Novel Online · romantis

My Everything (Novel Online) – Chapter 7

Me New..My Everything

NB: Maaf lama bgt ngepostnya… selain nggak ada waktu, dan badan sakit.. nii kartuku benar-benar bikin aku jengkel… Lomott bgt… maunya ngepost sejak kemaren eperti PSWM Chapter 6… tapi aku malas nunggu loadingnya yang sampek membuatku ketiduran.. hehhehe ok langsung saja…

Chapter 7

Malam ini aku tidur di Apartemen zoya. Posisi kami tak seperti biasanya. Aku miring menghadapnya, tapi dia memunggungiku menjauh di ujung ranjang, bahkan dia tak ingin kusentuh. Sialan..!!! dia benar-benar marah terhadapku.
Paginyapun demikian. Dia membuatkanku sandwich tapi tanpa berkata sedikitpun. Zoya tak pernah memperlakukanku seperti ini. Aku tidak nyaman seperti ini..
“Sayang…” Aku memeluknya dari belakang saat dia mencuci piring bekas kami sarapan. “Jangan marah lagi.. aku sudah meminta maaf.”
“Kamu tau kan, bukan hanya permintaan Maaf yang aku inginkan.”
Aku lalu melepaskan pelukanku.”Zoya, Kamu tau kan Kalau aku nggak akan pernah meninggalkannya, aku tak bisa melupakannya, harusnya kamu tau itu.” Kataku dengan sedikit meninggi.
“Kenapa..?? Karena kamu mencintainya..? Iya kan..??”
“Sialan..!!! aku tak pernah mengatakan hal seperti itu.”
“Tapi sikapmu mengatakan seperti itu..” Dia mulai menangis dan berteriak kepadaku. “Aku lelah.. Aku lelah Ramm Jika setiap tidur kamu selalu menyebut namanya.. Aku marah saat melihat sebuah ruangan yang penuh dengan foto-fotonya… dan aku benci.. aku benci saat kamu tiba-tiba ingin bercinta denganku hanya karena setelah bertemu dengannya. Aku merasa hina, Aku merasa jika aku hanya sebagai pemuasmu saja.”
Akupun langsung memeluknya. “Enggak sayang.. bukan seperti itu.. kamu bukan hanya pemuasku.. aku sayang kamu..”
“Tapi kamu mencintainya… seberapa besar kamu mengelak Kamu tetap mencintainya…”
“Aku tidak memilih untuk mencintainya Zoya… kamu harus mengerti itu.. Aku juga tak suka kenyataan jika aku.. Aku membutuhkannya. Aku ingin sembuh, aku ingin melupakannya..”
Yaaa sekarang akhirnya aku sadar, jika dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku mencintai Shasha.. Aku membutuhkannya… semua orang didekatku mengetahui itu.. hatiku juga mengetahuinya tapi aku mencoba memungkirinya selama ini.. dan benar kata Zoya, seberapa besar usahaku memungkirinya, kenyataannya aku memang mencintainya, membutuhkannya dan aku tak bisa mengelak dari itu semua lagi…
Zoya melepaskan pelukan kami. “Jika kamu ingin aku menerimanya, Perlakukan kami secara Sama. Aku ingin dia bukan menjadi wanita sempurna untukmu.. Aku ingin Kamu memperlakukannya sama dengan kamu memperlakukan wanita-wanita yang kamu kencani sebelumnya.”
“Sial..!! itu tidak mungkin. Shahsa bukan wanita seperti itu.. aku mengenalnya sejak kecil.” Satu hal yang membuatku tak berani menyentuh Shasha, Dia gadis baik-baik, aku mengenalnya sejak kecil dan aku tau jika dia Gadis murni. Walau dia pernah bilang jika dia tak Perawan lagi, aku hanya mempercayai pernyataan itu sebanyak 35%.. siasanya aku tak yakin.
“Kalau begitu sepertinya kita tak bisa bersama lagi.. Aku nggak bisa berhubungan dengan seseorang yang menomorduakan aku.”
“Aku tidak menomorduakan kamu sayang.”
“Kamu menomorduakan aku Ramma.. Kamu ketempatku hanya karena kamu ingin tidur denganku, sedangkan kamu dengannya untuk memadu kasih, aku tak suka dengan kenyataan itu.”
“Ok… Kalau itu mau kamu…” kataku sedikit berteriak dengannya. “Aku akan memperlakukan dia sama seperti aku memperlakukan wanita-wanita yang kutiduri. Tapi kamu ingat perkataanku, Ketika perasaanku semakin besar karena hal ini, aku harap kamu tak Menyesal karena sudah menyuruhku melakukan ini.” Aku sedikit mengancamnya. Lalu aku bergegas pergi meninggalkannya.
Yaaa jujur saja.. selain aku menghormati Shasha karena mengenalnya sejak kecil dan tak mau menjadi orang yang merusaknya, Aku tak berani menyentuhnya karena satu alasan lagi, Aku takut jika aku sudah menyentuhnya aku tak akan bisa berhenti.. Aku takut jika nanti aku semakin menginginkannya, Semakin membutuhkannya, dan semakin mencintainya hingga tak ada tempat untuk wanita-wanita lain lagi. Jika itu sudah terjadi, berarti aku sudah berubah menjadi lelaki bodoh seperti Dhanni dan Renno, berarti aku sudah tenggelam semakin dalam kedasar jurang yang biasa kusebut ‘Zona Bahaya’. Dan aku tak suka jika itu terjadi.
Aku pergi meninggalkan Zoya, berharap jika aku kembali nanti kami akan baik-baik saja dan dia sudah menghilangkan rasa marahnya terhadapku. Didalam mobil tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku mengangkatnya dan mendapti suara lembut menyapaku.. Shasha.. Kekasih baruku..
Mas Ramma dimana..? aku di Apartemenmu.. Apa nanti bisa kesini..?” tanyaya kemudian.
“Iyaa.. aku nanti kesana, tapi mungkin agak Sore, aku ada kerjaan di kantor.”
“Baiklah.. Aku menunggumu yaa..”
“Ada apa..? Apa ada kejutan..?”
“Sedikit..” Katanya sambil sedikit tertawa. “Emm.. Apa Mas Ramma baik-baik saja..?” tanyanya kemudian.
“Yaa.. Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa..?”
“Kupikir Mas Ramma bertengkar dengan wanita itu.. Emm aku.. aku jadi nggak enak.” Katanya kemudian. Dia tau hubunganku dengan Zoya, tapi dia tak marah. Apa dia tidak cemburu..??
“Aku nggak apa-apa kok..kita bahas nanti yaa… Mas lagi di jalan.”
“Ok… oo iyaa.. jangan makan di luar yaa.. aku masak untukmu..”
“Masak..?” tanyaku tak percaya. Seorang gadis manja seperti Shasha apa benar-benar bisa masak..??
“Iyaa.. lihat saja nanti. Ok.. kalau gitu hati-hati di jalan yaa… Aku.. Aku sayang Mas Ramma..”
Dan jantungku seakan ingin meledak ketika mendengar pernyataan terakhirnya.
“Aku juga..” Hanya itu jawabanku. Sialan.. !!! aku tak bisa menjawab lebih, aku hanya tak ingin membuatnya semakin berharap padaku, itu akan menyakitinya.
Teleponpun ditutup. Dan jantungku masih saja berdetak cepat dan keras seperti ingin meledak. Aku memegangi dadaku dan bergumam sendiri. ‘Kenapa Shsha memberikan Efek seperti ini terhadapku hanya dengan kata-katanya..??? apa aku bisa melawannya nanti..??’
***
Akhirnya Sore juga…
Entah karena pekerjaanku membosankan atau karena Shasha sudah menunggku, aku berharap hari ini cepat berlalu dan berganti Sore. Aku pulang keApartemen dimana Shasha sudah menungguku. Ketika pulang, entah kenapa pandanganku tertuju pada sebuah toko bunga tak jauh dari kantorku, dan tanpa sadar ternyata aku sudah menghentikan mobilku di depan toko tersebut..
Membeli setangkai bunga mawar Merah bukanlah kebiasaanku, aku bahkan tak pernah membelikan seorangpun bunga mawar. Tapi entah kenapa hari ini aku ingin memberikannya pada seseorang. Bukan Zoya.. tapi Shasha.. Ya tuhan…. apa aku sudah benar-benar gila..?? Aku bahkan sudah berubah menjadi Lelaki yang menggelikan dengan membawa setangkai mawar merah, Sialan..!!
Sampai di Apartemen aku benar-benar malu setengah mati. Apa aku buang saja bunga ini..?? Ahhh tidak, siapa tau Shasha menyukainya. Akhirnya aku masuk.. sepi.. tak ada orang, kemana Shasha..? bukankah tadi dia bilang jika akan menungguku pulang..? Aku menuju ke meja makan dan mendapati berbagai menu masakan Rumahan. Apa semua ini Shasha yang masak..?? Sejak kapan dia pandai memasak..??
“Ehhh.. Mas Ramma sudah pulang..” Kata suara lembut di belakangku. Dan ketika aku berbalik, God… bunuh aku sekarang juga karena demi apapun juga aku menginginkannya saat ini juga.
Shasha terlihat segar karena baru selesai mandi, Aromanya sangat harum tercium di indera penciumanku, Dia mengenakan juba mandi berwarna Pink dengan handuk Pink juga yang berada di kepalanya da juga sendal rumah yang berwarna Pink Juga.. sialan…!!! dia sudah seperti Arum Manis berwarna Pink yang siap di santap.
Tanpa sadar kakiku berjalan mendekatinya. Dia tidak mundur malah berdiri mengangkat dagunya seakan-akan dia berkata bahwa dia tak takut.
“Kamu cantik.” Kata-kata itu keluar begitu saja tanpa bisa ku kontrol. Dan bibirkupun berjalan dengan sendirinya untuk mencari bibirnya. Menyambutku sepulang kerja dengan seperti ini membuat Shasha terlihat seperti istriku. Sialan..!!!
Jas Dan bunga yang kubawa jatuh begitu saja, Tanganku mulai beraksi, Kubuka sabuk dari juba mandinya dan nampaklah tubuh indah Shasha di baliknya. Sialan..!!! dia bahkan sudah telanjang saat menyambutku. Apa dia menginginkannya..?? Tidak.. Shasha bukan seperti wanita murahan yang kukenal. Tapi jika bukan kenapa dia melakukan ini layaknya seorang wanita penggoda..??
Aku menangkup keduua payudara lembutnya yang astaga.. benar-benar sangat menggoda. Dia mengerang, mendesah diantra ciuman panas kami. “Apa kamu menginginkan ini..?” tanyaku kemudian.
“Emm.. Setidaknya kita makan dulu..” katanya susah payah.
“Aku ingin makanan pembuka..”
“Emmm tapi aku..” Dirinya sedikit ragu. Kenapa..?? kulepaskan ciuman kami dan kupandangi wajahnya. Jika aku melihat sebuah keraguan, aku akan berhenti. Tapi.. “Aku tidak ahli diranjang.” Katanya polos. Dan itu membuatku tertawa.
“Ekspresimu benar-benar lucu..” kataku sambil tertawa.
Dia terlihat sedikit tersinggung, “Lucu kenapa..? Bagaimanapun juga aku sudah pernah melakukan Seks, Jadi Mas Ramma jangan menertawakanku.”
“Enggak.. aku hanya…” dan lagi-lagi aku tertawa. Melihat wajah polosnya yang sedang merajuk. Dan karena tawaku itu dia semakin merajuk. Dengan menghentak-hentakkan kakinya dia menuju kekamar. Aku mengikutinya dan ternganga melihat kamarku.
Terlihat lebih bersih, walau sebenarnya banyak barang berwarna Pink didalamnya, bahkan sarung bantal dan selimutkupun menjadi Pink.
Aku melihat dia menangis dan duduk di pinggiran ranjang. Gadis cengeng.. pikirku kemudian, Aku menghampirunya duduk berjongkok di hadapannya.
“Heii.. maafkan aku… aku nggak bermaksud menyinggungmu..” kataku sambil mengusap pipinya. “Apa Kau pindah kesini..? Kenapa banyak sekali barang-barangmu disini..?” tanyaku kemudian.
“Sebenarnya inilah kejutan buat Mas Ramma, mulai hari ini aku pindah kesini.”
“Kenapa bisa seperti itu..? Bagaimana dengan Renno..?”
“Aku minta izin sama Mama, Merengek-rengek padanya, dan Mama mengijinkan, Untuk Mas Renn, aku minta bantuan Mbak Allea.. tapi tetap saja, hari sabtu dan minggu aku harus pulang.”
“Kamu yakin mau tinggal disini..?” Aku benar-benar tak mengerti apa Kemauan Shasha. Seakan-akan dia mendorong dirinya sendiri masuk kemulut singa.
“Aku hanya ingin semakin dekat dengan Mas Ramma..” Jawabnya lembut sambil menyentuh pipiku. Dan tanpa banyak bicara lagi akumenerjangnya kebelakang hingga dia kini sudah berada di bawahku.
“Aku kasih kamu kesempatan untuk mundur jika kamu belum siap.”
“Aku siap.”
Sialan…!!! Jawabannya benar-benar terdengar menantangku. Dan akupun langsung melumat bibirnya, menghisapnya lidahku mulai menari-nari dan mencari-cari lidahnya, sialan..!!! Aku sadar jika kali ini aku tak bisa mundur lagi.
Tanganku sudah mendarat di dada polosnya, memainkannya dan aku tak kuasa menahan diri untuk sampai disana, mulutku sudah menjelajahi sepanjang Rahang dan lehernya… Astaga… aku benar-benar tak bisa berhenti mengaguminya… Shasha gadis kecilku kini sudah menjadi wanita dewasa.
“Ini milikku..” Kataku diantara kedua payudaranya, dan mulai menghisap salah satunya. Sialan… Nikmat… begitu nikmat…. sedangkan tanganku kini sudah meraba-raba perut datarnya, perut yang membuatku kagum dan semakin menegang. Turun kebawah hingga aku menemukan titik sensitifnya.
Sialan…!!! dia basah, sangat basah… dan dia siap untukku. Rintihannya, desahannya benar-benar membuatku ingin meledak saat ini juga.
“Sayang.. Aku tak bisa menahannya lagi.” Kataku disela-sela peyudaranya.
“Lakukanlah…” katanya pasrah.
Dan Yaa… aku akan melakukannya saat ini juga, Aku melucuti seluruh pakaianku hingga nampak tubuhku yang polos tanpa sehelai benangpun. Meraih Sesuatu yang terbungkus Foil yang berada di laci meja sebelah ranjangku. Lalu memasangnya di kejantanannku yang asataga… aku tak bisa mengatakannya lagi…
Semuanya membengkak, Nyeri dan yaa ampunn.. aku ingin mengakhiri penyiksaan ini. Tiba-tiba ada sedikit keraguan yang merayapi hatiku.. Bagaimana jika setelah ini aku semakin menginginkannya..?? bagaimana jika setelah ini Shasha semakin rusak karenaku…?? tidak… bukankah Shasha mengatakan sendiri bahka dia sudah tak perawan dan pernah beberapa kali tidur dengan kekasihnya..?? itu tandanya bukan aku yang merusak Shasha. Lalu bagaimana dengan pertanyaan pertama..?? bagaimana jika aku semakin menginginkannya..??? Ahhh persetan dengan pertanyaan itu. Aku tak akan tau bagaimana hasilnya jika aku belum melakuannya.
Kembali menindihnya aku memposisikan kedua kakiku diantara kedua kakinya. Sialan..!! dia terlihat begitu nikmat dari sini. Aku mencumbunya kembali sesekali mengoda titiknya sebagai penetrasi Awal. Tubuhnya kaku saat aku mulai memasukinya.
Sempit.. sangat sempit.. Dan Astaga,, ini benar-benar bisa membunuhku. Aku mendorong-dorong masuk tapi sangat sulit sekali, seperti ada sebuah penghalang yang menghalangi jalanku, aku melihat raut wajahnya memucat, tubuhnya sekaku kayu, Dan Astaga… Apa ini..??? jangan bilang kalau.. Kalau…
Wajahku memucat, “Kamu masih perawan..?” Desisku tajam.
Dia tak menjawab, dia hanya mengeryit seperti orang yang sedang kesakitan. “Kamu membohongiku..?” aku mengeluarkan pertanyaan lagi, dan lagi-lagi dia tak bersuara. Sial…!!! aku tak bisa berhenti. Jika aku berhenti itu akan menyakitinya dan membuat pengalaman pertamannya menjadi pengalaman terburuk yang bisa dia ingat. Akupun akhirnya melanjutkan aksiku, mendorongnya lagi dan lagi tak mempedulikan kesakitannya.
Hingga penghalang itu akhirnya tertembus juga.. membuatku menyatu seutuhnya dengan dirinya.. dia merintih kesakitan dan aku mulai menciumnya…
Marah.. kecewa.. dan Bahagia bercampur menjadi satu. Marah karena dia membohongiku.. Kecewa karena dia membuatku menjadi seorang yang merusaknya… dan Bahagia karena Dirinya kini hanya milikku.. milikku seutuhnya…..
Cumbuanku membuatnya terengah-engah kembali.. membakar gairahnya lagi.. dia mulai menikmatinya.. menikmati permainanku…
Tuhann…. disana sempit sekali…. aku sulit bergerak… aku tak bisa menahannya terlalu lama, tapi aku harus bertahan sebelum dia mencapai klimaksnya terlebih dahulu…
Ketika matanya berkabut, nafasnya terputus-putus, dan dinding kewanitaannya mengetat, aku tau jika dia sudah sampai, daan kini aku tak akan menahannya lagi, kupercepat lajuku hingga aku menemukan kenikmatanku sendiri.
Yeaahh… Ini benar-benar Seks terbaik dalam hidupku. Aku tersungkur tanpa tenaga di atas tubuhnya. Kami masih dalam keadaan menyatu. Sial..!! dia benar-benar bisa membunuhku.
Aku menarik diri dan mengambil tissue untuk membuang bungkusan sialan di kejantananku. Aku manatapnya yang terbaring lemah dengat tatapan bersalah… tatapan iba.. dan berubah menjadi tatapan kemarahan saat melihat sesuatu berwana merah diantara kedua kakinya.
“Bersihkan itu.” Kataku dingin, membuatnya terduduk dan menatapku dengan tatapan tanda tanyanya.
Aku menuju kekamar mandi, tak menghiraukannya, aku terlalu marah… mengguyur seluruh tubuhku dengan air dingin, sesekali aku mengumpat sambil memukuli tembok. Sialan…!!!! bertahun-tahun aku menahan supaya tak menyentuhnya, tapi hari ini aku menjadi seorang brengsek sialan yang merenggut sesuatu berharga miliknya.
Beberapa kali aku pernah bercinta dengan wanita yang masih perawan, tapi aku tak mengharapkan ini terjadi dengan Shasha… aku berani meniduri Shasha ketika dia bilang dia sudah tak perawan, dia sudah tak sepolos dulu. Aku mau bercinta dengan Shasha yang masih perawan hanya jika dia sudah menjadi istriku… sumpah demi apapun juga aku menyesal melakukan ini… Berkali-kali kupukul tembok kamar mandi ini sebagai hukuman karena sudah menodai Gadisku.. gadis yang sangat ku puja… aku bahkan melihat bekas cakaran Shasha di lenganku, tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya dia tadi… dan Sialan…!!!! aku baru sadar jika aku bersikap tak baik dengannya tadi sebelum masuk kedalam kamar mandi. Dan itu pasti semakin menyakitinya.
Aku segera meraih juba Mandi yang berada dalam lemari kecil di ujung kamar mandi, mengenakannya dan bergegas keluar menemui Shasha dan meminta maaf padanya.
Sedikit terkejut, saat keluar aku sudah mendapatinya mengenakan Rok dan T-shirt miliknya… dia berjalan mondar-mandir memunguti barang-barangnya dan dimasukkannya kedalam koper. Dia menangis… Aku menghampirinya dan meraih tangannya.
“Apa yang kamu lakukan..??” tanyaku sambil mencengkeram lengannya.
“Lepaskan aku.. aku ingin pergi…”
“Sialan…!! dengan apa yang sudah kita lakukan tadi kamu ingin pergi Haahh..??” aku tak dapat mengontrol emosiku lagi.. aku berteriak sangat keras tepat di hadapannya.. dan dia diam seketika. Sial..!!! aku sudah keterlaluan.
“Maafkan aku… Aku nggak bermaksud menyakitimu..” Kataku sambil memeluknya..
Dia menangis lagi dalam pelukanku. “Mas Ramma kenapa berkata dingin padaku..?? Aku tau jika aku bukan wanita liar yang bisa memuaskanmu.. tapi setidaknya aku berusaha,..”
“Bodoh… Aku marah padamu bukan karena itu.. aku marah karena Kamu membohongiku.” Lalu aku melepaskan pelukanku, memegang kedua bahunya dan bertanya. “Kenapa kamu melakukan itu..?? Kenapa kamu membohongiku..?”
“Karena jika aku jujur Mas Ramma nggak akan mau menyentuhku.”
“Aku tak mau menyentuhku karena kamu berbeda Sha..”
“Aku nggak mau jadi orang yang berbeda Mas..”
“Astaga… bagaimana caranya aku menjelaskan semua ini padamu.” Gumamku kemudian. “Sha… dengar.. bagi Mas Ramma kamu tidak sama dengan wanita yang Mas Ramma kenal, kamu istimewa, dan aku nggak mau merusak kamu.”
“Mas Ramma nggak ngerusak aku..”
“Dengan ini Aku sudah merusak kamu Sha.. Aku menjadi bajingan yang sudah menodaimu, lihatlah bagaimana menyesalnya aku melakukan ini padamu.”
“Mas Ramma bukan bajingan..”
“Yaa… Aku bajingan, Aku berharap jika kita melakukan ini kita sudah dalam posisi suami istri Sha.. bukan seperti ini..”
“Tapi Mas Ramma nggak akan menikahiku.”
“Setidakya aku memiliki keinginan untuk menikahimu..” pernyataan itu meluncur begitu saja dari bibirku.
“Apa..??” dia terlihat terkejut dengan perkataanku.
Sialan..!!! Lagi-lagi aku keceplosan. Aku tak pernah bercerita ini kepada siapapun termasuk Mamaku sendiri. Satu-satunya Wanita yang membuatku memikirkan Pernikahan Adalah Shasha.. satu-satunya wanita yang ingin kuajak Menikah adalah Shasha.. Satu-satunya wanita yang menjadi istri dalam Mimpiku adalah Shasha… meski Zoya pernah dua kali mengandung anakku.. meski aku pernah berkali-kali bercinta dengan model-model cantik, nyatanya yang membangkitkan gairahku untuk menikah hanyalah Shasha… tapi selama ini aku memungkirinya, karena aku tau jika semua itu tak akan terjadi…

__TBC__

Semoga puas dengan Chapter ini yaa… eheheh

Advertisements

5 thoughts on “My Everything (Novel Online) – Chapter 7

  1. entahlah ramm maumu bagaimana
    pasti suatu saat harus ada yang berkorban demi dirimu entah itu sasha atau zoya keduanya sama” memiliki tempat terbaik
    kesel banget ama ramma lah

    Like

  2. Wah gawat nih, ramma dan shasha udah making love..
    Gimana nasib shasha dan zoya nih..
    Gimana sikap renno dan dhanni klo tau ramma sudah menghilangkan keperwanan shasha..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s