romantis

Because It’s You (Novel Online) – Chapter 11

BIY Cover Fix 3New
Because It’s You

NB: Maaf yaa telat postnya… tadi maunya post sekitar jam 10an tapi ternyata ada sodara yang tiba-tiba datang berkunjung, hehheehe Ehhyaa aku usahakan supaya sering ngepost BiY yaa akhir2 ini,,, soalnya udah mau End Nihh… jadi nanti tinggal konsen ama Ramma Storynya aja,, hehheeh dan Cover diatas memang bukan Renno dan Allea, tapi nanti kalo BIY naik Cetak di nulisbuku.com Sampul novelnya akan seperti itu(Yg ungu nggak jadi yaa.. heheheh) ok langsung saja…

 

 

Rennopun menatap Tannia dengan tersenyum. “Kamu salah. Aku sudah menghilangkan perasaan itu sejak lama, Jauh sebelum kedatangan Allea. Dan betapa kerasnya kamu berusaha, perasaanku tak akan berubah. Aku sudah menemukan Rumahku, Rumah sebagai tujuanku untuk pulang, Dan Itu bukan Kamu, Tapi Allea.” Kata Renno dengan tegas sambil melepas paksa cekalan tangan Tannia.
Rennopun pergi diikuti Ramma di belakangnya meninggalkan Tannia yang lemas karena pernyataan Renno tersebut dan juga Robby yang sedikit ternganga karena pengakuan Renno tersebut.

 

Chapter 11
Renno membuka pintu ruangannya dengan gusar lalu melemparkan dirinya di Sofa ruanganya dengan Raut Frustasi. “Sialan..!!!” berkali-kali Renno mengumpat karena kekesalannya. Ramma yang melihatnya hanya tersenyum sambil ikut duduk di sebelah Renno.
“Apa coba maksudnya si Robby mempekerjakan Adiknya disini..? Sialan..!!!” lagi-lagi Renno menggerutu lengkap dengan umpatan-umpatannya.
“Memangnya kenapa Kalau Tannia kerja disini..?”
“Gue nggak suka.”
“Jangan bilang kalo yang dikatakan Robby tadi benar, bahwa Lo takut dekat dengan Tannia.”
“Sialan Lo..!!! Apapun yang terjadi perasaan Gue ke Tannia sudah Pupus, Nggak ada lagi Ramm.”
“Lo Yakin..?”
“Gue akan buktiin ke Elo nanti.” Kata Renno dengan pasti.
Dan Rammapun mengangguk. “Ok, kayaknya Gue musti balik dulu.” Kata Ramma kemudian sambil melirik kearah jam tangannya. Rennopun Mengangguk ketika Ramma berpamitan untuk pergi.
Seperginya Ramma, Renno menyandarkan kepalanya pada sandaran Sofanya. Maksud hati untuk menenangkan fikiranya tapi ternyata bayangan akan masa lalunya melayang-layag difikirannya.

“Hai… aku Renno,.” Kata Renno sambil mendekati seorang gadis yang yang duduk sendiri di taman belakang Rumah Renno.
“Tannia.” Kata gadis berwajah cantik namun sendu tersebut.
“Aku turut berduka atas kematian Oom, Semoga setelah ini kita akan menjadi teman baik.” Dan Tanniapun hanya mengangguk dengan perkataan Renno.
Saat itu Renno masih kelas 3 SMA, sedangkan Tannia masih kelas 3 SMP. Ayah tannia yang merupakan Adik dari Mama Renno meninggal karena serangan jantung akibat perusahaannya yang bangkrut. Semua aset keluarga Tannia di sita oleh Bank, Mengakibatkan Tannia Robby Dan Mamanya harus numpang sementara di rumah Renno.
Robby yang saat itu Sebaya dengan Renno sekolah di sekolahan yang sama dengan Renno, sedangkan Tannia Sekolah di SMP yang bersebelahan dengan Sekolahan Renno.Tannia yang saat itu tertutup dan terpukul dengan keadaan keluarganya lama-lama semakin terbuka dengan Renno. Mereka jadi semakin dekat dan perasaan tersebutpun tak terhindarkan lagi.
“Itu bintangku..” kata Tannia yang saat itu sedang tiduran menghadap keatas langit dan menunjukkan sebuah bintang yang sangat terang.
“Mana..?” Tanya Renno yang juga tidur disebelahnya. Mereka saat itu berada di taman belakang Rumah Renno, tempat mereka sering menghabiskan waktu bersama, entah itu sekedar mengerjakan PR atau bercanda gurau bersama.
“Itu.. yang kelap-kelip dan paling terang.”
“Kenapa kamu milih itu..? kenapa nggak yang besar itu..?” Tanya Renno dengan heran.
“Karena aku tidak mencari yang paling besar, tapi aku mencari yang paling terang, supaya dia bisa menuntunku pulang.”
Renno mengangkat sebelah Alisnya. “Menuntunmu Pulang..?”
“Iya… Menuntunku pulang.. Kak Renno adalah Rumahku, Tempatku untuk pulang, Dan Jika Aku tersesat, bintang itu yang akan menuntunku pulang kerumah, Kepada Kak Renno.” Kata Tannia menjelaskan.
Renno lalu tersenyum sambil mengacak-acak poni milik Tannia. “Dan aku akan selalu menunggumu disini..menantimu untuk kembali pulang.”Kata Renno dengan tersenyum hangat, Rennopun lalu mengecup kening Tannia dengan Lembut.

Bayangan tersebut sangat jelas Terngiang di benak Renno. Astaga… Apa yang harus dirinya lakukan..?? Akankah ia mengulangi kesalahannya untuk kedua kalinya..?? apa ini Rencana Robby untuk mengacaukan perasaannya dan merebut Allea dari tangannya..?? mengingat itu, Rennopun kembali murka. Jika itu Rencana Robby, Maka Renno bersumpah tak akan pernah terperangkap dalam Rencana Sialan tersebut.
***
Allea setengah melamun ketika menyirami Bunga-bunga yang berada di halaman samping panti. Pikirannya menerawang, mengingat-ingat kata Nessa. Bagaimanapun juga dirinya kini sedikit lega karena memiliki Nessa sebagai temannya yang baik, Nessa bahkan menyemangatinya untuk tetap bersama Renno. Nessa juga mengajarinya menjadi Wanita yang berani, bukan wanita seperti dirinya saat ini yang hanya menerima keadaan saja.
Pertanyaannya adalah, ‘Beranikah Ia meghadapi semuanya..?’ ‘Beranikah ia mengungkapkan perasaannya terhadap Renno..?’ ‘Bagaimana jika Renno menolaknya..?’ Ahhh… selalu pertanyaan itu yang membuatya melamun sore ini hingga ia tak menyadari ketika ada sebuah Lengan yang sudah melingkari perutnya dari belakang.
“Melamunkan Apa.?” Tanya Renno yang saat ini sudah memeluk Allea dari belakang.
Allea terkesiap dengan pertanyaan sekaligus tingkah Renno yang sedikit berbeda dari tadi pagi. “Ahh enggak, Aku hanya…”
“Ayo kita pulang, Aku lapar.” Potong Renno kemudian.
“Kenapa nggak makan disini saja..? Disini sama Saja Kok.”
“Enggak, Aku hanya mau makan malam sama kamu.” Dan Jantung Alleapun berdetak lebih kencang karena pernyataan Renno. Allea hanya terdiam tak bisa berkata-kata lagi. “Ayoo…” Kata Renno lagi sambil menarik tangan Allea.
Setelah berpamitan dengan ibu panti, merekapun pulang. Sesampainya di Apartemen Allea langsung menuju kedapur dan bersiap-siap untuk masak, tapi lagi-lagi dirinya terkejut dengan tingkah Renno yang sama sekali tak dimengertinya.
Lagi-lagi Renno memeluknya dari belakang sambil sesekali mengecup lehernya, seperti Tak ada rasa canggung lagi untuk Renno. Ada apa dengan lelaki ini..?? Allea hanya bisa diam membatu.
“Ada apa..?” Tanya Renno dengan serak.
“Eng.. Enggak..”
“Kamu kaku sekali.”
“Emm.. Aku.. Aku nggak terbiasa.”
“Mulai sekarang biasakan.” Dan Alleapun hanya mengangguk meski tak tau apa maksud Renno tersebut. “Maafkan Aku..” kata Renno kemudian.
“Maaf untuk apa..?”
“Tadi pagi sudah kasar sama Kamu.”
“Aku ngak apa-apa kok.” Jawab Allea kemudian.
“Aku sama Tannia nggak ada apa-apa kok, itu hanya masa lalu. Yang penting sekarang masa depanku adalah Kamu dan dia.” Kata Renno sambil mengusap perut Allea. Renno teringat kata-kata Ramma, Jika Allea tak mencintainya maka ia harus Membuat Allea mencintainya, Tak ada salahnya kan bersikap manis terhadap Allea, karena kini tujuan Renno hanya satu, Membuat Allea jatuh cinta padanya.Dan persetan dengan Si Robby.
Allea hanya tertegun mendengar pernyataan Renno.
“Ya sudah, Lanjutin masaknya, Aku sudah lapar. Aku mandi dulu yaa..” Kata Renno sambil mencuri kecupan dipipi Allea lalu berlari pergi meninggalkan Allea yang ternganga sambil memegangi pipinya.
***
“Besok kekantorku ya..” kata Renno sambil mengusap-usap perut Allea. Setelah makan malam saat ini mereka sedang santai di depan televisi. Allea duduk di ujung sofa panjang dengan kakunya karena Renno tak Canggung-canggung lagi bermesra-mesraan dengan tidur di pangkuan Allea.
“Emm.. ngapain kesana..?”
“Bawakan aku makan siang.”
“Tapi biasanya Mas Renno..”
“Mulai besok kamu yang harus bawakan aku makan siang dan menemaniku makan di kantor.” Potong Renno dengan tegas dan tanpa mau di ganggu gugat.
Sebenarnya Renno memiliki rencana Khusus dengan menyuruh Allea datang kekantornya setiap hari untuk menemaninya makan siang. Selain akan lebih dekat dengan Allea, Renno juga berfikir siapa tau saja dengan melihat Kedekatan dirinya dengan Allea Si Robby dan Tannia akan menyerah untuk memisahkan mereka.
“Memangnya Mas Renno mau dimasakain apa..?” Tanya Allea sambil tersenyum dan memberanikan diri membelai lembut rambut Renno.
“Terserah kamu saja, yang penting Enak.” Lalu tiba-tiba Renno terduduk di sebelah Allea, menatap Allea dengan tajam. “All… Jangan Terlalu dekat dengan Lelaki lain.” Kata Renno tiba-tiba dengan ekspresi seriusnya. “Aku… Aku nggak suka.” Lanjut Renno lagi.
Apa maksud dari perkataan lelaki ini..?? Allea masih terdiam karena tak mengerti dengan apa yang dimaksud Renno. Hanya pikiranya saja yang bertanya-tanya dalam hati.
Renno kini semakin mendekatkan diri kepada Allea, diusapnya pipi Allea, terpesona dengan kecantikan allea yang terlihat polos dan alami, hingga dirinya tak sadar jika bibirnya sudah menempel sempurna pada bibir Allea. Renno mulai mengulumnya, melumatnya tak memperhatikan eksprsi terkejut dari Allea. Ohhh sialan…!!! ini Nikmat.. bahkan lebih nikmat daripada ciumannya dulu kepada Nessa ataupun Tannia… mengingat nama itu.. bayangan akan Tanniapun keluar di benak Renno.

“Kak… sini deh..” Ajak Tannia sambil menyeret tangan Renno kedapur.
“Mau apa..?”
‘Cuuppp..’ Renno menegang ketika bibir mungil Tannia menempel pada pipinya.
“Aku sayang sama Kak Renno.” Kata Tannia kemudian, Renno belum bisa menjawab karena sibuk dengan debaran jantungnya. Akhirnya setelah sadar Renno langsung menarik tubuh Tannia dan menciumnya saat itu juga. Ciuman yang sangat Nikmat karena itu merupakan Ciuman Pertama Renno pada Cinta pertamanya.

Seketika itu juga Renno melepaskan Ciumannya terhadap Allea. Kenapa bayangan itu muncul kembali..?? Dan kenapa Tannia..? Kenapa bukan Nessa..?? Sialan..!!! Renno mengumpati dirinya sendiri dalam hati.
“Kenapa..?” Allea memandang Renno dengan tatapan tanda tanya.
“Enggak…” Jawab Renno singkat sambil sedikit salah tingkah. “Lebih baik kamu tidur, Ini sudah malam.” Lanjut Renno lagi. Dan Alleapun mengangguk sambil bergegas masuk kedalam kamar walau hatinya masih diliputi dengan beberapa pertanyaan. Kenapa Renno menciumnya..?? Kenapa Renno tiba-tiba menghentikan ciumannya..?? Kenapa Ekspresi Renno berubah jadi seperti itu..?? Apa yang dia sembunyikan..?? Pertanyaan-ertanyaan itu terngiang-ngiang di benak Allea.
Sedangkan Renno sendiri saat ini sedang diam membatu di Sofa depan Televisi. Apa yang terjadi dengannya..?? Kenapa dirinya ingat kembali masa-masa terlarang itu..?? Apa dirinya masih menyimpan sedikit perasaan terhadap Tannia..?? Tidak… Tannia hanya masalalunya. Masa depannya saat ini hanya Allea dan bayinya. Pikir Renno sambil mengacak-acak Rambutnya.
***
Siang ini merupakan salah satu siang Terburuk yang pernah Renno alami. Bagaimana tidak, harusnya Siang ini Renno Meeting bersama Robby untuk membahas tentang kinerja beberapa Karyawannya. Namun Ternyata Robby tidak masuk kerja hari ini karena sakit. Entah itu kenyataan atau hanya alasannya saja yang pasti hari ini Renno sangat kesal karena tidak masuknya Robby berarti Renno hanya akan Meeting berdua dengan Tannia yang sejak kemarin sudah menjadi Sekertaris pribadi Robby.
Siall…!!!
Tentu saja sangat Sial… berada dalam satu ruangan dengan orang yang pernah Dicintainya tentu saja sangat berat untuk Renno. Apalagi mengingat mereka putus hanya karena hubungan darah, bukan karena tak saling cinta lagi.
Sedangkan Tannia sendiri terlihat tak segan-segan untuk mendekati Renno, menggoda Renno hingga Renno kini benar-benar merasa cintaya Kepada Allea sedang di uji.
“Kak… bukankah seharusnya dia di keluarkan dari perusahaan ini..? Dia sangat tidak kompeten, dan hanya suka menyebarkan Gossip murahan.” Kata Tannia yang kini sangat dekat dengan Renno lalu memberikan sebuah Map berisi data diri seorang Karyawati yang tak lain Adalah Maya, Mantan pacar sekaligus mantan Sekertaris pribadi Renno.
“Kenapa harus dia yang dikeluarkan..?” tanya Renno sambil sedikit menjauh dari Tannia.
“Karena aku nggak suka, Dia terlihat sangat murahan.”
“Kamu belum tau kinerjanya, dia sudah lama Kerja disini.”
“Kak Renno kok membelanya sih..??”
“Aku nggak membela. Aku tau berdasarkan pengalamanku, dia pernah bekerja denganku.”
“Dan juga pernah menjadi teman kencanmu..? Iya kan..?” Tannia melanjutkan kalimat Renno.
“Kurasa itu bukan urusan Kamu, lagi pula kita di sini untuk membahas karyawan bukan masalah Pribadi.” Kata Renno dengan dingin.
“Kakk…” Rengek Tannia yang kini sudah bergelayut di lengan Renno.
“Lepaskan Tannia, Aku ingin kita sama-sama Profesional.” Kata Renno sambil melepaskan Rangkulan Tannia.
“Apa kamu juga bertindak profesional saat mengencani sekertaris pribadi kamu sendiri..?” Tanya Tannia dengan sedikit menyindir. Dan tentu saja Renno tak bisa menjawabnya karena dulu saat mengencani Maya, renno tak pernah bertindak profesional, bahkan Renno sering melakukannya di ruang kerjanya, apa itu Profesional..?? tentu saja tidak.
“Itu beda.”
“Apa yang membuat Beda..?”
“Dulu aku belum memiliki Allea, sekarang aku sudah memilikinya.”
“Tapi kamu juga memilikiku Kak..? Hati ini masih milikmu, Bertahun-tahun aku hidup menjauh, tapi aku tak pernah bisa melupakanmu, karena Hati ini memang sudah menjadi milikmu, Jiwaku bahkan sudah terbang bersamamu.” Kata Tannia yang sudah tak bisa membendung perasaannya kembali.
“Maafkan aku Tann… Tapi aku sudah berpaling darimu, bahkkan sebelum kedatangan Allea. Dan kini setelah datangnya Allea, Aku tak bisa berpaling lagi dengan wanita lain, Meski itu dengan kamu, Cinta pertamaku.” Kata Renno menjelaskan dengan tegas.
****
Sedikit tidak percaya diri karena ini hari pertama Allea memasuki Kantor besar Renno. Besar.. amat sangat besar.. Allea bahkan sempat ternganga saat memandang luarnya saja.
“Ada yang bisa saya bantu bu..?” Tanya seorang satpam yang berjaga di depan pintu Lobi.
“Emm… saya ingin bertemu dengan Pak Renno..” Kata Allea dengan lembut dan sopan.
“Pak Renno siapa yaa bu..? Disini Nama Renno banyak.”
Allea bingung mau menjawab Apa tapi kemudian Allea ingat jika Nama Shasha Adalah Nattasha Handoyo, mungkin itu nama keluarga sekaligus juga nama kepanjangan Renno “Emm.. Pak Renno Handoyo.” Kata Allea kemudian yang langsung dapat tatapan terkejut dan menyelidik dari Satpam tersebut.
Satpam itu langsung menatap Allea dari ujung Rambut sampai ujung kaki. Membuat Allea sedikit risih dengan tatapan Satpam tersebut. Untung saja saat ini dirinya mengenakan baju yang cukup rapi. Sebuah baju hamil dengan celananya lengkap dengan sendal Tanpa Hak-nya dan juga tak lupa Rantang makan siangnya yang sederhana. Tapi tetap saja, baju seperti itu sepertinya tak akan pantas untuk dikenakan saat menemui pimpinan tertinggi kantor tersebut.
“Ayoo bu.. ikut saya..” Kata Satpam tersebut.
Tapi bukannya mengantar keruangan Renno, satpam tersebut malah Mengantarnya kebagian informasi.
“Mbak.. ibu ini ingin bertemu dengan Pak Renno.” Kata Satpam tersebut pada seorang wanita yang berjaga pada bagian informasi.
“Pak Renno siapa ya..?” Tanya Wanita tersebut dengan sedikit ketus.
“Pak Renno Handoyo.” Dan setelah perkataan satpam tersebut Wanita itu langsung menatap Allea dengan tatapan mencemoohnya. Astaga… untuk apa wanita gembel seperti ini ingin menemui Big Boss..? tanya Wanita itu dalam hati.
“Embak ada perlu apa ya dengan Pak Renno..?” Tanya Wanita tersebut dengan ketus dan angkuhnya.
“Saya membawakan makan siang untuknya.” Kata Allea sambil memperlihatkan Rantang bawaannya.
“Maaf mbak, Pak Renno sibuk, nggak bisa di ganggu.” Kata Wanita tersebut masih dengan nada ketusnya.
“Emm.. Apa saya boleh menunggu..?”
“Terserah mbak aja.” Kata Wanita tersebut sambil duduk lalu membenarkan dandanannya.
“Lohh mbak, apa nggak sebaiknya mbak telepon Asisten atau sekertarisnya pak Renno, siapa tau penting.” Kata Satpam itu mengingatkan. Tapi wanita teersebut tak mengindahkan nasihat dari satpam tersebut.
“Alahh pak, itu kan cuma makan siang, lagian bisa jadi wanita itu hanya penggemar pak Renno. Lihat saja, penampilannnya saja nggak banget kayak gitu.” Jawab Wanita tersebut dengan nada mencibir sambil melihat Allea yang kini sudah duduk di ruang tunggu dengan santainya. Dan satpam tersebut hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bergegas pergi meninggalkan Wanita tersebut.
***
Renno berjalan mondar-mandir didalam Ruangannya sambil sesekali melihat pada Arlojinya, ini sudah hampir jam 3, tapi Allea masih juga belum datang. Renno memang sudah kelaparan, tapi yang dipikirkannya bukan soal makan siangnya, tapi Allea. Ada apa dengannya..?? Apa terjadi sesuatu dengannya..? Jangan-jangan dia tersesat..?? Atau lebih buruk lagi mengalami sebuah kecelakaan.. Ahh.. tidak.. Tidak mungkin.
Renno lalu bergegas menghubungi Chika, Sekertaris Pribadinya pengganti Maya.
“Iya Hallo pak..?” Kata suara di seberang.
“Chika, Apa ada tamu untuk saya..?”
“Sepertinya tidak Pak, Tidak ada bagian informasi yang menanyakan tentang keberadaan bapak.”
“Baiklah kalau begitu.” Kata Renno sambil bersiap untuk menutup teleponnya tapi entah kenapa pikirannya sedikit tak tenang. “Emm Chika, Tolong hubungi bagian informasi untuk saya, tolong tanyakan apakah tadi ada seseorang yang mencari saya..” lanjut Renno lagi sebelum menutup teleponnya.
“Ohh… baik Pak, saya akan menghubungi bagian informasi untuk bapak.”
“Terimakasih.” Dan Rennopun menutup teleponnya.
Rennopun duduk di atas kursi kebesarannya, menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya. Tadi setelah Renno sedikit berdebat dengan Tannia, Rennopun mengusir Tannia dengan sedikit kasar dari dalam Ruangannya. Renno tak tau harus bersikap seperti apa lagi dihadapan Tannia. Jujur saja, Saat ini Renno sangat ingin memperlakukan Tannia sebagai Adiknya, tapi tentu saja Tannia akan salah mengartikan itu. Tannia mungkin akan mengartikan jika Renno masih memiliki perasaan untuk Dirinya, Dan Renno tak bisa membiarkan itu terjadi.
Akhirnya Renno harus memilih jalan kedua, yaitu dengan memperlakukan Tannia sedingin dan sekasar yang ia bisa, supaya Tannia mengerti jika hubungan mereka sudah benar-benar berakhir.
Tiba-tiba Telepon diruangannya Berbunyi.
“Hallo..?”
“Pak ini saya Chika pak.”
“Ada apa Chika..?”
“Maaf sebelumnya pak, Tapi sepertinya memang ada yang menunggu bapak sejak lebih dari 2 Jam yang lalu, Seorang wanita hamil..”
“Apa..??” Teriak Renno tak percaya. “Sekarang Dimana Dia..?” Tanya Renno dengan sedikit Geram.
“Emm… Wanita itu masih menunggu di ruang tunggu di Lobi depan Ruang informasi Pak..”
“Sialan..!!!” Rennopun tak Segan-segan mengumpat dihadapan Karyawannya. Lalu menutu telepon dan berlari keluar dari dalam ruagan kerjanya.
Chikka sempat takut mendengar umpatan Renno yang terdengar sangat marah, dan tak lama Rennopun keluar dengan wajah Sangarnya sambil setengah berlari keluar, dan mau tak mau Chika pun mengikutinya dari belakang.
***
Capek dan Lelah, Itulah yang dirasakan Allea saat ini. Duduk Selama lebih dari 2 jam untuk menunggu Renno, belum lagi Rasa kantuknya yang amat sangat menyiksanya. Astaga… dirinya kini benar-benar sangat ingin Tidur.
Ruangan ini benar-benar sangat sejuk, bahkan lebih dari sekedar sejuk, Membuat Allea menguap beberapa kali dan juga Beberapa kali buang air kecil. Sejak beberapa minggu terakhir ini dirinya memang mengidap efek terakhir dari orang yang sedang hamil yaitu sering sakit pinggang dan juga sering buang air kecil. Apalagi di tempat yang dingin seperti ini membuatnya berkali-kali ingin masuk kedalam Toilet.
Untung saja ada pak Satpam tadi yang baik hati mau mengantarnya ke toilet. Bahkan satpam tersebutpun memberinya sebuah air mineral untuk diminumnya.
Astaga… Sampai kapan Renno sibuk..?? Apa dia tak beristirahat..?? Apa setiap hari selalu seperti ini..? Pasti dia sangat kelelahan. Pikir Allea kemudian.
Allea melamun dengan setengah mengantuk sehingga tak tau jika sudah ada seseorang yang berada di hadapanya.
“Hei..” Suara tersebut menyadarkan Allea dari tidur-tidur ayamnya.
Allea sedikit terkejut mendapati Renno yang sudah duduk berlutut di hadapannya dengan beberapa pegawai yang memandang mereka.
Rennopun menggenggam dan mengecup telapak tangan Allea, tak memperdulikan tatapan terkejut dari para bawahannya. “Maafkan Aku, aku nggak tau kalau kamu datang, kamu pasti sudah menunggu lama.”
Allea lalu tersenyum, “Enggak, hanya beberapa Jam saja. Mas Renno pasti kelaparan ya..”
Renno lalu menggeleng. “Aku nggak peduli dengan makan siangku, yang aku pedulikan hanya keadaan kamu.” Kata Renno kemudian sambil membuak Jasnya dan mengenakannya di pundak Allea. “Kamu pasti kedinginan disini.” Kata Renno lagi sambil memberdirikan Allea dan mmperbaiki letak Jasnya.
Allea hanya tertegun dengan perhatian Renno, Sangat manis. Seperti Drama-drama percintaan yang pernah ia tonton dulu saat masih di panti asuhan.
Renno Lalu mentap tajam para pegawai yang memperhatikannya sejak tadi. “Siapa yang menerimanya sebagai tamu..?” Tanya Renno dengan dingin.
“Sa.. Saya pak..” Kata seorang Satpam memberanikan diri.
“Kenapa Kamu tidak mengantarnya keruanganku..?”
“Saya sudah mengantar ibu ini ke Mbak Lisa, di bagian informasi, karena saya takut mengganggu jadwal bapak.” Jawab Satpam tersebut dengan takut-takut.
“Mana yang namanya Lisa bagian informasi..?” Renno masih saja tak menurunkan nada bicaranya yang terdengar Angkuh dan berkuasa tersebut.
“Sa.. Saya Pak..” Kali ini Lisa, wanita yang berjaga di ruang informasi tersebut yang langsung menghadap Renno dengan wajah takutnya.
“Kenapa kamu nggak menghubungi jika ada yang mencari saya.”
“Emm… saya pikir bapak tidak bisa di ganggu.”
“Bisa atau tidaknya saya diganggu apa itu urusan kamu..? Seharusnya kamu menghubungi saya, bukan malah menyuruhnya untuk menunggu saya. Apa kamu tau siapa dia..?” Omel Renno pada wanita tersebut.
“Tii.. tidak pak..”
“Dia istri saya, dan sedang mengandung anak saya.”
Dan wajah Lisa si wanita tersebut itupun langsung memucat. “Maa.. maafkan saya pak.. Maafkan saya bu…” kata Lisa dengan takut-takut.
Allea yang berada di belakang Renno merasa kasihan menatap wanita tersebut yang secara tidak langsung dipermalukan Renno dihadapan banyak orang. Allea lalu merangkul sebelah Lengan Renno. “Mas.. aku nggak apa-apa Kok.”
“Nggak apa-apa bagaimana.” Jawab Renno sambil menatap Allea. Lalu Rennopun menatap sekertarisnya dengan tajam. “Chika, Pecat dia.” Kata Renno dengan dingin sambil menarik tangan Allea meninggalkan tempat tersebut. Sedangkan Lisa, wanita itu langsung lemas, terduduk sambil menangisi nasib sialnya.
***
“Mas Renno nggak perlu nglakuin itu terhada Wanita tersebut.” Kata Allea yang kini sudah berbaring santai di atas Sofa panjang empuk milik Renno.
“Dia pantas mendapatkannya.” Jawab Renno cuek sambil menyantap makan siangnya.
“Bukankah itu namanya tidak profesional..?”
“Dia sudah membuatmu lelah karena lama menunggu, membuat bayi kita kedinginan dan juga membuatku kelaparan. Apa aku harus memperkerjakan orang seperti dia..? Dia tidak kompeten dan hanya memikirkan penampilannya saja. Jadi wajar jika aku memecatnya.”
“Tapikan Kasihan Mas..?”
“Jika kerja di kantor hanya mengandalkan Rasa Kasihan, maka aku akan memperkerjakan seluruh orang miskin di negri ini tanpa melihat kepandaian ataupun latar belakang pendidikannya.”
Dan Allepun hanya terdiam. Perkataan Renno memang benar, rasa kasihan saja tak cukup untuk menjadi modal bekerja di kantor sebesar ini.
“Apa kamu sudah mengaku kalah..?” Tanya Renno yang saat ini sudah duduk di sebelah Allea.
Allea lalu tersenyum. “Iya.. aku kalah, aku memang tak mengerti bagaimana syarat-syarat masuk kantor sebesar ini.”
“Aku juga masih belum mengerti cara memperlakukan orang dengan baik, Dan aku masih harus banyak belajar, Apa kamu mau mengajariku untuk menjadi orang yang lebih baik Lagi..??” Tanya Renno yang saat ini sudah menunduk menjajarkan Wajahya hingga sejajar dengan wajah Allea.
Alleapun gugup dengan tingkah Renno. Dan hanya menganggukan kepalanya. Renno yang melihat kegugupan Allea hanya tersenyum karena semakin gemas dengan ekspresi wajah Allea ditambah lagi semburan warna merah dipipi Allea membuat Renno tak bisa menahan diri lagi.
Di kecupnya bibir Allea berkali-kali, mulanya hanya kecupan-kecupan singkat. Namun lama-lama Berubah menjadi sebuah ciuman Panas penuh gairah.
Allea menikmatinya, Allea bahkan sudah meremas-remas kemeja rapi Renno tepat didada Renno. Keduanya sama-sama saling menikmati cumbuan masing-masing. Hingga cumbuan tersebut terhenti karena seorang telah membuka pintu ruangan Renno diikuti beberapa keramaian dibelakangnya.
“Kak Renno..” Kata Wanita yang kini berdiri di tengah-tengah pintu ruangan Renno dengan ternganga karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.

___TBC___

ehhmmm.. udah mendekati akhir nihh… Untuk next Chapter aku akan Post sekalian Ramma Story (My Everything) prolog dan chapter 1nya di blog ini, Mugkin teman2 di fbku udah tau karena memang udah ku Share di Fb Sebelumnya. dijamin akan lebih seru karena genrenya Roman Erotis (Yang dibawah umur jangan baca dulu yee.. hahha) dan terimakasih buat yang udah mau baca.. selamat menunggu chapter selanjutnya yaa.. jangan bosan2 aa TBC nya,,, hehhehehe

Me cover3 Untuk Cover My Everyting yaa,,, hayukkk ada yg mulai penasaran nggak nihh..???

Advertisements

4 thoughts on “Because It’s You (Novel Online) – Chapter 11

  1. heummm baguslah kalo renno mulai bisa tegas ama tannia emang harus begitukan
    kasian allea kalo harus merasa ada ganjalan lagi sebelum benar” menerima renno sebagai suaminya
    tannia benar” agresif dan terkesan murahan sekarang
    pokoknya ditunggu banget next chapternya ya

    buat cerita ramma dan wanita”nya ini nich yang lebih menantang
    siapa coba yang bakao jadi wanita terakhir buat ramma siplayboy sejati baik zoya maupun sasha sama” wanita baik dan punya kelebihan
    udah kepo duluan nich

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s