romantis

Please Stay With Me – Chapter 4

PswmpostrPlease Stay With Me

 

NB : ini special untuk yang sedang mantengin akunku saat ini hhahahaha… okk happy Reading.. makin kesini akan semakin seru.. jadi silahkan di baca… klo bisa kasih komen yaaa.. hhahahah

 

Chapter 4

 
Tadi malam aku tidur Sendiri. Tak tau kenapa Mas Revan tak kembali kekamar, mungkin kini dia sudah mulai jengah denganku, dengan keberadaanku. Dan sepertinya aku memang harus lebih menghindarinya.
Kulangkahkan kakiku menuju kedapur, membantu para pelayan menyiapkan sarapan. Mereka baik terhadapku, jadi tentu saja aku harus baik terhadap mereka. Tiba-tiba ibu menepuk pundakku dari belakang, membuatku sedikit terkejut.
“Revan ada di ruang kerjanya, Kau tak membuatkan Kopi untuknya..?”
“Emm.. aku akan membuatkan Bu.. tapi tolong Ibu yang mengantarkan saja yaa..”
“Kenapa seperti itu..?”
“Kumohon Bu.. Aku.. Aku hanya..”
“Hanya Apa..?” Suara dingin itu mengagetkanku. Dan aku melihatnya sedang berdiri tegap dengan tangan di lipat didada. Tatapannya tajam seakan-akan bisa menggoresku.
Aku menelan ludah dengan susah payah, tenggorokanku tercekat, sakit.. sakit karena perlakuan dinginnya. Sakit dengan keadaan ini. “Bu.. Sepertinya aku harus bersiap-siap berangkat kerja.” Pungkasku kemudian tanpa mengindahkan pertanyaannya tadi.
“Ini kan baru jam tujuh Dara, lagi pula bukannya kamu Sift malam hari ini..?” Aku hanya tersenyum manis terhadap Ibu lalu bergegas pergi melewatinya.
“Jangan pergi.” Katanya dingin. Aku menghentikan langkahku tak menyangka jika tiba-tiba dia mengatakan itu terhadapku. Tiba-tiba aku merasakan tangan besarnya menyambar tanganku dan menyeretku kelantai dua, kekamar kami.
“Apa yang Kau inginkan..? Kenapa tiba-tiba Kau kerja tanpa meminta izin padaaku.?”
“Aku butuh pekerjaan.”
“Aku bisa memberimu uang. Berapa yang Kau inginkan..?”
Aku menatapnya dengan tatapan sendu. Tidak.. aku tak menginginkan uangmu. Aku hanya tak suka jika aku berstatus sebagai istrimu namun sebenarnya aku hanya boneka pajangan untukmu.
“Katakan berapa yang Kau inginkan..?” tanyanya lagi.
“Aku tak ingin Uang.”
“Lalu apa yang Kau cari dengan pekerjaan seperti itu..? Apa Lelaki yang mengantarmu tadi malam..? Apa dia kekasihmu..?” tanyanya lagi.
Kekasih..?? Astaga… bahkan sampai saat inipun aku tak pernah mempunyai kekasih Mas. Aku selalu mencintaimu. Dari dulu hingga sekarang, dan mungkin akan selalu mencintaimu hingga aku mati.
“Iyaa..” Tak tau apa yang terjadi padaku hingga aku mengucapkan kata ‘Iya’ padanya. Aku hanya terlalu sakit, terlalu sakit dengan perasaan ini.
Aku melihatnya diam, Diam ternganga karena jawabanku.
“Baik.. Pergilah…” Kataya kemudian sambil menjauhiku. “Berbahagialah dengan dia, dengan begitu kita bisa cepat-cepat berpisah.”katanya sambil pegi meninggalkanku.
Aku terduduk lemas karena perkataannya. Dan sekali lagi aku menangis untuknya. Ya tuhan… kenapa selalu seperti ini..??? kenapa orang yang mencitai yang akan selalu kalah..? kenapa Kau buat aku mencintainya begitu dalam..?
***
Aku berjalan tergesa-gesa diatas trotoar jalan, takut jika terlambat masuk kerja. Tadi pagi waktu kuhabiskan hanya untuk menangis hingga aku ketiduran, dan ibu baru membangunkanku tadi satu jam sebelum jadwalku berangkat kerja.
Mas Revan sudah tak ada di rumah. Memang selalu seperti itu. Pergi kerja tanpa pamit denganku. Sekalipun aku tak pernah memasangkan dasi untuknya layaknya seorang istri pada suami-suami pada umumnya, dia juga tak pernah mencium keningku apalagi memberiku Morning Kiss. Astaga…. aku bahkan tak pernah memikirkannya. Tapi aku selalu membukakan sepatunya saat dia pulang, menyiapkan airhangat untuknya. Membuatkannya bekal setiap pagi walau aku tak tau apa dia memakannya atau tidak. Dan beberapa hari ini aku meninggalkan semua kebiasaanku selama dua tahun tersebut.
Apa dia merasa kehilangan…???
Astaga.. apa yang kufikirkan… tentu saja tidak. Bahkan tadi pagi perkataannya masih terngiang ditelingaku. ‘Baik.. pergilah… Berbahagialah dengan dia, dengan begitu kita bisa cepat-cepat berpisah.’ Dia benar-benar ingin secepatnya berpisah denganku.
Tak terasa aku sudah sampai di tempat kerja. Mengganti pakaian dengan seragam kerja dan mulai bekerja. Membersihkan sisa-sisa makanan dari para pelanggan adalah pekerjaanku. Jika ibuku tau mungkin dia akan melarangku bekerja di tempat seperti ini.
Aku memang tak sekaya Mas Revan, Namun kehidupanku tercukupi. Aku juga bukan wanita biasa sederhana seperti dalam sebuah novel-novel klasik. Aku juga mengetahui Mode, banyak yang berkata jika aku cantik, tapi tetap saja, secantik apapun jika tak bisa menaklukkan hati orang yang dicintainya semua itu akan terasa hambar.
Aku hambar karena Rasaku sudah terbawa dengan dinginnya sikap Mas Revan.
Aku membersihkan sebuah Meja dengan sedikit kikuk ketika sebuah suara yang terdengar familiar di belakangku. Mencoba untuk melihat siapa si pemilik suara tersebut, dan ternyata itu adalah Wanita beberapa hari yang lalu yang tak sengaja kutemui di rumah, dia teman Mas Revan. Bersama teman-teman wanitanya sedang memakan makan siang di restoran kami.
Sebenarnya aku tak tertarik dengan percakapan mereka, Namun tiba-tiba si wanita tersebut menyebut nama suamiku.
“Astaga… Apa kalian tak percaya..? Revan sudah berada dalam genggamanku sekarang.”
“Tapi Manda, aku pernah mendengar dia sudah menikah.”
“Menikah..?? Kau percaya dengan kabar itu..?? Nyatanya Revan masih sering menginap dalam Apartemenku. Lalu dimana istrinya..?? Apa kalian pernah melihatnya kepesta dengan wanita lain selain aku..??” Kata Wanita yang bernama Manda itu dengan Congkaknya.
Dan itu mampu merobek-robek Hatiku. Selama ini aku berdiri di tempat yang sama untuk menunggunya, kukira setelah dia melupakan kekasihnya yang telah meninggal dia akan berpaling denganku. Tapi kenyataannya sangat pahit. Dia bahkan sudah memiliki kekasih lain. Lalu apa gunanya aku selama ini mengabdi untuknya…???
Mataku berkaca-kaca. Tidak… Aku tak boleh menangis sekarang.. tapi tubuhku menghianatiku. Tanpa mempedulikan sekitarku, aku berlari menuju kamar Kecil dan menangis sepuas-puasnya disana. Ya tuhann…. kenapa seperti ini…???
Tak lama pintu kamar kecil ini di ketuk, semakin lama semakin keras. Diiringi dengan panggilan namaku.
“Dara.. Dara… Kau kah disana..?? Buka pintunya Dara.” Itu suara Andre.
“Iyaa aku akan segera keluar.” Kataku kemudian smbil membenarkan penampilanku dan bersiap-siap keluar. Dia luar aku sudah melihat Andre engan wajah paniknya.
“Ada apa..?” Tanyau kemudian.
“Ada telepon untukmu. Katanya.. katanya…” dia terlihat ragu untuk mengatakannya.
“Ada apa Andre..??”
“Lebih baik Kau sendiri saja yang mengangkatnya.” Kata Andre sambil menarikku ketempat Telepon tersbut.
“Halo..” Aku mulai mengangkat telepon tersebut dengan takut-takut. Perasaanku tak enak, menerka-nerka apa yang terjadi. Dan setelah aku mendengar suara tersebut, tubuhku sontak jatuh tersungkur, dan aku tak ingat apa-apa lagi.

 
***

 
Masih dengan menangis, aku berlari di sepanjang koridor rumah sakit dengan Andre di sebelahku. Tubuhku masih sedikit lemas karena sempat pingsan tadi saat mendengar kabar tersebut.
Mas Revan kecelakaan, keadaannya Parah dan diaa Kritis. Kondisinya semakin menurun, dan aku tak mendengar apapun lagi yang dikatakan Hana pada saat itu, sesekali aku hanya mendengar tangisan histeris dari Ibu di belakang Hana.
Setelah berlari cukup lama, akhirnya sampailah aku di ujung lorong tersebut. Semua keluarga ada di luar ruangan, aku tak melihat Ibu, mungkin dia ada di dalam. Hana berlari kearahku dan memelukku masih dengan menangis.
“Tunggu… jangan menangis Hana.. Kau tak boleh menangis..” kataku kemudian.
“Mas Revan parah.. hanya kecil kemungkinannya untuk dia..”
“Tidak… Dia tak akan meninggalkanku sendiri.” Kataku kemudian. Tuhan… kenapa kau siksa aku seperti ini. Belum sekalipun aku melihat senyumannya lagi tapi kenapa Kau ingin ambil dia dariku…??? Apa kau ingin menyatukannya dengan kekasihnya disana..?? lalu bagaimana denganku…??
Aku masuk kedalam ruangan tersebut. Dan disana sudah ada Ibu yang masih menangis menjadi-jadi. Semua terasa kosong untukku. Aku bahkan tak mendengar dan merasakan ibu yang menangis sambil memelukku. Yang ada di dalam pandanganku saat ini hanya dia… lelaki yang terbujur lemah dengan banyak perban dan peralatan di tubuhnya.
“Kata polisi dia berniat bunuh diri Dara… Dia menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan hingga masuk kedalam jurang… dia ingin bunuh diri Dara…”
Airmataku jatuh dengan sendirinya, aku menagis tanpa mengeluaran suara, aku terpukul.. Mas… kenapa Kau tega melakukan ini terhadapku..?? Kenapa Kau ingin meninggalkanku dalam keadaan seperti ini..?? Jika Kau mati, apa Kau pikir aku bisa hidup tanpamu…?? Aku juga akan Mati Mas… Kau jahat… Kau sangat jahat… Kenapa memilih jalan ini untukmu sendiri..?? setelaah itu, aku tak ingat apa-apa lagi. Mungkin aku sudah pingsan untuk kedua kalinya.
***
Satu hari..

 
Satu Minggu…

 
Satu bulan…

 
Dua bulan….

 
Dan entah sudah berapa bulan aku tak menghitungnya lagi. Yang aku tau saat ini hanyalah memandikannya, membacakan cerita untuknya, mengajaknya berbicara. Bernyanyi untuknya… tanpa tau sampai kapan aku harus melakukan itu…
“Kumismu sudah tumbuh lagi Mas..” Kataku sambil tersenyum dan meraba kumis tipisnya.
“Apa Kau tau kalau hari ini ada seorang Klien yang sangat menjengkelkan..?? Dia Gila, Dia bahkan berani memegang Bokongku. Astaga… Dan aku langsung menginjak kakinya keras-keras dengan Heels ku.” Kataku mulai bercerita.
Setelah Mas Revan kecelakaan dan Koma hampir setahun yang lalu, Akulah yang memegang kendali Posisi Mas Revan dengan bantuan Ayah mertuaku dan Mike suami Hana tentunya. Semuanya berjalan dengan baik, dan teratur. Aku menjadi wanita yang berbeda. Jika dua tahun yang lalu aku jadi gadis yang cengeng, maka satu tahun terakhir dengan kecelakaannya Mas Revan aku berubah menjadi wanita yang kuat dan tegar.
Ibu dan Hana sempat khawatir karena tak pernah melihatku menangis lagi. Mereka hanya tak tau jika aku hanya akan menangis di hadapan Mas Revan. Aku tidur disini, setiap hari. Atas permintaanku, rumah sakit Menyediakan Ranjang yang lebih besar lagi untuk Mas Revan, jadi aku bisa tidur disebelahnya. Tentu saja itu dengan persetujuan Mike, Suami Hana sekaligus pemilik dari rumahsakit ini.. Aku bahkan sudah mengenal seluruh pegawai rumah sakit disini.
“Mas.. Apa kamu tak Lelah menutup mata..?? Bangunlah Mas.. Aku masih disini menuggumu.” Kataku lagi yang kini sudah disertai dengan tetesan air mata.
“Apa disana sangat indah..?? jika iya kenapa Kau tak mengajakku..? Aku lelah disini sendiri tanpamu.. Bangunlah…” kataku lagi sambil sesenggukan.
“Apa Kau ingin menjauh dariku..?? Jika Iya maka bangunlah… Aku berjanji akan menyerah dan meninggalkanmu jika Kau Bangun Mas… Bangunlah….” kataku lagi sambil menangis tersedu-sedu. Aku sudah tak tahan lagi jika seperti ini. Aku sudah lelah.. aku sudah tak memiliki kekuatan untuk bertahan.. tidak… aku tak ingin meninggalkannya, tapi aku ingin menyusulnya…
***
Entah berapa lama tadi malam aku menagis hingga aku tak sadar jika sudah tertidur pulas di sebelah Mas Revan. Aku membuka mataku ketika sinar matahari mulai menembus kaca ruangan ini. Ternyata tadi malam aku benar-benar ketiduran hingga lupa belum membenarkan letak Gorden di jndela ruangan ini..
Ketika aku akan bangun. Betapa terkejutnya aku mendapati suatu keanehan yang ada di sekitarku. Posisiku yang tadi menghadap jendela membelakangi Mas Revan benar-benar tak menyadarkanku jika ada Lengan kekar yang sudah melingkari pinggangku.
Jantungku berdegup kencang. Ya tuhan… apa ini Lengan Mas Revan…?? Aku menoleh kebelakang dan benar saja, aku sudah mendapati wajahnya miring kearahku, bukan menghadap keatas seperti biasanya. Dan aku memukuli kepalaku sendiri. Astaga… apa yang sedang kulakukan..??? tadi malam mungkin saking aku merindukannya aku membawa tangannya hingga memelukku.
Gila… aku benar-benar sudah gila.
Akhirnya aku sedikit bangun dan membenarkan letak tangannya kembali, padahal itu adalah tangan kananya yang patah.
“Apa yang Kau lakukan..?”
Dan suara serak tersebut menghentikan semua gerakanku. Tunggu dulu. Apa itu suaranya..??? Aku benar-benar mendengar suaranya, suara yang sudah sangat lama sekali tak terdengar di telingaku. Ya tuhann… apa aku memang sudah mulai gila…???
Aku sedikit melirik kearah Mas Revan. Dan benar saja. Dia menatapku dengan tatapan Anehnya. Dia bangun… Astaga… Apa ini nyata…??? Apa dia benar-benar bangun…??
“Kau cantik, walau baru bangun tidur.” Katanya kemudian, dan aku mesih belum bisa bereaksi. Tuhan… apa ini nyata..?? sepertinya tidak. Mas Revan tak akan berbicara seperti itu jika melihatku.
“Terimakasih sudah menungguku.” Katanya lagi sambil tersenyum. ini kali pertama dia tersenyum padaku setelah hampir tiga tahun kami menikah. Tapi aku masih tak bereaksi. Sepertinya aku memang sudah Gila. Aku bahkan membayangkan hal-hal yang tak mungkin terjadi.

 

__TBC__

 

Hayoo.. hayooo apa yang terjadi yaa… emmm ada yang enasaran nggak sihh,,,???? Chapter selanjutnya adalah POV Revan, dan akan selalu di gilir seperti itu yaaa… hohohohoho

Advertisements

4 thoughts on “Please Stay With Me – Chapter 4

  1. revan mau bunuh diri sampai frustasinya separah itu kah
    atau dia mulai frustasi karna diacuhkan dara dan dengan jawaban dara yang mengiyakan soal kekasihnya
    ya ampun sempit sekali pikiranmu revan
    sekarang dara bahkan setia menunggumu hingga sadar segitu lamanya
    masih gk mau mengalah denga hati
    nyess banget kan kalo jadi dara

    Like

  2. Omigot..revan akhirnya sadar dari koma..dan sikapnya berubah jadi lembut…
    Salut sama dara yg setia terhadap revan meskipun disaat sulit kayak gini…
    Dara is the best..bodoh banget revan klo nanti sikapnya malah menyianyiakan lagi cinta dara…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s