Novel Online · romantis

My Everything (Novel Online) – Chapter 9

meUntitled-12My Everything

Chapter 9
-Shasha-

 

 

Cinta membutakan Mata hatiku hingga aku tak tau apa rasa sakit itu…
Cinta membuatku Kebal dengan yang namanya Cemburu…
Mencintaimu bukanlah keinginanku….
Tapi aku bahagia memiliki Rasa itu….
Karena Kaulah segalanya untukku….

***
“Sha… Apa kamu mau jadi istri Mas Ramma..?”
Apa ini mimpi.? Apa dia sedang bercanda terhadapku..? Sungguh kata-kata itu membuatku panas dingin. Aku tak mengerti apa yang terjadi dengannya sehingga dia mengucaapkan kata-kata seperti orang yang sedang melamar. Apa dia memang sedang melamarku..??
Aku menatapnya dengan tatapan terkejut. Tentu saja, kami hanya beberapa hari dekat kembali, dan dia tiba-tiba mengucapkan kata-kata itu. Aku ingin menerimanya, sungguh sangat ingin.
Sebut saja aku Gila atau bodoh, karena memang itulah aku. Bertahun-tahun lamanya aku hanya bisa Stuck dengan seorang lelaki, padahal aku tau jika lelaki tersebut adalah lelaki terbrengsek yang pernah kukenal.
Tapi aku masih memilih untuk tetap bertahan untuknya, berharap supaya dia menoleh kepadaku, menganggapku ada dengan segala macam caraku. Aku berubah sangat drastis hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Merendahkan harga diriku, merubah diri menjadi wanita liar dan penggoda hanya untuknya. Tapi ketika dia melamarku, entah kenapa ada sedikit rasa yang mengganjal di hatiku.
Yaaa… tentu saja, itu karena dia tak pernah mengungkapkan perasaannnya terhadapku. Dia hanya bilang ‘suka’ tapi dia tak tau apa arti dari kata ‘Suka’ tersebut. Dan itu membuatku sedikit bimbang. Bagaimana nanti jika rasa sukanya sedikit demi sedikit luntur lalu dia meninggalkanku..??
“Apa Mas Ramma sedang melamarku..?” aku memberanikan dii untuk bertanya.
“Sebut saja seperti itu.”
“Kenapa tidak melamar kepada orang tuaku..?”
“Aku belum siap.”
Lalu apa maksudnya ini…?? Apa dia ingin menikah denganku dengan cara sembunyi-sembunyi..?? Itu sangat konyol.
“Sha.. dengar.. hubungan kita sekarang memang masih rumit, tapi aku tau perasaanku. Aku sadar jika setiap detiknya aku semakin membutuhkanmu.”
“Lalu bagaimana dengan kekasih Mas Ramma.?”
“Aku akan bicara dengannya setelah dia pulang dari Singapore. Aku tau ini berat untuk kamu, aku juga tak memaksamu.”
“Apa yang membuat Mas Ramma ingin menikahiku..?”
“Karena aku membutuhkanmu.”
“Hanya itu..?”
“Karena kamu satu-satunya wanita yang membuatku ingin mempunyai keluarga kecil seperti sahabat-sahabatku.”
“Kupikir itu bukan alasan yang tepat.” Aku masih mendesaknya.
Dia menghembuskan nafas dengan kasar. “Ok… semua karena Aku mencintaimu, Aku sayang sama Kamu, Kamu segalanya untukku. Dan aku bisa Gila jika jauh darimu.”
Woooww… pernyataannya benar-benar membuatku ternganga.
“Sha.. Sejak dulu hingga sekarang hanya kamu, Baiklah.. aku memang selalu memungkiri semuanya, bahkan dengan brengseknya aku menyakitimu dengan sikap dingin dan kata-kata kasarku. Aku minta maaf, tapi disini.. Disini selalu ada kamu Sha… Aku tak bisa menghilangkan ini, aku tak bisa menghentikan kegilaan ini, ini diluar kendaliku, ini diluar kemauanku.” Katanya dengan telapak tangan yang berada tepat di dadanya.
Yaa… semuanya memang aneh, semuanya menjadi gila karena Cinta. Aku juga tak pernah memilih untuk mencintai dan berharap pada lelaki brengsek, semuanya terjadi begitu saja. Aku juga tak dapat memilih siapa yang harus kucintai dan siapa yang tak boleh dicintai, semuanya terjadi begitu saja.
“Aku tau kamu nggak percaya sama aku.” Katanya kemudian lalu dia mengambil sesuatu yang menggantung di lehernya. “Ini.. Sebagian hidupku ada disini. Ini bukti jika kamu memiliki sebagian dari hidupku.” Katanya sambil mengalungkan sebuah kalung berbandul Tag Tentara berwarna hitam, Didalamnya terdapat tulisan tanggal dan sebuah nama.
“Ramayana..” ucapku saat membaca kata disebuah kalung tersebut.
“Dengar, Aku bukanlah anak kedua orang tuaku. Aku diangkat dari sebuah panti asuhan.” Katanya mulai bercerita dan aku benar-benar terkejut saat dia menceritakan tentang hidupnya padaku. “Kalung itu mungkin saja pemberian dari orang tua kandungku, aku tak peduli. Yang aku tau, sejak kecil aku sudah mengenakannya, tak pernah melepasnya sekalipun. Sebagian jiwaku ada pada kalung itu, sebagian Rahasia masa kecilku ada di sana. Dan aku ingin kamu memilikinya. Aku ingin kalung itu membuatmu percaya jika hanya kamu yang berhak memilikinya, memiliki sebagian Jiwaku.”
Aku masih ternganga saat mendengarnya bercerita, mungkin sedikit terdengar seperti orang yang sedang menggombal. Tapi aku merasakan ketulusan di sana, Matanya menatapku dengan sungguh-sungguh seakan-akan memang akulah orang yang sangat ia harapkan.
“Sha.. aku tak tau lagi harus dengan apa membuktikan Cintaku, aku hanya punya itu dan…”
Dia tak dapat melanjutkan kalimatnya karena aku sudah memeluknya, memeluknya sangat erat. Astaga.. aku benar-benar takut kehilangannya.
“Kamu… Kamu.. menerimaku..”
Dan aku hanya menjawabnya dengan anggukan pasti. Yaa… aku menerimanya, sampai kapanpun aku hanya akan menerimanya, tak akan pernah ada penolakan untuknya. Seberapa besar dia menyakitiku, seberapa sering dia membuatku menangis, kenyataannya hanya dia selama ini yang selalu mengisi hatiku, Tak ada yang lain, tak ada Lelaki lain..
Dia melepaskan pelukannya. “Terimakasih,” katanya kemudian, lalu menciumku dengan sangat lembut. Amat sangat lembut hingga aku merasakan seakan-akan bibirku dibalut dengan Kapas halus. Tak ada gairah atau nafsu didalamnya.. dan aku sangat suka diperlakukan seperti ini…
Dia melepaskan ciumannya, lalu mengangkat daguku dan menatapku dengan sungguh-sunggu. “Ingat kata-kataku. Setelah semuanya selesai, setelah semuanya membaik, Aku akan melamarmu di depan Orang tuamu, dan tentunya di depan kakak Brengsekmu itu.” Katanya berjanji.
Aku sedikit tersenyum mendengar dia menyebut Mas Renn brengsek. “Mas Renn nggak brengsek.”
“Apa kamu tau, beberapa hari ini dia mendiamiku, bersikap dingin kepadaku.”
“Itu karena dia ingin melindungiku.”
“Aku bisa melindungimu.” Jawabnya kemudian. Mas Ramma memang seperti anak kecil ketika sedang marah. Ya tuhan… semoga semuanya membaik, dan Kami bisa bersatu setelah bertahun-tahun saling menahan diri.
***
Terbangun Dini Hari. Aku merasakan udara dingin berhembus dari jendela yang tadi lupa kututup. Aku berusaha bangun tapi tangan kekar ini menghalangiku.
“Kenapa..? Kamu mau kemana..?”
“Dingin.. aku mau menutup jendelanya.”
“Biar saja, biar terasa lebih romantis.” Katanya sambil mengusap-usapkan wajahnya di punggung telanjangku. “Dingin lebih baik, jadi aku bisa menghangatkanmu.” Lanjutnya lagi semakin mempererat pelukannya.
Aku suka dia memperlakukanku seperti ini. Tiba-tiba aku merasa takut, aku takut jika semua ini akan berakhir. Aku takut jika aku tak bisa setegar dulu untuk menghadapinya.
“Mas..”
“Hemmbb..”
“Bagaimana Kalau rencana kita gagal. Maksudku.. bagaimana kalau..”
“Sha… Apapun yang terjadi, hatiku tetap untukmu, Jiwaku bahkan masih dalam genggamanmu. Entah aku berakhir dengan mu atau tidak, kenyataannya semua milikku sudah ada dalam tanganmu.”
Aku tersenyum mendengarnya, perasaan lega bercampur dengan bahagia membuncah di hatiku. “Emmm… Bagaimana dengan kekasihmu..? bagaimana perasaannya..?”
Aku merasakan dia membenarkan posisinya semakin mengeratkan pelukannya terhadapku. “Setauku dia yang menyuruhku memilih, Antara kamu atau dia.”
“Lalu..”
“Sha.. aku tak mau ada rahasia diantara kita, Jujur saja, aku belum siap meninggalkannya. Bagaimanapun juga dia yang selama 4 tahun ini menemaniku, dia bahkan sempat dua kali mengaandung anakku.”
“Apa..?”
“Yaa.. dan kami menggugurkannya, itu yang membuatku tak bisa meninggalkannya. Aku menyesal terhadapnya.”
Aku menutup mulutku agar tak beteriak, benar-benar Syokh mendengar penjelasannya.
“Tapi saat ini, Sungguh, Aku hanya ingin memilihmu. Hanya Kamu.” Kali ini dia berkata sambil mengecup pungungku.
“Terimakasih..” hanya itu yang dapat kukatakan. Aku lalu berbalik menghadapnya lalu memeluknya erat-erat. Aku tak ingin kehilangan dia…
***
Akhirnya hari sabtupun tiba, Hari dimana aku harus berpisah dengannya selama dua hari. Sore ini aku ingin bertemu dengan Ricky yang statusnya masih menjadi pacarku.
Aku ingin memutuskannya…
Terdengar egois memang, tapi aku harus melakukannya, Ricky baik terhadapku, aku tak mungkin membiarkannya selalu mengharapkan orang seperti aku. Walau misalkan saat ini aku tak bersama dengan Mas Ramma, aku akan tetap memutuskannya. Dia terlalu baik untuk Kumanfaatkan.
“Haii..” sapanya sambil tersenyum sumringah terhadapku.
Dan dia memang selalu seperti itu. Ceria. Aku suka..
“Hai.. Bagaimana kabarmu..?” sapaku kembali padanya.
“Aku baik.. kamu sendiri..?”
“Baik juga..”
Dan akhirnya kamipun tenggelam dalam percakapan sehari-hari. Hingga pada akhirnya aku harus mengatakannya kepada Ricky tentang apa yang sudah ada didalam hatiku.
“Ky..”
“Iyaa..”
“Emm.. Sepertinya… Sepertinya kita nggak bisa bersama lagi.” Kataku kemudian.
Dia terlihat terkejut dengan ucapanku. “Kenapa..?”
“Aku tidak mencintaimu Ky.. Maafkan aku.”
“Kamu bisa belajar mencintaiku, Aku akan mengajarimu.”
“Maaf.. tapi aku sudah mencintai lelaki lain.” Dan setelah kata-kataku itu dia diam. Kami terdiam cukup lama, Aku benar-benar merasa tak enak hati dengannya, dia sangat baik terhadapku selama ini.
“Baiklah jika itu keputusanmu, Tapi jangan larang aku untuk tetap berteman denganmu.” Katanya kemudian membuatku sedikit terkejut.
Akupun memeluknya. “Astaga.. tentu saja… Kamu tetap teman terbaikku.” Kataku lagi, dan kamipun berlanjut saling bercerita. Aku sedikit lega, satu masalah sudah teratasi. Semoga masalah Mas Ramma juga cepat teratasi.
***
Aku pulang mendapati Mbak Allea sedang membuat susu di dapur.
“Mbak.. apa kabar..?”
Mbak Allea sedikit terkejut melihatku. “Kamu sudah pulang, Yaa seperti yang kamu lihat.”
“Mas Renn kemana Mbak..?”
“Kamu nggak tau..? Dia sedang keluar kota, mungkin senin baru pulang.”
“Apaan sihh.. masak Weekend gini kerja diluar kota. Apa dia nggak takut Kalau Mbak Allea tiba-tiba melahirkan. Jangan-jangan… memangnya mbak Allea nggak curiga..?” aku menggodanya.
Dan Mbak Allea tersenyum. “Enggak Sha.. Mas Kamu Lelaki setia, tidak seperti pacar Kamu. Lagi pula jadwal kelahirannya masih dua minggu lagi.”
Dan kamipun tertawa bersama, yaa… Mbak Allea memang tau hubunganku dengan Mas Ramma.
“Mbak… dia.. Melamarku.”
“Astaga.. apa itu benar,,?” Mbak Allea terlihat sedikit terkejut.
Aku mengangguk antusias. “Ini buktinya..” Kataku sambil mempamerkan kalung pemberian Mas Ramma.
“Yaa ampun.. ini manis sekali..”
“Tapi masih ada satu masalah Mbak.dia belum putus dengan pacarnya.”
“Zoya..?”
Dan aku mengangguk. “Sepertinya dia wanita baik, dan aku sedikit tak enak dengannya.” Kataku kemudian.
“Zoya memang wanita baik. Tapi bukankah semuanya tergantung Mas Ramma, Jika dia memilihmu, itu tandanya kamu lebih baik dibandingkan Zoya.” Kata mbak Allea kemudian. Dan aku sangat berterimakasih karena dia sudah memberiku support seperti sekarang ini.
“Mbak.. Apa nanti mbak mau membantuku untuk membujuk Mas Renn..?”
“Tentu saja, kalau itu terbaik untuk kamu, Mbak akan bantu.”
Dan aku benar-benar sangat lega sekali. Terimakasih Tuhan.. Kau telah memberikan Malaikat di tengah-tengah keluarga kami… gumamku dalam hati.
***
Hari demi haripun berlalu.. minggu demi minggu, dan ini sudah lebih dari Satu bulan lamanya Mas Ramma belum memberikan kepastian karena memang Zoya belum pulang dari Singapore.
“Aku ingin semuanya cepat berakhir Sha..” kata Mas Ramma. Saat ini kami sedang berada di balkon Apartemennya menikmati dinginnya malam berdua saja duduk di atas ayunan yang memang kebetulan tersedia di balkon ini.
“Aku ingin cepat-cepat melamar kamu dengan sebenar-benarnya, Aku capek, Renno selalu bersikap dingin padaku.”
“Maafkan Mas Rann ya..”
“Dia nggak salah, dia hanya terlalu sayang sama Kamu.”
Aku tersenyum malu. “Tapi tetap saja dia keterlaluan.”
“Kalau aku punya adik perempuan, aku akan melakukan Hal yang sama Sha..”
Dan Kamipun sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Menikmati suasana Hening yang terasa sedikit lebih romantis dibandingkan malam-malam sebelumnya.
“Bagaimana Kalau dia tak mau putus denganmu Mas..?”
“Aku tetap meninggalkannya.” Jawabnya kemudian, jujur saja aku sedikit terkejut dengan jawabannya. “Sha… Aku juga sayang dengannya, Tapi hanya sebatas sayang karena dia sudah berada di sampingku selama empat tahun lamanya, Kalian berdua sama-sama berarti untukku, tapi tentu saja aku harus memilih salah satunya. Aku nggak mau Kita sama-sama terluka nanti.”
“Terimakasih sudah memilhku..” Kataku kemudian sambil memeluknya.
“Dan aku juga berterimakasih karena kamu mau menungguku selama ini.” Dia membalas pelukanku sesekali mengecup ubun-ubunku. Romantis.. sangat Romantis.. Mas Ramma tidak menggebu-nggebu seperti biasanya. Dan aku sangat menyukai saat-saat seperti ini, saat-saat dimana hanya ada Cinta dan kasih sayang bukan sekedar nafsu belaka.
***
Tadi Kata Mas Ramma hari ini Zoya akan pulang dari Singapore, dia akan mengatakan keputusanya malam ini juga, jadi mungkin dia nanti akan sedikit pulang malam, atau bahkan tak pulang.
Tapi aku masih tetap setia menunggunya, membuatkan makan malam seadanya untuknya. Aku sedikit heran dan malu dengan diriku sendiri. Heran karena betapapun aku belajar masak dengan Mbak Allea, tapi rasa masakanku selalu berantakan. Aku malu.. Sungguh sangat malu dengan Mas Ramma. Apalagi ketika dia dengan santainya memakan semuanya dan menghabiskannya. Dia berkata jika rasanya aneh, tapi ini tetap enak karena buatanku. Astaga… dengan kemampuannya merayu seperti itu, dia memang sangat Cocok untuk menjadi Playboy kelas Kakap.
Mengingat hal itu, aku mulai terseenyum sendiri. Gila.. Ya… aku akhir-akhir ini memang semakin Gila. Tersenyum sendiri, tertawa sendiri saat mengingat masa-masa kami bersama akhir-akhir ini. Aku juga Bodoh… Yaaa sangat Bodoh… Bodoh karena apapun yang dia katakan, aku pasti menerimanya, Otakku seakan-akan tak sanggup untuk menolak setiap kata dari permintaannya.
Aku mendengar Pintu Depan berbunyi seperti di buka, Dan yaa… mungkin saja Mas Ramma sudah pulang. Kenapa cepat sekali..? Kupikir dia menginap disana dulu.
“Hai..” Sapaku dengan penuh senyuman.
Aku melihat wajahnya pucat, tubuhnya Lesu. Ada apa..? Apa dia sakit..? Aku menghampirinya membawakan Tas dan Jasnya. Dan dia belum berkata sedikitpun.
“Apa ada yang salah..?” tanyaku kemudian. Dan dia hanya menggelengkan kepalanya. Dia langsung masuk begitu saja kedalam kamar, mungkin ingin segera mandi supaya lelahnya hilang. Akhirnya aku memilih untuk menyiapkan makanan di meja makan. Dan yaa… makanan yang sangat berantakan. Ikannya Gosong karena tadi saat aku memasaknya aku sambil berteleponan dengan Mbak Allea untuk meminta Resep, Belum lagi sayurnya yang astaga.. aku tak tau bagaimana rasanya nanti. Semoga dia tak sakit perut saat memakannya.
Saat aku sibuk menyiapkan makan malam kami, tiba-tiba aku merasakan seseorang memelukku dari belakang. Aromanya sangat wangi.. Khas orang setelah mandi, Wangi dan segar. Mas Ramma memelukku, dan entah aku salah pendengaran atau apa, Aku mendengar dia sedikit terisak.
Menangis..??
Apa dia menangis..??
Aku ingin membalikkan tubuhku supaya melihat wajahnya, tapi dia menahanku seakan-akan tak memperbolehkan aku melihatnya. Dia benar-benar menangis, Isakannya sekarang bahkan terdengar sangat jelas. Ada apa ini..? Apa yang terjadi..??
Lama dia memelukku dari belakang dengan terisak. Hingga kata-kata itu meluncur dari bibirnya, kata-kata yang diikuti dengan tangisannya.
“Aku nggak bisa meninggalkannya Sha..” Katanya lirih.
Saat itu juga aku tau jika hubunganku dan Mas Ramma akan segera berakhir. Tuhan.. Kenapa seperti ini..? Kenapa Kau berikan kami hari-hari indah bersama jika pada akhirnya kami tak bisa bersatu..?? Aku tak tau apa alasannya dia tak bisa meninggalkannya yang aku tau mungkin itu bukan alasan yang biasa.. Aku masih terdiam terpaku karena pernyataannya.
“Maafkan Aku.. Aku nggak bisa ninggalin dia..” Katanya lagi, dan aku masih terdiam tak menanggapi. Semuanya terasa kabur, warna-warna kehidupan yang beberapa hari ini menghiasi hari-hariku kini berubah menjadi abu-abu… kenapa berakhir seperti ini..??
Dia membalikkan tubuhku dan memelukku erat-erat seakan-akan takut jika aku pergi meninggalkannya. Bukankah seharusnya aku yang takut dia pergi meninggalkanku..??
“Tampar Aku Sha.. Marahlah padaku.. Pukul aku… Sumpahi aku… Akubenar-benar lelaki Brengsek, Bajingan yang nggak punya Hati karena sudah mencampakan Kamu.. Buat dirimu membenciku Sha… Buatlah aku supaya sedikit menghilangkan rasa bersalah ini untukmu..” katanya masih dengan memelukku.
Aku lalu melepaskan pelukannya menatapnya dengan tatapan lembut. Kutangkup kedua pipinya dengan keduua telapak tanganku. “Aku percaya padamu Mas.. Kamu bukan Lelaki Brengsek, Apapun keputusanmu, Aku akan mengikutinya, aku tau jika itu yang terbaik untuk semuanya.” Kataku selembut mungkin. Aku ingin selalu terlihat tegar dimatanya.. terlihat bodoh dan lemah… memang itulah aku.. Aku hanya terlalu Cinta dengan lelaki di hadapanku saat ini.
Tiba-tiba dia menyambar bibirku. Menciumku penuh dengan Emosi. Emosi dan gairah bercampur aduk menjadi satu hingga sekejap saja Ciuman ini berubah menjadi Ciuman Panas Nan Erotis.
Saat ini aku bahkan tak menyadari, sejak kapan kakiku melangkah hingga kini aku sudah telentang di ranjangnya dengan dia diatasku. Pakaiankupun di lucutinya satu persatu hingga kini meninggalkan aku yang Polos dibawahnya. Aku juga mencoba untuk membuka Kaosnnya. Setelah kami sama-sama polos tanpa banyak pemanasan Lagi dia memasukiku dengan sempurna. Membuatku sedikit terkejut.
Dia memelukku, menciumi setiap inci dari kulitku, seakan-akan Mengklaim jika aku miliknya, aku hanya terlahir untuknya. Mengingat itu, Aku menangis… Aku mengingat jika ini malam terakhir kami. Dia menghentikan aksinya dan menatapku dengan tatapan sendunya. Dia tersenyum tapi matanya mengeluaran airmata… Tangannya meraih jemariku, menciuminya. Lalu dia mengecup kedua mataku yang sudah penuh airmata.
“Jangan menangis..” Ucapnya serak.
“Mas Ramma juga menangis..” jawabku kemudian.
Lalu dia mencumbu bibirku kembali sambil melanjutkan Aksinya, mencumbu dengan sesekali terisak, dan akupun sama, Kami sama-sama menangis. Bercinta penuh dengan emosi…
Hingga akhirnya gelombang kenikmatan itu menghantam kami… tapi tak lama kami melakukannya lagi.. Lagi dan lagi.. seakan-akan tak ada lagi hari esok… seakan-akan ini adalah terakhir kalinya kami bercinta. Seakan-akan kami tak akan pernah bertemu lagi… Aku bahkan tak tau itu sudah berapa kali, tapi kami sama-sama menikmatinya. Jika bisa menghentikan Waktu, aku akan menghentikan waktu detik ini juga, detik dimana tubuh dan jiwa kami menyatu tak mempedulikan hari esok seperti apa, tak mengkhawatirkan tentang perpisahan… sungguh.. aku ingin menghentikan waktu saat ini juga…

___TBC__

Aku hadir lebih cepat yaa… hehheheh jangan bosan yaaa…. hadehhh kok jadi nyesek gini sihh.. hikkss.. hiksss…. ok makasih udah membaca, selamat menunggu Chapter selanjutnya… 🙂 😉

Advertisements

8 thoughts on “My Everything (Novel Online) – Chapter 9

  1. apa zoya hamil lagi makanya ramma gk bisa ninggalin zoya
    dasar brengsek
    biar dihabisin ama renno juga dannie
    kan kan bikin emosi
    sasha terlalu juga sich udah siap dengan segala kesakitan yang aian dia tanggung
    hadeuhhh jadi gedek sendiri kan gw

    Like

  2. kezel ma ramma yang plinplan,shasa jg mau disakiti kan mending dia ma ricky aja yg tulus mencintaix,atu coba jauhin ramma biar dia gila sekalian kan kata ramama shasa bagian dari ji
    wax jadi renggut aja sebagian hidupx biar dia tau rasa sakitx kehilangan orang yang dicintai,nda usah pake kekerasan org spt ramma akan hancur sdr kok.

    Like

  3. salut for shasha yg mengalah demi membuat wanita lain bahagia,N ramma kasian deh lo terjebak oleh keraguanmu sdr,truz buat zoya kamu kan nyesel telah berbohong suatu saat pasti ketahuan dan kamu akn kehilangan segalax.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s