Novel Online · romantis

The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 18(End)

dhanness2

The Lady Killer

NB : yeeee.. akhirnya End juga nihh coretan yang gak jelas… hehheeh meskipun Endnya nggak seperti yang di bayangkan dan nggak se sweet yang di inginkan tapi aku tetep berterimakasih sekali karena sudah mau membaca coretan gk jelas ini dari awal hingga akhir… terimakasih untuk semua yang sudah membaca komen ataupun ngasih dukungan yaa…. tanpa kalian saia buan apa-apa… cie.. cie… #Lebbay #abaikan.

 

Chapter  18

Happy Ending – mungkin..

 

Saat aku berusaha menenangkan pikiranku, aku mendengar kaca mobilku diketuk seseorang, dia Dewi. Aku lalu membuka pintu mobil dan langsung memeluknya masih dengan menangis, aku butuh sebuah pelukan.

“Nes, kamu kenapa? Apa yang terjadi?”

Aku menggeleng. “Aku nggak tahu, Wi. Kenapa,… kenapa Kak Dhanni ke sini? Aku takut kalau ada apa-apa sama dia.”

“Udah, udah, jangan dipikirin dulu. Mendingan kita masuk dulu, kita cari tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Dewi menenangkan aku.

Aku pun hanya mengangguk. Lalu kami pun masuk, bertanya pada seorang suster yang berjaga di depan tentang pasangan yang beru saja masuk. Lalu suster itupun menunjukkan arah jalannya. Kami pun mengikuti arah yang ditunjuk suster tersebut.

Kami melewati lorong yang lumayan panjang. Aku cukup lega ketika melihat papan informasi di ujung lorong, ternyata itu bukan Lorong buat orang sakit keras seperti kanker dan lain-lain seperti yang kupikirkan tadi. Tapi aku juga sedikit heran karena ini lorong untuk spesialis kandungan. Dan pertanyaan selanjutnya adalah untuk apa Kak Dhanni dan Farah ke spesialis kandungan?

Rasa mual langsung menghampiriku saat beberapa pikiran aneh mampir di otakku. Mungkinkah Farah hamil? Dan mereka ke sini untuk memeriksakan kandungan Farah? Dan lebih parahnya lagi mungkinkah anak itu adalah anak Kak Dhanni?

Hampir saja aku terjatuh lemas jika Dewi tak membantuku. Yah, badanku memang masih lemah, dehidrasi yang berkepanjangan disertai demam ditambah lagi efek mual muntah dari hamil membuatku tak memiliki tenaga. Aku stres memikirkan semua ini.

“Nes, kamu nggak apa-apa kan? Kita pulang aja yuk.” Dewi terlihat sangat khawatir.

“Enggak, Wii. Kita belum tahu apa yang terjadi.” Aku masih tak mau mengalah.

“Tapi, kamu….”

“Lebih baik kita sembunyi, mungkin aja Kak Dhanni sudah mau keluar dari ruangan itu.”

Akhirnya kami pun bersembunyi. Sekitar 15 menit kemudian Kak Dhanni dan Farah Keluar dari ruangan yang bertuliskan Dokter Tony SpOg. Dan mereka tentunya keluar dengan raut bahagianya. Bagaimana jika apa yang ada di dalam otakku tadi benar-benar menjadi kenyataan jika Kak Dhanni akan mempunyai anak dari wanita lain?

“Sekarang apa yang akan kita lakukan, Nes?” tanya Dewi kemudian.

“Aku akan masuk.”

“Tapi, Nes,”

“Aku juga akan memeriksakan kandunganku, dan akan sedikit bertanya pada dokter tersebut.”

“Kamu sudah gila ya, dokter itu nggak akan mungkin ngasih tahu keadaan pasiennya ke orang lain.”

“Setidaknya aku mencoba Wii,” kataku lirih.

Dewi hanya bisa mengangguk. “Ok. Aku temani kamu,” katanya kemudian.

Akhirnya kami pun masuk. Kukira yang namanya Dokter Tony itu gendut dan botak lengkap dengan perut buncitnya, tapi ternyata aku salah besar, dia gagah, tampan dan masih muda, mungkin seumuran Kak Dhanni. Dan astaga, kenapa aku jadi gugup seperti ini? Kalau gitu aku nggak akan mau periksa kandungan kepada dokter segagah ini. Malu pastinya, siapa yang nggak malu ketika diperiksa seorang yang tampan setampan Dokter Tony. Bahkan dia tak segan-segan merabakan tangannya ke perutku, bahkan Kak Dhanni yang suamiku saja belum pernah meraba perutku seperti ini.

Meraba? Helloo, Nes, dia sedang memeriksamu, bukan meraba-raba. Aku juga tiba-tiba sangat jengkel dengan Dewi yang sejak tadi menyikut-nyikut aku. Aku tahu sebenarnya dia juga ingin kenal sama Dokter Tony, dasar genit.

Dan astaga, aku benar-benar hampir lupa, tujuanku ke sini kan mencari tahu hubungan antara Kak Dhanni dan si wanita ular itu, tapi sekarang aku kok malah keganjenan sama dokter muda di hadapanku saat ini? Siall..!

“Ibu Nesa kebanyakan pikiran dan stres. Keadaan Ibu sangat buruk, seharusnya Ibu minta ditemani suami Ibu. Bahkan saya ingin ibu di-opname di sini selama beberapa hari,” kata Dokter Tony dengan raut khawatir.

“Saya nggak apa-apa, Dok, saya masih kuat,” jawabku kemudian. Tapi Dokter Tony masih saja menatapku dengan tatapan anehnya, seperti tatapan yang sangat khawatir, Dan juga aku melihat sepertinya dokter Tony ingin melakukan sesuatu tapi ragi-ragu.

“Dokk, saya boleh tanya sesuatu nggak?” Dan akhirnya setelah selesai pemeriksaan, aku akan mulai menginterogasi dokter ini. Dia lalu menatapku dengan tatapan lembut.

“Iya, silahkan Bu Nesa, ada yang bisa saya bantu?”

“Emm, laki-laki dan perempuan yang kemari tadi sedang ngapain ya, Dok?”

“Yang mana ya, Bu? Kebetulan pasien saya semua perempuan dan membawa suaminya, Bu.”

“Yang tadi, Dok, yang tinggi-tinggi ganteng, yang baru saja keluar terus saya masuk,” kataku mencoba menjelaskan.

“Oohh Ibu Farah sama Pak Dhanni?” Aku mengangguk antusias. “Tentu saja sedang memeriksakan kandungannya Bu Farah. Dan Pak Dhanni sendiri yang menemani istrinya yang sedang hamil itu.”

“Apa?” teriakku dan Dewi bersamaan. Aku yakin saat ini tubuhku sedang terbakar karena aku baru saja merasakan Petir menyambar tubuhku. Tidak, ini tidak mungkin. Mengapa si Farah mengaku sebagai istri Kak Dhanni? Mengapa Kak Dhanni mau menemaninya memeriksakan kandungannya? Dan apakah mungkin mereka sudah benar-benar menjadi suami istri di belakangku dengan kata lain Kak Dhanni menduakanku tanpa sepengetahuanku? Enggak, ini nggak mungkin. Kak Dhanni nggak akan sejahat itu terhadapku.

Dengan linglung aku berdiri dari kursi tempat dudukku tadi. Air mataku tak ada henti-hentinya menetes dengan sendirinya tanpa kusadari, pikiranku kosong saat menerima kenyataan tadi, sekilas aku melihat Dokter Tony dan Dewi sedikit panik dan khawatir terhadapku, mereka seperti sedang mengatakan sesuatu, tapi aku tak bisa mendengarnya, aku tak bisa mencernanya, pikiranku terlalu kosong, perasaanku terlalu sakit menghadapi kenyataan ini.

Hingga aku merasakan sakit, sakit yang amat sangat di bagian perutku. Seperti ada ribuan jarum-jarum kecil yang menancap di sana, aku meringis kesakitan sambil meremas perutku. Aku sudah kehilangan Kak Renno Dan Kak Dhanni apakah aku harus kehilangan dia juga? Tidak, Tuhan. Aku mohon jangan ambil dia dariku, jangan hukum aku seperti ini.

“Astaga.. Nesa.. Nesa…” Suara panik Dewi Sedikit membuatku tetap sadar.

“Nes, kamu bertahan ya.” Itu suara Dokter Tony, tapi kenapa dia tidak mengucapkan kata-kata formal seperti tadi? Dia terlihat tak kalah paniknya dari Dewi. “Sialan, Lo. Cepat balik. Istri lo gawat.” Samar-samar aku mendengar Dokter Tony berbicara di telepon dengan seseorang. Siapa? Apa Kak Dhanni? Apa mereka saling kenal sebelumnya? Dan aku tak bisa berpikir apa-apa lagi ketika kesadaranku sedikit demi sedikit menghilang…

***

“Maafin aku… maafin aku..”

Hanya kata-kata itu yang terdengar di telingaku. Seperti suara Kak Dhanni, tapi lebih serak, dan terdegar lebih lirih. Aku merasakan tanganku di genggam erat oleh seseorang, Kak Dhanni kah itu? Aku pun mulai mengumpulkan kesadaranku. Membuka mataku dengan perlahan.

Yang pertama kali kulihat adalah ruangan yang serba putih. Dimanakah ini? Apakah aku sudah di surga? Tidak, aku tak boleh mati terlebih dahulu. Aku masih harus berjuang demi bayiku. Bayi? Aku bahkan tidak tahu apakah dia masih bersamaku atau juga pergi meninggalkanku. Mengingat hal itu tangisku langsung pecah, aku terisak-isak hingga membangunkan orang yang tidur di sebelahku sambil menggenggam tanganku. Kak Dhanni.

“Sayang, Sayang, kamu sudah sadar,” katanya kemudian.

Aku melihat dia sangat berantakan, bajunya kusut, rambutnya acak-acakan, matanya bahkan sembab seperti orang yang selesai menangis. Apa Kak Dhanni tadi habis menangis?

“Bayiku, bayiku…. Aku kehilangan dia,” kataku masih sambil menangis sesenggukan.

“Nes, Nesa, dengarkan aku dulu,” kata Kak Dhanni menenangkanku.

“Enggak aku nggak mau denger. Kak Dhanni jahat, Kak Dhanni sudah ninggalin aku.” Kali ini aku sudah berteriak histeris. Entah dari mana tenaga ini yang jelas saat ini aku ingin memaki-maki lelaki di hadapanku ini. Aku membencinya.

“Astaga, Nes. Aku bisa jelasin semuanya, kamu tenang dulu ya.”

“Enggak. Aku nggak mau. Kak Dhanni pergi.. pergi. Aku nggak mau liat Kak Dhanni lagi..”

Lalu tiba-tiba pintu dibuka. Itu adalah Dokter Tony. “Nesa, kamu harus tenang, jika tidak kamu akan pendarahan lagi,” katanya menenangkanku. Apa? Pendarahan lagi? Jadi, jadi aku masih hamil?

Aku langsung menghentikan tangisanku “Jadi saya masih—” tannyaku dengan bingung kepada Dokter Tony.

“Iya, bayi kamu selamat, kamu calon ibu yang kuat. Tapi kamu harus istirahat total dan kamu harus bed rest selama kurang lebih 2 minggu,” jelas Dokter Tony padaku. “Dan Lo Dhann, Lo gila ya, hampir aja gue mati ketakutan gara-gara ngikutin rencana sinting Lo itu.”

“Sorry,” kata Kak Dhanni kepada Dokter Tony tapi tatapan matanya tetap tertuju padaku. “Mending sekarang Lo keluar, ada yang pengen gue omongin sama istri Gue,” kata Kak Dhanni sambil mendorong Dokter Tony keluar.

“Berengsek Lo.!” umpat Dokter Tony. Aku baru tahu jika Dokter bisa mengumpat kasar seperti itu. “Inget, jangan buat dia stres,” lanjut Dokter Tony lagi sebelum Kak Dhanni menutup pintu ruang rawatku.

Kak Dhanni lalu mendekatiku, duduk di pinggiran ranjang rumah sakit yang sedang kubaringi ini. Lalu dia menggenggam dan mengecup punggung tanganku. Jika saat ini aku tidak marah dan kesal padanya mungkin aku sudah meleleh dengan tingkah lakunya yang sweet ini.

“Maafin aku ya. Aku benar-benar keterlaluan,” katanya masih dengan mengecupi seluruh permukaan telapak tanganku.

Aku memalingkan wajahku. “Kalau Kak Dhanni nggak suka sama aku kenapa kita nggak cerai aja? Apa Kak Dhanni tahu kalau Kak Dhanni sudah nyakitin perasaanku,” kataku lirih. Air mataku kembali menetes ketika mengingat Kak Dhanni bersama dengan wanita itu.

“Nes, kamu ngomong apa sih? Kita nggak akan pernah cerai.”

“Lalu bagaimana dengan Farah dan anakmu yang dia kandung Kak?” Kali ini aku mulai berteriak kembali sambil menatapnya tajam.

“Nes, plis, tenangkan diri kamu, aku nggak mau terjadi apa-apa lagi sama kamu dan anak kita.”

“Aku nggak peduli.”

“Nes, aku akan jelasin semuanya.”

“Aku nggak perlu penjelasan, aku bahkan sudah lihat dengan mata kepalaku sendiri.”

“Astaga, Nes, semuanya hanya sandiwara,” teriak Kak Dhanni frustrasi.

“Bohong.. Aku nggak percaya lagi sama Kak Dhanni”

Ok fine. Kalau kamu nggak percaya, mereka yang akan jelasin sama kamu,” katanya sambil berlalu pergi dan menutup pintu kembali dengan kasar hingga suara dentuman terdengar sangat keras. Kelihatannya sikap kasar dan pemarahnya kembali lagi.

Kak Dhanni keluar cukup lama, lagi-lagi aku memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di antara kami, kenapa Kak Dhanni tadi bilang jika semuanya hanya sandiwara? Tiba-tiba pintu dibuka, menampilkan sosok yang sangat kubenci. Siapa lagi jika bukan Farah si wanita ular itu.

“Haii, Nes. Akhirnya kita ketemu lagi,” katanya lembut sambil tersenyum dan melambaikan tangannya. Dia tidak sendiri, dia bersama Kak Dhanni dan dokter Tony, apa yang terjadi? Kenapa Dokter Tony juga ikut masuk?

“Aku perkenalkan lagi, dia Farah, sahabatku, dan itu Dokter Tony, suaminya,” kata Kak Dhanni datar. Aku melihat mereka dengan tatapan tak percaya. Sedangkan Dokter Tony hanya tersenyum dan mengangguk.

“Loh, tapi tadi Dokter Tony bilang—”

“Semuanya rencanaku,” kata Kak Dhanni datar dan cuek.

“Apa?”

“Hahaaha iya, Nes, semua rencana Dhanni, kami nggak ada apa-apa kok. Dhanni cuma pengen tahu seberapa besar kamu sayang sama dia.”

“Udah lah, Far, nggak perlu panjang lebar, ceritakan saja kalau kita nggak ada hubungan apa-apa,” potong Kak Dhanni kemudian.

“Iya, yang penting kami nggak ada hubungan apa-apa, Dhanni cuma sayang sama kamu tapi dia—”

“Cukup. Kayaknya kamu sudah banyak ngomong deh,” kata Kak Dhanni memotong kalimat Farah.

“Hahaah akui aja Dhann kalo Lo emang cinta tapi Lo takut ngungkapinnya, karena Lo nggak tahu perasaan Nesa ke Lo, makanya Lo pake cara sialan ini buat bikin Nesa cemburu,” kata Dokter Tony sambil menahan tawanya.

“Berengsek Lo!” umpat Kak Dhanni.

Ok. Sekarang aku jadi semakin bingung. Jadi semua ini hanya sandiwara? Sandiwara buat bikin aku cemburu dan mengungkapkan perasaanku kepada Kak Dhanni? Gila. Apa dia nggak mikir kalau ini hampir saja membuat kami kehilangan bayi kami?

“Ok. Sekarang kalian pergi, gue mau selesein ini lagi.” Lagi-lagi Kak Dhanni mengusir Dokter Tony yang saat ini bersama dengan Farah, istrinya.

“Sialan Lo. Terus ngapain tadi Lo panggil kita?”

“Dia nggak percaya sama Gue. Sudah sana pergi,” usir Kak Dhanni lagi dengan cueknya.

Dokter Tony pun pergi lengkap dengan umpatan dan sumpah serapahnya kepada Kak Dhanni, sedangkan Farah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat kelakuan dua lelaki dewasa di hadapannya yang mirip dengan kucing dan tikus.

“Gimana, kamu sudah percaya kan?” tanya Kak Dhanni kemudian sambil duduk di pinggiran ranjang yang kutiduri. Aku hanya memalingkan wajahku, entah kenapa ada perasaan bahagia saat mengingat ini sandiwara hanya karena Kak Dhanni tak berani mengungkapkan rasa sayangnya padaku. Tapi tetap saja aku merasa kesal karena dia benar-benar keterlaluan.

“Nes, maafin aku ya. Aku benar-benar keterlaluan, aku sayang sama kamu tapi aku pikir kamu masih cinta sama Renno,” kata Kak Dhanni lirih sambil menggenggam tanganku. Apa dia sedang menembak aku? hahaha nembak apanya, kami bahkan akan mempunyai bayi.

“Ya, aku memang masih cinta sama Kak Renno,” jawabku jujur. Dan sekilas aku melihat wajah Kak Dhanni memucat. “Tapi aku lebih cinta sama Kak Dhanni, jadi plis jangan lakuin ini lagi, Kak,”lanjutku kemudian. Dan tanpa kusangka dia langsung memelukku menciumi leher dan tengkukku.

“Aku janji aku nggak akan ngelakuin ini lagi,” katanya sambil menatapku tajam, dan dia pun langsung mendaratkan bibirnya yang seksi itu tepat di bibirku, melumatnya secara halus membuatku bergetar hanya karena ciumannya.

“Ingat dia harus Bed Rest selama 2 minggu,” kata Dokter Tony yang tiba-tiba muncul di balik pintu dengan senyumannya.

“Berengsek Lo!” umpat Kak Dhanni yang langsung dapat cubitan dariku. “Aww, kamu kenapa sih?” lanjutnya lagi sambil menatapku.

“Apa Kak Dhanni bisa berhenti menyumpah? Dia dokter, Kak.”

“Dokter apanya?”

“Kak….”

“Ok. Ok. Kamu menang. Aku akan berhenti menyumpah, apa kamu puas?”

Dan aku pun hanya menyunggingkan senyuman kemenanganku.

***

Pagi ini aku terbangun dengan Kak Dhanni yang tidur di sebelahku, kami tidur seranjang di ranjang rumah sakit tapi kami tak melakukan apa pun, ingat, kami harus bed rest selama 2 minggu, jadi jangan berpikir yang macam-macam ya. Dia memelukku dan aku merasa sangat nyaman dengan ini. Ya Tuhan, kenapa aku bisa begitu sangat mencintai lelaki yang tidur di sebelahku saat ini?

Ini benar-benar sangat nyaman saat berada di dada bidangnya, sesekali aku mengecup dadanya dan menghirup aromanya. Astaga, benar-benar sangat memabukkan.

“Kamu membangunkanku,” katanya dengan suara yang sangat serak dan parau.

“Maaf, ayoo tidur lagi, ini masih pagi,” ajakku kemudian.

“Bukan bangun itu yang kumaksud,” lanjutnya lagi. Dan seketika itu juga aku mengerti apa yang dia maksud dan itu membuatku langsung menjauhkan diri dari pelukannya. “Kamu ngapain?” tanyanya heran saat aku melepaskan diri dari pelukannya.

“Kak Dhanni tahu kan kalau aku harus bed rest?”

“Hemm, iya, iya. Maaf. Ayoo tidur lagi, aku masih ngantuk,” katanya kemudian lalu dia memelukku kembali dan tertidur kembali.

Begitu pun denganku yang saking nyamannya karena pelukan Kak Dhanni membuatku tertidur kembali.

***

Siangnya aku terbangun dengan Kak Dhanni yang sudah tak ada di sampingku, aku merasa kehilangan, kenapa dia pergi tanpa pamit denganku? Tapi ketika mataku menyapu seluruh penjuru ruangan betapa terkejutnya aku melihat ‘dia’ duduk di Sofa ruangan rawat inapku. Duduk dengan santai dan matanya terpejam, sepertinya dia ketiduran. Aku kangen melihat wajah tampannya. Dia Kak Renno.

“Kak Renno,” ucapku lirih. Aku terkejut, bagaimana dia bisa sampai di sini? Dan bukankah dia membenciku? Mengapa dia sekarang malah menungguiku? Apa ini hanya mimpiku saja? Atau apakah dia salah masuk kamar tadi?

Dia terbangun dan mengucek-ucek matanya. Lalu dia memandangku dengan menyunggingkan senyuman khasnya, senyuman yang mampu menggoyahkan hatiku hingga tanpa sadar aku sudah mencintainya. Senyuman yang sangat kurindukan.

“Kamu sudah bangun?” katanya sambil menuju ke arahku.

“Kak…, Kak Renno kenapa bisa,” tanyaku tergagap-gagap.

“Papaku dirawat di sini, dan aku nggak sengaja ketemu Dhanni tadi, dia yang menyuruhku kemari,” katanya dengan nada lembut, sangat berbeda dengan nada dingin yang diucapkannya kemarin saat kami bertemu di Kampus. “Maafin aku, Nes,” katanya lirih.

“Enggak, Kak, harusnya aku yang minta maaf sama Kak Renno.”

“Kamu nggak salah, aku yang salah karena aku sudah maksa kamu.”

“Aku yang salah karena aku yang mau dipaksa,” jawabku tak mau mengalah.

“Aku yang salah karena aku sudah lancang mencintaimu.”

Aku lalu menggeleng. “Aku juga salah karena tanpa sadar aku membalas cintamu.” Kali ini aku tak bisa menahan tangisku kembali. Kak Renno lalu memelukku. Dan aku merasakan punggungnya bergetar.

Dia juga menangis….

Oh Tuhan, beginikah jalan hidupku? Kenapa kau buat malaikat seperti Kak Renno bersedih seperti ini? Dan lebih parahnya kenapa sumber kesedihan itu berasal dariku? Aku berterima kasih karena kau pernah menghadirkannya di dalam hidupku, tapi aku sangat memohon padamu, hadirkanlah wanita yang seratus kali lebih baik dari pada aku untuk menggantikan posisiku di hatinya. Aku ingin dia bagaia.

Dia melepaskan pelukannya, kami berpelukan cukup lama tadi. Dia memandangku, dan aku hanya bisa menunduk. “Apa kamu bahagia?” tanyanya kemudian. Aku hanya mngangguk. Yah, aku memang mencintai Kak Renno, tapi tak bisa dipungkiri jika aku sangat bahagia bersama Kak Dhanni. “Ok, aku senang jika kamu bahagia, aku jadi bisa pergi dengan tenang,” lanjutnya lagi.

“Pergi? Memangnya Kak Renno mau pergi ke mana?” tanyaku heran.

“Aku akan mengurus usaha Papa yang ada di Ingris.”

“Berapa lama?”

“Aku nggak tahu, mungkin beberapa tahun, mungkin juga nggak kembali lagi.”

“Apa? Jadi kita nggak akan ketemu lagi?” tanyaku dengan kaget.

Kak Renno lalu tersenyum, dia menggenggam telapak tangan kananku yang lemah. “Nes, walaupun kita nggak akan ketemu lagi, tapi kamu masih tetap di sini, masih berada di sini, dan masih punya tempat tersendiri di sini,” katanya sambil membawa telapak tanganku ke dadanya. “Dan aku juga yakin jika aku kan selalu berada di sini.” Kali ini dia berkata sambil menyentuh dadaku. “Aku selalu menyayangimu, Nes,” lanjutnya kemudian. “Apa aku boleh menciummu untuk yang terakhir kalinya?” Pertanyaannya benar-benar membuat jantungku seakan mau meledak.

Aku tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya dengan Kak Renno. Aku hanya mengangguk.

Dia lalu menciumku dengan singkat. Bukan ciuman, itu hanya sebuah kecupan hangat di bibir, kecupan perpisahan. Yah, aku tahu ini yang terbaik buat kami, kami harus berpisah dan saling menjauh, jika tidak aku tak yakin perasaanku akan sama dan tidak berkembang untuk Kak Renno. Aku tak bisa mencintai dua orang lelaki sekaligus. Begitu pun Kak Renno, dia tak bisa selalu mencintaiku yang notabene adalah istri dari sahabat karibnya sendiri. Dia harus melangkah maju, mencari wanita yang lebih baik dariku. Mungkin ini akan menyaitkan untuk kami, tapi aku yakin jika waktu akan menyembuhkan semua luka ini.

“Ok, jaga dirimu baik-baik, jika Dhanni menyakitimu bilang sama aku,” katanya kemudian.

“Aku tak akan menyakitinya,” kata seseorang dengan nada datar. Dan aku baru sadar jika orang itu Kak Dhanni yang sudah berdiri menyandarkan punggungnya di pintu. Astaga, sejak kapan dia berada di situ? Apa dia sudah melihat semuanya? “Apa sudah selesai telenovelanya? Kalian mello sekali,” katanya sambil melompat duduk di sofa tunggu ruang inapku. Astaga, ekspresi apa itu? Kenapa dia tidak marah?

“Berengsek Lo,” umpat Kak Renno sedikit tersenyum pada Kak Dhanni.

“Ayoo kita sarapan dulu, gue sudah laper,” kata Kak Dhanni kemudian. Apa dia sudah melupakan kejadian tadi?

“Gue mesti balik. Jam 1 gue sudah harus chek in.”

“Lo pergi hari ini juga?” tanya Kak Dhanni dengan terkejut, dia lalu berdiri menghampiri Kak Renno.

“Iya. Gue kemarin pulang cuma buat ngurus beberapa berkas sama jenguk Papa yang lagi sakit aja kok,” jawab Kak Renno. “Jaga dia baik-baik, Dhann.”

“Sialan, Lo. Lo nggak nyuruh juga gue sudah jaga.” Dan mereka pun sama-sama tersenyum.

Lalu tanpa kuduga ‘Buuuggghh.’ Pukulan Kak Renno tepat mengenai ujung bibir Kak Dhanni membuat Kak Dhanni memar dan sedikit berdarah. “Itu untuk Lo karena Lo sudah ngerebut cewek gue,” kata Kak Renno kemudian.

“Berengsek Lo. Gue sudah cinta sama dia sejak sepuluh tahun yang lalu,” kata Kak Dhanni dengan tersenyum. Dia tidak Marah?

Da. ‘Buuuuggghh…’ kali ini pukulan keras Kak Dhanni tepat juga mengenai ujung bibir Kak Renno. Astaga, apa mereka akan berakhir dengan pertumpahan darah di sini?

“Itu buat Lo yang sudah nyium istri gue.”

“Sialan Lo!” umpat Kak Renno. Keduanya lalu tertawa bersama. Dan saling berpelukan. Astaga, mereka benar-benar hampir membuat jantungku seakan mau copot. Kukira mereka akan bertengkar.

“Sering-sering hubungi Gue Renn. Gue sama Ramma pasti kangen sama Elo,” kata Kak Dhanni kemudian.

“Elo nggak usah Lebay deh Dhann,” kata Kak Renno dengan tertawa

“Berengsek Lo!” umpat Kak Dhanni.

Dan akhirnya aku mengembuskan napas legaku karena mereka sudah berbaikan. Seperti ada rasa ‘plong’ di hatiku saat bisa mengungkapkan rasa maaf sekaligus rasa cintaku terhadap Kak Renno. Aku jadi bisa lebih lapang saat melepaskannya pergi.

Kak Dhanni akhirnya kembali dari mengantar Kak Renno. Dia berjalan ke arahku. “Maafin aku, Kak. Aku—”

“Kamu nggak salah, salahkan waktu dan keadaan,” katanya kemudian lalu dia memelukku. Aku tahu Kak Dhanni juga tersakiti karena ini.

Aku lalu melepaskan pelukannya. “Apa ini sakit?” tanyaku kemudian sambil memegang luka di ujung bibirnya.

Dia menggeleng. “Aku pantas mendapatkannya,” lanjutnya kemudian. Dan dia memelukku kembali.

***

Ini adalah hari pertama aku pulang ke rumah. Mama dan Mami sangat senang mendengar kabar kehamilanku. Tapi Mami tak ada henti-hentinya mengomel pada Kak Dhanni karena kelakuan konyolnya aku hampir saja kehilangan bayiku.

Yahh, bisa dibayangkan sendiri betapa ramai dan ribetnya mereka, bahkan Mami dengan lebaynya sudah menyiapkan kamar bayi dan beberapa barang dan baju untuk calon bayi kami. Astaga, aku tahu ini cucu pertama buat mereka, tapi aku pikir mereka terlalu berlebihan.

Bukan hanya itu, Kak Dhanni juga berubah menjadi super menjengkelkan karena aku tak boleh makan ini itu, dan harus melakukan ini itu. Dia sudah mirip dengan nenek-nenek cerewet yang menasehati cucunya. Bahkan dia pun sudah mengajukan cuti kuliah untukku beberapa semester ke depan.

“Gimana? Apa ini nyaman?” tanyanya saat dia membaringkanku di atas ranjang. Yah, bahkan untuk ke kamar mandi pun aku harus digendong Kak Dhanni, jika aku berjalan bahkan berdiri sendiri dia akan marah dan ngomel tanpa henti. Sial!

Aku hanya mengangguk.

“Ok. Aku tinggal dulu ya. Aku mau mandi, ini sudah lengket,” katanya kemudian. Aku tahu dia sangat capek karena mengurusiku beberapa hari ini.

“Kak….” panggilku lembut.

“Hemmb..” Hanya itu jawabannya sambil menoleh ke arahku.

Kurenggangkan kedua tanganku. Aku ingin dipeluk olehnya. Aku ingin hanya aku yang memilikinya, dan aku juga ingin hanya dia yang memilikiku. Dia memandangku dengan mengangkat sebelah alisnya, dan juga menyunggingkan senyuman miring licik khasnya yang sudah lama tak kulihat. Dia lalu berjalan ke arahku dan memelukku.

“Ada apa?” tanyanya serak.

“Aku mencintaimu, Kak. Aku pikir aku harus mengatakannya.”

“Hemmbb. Aku juga mencintaimu.”

“Benarkah?” godaku.

“Apa kamu perlu bertanya lagi?”

“Waktu di rumah sakit Kak Dhanni bilang kalau sudah punya perasaan itu sejak sepuluh tahun yang lalu, apa maksudnya?” tanyaku sedikit heran. Masak iya siih Kak Dhanni sudah cinta padaku sejak sepuluh tahun yang lalu? Kayaknya nggak mungkin.

Lalu Kak Dhanni melepaskan pelukannya, dan meninggalkanku menuju ke arah meja kerjanya yang berada di ujung kamar kami. Dia mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam laci meja kerjanya tersebut. Lalu membawanya kepadaku.

“Aku mencintaimu sejak melihat fotomu yang ini,” kata Kak Dhanni sambil menunjukkan padaku sebuah foto gadis kecil yang aku tahu itu adalah fotoku saat aku berusia sekitar 12 tahun. Kenapa dia bisa punya fotoku? “Kamu nggak percaya?” tanyanya kemudian.

Dan aku hanya menggeleng. Apa dia bercanda? Dia nggak mungkin langsung jatuh cinta padaku hanya karena melihat fotoku yang masih belia.

“Itu hak kamu untuk nggak percaya, tapi aku benar-benar mencintaimu sejak saat itu. Sampai-sampai aku pernah mengintaimu di Jogja hanya karena aku nggak bisa menahan diri,” lanjutnya kemudian.

“Mengintai? Jangan-jangan Kak Dhanni adalah orang gila tampan yang dimaksud teman-teman dan Satpam kampusku waktu itu?”

“Orang gila Tampan?”

“Iya, mereka bilang ada orang gila tampan yang sedang mengikuti kami dengan mobil sport-nya.. Apa itu benar-benar Kak Dhanni?”

“Sialan, mereka belum tahu aja gimana kerennya orang gila yang mereka sebutin itu.” Aku pun tertawa mendengar kata-kata Kak Dhanni tersebut. Kak Dhanni pun ikut tertawa bersamaku.

Lalu tiba-tiba Kak Dhanni memegang daguku, mendekatkan diri dan kami pun berciuman dengan sangat lembut. Ciuman yang mampu membakarku seketika. Astaga, dia benar-benar mampu membuatku basah hanya karena berciuman.

Dia melepaskan ciuman saat kami sudah sama-sama kehabisan napas. “Aku mencintaimu Nes, dari dulu sampai sekarang hanya kamu,” katanya kemudian.

“Aku juga mencintai Kak Dhanni, walau sekarang perasaanku masih terbelah dengan Kak Renno, tapi aku lebih mencintai Kak Dhanni. Dan aku yakin suatu saat nanti aku hanya akan mencintai Kak Dhanni tak ada siapa pun lagi di hatiku selain Kak Dhanni,” jawabku jujur.

“Aku tahu itu,” katanya lalu dia mulai menciumiku kembali, kali ini dengan penuh hasrat. Tapi tidak lama dia melepaskan ciumannya kembali. “Tony sialan,” umpatnya lagi-lagi kepada Dokter Tony.

Aku hanya menggeleng. “Kenapa sih Kak Dhanni benci banget sama Dokter Tony?”

“Dia nyuruh kamu bed rest Selama 2 minggu, memangnya kamu pikir aku mampu menahan selama itu?”

“Astaga, ini kan demi anak kita.”

“Omong kosong. Dia cuma mau ngerjain aku,” gerutunya. Aku hanya tertawa melihat tingkah lakunya. “Kenapa kamu tertawa?” tanyanya kemudian.

“Kak Dhanni kayak anak kecil,” jawabku masih dengan tertawa.

“Anak kecil? Hei berani-beraninya kamu mengatai suamimu seperti itu?” Katanya kemudian sambil menerjangku menggelitik dan mencumbuiku secara bersamaan, membuatku merasa geli.

“Hahaaaha, maaf, maaf,” kataku masih dengan tertawa.

“Aku nggak butuh maaf,” kata Kak Dhanni yang masih menggelitikiku dan mencumbuiku.

Astaga, aku benar-benar bahagia. Aku berterima kasih padamu Tuhan karena sudah menyatukan kami, aku berterima kasih pada Oma dan Opa karena sudah memberikan jodoh yang baik untukku. Aku berterima kasih pada Kak Renno, karena sudah mau mengalah demi kebahagiaan kami.

Ini akhir yang sempurna untukku dan Kak Dhanni walau sebenarnya ini bukan akhir yang sempurna untuk hubungan kami bertiga, tapi aku berharap semoga pada saatnya nanti Kak Renno juga akan merasakan kebahagiaan dan memiliki akhir yang sempurna dengan orang yang dicintainya seperti kebahagiaan yang kurasakan saat ini bersama Kak Dhanni. Dan ketika saat itu terjadi aku harap aku menjadi orang pertama yang menyaksikan kebahagiaannya.

Semoga saja……

____END____

The Lady Killer BISA  di DOWNLOAD LANGSUNG DI PLAYSTORE DENGAN JUDUL ‘Novel Dewasa The Lady Killer.’ Atau bisa juga pesan Versi buku novelnya kepada Author secara langsung….

12321303_1096393880379258_6013373791260930497_n
ini Cover untuk Versi Playstore nya yaa…
10439011_1293259477357265_6028376023068747189_n

 

Nahh yang di atas itu untuk Versi buku novelnya,,, sekali lagi maaf dan terimakasih untuk semuanya… 🙂

Advertisements

6 thoughts on “The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 18(End)

  1. nice story
    dhani agak keterlaluan dech ngerjain istrinya kayak gitu
    sampai nessa pendarahan
    padahal semuanya bisa diselesaiin dengan baik
    tapi akhirnya happy ending juga

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s