Novel Online · romantis

The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 17

dhannesss-1_Tlk Cover new

The Lady Killer

Nb ; Sebenernya rencananya aku mau bikin 3 chapter lagi… tapi kayaknya ceritanya nggak memungkinkan dan takutnya yang baca terlalu bosan karena berputar-putar ceritanya.. heheheh jadi ini the lady killer cuma sampai Chapter 18 aja yaa… niat hatiku akan memposting 2 chapter terakhir sekaligus tpi ada beberapa temen yang udah penasaran, jadi aku posting yang chapter 17 dulu yaa… untuk Chapter 18 (End) ingsya alloh akan aku posting bareng dengan Prolog Dan Epilog nya The Lady killer,, jadi sabar yaa,,, 😉 😉 Happy reading… :* :*

 

Chapter  17

Apa yang sebenarnya terjadi…???

 

Aku masih saja mondar-mandir di dalam kamarku. Sesekali menengok ke arah jendela, Kak Dhanni belum pulang. Ini sudah jam 11 malam. Entah kenapa pikiranku jadi tak enak. Aku masih terpikirkan tentang wanita yang digandenganya tadi siang. Sepertinya aku pernah melihat wanita tersebut, tapi dimana? Aku berusaha mengingat-ingat tapi kosong, tak ada yang bisa kuingat.

Saat aku menengok lagi ke arah jendela, aku melihat sebuah mobil baru saja datang. Aku tahu itu mobil Kak Dhanni, haruskah aku menanyakan tentang wanita itu terhadapnya? Aku pun semakin gelisah saat menunggunya.

Tak lama pintu kamar pun terbuka. Kak Dhanni masuk dan sedikit terkejut melihatku yang masih terjaga. “Kamu belum tidur?” sapanya.

Dan astaga, aku tahu kalau saat ini dia baru pulang dari minum. Baunya menyeruak sampai ke seluruh ruangan membuatku mual hanya karena mencium aromanya. Sial!

Aku berlari ke arah kamar mandi memuntahkan seluruh makan malamku tadi. Aku merasakan dia mengikutiku dari belakang. “Sayang, kamu kenapa?” tanyanya dengan lembut dengan mengusap-usap punggungku. Dia bertanya dengan sangat lembut, berbeda dari biasa-biasanya. Ada apa?

Aku pernah dengar dari seseorang, jika tiba-tiba pasanganmu berbuat baik terhadapmu (padahal biasanya tidak) itu hanya karena dua alasan, pertama, mungkin karena dia merencanakan sesuatu terhadapmu atau yang kedua mungkin karena dia merasa bersalah terhadapmu. Dan entah kenapa pikiranku jatuh kepada alasan yang nomer dua, dia merasa bersalah kepadaku. Dan pikiran itu entah mengapa membuatku ingin meledak-ledak.

“Kak Dhanni pergi deh, ngapain sih ke sini,” kataku sambil sedikit mendorong-dorong tubuhnya.

“Aku mau bantuin kamu,” jawabnya kemudian.

“Bantuin apa, aku nggak perlu.”

“Nes….”

“Kak Dhanni sadar nggak sih kalo Kak Dhanni yang bikin aku mual.”

“Apa? Tapi…”

“Kak Dhanni itu abis minum tahu nggak, sudah sana,” usirku kemudian. Entahlah aku juga bingung kenapa aku semarah ini dengannya.

“Ok. Aku keluar, tapi aku akan balik lagi.”

“Nggak ada balik lagi, tidur di kamar sebelah sana.”

“Astaga, Sayang, kamu kenapa sih?” tanyanya sambil memegang kedua bahuku.

“Aku nggak apa-apa, sudah deh, Kak Dhanni pergi sana.” Lagi-lagi aku mendorongnya. Aku ingin bertanya tentang wanita tadi siang, tapi sepertinya nggak usah. Aku malu, nanti aku disangkanya cemburu dan lain-lain lagi, malu dong, mau di taruh di mana muka ini..

Kak Dhanni pun pergi dengan langkah lunglainya. Aku menatap punggungnya sambil menggelengkan kepala. Kenapa dia sekarang begitu menurut terhadapku?

Walau Kak Dhanni sudah pergi, perutku masih saja terasa mual. Aku kembali memuntahkan seluruh isi dalam perutku hingga habis, sampai kurasakan kaku di dalam perutku. Kakiku pun sampai lemas, ada apa denganku? Aku tak pernah merasakan sesakit ini. Tiba-tiba aku mengingat sesuatu, sesuatu yang sudah lebih dari satu bulan ini tak mendatangiku, yaaa apa lagi jika bukan tamu bulanan. Aku memang tidak kaget, karena aku memang tidak pernah tepat waktu, kadang satu bulan sekali, kadang tidak sama sekali.

Tapi, sepertinya jika mengingat emosiku akhir-akhir ini, dan kecintaanku terhadap batagor yang tiba-tiba, aku harus curiga dengan keadaanku.

Entah sudah berapa lama aku terduduk lemas di kamar mandi, hingga aku merasakan seorang masuk ke dalam kamar mandi, Kak Dhanni. Dia sudah ganteng seperti biasanya karena selesai mandi, aroma alkohol pun sudah menghilang dari tubuhnya. “Sayang, kamu kenapa? Kamu sakit?” tanyanya lembut.

Aku hanya menggeleng. “Jangan pulang kayak gitu lagi, aku nggak suka,” kataku ketus. Astaga, bahkan sekarang aku bisa berbicara dengan nada ketus terhadapnya? Benar-benar aneh, Aku harus memeriksakan keadaanku besok.

“Kita ke dokter ya, kamu sepertinya sakit lagi.”

“Nggak usah. Aku mau tidur.” Dan lagi-lagi suaraku masih terdengar ketus.

Akhirnya aku pun berbaring miring di ranjang dengan posisi membelakangi Kak Dhanni. Entah kenapa aku masih merasa kesel aja sama dia.

“Kamu marah ya sama aku?” tanyanya kemudian.

Helloooo… siapa yang nggak marah saat memergoki suaminya jalan mesra dengan seorang wanita? rasanya aku ingin meneriakkan kata-kata itu, tapi… tentu saja gengsi ini masih lebih besar dari pada keberanianku menanggung malu karena ketahuan cemburu. Oopps.. memangnya aku cemburu yaa?

“Nggak,” jawabku cuek secuek dia. Rasain.. emangnya enak di cuekin kayak gini..

“Kamu bohong, kamu pasti marah,” lanjutnya lagi.

“Udah deh, Kak. Aku capek, aku mau tidur.”

“Nggak ada yang boleh tidur sebelum kamu jelasin kenapa marah sama aku.”

“Aku nggak marah.”

“Kamu marah, aku tahu itu,” jawabnya kemudian. “Maafin aku, tadi Ramma ada acara, jadi kita minum bareng,” lanjutnya kemudian.

FffuuiiihhAku marah bukan karena kamu minum, Kak, tapi karena kamu jalan bareng sama wanita sialan itu. Aku marah karena aku terlalu jadi pengecut untuk menanyakan itu semua kepadamu.

“Aku janji nggak akan lakuin itu lagi,” lanjutnya lagi.

Apa kamu akan janji nggak akan jalan bareng wanita lain lagi selain aku? Enggak kan? Sudah menjadi kodratmu jika kamu selalu dikelilingi wanita-wanita cantik bahkan meskipun kamu sudah beristri. Harusnya kamu mikirin bagaimana perasaanku, harusnya kamu tahu apa yang kurasakan karena kamu pernah merasakannya saat aku berduaan dengan Kak Renno.

Sial! Lagi-lagi nama itu yang kubawa. Ok. Aku memang sudah gila, aku ingin menumpahkan semua unek-unek kekesalanku kepada Kak Dhanni, tapi tidak bisa. Aku hanya bisa marah dalam hati. Aku hanya terdiam tak menanggapi omongan Kak Dhanni tadi.

“Nes,” panggilnya lagi.

“Iya aku maafin,” jawabku ketus.

“Kalo dimaafin tidurnya hadap sini dong,” katanya dengan nada menggoda.

Aku tahu apa yang dia inginkan, tapi maaf saja, walaupun aku juga menginginkannya tapi untuk malam ini aku nggak akan membiarkan dia menyentuhku. Enak saja, tapi omongan hanya sekadar omongan. Setelah aku membalikkan tubuhku untuk menghadapnya tiba-tiba saja bibirnya bertemu dengan bibirku, menggodaku, seaka-akan tak ingin melepaskanku. Dan aku merutuki diriku sendiri karena dengan mudahnya aku terperosok ke dalam pesonanya. Siall…..!!!

***

Pagi ini aku lagi-lagi muntah hebat, entah apa yang membuatku muntah seperti ini, Kak Dhanni pun khawatir. Padahal tadi malam aku belum sempat memakan apapun. Kak Dhanni hanya membuatkanku susu cokelat panas setelah kami selesai bercinta. Yah, akhirnya dia berhasil juga menggodaku, meluluhkan hatiku, dan menghancurkan benteng pertahananku dengan cumbuan-cumbuannya. Aku bahkan sama sekali tak mengingat kejadian saat Kak Dhanni menggandeng mesra teman wanitanya tersebut. Shitt!

“Kita ke dokter ya. Sepertinya kamu parah,” katanya khawatir.

Aku hanya menggeleng, jika tadi malam keyakinanku hanya 50%, maka saat ini aku yakin 80% jika aku sedang hamil. Entah apa yang membuatku seyakin itu, tapi aku memang merasa jika aku tak sendiri lagi sekarang ini.

“Ok, sekarang kamu mau apa? Aku akan cari’in buat kamu,” katanya kemudian.

Saat ini aku sedang duduk lemas di atas closet, dengan Kak Dhanni berjongkok di lantai di hadapanku sambil memegang tanganku. Astaga, aku merasa sangat diperhatikan jika dia seperti ini. Dan entah kenapa rasanya aku ingin mengerjainya. Biar saja, hitung-hitung sebagai hukuman karena berani selingkuh di belakangku.

“Aku pengen batagor yang ada di sebelah kampus kita,” jawabku asal dan datar.

“Apa? Kamu ngarang ya, ini masih jam 7 pagi, mana ada orang jual batagor, lagian kan dia bukanya jam 1 siang, yang lain aja ya.”

“Pokoknya aku mau batagor itu titik.” Aku masih tak mau mengalah.

Aku mendengar dia mendesah lama. “Kamu kenapa sih, kayaknya kamu sengaja ngerjain aku. Apa aku ada salah sama kamu?” tanyanya kemudian.

“Aku cuma pengen makan batagor.”

“Beri aku alasan yang jelas kenapa aku harus nuruti mau kamu.”

“Ya udah kalau gitu nggak usah,” kataku sambil meninggalkannya menuju ke lemari mencari baju ganti.

“Nes….”

“Hemmbb..”

“Kamu mau ke mana? Kamu kan sakit.”

“Ya ke kampus, Kak. Emangnya mau ke mana lagi?”

“Jangan masuk hari ini, kamu sakit,” larangnya.

“Aku akan tetap masuk,” kataku sambil menuju ke kamar mandi. Mood-ku sangat buruk pagi ini. Dan aku beruntung jika Kak Dhanni menghadapiku lebih sabar, kupikir dia sekarang lebih sedikit dewasa. Tapi, tetap saja penyakit playboy-nya belum saja hilang.

***

“Surat lagi?” tanya Dewi padaku. Dan aku pun hanya mengangguk.

Yah, setelah pengumuman aku jadi istri seorang Dhanni Revaldi itu beberapa anak kampus berubah. Kukira mereka akan bertindak jahat padaku, tapi nyatanya tidak. Beberapa dari mereka malah memberikanku surat cinta yang ditaruh di lokerku. Hahahaha aneh-aneh saja mereka. Kebanyakan mereka kagum terhadapku. Tentu saja itu sebagian dari anak cowok di kampus ini. Berbeda dengan yang cewek. Astaga, mereka selalu berpandangan sinis terhadapku. Meskipun tak ada yang menyakitiku tapi tetap saja jika aku agak tak nyaman dengan pandangan mereka.

“Ayoo coba, kita buka bareng, siapa tahu dari cowok yang lebih ganteng dari pada Kak Dhanni,” kata Dewi sambil mengerlingkan matanya. Dasar genit.

Aku tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalaku. “Kamu gila, mana ada cowok yang lebih ganteng dari pada Kak Dhanni.”

“Iyaaa, iya, aku tahu yang lagi kena Penyakit SDL.”

Aku mengernyit. “SDL? Apa itu SDL?”

“Syndrome Dhanny Lovers. Hahahaa,jawabnya sambil tertawa.

“Gila!” umpatku sambil ikut tertawa.

Tapi ketika aku membuka amplop surat itu, tawaku langsung hilang seketika, itu bukan Surat cinta. Tapi sebuah surat yang penuh dengan foto-foto Kak Dhanni bersama wanita lain. Wanita yang sama saat di parkiran cafe kemarin, karena bajunya pun sama. Dan ketika aku melihat sebuah foto yang memperlihatkan wajah wanita tersebut, aku baru sadar jika aku mengenalnya.

Itu Farah. Si wanita ular yang dulu pernah tak sengaja bertemu denganku dan Kak Dhanni saat di Bandung. Wanita yang kata Kak Dhanni adalah sahabatnya.

Bulshiiiitt…!!!

Mereka bahkan tak seperti sedang sahabatan. Jadi tadi malam Kak Dhanni minum bersama si wanita ular itu? Ya meskipun Kak Dhanni tak sepenuhnya bohong tentang kak Ramma, karena di foto tersebut aku juga melihat Kak Ramma dengan wanita jalangnya. Siall..! Jadi mereka tadi malam berpesta bersama?

Dewi yang melihat perubahan ekspresiku langsung menyambar surat yang ada di tanganku. Dan Ekspresinya pun sekarang sama dengan Ekspresiku, ekspresi tak percaya.

“Nes, jangan mudah percaya sama yang ginian ya. Kak Dhanni belum tentu….”

“Kita nggak tahu apa yang dia lakuin di luar sana.” Aku memotong kata-kata Dewi dengan lirih.

“Tapi ini juga belum tentu benar, Nes.”

Aku hanya terdiam, aku tahu jika sebenarnya Dewi hanya ingin menengahiku tapi tetap saja perasaan ini tak bisa dibohongi. Aku pun bergegas pergi keluar dari kantin. Entah kenapa bagiku semua terasa semakin sesak. Aku tak bisa menerima kenyataan jika memang Kak Dhanni ada wanita lain selain aku. Aku benci itu.

Aku berjalan keluar tanpa menghiraukan Dewi yang sudah berteriak-teriak memanggilku. Hingga aku tersadar saat kakiku berhenti dengan sendirinya ketika aku melihat sosok di hadapanku. Sosok yang selama ini kurindukan. Saat ini dia memunggungiku, tapi aku sangat mengenalnya, aku tahu itu dia, Kak Renno.

Aku berjalan lebih cepat untuk menghampirinya.

“Kak,” panggilku lirih.

Dia menghentikan langkahnya tapi tetap tak berbalik ke arahku. Dia masih mengenali suaraku, aku tahu itu.

“Kak, aku mau ngomong.”

“Sepertinya sudah tak ada yang perlu diomongkan lagi.” Suaranya dingin, sangat dingin, berbeda dengan suaranya dulu yang terdengar hangat di telingaku. Bahkan saat ini dia tak sudi memandangku berbeda dengan dulu yang sepertinya enggan berpaling dariku.

Dia berubah…!!!

Lalu dia pergi meninggalkan aku begitu saja, tanpa sedikitpun menoleh ke arahku. Dia benar-benar membenciku. Seketika itu juga kurasakan dunia di sekitarku berputar, kepalaku sakit, pandanganku mengabur, dan. Aku tak bisa melihat dan mengingat apa-apa lagi.

***

“Ness, Nesa, Nes.” Aku tahu itu suara Dewi, tapi aku masih belum bisa melihatnya. Aku mengerjapkan mataku, mencoba mencari-cari kesadaran saat mataku terbuka sepenuhnya aku melihat raut wajah khawatir dari Dewi.

“Aku kenapa, Wi?” Aku bahkan mendengar suaraku yang sangat lemah. Apa yang terjadi denganku?

“Kau sudah sadar? Astaga, kamu bikin aku takut tahu nggak.”

“Aku di mana?”

“Kita di klinik kampus, untung aja tadi Kak Renno tolongin kamu.”

Aku langsung terduduk saat mendengar nama itu. “Kak Renno? Mana dia?” tanyaku sambil mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan.

“Dia sudah pergi, dia cuma nitipin kamu ke aku.”

Dan saat itu juga tangisku pecah. “Dia membenciku. Tapi dia masih menyayangiku. Aku mesti gimana, Wi,” tanyaku sambil menangis. Dewi lalu memelukku.

“Nes, biarlah waktu yang mengobati semuanya. Kamu harus sabar, kamu harus kuat demi bayi yang sedang kamu kandung.”

“Apa?” Aku mengerjap kaget.

“Iya, kamu hamil. Apa kamu nggak sadar kalau kamu sudah hamil?”

Aku hanya menggeleng.

“Astaga, Nes, kata dokter ini mungkin sudah lebih dari 6 minggu.” Aku hanya tertunduk lesu.

Ini memang kabar bahagia, tapi kenapa pada saat seperti ini? Saat hubunganku dan Kak Dhanni belum jelas karena kedatangan si wanita ular tersebut. Saat aku masih belum sepenuhnya merelakan Kak Renno.

“Wi, kamu mau bantu aku nggak?” tanyaku kemudian.

“Bantu apa?”

“Kita selidiki Kak Dhanni bareng-bareng ya,” pintaku.

“Enggak, kamu ngarang ya. Lebih baik kamu langsung bertanya sama Kak Dhanni, bukan malah diam-diam menyelidikinya.”

“Aku belum siap mendengar jawabanya jika itu benar-benar kenyataan.”

“Astaga, Nes, tapi kadang apa yang kita lihat itu tidak seperti apa yang sedang terjadi, bisa saja itu suatu kebetulan atau apalah.” Dewi memang benar, tapi feelling-ku berkata jika aku harus menyelidiki Kak Dhanni saat di belakangku.

“Ayoolah, Wi.. Pliss..” Aku pun memohon padanya.

Dewi mengembuskan napasnya, aku tahu dia kalah. “Ok. Aku bantu kamu, tapi aku nggak mau diikut-ikutkan kalau misalnya kalian berantem nanti.”

“Ok, siipp,” kataku kemudian.

“Nes, kamu musti banyak makan dan minum, kata dokter tadi kamu dehidrasi.”

Aku mengangguk. “Iya, aku memang susah makan akhir-akhir ini.”

***

Beberapa hari kemudian keadaanku semakin parah. Aku tak tahu jika orang hamil akan mengalami ini. setahuku di TV-TV mereka hanya mual muntah, tapi berbeda denganku. Aku bahkan panas demam juga. Kak Dhanni benar-benar khawatir. Itu terlihat jelas di raut wajahnya. Berkali-kali dia mengajakku ke dokter, tapi aku menolaknya, aku belum mau dia tahu keadaanku yang sedang hamil anaknya.

“Sayang aku pergi dulu ya.” Lalu dia mengecup lembut bibirku. “Kamu baik-baik di rumah ya,” katanya dengan lemah lembut, aku pun hanya mengangguk.

Kak Dhanni memang sedikit berubah, dia jadi lebih lembut dan perhatian. Dan itu membuatku semakin mencurigainya. Pasti ada yang dia sembunyikan dariku.

Aku mengantarnya hingga garasi tempat mobil-mobil mewahnya berjejer rapi. Dia masuk ke salah satu mobil sport-nya, membuka kaca kemudinya dan melambaikan tangan kepadaku. Lalu dia meluncur pergi. Setelah ditinggalkan, bukannya masuk dan istirahat, aku malah mengambil sebuah kunci mobil yang berada di lemari di pojok garasi. Mobil sport Porsche New Cayenne yang menjadi pilihanku. Astaga, sejak kapan aku bisa mengendarai mobil mewah sejenis Porsche ini? Aku tak peduli, yang aku pedulikan hanyalah membuntuti Kak Dhanni ke mana pun dia pergi.

Sudah dua hari ini aku membuntutinya dengan Dewi, dan hasilnya nol besar. Kami tak menemukan hal-hal mencurigakan apapun. Dewi bahkan tak henti-hentinya marah dan mengumpat padaku karena menyia-nyiakan waktunya seperti ini. Tapi untuk pagi ini aku yakin Kak Dhanni bukan hanya bekerja. Pakaiannya lebih seperti orang yang akan berkencan dibandingkan dengan orang yang akan rapat.

Saat Kak Dhanni berhenti di sebuah apartemen mewah, aku juga ikut berhenti. Kutekan nomer telepon Dewi di HP-ku, aku menyuruhnya mengikutiku. Setelah selesai, aku hanya berdiam diri menunggu apa yang akan terjadi dengan jantung yang berdetak semakin keras. Tiba-tiba wanita itu muncul. Farah Si wanita ular. Kak Dhanni tadi memang tak turun dari mobilnya, dan si Farah ini pun langsung masuk begitu saja ke dalam mobil Kak Dhanni, seperti sudah terbiasa. Sialann…!!! Sebenarnya apa hubungan mereka?

Mobil Kak Dhanni melaju lagi, aku mengikutinya dari belakang. Sambil memasang headset untuk menghubungi Dewi di mana posisiku saat ini. Ternyata tujuannya tak jauh. Sebuah rumah sakit yang hanya berjarak beberapa blok dari kompleks apartemen mewah milik wanita sialan itu.

Rumah sakit? Kenapa mereka ke sini? Apa mereka sedang berkencan di sini? Atau, Apa Kak Dhanni sakit dan menyembunyikan semuanya dariku? Enggak, itu nggak mungkin. Kak Dhanni nggak mungkin sakit. Tapi bisa saja kan Kak Dhanni divonis penyakit mematikan terus menyembunyikannya dariku seperti yang ada di novel-novel yang biasa aku baca..

Stop it.

Aku nggak boleh berpikir yang tidak-tidak. Kak Dhanni sehat, dia nggak mungkin sakit. Entah kenapa tiba-tiba saja air mataku menetes. Aku takut menghadapi kenyataan itu jika itu yang benar-benar terjadi. Aku takut kehilangan Kak Dhanni, Aku lebih suka kenyataan pertama yaitu mereka kencan bercinta dan lain sebagainya daripada kenyataan kedua jika Kak Dhanni sakit dan divonis akan mati, yang tandanya adalah meninggalkanku….

Aku tak mau itu terjadi. Aku lebih rela menjadi istri pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya asalkan dia hidup di dunia yang sama, di langit yang sama, menghirup udara yang sama dan menginjakkan kaki di bumi yang sama denganku, daripada aku harus menerima kenyataan jika aku akan hidup sendiri di dunia ini tanpa ada dia di dalamnya.

Aku sangat mencintainya. Aku sangat membutuhkannya.

-TBC-

Advertisements

6 thoughts on “The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 17

  1. Ya ampuun ktmu Renno lg,,,wjarlh Renno brubah dingin,,dia kan udah dikecewain ama Nessa…
    Seharusnya Nessa,,tanya langsung aja ama Dhanni..biar gk trjd slhphm lg

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s