Uncategorized

Please Stay With Me – Chapter 3

PSWMPlease Stay With Me

 

NB ; Chapter ini POV Revan yaa.. 🙂

 

Chapter 3

 
-Revan POV-
Hujan di sore ini tak menyurutkan niatku untuk menemuinya. Tak lupa aku membelikannya seikat bunga mawar merah untuknya, melambangkan perasaan cintaku yang masih membara untuknya. Sang penjual Bunga bahkan hafal dengan bunga pesananku. 8 tangkai bunga mawar merah yang di ikat menjadi satu. Kenapa 8..? aku sendiri juga tak tau. Aku hanya sedikit mengingat perkataannya jika angka delapan melambangkan angka keabadian, angka yang tak ada titik putusnya seperti angka-angka yang lain.
Dan aku berharap Cintaku padanya juga seperti angka 8. Yang abadi dan tak akan pernah putus.
Dengan meengenakan payung hitam dan juga setelan Hitam, seperti biasa aku menghadapnya dengan tenang. Menghadap batu nisannya….
Aku tak mempedulikan hujan yang sedikit membasahi bajuku. Aku tak mempedulikan orang yang melihatku dan berkata jika aku gila. Yaa aku memang gila.. Tuhan… aku benar-benar tak bisa hidup tanpa wanita yang terbujur kaku di balik tanah yang kuinjak sekarang ini…
Aku menatap baatu nisannya seakan-akan aku menatap wajahnya.. wajah yang perlahan mulai memudar dalam ingatanku. Aku berusaha sekeras tenaga untuk mengingat masa-masa dimana kami bahagia bersama.
Aku mengenalnya beberapa tahun yang lalu. Gadis yang ceria, Agresif dan Posesif. Itulah Talita… Lita kekasihku. Aku menyayanginya, sungguh sangat menyayanginya. Dialah wanita satu-satunya untukku. Tapi tentu saja Cinta kami tak berjalan mulus dan itu menyebabkan dia meninggalkanku untuk selama-lamanya…
Seseorang yang ingin memisahan kami membuat kekacauan dengan menfitnahnya berselingkuh dengan lelaki lain. Padahal saat itu dia sedang mengandung Anakku, dan dengan bodohnya aku mempercayai orang tersebut. Aku meningggalkannya, mencampakannya begitu saja. Mungkin karena itu dia bunuh diri dan meninggalkanku untuk selama-lamanya.
Aku yang saat itu baru tau kebenarannya berusaha untuk mencarinya. Dan dua tahun yang lalu aku mendapati jika dia sudah meninggal karena bunuh diri.
Bodoh.. aku benar-benar lelaki bodoh. Segampang itukah aku mempercayai perkataan orang…??? Aku menggelap, duniaku menghitam. Tak ada lagi cahaya untukku berjalan. Aku hanya bisa berhenti ditempat dan menoleh kebelakang. Menoleh kepada masa-masa indahku dengan Lita, menoleh kepada kesalahanku.. dan menoleh pada penyesalan terdalamku.
Sungguh.. aku sangat menyesal. Aku tak memiliki tujuan hidup lagi. Dan aku tak memikirkannya lagii.. aku hanya ingin meninggalkan semuanya dan kembali bersama Lita.. tapi semuanya menjadi sulit ketika Gadis itu datang.. Gadis Bodoh yang memperlakukan dirinya sebagai pelayan pribadiku demi gelar seorang Istri. Aku tau dia menderita.. tapi aku juga lebih menderita..
“Hai… Bagaimana kabarmu..?” Sapaku pada Batu Nisan Lita.
“Apa Kau tau jika hariku semakin memburuk..?”
“Datanglah kemimpiku.. Aku merindukanmu..”
Aku tersenyum masam, memang seperti ini keseharianku. Saat makan siang atau ada waktu luang di sore hari, aku akan menyempatkan diri untuk mengunjunginya.
“Apa Kau tau, Dia Kacau.. Dia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Apa yang harus kulakukan..?” tanyaku lagi.
“Akhir-akhir ini dia berbeda. Dia tak lagi menjadi pelayan pribadiku.” Kataku mulai bercerita.
Dara.. Istriku, Dia adalah Gadis baik tapi Bodoh. Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai teman atau sahabat dari hana, adikku. Tapi aku tak menyangka jika ibu menyuruhku untuk menikahinya.
Saat itu aku hanya menuruti kemauan ibu yang sedang sakit keras. Ibu mau aku menikah dan melupakan semua masa laluku. Dan calonnya adalah Andara.. istri yang sampai kini tak pernah kusentuh karena aku memang tak memiliki perasaan lebih untuknya.
Kupikir Dara akan menolak lamaranku, tapi nyatanya dia menerimanya. Itu yang membuatku marah. Aku hanya ingin hidup sendiri tapi dia selalu menempel disekitarku dengan status seorang istri. Aku membuat hubungan kami sedingin mungkin hingga dia berhenti berharap, lelah dengan keadaan dan ingin berpisah denganku. Namun nyatanya.. dia bertahan hingga 2 tahun lamanya.
Sedikit Iba saat melihatnya. Dia mengabdi layaknya seorang pembantu pada majikannya. Tapi aku tak mengindahkan itu. Itu pilihan yang Dara pilih, itu bukan salahku.
Pertahananku kini sedikit demi sedikit mulai mencair. Wajah Lita mulai samar-samar dalam ingatanku. Dan anehnya wajah Dara lah yang teringat jelas dalam ingatanku. Apa karena hanya Dara yang sering kulihat..??
“Datanglah ke mimpiku… Sungguh, aku ingin melihat wajah manjamu sekali lagi.” Lanjutku kemudian.
“Aku takut Lita.. Aku takut jika Kau tak datang ke mimpiku, Aku akan melupakanmu.”
“Aku takut Tempatmu akan tergantikan dengan wanita lain.. Datanglah Lita.. kumohon.”
Aku berjongkok, mengusap-usap bahkan mencium batu nisannya. Aku merindukannya.. sungguh sangat merindukannya…
***
Saat ini aku sudah berada di halaman depan rumahku. Setelah mengunjungi Lita aku memutuskan untuk pulang. Aku merasa badanku sedikit tak enak. Entahlah… mungkin daya tahan tubuhku menurun.
Masuk kedalam, Aku merasa rumah sangat sepi. Aku memang tak pernah pulang sore seperti ini. Aku melihat kanan kiri dan yang kulihat hanya beberapa pelayan Rumah ini.
“Revan.. kamu kok sudah pulang..?” Tanya ibu yang bergegas keaarahku.
“Aku sedikit tak enak badan Bu.. Aku mau istirahat.”
“Baiklah.. Tidurlah dulu. Nanti ibu bangunkan saat tiba makan malam.”
Dan akupun mengangguk. Lalu bergegas pergi ke kamar. Tapi baru beberapa langkah aku berhenti. Sepertinya ada yang aneh.
“Ada apa Rev..?” tanya ibu lagi.
“Dimana Dara..?” Dan aku sedikit tak sadar ketika menanyakan keberadaan wanita itu.
“Dara Kerja, dia belum pulang. Biasanya jam 6 baru pulang.”
“Kerja..? Kerja apa..?”
“Dia kerja di salah satu restoran cepat saji.”
“Untuk apa dia kerja..?”
“Dia terlalu bosan dirumah sendirian tanpa ada yang di kerjakan.” Jwab ibu kemudian. “Tumben sekali Kau menanyakannya..?”
Dan akupun kembali bergegas menuju kamarku tak mempedulikan pertanyaan terakhir ibu. Yaa… Tumben sekali aku menanyakannya..? Ahh sudah lah…. bukankah itu bagus jika dia kerja berarti semakin kecil kemungkinanku berinteraksi dengannya.
Akupun masuk kedalam kamar. Menaruh tas dan Jasku pada tempatnya. Melonggarkan dasiku lalu duduk di tepian ranjang dan bergegas membuka sepatuku.
‘Degg…’
Aku merasakan ada sesuatu yang hilang, ada sesuatu yang salah disini. Apa itu..?? tapi aku tak menghiraukannya. Akupun bergegas masuk kedalam kamar mandi. Dan lagi-lagi perasaan aneh itu datang kembali. Perasaan apa ini..??
Dan ketika aku mengingatnya aku beru menyadari jika aku kehilangan suatu perasaan yang selama dua tahun ini kurasakan. Perasaaan dilayani.
Jika biasanya ada seorang yang menyambutku saat aku pulang dari kantor, saat ini tak ada lagi. Tak ada yang menyiapkanku air hangat, tak ada yang memilihkanku baju bersih, tak ada yang membuka sepatuku, dan tak ada juga yang menyiapkan secangkir kopi saat aku sedang bekerja di ruang kerja.
Kenapa ini…?? Kenapa aku merasa kehilangan dia..??
Beberapa hari ini memang ada yang sedikit berbeda dengan Dara. Dia cenderung menghindariku. Walau selama ini aku berusaha bersikap dingin dan mendiaminya tapi dia selalu mencoba untuk mengajakku berbicara, tapi beberapa hari ini dia berbeda.
Apa karena pernyataan cintanya saat itu..?? Ahh… mungkin saat itu Dara hanya mengada-ada saja.
Apa Dara memiliki kekasih lain di luar rumah..? Dan entah kenapa aku sangat tak setuju dengan pemikiran terakhirku tersebut. Dara tak mungkin memiliki kekasih lain di luar rumah. Aku mengenyahkan semua pikiran-pikiranku dan mulai bergegas masuk kedalam Bathup. Mandi air dngin tentunya. Seusai mandi dan berganti pakaian dan melemparkan diri diatas ranjang empukku. Tak lama kesadarankupun terenggut bersama dengan datangnya mimpi indahku.

“Haii kak..” Walau sedikit samar dia terlihat cantik, sangat cantik. Wajahnya bercahaya, senyumnya mempesona bahkan kini dia terlihat mengenakan sepasang sayap. Sangat mirip dengan seorang bidadari.
“Talita…” ucapku tak percaya dengan apa yang kulihat.
“Apa Kak Revan bahagia..?” tanyanya dengan memberikan sebuah senyman manisnya.
“Aku sangat menderita. Ajak aku bersamamu..”
“Tidak Kak.. Kau akan lebih bahagia bersamanya.. jangan takut untuk bahaga Kak..” kata Lita yang mulai perlahan-lahan menjauh.
“Tidak sayang jangan tinggalkan aku..” tapi bayangan Lita tetap saja menjauh. Cahayanya memudar. Dan perlahan-lahan menghilang digantikan oleh sosok wanita yang selama ini berada di sisiku, Andhara…

Aku terbangun dengan keringat dingin. Tapi aku masih merasakan tubuhku demam. Ada apa ini..? apa arti dari mimpi itu..? kenapa bisa Dara menggantikan posisi Lita..?? aku melihat jam di nakas menunjukkan pukul 10 malam. Menolehkan kepalaku kekanan dan kekiri, dan aku tak mendapati apapun kecuali mampan yang berisi berbagai menu makan malam.
Apakah Dara yang menyiapkannya..??
Ahh kenapa aku memikirkannya. Mungkin ini ibu yang melakukannya. Lagi pula Dara kan belum pulang. Belum pulang..?? Apa yang diaa lakukan hingga malam sudah larut tapi dia belum pulang juga..?? Apa terjadi seuatu padanya..??
Aku lalu menyambar Kimono tidurku dan begegas keluar dari kamar. Sedikit teringat dengan mimpi anehku tadi. Apa artinya itu..?? Apa itu artinya aku harus memulai hidup baru dengan Dara..?? Tidak.. itu tak mungkin terjadi. Karena kesalahanku Lita meninggal. Jadi bagaimana mungkin aku bisa hidup bahagia dengan wanita lain..?? tidak… Aku harus setia dengan Lita hingga hatiku sendiri yang memutuskan untuk menyerah dan kalah….
Dengan sebuah kopi hangat di tanganku, Aku duduk diatas ayunan yang berada di halaman depan rumah. Malam ini sangat tanang dan terang, meski sedikit basah karena di guyur hujan tadi sore, namun aku tetap menikmatinya.
Hingga sebuah motor bebek berhenti tepat di depan pintu gerbang rumahku. Seorang lelaki berseragam pengantar Pizza memberhentikan motornya didepan gerbang rumahku. Dia membonceng seseorang yang kini kuyakini adalah Dara, Istriku. Dara juga mengenakan pakaian yang sama. Mereka kerja di tempat yang sama.
“Terimakasih Ndre.. mau mengantarku.” Aku sedikit mendengar suara Dara yang terdengar tulus dan riang.
“Iya.. itu bukan masalah.”
“Baiklah, aku masuk dulu, kau berhati-hatilah.” Katanya lagi sambil melambaikan tangannya hingga motor itu mengilang dibalik tikungan jalan.
Aku melihatnya masuk tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya kearahku. Mungkin dia tak tau jika aku berada di sini.
“Dari mana saja Kau..?” Dan suara dinginku tersebut keluar memecah keheningan.
Sedikit terkejut dia menoleh kearahku. “Mas Revan…” Lirihnya.
Aku berjalan dengan langkah sangar kearahnya. Dia terlihat menciut. “Dari mana saja Kau..? Kau tau ini hampir tengah malam..?” Tanyaku lagi penuh dengan penekanan.
“Aku kerja.”
“Apa uangku masih kurang untuk membiayai hidupmu..?”
“Tidak, bukan seperti itu.”
“Lalu apa.?”
“Aku hanya ingin punya kegiatan dan punya banyak teman.”
“Teman yang bisa mengantar jemput sesuka hatinya maksudmu..?” Tanyaku dengan sedikit menyindir. Akupun tak tau kenapa aku ikut campur urusannya, Aku hanya tak suka diabaikan. Tanpa menunggu jawabannya, aku kembali masuk meninggalkannya bediri membatu di depan pintu.
***
Dengan kasar aku duduk dan bersandar di kursi Ruang kerjaku. Sepertinya malam ini dan seterusnya aku harus tidur disini. Kenapa..?? tentu saja semua itu ada hubungannya dengan istri bodohku itu.. sedikit banyak dia mulai mempeengaruhiku. Aku mulai ketagihan dengan kesetiaan dan pelayanannya hingga ketika dia tak melayaniku, aku merasa kehilangan.
Aku harus menghilangkan perasaan ini secepatnya…
Ditambah lagi Lita yang tak pernah masuk dalam mimpiku, kalaupun dia masuk, pasti seperti tadi, Wajahnya terlihat samar tak jelas. Hingga aku takut cepat atau lambat aku akan melupakannya. Tidak.. itu tak boleh terjadi…..
Lita kekasihku.. kekasih hatiku…

 

TBC

ada yang nungguin kelanjutanya nggak…??? Kalo nggak ada yaa nggak apa-apa.. hahhahah

Advertisements

6 thoughts on “Please Stay With Me – Chapter 3

  1. cie cie ada yang mulai cemburu plus kesel nich
    baguslah berarti ada efeknya kan dara menghindar
    lanjutkan dara
    pengen liat bagaimana nanti sikap revan selanjutnya

    Liked by 1 person

  2. Awalnya ga begitu tertarik untuk baca novel ini.tapi akhirnya saya baca hanya sekedar mengisi wktu luang.dan tanpa disangka ceritanya justru bikin hati saya merasakan apa yang dara rasakan.Ya,tentu saya bisa merasakan karena kisah mereka hampir sama dengan kisah saya.
    Mohon post lagi kelanjutannya,klo bisa post tiap hari ya chingu…thanks

    Liked by 1 person

  3. Revan hanya memakai otak nya tapi ga dengan hatinya.. Hatinya padahal udh nyaman ama dara, tapi dia men doktrin dirinya sendiri kalo dia ga mungkin sama dara..

    Ngeselin ya…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s