Novel Online · romantis

The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 16

dhannesss-1_Tlk Cover new

The Lady killer

NB; tambahan Konflik nihh… jangan bosen2 bacanya yaa…. heheheh

 

Chapter 16

Siapa Dia..??

 

 

Aku masih syok, masih kaget dengan apa yang dia lakukan tadi. Apa sebenarnya yang berada dalam pikirannya tersebut. Bukankah tadi malam dia baru saja bilang jika teman-temannya nggak harus tahu tentang hubungan kami? Tapi kali ini dia sendiri yang menyatakan di depan umum jika aku istrinya lengkap dengan panggilan sayangnya.

“Eh, selamat ya, Bro. Gue nggak nyangka.” Satu lagi teman Kak Dhanni ngasih selamat untuk kami, entah sudah berapa orang yang menyalamiku tadi, mereka semua teman-teman Kak Dhanni yang memberikan ucapan selamat.

Jujur saja, lama-lama aku bisa mati bosan di sini, acara wisuda sudah selesai tapi Kak Dhanni masih saja belum mau pulang. Dia masih asyik ngobrol dengan temannya. Mami dan Papi sudah pulang terlebih dahulu. Bukannya apa-apa, aku hanya tak begitu mengenal mereka. Lagian aku juga mulai was-was dengan tatapan beberapa wanita di sini terhadapku.

“Kak, kita pulang yuk,” rengekku sambil sedikit menarik lengannya.

“Bentar ya, nggak enak sama yang lain, lagian ini terakhir kalinya aku ketemu sama mereka.”

Ahh lebay sekali, nanti juga bisa ketemu lagi, rutukku dalam hati.

Dan aku pun hanya menghentakkan kakiku dan memajukan bibirku, apalagi jika bukan ngambek. “Kamu kenapa?” Hufftt, pake nanya lagi.

“Tau ah,” jawabku jengkel.

“Jangan gitu dong.”

“Aku lapar, Kak. Aku cuma pengen makan,” kataku dengan nada ketus.

“Itu kan ada makanan, kamu bisa makan di situ.”

“Aku nggak mau, Kak. Aku pengen makan batagor,” jawabku asal.

“Apa? Kamu ngaco, mana ada orang jual batagor pagi-pagi gini,” katanya kemudian.

“Ini sudah siang.”

“Ayolah, Nes, jangan jadi menjengkelkan seperti ini,” katanya kemudian.

“Pokoknya aku pengen pulang titik. Kalo Kak Dhanni nggak mau antar, aku akan pulang sendiri.” Lagi-lagi aku menjawab dengan asal. Pulang sendiri? yang benar aja, emangnya aku mau pulang jalan kaki? Aku kan tadi sama sekali nggak bawa uang.

“Ya sudah kita pulang, tapi aku pamitan dulu ama yang lainnya,” katanya kemudian. Aku pun tersenyum simpul, lagi-lagi dia mengalah untukku.

***

“Emmm… emangnya Kak Renno ke mana, Kak?” Aku bertanya kepada Kak Dhanni. Pertanyaanku ini benar-benar membuatnya menegang.

“Ngapain kamu nanyain dia lagi?” suaranya berubah mendingin.

“Aku khawatir, Kak. Dia seperti itu karena kita.”

“Dia akan baik-baik aja,” jawabnya cuek.

“Kok Kak Dhanni bisa yakin sih kalo Kak Renno akan baik-baik aja?”

“Karena dia pernah mengalami seperti ini sebelumnya.” Apa? Astaga, jadi Kak Renno pernah patah hati sebelumnya? Dan sekarang aku membuatnya patah hati untuk yang kedua kalinya? Aku tak pantas untuk mendapatkan maafnya.

“Dia jatuh cinta dengan sepupunya sendiri. Dalam keluarga mereka itu sama sekali tak dibolehkan, karena tidak sesuai dengan adat yang mereka yakini,” lanjut Kak Dhanni.

“Apa?” teriakku tak percaya.

“Astaga! Nggak usah berteriak kayak gitu.”

“Terus gimana kisah mereka?” tanyaku penasaran.

“Gimana apanya. Kalo nggak boleh ya nggak boleh.” Aku pun terdiam sejenak, melamunkan kisah Kak Renno. Aku benar-benar kasihan terhadapnya. Dia lelaki yang baik. “Kenapa diem aja? Kamu nyesel putus sama dia?” tanya Kak Dhanni dengan sinis.

“Aku nggak putus kok sama Kak Renno,” jawabku asal.

“Apa kamu bilang?” teriak Kak Dhanni. Aku sedikit tertawa melihat reaksinya yang sedikit berlebihan itu. Akhirnya aku melanjutkan makan siangku dengan tatapan tajam dari Kak Dhanni.

***

Pagi ini jantungku benar-benar berdetak lebih cepat, perasaanku gelisah tak menentu. Aku gugup dan takut. Astaga, apa yang akan dilakukan anak-anak di kampus nanti terhadapku ya? Aku benar-benar tak bisa membayangkannya.

“Kamu kenapa?” tanya Kak Dhanni yang saat ini duduk di sebelahku.

Dia sedang menyetir mobilnya, mengantarku ke kampus. Dan ini pertama kalinya kami ke kampus bersama dan juga menunjukkan hubungan kami terhadap semua orang di kampus.

“Ah, enggak,” jawabku kemudian.

Sebenarnya aku tak mau dia mengantarku ke kampus, tapi dia bilang jika dia memiliki urusan dengan rektor makanya dia sekalian mengantarku. Ah, aku benar-benar gelisah. Ini sudah seperti hari pertama aku masuk dalam sekolah baru, rasanya aku ingin ada gempa bumi dan menelanku hingga hilang begitu saja. Aku benar-benar gugup.

“Kamu nggak usah takut, aku akan selalu melindungimu,” kata Kak Dhanni datar tanpa ekspresi. Aku menatapnya dengan ternganga, tak menyangka jika dia bisa mengucapkan-kata-kata yang membuat hatiku tenang. Apa pagi ini dia kehabisan obatnya? Aku merasa dia menjadi pelindungku, sama seperti Kak Renno. Ah… nama itu lagi. “Nah, akhirnya sudah sampai,” katanya kemudian.

Kak Dhanni lalu memarkirkan mobilnya, dia merapikan penampilannnya dulu sebelum turun dari mobil. Dan astaga… pagi ini dia benar-benar Cool. Aku tak akan pernah bosan memuji kesempurnaan suamiku ini. Aku akui aku benar-benar beruntung memiliki suami seperti dia, ya walaupun kadang dia menjengkelkan karena suka seenaknya sendiri dan menjadi dua kali lipat lebih menjengkelkan ketika penyakit cueknya kambuh.

Pagi ini dia mengenakan T-shirt hitam, celana jeans plus jaket kulit yang menempel pas di badan tegapnya, dia sudah seperti aparat polisi saking tegapnya. Belum lagi kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, membuatnya menjadi lelaki yang paling cool dan paling hot yang pernah aku temui. Hahaahaha, oke anggap saja aku terlalu berlebihan karena mengagung-agungkan suamiku sendiri, tapi faktanya mengatakan jika memang dia adalah lelaki terkeren di kampus ini. Wajar saja dia menjadi seorang playboy, seorang Lady Killer yang kerjaannya membunuh hati para wanita, entah aku harus bangga atau malah cemburu dengan itu.

Kak Dhanni pun keluar dari mobil, lalu dia berlari memutari mobilnya, dan tanpa kusangka dia membukakan pintu mobil untukku. Astaga, kenapa pagi ini dia begitu Sweet? Aku pun keluar dari mobil. Setelah menutup pintu mobilnya dia lalu menggenggam erat tanganku, “Aku antar ke kelas kamu dulu ya,” katanya kemudian, aku terpesona dengan kelembutannya kali ini, dan aku hanya bisa mengangguk pasrah.

Dia masih saja mencengkeram erat telapak tanganku menuju ke kelasku, melewati kelas-demi kelas, lorong demi lorong. Dan hampir semua orang yang berpapasan dengan kami memandang kami dengan tatapan terkejut tak percayanya. Segitu tak pantasnyakah aku dengan Kak Dhanni hingga mereka tak bisa mempercayai kenyataan bahwa aku adalah istri sah Kak Dhanni?

Sedangkan Kak Dhanni sendiri terlihat tak mau ambil pusing dengan tatapan-tatapan aneh mereka. Dia masih saja mencengkeram erat telapak tanganku seakan akan menunjukkan pada semua orang jika aku ini miliknya. Oh God, mengingat hal itu aku jadi tersenyum-senyum sendiri, aku sangat suka jika dia mengklaim aku sebagai miliknya.

“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

“Ah, enggak,” jawabku masih dengan tersenyum.

“Aku tahu apa yang kamu pikirkan di dalam otak kamu itu.”

“Apa emangnya?” tantangku kemudian.

“Pastinya kamu sedang mikirin hal-hal panas yang akan kita lakukan nanti malam,” jawabnya datar.

“Apa? Hal-hal panas?” Aku masih belum mencerna apa yang di katakan Kak Dhanni.

Kak Dhanni lalu tersenyum simpul. “Singkirkan pikiran kotormu itu yang membuatmu terlihat seperti orang bodoh,” katanya kemudian, dan setelah dia mengucapkan kata-kata itu aku tahu jika dia sedang mengejekku karena kelakuanku pagi itu yang menggodanya, astaga, tenggelamkan saja aku di dasar laut dari pada aku harus selalu mendapatkan tatapan seakan-akan aku wanita paling mesum yang pernah dia temui. Sialann!

***

“Jadi kamu benar-benar nikah ama Kak Dhanni?” tanya Dewi padaku saat kami berada di kantin. Dan ya ampun, mungkin ini sudah kesepuluh kalinya dia menanyakan pertanyaan yang sama.

“Iya Wi, kamu mau sampe kapan sih nanyain itu melulu sama aku, lagian apa cincin ini masih kurang sebagai bukti?” jawabku dengan nada jengkel.

“Iya, aku tahu, tapi, bagaimana bisa? Bukannya kamu pacaran sama Kak Renno?” Nama itu lagi yang disebutkan, entah kenapa setiap kali aku ingat atau ada yang menyebut nama itu, rasanya ada yang mengganjal di hatiku, tentu saja karena aku belum sempat meminta maaf dengan Kak Renno.

“Ceritanya panjang, Wi, kamu nggak bakalan ngerti,” jawabku cuek, apa aku sudah tertular penyakit cuek Kak Dhanni?

Ok. Fine, tapi Kak Renno ke mana ya? Aku dengar dia nggak datang di hari wisuda kemarin.” Aku hanya terdiam menanggapi pertanyaan Dewi karena sesungguhnya aku juga tak tahu di mana keberadaan Renno saat ini. “Aku dengar dia pindah keluar negeri,” lanjutnya lagi dan kali ini perkataannya benar-benar mendapatkan perhatiannku seutuhnya.

“Ahh, yang benar, Wi, emangya dia ke mana?” tanyaku penasaran.

“Iya, menurut gosip yang beredar jika dia mengurusi urusan perusahaan keluarganya yang berada di Inggris. Eh, tapi tunggu dulu, kenapa kamu sampe nggak tahu?” tanya Dewi lagi. “Jangan bilang kalau dia pergi gara-gara kamu dan Kak Dhanni?”

Bingo… Ternyata nggak enak ya punya teman yang terlalu pintar. Secepat itu Dewi mencerna permasalahan yang sedang kualami.

“Udah deh, Wi. Mendingan sekarang yuk temenin aku beli pakaian ke mall, oke.” Aku mencoba untuk mengalihkan perhatiannya.

Dewi menatapku dengan tatapan anehnya. “Ok, asal aku dapet jatah,” jawabnya kemudian. Hahahaha Dewi emang paling bisa jika disogok.

“Oke,” kataku kemudian.

***

Akhirnya kami pun saat ini berada di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta. Aku ingin belanja baju, entah kenapa rasanya pengen aja beli baju berenda-renda.

“Nes, kayaknya ini bukan style kamu deh,” komentar Dewi.

“Tapi aku suka, aku ambil ini, Mbak,” kataku kemudian kepada seorang penjaga toko tersebut.

“Apa kamu nggak berlebihan? Apa Kak Dhanni nggak marah kalau kamu belanja kayak gini?” tanya Dewi kemudian. Ya emang sih kayaknya hari ini aku agak berlebihan. Belanja sebanyak ini, tapi entah kenapa aku pengen aja. Lagian Kak Dhanni nggak akan mungkin marah kalau hanya karena belanja.

“Enggak dia nggak akan marah,” jawabku sedikit cuek.

“Eh, eh, Nes, emangnya dia gimana?” tanya Dewi lagi sambil mendekatiku.

“Gimana apanya?” aku tak mengerti arah percakapannya.

“Astagaaa, maksudku gimana dia saat di ranjang?” Aku melotot saat mendengar pertanyaan Dewi. Sangat tak menyangka jika dia akan bertanya tentang hal itu.

“Wii, pikiran kamu benar-benar jorok,” pekikku.

“Ehh kenapa? Wajar kali, bertanya hal itu pada pengantin baru,” jawabnya santai.

“Aku nggak mau jawab,” kataku sambil menutup telinga.

“Eh, kenapa kamu merah gitu?” katanya saat menyadari wajahku yang sudah merah seperti kepiting rebus. “Apa dia hot?”

“Dewiiiiiiiiiii!” teriakku.

***

Saat ini aku baru saja keluar dari kafe langganan Dewi. Setelah puas berbelanja akhirnya aku kembali tekor karena harus memberi jatah Dewi berupa traktiran di kafe langganannya. Sebuah kafe yang lebih mirip dengan restoran mewah. Dewi benar-benar tak tanggung-tanggung saat meminta jatah. Tentu saja harga makanan di sini jauh di atas rata-rata. Sial.

Saat aku menuju ke parkiran, aku melihat seorang dengan badan tinggi tegap sedang menuju ke arah mobilnya. Badan yang sangat kukenali mengingat baru tadi pagi aku memujinya, mobilnya pun sama, mobil yang sangat kukenali karena baru tadi pagi aku menaikinya.

Dia Kak Dhanni. Suamiku.

Dan Saat ini aku melihatnya sedang keluar bersama dengan seorang wanita, menggandengnya dengan mesra. Astaga, kenapa selalu pemandangan seperti ini yang kuterima?

Tadi pagi aku memang sempat heran saat Kak Dhanni bilang akan menemui klien-nya. Jika dia menemui klien-nya, kenapa dia hanya mengenakan T-shirt bukan kemeja rapi? Dan sekarang aku baru tahu jika klien yang dimaksud Kak Dhanni adalah seorang perempuan seksi. Sial.

Apa aku masih kurang untuknya? Kenapa dia melakukan ini terhadapku? Kenapa dia masih tak bisa berubah?

-TBC-

Advertisements

9 thoughts on “The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 16

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s