romantis

Please Stay With Me – Chapter 2

PSWMPlease Stay With Me

 

NB: Haii.. ketemu lagi ama cerita ini nih. hehheh ooiiyaa sedikit bercerita nihh… sebenarnya ini tuh seri kedua ‘Hurt Love’ bikinanku. hehhe lahh mana yang seri pertamanya..?? Tenang aja.. seri pertamanya ada kok… tokohnya tentu saja Rihana alias Hana, adiknya Revan dengan Si Mike (Yang saat ini suda menjadi suami hana) hehehe. tapi entah kenapa aku lebih seneng nulis ini dulu.. hehhehe nggak papa yaa… ok.. happy reading aja dehh kalo gitu.. hehheehe.

 

Chapter 2

 
Aku berjalan dengan langkah gontai diatas trotoar, pikiranku kacau, tangisku pecah. Ya tuhan… Aku benar-benar tersakiti. Satu hal lagi yang membuatku kecewa, Dia tak mengejarku. Tentu saja.. Apa aku penting buatnya..? Apa aku berarti untuknya..? Tidak, Sama sekali tidak.
Akupun akhirnya terduduk di tepi trotoar, menangis tersedu-sedu seperti orang gila. Ya.. aku memang Gila, Gila karena Cinta.
“Heii.. Apa Kau baik-baik saja..?” Suara itu membuatku mengangkat kepala dan mendapati seorang yang tengah menunduk memperhatikanku. Dia seorang lelaki yang bagiku cukup tampan, mengenakan sebuah seragam kerja yang ternyata itu adalah seragam salah satu pelayan di restoran cepat saji di sini.
Aku hanya mengangguk pasrah, bagaimanapun juga aku tak ingin menceritakan kisah menyedihkanku kepada orang asing.
“Apa Kau butuh tumpangan..?” tanyana kemudian.
“Tidak, Aku baik-baik saja.” Jawabku sambil membenarkan penampilanku. Ada banya orang berlalu-lalang disini tapi kenapa dia yang berhenti dan memperhatikanku..??
“Aku bisa memberhentikan taxi untukmu.” Katanya kemudian. Dan aku hanya mengangguk. Baiklah.. mungkin aku memang harus kembali pulang. Aku tak mungkin kerumah ibu dengan berpenampilan seperti ini.
Akhirnya akupun melihatnya mnghentikan sebuah Taxi untukku. Aku memandangnya, Lelaki yang sederhana. Lelaki yang baik..
“Heii… Itu Taxi untukmu. Apa Kau ingin aku mengantarmu..? Kau tak terlihat baik.” Katanya lagi menyadarkanku.
“Tidak.. dan terimakasih Taxinya.” Jawabku sambil bergegas memasuki Taxi.
“Aku harap kita bisa bertemu lagi.. Aku Andre..”
“Dara.. Panggil saja Dara..” kataku kemudian dan Taxipun mulai berjalan.
“Sampai jumpa lagi Dara..” Teriak Andre yang kini masih terlihat memandangi Taxi yang sedang kutumpangi ini.
Aku menghembuskan nafas legaku, dan menyandarkan kepalaku kesandaran kursi. Untung saja tadi ada Lelaki baik yang menolongku. Aku tak habis fikir bagaimana jika tadi seorang pencuri atau penjahat yang menemukanku. Mungkin aku tak ada disini sekarang ini.
Akhirnya dengan perasaan terluka dan Kecewa akupun kembali pulang. Semoga saja Mas Revan tak ada di rumah.
***
Sesampainya di Rumah, Aku masuk dan mendapati Ibu yang dengan wajah khawatirnya berjalan kearahku.
“Astaga.. Apa yang terjadi Dara..? Kenapa Kau pulang sendiri..? Dan apa Kau tak jadi kerumah ibumu..??” tanya Ibu sambil berjalan menghampiriku. Aku tau dia khawatir terhadapku.
“Ibuku keluar Kota Bu..” Aku berbohong.
“Dan kenapa Kau pulang sendiri..? Kenapa Revan juga pulang sendiri..?” Ibu bertanya dengan raut wajah bingung.
“Jadi Mas Revan sudah pulang..?”
“Tentu saja, Dia ada di halaman belakang bersama dengan temannya. Kalian bertengkar..?” Tanya ibu lagi, dan aku hanya menggeleng.
“Aku lelah Bu, Aku hanya ingin istirahat.” Kataku kemudian sambil bergegas masuk kedalam Rumah. Tapi ketika aku masuk, Aku mendapati Mas Revan sedang berbicara dengan seorang wanita cantik, dan Seksi. Tapi wanita itu berpakaian Rapi. Tapi walau rapi tetap saja tak akan mengurangi kesan seksinya.
Siapa Wanita itu..??2
Kenapa mereka terlihat sangat Akrab..??
Apa hubungan mereka..??
Dan pertanyaan-pertanyaan tersebutpun menari-nari didalam otakku. Aku takut… Aku takut jika Mas Revan bisa membuka hati untuk wanita lain tapi tak bisa membuka hati untukku. Aku takut dia pergi meninggalkanku….
Ketika aku menatapnya, pada saat yang bersamaan dia menatap kearahku. Senyum yang tadi mengembang di wajahnya langsung lenyap begitu saja saat memandangku. Tatapan matanya dingin, sedingin Es.. bola matanya membara seperti api yang menyala-nyala. Dia marah terhadapku, aku tau itu, Tapi kenapa..?? Bukankah seharusnya aku yang marah…??
“Siapa dia Rev..?” tanya wanita tersebut dengan nada manjanya.
“Bukan siapa-siapa.” Jawabnya dingin penuh dengan penekanan. Dan aku tak dapat meendengar apa-apa lagi karena aku mempercepat langkahku supaya cepat sampai di dalam kamarku di lantai dua.
Dia jahat… sangat jahat…
Aku tak sanggup lagi menahannya. Sedikit berlari aku menuju kamarku, kubuka lalu aku masuk dan kututup kembali pintunya. Tak lupa aku mengunci pintu Tersebut. Kulemparkan tubuhku pada ranjang empuk dihadapanku. Aku menangis sejadi-jadinya meski aku tak berani mengeluarkan suara tangisanku. Air mataku tak pernah kering untuk menangisi sosoknya…
Kenapa seperti ini…??? Kenapa dia tega melakukan semua ini…??
***
Aku terbangun saat hari mulai gelap. Kepalaku sedikit pusing, mungkin karena aku terlalu banyak menangis. Sejujurnya aku hanya butuh teman untuk menuangkan perasaanku. Aku butuh cerita. Aku membutuhkan Hana disisiku. Tapi tentu saja tak bisa. Dia sudah memiliki keluarga sendiri. Dan aku… Aku hanya bisa menangis sendiri.
Aku mendngar beberapa kali pintu di ketuk. Jujur saja aku malas membukanya. Mungkin itu Mas Revan. Tapi mendengar suaranya ternyata bukan. Itu ibu..
“Dara.. buka pintunya sayang.. Ibu membawakanmu makan malam.”
Dan akupun begegas membuka pintu Kamar. Aku mendapati Ibu tengah membawa nampan berisi makan malamku, tampak sekali raut wajahnya sedih. Mungkin ibu sedih melihat hubunganku dan Mas Revan yang tak kunjung baik..
“Makanlah dara, Kau akan sakit jika tak makan.” Kata ibu kemudian. Ibu tak menanyakan keadaanku. Aku tau jik ibu sudah mengetahui dinginnya hubunganku dengan putranya itu, tapi ibu hanya memilih diam, tak ikut campur masalah kami.
Kuambil nampan dari tangan ibu. Dan ketika ibu akan bergegas pergi, aku memanggilnya.
“Bu… Apa aku boleh pergi dari sini..?” entah sejak kapan aku memiliki keberanian untuk mengatakan kata-kata itu.
Ibu lalu menatapku dengan tatapan terkejutnya. Dan bukannya pergi, ibu malah berbalik dan masuk kedalam kamarku, duduk diatas ranjangku dengan nyamannya. Aku mengikutinya, menaruh Nampan makanan itu di meja lalu ikut duduk di sebelah Ibu.
“Dara… Aku tau Kau gadis baik. Oleh karena itu aku memilihmu sebagai pendamping putraku. Aku ingin Kau merubahnya kembali Dara.. Aku ingin putraku kembali seperti dulu.”
“Tapi sepertinya aku tak sanggup Bu.. Bukan aku yang dapat merubahnya kembali.”
“Dara.. aku tau Kau menyayanginya, semua yang Kau lakukan selama ini tulus, ini hanya masalah waktu Dara.. lambat laun Revan akan mengerti dan dia akan berada disisimu, mencintaimu seutuhnya.”
“Tapi bagaimana jika tidak Bu..? Bagaimana jika semua itu tak akan terjadi..?” tanyaku sambil menteskan air mata.
“Buat dia mencintaimu.. Buat dia merasakan bagaimana mencintai orang yang tak pernah mencintainya, Buat dia menyesal karena sudah menyia-nyiakanmu. Dara… Ibu disini, dibelakangmu dan selalu mendukungmu. Sampai kapanpun Hanya Kaulah yang pantas jadi Menantuku Dara..”
Dan entah kenapa aku merasakan jika Ibu memberikanku suntikan semangat. Ya… benar.. jika dia tak mencintaiku kenapa aku tak berusaha membuatnya untuk mencintaiku…???
“Apa yang harus kulakukan Bu supaya dia bisa belajar mencintaiku..?”
“Berubahlah.. Buat dia memikirkanmu.. Buat dia merasa kehilangnmu..” sedikit bingung saat menerima nasehat ibu. Tapi sedikit senang juga memikirkannya. Itu tandanya jika aku masih memiliki kesempatan untuk di cintai oleh Mas Revan…
***
Tiga hari berlalu. Hubunganku dengan Mas Revan semakin dingin. Jika biasanya dia diam dan aku sedikit bertanya padanya untuk sekedar mencairkan suasana, maka saat ini sama sekali tak ada kata diantara kita. Akupun jadi canggung untuk bertanya padanya setelah mengungkapkan perasaanku saat itu. Astaga… jika tau akan seperti ini aku tak akan mengatakannya. Dan akhirnya seperti inilah, Aku sedikit menghindarinya.
Tak ada lagi pelayanan seperti biasa yang aku lakukan untuknya. Yaa… setidakna dia harus membiasakan seperti itu ketika nanti kita mbenar-benar berpisah. Apa dia merasa aneh..?? Tentu saja tidak, pekerjaan yang kulakukan tak akan mampu mengusik hidupnya.
Hari ini adalah hari pertamaku bekerja. Setelah memutuskan untuk sedikit menghindarinya akhirnya aku dapat ide untuk bekerja. Dua hari yang lalu saat aku kepusat perbelanjaan bersama dengan ibu, aku bertemu kembali dengan Andre, Lelaki yang menolongku memberhentikan taxi waktu itu. Kami sedikit bercakap-cakap saat itu. Hingga aku mencetuskan minatku untuk bekerja di tempatnya yang ternyata kebetulan masih ada beberapa lowongan pekerjaan disana.
Tentu saja saat itu ibu menolak keras ideku. Tapi dengan sedikit merayunya akhirnya dengan pasrah ibu mengijinkanku untuk bekerja. Yaa… mungkin dengan bekerja dan memiliki aktifitas harian aku akan sedikit melupakannya. Mengobati lukaku karenanya. Semoga saja….
***

TBC

Maaaf pendek.. next ada POV Revan yaa… hhehe

Advertisements

5 thoughts on “Please Stay With Me – Chapter 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s