menanggapi pernyataan Mama.
***
“Hadohhh… senyum dikit dong.. Kalian Mau nikah, bukan mau perang.” Teriak si Rio yang sejak tadi mengarahkanku di depan kameranya. Sialan…!!! dia pikir pada saat seperti ini aku masih bisa tersenyum apa.?
“Lo sinting.” Kataku datar.
Dan kamipun memulai lagi Aksi mengambil gambarku dan Zoya yang setengah telanjang. Yaaa.. Tema Prewed kali ini adalah ‘Passion’. Passion dalam arti yang sesungguhnya. Yaa… setidaknya itu sedikit nyambung dengan kisahku dan Zoya, Kisah kami bermula hanya didasari dari rasa Gairah, dan baguslah Zoya menunjuk Tema itu sebagai Tema Prewed kami.
Kami mengambil gambar di studioku sendiri. Di kamar yang menjadi properti untuk pemotretan. Tubuh bagian atas kami sama-sama polos. Tapi Zoya menutupnya dengan Bed Cover yang sudah disiapkan, dia duduk di atas pangkuanku dan aku memeluknya dari belakang, mengecup lehernya sedangkan dia berpose menggigit bibir bawahnya layaknya menikmati sentuhanku, kami sudah seperti pasangan yang selesai bercinta.
Berbagai macam pose panas sudaah kami lakukan. Hasilnya cukup baik. Dan akhirnya pemotretan panjang ini selesai juga. Jika tak ada Shasha yang memporak-porandakan perasaanku, mungkin saat ini aku sudah bercinta dengan panas bersama Zoya mengingat tubuh kami tadi saling bergesekan. Tapi nyatanya, aku tak menginginkannya.
Sialan..!!! apa ini yang dirasakan Renno saat dia tak bisa bercinta dengan wanita lain selain wanita yang diinginkannya..? jika iya, maka aku menyesal jika dulu pernah menertawakannya. Ini benar-bena membuatku frustasi.
Aku mengenakan pakaianku dan bersiap pergi ketika tiba-tiba tangan Zoya menahanku.
“Mau kemana..?”
“Aku pergi sebentar.”
“Kita tidak melakukannya..? Kupikir kamu..”
Aku menggeleng. “Sepertinya kita tak akan bisa melakukannya lagi.” Jawabku lirih sambil meninggalkannya begitu saja.
***
Jika tadi aku bicara untuk melupakan Shasha, Maka jangan percaya dengan kata-kataku tersebut. Nyatanya saat ini aku sudah memarkirkan mobilku di depan Cafe tempatnya bekerja, melihatnya dari jauh seperti seorang pengecut.
Dia masih sama, membersihkan meja demi meja. Lalu mungkin dia merasa di perhatikan hinga dia menoleh kearahku. Menatapku dengan tatapan sendunya dan melemparkan senyuman khasnya. Hanya seperti itu saja rasanya jantungku berdetak kembali. Sial..!!! Aku benar-benar semakin Parah.Shasha sekarang sudah seperti obat yang dapat menyambung nyawaku. Senyumannya sudah seperti Heroin yang membuatku Candu. Bagaimana aku bisa mengakhiri kegilaan ini..??
Tak lama aku melihat seorang lelaki mendekatinya. Lelaki Bajingan yang dulu diknalkannya sebagai pacarnya, Ricky. Untuk apa Banci sialan itu datang menemui Shasha.? Bukannya mereka sudah putus..?
Aku memejamkan mataku, meredam semua amarah yang sudah sampai di ubun-ubun ketika melihatnya tanpa banyak kata memeluk Shasha begitu saja di hadapanku. Ingin rasanya aku keluar dari mobil lalu menghajarnya habis-habisan dan memtahkan tangan dan kakinya karena berani menghampiri dan memeluk Shasha. Tapi sekali lagi aku harus ingat. Aku bukan siapa-siapanya lagi.
Tanpa pikir panjang, Aku menginjak pedal Gas, dan mengemudikan Mobilku seperti setan. Yaaa… aku harus meninggalkan mereka sebelum tangan dan kakiku berjalan dengan sendirinya untuk menghajar lelaki brengsek tersebut.
Setelah memutari jalanankota berkaali-kali, akhirnya aku kembali pulang. Setidaknya pikiranku sedikit lebih tenang saat ini. Sampai dirumah sudah jam lima Sore. Mama pasti sibuk menyiapkan makan malam. Aku berlari kedapur dan disana hanya ada beberapa pelayan. Dimana Mama..? Apa dia pergi lagi dengan Zoya..?
Maklum saja aku berpikir seperti itu, beberapa hari ini memang hanya Zoya yang menyiapkan semuanya, dia bahkan meminta Mama untuk menemaninya. Akupun langsung bergegas menuju kekamarku, tapi ketika melewati depan pintu kamar Mama, aku mendengar sesuatu seperti barang yang pecah dari dalam.
Sedikit curiga akupun mengetuk pintu kamar Mama. “Ma.. Mama…” panggilku sambil mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban. Padahal jelas-jelas aku mendengar barang jatuh dari dalam tadi. Akupun mengetuk lebih keras dengan panggilan yang semakin keras lagi.
Dan karena tak ada jawaban, aku mencoba membuka handle pintu, pintupun terbuka, ternyata Mama tak menguncinya. Dan aku ternganga mendapati pemandangan di depanku. Mama tersungkur di lantai dengan beberapa pecahan gelas di sebelahnya, dan aku melihat nafasnya terputus-putus.
Penyakitnya kambuh. Aku menghampirinya dengan panik dan mengambilkan inhaler miliknya. Tapi sialnya Inhaler itu habis. Dengan kesal aku membuangnya dan mulai membopong Mama.
“Bertahan yaa Ma.. bertahan… jangan Tinggalin Ramma sendiri Ma..” Kataku panik, Lalu memasukkan mama kedalam Mobilku dan mulai menjalankannya menuju kerumahsakit terdekat.
***
Aku terbangun ketika mendapati sebuah tangan lemah membelai rambutku.
“Ma..” Aku menatap Mama yang sudah sadar, ternyata tadi aku ketiduran di sebelahnya. “Mama tadi membuatku takut.” Kataku kemudian.
Yaa… aku memang benar-benar takut kehilangannya. Walau diaa bukan ibu kandungku sendiri, tapi Aku menyayanginya, dia yang merawatku hingga seperti sekarang ini, dan aku belum bisa membalas budi kebaikannya.
“Mama nggak akan meninggalkan kamu sendiri sebelum melihat kamu bahagia sayang.” Kata Mama mengusap pipiku.
Aku menikmatinya. Ya tuhan.. aku sangat merindukan saat-saat seperti sekaran ini. Sejatinya aku adalah Anak Mama sebelum aku terjerumus kedalam dunia malam. Dan setelah bertahun-tahun menjadi lelaki dewasa dengan petualangan Cinta, baru kali ini aku ingin menjadi anak Mama kembali, aku ingin bermanja-manja dengan Mamaku.
“Kamu sudah makan..? Pasti belum.”
Aku mengangguk. Aku melihat jam di dinding ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh malam. “Yaa aku belum makan Ma..”
“Makanlah dulu. Mama menunggumu disini.”
“Mama yakin nggak apa-apa aku tinggal..?”
“Iyaa sayang, Makanlah dulu. Mama nggak apa-apa.” Jawab Mama lemah. Aku mengecup tangan Mama dan pamit untuk pergi membeli makanan di kantin rumahsakit.
Akhirnya aku keluar dari ruangan Mama, menuju kekantin rumahsakit. Tapi ketika aku akan masuk kesebuah lorong menuju kantin, Aku melihat Zoya yang baru sampai di Lobi rumah sakit ini. Untuk apa dia kesini..? Apa dia tau Kalau Mama kambuh dan di rawat disini..? Itu tidak mungkin, bahkan Papa saja belum kuhubungi. Sial..!! aku benar-benar Lupa menghubungi Papa.
Akupun membatalkan pergi kekantin dan lebih memilih mengikuti Zoya di belakangnya sambil menghubungi Papa. Ternyata Zoya masuk kedalam ruangan yang bertuliskan Dr. Nadia Spog. Yaaaa.. tentu saja dia keruangan Nadia temannya, Aku bahkan tak sadar jika ini rumahsakit yang sama diamana Nadia bekerja. Aku sudah memegang Handel pintu dan bersiap masuk ketika aku mendengar suara itu aku menghentikan Aksiku. Terdiam membatu dan mendengarkan semua kebenaran yang selama ini disembunyikan dariku.
“Kamu Gila.. Kamu sudah keterlaluan Zoya..” Nadia sedikit berteriak.
“Maaf, aku tak butuh nasehatmu, aku hanya mengantarkan undangan ini untukmu.”
“Zoya, mereka saling Cinta, kamu nggak patut memisahkan mereka seperti ini.”
“Aku juga mencintainya Nad..”
“Tidak.. aku tau kamu nggak mencintai Ramma, Sampai sekarang kamu hanya Cinta kepada Ardi, hingga sampai detik inipun kamu belum bisa melepaskannya. Kamu hanya membutuhkan Ramma Zoya, kamu hanya terobsesi dengan keberadaannya disisimu. Dan itu bukan Cinta. Kalau kamu mencintainya, kamu akan bersedia melepaskannya untuk melihatnya bahagia”
“Seperti ketika kamu melepaskan Ardi untukku..?” Tanya Zoya dengan sedikit sinis, Nadia terlihat sedikit menegang dengan pertanyaan Zoya. “Aku tidak peduli. Aku akan tetap Menikah dengannya. Masalah Ardi, Aku bisa melupakannya dengan berjalannya waktu.”
“Lalu bagaimana jika Kamu hamil Lagi..? Ramma akan tau jika kamu membohonginya. Dia akan membencimu”
“Setidaknya jika aku Hamil, Ramma nggak akan mungkin ninggalin aku dan Anaknya, dengan kata Lain, kita akan tetap hidup bersama.”
Dan aku sudah tak dapat menahan Amarahku lagi. Dia sudah menipuku, Menipu habis-habisan. Kulepaskan pegangan pintu hingga pintu ruangan Nadia terbuka dengan sendirinya.Nadia menatapku dengan tatapan terkejutnya. Begitupun Zoya yang kini sudah membalik tubuhnya, Dia menatapku dengan tatapan tak percayanya. Wajahnya memucat.
Aku tersenyum Sinis. “Dan Sepertinya Rencana Kamu berantakan.” Kataku dingin. Aku melihat Zoya masih diam membatu, dia ternganga ketika melihatku mengatakan kata-kata tersebut. Aku menghampirinya, berhenti tepat beberapa inci dihadapannya. “Kamu sudah menipuku, Kamu menjadikanku Lelaki Bodoh yang bisa kamu Mainkan, dan aku membenci itu.” Kataku dingin hingga mungkin bisa membekukan semua barang-barang di ruangan ini.
“Ramma.. Aku bisa menjelaskannya padamu.”
“Dan aku tak butuh penjelasan.” Kataku sambil meninggalkannya begitu saja.
Aku berjalan cepat kearah parkiran, tak mempedulikan Zoya yang mengikutiku dari belakang sambil memanggil-manggil namaku. Emosiku benar-benar tak terkendali lagi. Tanganku sudah mengepal sejak tadi ingin memukul sesuatu. Sebegitu bodohnya kah Aku bisa di bohongi oleh Wanita Jalang seperti Zoya..? Bahkan saat ini aku sudah berani memanggilnya sebagai wanita jalang. dimana IQ 180 ku ketika Zoya mengatakan dia tak bisa hamil dan aku mempercayainya begitu saja..? ini terlalu menggelikan, ini terlalu lucu karena aku dengan mudah bisa dipermainkan oleh Seorang wanita yang bahkan sampai saat ini masih terbelenggu dengan masalalunya, Sialan..!!!
Aku merasakan Dia memelukku dari belakang. Dan menangis. Apa dia ingin meuluhkan hatiku..? Maaf, Aku sama sekali tak tertarik lagi.
“Maafkan aku.. maafkan aku.. aku bisa menjelaskan semuanya.” Katanya sambil terisak.
Aku melepaskan paksa pelukannya, menarik tangannya, membaawanya ke sebuah Area yang cukup gelap. Menghempaskan tubunya di dinding.
“Apa kamu tau kalau kamu sudah menghancurkan semuanya.” Teriakku padanya.
“Aku minta maaf, aku hanya tak ingin kamu meninggalkanku.”
“Apa..?? sampai saat ini kamu bahkan masih berhubungan dengan mantan suamimu Zoya, lalu untuk apa kamu menahanku..?”
“Aku membutuhkanmu.. aku membutuhkanmu.” Dia berbalik meneriakiku.
Aku tersenyum sinis. “Yaa… tentu saja kamu membutuhkanku. Kamu membutuhkanku saat mantan suamimu itu tak bisa menemanimu dan memenuhi gairahmu, iya kan..”
‘Plaakkkkk’ dia menamparku.
“Kamu keterlaluan Ramma, Kamu berkata seakan-akan aku memanfaatkan tubuhmu seperti seorang wanita jalang yang kekurangan belaian laki-laki.”
Aku memukul dinding di sebelahknya keras dengan kepalan tanganku, aku tak peduli jika jari-jariku patah atau terluka, tapi aku memang sedang ingin memukul sesuatu. “Tapi kenyataannya memang seperti itu.” Jawabku tajam. “Dari awal hubungan kita tak sehat, tak ada Cinta, Hanya Seks dan kepuasan yang mendasarinya.” Desisku tajam.
“Tapi aku membutuhkanmu Ramma, aku sungguh membutuhkanmu, dan Sepertinya.. sepertinya aku sudah mulai mencintaimu.”
“Jangan bicara tentang Cinta jika kamu tak tau apa Artinya. Tak ada Cinta diantara kita Zoya.”
“Tidak.. kita bisa belajar saling mencintai nantinya.”
“Maaf.. Aku tidak bisa belajar mencintaimu. Karena Aku sudah mencintai Wanita lain, Dari dulu sekarang dan seterusnya.” Kataku sambil berbalik dan bersiap meninggalkannya.
“Apa Gadis itu..? Gadis manja sialan itu yang kamu Cintai..?”
“Iya… Gadis manja sialan yang sudah kusakiti demi bertahan dengan Wanita penipu sepertimu.”
“Jangan seperti itu Ramma, Kita bisa memperbaiki semuanya.” Katanya lagi-lagi dengan memelukku dari belakang.
Aku melepaskan pelukan tangannya dengan paksa sambil berkata dengan Dingin. “Maaf, Kita sudah berakhir.” Lalu aku pergi meninggalkannya dan tak menoleh kebelakang lagi sedikitpun.

 

___TBC__

Next Chap semoga lebih bagus lagi yaa.. karenaa ini mendekati akhir nihh kawan.. HHehheheh ayooo elalu baca

Advertisements

5 thoughts on “My Everything (Novel Online) – Chapter 11

  1. akhirx hah aq puas banget liat endingx zoya,hmm tp gimana endx ramma dan shasha ada yg baper nih,klu aq jd shasha aq akn buat ramma cemburu sampe diubun ubun atu aq akn buat dia sampe nyulik aq buat menjdkn aq milikx trus aq nertawain kegilaanx dia.ah jd menghayal sdri.abis kisah mereka makin bikin……..hebat mba,2 jempol utk mba soalx tanganq cuma 2

    Like

  2. puas banget ngeliatnya
    emang udah ngrasa kalo zoya punya rencana tersembunyi
    baguslah kalo ramma udah tahu
    jadi sekarang tunggal bagaimana ramma memperjuangkan sasha jangan sampai terlambat atau malahan ricky udah jadian lagi ama sasha
    ihhh bikin gregetan ama next chapter
    aku selalu ngecheck blog ini

    Like

  3. Dasar zoya wanita jal*ng, udah bikin hubungan ramma dengan shasha putus masih ngerasa gak bersalah, bener-bener nyebelin, untung aja kebohongannya terbongkar..
    Moga ramma masih bisa bersatu dengan shasha, dan menebus kesalahannya yang telah menyianyiakan shasha.

    Like

  4. Zoya udah ketauan belangnya,,,gk tau malunya kekeh ingin brtahan..
    Knp dia gk blikan aja sm mantan suaminya…
    Ramma emng bnr2 dibodohi bgt oleh Zoya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s