romantis

Please Stay With Me – Chapter 6

pswm-1Please Stay With Me

Chapter 6

-Dara-

Dia Aneh… Dia berubah, Apa yang terjadi dengannya..???
Saat ini dia sedang menciumku, melumat bibirku penuh nafsu. Bahkan akupun tak sadar jika saat ini aku ikut berendam didalam Bathup dengannya dalam dengan berpakaian lengkap dan dengan posisi duduk diatas pangkuannya.
Dia mengerang, mendesah, dan akupun sama.. kami menikmati ciuman ini… ciuman pertama kami… lalu dengan terengah-engah dia melepaskan ciuman ini. Rasanya sesak, karena aku sulit bernafas, nafasku terputus-putus, begitupun nafasnya.
Aku menunduk malu. Apa yang terjadi dengannya sehingga dia menciumku..?? apa juga yang terjadi denganku sehingga aku bersedia diciumnya..?? ini akan mempersulitku, Aku tak akan bisa melupakannya jika dia memperlakukanku seperti ini.
Dia mengangkat daguku, lalu menciumku kembali… tak ada kata diantara kami.. dia hanya melumat bibirku tanpa ampun, menghisapnya penuh nafsu, lidahnya menari-nari didalam rongga mulutku. Ya tuhan.. kapan siksaan ini berakhir. Lalu dia melepaskan ciuman kami kembali. Lagi-lagi aku menunduk malu.
“Maafkan aku..” katanya kemudian.
Aku hanya menggeleng. “Tidak apa-apa.” Jawabku kemudian. Akupun melanjutkan membasuh tubuhnya kembali seperti tak terjadi apapun diantara kami. Mas Revan menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan, Matanya tak pernah lepas dari wajahku, dan aku tak berani membalas menatapnya.
“Dara…” dia memanggilku dengan suara parau.
“Emm sepertinya sudah bersih, aku akan mengambilkan handuk untukmu.” Jawabku kemudian, aku mengelak. Aku tak ingin mendengar penjelasannya jika dia menyesal telah menciumku, itu membuatku sakit..
Setelah memakaikan handuk untuknya, aku menyibukkan diri untuk membersihkan kamarmandi. Jujur saja, aku tak berani menghadapinya. Aku takut dia mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatiku…
Keluar dari kamar mandi aku melihatnya masih berantakan, dia sudah mengenakan celana dan kemeja lengan pendek, tapi seluruh kancingnya masih terbuka.
Aku menghampirinya. “Mas Revan belum selesai..?” tanyaku selembut mungkin.
“Ini… Aku tak bisa mengancingkannya.” Katanya kemudian.
Aku tersenyum lalu menyuruhnya berdiri dan membantunya mengancingkan kemejanya. Lagi-lagi aku merasakan dia mentapku dengan intens, membuatku gugup den sedikit salah tingkah.
“Kenapa Kau menghindariku..??” pertanyaannya mengagetkanku. Aku mendongak dan mendapati wajahnya yang menatapku dengan tatapan sendu.
“Aku tidak menghindarimu.” Jawabku sambil menunduk dan mengancingkan kancing baju terakhirnya. “Sudah selesai..” kataku kemudian sambil akan bergegas pergi dari hadapannya.
“Kau menghindariku, bajumu bahkan tak satupun ada dalam lemari itu.” Katanya lagi. “Diamana Kau menyimpannya..?”
“Emmm.. Aku.. aku sibuk dengan urusan di kantor, jadi.. jadi aku menjadikan ruang kerjamu sebagai tempat tidurku supaya lebih praktis.”
“Kau tidur di sana..?”
“Yaa… selama Mas Revan Koma aku tidur disana.” Aku berbohong. Selama ini tentu saja aku tidur di sebelahnya, di ranjang rumah sakit yang sedikit lebih keras dari pada ranjangku.
“Kau Bohong. Kau selalu menjagaku saat di rumah sakit. Kau bahan tidur di sana.”
Aku tersenyum meyakinkannya. “Aku memang selalu kesana, tapi aku tak tidur disana.” Lagi-lagi aku berbohong. “Aku akan turun, menyiapkan makan malam, Mas Revan istirahat saja.” Kataku lagi lalu pergi meninggalkannya.
***
Makan malam berlangsung sangat Canggung. Bagaimana tidak. Aku duduk menghadap Mas Revan dan menyuapinya, sedangkan dia masih sama seperti tadi sore. Menatapku dengan tatapan tajam anehnya.
“Ada apa..?” Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Ada apa..? Aku tidak ada apa-apa..” jawabnya dengan Santai. Ada apa dengannya..?? Kenapa dia berubah..??
“Kalian terlihat mesrah.” Kata ibu kemudian yang seketika membuat keadaan semakin canggung.
“Ayah, Apa aku besok sudah boleh masuk kekantor lagi..?” tanyanya mengalihkan topik.
“Bukankah Kau masih sakit.?”
“Aku hanya tak ingin mati bosan didalam rumah.”
“Terserahmu saja. Sekalian Lihatlah perkembangan Dara, dia mempunyai kemajuan pesat, bahkan dia beberapa kali memenangka Tender besar selama Kau Koma.” Puji ayah terhadapku.
“Benarkah..?” tanyanya sambil menatapku.
“Ayah terlalu berlebihan..” jawabku merendahkan diri.
“Bukan hanya itu, dia bahkan menjadi primadona di dalam kantor kita.” Tambah Ayah lagi.
“Primadona..??” dia bertanya lagi kali ini dengan tatapan tajamnya. Aku hanya mengangkat bahu seakan-akan tak mengerti apa yang dimaksud ayah. “Lihat saja nanti, setelah aku masuk, apa dia masih akan menjadi primadona atau tidak.” Katanya kemudian membuatku sedikit bingung dengan apa yang dia maksud.
Aku melihat ibu dan ayah hanya tersenyum sedangkan Mas Revan sendiri terlihat santai seperti tak terjadi apapun.
***
Setelah makan, kami menuju kekamar. Niatku hanya untuk mengantarnya tidur dan mengobati tangannya. Aku membenarkan letak duduknya, membuka perban di tangannya, dan mulai mengobati. Kata Dokter, perbannya harus sering di buka dan di benarkan supaya nanti sembuh dengan maksimal dan kembali seperti semula.
“Bagaimana Kau bisa mempelajari tentang perkantoran..?” tanyanya kemudian sedikit mengagetkanku. Mas Revan benar-benar berubah, dia banyak bicara dan banyak bertanya. Berbeda dengannya dulu yang dingin dan pendiam meskipun aku berusaha mengajaknya berbicara.
“Ayah dan Mike yang mengajariku.” Jawabku seadanya.
“Kenapa Kau menerima saat ayah menyuruhmu menggantikanku.?”
“Kupikir tak ada yang bisa di percaya Ayah selain aku, jadi aku mencoba menerimanya sekaligus belajar.”
“Apa ada yang jail terhadapmu saat di kantor..?”
“Tidak, Mereka baik semua.” Jawabku dengan tersenyum.
“Mereka..?” Tanyanya dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Iyaa mereka para pegawai, aku dekat dengan mereka semua.” Jawabku lagi. “Sepertinya sudah selesai.” Kataku lagi sambil merapikan perban di tangannya dan bergegas untuk pergi. Tapi kemudian aku merasakan tanganku berada dalam genggamannya.
“Kau mau kemana..? tidurlah disini.” Katanya kemudian.
Aku sedikit tak percaya dengan apa yang dia katakan. Selama dua tahun sebelum dia kecelakaan, kami memang tidur bersama walau tak melakukan apapun, tapi dia lebih sering tidur di ruang kerjanya seperti sedang menghindariku, namun kini aku merasakan dia berbeda, dia menginginkan aku tidur di sebelahnya.
“Aku mau mengembalikan ini dulu.” Jawabku sambil menyodorkan kotak obat padanya.
“Baiklah.. jangan lama-lama.” Dan akupun mengangguk.
Malam ini dengan segala kegugupan dan kecanggungan akibat ciuman yang kami lakukan, akinya kami tetap tidur bersama tanpa melakukan apapun. Setidaknya aku senang, Mas Revan tak sedingin dulu. Dia sekarang bahkan banyak bertanya.
***
Menjadi pagi yang berat untukku karena lagi-lagi Mas Revan menjadi sosok sebelumnya, sosok pendiam dan dingin. Ada apa dengannya..???
Aku yang kini sedang memakaikan Dasi untuknya sedikit tak enak, lagi-lagi dia menatapku dengan tatapan anehnya..? Apa aku membuat kesalahan…??
Dengan dinginnya dia bertanya. “Apa Kau selalu mengenakan itu saat ke kantor..?” tanyanya dengan sedikit melirik kearah tubuhku.
Akupun betanya sambil melihat tubuhku sendiri. “Apa ada yang salah dengan pakaianku..??”
“Kupikir Kau mengenakan Celana Dan Bleazer yang lebih sopan.”
“Apa ini kurang sopan..?? kupikir semua karyawan wanita mengenakan pakaian seperti ini.” Jawabku kemudian. Saat ini aku memang sedang mengenakan Rok Pensil selutut dengan kemeja putih pas bodi di tambah lagi sepatu hak tinggi khas wanita kantoran pada umumnya. Kupikir ini pakaian yang paling umum.
“Bagiku kurang sopan, Kau kan sudah memiliki suami, apalagi suaamimu wakil dai perusahaan tersebut.” Katanya sambil bersungut-sungut. Tapi aku tak membalasnya.
Aku heran, apa sih ang menjadi masalahnya. Pakaian ini masih sangat sopan, apa lagi aku juga mngenakan Stocking. Lalu apa yang menjadi masalahnya..???
Akhirnya kamipun berangkat bersama. Mas Revan menyuruh pelayan rumah untuk memuatkan bekal untuk makan siang kami. Padahal aku ingin makan siang di kantin bersama dengan Karyawan supaya lebih dekat dengan mereka, tapi Mas Revan dengan dinginnya bilang “Nggak perlu.” Akhirnya aku menurut saja.
Masuk kedalam kantor, semua karyawan memberi hormat kepada kami, sedikit tak nyaman, walau sebelumnya aku menduduki kursi Mas Revan saat dia Koma, tapi aku sebisa mungkin menghambur dengan Karyawan lainnya, jadi mereka lebih menganggapku sebagai temank kerjanya, bukan atasannya. Tapi tentu saja itu berbeda dengan Mas Revan. Aura dingin tegas dan Arogannya sangat terlihat jelas. Membuat siapapun yang melihatnya langsung menundukkan kepala memberi hormat padanya, dan aku kurang nyaman akan hal itu.
Karena Lift khusus direksi sedang dalam perbaikan, akhirnya kami menggunakan Lift untuk karyawan umum.
Didalam Lift terdapat dua Karyawan Pria, mereka menyapa kami dengan menyunggingkan senyuman sopannya.
“Pagi pak.. pagi Bu…”
“Selamat pagi..” Jawabku ramah, sedangkan Mas Revan hanya mengangguk tak bersuara.
“Wah.. Bu Dara pagi ini semaki cantik saja.” Kata seorang Karyawan yang dekat denganku.
“Terimakasih.” Jawabku sambil tersenyum. Tiba-tiba aku merasakan tangan kiri Mas Revan melingkari pinggangku. Apa maksudnya..?
Tak lama pintupun terbuka, akhirnya kami keluar, tapi sebelum keluar Mas Revan mengucapkan kata-kata kepada dua Karyawan tersebut dan membuatku tercengang.
“Lain Kali jangan suka menggoda wanita lagi, apa lagi jika wanita itu istri dari atasan Kalian.” Sindir Mas Revan sambil menarikku keluar dari Lift. Sedangkan kedua karyawan tersebut hanya ternganga menatap kepergian kami.
“Apa Kau selalu kecentilan seperti itu saat dihadapan Kayawan..?” tanyanya kemudian saat kami sudah berada dalam ruanganya.
“Aku tidak kecentilan, aku hanya bersikap seramah mungkin.”
Dan dia kembali terdiam dan memilih duduk di ujung Sofa di dalam ruangannya. Akupun tak terlalu menghiraukannnya, dia bersikap aneh pagi ini. Aku membereskan meja dan mulai berkutat dengan setumpuk berkas-berkas yang bisa membuat kepalaku pusing. Tak lama pintu ruangan diketuk.
“Masuk.” Kataku kemudian.
Dan masuklah sosok yang tersenyum manis sambil membawa sebuah berkas di tangannya. “Selamat pagi Bu Dara.” Sapanya kemudian.
“Hai.. selamat pagi.” Kataku sambil berdiri dan menghampirinya. Aku melihat Mas Revan juga ikut berdiri dan menghampirinya.
“Kenapa dia bisa berada di sini..? Aku tak pernah mempekerjakannya.” Katanya dingin.
“Mas.. ini Andre, pegawai baru kita. Dan Ndre.. ini Mas Revan, CEO kita yang sesungguhnya.” Aku memperkenalkan mereka tanpa mempedulikan pertanyaan sinis dari Mas Revan.
“Selamat pagi Pak, senang bertemu dengan anda.” Kata Andre sambil mengulurkan tangan, sedangkan mas Revan terlihat membalasnya dengan enggan.
“Mas, Andre ini temanku saat bekerja di restoran, Aku merekrutnya kerja disini karena saat itu kami butuh seorang pegawai Administrasi, dan aku terpikir kenapa tak mengajak Andre saja, Ayah menyetujui, dan lihat.. sekarang dia memiliki kemampuan di bidangnya.”
“Aku hanaya ingat jika saat itu Kau mengatakan bahwa ia kekasihmu.”
Pernyataan Mas Revan kali ini benar-benar membuatku terkejut, aku tak menyangka dia masih ingat pernyataanku tersebut apalagi sampai mengucapkannya di hadapan Andre yang saat ini terlihat tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Emm.. mungkin saat itu Kau hanya salah dengar Mas..” Aku mencoba mengelak.
“Maaf pak.. tapi saya sama sekali tak ada hubungannya dengan Bu Dara.” Kali ini Andre mulai membela diri.
“Kalau tak ada hubungannya kenapa seorang staf Administrasi bisa sampai keruangan seorang CEO..? Apa itu masuk akal.?”
“Mas.. Kau sedikit berlebihan. Dia temanku.”
“Didalam Kantor tak ada yang namanya teman Dara.” Katanya dingin terhadapku.
“Kalau begitu maaf pak.. Saya permisi.” Kali ini Andre berbicara dan mulai bergegas pergi.
“Aku tak tau apa yang terjadi padamu hari ini Mas, Kau berbeda dengan kemaren.” Gerutuku saat Andre sudah keluar dari ruangan kami. Tanpa kusangka Mas Revan malah berjalan mendekatiku dan aku berjalan mundur menghundarinya hingga tubh bagian belakangku menabrak Meja kerja. “Apa yang akan Kau lakukan..?” tanyaku sedikit takut.
“Apa Kau tau jika kau yang membuatku berubah seperti ini.?” Dia mempengaruhiku, aku tau itu. Tubuhku jadi panas dingin saat mendengar ucapannya. Tubuhnya semakin mendekat daan hampir menempel seutuhnya pada tubuhku, aku mencondongkan tubuhku kebelakang supaya sedikit menjauhinya. Tiba-tiba pintu ruangan kami di buka. Dan menampilkan sosok yang sangat menyebalkan.
Amanda, Sebut saja Manda. Sejak Mas Revan Koma, dialah rival terberatku. Dia selalu mencari gara-gara terhadapku, aku tak tau apa masalahnya. Tapi saat mendengarnya di Restoran dulu, aku berpikir mungkin dia cemburu terhadapku.
Dia menatap kami dengan terkejut. Mas Revan lalu menjauhkan diri dariku. Lalu berjalan kearahnya. Tanpa kuduga Manda langsung memeluk Mas Revan tanpa merasa canggung sedikitpun.
“Rev… Astaga… akhirnya Kau kembali. Apa Kau tau jika aku begitu merindukanmu..?”
“Aku juga merindukanmu Man…” jawab Mas Revan dengan membalas pelukan Manda. Aku tak tau apa yang terjadi padaku. Yang jelas saat ini yang kurasaan adalah sakit.. aku sakit melihat mereka bersama apa lagi sampai nerpelukan sepeerti itu dihadapanku.
“Baiklah.. bukankah kita harus merayakan kembalinya dirimu..? Astaga.. aku bahkan sempat berfikir kau kau akan menyusul Lita.”
Dan aku tak menghiraukan percakapan mereka lagi, aku lalu kembali duduk di tempat dudukku dan tenggelam dalam berkas-berkas memusingkan ini, setidaknya itu lebih baik dari pada harus melihat mereka bermesraan.
***
Jam makan siangpun tiba, tapi Mas Revan belum kembali. Tadi dia pergi keluar dengan Manda, dan sampai sekarang belum kembali. Akhirnya aku hanya bisa memakan makan siangku didalam kantor sendirian. Sedikit sedih… apa aku akan selalu seperti ini nantinya..? Ya tuhan.. bukankah aku sudah memutuskan jika aku akan melupakannya..?? apa aku bisa..?
Makanan yang nikmat ini benar-benar terasa hambar. Tapi aku tetap memakannya. Jam makan siang selesai, dan aku kembali bekerja lagi hingga waktu menunjukkan pukul 6 sore.
Mas Revan belum juga kembali…
Apa dia sudah pulang terlebih dahulu..?? Kenapa dia meninggalkanku..??
Tanpa banyak berpikir lagi aku memutuskan untuk pulang, pulang sendirian. Aku benr-bena tak ingin memikirkannya lagi..
***
Kulemparkan tubuhku di atas Ranjang. Aku lelah… lelah dangan semua ini… kenapa dia bersikap seperti ini terhadapku..?? Sepertinya aku memang harus berendam malam ini.
Kusiapkan air lengkap dengan busanya untuk berendam, setelah siap akupun masuk kedalamnya tanpa sehelai benangpun. Rileks.. dan nyama… astaga.. ini seperti surga dunia… memejamkan mata aku menikmati setiap tetesan air lembut ini masuk dalam pori-pori kulitku. Cukup lama aku berendam diri hingga kurasakan air mulai mendingin. Aku memutuskan untuk keluar dan mengakhiri kesenangan ini.
Ketika kluar dari kamar mandi betapa terkejutnya aku mendapati Mas Revan sudah menunggu di depan pintu kamar mandi sambil besedekap. Gugup, benar-benar sangat gugup. Aku yang saat itu hanya mengenakan handuk sedikit canggung berada di hadapannya apa lagi dengan tatapan ane dari matanya.
Dia mendekat kearahku dan aku mundur lagi dan lagi hingga punggungku menempel pada pintu kamar mandi. “Kau.. kau mau apa Mas..?” tanyaku terpatah-patah.
Dia maju satu langkah, membawa sebelah kakinya berada diantara kedua kakiku. Menempelkan dadanya dengan dadaku. Dan berbicara dengan lembut di sela-sela Leherku.. “Aku menginginkanmu..” jawabnya parau.
Apa maksudnya..?? kenapa dia memperlakukanku seperti ini…?? apa yang dia inginkan..?? dan aku tak bisa berkata-kata lagi ketika dia mulai mencumbu bibirku dengan keahliannya….

_TBC_

Maaf yaa sedikit lama… hehhehe moho dimaklumi…

Advertisements

6 thoughts on “Please Stay With Me – Chapter 6

  1. apa revan mau bikin dara cemburu dengan kedekatannya bersama amanda
    dan sekarang tiba” revan menginginkan dara
    apa perasaan revan udah bener” berubah kedara

    Like

  2. apaan sich revan cemburuan n posesiv banget…
    trus ngapain tuch sm amanda ceritanya mu bikin
    dara cemburu?
    trus ngapain pke pingin dara segala deuh ribet kok
    dibikin sendiri
    tinggal bilang aja klu dia udah mulai suka ama dara
    pke pura” sgla

    Like

  3. Ko agak curiga ama amanda ya?
    Hehehe

    Wahhh revan cemburu nya begitu, tapi ga mau di ungkapin -_-

    Revan menginginkan dara itu sadarkan? Terkadang ga yakin ama perasaan revan..

    Like

  4. Sikap revan benar” memusingkan..sebentar baik, sebentar dingin, sebentar cemburu, sebentar manja..aneh…
    Si manda nyebelin ngapain dateng lagi ganggu revan-dara..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s