Novel Online · romantis

My Everything (Novel Online) – Chapter 10

meUntitled-12My Everything

Chapter 10

 

Aku tebangun mendapati ranjang disebelahku kosong.. Dingin Dan Kosong.. Shasha sudah pergi, bahkan kini tak ada satupun barang berwarna Pink didalam kamar Apartemenku ini.
Aku terduduk lesu, Kepalaku sakit, hatikupun sama sakitnya. Kenapa seperti ini..? Inikah hukuman untukku karena selama ini aku sudah mempermainkan banyak Wanita..? Aku mengedarkan pandanganku keseluruh penjuru ruangan dan mendapati secarik kertas kecil di meja sebelah ranjangku. Ini Note dari Shasha.

 
Aku tak pernah menyesal mengenalmu.. mencintaimu.. dan memberikan semuanya untukmu….
Aku akan tetap mencintaimu walau raga kita tak kan bisa bersatu….
Apapun alasanmu mengakhiri semua ini aku dapat menerimanya, aku akan menjauh darimu supaya kita tak saling tersakiti saat bertemu, Jika Kamu merindukanku, Lihatlah aku… Aku masih berdiri di tempat yang sama. Kita masih bisa bertemu dalam jauh… dalam mimpi…
Maaf… aku tak bisa mengembalikan Kalung yang Mas Ramma Berikan padaku… Itu sudah menjadi milikku.. Separuh jiwamu sudah kumiliki… dan kalung itu sebagai buktinya..
Terimakasih Untuk semuanya….
I Will Always Love You…..
-Shasha-

 

Aku mememjamkan mataku.. merasakan sakit yang teramat sangat dalaam.. sakit karena ulahku sendiri.. sakit karena kebodohanku sendiri…
Karena curiga, beberapa hari yang lalu aku menyuruh seseorang untuk mencari kabar tentang Zoya di Singapore. Hasilnya sangat mencengangkan. Dia bersama dengan lelaki yang sedang makan malam dengannya waktu kami tak sengaja bertemu saat aku mengajak Shasha makan malam. Dan ternyata setelah di selidiki, Lelaki tersebut adalah Ardi.. mantan suaminya.
Sialan..!!!
Selama ini ternyata mereka masih saling berhubungan. Dan tentu saja itu membuatku marah, marah karena merasa di bohongi. Selama ini kupikir Zoya tersiksa karena aku selalu memikirkan Shasha, Masalaluku. Tapi nyatanya sampai sekarang dia juga masih belum bisa lepas dari Mantan suaaminya.
Hingga hari inipun terjadi. Hari diamana Zoya pulang dan aku siap memuntahkan semua yang ada didalam Otakku. Cemburu..? Yaa.. aku memang sedikit cemburu, tapi Rasa marah karena di bohongi lebih besar dari pada secuil rasa cemburu yang kumiliki terhadapnya. Aku benar-benar siap meninggalkannya tapi ternyata.. Sialan…!!!

“Aku nggak bisa hamil lagi.”
Aku menegang saat mendengar kata-katanya.
“Dokter bilang Rahimku Terinfeksi, penyebabnya bisa macam-macam tapi mengingat aku pernah dua kali menggugurkan kandungan, mungkin itulah penyebabnya.” Dia masih mengatakan semuanya dengaan tenang. Aku yang berdiri membelakanginya masih diam membatu, tak tau harus berkata apa, tak tau harus melakukan apa.
“Jika kamu meninggalkanku, maka siapa yang mau bersamaku..? Siapa yang mau dengan wanita cacat sepertiku..?” dia mulai menangis dan kini sudah memelukku dari belakang. “Jangan tinggalkan aku.. Kumohon jangan tinggalkan aku..”
Dan hanya seperti itulah… Aku tak mengucapkan sepatah katapun untuknya malam itu. Aku terlalu sibuk memikirkan Shashaa.. Apa yaang terjadi dengannya nanti ketika aku meninggalkannya…

Aku mengumpat kasar setelah ingat kejadian tadi malam. Kejadian diamana aku merasa jika semua ini sudah berakhir. Sialan..!! benar-benar sangat sial.. Aku Melangkah kekamar mandi untuk menenggelamkan diri kedalam Bathup.. putus asa.. sangat putus asa..
Kini badanku sudah segar, tapi nyatanya hatiku masih layu, tak ada semangat hidup kembali. Aku melangkah kedapur, membuat sarapan, tapi langkahku terhenti di meja makan, makanan buatan Shasha tadi malam masih ada.
Aku tersenyum penuh luka saat melihat makanan tersebut, Makanan yang tak dapat lagi kulihat, Ikan yang sering gosong, Telur dadar yang kadang tercampur denga kulit telurnya, sayur yang kadang Rasanya Aneh… aku tak dapat memakannya lagi… padahal aku menyukainya…
Sial..!! kubereskan semuanya… membersihkan semua sisa-sisa tentang Shasha di Apartemen ini. Mungkin Apartemen ini tak akan pernah kukunjungi lagi, atau mungkin aku akan menjualnya. Apa ada yang mau membelinya..???
Aku bergegas ke Basement untuk menghampiri mobilku. Masuk kedalam Mobil lalu melesat menuju ke Apartemen Zoya.
Baru kali ini aku merasakan jika aku sangat enggan untuk pergi menemui Zoya, Aku benar-benar tak ingin bertemu dengannya. Sebut saja aku brengsek, karena itulah Aku.
Aku kesana untuk mengepak seluruh barang-barangku. Aku akan pindah, aku akan tinggal dengaan orang tuaku. Mungkin nanti aku akan menikahi Zoya sebagai tanggung jawab, tapi aku tak yakin jika hubungan kami akan seintim dulu. Aku tak yakin jika kami masih bisa bercinta lagi.
Shasha sudah mempengaruhi semuanya, Dia menenggelamkan aku jauh sangat dalam kedalam ‘Zona Bahaya’ Hingga kini aku yakin jika aku tak akan mungkin bahagia dengan wanita manapun.
Aku masih sama, penampilanku masih terlihat Rapi seperti tak terjadi apa-apa, Masih bisa tersenyum dengan wanita-wanita yang menatapku. Aku tidak terlihat Kesakitan seperti Dhanni saat Nessa meninggalkannya beberapa minggu. Aku juga tak terlihat Berantakan dan Gila seperti Renno saat dia ditinggalkan Allea seminggu lamanya. Aku terlihat baik-baik saja. Diluar……
Tapi diadalam… Aku hancur… Aku tak punya semangat hidup lagi, Keputus-asaan menguasai hatiku. Mungkin Aku akan kembali menggelap, Kembali menjadi lelaki Brengsek dengan banyak wanita di sampingku.
Zoya sedikit terkejut saat melihatku memasukkan barang-barang milikku kedalam kotak-kotak Kardus yang sudah kusiapkan.
“Kamu tetap ninggalin aku..?” tanyanya kemudian.
Aku menatapnya tajam. “Kamu tenang saja, aku nggak akan kemana-kemana.”
“Lalu kenapa barang-barang kamu..”
“Aku akan tinggal dengan Mama.”
“Kenapa dengan Apartemen ini..?”
“Aku tidak bisa Zoya.. aku tak bisa berhubungan denganmu seperti dulu lagi. Ini terlalu berat, terlalu menyakitkan. Aku mencintai seorang wanita tapi hidup dengan wanita lainnya. Aku tidak bisa.” Kataku kemudian.
Dia diam membatu. Sepertinya aku memang sudah keterlaluan mengucapkan kata-kata tersebut. “Dengar, Besok malam aku akan mengajakmu kerumah orang tuaku.” Kataku kemudian. “Kita akan menikah.” Dia terkejut dengan pernyataanku.
Yaa sepertinya memang ini jalan terbaik, kami akan menikah dan melanjutkan hidup seperti biasanya. Hidup yang bagiku sudah hambar, tak ada Rasa, Tak ada warna.
“Kenapa tiba-tiba menikahiku.”
“Apa lagi yang harus aku lakukan terhadapmu..?”
Lalu aku pergi meninggalkannya begitu saja. Brengsek… Lelaki brengsek… yaa itulaah aku, aku tak peduli, toh sejak dulu aku memang Brengsek.
***
Dengan serius aku mempelajari berkas-berkas Meeting di Ruangan Dhanni, Aku terlalu malas ke kantor Renno, Dia sialan. Hingga saat ini dia masih bersikap dingin terhadapku. Bahkan sampai sekarang aku belum menjenguk Allea yang sudah melahirkan tiga minggu yang lalu. Sial…!!!
“Lo berbeda.” Kata Dhanni kemudian.
“Lo nggak usah mulai lagi Dhann.”
“Enggak, Gue pikir ada sesuatu yang membuat Lo berbeda. Lo lebih pendiam.”
“Hhaha sialan..!! Sejak kapan Gue berubah jadi pendiam..?”
“Entahlah… Mungkin…”
“Gue nggak mau bahas itu lagi Dhann.” Aku tau jika Dhanni ingin membahas masalah Shasha, masalah ketika aku mabuk berat setelah pesta pernikahan Renno dan meracau seperti orang Gila di rumahnya.
“Ayoolah Ramm.. Lo terlalu Misterius dengan Kita, Gue nggak bisa bantu Lo kalo Lo sendiri nggak pernah cerita sama Gue.”
Dan Yaaa perkataaan Dhanni ada benarnya juga, Selama ini Dhanni selalu mendukung Renno karena dia tak tau apa yang terjadi. Dan aku tak bisa menyalahkannya.
“Gue putus dengan Shasha.” Kataku kemudian dengan Ekspresi sedatar mungkin.
“Sialan..!! Gue Memang curiga kalau ada sesuatu asama Lo dan Shasha. Kenapa bisa putus..? kapan kalian jadian.? Apa yang terjadi..?”
Dan banyak lagi pertanyaan Dhanni yang memang semuanya harus kujawab. Hingga akhirnya aku menceritakan semuanya, menceritakan tentang hubungan rumitku bersama dengan kedua wanita yang membuatku Gila.
“Sialan..!! Lo brengsek tau nggak.” Umpat Dhanni setelah aku selesai menceritakan semuanya.
“Yaa.. Gue memang Brengsek.” Jawabku datar.
“Kita perlu minum.” Katanya kemudian, Aku mengernyit. Bukankah dia bilang dia nggak akan pergi minum lagi..? “Kita akan minum sampai pagi, Nessa pasti mengijinkan.” Katanya lagi.
Aku memang sedang butuh minum…
Dan seperti inilah sekarang ini… Aku minum seperti orang gila, Dhanni hanya menemaniku, lebih tepatnya dia hanya menjagaku saat aku minum, Aku meracau tak karuan. Semua kenangan Shasha menyeruak begitu saja, Aku tak nyaman.. tak nyaman dengan hidup seperti ini.
***
Bangun dengan kepala berdenyut benar-benar menyusahkanku. Aku melihat sekeliling dan trnyata aku sudah berada di dalam kamar di rumah Mama. Mungkin tadi malam aku meracau tak karuan hingga Dhanni tau jika aku sudah tinggal di rumah Mama sehingga Dhanni mengantarku kemari.
Aku melihat pintu kamarku dibuka, menampilkan Sosok wanita yang sangat kusayangi. Mama. Dia membawa sebuah nampan berisi makanan kesukaanku.
“Kamu sudah bangun..?” Aku hanya mengangguk. “Apa yang terjadi..? Dhanni mengantarmu kesini jam tiga tadi malam, Kamu terlihat Kacau, menangis tak jelas dan selalu menyebut nama Shasha. Kalian ada masalah..?”
“Nggak ada Ma..”
“Ayolah.. Mama ingin tau Cerita tentang kalian.”
“Ma.. Nggak ada cerita apa-apa tentang kami.” Kataku kemudian. Aku tak mungkin bercerita dengan Mama tentang kebrengsekanku karena telah melukai hati banyak Wanita. Apalagi salah satunya Shasha.
“Baiklah kalau kamu belum mau bercerita, Tapi sayang, Dimana kalung kamu, Itu nggak hilang kan..?”
“Hilang saat aku keluar Kota Ma.” Aku berbohong.
“Ya ampun.. kenapa bisa hilang..”
“Biar saja lah Ma.. itu kalung sudah nggak berarti lagi.”
“Kamu kok ngomong gitu sih… itu kan dari orang tua kamu sayang.. siapa tau..”
“Ma…” Aku memotong kalimat Mama. “Kalau mereka orang tuaku, mereka nggak akan ninggalin au di tempat itu, Dan lagian aku sudah memiliki Mama dan Papa, jadi untuk apa lagi aku mencari orang yang jelas-jelas sudah membuangku.”
“Kalau mereka mencarimu.?”
“Kalau kami berjodoh, kami pasti bertemu walau tanpa kalung itu.” Kataku kemudian, sebenarnya aku sedikit enggan membahas tentang kalung itu, Bukan karena itu adalah sebagian dari masalaluku, tapi karena membahas Kalung itu membuatku mengingat Shasha. Sial..!!
“Ma.. Nanti malam masak yang enak yaa.. masak yang banyak.”
Mama terlihat sedikit terkejut dengan permintaanku. “Memangnya kenapa..? Kamu mau ajak teman kamu makan malam disini..?”
“Aku mau ngenalin Mama dengan Calon istriku.”
“Apa..?” Mama menutup mulutnya karena terlalu terkejut. “Kamu nggak bercada kan..?”
“Aku serius Ma.”
“Tapi kamu terlihat nggak senang.” Kata mama sambil memperhatikan Ekspresi wajahku. “Apa dia Shasha..?” tanya Mama kemudian.
Aku menatap Mama dengan Tatapan senduku. Rasanya aku ingin menangis. Sialan..!! sejak kapan aku menjadi Lelaki cengeng seperti sekarang ini..? Jika Dhanni tau, dia pasti akan duduk betepuk tangan dan menertawakan kebodohanku saat ini.
“Ramma, Apa Dia Shasha..?” Tanya Mama lagi karena tadi aku hanya diam membatu.
Aku menunduk dan menggeleng lemah. “Aku berharap saatu-satunya orang yang kunikahi adalah Dia Ma.. tapi ternyata..”
“Mama memang sudah curiga kalau sebenarnya kamu ada masalah. Ayoo ceritakan semuanya sama Mama.”
Dan akupun mulai bercerita. Bercerita semuanya tanpa ada sedikitpun yang tertinggal. Mama kecewa, sungguh sangat kecewa denganku saat mendengar aku pernah menggugurkan Darah dagingku sendiri. Mama Sedih.. sedih ketika mendapatiku tak memiliki pilihan lain selain bertanggung jawab dengan keadaan Zoya, dan juga Mama marah, marah karena aku menyia-nyiakan malaikat seperti Shasha..
Yaa… mungkin ini hukuman untukku, Karma karna sudah banyak mempermainkan wanita.
“Jadi nanti malam kamu akan ajak dia kesini..?”
Aku mengangguk. “Mama jangan Marah sama dia ya… Bagaimanapun juga aku sayang dengan Zoya Ma… meski sebenarnya semua yang kumiliki sudah dimiliki Shasha.”
“Tapi kamu nggak akan bahagia sayang.”
“Anggap saja ini hukuman untukku.” Kataku smbil bergegas pergi kekamar mandi.
Saat aku kembali Mama masih di sana, menungguku. “Ada apa lagi Ma..?”
“Apa Kamu benar-benar yakin akan menikahinya..?”
“Iya Ma..” jawabku dengan lesu.
***
Siang ini aku bolos kerja. Jadwal pemotretanpun jadi berantakan karena patah hati sialan ini. Mobilku seakan-akan berjalan sendiri menuju kesebuah Cafe tempat Shasha bekerja dulu. Kenapa aku mengemudi mobilku kemari..? Dan tentu saja jawabannya karena aku merindukan Shasha, aku ingin melihat wajahnya, senyumannya.
Bodoh… Bukankah aku sendiri yang memintanya berhenti bekerja di tempat ini..?? tapi tak lama aku melihat seorang gadis sedang membawa dua kantung plastik besar dari dalam Cafe, Mungkin itu sampah atau apalah aku sendiri juga tak tau. Dia sedikit keberatan dengan bawaannya tersebut.
Gadis yang kurindukan.. Shasha….
Dia bekerja disini lagi. Dan aku cukup senang karena dapat melihatnya meski itu dari jauh. Aku mengikutinya, melewati blog demi blog. Kenapa dia sendiri yang membuang sampah..? Apa tak ada karyawan lainnya..?? setelah membuangnya Shasha bergegas kembali, dan akupun masih mengikutinya.
Lama aku memandanginya dari dalam mobil, dia membersihkan halaman Depan Cafe tersebut. Dia terlihat biasa-biasa saja, seperti tak terjadi apapun. Tapi aku tau jika dalam hatinya Rapuh, sama sepertiku.
Lalu tiba-tiba aku melihatnya menatap kearahku. Dia menghentikan semua yang dia lakukan dan menatapku dengan tatapan terkejutnya. Cukup lama kami saling memandang tanpa mengeluarkan sepatah katapun. dia Lalu tersenyum, Senyuman yang kurindukan. Dan akupun membalas senyumannya. Kemudian dia masuk kedalam Cafe, dan hanya seperti itulah pertemuan kami. Mungkin setiap hari aku akan mengunjunginya seperti ini, walau tak bisa lagi menyentuhnya tapi melihat senyumannya setidaknya bisa membantuku bertahan melewati semua ini.
***
Aku tak nafsu makan, padahal Mama memasakkan makanan kesukaanku. Tentu saja tak nafsu, entah kenapa masakan Shasha sepetinya lebih enak dimakan saat ini.
Mama sedang asyik bicara dengan Zoya dan Papa, yaa.. akhirnya malam ini terjadi juga. Malam dimana aku membawa pulang calon istriku, dan itu bukan Shasha. Sial..!!! entah kenapa aku masih tak bisa menerima kenyataan itu.
“Makanannya nggak enak..?” Tanya Mama kemudian.
“Enak Kok Ma..”
“Kok Cuma di acak-acak saja..?”
Aku tersenyum hambar, “Tadi sudah makan diluar sama Dhanni.” Aku bohong. Padahal aku terlalu malas untuk berada di dalam keadaan seperti ini.
Dan mereka kembali melanjutkan percakapannya lagi. Sedangkan aku.. Aku hanya bisa menenggelamkan diri dengan pikiran-pikiran yang penuh dengan Shasha dan juga penyesalan-penyesalanku terhadapnya.
***
Makan malam yang seharusnya menjadi makan malam berarti untukku berlalu begitu saja. Aku bahkan tak merasakan jika tadi kami baru saja membicarakan tentang pernikahan. Zoya terlihat sangat antusias sekali saat Mama menyebutkan kata pernikahan. Kenapa..? Apa dia memang ingin menikah denganku..? Bukankah dirinya adalah wanita bebas..? bukankah dirinya masih berhubungan dengan mantan suaminya..? Kadang aku sedikit tak mengerti jalan fikiran Zoya.
Aku mengantarnya pulang dan ketika akan kembali dia menahanku.
“Tinggalah disini malam ini.”
“Maaf.. aku nggak bisa..”
“Ramma… ini menyiksaku.. kita akan menikah tapi kamu bersikap dingin terhadapku.”
“Kamu pikir ini juga tidak menyiksaku..? Aku juga sangat tersiksa Zoya..”
“Itu karena kamu nggak mau melupakan dia.” katanya brteriak histeris.
Aku menghadapnya dan menatapnya tajam. “Terserah apa katamu, kamu nggak akan pernah mengerti apa yang kurasain saat ini.” Lalu aku meninggalkannya begitu saja.
Kemana..? Tentu saja ke Club-club langganan dengan banyak wanita di sampingku. Mabuk adalah jalan terbaik untuk menghilangkan Dua wanita di dalam otakku yang membuat hidupku Hancur dan jungkir balik.
***
Lagi-lagi aku pulang dalam keadaan mabuk berat. Sangat berat hingga aku beberapa kali muntah didalam Mobil. Sialan..!!!
Tapi kali ini aku sedikit tersadar. Aku bahkan meminta salah satu pelayan Di Club tersebut untuk mengantarku pulang. Mama menungguku, saat mengetahui aku pulang dalam keadaan mengenaskan, Mama menatapku dengan tatapan sedihnya.
“Kenapa ini terjadi Ma.. kenapa seperti ini..?” Aku meracau sambil berteriak. Menangis.. tentu saja. Aku tak akan malu menangis di depan Mama.
“Aku meninggalkan wanita yang kucintai hanya karena kesalahan bodohku… Aku bisa melihatnya tapi tak bisa menyentuhnya.. ini benar-benar membuatku frustasi Ma…”
“Tenang sayang.., tenang..” Mama menenangkanku.
“Aku suka masakannya Ma… Sayur anehnya… telur yang masih penuh dengan Kulit..” Lagi-lagi aku meracau tak jelas. “Aku suka semua tentangnya Ma… Aku kangen dia…” aku memeluk Mama sambil menangis. Mirip sekali dengan anak kecil yang minta dimanja dengan ibunya.
“Tolonglah aku Ma… tolong aku… Aku bisa gila karena ini… Tolong aku…”

 

__TBC__

Huaaa… semakin mendekati Akhir nihh… ayooo gimana lanjutannya yaa…????

Advertisements

10 thoughts on “My Everything (Novel Online) – Chapter 10

  1. kasihan banget nasib percintaan ramma dan sasha
    padahal mereka sangat saling mencintai…
    apa zoya cuma bohong soal gg bisa hamil lagi,apa cuma
    cara agar rama gg sama sasha
    penasaran …next part nya di tunggu secepatnya ya…

    Like

  2. stress stress dech loe ramm
    perkiraanku salah ternyata zoya rahimnya bermasalah
    tapi aku juga ngrasa aneh dengan zoya
    lalu buat apa dia masih berhubungan ama mantan suaminya
    kisah ramma emang paling ruwet sendiri ye

    Like

  3. sptx zoya hanya mau menjebak ramma menjdikan milikx sepenuhx,gmnya perasaan ramma klu melihat shasha dekat dgn ricky lg pst makin gila.aish penasaran ma baperx N cemburu yg posesif ramma.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s