Novel Online · romantis

My Everything (Novel Online) – Chapter 5

Me New..My Everything

NB : Hoammzzz… malam2 gini kubela2in Post yaa…. padahal aku baru tutup jualan dan belum bersih2 ataupun cuci piring.. hehhehe untung aja mas Suami pengertian.. heheh.. -lah kok malah Curhat-.. ok.. untuk Chapter 5 akan kukasih Special POV Shasha yaa… Happy reading… 🙂

 

Chapter 5
-Shasha POV-

 

 

“Aku sudah Nggak Perawan.”
Ya Tuhan…. Apa yang sedang kukatakan..? Bisa-bisanya aku mengatakan kata-kata tersebut seakan-akan aku ini wanita Murahan yang dengan gampangnya tidur dengan semua lelaki yang ada didekatku. Aku Masih Polos.. Amat sangat Polos. Teman-temanku sering menjulukiku sebagai Wanita Abad pertengahan. Aku tak pernah pacaran, Ciuman apalagi sampai bercinta. Itu tak Mungkin. Jika aku melakukan hal itu, Mas Renn bisa membunuh Lelaki yang mencumbuku tersebut.
Tapi entah kenapa di depan Lelaki Ini aku ingin terlihat Liar, Jalang dan nakal. Aku ingin dia memandangku sebagai seorang wanita, bukan seorang Perawan kecil seperti yang dikatakanya tadi.
Satu-satunya orang yang pernah menciumku adalah Dia. satu-satunya orang yang pernah Mencumbuku adalah Dia. dan satu-satunya orang yang ada di hatiku Adalah Dia.. Dari dulu hingga kini Adalah Dia, Mas Ramma.
Lelaki yang amat sangat tampan dan juga sangat Pandai.. tak heran, walau dia dua tahun lebih muda dari pada Mas Renn, tapi dia bisa seangkatan dengan Mas Renn karena dia pernah lompat kelas. Awalnya aku hanya kagum, Mas Ramma dengan ketampanan dan kepandaiannya tak menjadikannya sosok yang sombong. Dia baik. Amat sangat baik. Dia selalu melindungiku seperti Mas Renn. Dia seperti kakak Untukku. Tentunya itu juga berlaku dengan Mas Dhanni. Mereka bertiga memang menyayangiku seperti adiknya sendiri.
Tapi aku tak tau sejak kapan peasaan ini berubah. Kami saat itu sering main bersama ke taman hiburan. Mas Renn dengan pacarnya, Mas Dhanni juga dengan pacarnya. Sedangkan Mas Ramma yang terkenal memiliki pacar paling banyak malah mengajakku. Katanya sangat membosankan jika selalu mengajak pacar, itu membuatnya tak bebas. Akhirnya diapun mengajakku.
Sedikit demi sedikit semuanya terasa berbeda. Tiap malam minggu mas Ramma mengajakku ketaman Hiburan. Hanya berdua, Tanpa Mas Renn ataupun Mas Dhanni. Dia juga dengan suka rela mengantar jemputku sekolah. Kami dekat, dan semakin dekat. Hingga saat ulang tahunku menjadi puncaknya.
Dia menciumku….
Tubuhku gemetar, perutku menegang, pikiranku melayang-layang, dadaku seakan ingin meledak karena debaran jantungku. Aku menyukainya.. aku tau itu. Perasaan ini lebih besar dari sekedar perasaan suka.
Cinta..
Kata itulah yang cocok digambarkan untukku.. aku mencintainya.. Mencintai Mas Ramma.. Sosok yang berada jauh tinggi yang tak mungkin bisa kugapai. Akhirnya aku hanya bisa memendam perasaan ini dalam-dalam. Aku mencintainya dalam diam.
Seringnya dia mengantar jemputku kesekolah membuat teman-teman sekolahku kepincut dengan ketampanan dan pesonanya. Apalagi Mas Ramma murah senyum dan sangat supel dengan semua orang yang ditemuinya. Sangat berbeda dengan Mas Dhanni yang terkesan Cuek atau Mas Renn yang kadang terkesan dingin dan pendiam. Teman-temanku akhirnya ingin berkenalan dengannya. Tentu saja aku marah, Aku tak suka. Akhirnya kuumumkan saja jika Mas Ramma itu pacarku.
Mas Ramma tau dan dia sangat marah terhadapku. Mas Ramma bahkan bilang jika aku bukan Typenya, Typenya adalah gadis Cantik dan seksi, bukan gadis manja sepertiku. Astaga…. Duniaku hancur begitu saja. Sejak saat itu hubungan kami renggang, dia menghindariku, dingin terhadapku. Tapi bodohnya aku masih mencintainya hingga kini.
Sebut saja aku gila atau bodoh, karena memang itulah yang terjadi padaku. Aku berusaha sekuat tenaga menjadi gadis impian Mas Ramma. Gadis Cantik dan Seksi. Aku menghilangkan kesan manjaku dengan bekerja supaya terlihat lebih mandiri. Tapi Mas Ramma masih tak memandangku. Dia malah menyuruhku menjauh dan mencari lelaki lain untuk dijadikan pacar.
Kecewa.. sakit.. sedih.. itulah yang kurasakan. Tapi setelah kupikir-pikir, mungkin tak ada salahnya aku berpacaran, asalkan aku bisa menjaga diri. Dan beginilah sekang, aku berpacaran dengan Ricky, teman sekampusku. Dia baik, tampan, tapi tetap saja tak bisa mengalihkan perhatianku dari Mas Ramma. Dari Ricky aku mengenal Rio, Fotografer yang sudah beberapa kali memfotoku. Aku bahkan dijadikan Model Lotion SunBlock. Tentu saja Mas Renn atau keluargaku tak ada yang tau jika aku menjadi Model di salah satu majalah.
Aku menerima tawaran itu dengan pemikiran panjang. Ya… tentu saja alasan utamanya adalah Mas Ramma. Kupikir dengan menjadi Model akan membuat Mas Ramma sedikit tertarik denganku. Dan itu terbukti tadi ketika dia menyambar bibirku dengan bibirnya, Mencium dengan panasnya. Aku senang… Aku senang walau aku harus bertindak seperti wanita murahan di hadapannya. Setidaknya dia memandangku sebagai wanita, bukan Gadis kecil yang harus di lindungi.
Dia mencumbuku, mencumbu seluruh tubuhku, meninggalkan jejak-jejaknya disana, membuat tanda kepemilikan bahwa aku miliknya, Aku suka, Aku senang., dan aku menikmati semuanya. Aku akan menyerahkan semua yang kupunya demi mendapatkan Mas Ramma. Tapi semuanya berakhir sebelum dia memulainya. Beranikah aku melakukan hal ini lagi nanti terhadapnya..???
Aku merasa hangat, merasa tenang, karena dia tak sedingin dulu lagi ketika bersamaku. Tapi kemudian dia membuatku sakit lagi.. Dia berkata jika semua ini tak seharusnya terjadi.
Dia menyesal melakukannya….

Ya Tuhan.. Sampai kapan dia menganggapku tak pantas untuknya..??? Sampai kapan aku harus menjadi gadik kecil dihadapannya..???lagi-lagi aku menangis, menangisi diriku, mengasihani diriku sendiri. Hingga aku tak sadar jika sejak tadi Mas Renn mengajakku bicara.
“Sha.. kamu sebenarnya kenapa..? Ramma ngapain kamu..?” tanya Mas Renn yang saat ini masih mengemudikan mobilnya.
“Dia nggak ngapa-ngapain Aku Mas.”
“Kamu bohong.” Kata Mas Renn dengan dingin.
“Aku terlalu menyukainya Mas.. Aku cinta sama dia..” kataku kemudian yang sontak membuat Mas Renn menghentikan laju mobilnya.
“Sha.. Berapa kali Mas Renn bilang sama Kamu, Lupakan Ramma. Dia bukan lelaki yang baik untukmu Sha.. Mas Renn hanya nggak mau kamu Sakit hati nantinya.”
“Aku ingin melupakannya Mas. Tapi nggak bisa. Perasaan ini selalu ada.”
“Belajar Sha.. belajar melupakannya dan belajarlah mencintai orang-orang didekatmu. Mas Renn yakin kamu bisa.” Kata Mas Renno sambil memelukku. “Ramma bukan orang yang baik untukmu Sha.. Dia tak punya cinta dihatinya. Bertahun-tahun Mas Renn berteman dengannya dan hanya tubuh wanitalah yang ada didalam pikirannya.” Kata Mas Renn lembut sambil mengusap-usap punggungku. “Carilah yang lebih baik dari Ramma Sha.. Mas Renn akan merestuinya, akan mendukung kamu jika lelaki itu bukan Ramma.” Lanjutnya lagi.
Dan saat ini aku sadar, jika tak akan ada kesempatan lagi untukku supaya bisa bersama Mas Ramma. Aku hanya bisa memandangnya dari jauh dan hanya bisa mencintainya dalam hati.
***
Sampai di rumah, Mbak Allea sudah menunggu kami. Aku senang memiliki Mbak Allea sebagai kakak iparku. Dia bagaikan malaikat yang bisa membuatku tenang dan sejuk. Mas Renn beruntung mendapatkannya. Mas Renno langsung memeluk dan mengecup kening Mbak Allea, lalu Mbak Allea bergegas kearahku.. perutnya yang sudah besar itu tak menghalanginya untuk memelukku. Sekali lagi aku menangis didalam pelukan Mbak Allea.
“Kamu ajak dia masuk yaa.. tidurlah dikamarnya.” Kata Mas Renn kepada Mbak Allea. Aku senang Mas Renn pengertian. Aku memang sedang butuh teman saat ini.
Kamipun akhirnya masuk kedalam kamarku. Aku menangis sepuasnya dihadapan Mbak Allea. Menceritakan semuanya , semua tentang perasaanku terhadap Mas Ramma. Tentang apa yang sudah kami lakukan bersama. Mbak Allea baik, dia mendengar semua ceritaku, mendengar semua keluh kesahku dengan tenang. Aku merasa nyaman didekatnya.
“Sha.. Kamu nggak perlu jadi orang lain untuk mendapatkan cintanya.. biarkan dia mencintaimu dengan apa adanya. Biarkan semuanya mengalir seperti air Sha..” kata mbak Allea kemudian setelah aku bercerita.
Yaa.. mbak Allea memang benar, aku terlalu memaksakan kehendakku. Sampai kapanpun aku tak akan menjadi salah satu type gadis impian Mas Ramma.
“Mbak yakin, tanpa kamu berubahpun jika Mas Ramma menyayangimu, dia pasti kembali padamu.” Katanya lagi dengan menyunggingkan senyuman manisnya.
“Mbak Yakin..?” Dan mbak Allea hanya mengangguk. “Mbak setuju kalau misalnya aku dan Mas Ramma saling suka..?” tanyaku lagi.
“Tak ada larangan untuk orang yang saling suka Sha.. kita tak bisa memilih dengan siapa kita bisa mencintai.” Kata mbak Allea lagi.
“Tapi Mas Renn.. dia nggak suka…”
Mbak Allea tersenyum. “Masalah Mas Renno, Mbak yang urus..” jawabnya lagi sambil mengerlingkan matanya.
Yaa tentu saja. Hanya Mbak Allea yang bisa membuat Mas Renn takhluk dan bertekuk lutut. Mas Renn bahkan hampir gila saat Mbak Allea meninggalkannya. Dan aku benar-benar tak menyangka jika Mas Renn bisa seperti itu hanya dengan wanita biasa-biasa saja seperti Mbak Allea…
***
Aku bangun dengan mata sembab karena menangis semalaman. Mbak Allea sudah tak ada di sampingku, mungkin dia sudah menyiapkan sarapan untuk kami. Aku bergegas kekamar mandi, mengguyur badanku supaya lebih segar. Setelah mandi dan berpakaian aku bergegas kedapur untuk bergabung sarapan. Tak lupa aku mengnakan Kacamata besarku untuk menyembunyikan mata sembabku.
Di dalam dapur tentu saja aku disuguhi pemandangan yang membuat hati cemburu. Seperti biasanya Mbak Allea sedang memasak sedangkan Mas Renn mengganggunya dari belakang sambil memeluknya. Astaga…. mereka benar-benar membuat iri semua yang memandang.
“Ehhemm…” Aku memberi intruksi jika aku sudah berada di dalam ruangan tersebut.
“Pagi Sha… Sudah bangun..??” Seperti biasa Mbak Allea dengan ramahnya menyapaku.
“Sudah Mbak… Emm… Mas Renn bikin mataku sakit tau nggak..”
“Memangnya aku kenapa..?” Tanya Mas Renn dengan santainya.
“Nggak apa-apa sih.. Cuma tau tempat dong kalau mau mesra-mesraan.” Gerutuku.
“Mereka pengantin baru Sha..” Kata Mama yang tiba-tiba muncul dari pintu belakang.
“Dia hanya iri dan Cemburu Ma..” Tambah Mas Renno lagi. Lalu dengan santainya dia mengecup pipi Mbak Allea. Astaga…. benar-benar bisa mual aku melihatnya. Mas Renn terlihat sangat bahagia begitupun dengan Mbak Allea. Bisakah aku nanti sebahagia mereka dengan pasanganku..??
Tiba-tiba aku merasa Mas Renn mengacak-acak Poniku. “Kamu sudah baikan..?” tanyanya sambil duduk disebelahku dan memakan sepotong roti isi. Aku hanya mengangguk. “Ingat kata-kata Mas Renn ya… jauhi Ramma. Mas Renn sayang sama Kamu, Mas Renn nggak mau kamu terluka karena sahabat Mas Renn sendiri.” Kata Mas Renn lagi kali ini dengan sedikit berbisik dan menatapku dengan intens.
“Kamu nggak usah ikut campur masalah mereka Mas..” Kata mbak Allea sambil memberikan begelas susu kepadaku.
“Sayang.. aku hanya terlalu sayang dengan dia.. aku ingin melindungnya.”
“Shasha sudah besar. Dia tau mana yang terbaik untuknya.” Jawab Mbak Allea sambil mengusap pipi Mas Renn.
“Ok.. Ok… aku nggak akan ngurusi masalah mereka, tapi aku tetap pada pendirianku, aku nggak suka Lihat Shasha bersama Ramma.” Kata Mas Renno kemudian.
“Kalian ngomongin apa sih..?” tanya Mama yang sejak tadi tak tau arah membicaraan kami.
“Nggak ada Ma.. Cuma ngomongin masalah kerjaan.” Jawab Mas Renn santai.
Dan tak lama setelah itu Papa muncul. Kami tak lagi membicarakan masalahku dengan Mas Ramma. Aku memang tak mau dan tak suka jika persaanku ini ketahuan oleh Papa dan Mama. Astaga.. tentu saja itu sangat memalukan. Mencintai seorang lelaki bertahun-tahun lamanya tanpa ada balasannya.
***
Sore ini Cafe sedikit lebih Ramai. Mungkin karena malam minggu atau apapun itu aku tak peduli, yang jelas Kakiku sedikit pegal karena berjalan bolak-balik. Tapi aku tetap menikmatinya karena ini pekerjaan yang kuinginkan bahkan setelah wisudah sebulan yang lalu. Tak terasa hari mulai beranjak gelap. Aku membersihkan setiap sudut Cafe karena sebentar lagi waktunya untuk tutup. Saat aku membersihkan sebuah meja, tak sengaja kulihat keluar jendela, aku mendapati Mas Ramma sedang menatapku dengan tatapan sendu. Dia berada didalam Mobil. Akupun kembali menatapnya. Ada apa..? Apa yang terjadi..???
Karena tak enak dengan manager Cafe ini, akupun akhirnya tak menghiraukannya. Aku melanjutkan membersihkan semua sudut-sudut Cafe. Sesekali melihat kearahnya dan dia masih saja menatapku dengan tatapan anehnya.
Tak berapa lama Cafepun tutup. Aku keluar untuk pulang. Kebetulan Malam ini Ricky tak bisa menjemputku. Begitu pula dengan Mas Renn, dia masih sibuk dengan pekerjaannya.
“Kamu sendirian Nat..? Ayo kuantar kalau kamu nggak ada teman.” Kata Manager Cafeku yang bernama Dion. Pak Dion aku memanggilnya. Dia mungkin seumuran dengan Mas Ramma.
“Ohh.. terimakasih pak. Saya naik Taxi saja.”
“Tidak perlu sungkan, Lebih irit jika saya yang mengantar.” Katanya Lagi.
“Saya yang menjemputnya.” Kata suara dingin disebelahku, dan aku baru sadar jika ada sebuah lengan yang sudah melingkari pinggangku dengan posesif. Itu Mas Rama. Dia masih disini.
“Ohh.. saya baru tau jika kamu sudah punya pacar.” Kata Pak Dion kemudian, “Baiklah, kalau begitu saya pamit terlebih dahulu.” Tambahnya lagi.
Pak Dionpun akhirnya pergi. Dan tinggalah aku hanya berdua dengan Mas Ramma.
“Ayoo ikut aku..” Katanya dingin sambil menyeret tanganku. Sangat berbeda sekali dengan kehangatan yang kudapatkan tadi malam.
Akupun menurutinya. Dia mengemudi dalam diam. Dan akupun ikut berdiam diri, tak tau harus bicara apa. Aku mencintainya, sangat mencintainya, tapi aku masih kecewa dengan perkataannya tdi malam, seakan-akan dia menyesal melakukannya.
Tak lama sampailah kita pada tempat tujuan. Taman Hiburan. Tentu saja saat ini Taman hiburan ini sudah tutup. Tapi jangan sebut dia Seorang Ramma Aditya jika tak bisa membuatnya terbuka kembali. Entah dengan cara apa dia bisa membuat kami memasuukinya. Apa taman ini miliknya..??? Bisa jadi. Orang tuanya benar-benar sangat kaya Raya.
Kami memasukinya, seketika itu juga bayangan akan kenangan kami muncul begitu saja dalam ingatanku.

“Kenap Mas Ramma mengajakku kesini..?”
“Pengen aja..”
“Mas Ramma kan bisa ajak pacar Mas Ramma.”
“Aku nggak punya pacar.”
“Alaaah.. Bohong.” Ucapku tak percaya.
“Ayoo kesini.. Kita naik itu.” Katanya sambil menarik tanganku ke area Bom-bom car.
Kamipun akhirnya memainkan permainan tersebut. Bahagia.. sangat bahagia.. dia tertawa lepas seperti tak ada beban apapun dibenaknya, begitupun denganku. Aku juga sama.. sangat bahagia… kami menaiki banyak permainan saat itu.

“Kamu masih ingat tempat ini..?” Tanyanya menyadarkanku dari lamunan. Aku hanya mengangguk. “Apa kamu sering kesini..?” dan kali ini aku menggeleng dengan pertanyaan keduanya. Tentu saja aku tak pernah kesini. Ketaman hiburan seakan-akan membuatku sesak, Aku akan teringat asa-masa itu, masa-masa dimana kami bahagia tanpa beban perasaan ini.
“Aku masih sering kesini tiap malam minggu…” Katanya kemudian mengagetkanku.
Apa dia bercanda..?? Aku memandangnya dengan seksama, siapa tau dia hanya bercanda mengatakan kata-kata tersebut.
Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, itu dompetnya. Lalu dia mengeluarkan sesuatu yang tersimpan sangat tersembunyi dari dompetnya tersebut. Itu sebuah Foto kecil yang dilipat-lipat hingga tak terlihat saat disimpat di dalam dompet. Dan saat dia memperlihatkannya padaku, aku ternganga.
Itu foto kami…
Diambil di taman hiburan ini sekitar enam tahun yang lalu….
“Kamu ingat Foto ini..?” tanyanya, tapi aku tak menanggapi aku masih tak menyangka jika dia akan menyimpan foto kami di dompetnya hingga kini. “Foto Ini masih tersimpan disini Sha.. dan akan selalu tersimpan disini… seperti kenangan kita pada masa-masa itu.. semuanya masih tersimpan di sini, di taman hiburan ini.. dan di hati kita..”
Ya tuhann… kata-katanya mampu meluluhkan hatiku. Apa yang dia maksud dengan berkata seperti itu..??? tanpa kusadari tubuhku sudah ada dalam pelukannya, dia memelukku sangat erat.
“Aku merindukanmu Sha..” Katanya Lagi. Dan aku masih tak dapat berkata apa-apa. Apa ini mimpi..? Apa aku berada dalam sebuah adegan drama Korea..? karena jujur saja, ini sudah seperti dalam adegan-adegan drama Romantis yang pernah ku tonton. Kami hanya berdua di dalam sebuah taman hiburan yang sangat besar dan sunyi, dengan semua lampu taman ini menyala. Romantis, sungguh sangat Romantis…
Mas Ramma melepaskan pelukannya, lalu menatapku dengan tajam. “Sha… Ayo kita pacaran..” katanya kemudian yang sontak membuatku ternganga. Seperti ada sebuah sengatan listrik yang menjalari disekujur tubuhku. Benarkah ini yang terjadi..? Apa ini nyata..??? Atau apakah ini hanya Mimpi indahku saja…???

 

__TBC__

mario-maurer-baifernIni Foto Ramma dan Shasha yang disimpan didalam dompet Ramma yaa,,, hehheheh

 

 

 

 

 

 

 

 

Selamat menunggu Chapter selanjutnya… semoga ceritanya nggak membosankan bagi yang membaca yaa,,, heheh :* 🙂 😉

Advertisements

10 thoughts on “My Everything (Novel Online) – Chapter 5

  1. mengajak sasha pacaran untuk apa kalo ramma masih bersama zoya
    mau hubungan seperti apa ram
    nanti malah banyak yang terluka
    atau ini keputus asaan ramma aja ya sampai nembak sasha
    ngrasa ngeganjal aja gitu ama keputusan ramma
    harusnya ramma menyelesaikan urusannya dengan zoya terlebih dahulu

    Liked by 1 person

  2. suka bangeeeetttt sma alur ceritanya..kerenn..rapih..dan kata2nya enak buat dibaca gak berat…karakter ramma buar semua cewe mau mati aja,,nyabelin banget…sukses terus ya buat nulisnya..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s