Novel Online · romantis

The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 15

dhannesss-1_Tlk Cover new

The Lady Killer

Nb : Ok.. sebenernya aku nggak ada niat bikin Chapter 15 seperti ini.. heheheh chapter ini Khusus POV Dhanni dan sangat pendek karena cuma 3 Page aja (Inipun aku ngetiknya cuma stengah hari)… kayaknya nggak adil aja selalu liat permasalahan dari POV Nessa, jdi untuk chapter 15 ini Special POV Dhanni. kira-kira apa sihhh yang di rasain pangeran ganteng kita kali ini..??? heheheheh

 

 

Chapter  15

-Dhanni 2-

Jika saat ini kalian mencari seorang lelaki bajingan, kalian sudah menemukannya. Yah, itulah aku. Aku adalah seorang lelaki bajingan dan berengsek karena sudah menyakiti hati seorang yang kucintai.

Rasa cintaku kepada Nesa sungguh sangat besar hingga aku tak mampu mengontrol emosiku saat melihatnya bersama dengan lelaki lain, bahkan ketika lelaki itu adalah sahabatku sendiri. Aku murka, Aku marah, dan aku menjadi buta karena rasa yang selama ini tak pernah kurasakan, cemburu.

Kata itu tepat melukiskan apa yang sedang kurasakan saat melihat Nesa bersama lelaki lain. Sebenarnya aku sangat tak ingin kembali ke Jakarta. Aku suka masa-masa di mana aku hanya berdua saja dengan Nesadi Bandung. Tapi tentu itu tak mungkin. Aku harus menyelesaikan semuanya, memberi tahu Renno yang sebenarnya terjadi antara kami.

Dari awal semua memang salahku. Aku yang menginginkan supaya hubungan kami disembunyikan terlebih dahulu dari anak-anak di kampus termasuk Renno. Seharusnya aku tahu jika itu bukan ide yang bagus. Mengingat semakin hari Renno selalu saja menempel mesra pada Nesa. Hingga aku merasa jika Nesa sudah mulai terpengaruh dengan Keberadaan Renno.

Renno pun demikian. Aku merasa Renno benar-benar mencintai Nesa dengan tulus. Renno tak pernah sesayang itu ketika dengan mantannya yang lain. Dia sepertiku. Selalu membatasi diri terhadap wanita, bedanya, aku membatasi diri karena aku tak mau jatuh cinta dengan wanita lain karena aku tahu jika aku sudah dijodohkan sejak kecil, sedangkan Renno membatasi diri karena dia tak mau jatuh cinta lagi dengan wanita, dia trauma jatuh cinta setengah mati dengan wanita, semua itu karena dia pernah cinta mati dengan wanita yang sebenarnya tak boleh dia cintai, sepupu kandungnya sendiri.

Aku merasa Renno memperlakukan Nesa sama ketika dia memperlakukan sepupunya waktu itu. Sejak saat itu aku tahu jika Renno benar-benar cinta dengan Nesa, istriku.

Apa aku harus diam saja? Tentu saja tidak. Beberapa kali aku berusaha memberitahu Renno tentang hubunganku dengan Nesa, tapi Nesa melarang. Aku tahu jika dia belum siap, karena aku tahu dia juga menyimpan perasaan yang sama untuk Renno sehingga dia tak tega melihat Renno yang marah dan kecewa. Apa dia menyimpan perasaan yang sama untukku? Entahlah, aku tak peduli.

Aku tak peduli entah itu Nesa cinta atau tidak denganku, faktanya Nesa sekarang sudah menjadi milikku. Jika dia tidak mencintaiku, aku bersumpah akan membuatnya mencintaiku seutuhnya dan hanya aku. Kalian pikir aku egois? Yah aku memang egois, oh ayolah… jika kalian berada di posisiku aku yakin kalian juga tak akan menyerahkan istri atau suami kalian untuk pria atau wanita lain. Aku bukan manusia sempurna seperti tokoh utama di drama-drama lembek atau novel-novel melankolis yang rela mengalah untuk orang dicintainya. Itu benar-benar bukan diriku.

Aku yang sebenarnya adalah aku yang akan berjuang untuk mendapatkan apa yang kumau, meskipun awalnya itu akan menyakiti banyak orang. Aku tak peduli. Seperti saat ini. Aku berdiri di sini melihat wanita yang kucintai menangisi lelaki lain karena ulah sialanku. Aku tak bisa menenangkannya, jangankan menenangkannya, melihat wajahku pun dia tak ingin.

Dia membenciku.

Aku memberanikan diriku untuk bertanya apakah dia mencintai Renno? Dan jawabanya bisa kutebak. Dia mencintainya. Meski jawabannya sudah kuduga namun mendengarnya sendiri keluar dari mulut manisnya membuatku sangat sakit. Sakit yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku sudah kalah. Aku bahkan sudah mati ditangan istriku sendiri.

Tak banyak yang bisa kulakukan selanjutnya. Dia mendiamiku selama 3 minggu. Aku pun tak ingin mengganggunya, melihatnya seperti itu benar-benar membuatku marah, marah dan sakit. Akhirnya aku mencari Renno. Aku ingin mengalah, memberikan istri yang kucintai kepada sahabatku sendiri.

Tapi aku terlambat. Renno sudah pergi. Aku yakin, dia pun sama sakitnya seperti yang kurasakan dan yang dirasakan Nesa. Dan semua itu karena ulah bodohku. Karena aku yang tak bisa menahan diriku karena perasaan cemburu. Sial.

Akhirnya Nesa ingin pulang. Dia ingin meninggal­kanku sendiri. Mungkin dia terlalu membenciku. Aku ingin meminta maaf, tapi bagaimana bisa meminta maaf jika setiap kali berhadapan denganku dia selalu meledak-ledak. Akhirnya dengan berat aku menuruti keinginannya.

Setiap hari aku ke rumah Mama hanya untuk mengetahui keadaannya yang menurutku semakin hari semakin memburuk.

Dia sakit.

Dan aku semakin sakit saat melihatnya sakit. Aku ingin menyerah, aku ingin mengalah, tapi Mama bilang jika Nesa seperti ini karena dia mencintaiku. Dia membenciku karena dia juga mencintaiku. Dia marah kepadaku karena dia kecewa.

Perkataan Mama sedikit banyak membuatku semangat kembali, membuatku memperjuangkan Nesa kembali. Aku menginginkannya kembali seperti dulu. Malam itu aku memberanikan diri memasuki kamarnya. Dia terlihat pucat. Tiba-tiba saja dia berlari memelukku.

Dia minta maaf.

Astaga, seharusnya aku yang minta maaf, Sayang. Aku adalah lelaki dewasa yang bodoh dan berengsek karena baru pertama kali merasakan perasaan cemburu. Seharusnya aku yang meminta maaf karena aku sudah membuatmu kecewa dengan tingkahku yang seperti anak kecil. Maafkan aku.

Malam itu juga dia ikut pulang ke rumah. Tapi akhirnya aku membuatnya marah sekali lagi dengan melarangnya ikut ke acara wisudaku. Sebenarnya aku tak melarang, hanya saja aku tak mau hubungan kami di ketahui mereka. Aku hanya takut jika ada beberapa anak di kampus mem-bully Nesa karena hubungannya denganku. Terlebih lagi jika mereka itu adalah gengnya Maria ‘mantan’ pacarku.

Yah, aku memang sudah putus dengan Maria. Tapi dia masih tetap menempel denganku. Aku sudah memberi tahunya jika aku sudah menikah, tapi dia sama sekali tak percaya. Sebenarnya aku khawatir jika dia berbuat sesuatu yang nekat kepada Nesa, makanya aku tak memberitahu siapa pun tentang statusku dan Nesa.

Tapi Nesa salah menangkap semuanya, dia mengira jika aku tak mau memberitahu anak-anak kampus karena aku tak mau putus dengan pacar-pacarku. Astaga, apa dia sudah gila? Untuk apa punya pacar lagi jika sudah mempunyai istri seperti Nesa? Mereka sungguh tak ada apa-apanya dibandingkan Nesa. Aku bahkan rela menyakiti hati Renno sahabatku sendiri hanya untuk bersama dengan Nesa, apa Nesa masih tak bisa melihat betapa besarnya perasaan ini untuknya?

Akhirnya di sinilah aku, di atas panggung dan mengumumkan hubunganku dengan Nesa pada seluruh orang yang hadir di acara ini. Mungkin dengan seperti ini Nesa akan mengerti jika aku tak hanya main-main dengannya. Aku benar-benar menyayanginya.

-TBC-

Advertisements

5 thoughts on “The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 15

  1. ahh gak tega liat dhani kaya gitu:” ternyata dhani sangat mencintai nessa… semoga keadaan lama2 semakin membaik deh ya;D ditunggu kelanjutannya ya thor

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s