Novel Online · romantis

My Everything (Novel Online) – Chapter 8

MEposter1My Everything

Chapter 8

 

 

Dia membalut luka di tanganku, Aku memperhatikan setiap inci dari wajahnya. Sungguh, aku masih sedikit heran. Sejak kapan Shasha tumbuh menjadi wanita yang sangat menggoda, dan bibirnya.. Sialan.!! Aku tak bisa berkata-kata lagi, bibir itu benar-benar sangat menggoda, akhirnya aku hanya bisa menelan ludah dengan susah payah.
“Kenapa Mas Ramma melukai diri sendiri…?” tanyanya masih dengan membalut lukaku.
“Aku pantas mendapatkannya karena aku brengsek.” Jawabku kemudian.
Dia lalu terseenyum. “Berarti aku wanita paling brengsek karena sudah menggoda lelaki brengsek..”
“Hahhaah .. Jangan bicara seperti itu, kamu gadis baik, bukan wanita brengsek.” Kali ini aku berkata sambil mengecup keningnya.
Setelah selesai membalut lukaku, Kami lalu makan bersama malam ini. Walau rasanya sedikit aneh, tapi aku senang jika semua ini buatan Shasha untukku. Shasha memang bukan Gadis yang panndai masak. Dia hanyalah Gadis manja yang berusaha menjadi wanita dewasa di hadapanku.
“Bagaimana Rasanya..?” tanyanya antusias.
“Ini nggak seperti makanan.” Jawabku asal.
Shasha lalu berjalan kearahku dan bergelung diatas pangkuanku dengan manjanya. “Kok Gitu sih.. padahal aku sudah capek-capek belajar masak Untuk Mas Ramma.” Katanya Manja. Dan astaga… sejak kapan dia berani duduk di pangkuanku dan menjadi wanita penggoda..?
“Jadilah diri sendiri, jangan meniru orang lain. Aku suka kamu yang apa adanya.” Kataku sedikit menegang. Tentu saja.. dia mendudukiku dan ya ampun… baru satu jam yang lalu kami melakukan Seks yang menakjubkan. Aku menginginkannya kembali.. “Sejak kapan kamu berubah menjadi wanita penggoda seperti ini..?”
Dia tersenyum manis, sangat manis. “Aku akan berubah menjadi Apapun asalkan itu bisa mendekatkan diri dengan Mas Ramma..”
Dan akupun tersenyum sesekali mengecup bibir manisnya. “Dan aku lebih suka melihatmu menjadi gadis kecil yang kukenal dulu.”
“Benarkah..?” Tanyanya dengan menaikkan sebelah alisnya. “Lalu kenapa pacar mas Ramma kebanyakan wanita yang sudah berumur..?”
“Karena aku tertarik dengan mereka, bukan suka dengan mereka.”
“Apa bedanya tertarik dengan suka..?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. “Kupikir Tertarik dan suka itu sedikit berbeda, bagiku Tertarik Adalah perasaan suka karena melihat tampilannya, Sedangkan jika Suka berarti yaa hanya suka, tak ada alasan lain kenapa kamu menyukainya” jawabku sambil mengangkatnya dari pangkuanku, sungguh aku tak akan tahan jika dia lebih lama lagi berada diatas pangkuanku.
Dia berdiri dan menatapku dengan tatapan tak terbacanya. “Apa suka itu sama dengan Cinta..?” tanyanya kemudian.
Lagi-lagi aku tertawa. “Ayolah Sayang… jangan bahas Cinta, Mas Ramma nggak tau apa-apa tentang Cinta, Apa belum cukup jika aku bilang bahwa aku suka sama kamu..?.”
“Bagiku belum Cukup.” Jawabnya tegas. Dan aku hanya tersenyum melihat kegigihannya.
“Aku nggak tau apa Cinta itu.” Kataku kemudian.
“Aku akan Mengajari Mas Ramma jika Mas Ramma bersedia.”
“Benarkah..? Memangnya kamu tau apa Cinta itu..?”
Dia mengangguk. “Cinta memiliki banyak Arti, tergantung dari mana kita melihatnya.” Dia mulai menjelaskan. “Bagiku Cinta adalah ketika kita tak mampu lagi berpaling dari seseorang walau orang itu sudah menyakiti kita dan tak pernah mengangggap kita ada.”
Dengan tersenyum aku berkata. “Sepertinya kamu menyindirku.”
“Yaaa Aku memang menyindir Mas Ramma, Karena aku Cinta sama Mas Ramma.” Aku menegang saat mendengar ucapan cintanya. Ada apa ini..?
“Bagaimana jika Aku mencintai wanita lain..?” tanyaku kemudian
“Aku Rela menjadi yang Kedua, Ketiga dan seterusnya.”
“Benarkah..? Kupikir kamu nggak sebodoh itu.”
Dia lalu tersenyum manis. “Kalau aku tak sebodoh itu, saat ini aku nggak akan berada di sini Mas. Aku tak akan mau menjalin hubungan dengan Lelaki yang memiliki kekasih. Tapi sekarang aku tetap melakukannya, aku bahkan rela memberi harta berhargaku Karena itu Kamu.” Jawabnya sambil berjalan kearah dapur membawa piring-piring kotor sisa makan malam tadi.
‘Deg… Deg… Deg…’
Jantungku tak berhenti berdetak keras, Nafasku sesak mendengar penjelasannya. Shasha bahkan sudah mengetahui hubunganku dengan Zoya bahkan mungkin dengan wanita-wanita lainnya. Tapi dia masih berdiri disini denganku. Apa dia tak Cemburu..?
“Apa Kamu nggak Cemburu..?”
Dia mencuci piring lalu menoleh kebelakang dan memandangku lengkap dengan senyumannya. “Sejak beberapa tahun yang lalu kamu yang mengajariku untuk tidak Cemburu.”
Aku..?? Aku benar-benar tak mengerti apa katanya, sejak kapan aku mengajarinya untuk tak Cemburu..?
Melihat wajah bingungku, Shasha lalu tersenyum dan berkata. “Dulu Aku Cemburu saat melihat Mas Ramma dekat dengan Wanita, tapi Seringnya Mas Ramma berdektan dengan wanita membuat kepekaan Rasa Cemburuku itu menghilang sedikit demi sedikit, Hingga kini aku bisa mengontrolnya. Aku bisa memaklumi jika Mas Ramma tak hanya bisa hidup dengan seorang wanita.”
Dan mendengar pernyataannya itu tanpa sadar kakiku melangkah kearahnya, memeluknya dari belakang, menyandarkan kepalaku di pundaknya sesekali menghirup aroma wangi rambutnya. “Sejak kapan kamu berubah menjadi sedewasa ini..?” tanyaku tanpa sadar. Yaaa sejak kapan gadis yang 6 tahun lebih muda dari pada aku ini mempunyai pemikiran sangat dewasa..?? dia bahkan bisa membagiku dengan wanita lain.
“Sejak Kamu menolakku dan bersikap dingin padaku.” Jawabnya kemudian.
Aku membalikkan tubuhnya hingga menghadapku. “Aku minta Maaf, aku benar-benar minta Maaf. Saat itu aku hanya tak ingin hubungan kita hancur hanya karena Cinta sesaat.”
“Nyatanya hubungan kita tetap hancur kan pada saat itu, dan hingga kini kita masih merasakan imbasnya.”
Yaaa… Aku mengangguk pelan. Memang sejak awal salahku. Jika aku mncoba berhubungan dengan Shasha sejak awal mungkin sekarang tak akan serumit ini. Renno juga mungkin tak akan menentang habis-habisan hubunganku dengan Shasha. Dan Zoya.. mungkin aku tak akan mengenalnya.
“Semuanya memang salahku.”
Dia menangkup kedua pipiku. “Salahku juga Mas… Aku terlalu percaya diri untuk mengatakan Cinta di usia dini tanpa memikirkan Resikonya.”
Kata-katanya benar-benar menghangatkan hatiku. Shasha yang kukenal saat ini benar-benar sudah berubah dengan Shasha yang dulu. Dia Dewasa.. Jauh lebih dewasa dari umurnya. Sikap lembutnya mengingatkanku dengan Mama, orang tua angkatku yang sangat kucintai. Aku memiliki rasa Keakraban dengannya, bukan sekedar gairah Seks. Belum lagi tampilan Fisiknya yang menambah nilai Plus.. Sepertinya… sepertinya Aku tak akan sembuh.. Aku semakin parah, Dan jatuh semakin dalam kedalam ‘Zona Bahaya.’ Bagaimana ini..??
Tanpa sadar tenyata aku sudah mengulum bibir manis Shasha, melumatnya penuh dengn gairah nafsu yang membara, Aku mendorongnya kebelakang hingga dia menabrak meja dapur. Sedikit kuangkat tubuhnya dan mendudukkannya di atas meja dapur, masih dengan mengulum bibir manisnya.
“Aku menginginkanmu sekarang..”
“Lakukanlah…” katanya sedikit mendesah.
Dan akupun tak menunggu lama lagi, tanganku yang sejak tadi sudah berada di dadanya kini turun untuk meraba titik sesitifnya, memeriksa apa dia sudah basah dan siap untukku atau belum. “Kamu Basah.. kamu sudaah siap..” kataku sambil mengecupi leher jenjangnya.
Aku meraih saku belakang celana Jeansku, tempatku biasanya menyimpan bungkusan Foil untuk berjaga-jaga. Ternyata tak Ada. Mencari di saku satunya dan ternyata juga tak ada. Akhirnya aku melepaskan cumbuanku. Menatap matanya yang berkabut. “Tunggu sebentar yaa.. Aku akan mengambil..”
Dia memotong kalimatku dengan mencium bibirku. Sialan..!! jika seperti ini aku tak akan tahan walau hanya masuk kekamar sebentar untuk mengambil pengaman. “Lakukanlah sekarang.” Katanya membuatku sedikit terkejut. Dia ingin aku didalamnya tanpa pengaman, apa dia sudah Gila..??
“Tidak Sha… Kamu tau Resikonya..”
“Aku nggak akan Hamil. Ini bukan masa suburku.”
“Kamu yakin..?”
Dia mengangguk pelan, “Percayalah Mas.. Aku nggak akan Hamil.” Dan tanpa banyak bicara lagi kusisipkan diriku hingga masuk sepenuhnya kedalam dirinya.
Dia Mengerang…!! Sialann..!!! Masih sangat Sempit. Dan akubenar-benar bisa Gila karenanya. Bercinta di meja dapur dengan berpakaian lengkap tanpa pengaman benar-benar sangat menggairahkan. Entah itu karena dapurnya, atau karena orangnya, aku tak tau. Yang jelas aku tak pernah merasa sepuas ini saat bercinta dengan seseorang. Sangat puas hingga aku menginginkannya lagi dan lagi.
Dia mengetat, aku tau jika dia akan sampai dan itu semakin menyiksaku. Aku menghujamnya berkali-kali, mencari kenikmatan untuk kami, dia mendesah bahkan mengerang nikmat, dan akupun sama, berkali-kali aku bahkan mengumpat hanya kerena tak tahan dengan semua kenikmatan yang kuterima.
“Aarrggghh..” teriaknya dan aku tau jika dia sudah sampai. Dan tanpa pikir panjang lagi, aku mempercepat lajuku hingga aku menyusulnya di puncak kenikmatan tersebut.
***
Aku terbangun masih dalam keadaan polos, tanpa sehelai benangpun. Kupandangi pundak wanita di sebelahku yang terlihat polos dan memiliki beberapa bercak merah karena jejak-jejak yang kuberikan padanya tadi malam. Sedikit teringat tentaang Zoya, biasanya dia yang menemani pagiku, menyambut saat aku membuka mata. Tapi sekarang Shasha yang menemaniku. Aku mengecup pundaknya berkali-kali. Dan dia masih tak bangun. Mungkin kelelahan. Dasar pemalas.
Akhirnya aku bergegas masuk kedalam kamar mandi. Mandi pagi karena pagi ini ada jadwal Rapat di kantor. Saat aku kembali dari kamar mandi dengan badan yang sudah lebih segar, Aku mendapati Shasha sudah duduk manis menungguku, dia mengenakan kmeja hitam panjangku yang sangat kontras dengan kulit putihnya, membuatku menelan ludah dengan susah payah.
“Emm.. Nggak apa-apa kan kalau aku pakai kemeja Mas Ramma..?” tanyanya dengan malu-malu.
Aku menghampirinya lalu menyambar bibirnya. “Pakailah sesukamu, tapi kumohon… jangan kenakan itu pagi ini.. itu membuatku menginginkanmu lagi, dan demi tuhan.. aku ada rapat pagi ini.”
Dia terkikik karena mendengar permintaanku. “Maaf.. aku hanya ingin mengetahui reaksi Mas Ramma saat aku mengenakan kemeja ini.”
“Jadi kamu niat untuk menggodaku..?” dan dia hanya tersenyum geli.. “Dasar Gadis naakal.. lihat saja nanti malam, aku akan membuatmu tak bisa berjalan hingga meminta ampun dan meminta untuk berhenti.” Kataku dengan sedikit menahan gairah yang sudah hampir meledak.
“Lakukan Saja Weewwkk.. Aku nggak takut.” Katanya sambil menjulurkan lidahnya dan berlari kearah kamar mandi. Sialan…!!1 Gadis Nakal.
Tak lama dia keembali dengan badan yang sudah segar, Aromanya benar-benar menggiurkan. Aku sudah rapi dan sedang berdiri menunggunya sambil memutar-mutar Dasi yang kubawa.
“Apa..?” tanyanya padaku.
“Pasangkan ini, Aku nggak bisa memakai Dasi sendiri.” Kataku manja sambil menghampirinya.
“Beneran Mas Ramma nggak bisa pakai dasi..?”
Aku mengangguk. Jujur saja aku memang tak bisa mengenakan dasi sendiri. Sejak dulu aku terlalu malas untuk mengenakan Dasi. Dulu Mama yang memakaikannya untukku, setelah aku tinggal dengan Zoya, Zoyalah yang memakaikannya untukku. Dan jika tak ada siapapu yang bisa memakaikannya, Aku hanya bisa puas dengan mengenakan Kemeja saja tanpa dasi.
“Sini.. biar aku bantu,” Katanya menrikku mendekat dengannya.
Kulihat wajah seriusnya saat memasangkan dasiku, dan.. Aku terpesona. Sungguh, terpesona dalam arti yang sebenarnya, bukan terpesona kareena mengnginkan Seks. “Siapa yang mengajarimu memasang dasi..?” tanyaku penasaran.
“Setiap pagi Mbak Allea selalu memasangkan Dasi untuk Mas Renn setelah sarapan pagi. Astaga.. mereka benar-benar Mesrah hingga membuatku mual.”
“Kamu iri.”
“Enggak… ngapain aku iri…”
“Hahaha terlihat jelas dari cara kamu bicara.” Tambahku lagi. “Sha.. aku sudah memutuskan sesuatu.”
“Apa..?”
“Nanti Sore kita ketempat temanku. Dia Dokter, Dan aku mau… Kamu menggunakan pengaman.”
Dia sedikit terkejut dengan permintaanku. “Kenapa harus Aku..?”
“Karena aku tak akan mau memasukimu dengan menggunakan pengaman lagi. Sialan..!! tadi malam benar-benar memuaska.” Pipinya bersemu merah, dia malu.
Lalu aku megecup singkat bibirnya. “Aku ingin hubungan kita lebih baik lagi.” Pungkasku kemudian lalu melumat bibirnya kembali.
***
Aku duduk di sebuah Cafe tempatku membuat janji temu dengan Zoya setelah selesai Rapat. Tak lama aku melihatnya datang, wajahnya masih terlihat murung. Sialan..!! dia masih marah.
“Gimana kabar kamu..?” Aku mulai bicara.
“Baik, seperti yang kamu lihat.” Dan sejak kapan sikaapnya menjadi secuek ini terhadapku..?
“Aku sudah melakukannya.” Kataku kemudian. Dia terlihat terkejut, lalu menatapku seakan meminta penjelasan. “Aku sudah meniduri Shasha seperti yang kamu mau, aku sudah memperlakukannya sama seperti aku memperlakukan wanita simpananku lainnya.” Jawabku dengan sedikit ketus.
Dia terlihat senang dan antusias. Sialan..!! Wanita mana yang senang saat mendengar kekasihnya tidur dengan wanita lain..? Zoya benar-benar aneh.
“Benarkah..? Apa kamu serius.?”
“Kamu Gila.” Bentakku kemudian. “Kamu nggak tau apa yang sudah kamu lakuin. Kamu mendorongku supaya aku mau meniduri Shasha supaya dia terlihat sama dengan Kalian, tapi kamu salah, Bagaimanapun juga Shasha tetap berbeda. Dan apa kamu tidak takut jika aku mulai kecanduan dengannya lalu meninggalkanmu..??”
“Itu tidak mungkin, Tunggu saja, setelah sebulan kemudian kamu pasti bosan dengannya.”
“Jika tidak..?”
“Aku akan meninggalkanmu.” Jawabnya dengan pasti.
“Sialan…!!! Enggak… enggak bisa, Aku belum siap kamu ninggalin aku.” Jujur saja, seberapapun Shasha mempengaruhi hidupku, berpisah dengan Zoya adalah hal terakhir yang pernah aku pikirkan. Aku sayang dengannya Meski kini aku sadar perasaanku kepada Shasha tak pernah hilang bahkan semakin tumbuh sangat cepat seperti roket. Aku belum mau berpisah dengan Zoya.
“Kalau begitu, Kamu harus pilih salah satu.”
Dan setelah kata-kata itu aku termenung. Yaa aku memang haus pilih salah satu. Shasha… yang sudah seperti Segalanya untukku, Atau Zoya, Wanita yang banyak mengorbankan diri untukku.
“Aku tidak bisa memilih.” Jawabku lirih sambil menunduk.
“Lalu mau kamu Apa Ramma..??” dia mulai berteriak frustasi tak menghiraukan para pengunjung Cafe yang mulai melirik kearah kami.
“Maaf.. Aku juga bingung dengan perasaanku sendiri.” Yaa aku bingung..benar-benar sangat bingung. Ini sulit. Jika Shasha mau menuruti semua keputusanku, tapi tidak dengan Zoya, Aku tau dia wanita mandiri dan kuat. Dia bahkan memilih berpisah dengan suaminya, lelaki yang dicintainya, hanya karena pekerjaan suaminya tersebut Pilot, dan dia jarang mendapat perhatian.
Jika aku menuruti kemauan Zoya untuk meninggalkan Shasha, tentu saja itu akan menyakiti Shasha, Dan itu juga akan menyiksaku.
Dia lalu berdiri. “Aku akan pergi beberapa minggu ke singapore, Aku harap setelah kembali kamu sudah bosan dengannya dan meninggalkannya. Jika tidak, Aku minta kamu segera mengepak semua barang-barang kamu dari Apartemenku.” Katanya lalu dia berlalu pergi begitu saja.
Sialan..!! Brengsek..!!! Fuck..!!!
Apa tadi..?? Dia mengusirku..? Seorang Ramma Aditya diusir oleh seoang Wanita.? Hell…!!! dan sejak kapan wanita yang lemah lembut seperti Zoya berubah menjadi Macan betina yang ganas.? Apa ini sosok aslinya.? Sialan…!!! dia hanya memberiku waktu beberapa minggu.
***
Aku menunggu Shasha di ruang tunggu rumah sakit. Sore ini aku membawanya ketempat kerja Nadia, teman Zoya. Nadia yang kini kerja di rumah sakit sedikit terkejut karena mendapati aku, kekasih sahabatnya sedang mengantar wanita untuk menggunakan kontrasepsi. Sialan…!! Aku tak peduli dengan tatapan anehnya.
Shasha keluar dengan wajah berserinya. “Sudah selesai..?” tanyaku kemudian.
“Sudah.” Jawabnya santai. “Setelah ini kita kemana..?”
“Ke taman hiburan.” Jawabku cepat. Aku tak tau kenapa tiba-tiba aku ingin kesana aku hanya ingin kencanku dengan Shasha terasa sedikit Spesial, bukan nongkrong di klub malam, atau tidur semalaman di kamar Hotel. Shasha tidak akan kutempatkan pada posisi seperti itu.
“Kenapaa ke taman hiburan..?”
“Aku hanya ingin kesana Saja”
Dan akhirnya meluncurlah kami kesana. Kami banyak memainkan Wahana, Berjalan sambil menikmati Arum manis denga bergandengan tangan, membuatku merasa benar-benar sedang berkencan. Kencan secara Sehat.
“Sha… Apa kamu pernah lupain masa-masa kita dulu..?” tanyaku kemudian saat kami sedang menaiki Wahan Kincir Ria.
“Aku nggak pernah lupa.”
“Aku juga enggak..” jawabku kemudian. “Kalau suatu saat nanti kita berpisah, apa kamu masih akan mengingat masa-masa ini..?”
“Enggak..” Jawabannya membuatku sedikit terkejut. “Aku nggak akan pernah melupakan semua ini.” Lanjutnya lagi mebuatku menghembuskan nafas lega.
“Sha….” entah kenapa pertanyaan ini tiba-tiba terlintas di otakku. “Apa Kamu mau jadi istri Mas Ramma..?”
Dan seketika itu juga kulihat ekspresi terkejutnya, Matanya membulat seakan-akan tak percaya, Bibirnya ternganga, Wajanya pucat pasi. Siapa yang tak terkejut jika tiba-tiba di lamar di tempat tertinggi Di kota ini da dengan pelamar yang Brengsek seperti aku..??
Kuharap dia mau menerimaku.

__TBC__

Maaf agak pendek yaa,, Aku gantuk bgt.. Bye.. Bye… :* 🙂 😉

Advertisements

4 thoughts on “My Everything (Novel Online) – Chapter 8

  1. jangan main main terus ramm
    hanya karna zoya memintamu memutuskan pilihannya atau diusir ya mending pergi aja
    zoya udah mulai menunjukkan sisi pertahanannya dia juga butuh ramma untuk dirinya
    kan sekarang jadi rumit
    status yang sah juga dibutuhin ama zoya
    lalu sasha kalo nrima lamaran ramma tapi masih berhubungan dengan zoya apa bisa
    ihhh gregetan gw

    Like

  2. Ramma udah makin gila aja nih, ngasihharapan tinggi ke shasha bahkan ngajak merit, tapi gak mau kehilangan zoya, pantesan banyak yg bilang dia cowok brengsek

    Like

  3. Wanita mana yg maw mmbgi laki2 yg dicintainya pstinya tdk lah,,skuat2nya Zoya dia jg wanita biasa yg btuh cinta dri laki2.. Dan Ramma hnya mmbrikn hrpn palsu,,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s