romantis

Please Stay With Me – Chapter 5

PswmpostrPlease Stay With Me

 

Chapter 5

–Revan-
Hari ini berlangsung membosankan untukku. Rapat menjadi berantakan karena aku tak konsentrasi pada rapat tersebut. Entaah apa yang ada dalam otakku aku tak tau, yang pasti aku selalu mendengar tangisnya dalam telingaku. Ini sedikit gila, aku tak pernah mengalami hal yang seperti ini. Apa tadi pagi aku sedikit keterlaluan..???
Aku hanya tak suka dia menghindariku. Bekerja tanpa meminta izin denganku. Aku tak suka itu. Apalagi setelah tau dia bekerja hanya untuk dekat dengan lelaki itu, lelaki yang katanya adalah kekasihnya. Apa dia sudah Gila..?? Apa dia terlalu bodoh..? Dia sudah memiliki suami dan baru beberapa hari yang lalu mengucapkan kata Cinta, tapi hari ini dia berkata jika dia memiliki kekasih. Sial…!!!
Akhirnya aku mengatakan kata-kata itu. Kata-kata yang lagi-lagi membuatnya menangis. ‘Baik.. Pergilah… Berbahagialah dengan dia, dengan begitu kita bisa cepat-cepat berpisah.’ Dan aku pergi meninggalkanya begitu saja. Aku sempat mendengar tangisnya, isakannya. Dan entah kenapa sekarang itu terngiang-ngiang di telingaku.
Apa aku sedah keterlaluan..?? Apa aku harus meminta maaf..?? Ayolah… aku sudah enyakitika semenjak dua tahun terakhir. Apa hanya karena kata-kata itu aku harus meminta maaf..?? tentu saja tidak.
Aku melihat kearah Jam tangan, Waktu sudah menunjukkan pukul 3 Sore. Sedangkan aku mempunyai janji temu dengan Amanda jam 5 nanti. Manda dalah satu-satunya teman atau sahabat terdekatku. Dia sahabat dari Lita. Dia menyayangi Lita. Dan tentunya aku harus menyayanginya juga.
Aku bergegas pergi, tapi sebelumnya aku akan kemakam Lita terlebih dahulu. Aku merindukannya….
***
Banyak bercerita dengan Lita membuat hatiku semakin tenang. Apa yang kuceritakan..?? Tentu saja tentang istri bodohku itu. Dan aku baru menyadari jika selama ini Hanya Daralah topik yang kubicarakan dengan Lita. Seakan-akan Lita sebagai teman curhatku untuk menghadapi Dara.
Yaaa… kuakui, Dara memang sedikit banyak menyita pikiranku. Aku berusaha sedingin mungkin terhadapnya dan juga memberi jarak untuknya karena aku memang tak ingin terlalu dekat dengannya. Kenapa…??? Aku sendiri tak tau. Aku hanya tak ingin hatiku perpaling kepadanya karena bagaimanapun bagiku hanya Lita yang pantas memiliki hati ini.
Aku mempercepat Laju Mobilku ketika memasuki jalan tol, walau ini masih jam 4, tapi aku ingin pulang dulu sebelum menemui Manda. Tanpa kusangka tiba-tiba ada seekor hewan berlari menyebrang tepat di depan Mobilku. Entah itu Kucing, musang atau anjing Liar. Yang kuataau saat itu adalah dengan paniknya aku membanting setir kekiri. Laju Mobilku yang di atas rata-rata semakin memperburuk keadaan, belum lagi kepanikan yang melandaku, bukannya menginjak Rem aku malah menginjak Pedal Gas. Alhasil Mobilku menerobos pembatas jalan. Dan masuk kedalam jurang.
Aku terguling-guling didalam Mobilku.menggunakan sabuk pengaman sedikit mengurangi resiko parahnya keadaanku, tapi tentu saja aku tetap terluka. Aku merasakan sengatan yang amat sangat menyakitkan di lengan kananku. Dia Patah… Masih terguling-guling aku meringis kesakitan… kapan ini akan berakhir…?? Apa aku akan selamat..?? dan setelah pertanyaan itu ada sedikit kebimbangan melandaku.
Aku ingin mati… karena mati akan membawaku kepada Lita, kekasihku… Tapi tuhan… Berikan aku sedikit waktu supaya Dara bisa menemukanku. Saat itu terjadi, aku hanya ingin minta maaf kepadanya karena sudah menyakitinya selama ini… Satu orang yang ingin kutemui saat aku sekarat hanyalah Dara… aku ingin meminta maaf padanya…
Lalu tiba-tiba… ‘Buuuuummmmbbb’
Mungkin Bodi depan Mobil ini sudah menabrak Dasar jurang, aku tak tau karena setelah benturan itu tak ada lagi apapun yang dapat kuingat.. semuanya gelap.. gelap… sepi… dan aku merasa sendiri… apa Tuhan mengabulkan Do’a pertamaku untuk mati dan bertemu dengan Lita..?? Jika benar, itu tandanya Do’a keduaku tak terkabul. Aku tak akan bisa meminta maaf kembali pada Dara.. aku tak akan melihat Wajah cantiknya lagi… dan entah kenapa itu membuatku sedikit nyeri…
***
“Mas… ini hari pertama aku masuk Kantor.. Disana tidak Nyaman.. Aku membutuhkanmu Mas… Kembalikah….”
Aku mendengar suara Dara. Dia terdengar begitu tersiksa. Tapi aku tak bisa melihatnya, ada apa ini..??
“Sudah satu bulan Kau meninggalkanku, Apa memang ini keinginanmu..? Kembalilah..”
Lagi-lagi aku mendengar suaranya yang Pilu..
“Apa Kau tau jika aku yang mencukur kumismu..? menyeka seluruh tubuhmu..? dan aku sendiri pula yang menggantikan pakaian untukmu..?? Kau sudah seperti Bayi besarku Mas.. Kembalilah… Bangunlah…”
Dan selalu sepeti itu… sesekali aku dapat mendengarnya, tapi aku tak bisa melakuan apapun. Aku lemah.. sangat lemah.. tak ada semangat untuk sembuh kembali..
***
Aku berjalan dengan langkah gontai. Dimana ini..?? melihat kearah tubuhku, aku masih utuh. Tanganku yang patah bahkan seperti tak terluka sedikitpun, Kecelakaan tadi bagaikan mimpi sedangkan disini bagaikan kenyataan.Saat ini aku mengenaakan kemeja putih dan celana putih. Kemeja ini terlihat sedikit kebesaran, tak seperti kemejaku pada umumnya yang selalu terlihat pas Bodi dan modis. Sedangkan celana putih inipun sedikit aneh. Aku tak pernah memiliki celana putih sebelumnya. Aku juga bertelanjang kaki, tak ada sepatu yang mengiasi kakiku seperti biasanya.
Aku menginjak rumput hijau nan indah. Hawanya terasa sangat sejuk,banyaknya kabut memperindah suasana dan membuatnya terasa semakin sejuk. Aku melihat seorang gadis datang menghampiriku, gadis yang selama ini kurindukan. Kekasihku, Lita…
Dia terlihat begitu nyata, tak samar seperti pada mimpi-mimpiku sebelumnya.
“Bagaimana kabarmu Kak..?” Tanyanya Lembut.
“Aku baik… bahkan lebih baik dari sebelum-ebelumnya.” Jawabu sedikit semangat.
“Mau ikut denganku..?” tanyanya sambil mengulurkan tangan, Aku menatapnya dengan tatapan tanda tanya. “Kita jalan-jalan sebentar disini.” Jawabnya lagi.
Dan akupun mengangguk. Kuterima uluran tangannya dan aku benar-benar terkjut dibuatnya. Jika selama ini dalam mimpiku aku sama sekali tak bisa menyentuh dan merasakannya, maka kali ini dia benar-benar begitu nyata untukku. Tangannya nyata… bahkan akupun merasakan kelembutannya.
“Kak Revan kenapa bisa sampai disini..?” tanyanya masih dengan mengajakku berkeliling.
“Aku juga tak tau.”
“Apa Kak Revan melihat dia..?” tanyanya yang kali ini sudah menunjuk kepada seorang anak perempuan kecil yang sedang naik ayunan.
“Dia siapa..?”
“Dia anak kita Kak.. kami sangat bahagia disini.” Katanya sambil menatapku sungguh-sungguh.
Akupun kembali menatapnya, benarka ini nyata..?? Ya tuhan.. aku bahkan merasakan kebahagiaan yang sangat mendalam saat mengetahui ini nyata. Kupeluk erat-erat tubuhnya sesekali mencium ubun-ubunnya. Astaga.. ssungguh.. aku sangat bahagia dengan semua ini.
“Apa Kak Revan tak menyesal berasa disini..?” tanyanya kemudian.
“Tentu saja tidak, Aku sangat bahagia..”
“Tapi sepertinya ada yang mengganjal fikiranmu Kak..”
“Aku… Aku… sepertinya harus menemui Dara..” dan entah kenapa aku bisa mengucapkan kalimat tersebut. “Emm.. maksudku, aku harus meminta maaf padanya dulu sebelum aku pergi.” kataku lagi.
“Ohh.. Dara.. Gadis yang selalu Kau ceritakan padaku, sepertinya dia gadis baik.” Katanya kemudian sambil tersenyum.
Dan entah kenapa bayangan Dara seketika muncul dalam benakku. “Yaa… dia gadis baik tapi bodoh. Dia mengabdi padaku layaknya seorang pelayan pribadi, padahal aku selalu mengacuhkannya.” Kataku mulai bercerita. Dan cerita-cerita tentang Dara langsung meluncur begitu saja dari bibirku.
“Kau merindukannya Kak..?” Tanya Lita lembut.
“Tidak… hanya saja, aku belum sempat meminta maaf dengannya.” Jawabku dengan nada lemah.
“Kembalilah Kak…” Katanya kemudian yang sontak membuatku terkejut.
“Apa yang Kau katakan..?? Tidak.. aku tak ingin kembali.” Jawabku dengan sedikit merajuk.
Lita menatapku dengan tersenyum, dia menangkup kedua pipiku.dan mulai berbicara.
“Lihatlah dirimu Kak… Kau terlihat kesakitan..” katanya kemudian.
“Aku kesakitan karenamu..” jawabku cepat.
“Tidak, dengarkan aku dulu.” Katanya kini sambil menutup mulutku dengan jari telunjuknya. “Kau terlihat Kasakitan karena menahan perasaanmu sendiri Kak.. Kau menyukainya, menginginkannya tapi Kau masih merasa bersalah padaku. Kau menyakitinya supaya dia menjauh darimu tapi Kau tak sadar jika saat kau Menyakitinya secara tak langsung Kau juga merasa tersakiti.”
“Tidak.. itu tidak seperti itu Lita..”
“Kak… lihatlah jauh kedalam dirimu.. Kau selalu membicarakannya saat mengunjungiku… kau Selalu bercerita tentangnya.. Kau bahkan tak sadar jika sedikit demi sedikit dia sudah merebut perhatianmu,. Kau tak sadar jika secara tak sengaja dia masuk kedalam hatimu. Itu sebabnya kenapa wajahku selalu terlihat samar saat berada dalam mimpimu, karena dengan tak sengaja Kau menggantikan Posisiku dengan dirinya.”
“Tidak.. bukan itu yang terjadi..”
“Kembalilah Kak… berbahagialah… Aku masih akan tetap menunggumu disini dengan anak kita, tapi waktumu bukan sekarang… dia lebih membutuhkanmu…”
“Tapi Aku membutuhkanmu..”
“Tidak… yang kau butuhkan adalah dia… bukan aku… dia yang selalu merawatmu selama ini… Kembalilah…..”
Bayangan diri lita menghilang sedikit demi sedikit.. taman yang kuinjakpun sekarang juga menghilang sedikit demi sedikit. Aku seperti berdiri di ruang Hampa, Hitam, Gelap, Pekat, dan aku hanya seorang diri. Tiba-tiba aku mendengar suara itu lagi… Suara Dara…

“Kumismu sudah tumbuh lagi Mas..”
“Apa Kau tau kalau hari ini ada seorang Klien yang sangat menjengkelkan..?? Dia Gila, Dia bahkan berani memegang Bokongku. Astaga… Dan aku langsung menginjak kakinya keras-keras dengan Heels ku.”
“Mas.. Apa Kau tak Lelah menutup mata..?? Bangunlah Mas.. Aku masih disini menuggumu.”
“Apa disana sangat indah..?? jika iya kenapa Kau tak mengajakku..? Aku lelah disini sendiri tanpamu.. Bangunlah…”
“Apa Kau ingin menjauh dariku..?? Jika Iya maka bangunlah… Aku berjanji akan menyerah dan meninggalkanmu jika Kau Bangun Mas… Bangunlah….”
Dia menangis lagi… menangis tersedu-sedu, terisak-isak… Tuhan… jika memang belum saatnya aku menghadapmu, Kembalikan aku padanya… beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya… jika memang apa yang dikatakan Lita itu benar, maka aku akan memulai semuanya dari awal kembali… setidaknya aku akan memperlakukannya dengan baik…. dan mungkin aku akan belajar untuk menerimanya… Bantu aku tuhan… bantu aku… Aku ingin hidup kembali bersamanya….
Dan tiba-tiba saja ada setitik cahaya putih dihadapanku. Ruangan yang semualanya gelap gulita seperti ruang hampa yang menyesakkan akhirnya sedikit diterangi oleh cahaya tersebut. Cahaya itu semakin lama semakin membesar.. semakin membesar hingga silau dan membuatku mengedipkan mata berkali-kali… mengedipkan mata…??? Tunggu… berarti aku sudah….
Dan aku tak dapat berkata-kata lagi ketika Rasa nyeri menghantam kepala dan tangan kananku. Rasa yang sepertinya sudah sangat lama tak kurasakan. Aku mengernyit, tak tahan dengan Rasa ini. Sedikit demi sedikit akhirnya mataku terbuka.. lampu terang rumah sakit, bau obat-obatan, cat ruangan yang warnanya putih, selimut dan gorden biru.. serta bunyi monitor di sebelahku menyambut kesadaranku. Kulihat tangan kananku yang masih di perban, tangan kiriku yang ber infus, serta tubuh dan wajahku yang penuh dengan kabel-kabel dan selang-selang Aneh.. Astaga… aku benar-benar mengalami kecelakaan. Kecelakaan yang sangat parah.
Aku menoleh kekiri dan mendapati dia sudah tertidur dengan pulasnya. Air matanya bahkan mengering di pipinya.
Cantik… sangat cantik…. kadang aku berfikir, bagaimana mungki Gadis secantik dia tak pernah memiliki kekasih sekalipun dalam hidupnya…??
Aku ingin bicara, tapi tak bisa. Suaraku tertahan. Akhirnya aku hanya memencet tombol darurat untuk memanggil suster keruanganku.
Suster tersebut datang, dan dia benar-benar sangat terkejut saat melihatku. Dia ingin membangunkan Dara, tapi aku menggelengkan kepalaku untuk melarangnya. Biarlah ini menjadi kejutan kecil untuknya besok pagi. Suster tersebut memanggil seorang dokter jaga untukku. Dokter tersebut sama terkejutnya.
“Pak Revan.. Sungguh, saya benar-benar tak percaya jika anda bisa melewati semua ini.” Katanya sedikit memujiku sambil melepaskan beberapa peralatan yang sudah tak digunakan di tubuhku. “Ini juga berkat istri anda yang setia menemani anda selama ini. Anda beruntung memilikinya.” Katanya lagi sambil melirik kearah Dara yang masih tertidur pulas.
“Apa.. Ada.. yang.. salahh.. saya.. susah.. bicara..” kataku terpatah-patah, dan itu benra-benar sangat sulit di ucapkan.
“Tidak Pak… Kami sudah melakukan banyak pemeriksaan. Organ-organ anda semuanya masih berfungsi dengan normal. Hanya tangan kanan anda saja yang patah, dan benturan keras di kepala Bapak menyebabkan bapak tak sadarkan diri selama hampir setahun lamanya. Kami fikir memang bapaklah yang tak memiliki semangat hidup hingga Pak Revan sendirilah yang menolak untuk sadar.”
Perkataan Dokter memang benar, aku memang menolak hidup karena aku ingin bersama dengan Lita. Tapi ketika mengingat Dara, semangat untuk hidup itu muncul kembali. Dan nyatanya aku bisa sadar lagi setelah mengingat semua tentang Dara…
“Pak revan akan susah berbicara itu wajar, mungkin nanti atau Besok Pak Revan akan lebih baik lagi.” Tambahnya lagi. Dan akupun hanya mengangguk. Setelah itu Dokter dan suster tersebutpun pergi meninggalkanku sendiri, hanya berdua dengan Dara dalam ruangan ini.
Aku memposisikan tubuhku agar miring kekiri, kearahnya… melihatnya tidur begitu damai membuat jantungku berpacu lebih cepat. Apa ini..?? akupun memposisikan tangan kananku yang masih di perban untuk melingkari pinggangnya, memeluknya. Bertahun-tahun lamanya baru kini aku memeluknya… merasakan rasa yang sangat dekat dan nyaman… kenapa seperti ini..???
***
Aku membuka mataku kembali ketika merasakan dia bergerak-gerak gelisah dalam pelukanku, dia akan bangun. Aku penasaran dengan reaksinya saat melihatku nanti. Dan tentu saja.. saat aku bersuara.. kulihat dia menatapku dengan tatapan anehnya.. ekspresinya sangat aneh, membuatku menahan tawa.
“Apa yang Kau lakukan..?” Tanyaku mengagetkannya. Matanya membulat saat pertama kali melihatku, bibirnya terbuka, ternganga seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Kau cantik, walau baru bangun tidur.” Tanpa sengaja kata-kata itu meluncur begitu saja, yaa… dia memang cantik saat bangun tidur. Ini pertama kalinya aku melihatnya bangun tidur karena biasanya dia dululah yang bangun.
“Terimakasih sudah menungguku.” Kataku dengan tulus.. ya… aku benar-benar tulus berterimakasih terhadapnya.
Tapi tanpa Kusangka dia langsung melompat berdiri dari Ranjang, menatapku masih dengan tatapan anehnya. Lalu berlari keluar begitu saja. Apa yang terjadi..?? apa ada yang salah dengan wajahku…???
Tak berapa lama dia kembali dengan waja paniknya dan juga membawa seorang dokter dan seorang Suster.
“Kau sedang apa..?” tanyaku lagi dan dia masih tak menjawab pertanyaanku, sepertinya dia masih syokh atau tak percaya dengan sadanya aku.
“Bu.. Pak revan memang sudah sadar sejak tadi malam, hanya saja Pak Revan tak ingin membangunkan Bu Dara.” Kata dokter tersebut menjelaskan.
“Jadi… jadi…” hanya itu yang bisa di suarakannya… dia menangis lagi. Dan tiba-tiba memelukku erat-erat…
‘deg.. deg.. deg..’ lagi-lagi perasaan aneh ini muncul kembali.. Adaa apa denganku..?? apa ini efek dari kecelakaan..??
***
Seminggu setelah sadarnya aku semua terasa membosankan. Dara sangat jarang kesini, menemuiku. Dia seperti sedang menghindariku. Suster bahakan pernah berkata, ketika aku masih koma, setiap saat Dara bersamaku, dia hanya pulang ketika kekantor menggantikan posisiku, setelah itu dia kembali lagi bahkan tidur di sebelahku. Tapi setelah aku sadar, Dia menjadi satu-satunya orang yang sangat sulit di temui. Tak pernah lagi tidur di rumah sakit. Ada apa dengannya..??
Pada akhirnya aku bersikeras untuk pulang. Padahal tanganku belum sembuh, tubuhkupun masih lemah. Tapi aku sungguh sudah sangat bosan berada disini.
Sore ini, akupun pulang. Dara tak menjemputku. Hanya ibu dan Ayah. Hana sedang sakit karena hamil anak keduanya. Dia tak bisa ikut menjemputku. Sedangkan Dara.. Kata Ibu Dara sedang sibuk membereskan kamar untuk kutempati nanti.
Sampai dirumah, dia menyambutku. Wajahnya terlihat lelah. Dan aku baru sadar jika dia benar-benar cantik. Kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari keberadaannya..???
Dia memapahku berjalan melewati tangga demi tangga menuju kekamar kami. Seteelah sampai di kamar, ibu meninggalkan kami berdua. Dia membaringkanku di ranjang. Lalu membuka satu persatu kancing kemejaku. Akupun menggenggam tangannya.
“Kau mau apa..??” Suaraku masih terdengar dingin seperti biasanya.
“Kau harus ganti baju Mas, aku akan membantumu.” Katanya kemudian lalu melanjutkan membuka bajuku kembali.
“Aku ingin mandi.. tubuhku lengket..”
“Tapi Kau belum bisa mandi seendiri Mas..”
“Kau bisa memandikanku.” Jawabku cepat. Dan dia memalingkan wajahnya. Malu..?? astaga.. tentu saja.. apa yang sudah kubicarakan tadi…?
Dan akhirnya disinilah kami, di dalam Kamar mandi aku sudah masuk kedalam Bathup dengan hanay mengenakan celana Boxer saja. Sedangkan dia masih mengenakan pakaian lengkapnya yang hampir basah kuyup karena terkena cipratan-cipratan Air.
Aku menegang saat melihat lekuk tubuhnya yang terlihat jelas bagaikan Selulit Erotis. Pakaiannya menempel seutuhnya pada tubuhnya karena basah. Wajah seriusnya saat membersihkanku.. tangan kecil dan halusnya saat dengan lembut mengusapkan sabun ketubuhku.. semuanya membuatku menggila.
Saat dia terduduk dihadapanku dan membersihkan bagian depat tubuhku, aku tak dapat menahannya lagi. Kugenggam telapak tangannya. Dan dia menatapku dengan tatapan tanda tanyanya. Melihatnya basah dan ternganga membuatku tak bisa menahan diri lagi. Kudekatkan tubuhku hingga semakin dekat dengannya dan… ciuman pertama kamipun tak terelakkan lagi.
Bibirnya terasa dingin dan lembut, sesekali aku menggigitnya dan melumatnya. Ya tuhan… apa yang sedang kulakukan..?? aku menginginkannya sangat menginginkannya… apa aku sudah gila..??? Apa kesadaranku sedikit tertinggal saat aku masih Koma…??
Kulepaskan tangannya dan mulai menekan tengkuknya, aku tak ingin kenikmatan ini berakhir begitu saja. Diapun menikmatinya, tangannya sudah meraba dadaku membuatku menginginkan lebih… Astaga… apa yang akan terjadi nanti..???

 

_TBC_

Heii… ternyata aku balik lebih cepat yaa… hehhehehehe gbagai mana chapter ini…??? tinggalkan komentarmu yaa… semoga besok mas Ramma sudah bisa di update kelanjutannya.. hehhehehe ooo iyaa dan ada yang mau baca nggak nii kisah cinta Hana Dan Mike…??? niii aku kasih posternya… kalo ada secepatnya prolog akan diluncurkan kalo enggak yaa nggak papa.


mbe    Ini untuk poster My Brown eye.. kisah cinta Hana (Adik Revan) dengan Mike (Kakak Lita mantan kekasih Revan yang sudah meninggal). kisahnya terjadi sebelum Dara dan Revan Menikah yaa,,, 🙂 😉

Advertisements

6 thoughts on “Please Stay With Me – Chapter 5

  1. udahlah jangan ada sedih” lagi biarin mereka bersatu kasihan mereka harus bahagia ya..
    jangan buat menderita lagi!
    rama nya ditunggu thor…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s