Novel Online · romantis

My Everything (Novel Online) – Chapter 4

MeiiMy Everything

 

NB: WARNING…!!! sekali lagi yaa kuingatkan jika Ramma Story ini Genrenya Roman Erotis, jadi mohon dimaklumi jika ada adegan-adegan dewasanya, kata-kata kurang sopan dan sejenisnya… Author mah sebenarnya sudah memilihkan kata-kata yang lebih sopan lagi, jadi kisahnya biar nggak terkesan mesum atau jorok.. hehhehe tapi tetep… walau genrenya Erotis namun masih standar lahh erotisnya hehhee. ok.. happy reading aja yaa..

 

Chapter 4

 

“Aku sudah nggak perawan.”
Sial..!!! aku menghentikan tawaku seketika saat mendengar pernyataannya. jawabannya kali ini benar-benar membuatku menegang, Raut wajahku mengeras, Darahku mendidih. Nggak perawan..?? Siapa yang sudah menyentuhnya..?? Sialan…!!!!

Aku mencengkeram erat kemudi mobil yang ada di hadapanku, Hingga buku-buku jariku memutih. Marah, Kesal, Murka dan merasa dihianati, semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu. Benarkah Shasha semurahan itu..?? benarkah dia sudah melakukannya dengan bajingan Brengsek lainnya..?? dan ada apa ini..?? Kenapa aku tak Rela jika Shasha pernah tidur dengan Lelaki lain..??
“Kamu Bohong.” Ucapku dingin.
“Aku bisa membuktikannya.” Katanyaa tenang dan santai.
Sialan..!!! Aku benar-benar tak tau apa yang kini sedang berada dalam otakku. Kujalankan kembali mobilku dengan kecepatan penuh. Tak lama, sampailah aku pada Apartemen pribadiku yang dulu sempat di pinjam Renno untuk ditinggali.
Kubuka pintu mobil dan keluar sambil menyeret Shasha. Sedikit kasar aku tau itu, tapi aku tak bisa menahan amarahku lagi. Amarah bercampur dengan Gairah. Dan baru kali ini aku mengakui jika aku menginginkan tubuh Shasha.
Masuk kedalam Lift, kami saling berdiam diri. Shasha tak bertanya kenapa kuajak kemari. Hahaha mungkin dia memang sering keluar masuk Apartemen Lelaki lain. Dan entah kenapa memikirkan hal itu kembali menyulut Emosi di dalam diriku.
Tanpa sepatah katapun Kudorong tubuhnya hingga punggungnya menempel pada dinding Lift. Kukurung tubuhnya dengan kedua lengan kekarku, dan tanpa pemanasan lagi kusambar bibir itu. Bibir penuh menggoda milik Shasha. Sialan..!!! dia begitu nikmat. Jauh lebih nikmat daripada ciuman yang biasanya diberikan Zoya.
Tangan kanankupun saat ini telah mendarat sempurna di dadanya. Ohh Shiitt… !!! sejak kapan dada rata itu menjadi sepasang payudara besar milik seorang wanita dewasa..?? Lembut dan padat.. Aku suka.. Sangat berbeda dengan dada model-model yang pernah kutiduri yang kebanyakan dari mereka adalah hasil karya Dokter bedah plastik dengan tambahan Implan di dalamnya.
Aku mendengar samar-samar Shasha mengerang, Mendesah diantara ciuman kami. Siall..!! tentu saja itu membuatku semakin menggila, semakin menegang, dan semakin Keras.
‘Dingg’
Bunyi Lift menghentikan Aksiku. Ketika aku berbalik dan bersiap keluar dari dalam lift, aku mendapati sepasang lelaki dan perempuan yang akan masuk kedalam Lift memandang kami dengan tatapan terkejutnya. Kedua-duanya sama-sama ternganga.
“Apa tidak apa-apa jika kami masuk..?” tanya di lelaki tersebut.
“Silahkan.” Jawabku sesantai mungkin. Lalu aku menggenggam tangan Shasha dan menariknya keluar tak mempedulikan tatapan aneh dari lelaki dan perempuan tersebut.
Kubuka pintu Apartemenku dan menarik Shasha supaya masuk. Mengunci pintu lalu menghadap Shasha kembali. Kulihat wajahnya memerah. Mungkin karena malu atau gugup. Kulit putihnya memerah hingga permukaan leher dan telinganya. Membuatku geli dan semakin menginginkannya.
Kudekati dirinya seperti seekor singa yang mendekati seekor Rusa betina sebagai mangsanya. Dia gugup, aku tau itu.
“Sekarang mari kita buktikan Jika kamu sudah nggak perawan lagi.” Kataku yang kemudian langsung menyambar lagi bibir seksinya itu.
Sambil sedikit demi sedikit mendorongnya kebelakang menuju ke ranjangku, aku melucuti pakaiannya tanpa sedikitpun melepaskan cumbuan panasku. Sial…!!! ini benar-benar di luar duagaan. Shasha sangat menggoda dengan kulit putih mulusnya dan tubuh padatnya. Belum lagi Aroma wangi Khas dari tubuhnya. Percampuran antara wangi segar Strawberry dengan bunga lili, seperti wangi bayi. Namun entah mengapa itu membuatku semakin bergairah.
Masuk kedalam kamar Kini baju dan Roknya sudah kulucuti hingga hanya meninggalkan Bra hitam berenda beserta panty berwarna senada yang berada pada tubuhnya. Sangat kontras dengan kulit putihnya. Kulepaskan cumbuanku dan kupandangi tubuh Shasha dengan tatapan mata orang yang sedang kelaparan.
Sangat Seksi..
Lagi-lagi kulihat semburat warna merah di permukaan leher hingga pipinya. Dia malu.. tanpa pikir panjang lagi kubuka kemeja dan celana serta sepatu yang kukenakan, dan hanya meninggalkanku bersama Boxer yang kini sudah mengetat dan memperlihatkan bagaimana kerasnya yang dibawah sana. Mendekatinya kembali kini bibirku sudah berada pada leher jenjangnya dan tanganku sudah mendarat sempurna pada perut datarnya. Kuraba dan Astaga… mungkin aku bisa klimaks hanya dengan mencumbu lehernya beserta meraba perut datarnya. Datar tapi empuk dan padat, sungguh sangat berbeda dengan perut ramping Wanita yang kukencani yang didapatkan dari diet dan tak makan berhari-hari.
“Bagaimana kamu melakukannya..?” Tanyaku kemudian dengan nada sensual.
“Apa..?” Dia menjawab dengan sedikit mendesah.
“Tubuhmu sempurna Sialan…!!!” jawabku kemudian. “Bagaimana mereka tumbuh menjadi seperti ini..?” Tanyaku lagi.
“Aku.. ehhh… Olah raga dan banyak gerak..” jawabnya dengan menggigit bibir bawahnya.
“Aku ingin masuk kedalammu sekarang.” Kataku kemudian yang kini sudah melumat bibirnya kembali, membuatnya kewalahan dengan cumbuan dan kenikmatan yang kuberikan.
Masih mencium dan sedikit mendorongnya kebelakang hingga dia jatuh terlentang di ranjangku. Aku merangkak naik keatasnya. Dengan lihai kubuka Bra hitam miliknya, dan aku benar-benar terpesona dengan apa yang kulihat saat ini. Dia berwarna merah dan sedikit lebih gelap. kuusap-usap dan memilin putingnya, Puting yang sudah tegak dan mengeras tanda jika dia dia sudah sangat terangsang.
“Sialan.. !!!! Mereka milikku, Hanya milikku..” kataku sambil mendaratkan bibirku pada dadanya, menghisapnya memainkannya membuat sanga pemilik mengerang Nikmat. Benar-benar sangat terkejut saat melihat Shsha seperti ini. Dia bukan gadis manja yang kukenal dulu. Dia wanita dewasa yang benar-benar memiliki tubuh sebagai wanita dewasa sempurna yang akan membuat para lelaki meneteskan air liurnya ketika melihatnya seperti ini.
Shasha menggeliat gelisah, kini satu tanganku sudah berjalan di sekujur tubuhnya, sesekali meraba perutnya yang membuatku tergoda, lalu turun lagi hingga menemukan pusat dirinya.
“Apa kamu menyukainya..?” tanyaku disela-sela cumbuanku terhadap payudaranya. Kulihat matanya tertutup menikmati kenikmatan ini dan dia menggeleng pasrah, aku hanya tersenyum geli melihat ekspresinya. “Sekarang mari kita lihat apa yag ada didalam sana..? Apa kamu sudah basah dan siap merimaku atau tidak.” Lalu tangankupun sampailah pada pusat tersebut.
Shasha tersentak dan sedikit merintih saat tanganku membelainya. “Kamu basah sayang.. Kamu sudah basah karenaku.” Gumamku lagi. Akupun kemudian kembali mencumbui sekujur tubuhnya, dari ujung rambut sampai ujung kakinya.. kuberikan tada pada kedua payudaranya, turun keperut kuberikan tanda basah dan merah juga disana. Turun lagi hingga aku mendapatkan harta karunku. Ku kecup berkali-kali sebelum lidahku membelainya. Dia milikku.. hanya milikku..
Shasha mengerang, merintih nikmat saat aku mencumbu pusat dirinya. Sialan..!!! aku tak bernah sebergairah ini saat dengan wanita yang kukencani bahkan saat dengan zoya, bergairah hingga terasa sakit saat aku menahannya.
“Masss….” Tubuh Shasha mengejang, Otot-ototnya menegang disertai dengan jeritan kenikmatannya, dia sudah sampai pada puncak kenikmatan karena permainan lidahku. Kuhentikan permainan ini karena akupun tak sanggup menahannya lebih lama lagi. Bersiap-siap memasukinya namun tiba-tiba…
‘Titt.. titt.. tit.. titt..’ ‘tit.. titt.. titt.. tit…’
Ponsel sialanku berbunyi. Aku tak menghiraukannya. Aku malah mengambil sebuah bungkusan foil yang ada didalam laci disebelah ranjangku. Merobeknya dan bersiap-siap memasangnya di kejantananku. Namun lagi-lagi Ponsel sialan itu berbunyi.
“Brengsek..!!!” umpatku dengan keras. Kuambil ponselku dan sedikit terkejut saat melihat nama sang Pemanggil. Mama. Kenapa Mama meneleponku malam-malam seperti ini..?
Aku kembali kearah Shasha yang sudah lemas karena permainanku, kukecup singkat keningnya. “Sebentar ya Sayang…. Mama meneleponku.” Kataku dengan lembut.
Aku bergegas kearah jendela tak mempedulika keteelanjanganku. Kutelepon Nomer mama kembali.
“Halo..” itu suara Papa.
“Ada apa Pa..?”
“Mama kamu Kambuh, sekarang di IGD.”
“Apa..?” teriakku ang sontak membangunkan Shasha. “Ok Aku kesana Pa… kirimkan alamat rumahsakitnya.” Kataku lagi. Lalu akupun menutup teleponku. Menghampiri Shasha yang sudah terduduk dan menatapku dengan tatapan tanda tanyanya.
“Ada apa Mas..?” tanyanya kemudian.
Aku duduk di pinggiran ranjang, kuusap lembut pipinya dengan ibu jariku. “Kuantar pulang ya.. Mamaku masuk rumah sakit.” Kataku kemudian.
“Memangnya Mama kenapa Mas..?” Aku menegang saat dia menyebut Mamaku dengan panggilan Mama.
“Mama punya Asmah Akut, dan sekarang sedang kambuh, dia di IGD sekarang.” Kataku sedikit menceritakan, entah kenapa setelah hal intim yang kulakukan dengannya tadi membuat caraku menghadapi Shasha berbeda dari biasanya.
“Aku ikut kerumah sakit Mas.” Aku sedikit terkejut dengan Pernyataannya.
“Ini malam Sha.. Aku antar pulang yaa..”
“Aku mau bersama Mas Ramma malam ini.” Dan perkataannya itu mempengaruhiku. Kudekatkan wajahku terhadap wajahnya lalu kulumat sekali lagi bibirnya. Dia menikmatinya. Kulepaskan ciumanku dan mulai tersenyum dengan diriku sendiri. “Sialan..!! sejak kapan bibirmu tumbuh menjadi bibir terseksi dan sangat nikmat untuk dihisap..?” gumamku penuh canda. Diapun ikut tersenyum terhadapku.
Setelah bertahun-tahun perang dingin. Baru kali inilah kami saling melempar senyuman. Sangat manis. Dan aku merasa sangat bahagia seakan-akan aku mengulang masa-masa saat kita bersama dulu. Kamipun akhirnya saling mengenakan pakaian masing-masing dan bergegas menuju kerumah sakit.
***
Kulihat dia sedikit canggung karena sejak tadi aku tak pernah melepaskan genggaman tanganku terhadap tangannya. Kami setengah berlari menuju IGD. Setelah masuk aku mendapati Mama masih terbaring lemah dengan Serangkaian peralatan rumah sakit di tubuhnya. Namun Mama terlihat sudah sadar.
“Mama..” kataku sambil bergegas kearahnya.
Mama terlihat tersenyum kepadaku, Ya tuhan… untung saja tak ada apa-apa dengannya. Aku sangat menyayanginya meski Dia bukan ibu kandungku.
Mama Tersenyum kepadaku. “Kamu datang sayang..” kata Mama sambil meraih tanganku. “Sama Pacar kamu..” lanjutnya lagi sambil tersenyum kearah Shasha.
“Dia Shasha Ma.. Adik Renno. Sudah seperti adikku juga.” Jelasku, dan Mama masih saja tersenyum sambil sesekali menggelengkan kepalanya. Sepertinya Mama tak percaya dengan apa yang kukatakan. Astaga.. tentu saja… Kami hampir saja bercinta tadi. Mana mungkin aku menganggapnya sebagai adikku sendiri..?
Kamipun akhirnya tenggelam dalam beberapa percakapan, Papa bercerita kenapa Asmah Mama bisa kambuh. Sedangkan Mama sendiri lebih tertarik untuk mengajak Shasha bicara berdua. Tak lama Ponsel Shasha berbunyi. Yaa.. mungkin itu keluarganya yang khawatir, mengingat ini sudah hampir tengah malam.
“Halo..” Shasha mulai mengangkat Teleponnya.
“….”
“Aku dirumah Sakit Mas..” Kelihatannya itu Renno jika dilihat dari panggilan yang diberikan Shasha.
“…”
“Enggak Mas.. Aku nggak apa-apa. Cuma…” Shasha melihat kearahku dia terlihat sedikit ragu untuk menjawabnya. Dan akupun langsung bergegas kearahnya dan meminta Ponselnya.
“Halo Renn..”
“Ramm… Loh kok Ada Elo..? Elo sama Shasha..? Ngapain kalian bersama di rumahsakit..?” Tanya Renno sedikit terkejut. Aku tau dia sedikit tak suka dengan kedekatanku dengan Shasha.
“Kami nggak sengaja ketemu di jalan tadi, Gue mau nganterin dia pulang tapi Mama Masuk rumah sakit, akhirnya Gue ajak dia kesini.” Jelasku sedikit berbohong.
“Tunggu disana. Gue akan jemput dia.” Kata Renno yang nada bicaranya berubah menjadi tak enak di dengar. Diapun lalu memutuskan telepon begitu saja.
Shasha menatapku dengan tatapan anehnya, aku tau dia takut, takut dengan Kakaknya. Kugenggam Erat tanganya seakan-akan menyatakan jika semuanya akan baik-baik saja,
“Kalian ada masalah..?” Tanya ppa yang sedikit heran dengan tingkah laku kami.
“Enggak Pa.. kami nggak apa-apa. Kami akan keluar menunggu Renno, dia akan jemput Shasha.” Kataku lagi. Akhirnya Shasha berpamitan dengan kedua orang tuaku. Dan kamipun keluar menunggu Renno.
***
Sedikit lebih lama menunggu kedatangan Renno karena mungkin Mansionnya sedikit lebih jauh dengan Rumah sakit ini. Aku masih menggenggam tangan Shasha yang kurasakan dingin dan basah karena berkeringat. Dia takut, aku tau itu. Renno memang selalu sensitif dengan hubunganku dan Shasha. Renno tau jika Shasha menyukaiku, maka Dari itu Renno selalu mengingatkanku agar jangan terlalu dekat dengan Shasha.
Aku tak tau bagaimana perasanku saat ini terhadap Shasha. Jujur saja, aku merasa lebih intim dengannya, setelah apa yang kulakukan tadi terhadapnya, padahal kami belum bercinta. Zoya…??? Ayolah.. selama beberapa jam yang lalu aku sama sekali tak memikirkannya, sebut saja aku brengsek dan sudah berapa kali kukatakan jika aku memang lelaki terbrengsek senegri ini. Aku tak peduli.
“Gimana kalo Mas Renn marah Mas..?” tanya Shasha kemudian.
“Kita nggak melakukan kesalahan apapun terhadapnya kenapa kamu takut dia marah..?”
“Perasaanku nggak enak saja Mas.”
“Tenang saja, disini ada Aku.” Jawabku menenangkannya sambil kukecup singkat keningnya.
“Mas… Gimana hubungan kita..”
Dan aku menelan ludahku dengan susah payah karena pertanyaannya itu. “Jangan pikirkan itu dulu, Aku sendiri tak tau Apa yang terjadi denganku. Dan aku.. Astaga.. aku sama sekali tak menyangka jika akan melakukan itu terhadapmu tadi.”
“Mas Ramma menyesal..?” tanyanya sambil sedikit menjauh dariku.
“Enggak.. bukan itu yang kumaksud.. aku hanya..” dan belum sempat kulanjutkan kalimatku dia sudah menjauh dan menangis. Sialan…!!! apa inii..??? apa yang sudah kulakukan..?
“Sha…” panggilku sambil mendekat dengannya. Tapi belum juga aku menjelaskan sesuatu Si Renno sudah datang. Sial..!!!
“Sha… kamu nggak apa-apa kan sayang..?” tanya Renno yang langsung memeluk tubuh adiknya itu. Kenapa..?? memangnya aku ngapain dia..?? Sialan Si Renno.
“Aku nggak apa-apa Kok Mas..” Jawab Shasha.
“Kamu nagis.” Kata Renno sambil menelusuri wajah Shasha.
“Aku nggak apa-apa Mas..” jawab Shasha sambil memalingkan wajahnya.
“Enggak, kamu bohong.” Kata Renno lagi yang kini sudah mendongakkan wajah Shasha kearahnya. Dan Siall..!!! Rennopun melihat bekas Cumbuanku di leher Shasha.
“Sialan..!!! Lo apain Adek Gue..?” Kata Renno meniggikan nada bicaranya sambil membusungkan dada kearahku. Aku yang dihadapannya hanya diam. Tapi sedikitpun tak takut dengan tatapan membunuh Renno.
“Mas.. aku nggak apa-apa.”
“Nggak Apa-apa bagaimana, Kamu Nangis dan lihat leher kamu.. Sialan..!!” Renno masih saja mengumpat-umpat.
“Kita pulang ya Mas.. nanti kujelaskan di Rumah.” Ajak Shasha.
“Awas Lo yaa Ramm..” Kata Renno sambil menunjuk kearahku. Akhirnya merekapun pergi.
Aku mengusap wajahku dengan kasar. Sialan..!!! Apa yang terjadi denganku malam ini..?? bisa-bisanya aku hampir Making Love dengan Shasha yang selama ini harus kuanggap sebagai adikku sendiri..?? Dan Renno..? Sial..!!! Renno pasti tak akan melepaskanku begitu saja. Belum lagi tentang Zoya.. dimana wanita itu..? seharian tak bertemu tapi dia juga tak menghubungiku, bayangannyapun sudah menghilang dalam ingatanku, semuanya hanya tentang Shasha. Sial..!!! kenapa semuanya memburuk seperti ini..??
Kulangkahkan kakiku keruangan Mama. Kulihat Papa sudah tertidur pulas di kursi tunggu, sedangkan Mama masih terjaga.
“Kamu ada masalah Sayang..?” Tanyanya saat aku duduk di kursi sebelah ranjangnya. Mama memang yang terbaik, dia sangat menyayangiku.
Aku hanya mengangguk lemah. “Boleh aku pulang Ma..? Aku butuh melakukan sesuatu untuk melupakan semuanya.”
“Apa tentang gadis tadi..?”
“Ma… Dia Adik Renno Ma..”
“Apa yang salah dengan adik Renno.?”
“Aku nggak bisa punya hubungan lebih dengan Adik temanku sendiri Ma..”
Mama tersenyum dan menggenggam tanganku. “Mama nggak tau apa maksud Kamu sayang.. yang Mama tau kamu sangat menginginkan Gadis itu, terlihat jelas dari kamu memandangnya. Mama juga sempat beberapa kali menemukan Fotonya saat membersihkan kamarmu.”
“Apa..?? Aaiiissshh Ma… Mama nggak hormatin Privasiku.” Aku sedikit merajuk. Sial..!!! saat aku pindah, aku belum sempat membereskan foto-foto Shasha yang ada di kamar rumahku.
Lagi-lagi Mama tersenyum. “Kamu sudah 28 tahun. Tak salaah jika kamu menginginkan atau mengagumi seorang wanita, yang harus kamu lakukan adalah mengatakannya. Dan tentunya kalau bisa menikah dengannya, Mama sudah pengen gendong Cucu.”
Aku ikut tersenyum denannya. “Sudahlah Ma.. Mama terlalu jauh tau tentangku.” Aku mengecup kening Mama, “aku pulang sebentar Ma.. nanti aku balik lagi.”
“Hati-hati sayang.” Pesannya. Dan akupun mengangguk.
***
‘Buugghhh..’ ‘Buugghhh..’ ‘Buughh..’
Suara-suara dentuman sangat terdengar jelas memantul disegala penjuru ruangan pelatihanku. Aku memukuk samsak itu sekali.. dua kali.. dan berkali-kali, hingga keringatku tak berhenti menetes. Ini sudah lebih dari jam satu malam, tapi aku masih belum mau berhenti melakukan oleh raga ini.
Ku pukul lagi da Lagi.. aku membayangkan jika itu Renno, orang yang menjadi tembok penghalang untukku. Kubayangkan itu Zoya… Orang yang membuat ini menjadi Sulit.. Dan aku bayangkan itu Shasha.. Orang yang selama ini menjadi dalang atas Kacaunya pikiran dan hidupku…
Sialan…!!!!
Mengingat wajah Shasha entah kenapa itu membuatku lemas. Berhenti memukul dan mulai duduk dilantai dengan nafas terputus-putus. Shasha Sialan…!!! kenapa hari ini aku mendatanginya..??? tidak… Aku harus menghindariya kembali.. Aku harus menjauh darinya kembali.. pikirku kemudian.
***
Bangun pagi aku merasakan tubuhku lebih bugar, mungkin karena olah raga yang kulakukan semalam. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 7. Sepertinya masih sempat kerumah skit terlebih dahulu sebelum meluncur kekantor Renno melakukan Rapat.
Mengingat itu, aku kembali menegang. Bagaimana sikap Renno nanti terhadapku..?? Bisakah kami profesional tanpa melibatkan hal pribadi..??
Melupakan hal tentang Renno, kini aku memeriksa ponselku. Hanya ada berapa Email dari sekertaris pribadiku. Tak ada satu pesan atau satu panggilanpun dari Zoya. Aku menghembuskan nafas dengan kasar. Dan baru kusadari jika Zoya memang tak pernah meneleponku terlebih dahulu selama ini. Walau aku sedang tidur dengan wanita lain dia tak pernah mempermasalahkannya. Dan entah kenapa aku merasa seperti diabaikan.
Tak Ada kabar tentang Shasha… Sialan…!!!
Sebelum memikirkan banyak hal tentang gadis itu lebih baik aku bergegas mandi dan pergi kerumah sakit. Aku tak mau berakhir dengan kepala pusing atau Mastrubasi didalam kamar mandi hanya karena memikirkan Shasha.
***
Sedikit menyunggingkan senyuman mempesonaku saat melewati Resepsionis Lobi kantor Renno. Saat ini aku memang sudah didalam kantor Renno setelah tadi dari rumahsakit. Aku berjalan sesantai mungkin seakan-akan tak pernah ada masalah apapun yang terjadi.
Aku memang sangat mudah untuk menyembunyikan masalah ataupun ekspresi wajahku dihadapan semua orang. Tentu saja tidak jika di hadapan Shasha, Jika aku dihadapan Shasha, semuanya luntur begitu saja. Sosok yang kubangun, tembok penghalang yang kubangun, semuanya Ambruk hanya karena memandang wajahnya. Sialan..!!! aku benar-benar sudah parah.
Akhirnya sampailah aku tepat di depan ruangan Renno. Tak ada Chikka sekertarisnya, mungkin sedang keluar atau aapun, aku tak peduli. Kubuka ruangan tersebut. Dan aku mendapati Dhanni dan Renno menatapku dengan tatapan masing-masing.
Dhanni yang saat itu sedang berdiri menatapku dengan tatapan tak percayanya, Apa yang membuatnya menatapku seperti itu..?? Sedangkan Renno menatapku dengan tatapan Tajam berapi-apinya, seakan-akan ia ingin mengulitiku atau membakarku hidup-hidup. Dan saat ini aku baru sadar jika sekarang aku ada dalam sebuah masalah.. Sialan..!!!

 

_TBC_

Bagaimana pmanasannya..?? Hahhaha… oooiya.. Next Chapter aku akan hadirkan POV Shasha. Bagaimana sihh isi dikepala cantiknya itu… ok.. selamat menunggu chapter selanjutnya.. 😉 🙂

Advertisements

7 thoughts on “My Everything (Novel Online) – Chapter 4

  1. hadeuhhhh gregetan banget ama ramma
    plin plan mengekang seenaknya dan cemburu berat
    dilema kan dia jadinya
    sosok sasha bisa menjungkirbalikkan hidupnya padahal zoya yang ada disampingnya daa mengorbankan banyak hal gk sedikit pun menempati hati ramma
    next ya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s