Novel Online · romantis

My everything (Novel online) – Chapter 6

mE coverMy Everything

NB ; Maaf lama banget yaa postnya.. hehehhe lagi suka-sukanya ama Revan sih.. hahahah,,, Ooiyaa yang punya Playstore jangan lupa yaaa.. Download App Novel The Lady Killerku yaa… caranya gampang, Buka Playstore => Cari app dengan nama Novel dewasa The Lady Killer dengan nama penulis Zenny Arieffka => lalu Klik Pasang. hehhehe trus jangan lupa kasih bintang 5 yaa… hahhaha Maaf numpang promo.. hehehhe langsung aja deh,,, silahkan di baca… 🙂

Chapter 6

 

“Sha.. Ayo kita Pacaran.”
Pacaran…??? Astaga… kata itu adalah kata yang menggelikan yang pernah kuucapkan. Kata yang cocok untuk digunakan anak-anak SMA yang sedang dimabuk cinta Monyet, Bukan Lelaki dewasa yang penuh gairah seperti aku. Seharusnya aku berkata ‘Sha Ayo bercinta,’ Atau ‘Sha Jadilah kekasihku.’ Atau juga ‘Menikahlah denganku.’ Bukan malah mngajaknya pacaran sepetrti anak kecil. Ada apa denganku…???
Dan juga, Apa aku terlalu Gila hingga dengan sadar aku menarik Shasha kedalam suatu hubungan…??? Aku tau betul Resikonya jika hubungan kami gagal. Aku masih merasakan bagaimana Dinginnya Renno menghadapiku tadi pagi.

“Lo sudah di sini Dhan..?” Tanyaku Pada Dhanni saat aku baru masuk kedalam ruangan Renno tanpa mempedulikan tatapan mereka yang terlihat Aneh.
“Gue sudah dari tadi.” Jawab Dhanni singkat.
Aku merasa suasana sudah mulai tak Enak, mau tak mau aku harus menanyakan kepada mereka. “Ada apa..?? Kalian terlihat aneh.” Tanyaku dengan santai.
Renno yang sejak tadi duduk dan menatapku tajam, Sontak berdiri dan berjalan menghampiriku. Dia berhnti tepat dihadapanku. Dan dengan dingin dia berkata.
“Jauhi Shasha.”
Hanya Dua kata, tapi tentu saja itu bisa mempengaruhiku. Wajahku menegang, tanganku mengepal. Siapa dia berani-beraninya mengatur hidupku.
“Lo nggak berhak Ngatur hidup Gue.” Jawabku tak kalah dinginnya.
“Gue berhak lindungi adek Gue.”
“Lo Gila, Lo bertindak seakan-akan Gue Penjahat yang akan melukainya.”
“Lo Sudah melukainya Ramm.. Dan Gue Nggak akan ngebiarkan itu terjadi lagi.” Jawabnya penuh penekanan. Lalu dia pergi begitu saja meninggalkanku dan Dhanni.
Dhanni datang menghampiriku dengan tatapan Anehnya. “Jauhi Shasha Ramm.” Kata Dhanni sambil menepuk Bahuku.
“Lo sama Gilanya sama si Renno.”
“Gue juga nggak akan ngebiarin adik perempuan Gue deket sama Lo Ramm.”
“Lo nggak punya adik perempuan.”
“Shasha seperti adik Gue sendiri.” Jawabnya kemudian. “Gue akan berada di belakang Lo, Ndukung Lo, Jika Lo serius dengan Shasha dan meninggalkan semua kebiasaan buruk Lo, tapi Gue akan mendukung Renno jika Lo hanya main-main dengan Shasha. Persahabatan kita jadi taruhannya Ramm.”
“Persetan dengan Kalian Berdua.” Kataku kemudian sambil bergegas meninggalkan Dhanni begitu saja.

Aku hanya melihat gadis di hadapanku ini ternganga, mungkin tak percaya dengan apa yang kubicarakan. Ku goncang-goncangkan tubuhnya supaya dia sadar jika ini nyata.
“Sha.. kamu nggak apa-apa kan.??” Tanya ku kemudian. Dan tanpa kusangka dia menangkup kedua pipinya dengan kedua tangannya sendiri.
“Astaga.. apa ini Mimpi..??” Tanyanya kemudian.
“Ini Nyata..” jawabku kemudian.
“Kenapa Mas Ramma tiba-tiba mengatakan itu..? Kenapa sekarang..?? dan kenapa tiba-tiba….” dia tak bisa melanjutkan kalimatnya karena aku sudah membungkamnya dengan bibirku.
Itu karena aku ingin sembuh…
Alasan utama aku mengajaknya masuk dalam suatu hubungan adalah karena aku ingin sembuh. Aku tak ingin menjadi seorang yang Gila dengan Wanita apa lagi wanita itu Shasha. Aku tak ingin terlalu memuja wanita apalagi bertekuk lutut dihadapannya. Aku tak ingin terlalu penasaran dengan wanita seperti aku amat sangat penasaran dengan Shasha. Semuanya harus diakhiri dan inilah caranya supaya aku bisa sembuh dari kegilaan ini.
Yaa… aku akui.. aku memang sudah gila karena dia. Gila dalam arti yang sebenarnya. Orang waras mana yang membuatkan satu ruangan khusus untuk menyimpan foto-foto seseorang..? Orang waras mana yang setiap malam minggu selalu ketaman hiburan dan memakan arum manis sendirian ditengah-tengah Ramainya Taman hiburan tersebut..?? Aku melakukan semua itu, dan itu tandanya jika aku sudah tidak Waras.
Aku memang memiliki sebuah ruangan khusus disalam studio fotoku. Ruangan yang sangat privat. Dan apa kalian tau apa isinya..?? isinya adalah Foto-foto Shasha yang kuambil sembunyi-sembunyi sejak dia SMA hingga kini. Aku bahkan tak sadar kapan aku memmotretnya. Entah aku memang tak sadar atau aku memang tak mau menyadarinya.
Zoya menjadi wanita yang sangat Cemburu dengan kehadiran Shasha setelah dia tak sengaja melihat ruanga tersebut. Shasha memiliki ruangan tersendiri di studio fotoku, itu tandanya dia juga memiliki Ruang tersendiri di hatiku. Mau tak mau aku harus mengakui itu.
Kenyataan itu membuatku tak nyaman, membuatku semakin marah… Aku tak suka menginginkan Wanita. Aku tak suka jika diriku membutuhkannya. Aku ingin sembuh.. Dan kata Rio jika aku ingin sembuh, Maka aku Harus mendekati Shasha.. memperlakukannya seperti aku memperlakukan wanita-wanita di sekitarku pada umumnya. Jika ini hanya penyakit sesaat maka tubuhku sedikit demi sedikit tak akan lagi penasaran ataupun menginginkannya. Ini seperti Terapi bagiku.
Namun sebaliknya. Jika aku semakin menginginkannya. Tandanya aku tak tertolong lagi. Aku memang harus menghentikan semua petualangan asmaraku dan hanya berlabuh padanya. Lalu bagaimana dengan Zoya..??? Sialan…!!! aku tak bisa memikirkan apapun tentangnya. Dia sudah banyak mengorbankan diri untukku, aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja.
Ciuman kami inipun terputus setelah bayangan Zoya muncul dalam ingatanku. Zoya calon ibu dari anak-anakku.. Sialan…!!!! kenapa bisa seperti ini..?? Dan ya tuhann… dia sama sekali belum menghubungiku sejak kemarin. Apa terjadi sesuatu dengannya..??
“Kenapa..?” Tanya Shasha yang langsung membuyarkan lamunanku dari Zoya.
Aku menggeleng. “Enggak.. Kamu cantik.” Kataku kemudian. “Mau berkeliling..?” tanyaku lagi dan dia hanya mengangguk. Sisa malam itu kuhabiskan dengan berkeliling taman hiburan. Walau ada sedikit kecanggungan diantara kami tapi bagiku itu wajar, kami sudah tak sedekat ini dalam waktu yang lama.
***
Aku mengantar Shasha tepat di depan Gerbang Mansionnya. Tentu saja aku tak akan masuk. Jika tau Aku yang mengantar Shasha mungkin Renno akan menguburku hidup-hidup.
Sebelum dia keluar, kugenggam tangan Shasha. Kuberikan dia seuatu. Kunci Apartemen pribadiku yang kemaren hampir saja menjadi tempat pertama kami bercinta.
“Apa ini..?” Tanyanya polos.
“Kunci Apartemenku yang kemarin. Kuharap kamu mau kesana jika ada waktu luang.”
Dia tersenyum bahagia. “Jadi.. kita benar-benar pacaran..?” Tanyanya polos. Dan aku tersenyum sambil mengacak-acak poninya.
“Tentu saja.” Jawabku kemudian. “Tapi aku mohon, hanya kita yang tau. Jangan beri tau siapapun. Renno belum setuju denganku. Bahkan saat ini hubungan kami sedang renggang.”
. “Aku tau Mas.. Aku juga ingin hubungan kita tak diketahui siapapun terlebuh dahulu.” Jawabnya kemudian. Dia menangkup pipiku dengan telapak tangannya. Hangat.. terasa sangat hangat dan lembut.
‘deg.. deg.. deg.. degg…’ Perasaan apa ini..?? Aku memandangnya dengan tatapan tanda tanya. Ada apa ini..?? Sentuhannya benar-benar mengacaukan detak jantungku. Wajahnya sangat manja namun sentuhan tangannya benar-benar terasa sangat dewasa sakan-akan hanya dialah yang sanggup menenangkanku.
Dan tanpa kusangka, Shasha memberukan kecupan singkat di pipiku. Lalu dia keluar dari dalam mobilku begitu saja dan meninggalkanku yang ternganga sambil memegangi bekas kecupannya.
Apa ini…??? Kenapa kecupan di pipi terasa begitu nikmat untukku..?? Kenapa kecupan ini seakan-akan terasa begiitu menggairahkan dibandingkan Lumatan dibibir..??? Sialan…!!! sepertinya aku memang harus mandi air dingin nanti malam.
***
Malam ini aku kembali tidur di rumah. Mama sudah diperbolehkan pulang kerumah sore ini, tentu saja aku harus menemaninya. Aku tak mungkin meninggalkannya dulu beberapa hari ini.
Kulemparkan tubuhku di Ranjang King Sizeku. Memejamkan mata dan lagi-lagi bayangan Shasha menyeruak begitu saja dalam otakku. Astaga.. apa yang kuinginkan darinya…?? Bisa-bisanya aku dibuat menjadi seperti ini karenanya. Sialan….!!!
Tak mau berlama-lama membayangkan tentang Shasha akupun bangun dan duduk di pinggiran ranjang. Kuambil Ponselku dan lagi-lagi tak ada pesan ataupun MissedCall dari Zoya. Dimana wanita itu..?? Sungguh, baru kali ini aku menghawatirkannya.
Akhirnya akupun memiliki inisiatif untuk menghubunginya terlebih dahulu.pada deringan ke empat dia baru mengangkatnya.
“Halo..!!” suaranya terengah-engah, terdengar aneh, Seperti… Sialan…!!! dia tak mungkin sedang bercinta dengan seseorang.
“Halo.. Kamu dimana..? Sama siapa..?? sedang ngapain..?”
“Astaga sayang… Ada apa denganmu..?” Dia berbalik bertanya.
“Sialan..!!! seharusnya aku yang bertanya. Ada apa denganmu..?? kamu nggak ngasih kabar aku dua hari ini dan sekarang kamu terengah-engah seperti sedang bercinta.” Kataku dengan emosi yang sudah terkumpul di ubun-ubun. Aku tak tau kenapa bisa semarah ini. Cemburu..?? Baiklah,,, kuakui aku cemburu, bagaimanapun juga dia kekasihku, Wanitaku.
“Kamu cemburu sayang..?”
“Yaa.. aku cemburu dan khawatir.” Jawabku tanpa malu. Yaa aku memang tak punya malu.
Dia terdengar tertawa disana. Dia menertawakanku..?? Sialan..!!! “Aku hanya terlalu sibuk sayang.. kamu juga tak meneleponku. Jadi kita sama-ssama impas.” Jawabnya kemudian. “Sudah dulu yaa sayang.. besok aku hubungi lagi. Aku benar-benar sibuk.” Ktanya lagi diikuti dengan bunyi ‘tutt.. tuttt… tut..’ tanda sambungan telepon terputus. Sialan…!!!
“Sialann…!!!” umpatku sambil melempar ponsel milikku. Zoya pasti sedang bersama lelaki lain, aku tau itu. Aku mengacak-acak Rambutku. Siall!! Kalaupun dia dengan lelaki lain memangnya kenaapa..???
***
Aku bangun dalam keadaan berantakan. Bangun siang.. sangat siang.. karena ini hari minggu. Aku bangun, mandi dan mengganti pakaianku lalu bergegas turun kelantai dasar menemui Mama di kamarnya.
“Pagi ma..” sapaku pada Mama dan langsung memeluknya, mama masih terduduk di rannjangnya dengan lemahnya.
“Pagi sayang.. Kamu nggak kerja..?” tanya Mama kemudian.
“Enggak, Ma.. ini kan minggu.. paling nanti siang saja ada pemotretan.”
Mama tersenyum sambil mengacak rambutku. “Kamu itu yaa masih kayak anak kecil tau nggak.” Katanya kemudian. Yaa.. kuakui aku memang seperti anak kecil saat di hadapan Mama. “Ramm… Kapan kamu bawa pacar kamu kesini..?” tanya Mama kemudian.
“Pacar apa sih Ma.. Ramma nggak punya pacar.”
“Kamu jangan Bohong, lalu ada apa Kamu dengan adiknya Renno.?”
“Astaga.. dia seperti adikku sendiri Ma..”
“Cara Kalian memandang tidak seperti itu. Dan Mama tau kamu menyukainya.”
“Enggak Ma.. enggak.. itu dulu, sekarang berbeda.”
“Apa yang membuatnya berbeda..?” tanya Mama dengan antusias. Dan aku tak dapat menjawab pertanyaan Mama karena ternyata tak ada bedanya dulu dengan sekarang. Aku masih menginginkannya.. penasaran dengannya…
Aku langsung berdiri dan bergegas pergi, “Sudah yaa Ma.. Ramma mau siap-siap dulu, sebentar lagi ada pemotretan.” Kaataku kemudian.
Mama tersenyum. “Kamu menghindari pertanyaan Mama.”
“Ayolah Ma.. lupakan semuanya..”
“Mama akan melupakannya.” Kata Mama kemudian. “Tapi kamu harus janji nggak akan menyakitinya, bagaimana..??”
Nggak akan menyakitinya..?? Bagaimana mungkin..?? Aku menjalin hubungan dengannya karena aku ingin lepas dari rasa penasaran ini.. tentu saja setelah lepas aku akan meninggalkannya, dan aku tau jika itu akan menyakitinya. Aku bahkan mempertaruhkan persahabatanku dengan Renno dan Dhanni demi kesembuhanku ini. Sial…!!!
“Aku nggak janji Ma…” jawabku sambil meninggalkan Mama.
Yaaa… aku memang tak bisa berjanji jika aku tak akan menyakiti Shasha.. bagaimanapun juga Shasha bukan wanita yang tepat untukku. Seberapa besar aku menginginkannya, aku akan selalu melawan rasa itu…
***
Aku Memarkirkan Mobilku di studio foto milikku. Kali ini Rio membawa beberapa Modelnya untuk foto disini, lebih tepatnya untuk foto yang akan di pajang di majalah dewasa. Dan tentunya aku sudah menyiapkan tempat untuk bercinta dengan salah satu modelnya nanti.
Siapa yang akan menyia-nyiakan kesempatan ini..?? Sanga model berpose dengan baju minimnya dan bergaya sesensual mungkin. Membayangkannya saja membuatku mengeras. Sial…!!!
Aku masuk kedalam studio fotoku, disana sudah ada pegawaiku, dan juga beberapa Model Rio yang menunggu di lobi. Sedangkan Rio sendiri mungkin sudah melakukan Sesi pemotretan dengan salah satu modelnya.
Aku masuk kedalam dan betapa terkejut dan marahnya diriku ketika mengetahui siapa yang sedang di potret Rio.
Shasha.. hanya mengenakan juba Mandi dia berpose dengan gaya yang sangat Sensual. Duduk diatas Ranjang putihku yang memang kugunakan sebagai properti pemotretan, Kulit putih mulus dari pahanya di pertontonkan. Dadanya sedikit menyembul keluar, Dia mengenakan Make Up Gothik khas Vampire, kulit putih wajahnya sangat kontras dengan eye shadow serta lisptik yang semuanya berwarna hitam, menampilkan efek pucat khas Vampire. dan dia memainkan rambutnya serta sedikit menggigit bibir bawahnya seperti wanita nakal pada umumnya.
Sialan…!!!! Kejantananku berdiri tegak saat melihatnya seperti itu, dan aku tau si Rio yang juga lelaki normal pasti sejak tadi dia juga sudah Mengeras. Itu membuatku marah, amat sangat marah..
“Apa-apaan ini..?” emosiku sudah memuncak, pertanyaan itu kukeluarkan dengan nada tinggi.
Rio dan Shasha menatap kedatanganku. Aku menatap Rio dengan tatapan membunuh, dan aku menatap Shasha dengan tatapan marah berapi-api.
“Ramm.. Lo sudah datang..?” Tanpa merasa bersalah si Rio menyapaku. “Kenalin, dia Nattasha Model baru Gue.”
Dan aku mendekat tepat beberapa inci di hadapan Rio. “Dia Pacar Gue.” Desisku tajam. Rio membelalakkan matanya tak percaya. “Tinggalkan kami.” Kataku lagi.
Rio tau jika aku sudah marah, tanpa banya bicara lagi dia meninggalkanku dan Shasha dalam ruangan ini. Shasha masih diam membatu, dia terlihat sedikit takut. Aku mengambil beberapa lembar tissue yang ada di sebelah Ranjang. Kudekati dirinya, kuangkat dagunya, dan kupandangi setiap inci dari wajahnya. Lalu kuhapus sedikit demi sedikit Make Upnya.
“Kenapa kamu melakukan ini..? Aku sudah bilang, aku nggak suka lihat kamu jadi model, dunia ini nggak bagus untuk kamu.” Kataku penuh dengan penekanan.
“Aku.. Aku.. hanya ingin masuk dalam dunia yang sama dengan Mas Ramma..” Katanya Polos.
“Kamu gila.”
“Aku gila karena Kamu Mas..”
Dan setelah kata-kata itu kudaratkan bibirku dengan kasar pada bibirnya. Kulumat, kuhisap kugigit, semuanya kulakukan untuk memberinya hukuman. Kudorong dia kebelakang hingga terlentang sepenuhnya diatas ranjang. Aku memposisikan tubuhku di tengah-tengah pahanya. Kupenjarakan tangannya singga dia tak bisa berbuat apapun. Aku menciuminya secara kasar penuh dengan gairah. Satu tanganku sudah mendarat sempurna di payudara dibalik juba yang ia kenakan. Kuremas dan kumainkan putingnya membuatnya menggelinjang nikmat.
Lalu entah kenaapa ada sedikit rasa untuk menghentikan semua ini.. satu sisi pikiranku berkata jika ini salah, tapi sisi lain berkata jika aku harus melakukannya supaya penderitaanku berakhir.
Kuhentikan seketika semua yang kulakukan terhadapnya. Dia menatapku degan tatapan tanda tanyanya. Akupun langsung beranjak duduk, membenarkan kembali letak jubanya yang sudah berantakan karena ulahku.
“Kenapa..?” tanyanya kemudian saat sudah duduk kembali di sebelahku.
Tanpa sadar, aku langsung memeluknya. “Ini tidak benar Sha… Aku tak bisa melakukan ini terhadapmu..” kataku kemudian.
“Tapi kenapa Mas..? Aku juga wanita dewasa, Aku sudah menjadi pacarmu, dan aku.. Aku.. sudah nggak perawan.. Apa yang kamu takutkan..?” tanyanya kemudian.
Yaaa… apa yang kutakutkan..? Apa yang kutunggu..?? Aku sendiri tak tau.. aku tak tau jawabannya kenapa aku membedakan Shasha dengan wanita lainnya. Bagiku dia lebih spesial bahkan dibandingkan Zoya.. aku tak bisa melakukannya…
“Aku tidak takut.” Jawabku sambil melepaskan pelukan dan menatapnya dengan sungguh-sungguh.
“Lalu kenapa Mas Ramma….”
“Aku menghormatimu Sha.. Kamu berbeda dengan wanita-wanita yang pernah tidur denganku.” Jawabku tulus.
“Aku nggak ingin berbeda, aku ingin sama.” Jawabnya polos.
Aku tersenyum dan memeluknya kembali. “Lain kali kita akan melakukannya, tapi tidak sekarang. Aku belum siap.” Jawabku kemudian.
Sejak kapan aku menjadi lelaki banci seperti ini..? Sejak kapan Seekor singan menolak saat dilempari spotong daging segar..?? Apa aku semakin parah..??? Yaa.. tentu saja.. Tujuanku memacarinya adalah supaya aku bisa menyetarakannya dengan wanita-wanita yang pernah kutiduri, tapi kenyataannya aku masih membedakan Shasha. Tempat Shahsa masih terpisah dengan tempat wanita-wanita jalang tersebut. Aku bahkan sama sekali tak berniat untuk menidurinya. Gila.. aku benar-benar Gila. Aku tak pernah memperlakukan wanita seistimewa ini.
Aku mlepaskan pelukanku, kukecup kembali bibirnya dengan singkat. “Pakai bajumu, Kita ke Apartemenku saja.” Kataku kemudian.
“Tapi setelah ini aku harus kerja.”
“Berhentilah bekerja.”
“Apa..??”
“Berhentilah bekerja, dan datanglah keApartemen Mas Ramma setiap harinya sebagai ganti pekerjaanmu, dengan begitu Renno nggak akan tau kalau kita menjalin hubungan.” Jawabku sambil membelai lembut rambutnya.dan diapun mengangguk.
***
Kami keluar dari dalam kamar pemotretan dengan tatapan aneh dari semua orang yang menunggu di luar ruangan. Rio lalu datang menghampiriku.
“Apa yang terjadi..?”
“Dia keluar, dan dia bukan Model Lo lagi.” Jawabku santai.
“Sialan..!!! tapi kenapa..?”
“Gue nggak ngijinin Lo memotret tubuh Cewek Gue.”
“Lo bener-bener pacaran sama dia..?”
“Dia Gadis yang membuat Gue Gila, yang pernah Gue ceritain Ke Elo.” Jawabku santai, dan Rio hanya melongo menanggapi pernyataanku.
Lalu Rio mendekatkan bibirnya ketelingaku. “Terus Gimana dengan Zoya..?” bisiknya kemudian.
Dan dengan santai aku menjawab. “Nggak tau.” Sambil meninggalkannya. Yaa… aku memang tak tau bagaimana kelanjutan hubungan kami nanti.
***
Setelah sampai di Apartemen, aku menggiring Shahsa masuk dan menuju kekamar kami. Kamar Kami…?? Astaga… apa yang sedag kupikirkan..??
“Mas Ramma tidur disini..?” tanyanya kemudian.
“Enggak, ini Cuma tempat santai saja.” Kataku sambil mendekatinya. Akupun memeluknya, menghirup dalam-dalam aroma rambutnya. Sialan…!!! ini benar-benar memabukkan. “Tidurlah sini… Nanti malam kuantar pulang.” Kataku kemudian.
Dia melepaskan pelukannya, dan menatapku dengan wajah berbinar. “Benarkah..? aku boleh tidur disini..?”
“Hahahah bukannya aku sudah ngasih kamu kunci Apartemen ini..?? Itu tandanya Apartemen ini juga milik kamu.” Jawabku sambil mencubit hidung mancungnya.
“Jadi… kita.. hanya tidur..?”
“Ya… Hanya tidur.” Jawabku dengan pasti.
“Mas Ramma yakin..??” tanyanya menggodaku.
Dan akupun langsung tertawa sambil memeluk pinggangnya dan menjatuhkannya di atas Ranjang. Menindihnya menggelitiknya, menggigitnya dan masih banyak lagi yang kulakukan padanya hingga dia berteriak minta ampun…
***
Aku terbangun ketika hari sudah gelap. Berapa lama aku tertidur tadi..??? dan aku baru sadar jika aku tidur dengan memeluk tubuh seorang gadis. Kami masih mengenakan pakaian lengkap. Dan tak ada Seks. Ini pertama kalinya aku tidur dengan seseorang secara intim tapi tak melakukan Seks.
Aku menatap ke langit-langit kamarku. Apa yang kulakukan ini benar…??? aku merasa bersalah dengan Zoya karena aku sudah menghianatinya. Sejauh ini rasa penasaranku terhadap Shasha bukannya hilang, tapi makin bertambah.
Apa aku memang harus melakukan itu dulu supaya rasa ini cepat-cepat hilang…???
Tidak… aku tidak boleh sampai lepas kendali, aku tak boleh meniduri Shasha. Bagaimanapun juga kami tak akan bersatu, jadi aku tak boleh tidur dengannya. Mungkin beberapa hari lagi setelah aku bersamanya, aku akan merasa bosan. Semoga saja seperti itu.
Aku marasakan dia bergerak-gerak dalaam tidurnya, dia menggeliat, dan membuatku keras seutuhnya. Sialan…!!! kenapa dia begitu menggoda untukku..?? akhirnya akupun membaangunkannya.
“Sha… bangun sayang..” aku membangunkan dia dengan menggodanya, memberikan kecupan-kecupan kecil untuknya.
“Egghhh… Geli..”
“Makanya… Ayoo cepat bangun, ini sudah malam.” Kataku kemudian.
Dan dia langsung terduduk saat mendengar kata malam. “apa..???? aku harus cepaat-cepat pulang, Mas Renn akan curiga nanti.” Katanya sambil gelagapan mengumpulkan barang-barangnya. Aku hanya tertawa saat melihatnya. Lucu.. sangat lucu…
“Hahhaah Sha… ini masih jam 7.. aku bangunin kamu karena aku ingin mengajakmu untuk Dinner.”
Dan dia menghela nafas leganya. “Astaga.. kukira..”
“Yaa… sudah.. mendingan kamu mandi dulu, Mas Ramma mandi di kamar mandi sebelah saja..” kataku kemudian, sebelum meninggalkannya lagi-lagi aku menyempatkan diri untuk mengecup keningnya. Entah kenapa aku senang sekali mengecup keningnya. Seperti ada perasaan tenang yang merayapi sekujur tubuhku.
***
Malam ini aku mengajak Shasha makan malam di Restoran prancis terkenal di kota ini. Tempatnya sangat romantis. Jujur saja, aku tak pernah memperlakukan wanita seperti ini. Zoya yang selama 4 tahun hidup denganku saja hanya sekali dua kali kuajak ketempat romantis, itupun hanya karena ajakan teman. Aku bukan pria Romantis. Aku hanya Pria yang pandai merayu hanya untuk tidur semalam dengan wanita yang kurayu.
Kami duduk di ujung ruangan. Tempatnya seperti rumahkaca. Luas dan penerangannya sangat minim, sehingga kesan romantisnya sangat kental, belum lagi musik klasik yang sedang di putar, benar-benar menambah kesan romantis dari reestoran ini.
“Mas Ramma sering kesini..?” tanyanya kemudian.
“Enggak… ngapain aku kesini..?”
“Siapa tau mengajak pacarnya kencan atau apa gitu..”
“Nggak pernah, kamu satu-satunya wanita yang peenah kuajak dinner ketempat yang membosankan seperti ini.”
“Ini tidak membosankan tau… ini romantis.”
“Yaa… baiklah.. terserah kamu saja.” Jawabku sambil tersenyum dan melihat sekitar untuk memanggil seorang pelayan. Tapi sebelum aku melihat pelayan, mataku terpaku saat meelihat seorang wanita berdiri dengan gaun warna putih Elegannya.
Dia Zoya..
Dia sedang menggandeng seorang lelaki bersamanya. Sialan..!! jadi apa yang kupikirkan tadi malam benar..??? aku berdiri menatapnya dengan tajam. Seaakan merasa di perhatikan, tanpa sengaja tatapan mata Zoya tepat kearah mataku. Zoya bahkan melihat Shasha yang masih duduk di hadapanku.
“Ada apa Mas..? tanya Shasha sambil menoleh kebelakang, melihat apa yang sedang kupandang.
“Kita pergi dari sini.” Jawabku dengan nada dingin. Lalu tanpa basa-basi lagi ku sambar tangan Shasha dan menyeretnya keluar. Melewati Zoya yang menatap kami dengan tatapan sendunya.
Ini kacau.. ini sangat kacau…. aku harus menemuinya malam ini juga.
***
Aku mengatar Shasha pulang, Tak ada makan malam Romantis diantara kami. Shasha diam hingga sampai di rumah. Akupun sama. Entah kenapa fikiranku tertuju pada Zoya. Sialan…!!!! aku harus segera menemuinya.
Aku segera masuk ketika sampai di Apartemen Zoya. Dia sudah menunguku di dalam.
“Siapa Dia.?” tanyaku dingin terhadapnya. Sungguh aku tak pernah bersikap seperti ini terhadapnya sebelumnya. Kenapa ini..? seakan-akan aku menjadi lelaki pencemburu sedunia, padahal aku tau apa yang sudah kulakukan di belakangnya.
“Bukan siapa-siapa, hanya Klien.” Jawabnya santai.
“Klien..? Kalian makan malam bersama dan itu terlihat seperti sepasang kekasih.” Aku mulai berteriak.
“Lalu apa bedanya denganmu.?? Kamu keluar dengan dia dan kalian terlihat seperti sepasang kekasih..” jawabnya, dia tak mau mengalah.
“Jangan lempar kesalahan padaku.. Aku tidak tidur dengannya. Sedangkan kamu..?”
Dia melangkah mendekatiku dan berdiri tepat di hadapanku. “Kamu tau apa yang membuatku sangat Cemburu..? Karena kamu tidak menidurinya, karena kamu membedakan tempatnya dan tempatku, karena kamu membuatnya terlihat istimewa dibandingkan aku…”
Dia tak dapat melanjutkan kalimatnya lagi ketika tubuhku meraihnya dan memeluknya erat. “Lepaskan aku.. Aku benci padamu…” katanya sambil meronta, tapi aku tak mempedulikannya, aku tetap memeluknya. “Kamu jahat.. kamu keterlalulan, Aku hanya kencan dengan lelaki biasa sedangkan kamu kencan dengan gadis istimewamu, tapi kenapa hanya aku yang salah..??” katanya masih dengan menangis dan meronta di pelukanku.
“Maafkan aku.. aku.. aku hanya terlalu cemburu..” kataku masih dengan memeluknya.
Dia masih meronta.. “Aku nggak peduli.. kamu pikir aku tak pernah cemburu saat melihatmu dengan wanita lain..??”
Dan aku baru sadar jika selama ini aku terlalu egois terhadapnya. “Aku tau.. Maafkan aku..” kataku lagi. Aku harus mengalah.
Dia terdiam, berhenti meronta. Lalu berkata dengan tajam. “Aku akan memaafkanmu, Asalkan kamu janji akan menjauhinya.”
Tubuhku menegang saat mendengar permintaannya. Menjauhi Shasha..?? tidak, itu tidak mungkin. Aku memang keterlaluan, Egois, dan aku memang Berengsek. Tapi untuk menjauh dengan seorang Shasha itu tak mungkin kulakukan saat ini.
“Maafkan aku.. aku nggak bisa.”
Dan setelah kata-kata tersebut aku Sadar. Jika ternyata Shasha memang lebih berarti untukku dibandingkan Zoya. Aku tidak bisa meninggalkannya meski itu Zoya yang menyuruhku. Kenapa ini..? Kenapa seperti ini..? kenapa dua wanita ini membuatku semakin Gila..??

 

___TBC__

 

Sampek sini dulu yaa.. authornya ngantk bgt nih,,, hehheheh met malem menjelang pagi.. 🙂

Advertisements

13 thoughts on “My everything (Novel online) – Chapter 6

  1. dasar rama labil kadang sasha kadang zoya…
    niggalin sasha gg mau mutusin zoya gg rela…
    dasar rama bikin penasaran aja maunya apa?
    part selanjutnya jangan lama ya…

    Liked by 1 person

  2. jangan jahat” banget ngapa ramm
    baik zoya maupun sasha punya posisi yang berarti
    sasha juga kenapa begitu mudahnya menyetujui ajakan pacaran ramma
    labil kamu ram
    ntar kalo keduanya pergi darimu kelar hidup kamu

    Like

  3. my everything cuma sampai chapter 7 yaa ka? aku belum baca emang tapi pagenya aku save biar bisa aku baca kapanpun. aku cari shapter 8nya gaada. aku baca the lady killer trus aku suka banget ceritanya makanya aku mau baca karangan kaka yg lain. dan kepan because its you sama my everything gabisa di downloas di playstore ka? pasti banyak yg download deh ka

    Like

    1. Haii aina.. ME (My everything) emang baru sampek chapter 7.. chapter 8 dan sterusnya masih dalam proses.. hehheh untuk BIY (because it’s you) akan segera rilis di playstore karena sudah di setorkan naskahnya.. 🙂 kalau ME mungkin tidak akan ada di playstore karena genrenya Erotis.. 🙂 🙂
      Terimakasih sudah mau membaca tulisan2 saya.. salam kenal.. 😉 🙂

      Like

  4. okee kak aku tinggu yaa kelajutannya aku suka banget sama jalan ceritanya the lady killer dan aku juga baru selesai baca because it’s you dan aku juga suka banget sama jalan ceritanya hehe

    Like

  5. Salam kenal juga, aku tunggu yaa kelanjutan ceritanya, aku baru selesai baca because it’s you dan aku suka banget 2 jalan cerita the lady killer sama because its you

    Like

  6. Gak bsa dipungkiri klo cinta Ramma trbgi 2,,,ya wajar aja Ramma mnjlin hbngan dgn Zoya slma 4 thn lebih,,rasa cinta psti ada,,ntah itu bsar atau kecil..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s