Novel Online · romantis

Because It’s You (Novel Online) – Chapter 3

allrenn3

Because It’s You

NB :  Aku permisi posting ini lagi ya… hehehehhe yg nunggu my wife mian… hehehehe ooiyaaa di chapter ini ada beberapa Scene Ramma loh…. dan maklumi aja kalo kelakuan Ramma Seperti itu yaa… Ramma Mahh gitu orangnya… heheheheh #Abaikan. author sempet sedikit Emosional saat ngetik Chapter ini,,, hembb… semoga nggak bikin bosen yaa….

 

 

 

Sedangkan Allea yang melihat lelaki tersebut Langsung menegang. Astaga… itu… itu.. lelaki waktu itu… Lelaki yang sama… yang saat ini berada di hadpannya dan memandangnya dengan tatapan yang sama, tatapan yang tajam seakan-akan bisa membunuh. Seketika itu juga Tubuh Allea gemetar, tangannya berusaha menutupi perutnya yang sedikit membuncit. Lelaki itu tak boleh tau jika dirinya sudah hamil anak lelaki tersebut…

Sedangkan Renno sendiri juga menegang saat mengetahui siapa wanita di hadapannya. Wanita sialan yang beberapa minggu ini mengganggu pikirannya… wanita yang… yang mungkin saja sedang mengandung anaknya… Sialan..!!! Siapa dia..?? berani dan Lancang sekali dia mengandung Keturunan Keluarga Handoyo..?

 

*** 

 

Chapter  3

Shasha merasakan tubuh kakaknya menegang saat ia peluk, ada apa..? fikirnya dalam hati. Lalu Shasha pun melepaskan pelukannya pada kakaknya itu. “Mas Renn kenapa..?” tanya Shasha sambil melepaskan pelukannya.

Sedangkan Renno masih ternganga melihat wanita yang berada di hadapannya dan  tak menghiraukan pertanyaan dari adiknya tersebut. Shashapun terlihat bingung melihat tingkah laku Renno dan Allea yang sudah saling pandang dengan tatapan anehnya masing-masing.

“Oooiyaa Mas.. kenalin, ini teman kerjaku Mbak Allea. dan Mbak, inilah Mas Renno kakakku yang pernah aku ceritakan.” Shasha mencoba mencairkan suasana hening dengan mengenalkan mereka berdua.

“Emm… Nat.. sebaiknya aku pulang dulu yaa.. ini sudah sangat malam.” Allea mencoba mengendalikan perasaannya yang tak menentu untuk berpamitan dengan Shasha, dia harus segera pergi dari hadapan lelaki itu. Sedangkan Renno sendiri masih diam membatu tak bereaksi.

“Lohh Mbak.. ayoo bareng sama aku aja..” Ajak Shasha.

“Nggak usah Nat.. aku jalan kaki aja..”

“Tapi Mbak, aku sama Mas Renno bisa kok antar mbak..”

Allea lalu tersenyum dan menggelang. “Aku pulang dulu Nat..” Allea lalu berbalik dan mulai melangkah pergi menjauh.

“Mas.. Ayoo ajak Mbak Allea pulang bareng kita..” Rengek Shasha pada Renno.

“Dia bisa pulang sendiri.” Jawab Renno dingin. Lalu Rennopun berbalik dan menuju mobilnya. Shashapun mengikuti dari belakang dengan bibir manyunnya.

“Kenapa.?” Tanya Renno memecah keheningan didalam Mobil.

“Mas Renn keterlaluan Banget tau nggak sih.. Aku malas ngomong sama Mas Renno.”

“Terserah kamu.” Jawab Renno Cuek.

“Mas.. Kalo Mas Renn nggak suka sama Mbak Allea setidaknya kita bisa antar dia pulang aja Mas.. bukan malah biarin dia pulang sendiri.”

“Itu bukan urusan kita.”

“Dia baik sama Shasha Mas… Dan dia sedang hamil dan berjalan kaki sendiri tengah malam pada malam minggu pula.. Dan aku berharap semoga…”

“Kenapa dia nggak minta di antar Suami atau pacarnya.” Renno memotong kalimat Shasha.

“Kalo dia punya suami atau pacar mungkin dia nggak akan capek-capek kerja di Cafe itu.”

“Sial…!!” Umpat Renno sambil membanting Setir kekiri dan menginjak rem secara mendadak hingga kepala Shasha sedikit membentur Dashbor mobil.

“Aww,,, Mas Renn apa’an Sih..” Kata Shasha sedikit kesal dengan tingkah Renno. Tapi bukannya minta maaf Renno malah mengeluarkan hpnya lalu menelepon seseorang.

“Sialan.. Cepat kesini sekarang juga..” kata Renno kepada seseorang yang di teleponnya.

*** 

Desahan demi desahan sangat terdengar jelas di seluruh  penjuru ruangan tersebut. Decapan demi decapan menghasilkan jejak-jejak merah basah pada dua sejoli yang sedang memadu kasih dengan mesrahnya…

“Sialan sayang.. Rasamu masih sama..” Bisik Ramma pada wanita yang berada di bawahnya dengan nada yang sensual dan suara yang serak.

Sedangkan Zoya, wanita tersebut hanya menikmati sentuhan demi sentuhan Ramma, lelaki yang 5 tahun lebih muda dari pada dirinya, lelaki yang selama 4 tahun ini dipacarinya, dan mungkin saja lelaki yang sudah membuatnya mengenal cinta…

Shiit.. Babbe.. aku akan sampai..” kata Ramma sedikit mengerang. Dan tiba-tiba…

‘Tit.. tit.. tit… tit.. tit… tit…. tit.. tit…’ Smarthphone Ramma yang berada di meja sebelah ranjangpun berbunyi.. Rammapun tak menghiraukannya, dia pastinya lebih suka melakukan olahraga malamnya daripada harus mengangkat telepon yang belum tentu penting.

Tapi telepon itu berbunyi lagi. Ramma masih saja tak menghiraukannya. Dan.. bunyi lagi.. “Egghhh… Sayang, Sebaiknya kamu angkat, siapa tau.. Egghh… itu penting..” Dan Akhirnya Zoyapun angkat bicara dengan susah payah diantara desahannya.

“Sialan..!! Aku akan mengangkatnya sebentar..” kata Ramma lengkap dengan umpatan-umpatan Khasnya. Rammapun menarik diri dan berjalan menuju meja tanpa memperdulikan tubuhnya yang Full Naked.

“Sialan.. Cepat kesini sekarang juga..” Kata Suara di sebrang yang di yakini Ramma adalah Renno.

“Brengsek Lo… Gue nggak bisa.”

“Emangnya Lo lagi ngapain..?”

“Sialan..!!! Lo pikir Gue biksu yang menghabiskan malam minggu tanpa bercinta…?? Brengsek..” umpat Rama dengan kesal.

“Gue nggak peduli, jemput Shasha sekarang juga di jembatan pertama dekat Cafe tempat kerjanya.”

“Tunggu dulu… Lo tinggalin Shasha di sana..?” Tanya Ramma sedikit tak percaya.

“Iyaa.. Gue tinggalin dia disini sendiri, jadi cepat kesini atau Gue bunuh Lo kalo sampek terjadi sesuatu sama adek Gue.”

“Brengsek Lo… Gue Nggak…”

‘Tut.. tut… tutt…’ Ramma belum selesai melanjutkan kata-katanya tapi Renno sudah menutup teleponnya. “Brengsek si Renno..” lagi-lagi Ramma mengumpat. Tapi bukannnya bersiap-siap, Ramma malah melompat kembali keatas ranjang dan mulai mencumbui Zoya kembali.

“Siapa sayang..?” Tanya Zoya disela-sela desahannya.

“Renno sialan.” Jawab Ramma masih dengan mencumbui leher Zoya..

Dan ketika dia akan memasukkan dirinya kembali entah kenapa bayangan wajah Shasha muncul di dalam benaknya.. Shasha dengan raut wajah yang manja, polos namun tatapannya sendu seperti saat itu…

“Shiiitt…!!!!” Ramma tak henti-hentinya mengumpat bahkan menyumpahi Renno.. “Babbe.. Aku tinggal sebentar yaa… aku akan kembali dalam waktu 30 menit.. ingat jangan tidur dulu..” kata Ramma kepada Zoya sambil menciumi bibir Zoya..

Lalu Rammapun melompat turun dan mengenakan pakaiannya kembali, tak menghiraukan Zoya yang masih terbaring Naked dengan tatapan Curiganya.

“Apa karena gadis itu lagi..??” Tanya Zoya sambi duduk yang kemudian sukses membuat Ramma Diam membatu tak melanjutkan aktifitasnya..

“Ramm…”

“Sayang.. Please… Jangan mulai lagi..” kata Ramma kemudian.

“Ramm.. aku nggak apa-apa jika kamu bercinta atau apalah dengan wanita lain, tapi aku nggak suka dengan gadis itu Ramm..” Dan Zoyapun mulai terisak.

“Sial…!!” umpat Ramma sambi melompat kembali ke ranjang dan memeluk Zoya. “Sayang… dia sudah seperti adikku sendiri, hanya kamu.. kamu yang ada di sini..” kata Ramma kali ini sambil membawa tangan Zoya ke dadanya. “Oke. Sepertinya aku udah terlalu lama… aku akan pergi dulu, aku janji nggak akan lama..” Lanjut Ramma lagi sambil mengecup bibir Zoya.

Akhirnya Rammapun pergi dengan mengendarai mobilnya dan mengebut sepeti orang kesetanan. 10 menit kemudian sampailah dia di jembatan seperti yang di bilang Renno. Renno Sialan, bisa-bisanya dia meninggalkan Adiknya di sini sendirian. Gerutunya dalam hati.

Dilihatnya Shasha yang saat itu mengenakan Rok levis pendek dengan sepatu Catsnya.. dan jaket yang melekat di tubuh mungilnya. Dia terlihat mungil dan imut seperti gadis remaja padahal saat ini usianya sudah 22 tahun dan hampir meraih gelar S1 nya.

Ramma memarkirkan mobilnya tepat di hadapan Shasha. Shasha melihat dengan tatapan terkejutnya. Ramma membuka kaca pada pintu kemudinya,.

“Mas Ramma..?!” kata Shasha heran.

“Masuk.” Ucap Ramma dingin.

Dan tanpa banyak omong lagi Shashapun masuk kedalam mobil Ramma. Astaga.. Gadis ini masih sama seperti dulu, penurut dan polos, apa sifat manjanya masih ada…?? ahh kenapa aku memikirkan  hal itu..?? pikir Ramma dalam hati.

Tapi bagi Ramma Shasha sedikit lebih pendiam, tak seceria dulu jika terhdapnya.. apa karena kejadian saat itu..?? Apa Shasha masih membencinya..?? haruskah ia meminta maaf kepada Shasha..?? tapi bagaimana Caranya.?? Kejadian itu Sudah terjadi sejak lima tahun yang lalu.. Arrgghh.. sial… kenapa dia jadi memikirkan gadis yang baginya masih di bawah umur ini..?? Ramma tak henti-hentinya menggerutu dalam hati. Akhirnya dijalankannya mobilnya tanpa sedikitpun mengucapkan sepatah katapun…

*** 

Sialan…!!! apa yang terjadi denganku..? bisa-bisanya aku meninggalkan adik kesayanganku sedirian tengah malam hanya demi mengejar wanita sialan itu…?? dan Ramma.. bisa-bisanya aku mempercayakan Shasha kepada makhluk seperti Ramma.. Arrgghh….. Renno tak henti-hentinya menggerutu dalam hati sambil mengemudikan mobilnya.

Tatapannya fokus kedepan, siapa tau wanita itu berada masih berada di jalanan. Dan benar saja, tak lama akhirnya terlihat wanita yang sedang berjalan di atas trotoar. Mengenakan jaket yang dirapatkan di tubuhnya. Apa dia kedinginan..?? Arrgghhh,, persetan, itu bukan urusanku. Pikir Renno kemudian.

Rennopun menghentikan mobilnya, dia keluar dan berlari mengejar wanita tersebut. Diraihnya tangan wanita tersebut hingga membuatnya sedikit terkejut.

Dingin… telapak tangan itu terasa dingin… dan rapuh..

“Ayoo ikut aku..” kata Renno sambil menarik tangan Allea.

Alleapun hanya menurut, sejujurnya dia sedikit terkejut dengan perlakuan Renno terhadanya. Allea akhirnya duduk di kursi penumpang sebelah Renno.

“Saya harus pulang..” kata Allea.

Suara itu terdengar merdu dan lembut di telinga Renno. Dan entah kenapa untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun belakangan ini hatinya menjadi hangat dan tenang.. wanita ini mirip dengan Nessa, mengingatkan akan kelembutan dan kepolosan Nessa..  Nessa istri sahabatnya yang saat ini mungkin saja masih ia cintai dalam diam.. Aggrhh…. kenapa dirinya jadi memikirkan Nessa kembali..??

“Aku akan mengantarmu..” Renno tak bisa menghilangkan nada dinginnya dari setiap perkataan yang dia ucapkan. Dia sudah seperti Dhanni saat berhadapan dengan Nessa dulu, dan juga seperti Ramma saat menghadapi Shasha… Astaga… ada apa dengan mereka bertiga..???

Allea hanya mengangguk dan diam. Sunyi.. di dalam mobil terasa sangat sunyi karena tak ada satu orangpun yang mau memulai pembicaraan. Sesekali Renno melirik kearah Allea, Wanita ini mungkin memang sedang hamil, terlihat jelas dari perutnya yang buncit walau sejak tadi tangan wanita itu tak berhenti menutupinya.

“Apa itu anakku..?” pertanyaan Renno Sontak membuat Allea terkejut.

“Emm…”

“Anakku atau bukan..?” kali ini Renno bertanya dingin dan penuh dengan penekanan. Nada yang sama saat Renno mengetakan kata-kata menyakitkan pagi itu.

“Iya..” kata Allea sambil mengangguk.

Renno menghela nafasnya panjang. “Sial..!!” umpatnya sambil memukul kemudi. Setelah itu mereka sama-sama terdiam kembali, cukup lama hingga Renno mulai berbicara lagi.

“Aku akan bertanggung jawab, Aku akan menemanimu menggugurkan ‘itu’..” kata Renno dengan dingin tanpa sedikitpun menoleh kearah Allea.

“itu..??” Allea terlihat tak percaya dengan apa yang dikatakan Renno. Bisa-bisanya Renno dengan mudah bicara tentang meggugurkan kandungannya. Dan dia menyebut bayinya dengan sebutan ‘itu’ seakan-akan dia tak berarti sama sekali.

Allea semakin mengeratkan pelukannya kepada perutnya. Tidak.. dia tak ingin kehilangan bayi ini… air matanyapun mulai menetes.

“Saya.. Saya ingin membesarkannya.” Dan setelah kata-kata itu Renno menghentikan mobilnya dengan mendadak. Untung saja Allea mengenakan Safety Belt hingga Allea tak terbentur Dashbor mobil.

“Apa kamu gila..? enggak aku nggak mau Kamu mengandung darah dagingku.” Teriak Renno kepada Allea, emosinya seakan-akan sudah memuncak. Darahnya bagaikan air yantg sudah mendidih.

“Saya mohon.. saya janji nggak akan..”

“Nggak… Saat ini kamu memang akan janji nggak akan minta pertanggung jawaban dariku, tapi kita tak akan tau beberapa tahun kemudian. Kita akan tetap menggugurkan ‘itu’..” kata Renno telak.

Dan Alleapun hanya bisa menangis. Astaga.. kenapa jadi seperti ini..? jika tau akan begini Allea tak akan mau bertemu kembali dengan Lelaki dingin ini..

— 

Renno mengantar Allea tepat di depan rumah kontrakan Allea, Rumah Allea memang di dalam gang tapi gang yang cukup besar hingga bisa di lewati Mobil. Renno melihat Rumah itu, Rumah yang sangat sederhana, Sesulit inikah hidup wanita ini..?? pikirnya kemudian.

“Saya permisi..” kata Allea sambil membuka pintu mobil Renno dan turun.

Renno melihat Allea dengan tatapan tak terbacanya. Wanita itu terlihat Rapuh dimatanya. Sedikit terbesit rasa kasihan terhadapnya, tapi Renno langsung menepis semua perasaan itu. Tidak, semua wanita sama saja, aku tak boleh lemah, Pikirnya kemudian. Tanpa menunggu lagi Renno langsung menancap Gas pada mobilnya, dia harus segera pergi dari hadapan wanita itu, karena entah kenapa dia merasa sesak saat berada di dekat wanita itu.

*** 

“Lo Gila..?” Teriak Ramma pada Renno siang itu.

“Gue pikir ini urusan Gue, jadi Lo cukup kasih tau dimana tempatnya.” Jawab Renno dengan nada acuh tak acuh.

Saat ini Renno meminta Ramma untuk memberi tau tentang klinik Aborsi tmpat Ramma dan Zoya pernah menggugurkan anak mereka.

“Sialan Lo Renn, Gue tau Lo nggak Seberengsek Gue, Lo nggak akan ngelakuin itu.” Tegas Ramma.

Renno mendekat pada Ramma. “Lo pikir Cuma Lo yang boleh nggugurin anak lo sendiri..?”

“Brengseek Lo..!! Lo pikir Gue mau nglakuin itu..?” Kali ini Ramma mulai terpancing emosinya. “Renn.. Gue emang nggak bisa ngurus Bayi dan Gue nggak pernah berpikir untuk ngurus bayi, tapi sumpah demi apapun juga Gue Nyesel seumur hidup gue Karena Gue ngebiarin Zoya nggugurin mereka.” Jelas Ramma lagi.

“Mereka..?”  tanya Renno tak percaya.

“ Dua kali Gue lakuin itu.” Jawab Ramma lirih.

“Sialan Lo.” Umpat Renno.

“Jadi Gue harap Lo berfikir dulu sebelum bertindak. Jangan Gegabah Renn.. Gue nggak mau Lo nyesel dan merasa bersalah seumur hidup Lo dengan wanita itu.” Nasehat Ramma.

“Gue sudah berfikir, Dan keputusan Gue tetap sama, Gue akan gugurin ‘itu’.. jadi cepat kasih tau dimana tempatnya..”

“Brengsek Lo..” umpat Ramma kemudian.

**** 

Allea masih saja belum berhenti menangis sambil mengelus perutnya. Astaga.. haruskah dirinya kehilangan bayinya.? Haruskah ia pergi dari sini menjauh dari lelaki itu..? tapi  pergi kemana, dia tak punya apa-apa dan tak punya siapa-siapa lagi..

Tiba-tiba dia mendengar suara pintu diketuk. Itu pasti Renno, Lelaki yang akan merenggut kehidupan bayinya. Dibukanya pintu itu. Dan benar saja, Renno sudah berdiri dengan tampan dan gagah di tegah pintu.

“Sudah siap..?” tanyanya dingin.

Dan Alleapun hanya mengangguk. Yah.. mau tak mau dia memang harus siap. Dia mengang tak punya hak untuk mengandung bayi lelaki ini, dia merasa tak pantas…

Akhirnya merekapun melaju menuju ke Klinik aborsi langganan Zoya. Didalam mobil keduanya sama-sama diam. Lagi-lagi sesekali Renno melirik kearah Allea. Allea terlihat sama sekali tak ingin melihat wajahnya, Allea lebih memilih melihat pemandangan di luar jendela sambil mengelus-elus perutnya. Astaga… apa yang di lakukannya ini benar..??? Renno bertanya-tanya dalam hati.

30 menit kemudian sampailah mereka di Klinik Aborsi tersebut. Tempatnya lumayan besar dan pastinya bersih seperti klinik-klinik bersalin pada umumnya karena sebenarnya klinik ini adalah klinik bersalin biasa, hanya saja beberapa teman dokter kandungan disini menyalahgunakan tempat ini sebegai praktek Aborsi secara sembunyi-sembunyi karena Aborsi di negri ini masih ilegal.

Renno dan Allea akhirnya keluar, Allea sedikit gemetar saat memasuki klinik tersebut. “Saya ada janji dengan Dokter Nadia, Saya Renno teman Zoya.” Kata Renno pada seorang perawat yang berjaga di ruang informasi.

“Ohh.. pak Renno, mari silahkan.” Kata suster itu mempersilahkan Renno masuk kedalam suatu ruangan.

Didalam Ruangan tersebut sudah ada seorang Dokter cantik yang diyakini Renno sebagai Dokter Nadia. “Hei.. mari silahkan masuk.” Sapa Dokter Nadia dengan ramah. “Jadi.. kalian ingin…”

Dan Renno hanya mengangguk sedangkan Allea haanya diam menunduk.

“Kenapa kalian melakukan itu, emm.. maksud saya usia kalian sudah cukup pantas memiliki bayi, Kalian bukan anak SMA atau sejenisnya.” Dokter Nadia menanyakan alasannya.

“Saya pikir ini hanya urusan pribadi saya Dokter..” jawab Renno dengan menyunggingkan Senyumannya.

“Dan saya pikir saya harus tau alasan kenapa saya harus membunuh sebuah nyawa yang tak berdosa.” Lanjut Dokter Nadia.

“Kami tak saling Cinta, Tak saling kenal, dan semua ini hanya sebuah kesalahan. Apa anda puas…?” Jawab renno dengan nada penuh penekanan.

Dokter Nadia tersenyum. “Ya… saya cukup puas,tapi sebelum saya melakukan tugas saya, izinkan saya memperlihatkan seperti apa dia di dalam sana..”

“Terserah Dokter.” Renno menjawabnya dengaan cuek.

Akhirnya mereka saat ini berada didalam Ruang USG. Allea tak berhenti menangis bahkan sampai sesenggukan saat melihat bayi yang ada di dalam perutnya dari layar Monitor. Detak jantung bayi itupun menggema di dalam Ruangan tersebut. Renno yang melihatnya hanya Ternganga tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tanpa sadar dia sudah menggenggam telapak tangan Allea.

“Dia sangat sehat, dan mungkin akan menjadi byi yang lucu, Apa kalian benar-benar yakin akan melakukan ini..?” tanya Dokter Nadia lagi. Dan Renno hanya diam membatu. Tak ada kata-kata tegas lagi seperti tadi.  “Baiklah, jika ini memang keputusan Akhir kalian.” Lanjut Dokter Nadia sambil meninggalkan Allea yang masih menangis dan Renno yang diam membatu. “Suster.. bantu saya menyiapkan ruangan seperti biasa.” Pinta Dokter Nadia kepada seorang suster.

Allea kini sudah berada dalam suatu ruangan yang sudah mirip dengan ruang operasi dan sudah ada infus yang berada di punggung tangan kananya dan beberapa kabel yang menghubungkannya dengan monitor yanga berada di meja sebelahnya. dia masih saja menangis.. memohon dan merengek kepada Renno yang saat ini masih berada di sebelahnya dan menggenggam tangannya. Renno terlihat Linglung. Dia diam membatu, bungkam seribu bahasa sejak di ruangan USG tadi.

“Mas.. saya mohon.. lepaskan saya.. saya janjia akan pergi dari sini, saya nggak akan muncul dihadapan Mas Renno lagi…” Allea masih saja merengek pada Renno sedangkan Renno masih diam membatu pandangannya masih terarah pada perut Allea, dia menatapnya dengan tatapan kosongnya.

“Pak.. lebih baik pak Renno tunggu di luar..” Seorang suster menyuruh Renno keluar ruangan operasi tersebut. Renno yang linglung hanya menurutinya, tak menghiraukan Allea yang mulai berteriak histeris kearahnya.

“Mas… jangan lakukan ini… aku mohon.. Mass…..” teriakan Allea samar-samar terdengar di telinganya.

Akhirnya Rennopun terduduk lemas di kursi tunggu. Entah kenapa perasaannya jadi kacau balau seerti ini..? apa Dulu Ramma juga merasakan seperti ini..??

*** 

“Papa jahat… kenapa papa lakuin ini sama aku…” kata Anak Lelaki yng mengaku bernama Reynald yang pernah ditemui Renno dalam mimpinya.

“Aku nggak nglakuin apa-apa..” kata Renno kemudian.

“Papa udah bunuh aku..” kata Anak lelaki itu sambil menangis. Lalu Renno menatap kedua tangannya dan benar saja, tangan kedua tangannya penuh dengan darah.

“Kenapa Kak Renno nglakuin hal ini..? Aku nggak nyangka Kak Renno akan sejahat ini.. Aku benci Kak Renno, aku nggak mau ketemu sama Kak Renno lagi..” Renno menoleh pada pemilik suara itu, dan itu adalah Nessa, yang sudah dianggapnya sebagai belahan jiwanya selama ini.

“Tidak Ness.. jangan lakuin itu..”

“Kak Renno jahat..”

“Enggak Ness…”

“Semua ini karena Mas Renno..” kata seorang gadis yang berada di belakang Nessa. Dia Shasha, adik kesayangannya yang entah kenapa saat ini perutnnya membesar seperti sedang hamil.

“Shasha sayang.. kamu kenapa..??” tanya Renno dengan Raut khawatir.

“Aku terkena Karma karena kelakuan Mas Renno… Aku hamil dan tak ada yang mau bertanggung jawab.. Aku ingin mati saja Mas…” Kata Shasha sambil bersiap-siap mengiris nadinya dengan sebuah pisau tajam.

“Tidak Sha.. Tidak.. jangan lakukan itu… Mas Renn sayang sama kamu…” wajah Rennopun mulai memucat. Tapi Shasha tetap mengiris Nadinya membuat Renno berteriak.

“Semua ini hukuman untukmu Mas..” suara itu membuat Renno menoleh. Dia Allea… “Kamu sudah membunuh bayi kita… Dan aku bersumpah kalau kamu nggak akan pernah bahagia dengan semua orang yang kamu sayangi..”

Renno menggelengkan kepalanya. “Jangan.. jangan bicara seperti itu..”

“Kamu nggak akan bisa memiliki bayi lagi..”

“Enggak..”

“Kamu nggak akan pernah menemukan wanita lain selain aku..”

“Enggak…”

“Kamu nggak akan pernah lupain aku…”

“Tidak..”

“Dan aku.. aku tak akan pernah mau menemuimu lagi.. semuanya akan membuatmu gila.. kamu akan gila hanya karena menginginkanku Mas… Kamu akan menyesal seumur hidupmu…”

“Tidak… tidak…”

 

“TIDAAAKKK….” Renno berteriak sekencang-kencangnya ketika kesadaran mulai menghampirinya. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Matanya merah seperti orang yang selesai menangis. Mimpi itu terasa begitu nyata… Mimpi..?? astaga.. jadi semua itu hanya mimpi..??

Renno sadar jika dirinya masih berada di bangku ruang tunggu depan ruang operasi. “Operasi..??? astaga.. Allea…” gumamnya saat sepenuhnya sadar.

Renno berlari kearah pintu ruang Operasi. Dia mulai menggedor dan berteriak seperti orang kesetanan.

“Buka… buka pintunya… Cepat buka pintunya Sialan..!!!” Teriak Renno masih sambil menggedor-nggedor pintu Ruang Operasi tersebut.

“Sialan..!!! buka pintunya..” Renno berteriak lagi.

Akhirnya pintupun  dibuka dari dalam. “Maaf pak.. bapak tidak boleh..”

“Persetan dengan semuanya..” kata Renno memotong kalimat Suster yang membuka pintu tersebut. Lalu tanpa permisi Rennopun masuk kedalam ruang Operasi tersebut. Dia mendapati Allea yang sudah dibius dan setengah sadar. Sedangkan Dokter dan suster yang berada didalam ruangan tersebut terlihat terkejut dengan kedatangan Renno.

“Lepaskan semuanya.. batalkan semuanya..” Teriak Renno kepada Dokter Nadia yang akan melakukan Operasi tersebut. Rennopun Akhirnya berlari menghampiri Allea. Tanpa disangka-sangka Renno langsung memeluk Allea dengan sangat erat.. “Maafkan aku… Maafkan aku….” kata Renno kemudian sambil meneteskan Airmata. Allea yang masih setengah sadar sedikit mendengarnya, dia pun sedikit menyunggingkan senyumannya.

___TBC___

Previous Chapter  –  Next Chapter

Ps. Oiiyaa setelah ini aku mau ijin untuk gak nge post BIY dulu ya… soalnya udah banyak temen2 yang nunggu my wife.. hehheheh see you Next time….

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Because It’s You (Novel Online) – Chapter 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s