Novel Online · romantis

The Lady killer (Novel Online) – Chapter 14

TLK Cover

The Lady Killer

NB ; diriku kembali lagi nihh… ooiiyaa… untuk Chapter ini dan seterusnya nggak akan ada lagi Renno yaa kecuali di Chapter akhir sama Epilog nanti…  nggak tau tuhh mungkin dia lagi semedi atau cari dukun buat guna-guna nessa…(hahhaha #Plakk #Abaikan). dan lagi aku mau ijin yaa… mungkin next chapter agak lama karena aku masih ngurusin TPOL yang mau kujadikan versi buku novel, jadi sabar yaa,,,, untuk yang udah tanya-tanya tengtang kisah Renno dan Ramma (Di buku kedua dan ketiga) sabar juga yaa… aku baru posting kisah mereka setelah The Lady Killernya End… Okk… gk banyak omong lagi… Happy Readding ajja buat yang sudah mau mampir ke Blog Lebbay ini.. 😀 😀

 

Chapter  14

Marah Dan Kecewa……

 

“Dialah istri gue. Nesa Arriana.” Suara Kak Dhanni menggema di dalam ruangan tersebut. Bagaikan vonis mati untukku dan Kak Renno.

“Enggak, tunggu dulu, ini nggak benar.” Kak Renno terlihat tak percaya.

“Lo mau bukti tertulis? Gue ada surat nikah.”

“Kak….” Aku meminta Kak Dhanni menghentikan semuanya.

“Kenapa, Nes? Kita harus memberitahu Renno semuanya.”

“Tapi nggak seperti ini caranya, Kak!” teriakku kepada Kak Dhanni.

“Aku, aku benar-benar nggak nyangka,” kata Kak Renno sedikit linglung.

Lalu aku melihat dia melangkah pergi meninggalkan aku dan Kak Dhanni.

Aku akan mengejarnya tapi Kak Dhanni mencengkeram erat telapak tanganku. “Lepasin,” kataku dingin.

“Nes….”

“Aku bilang lepasin!” teriakku pada Kak Dhanni. Dan Kak Dhanni langsung melepaskan genggaman tangannya. Aku tak peduli apa yang akan dia lakukan, yang ada di dalam otakku hanyalah Kak Renno, Aku sudah menyakitinya. Aku ingin memperbaiki semuanya.

Aku mengejar Kak Renno hingga tempat dia memarkir mobilnya.

“Kak aku bisa jelasin semuanya,” rengekku sambil memeluk lengannya.

“Mau jelasin apa lagi?!” Suaranya berbeda menjadi lebih dingin. Aku tak suka itu.

“Kak….”

Tiba-tiba Kak Renno menghadap ke arahku, menatapku dengan tajam. “Kamu sudah mengkhianatiku, Kamu tahu, kalau aku sudah cinta mati sama kamu, tapi kamu…, kamu malah….” Kak Renno tak bisa menyelesaikan kata-katanya.

Kak….” Aku sudah tak bisa mengontrol emosiku lagi. Tangisku sudah benar-benar pecah, aku tak peduli jika ada yang bilang aku keterlaluan karena menangisi lelaki lain yang bukan suamiku sendiri.

“Lepaskan, aku, Nes. Aku nggak mau ketemu kamu lagi,” kata Kak Renno dingin sambil melepas paksa pelukanku pada lengannya.

Dia lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkanku begitu saja. Aku terjatuh lemas di tengah-tengah parkiran rumah Kak Dhanni. Menangis sejadi-jadinya merutuki kebodohan dan kelemahanku.

Aku mencintainya. Tapi aku selalu menepis perasaan itu. Apa salah jika aku mencintai dua orang lelaki sekaligus? Aku terlalu serakah untuk mendapatkan mereka berdua di sisiku hingga saat ini Tuhan menghukumku. Kenapa takdir cintaku harus seperti ini? Kenapa Aku harus menyakiti orang-orang yang kusayangi?

Aku merasakan sepasang kaki berjalan mendekatiku, “Apa kamu mencintainya?” kata Kak Dhanni dengan nada lemah. Ini baru pertama kalinya aku mendengar suara Kak Dhanni seperti ini.

Aku berdiri dan menatapnya dengan tajam, penuh dengan amarah. “Ya, aku mencintainya,” jawabku tegas. Lalu aku bergegas pergi meninggalkan Kak Dhanni yang masih berdiri membatu di tengah-tengah parkiran rumahnya. Sekilas aku melihat raut wajahnya memucat karena jawabanku, tapi aku tak peduli. Saat ini aku membencinya, aku kecewa terhadapnya.

Kututup pintu kamar hingga berbunyi keras, malam ini aku ingin tidur sendiri, tak mau diganggu siapa pun. Aku memang mencintai Kak Dhanni, tapi apa salah jika aku juga mencintai Kak Renno? Perasaan ini datang begitu saja, aku tak pernah berpikir jika akan berakhir seperti ini, berakhir dengan kita bertiga saling menyakiti. Aku menyakiti perasaan mereka berdua, orang yang sama-sama kucintai.

***

Tiga minggu berlalu sejak malam itu, aku belum sama sekali bertegur sapa dengan Kak Dhanni, aku terlalu malas. Dia juga sama, tak akan menegurku jika itu bukan sesuatu yang sangat penting. Hubungan kami tak berjalan baik, kami saling berdiam diri dan suasana menjadi dingin di antara kami.

Tak ada kabar dari Kak Renno. Lelaki itu menghilang entah ke mana, Di kampus pun sama. Semua terasa sangat menyebalkan.

“Aku ingin pulang,” kataku pagi itu tanpa sedikit pun memandang ke arah Kak Dhanni.

Kami saat ini sedang sarapan bersama.

“Kenapa pulang? Ini kan rumahmu juga.”

“Aku kangen Mama,” jawabku seadanya.

“Nanti sore kita ke sana, kita nginep di sana,” jawabnya tanpa memandangku.

“Aku ingin menenangkan diri sendiri,” kataku lagi dan masih tak memperhatikan raut wajahnya.

“Nggak, bisa, Nes. Mama akan mengira kita sedang bertengkar jika kita ke sana tak bersama,” jawab Kak Dhanni tenang.

“Kita memang sedang bertengkar, Kak!” Entah kenapa tiba-tiba emosiku ingin meledak hingga aku berani meneriakinya seperti itu.

“Nes, kita bisa perbaiki semuanya tanpa harus saling—”

“Aku nggak peduli.” Aku memotong kata-kata Kak Dhanni yang lembut itu dengan teriakanku. “Aku hanya ingin pergi dari sini. Aku benci sama Kak Dhanni.” Aku mulai menangis.

“Nes….”

“Aku ingin sendiri. Aku nggak mau ketemu sama Kak Dhanni,” rengekku.

Aku melihat wajah frustrasi dari Kak Dhanni. Dia seperti orang yang kalah dalam pertarungan. Tapi aku tak peduli, yang aku inginkan saat ini adalah menata kembali hatiku, aku ingin menjauh terlebih dahulu darinya.

Dia menghela napas panjang, “Baiklah, nanti sore aku antar kamu pulang,” katanya lirih, dia mengalah untukku.

***

Kak Dhanni pun mengantarku ke rumah Mama, sesampainya di rumah Mama, aku langsung memeluk Mama sambil menangis tersedu-sedu. Mama menatap Kak Dhanni dengan tatapan tanda tanyanya. Aku tahu kelakuanku ini tak baik dan tak patut dicontoh siapa pun. Membawa masalah rumah tangga yang sepele kepada orang tua itu bukan hal yang bagus. Tapi saat ini aku butuh sebuah pundak yang dapat meringankan bebanku. Dan aku tahu, seberat apapun masalah yang sedang kualami, pundak Mama akan selalu setia menerimaku kapan pun juga.

“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Mama saat masuk ke dalam kamarku.

“Apa Kak Dhanni sudah pergi?” Aku berbalik bertanya.

“Iya dia sudah pergi, apa kamu ada masalah sama dia?” tanya Mama lagi.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku dan mulai menangis lagi. Astaga…, aku benci menjadi cengeng seperti ini. Tapi mood-ku benar-benar sangat buruk. Aku sama sekali tak ingin melihat wajah Kak Dhanni dulu. Aku benci dia.

***

Hari demi hari berlalu. Semua semakin terasa membosankan di rumah Mama, karena aku sendiri pun tak pernah keluar dari kamar. Oh, seperti inikah rasanya patah hati? Aku patah hati dengan lelaki lain selain suamiku, sangat tidak masuk akal.

Kak Dhanni selalu datang ke rumah Mama meskipun dia sama sekali tak pernah melihatku secara langsung. Kata Mama, Kak Dhanni hanya menanyakan kabarku, lalu dia pulang begitu saja. Mungkin dia tahu jika aku masih marah dengannya.

“Kamu nggak bisa seperti ini terus, Nes.” Mama mulai menasehatiku. Aku hanya diam membatu. “Nes, kasihan Dhanni. Kamu sudah dewasa, nggak seharusnya kamu seperti ini terus.”

“Mama nggak ngerti. Aku benci dia, Ma. Aku benci dia…” Aku mulai menangis lagi.

“Tapi dia juga sama, Nes. Dia juga tersakiti karena ini.” Perkataan Mama ada benarnya juga. “Selesaikan ini dengan kepala dingin, Sayang. Kalian sudah sama-sama dewasa,” lanjut Mama lagi.

Dan aku pun hanya mengangguk.

Malamnya Kak Dhanni datang lagi ke rumah. Seperti biasa dia cuma duduk-duduk saja di ruang tamu rumahku. Mama bilang jika aku harus menemuinya. Dan aku pun turun menemuinya.

“Kamu kurusan, apa kamu sakit?” tanyanya perhatian padaku.

Aku hanya menggelengkan kepalaku.

“Nes, kita pulang ya. Mami nyari’in kamu terus,” bujuknya lembut.

Aku merasa Kak Dhanni benar-benar berubah menjadi sosok yang lembut.

“Aku belum bisa pulang, Kak,” jawabku kemudian.

“Mau sampai kapan?”

“Sampai hatiku sembuh,” potongku kemudian.

Aku melihatnya menghela napas, aku tahu dia lelah dan juga tersiksa, tapi bukankah ini yang dia mau? Dia membuat kami bertiga saling tersakiti.

“Baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu,” katanya sambil berdiri bergegas pergi.

“Jangan lupa makan, Kak. Kak Dhanni juga terlihat kurus,” kataku mengingatkan.

Aku khawatir dengannya. Bagaimanapun juga aku mencintainya walau aku membenci sikapnya.

Dia lalu mengangguk dan tanpa kusangka-sangka dia berjalan ke arahku dan memelukku. Jujur, aku sangat merindukan pelukannya. Aku kangen, Kak Dhanni, “Jaga dirimu baik-baik ya,” bisiknya lalu mencium keningku dan pergi meninggalkanku.

Ya ampun. Apakah aku sudah berdosa karena menganiaya suamiku sendiri? Menyiksa batinnya? Membuatnya bersedih? Astaga, hukum aku Tuhan, hukumlah aku.

***

Beberapa hari kemudian…

Aku sakit. Badanku demam, sakit kepala, mual, nafsu makanku menurun dan terkadang dadaku terasa sesak. Mama menyuruhku ke dokter tapi aku menolaknya. Begitu pun dengan obat, aku sama sekali tak mau meminumnya karena sejak kecil aku tak suka minum obat. Jadi aku hanya bisa meringkuk di atas ranjang kamarku.

Astaga, inikah hukuman untukku? Patah hatiku belum sembuh ditambah lagi sakit secara fisikku. Lagi-lagi aku hanya bisa menangis.

Aku mendengar pintu kamarku dibuka lalu di tutup kembali, aku terkesiap ketika melihat sosok yang berdiri di hadapanku. Kak Dhanni.

Sosok yang beberapa hari ini sangat kurindukan. Setelah pertemuan kami waktu itu, Kak Dhanni tak pernah lagi mengunjungiku. Itu membuatku semakin merindukannya. Aku selalu merenung, kupikir aku tak seharusnya menyalahkan Kak Dhanni. Aku yang salah. Karena aku terlalu plin-plan, sejak awal aku yang salah karena aku menerima Kak Renno begitu saja padahal aku tak mencintainya. Aku membiarkan diriku belajar mencintai Kak Renno ketika kami sering bersama, aku yang membiarkan Kak Renno memasuki hatiku ketika Kak Dhanni tak bersamaku. Semua salahku. Kak Dhanni hanyalah korban, sama dengan Kak Renno. Aku pantas mendapatkan hukuman seperti ini.

Aku langsung menghambur ke dalam pelukan Kak Dhanni saat kusadari dia sudah berada di hadapanku. Aku menangis. Aku merindukannya lebih dari apapun. Aku mencintainya lebih dari yang kutahu. Aku menyayanginya lebih dari rasa sayangku kepada Kak Renno. Tapi aku terlalu bodoh, aku terlalu munafik untuk melimpahkan kesalahanku dan kemarahanku kepadanya.

“Maafin aku, Kak.” Akhirnya kata-kata itu terucap walau di sela-sela isakanku.

“Tidak. Kamu nggak salah. Aku yang salah.” Suaranya terdengar bergetar.

“Terima kasih, Kak Dhanni mau menungguku selama ini.”

Dia melepaskan pelukannya lalu menangkup pipiku dengan kedua telapak tangannya. “Kita pulang ya. Kamu sakit, aku akan merawat kamu,” katanya kemudian.

Aku hanya mengangguk. Lalu dia menciumku dengan lembut, oh ciuman ini, aku sangat merindukannya.

***

Baiklah, sebut saja aku lebay karena sejak tadi aku selalu memeluk lengan Kak Dhanni, aku tak peduli. Aku hanya terlalu merindukan dekapannya.

“Kamu cuma mau makan itu? Apa nggak ada lagi?” tanyanya kemudian.

Aku hanya menggeleng. Saat ini aku memang sedang menikmati sebungkus batagor. Nggak tahu kenapa pengen aja makan batagor.

“Kamu suka batagor ya, Sayang, nanti Mami buatin deh spesial buat kamu,” kata Tante Dian yang tiba-tiba sudah berada di dapur dekat meja makan.

“Iya, Mi,” jawabku seadanya.

“Sayang, besok kamu ikut ya ke acara wisudanya Dhanni,” kata Tante Dian yang saat ini duduk di sebelahku. Jadi Kak Dhanni besok diwisuda? Kenapa aku nggak tau?

“Mi, anak-anak kan belum tahu kalau Nesa istriku, lagian Nesa masih sakit jadi.”

“Aku nggak ikut, Mi.” Aku memotong perkataan Kak Dhanni dengan ketus.

Ya.. ya… ya. .. Aku tahu, Kak Dhanni cuma nggak mau anak-anak kampus terutama para pacarnya itu tahu kalau dia sudah menikah denganku, makanya dia melarangku ikut dengan alasan yang dibuat-buat. Menyadari itu emosiku kembali naik, mood-ku kembali memburuk, hingga nafsu makanku saja kembali hilang. Membuatku mual hanya karena membayangkannya.

“Sayang, kamu tahu kan itu bukan maksudku.” Kak Dhanni mulai merayu saat dia tahu jika aku mulai memburuk kembali. Dasar perayu ulung.

“Aku tahu apa maksud Kak Dhanni.”

“Bukan gitu, Sayang, aku hanya….”

“Sudahlah, Kak. Aku capek, aku mau tidur,” kataku sambil bergegas meninggalkan Kak Dhanni dan maminya.

Aku tak tahu apa yang sedang terjadi denganku, emosiku tersulut begitu saja. Membuatku ingin meledak-ledak hanya karena masalah sepele.

***

Aku terbangun karena mencium aroma yang sangat menusuk indra penciumanku, aroma yang seksi, aroma yang hanya membayangkannya saja membuatku terbakar oleh gairah. Aroma Kak Dhanni.

Aku terduduk di ranjang melihatnya sedang berkaca. Dia sudah rapi mengenakan kemeja putih yang di mataku terlihat sangat HOT saat dikenakannya. Dia masih sibuk membenarkan rambutnya, tak menyadari jika aku sudah terduduk di sini menatapnya dengan tatapan ingin melahapnya habis sekaligus. Lagi-lagi aku tak tahu apa yang terjadi denganku, aku tak pernah begitu menginginkannya seperti saat ini. Aku ingin disentuh… dimana-mana…….

“Kamu sudah bangun.” Sapaannya menyadarkanku dari lamunan.

Namun bukannya aku membalas sapaannya, aku malah menghambur ke dalam pelukannya, membuatnya terperanjat kaget. Astaga, bahkan aku sendiri pun tak sadar dengan apa yang sudah kulakukan. Baru saja tadi malam aku meledak-ledak, Kak Dhanni juga belum sempat minta maaf, tapi pagi ini aku malah ingin menempel terus bersamanya hanya karena mencium aromanya yang seksinya. Ada apa sebenarnya denganku?

“Sayang, kamu kenapa? Mimpi buruk?” tanya Kak Dhanni kemudian.

Aku lalu menatap matanya dan menggeleng. Aku menggigit bibir bawahku sambil menjalankan jari telunjukku ke dada bidangnya, dan mulai membuka dasinya kembali.

“Nes, kamu, kamu kenapa, Sayang?” Kak Dhanni mungkin heran dengan apa yang sudah kulakukan, aku saja tak mengerti apa yang saat ini sedang kulakukan. “Aku ‘mau’ Kak,” kataku pelan.

Sontak Kak Dhanni langsung membelalakkan matanya sambil berteriak “Apa?” Sial… Sial… Aku sudah seperti wanita jalang yang sedang menjajakan diri saja. “Aduh, Nes. Aku nggak bisa, ini sudah jam 8, nanti aku telat wisudanya,” kata Kak Dhanni sambil melihat arlojinya.

Dia menolakku.

Aku melepaskan pelukanku dan dengan menghentakkan kaki aku menuju ke kamar mandi. Astaga, rasanya aku ingin menenggelamkan diriku di dalam Bak mandi. Apa yang sudah terjadi denganku? Aku malu, bagaimana aku harus menghadapi Kak Dhanni nanti?

***

Akhirnya Mami sukses memaksaku ikut ke acara wisuda Kak Dhanni. Meski sejak tadi Kak Dhanni nggak ada henti-hentinya tertawa saat melihatku. Yaaa… Aku sekarang jadi bahan tertawaan karena pikiran mesumku yang tak tahu sejak kapan bersarang di otakku. Sial.

Acara wisuda itu pun berada di sebuah ballroom mewah di salah satu hotel termewah di negeri ini. Kampusku ini memang tak tanggung-tanggung. Acaranya ramai, aku melihat kanan kiriku, mencari-cari seseorang, tapi tetap saja aku tak menemukan orang itu.

“Kamu cari dia?” Suara Kak Dhanni mengagetkanku.

Aku tahu siapa yang Kak Dhanni maksud dengan ‘Dia’. Itu Kak Renno. Yah, sejak tadi aku mencari Kak Renno. Sudah sejak malam itu aku tak pernah bertemu dengannya. Aku kangen….

“Dia nggak akan datang,” kata Kak Dhanni lagi setelah menyadari kediamanku.

“Apa maksud Kak Dhanni dengan dia nggak akan datang?”

“Dia sudah pergi.” Setelah kata-kata itu terucap dari Kak Dhanni aku merasa ada sesuatu yang menusuk tepat di dadaku, perasaan itu seperti rasa nyeri yang tak akan bisa sembuh, ada apa denganku? Apa aku masih mengharapkan kehadiran Kak Renno? Apa aku masih belum bisa menerima kenyataan jika aku tak bisa memiliki mereka berdua? Bahkan tadi pagi aku sudah memohon untuk bercinta dengan Kak Dhanni tapi kenapa perasaan ini dengan Kak Renno masih saja sama? Aku mengutuk diriku sendiri karena terlalu serakah untuk mendapatkan mereka berdua.

“Kamu nggak apa-apa kan? Wajah kamu pucat,” kata Kak Dhanni sambil memegang kedua pipiku.

“Ah… enggak, Kak,” jawabku.

Sebenarnya aku sedikit risih karena sejak tadi banyak teman-teman seangkatan Kak Dhanni yang memandangiku. Yah tentu saja mereka heran kenapa aku berada di sini di tengah-tengah keluarga besar Kak Dhanni. Apalagi tadi saat bertemu dengan Kak Maria, dia menatapku seakan-akan tatapannya bisa membunuhku. Yang benar saja, seharusnya aku yang melakukan itu.

Acara demi acara dimulai. Ini benar-benar sangat membosankan, bahkan aku sampai tertidur dalam dudukku saking bosannya. Akhir-akhir ini aku memang suka sekali tidur sembarangan. Mami membangunkanku ketika Kak Dhanni disuruh maju ke panggung untuk mewakili teman-temannya. Aku melihatnya sangat gagah, wajar saja dia banyak yang suka bahkan rela diduakan olehnya. Dia benar-benar sangat gagah. Setelah serah terima ijazah, Kak Dhanni juga dipersilahkan untuk memberikan pidato—lebih tepatnya ucapan terima kasih kepada teman-teman dan seluruh dosennya.

Dari beberapa kata yang dia ucapkan, aku pikir dia cocok jadi pemimpin. Tak heran jika dia ditunjuk untuk mewakili teman-temannya. Tanpa kusadari tiba-tiba seluruh mata di ruangan ini pun tertuju ke arahku, apa yang terjadi? Aku hanya menatap mereka dengan tatapan kebingungan.

Lalu samar-samar kudengar suara Kak Dhanni “Yaah.. dialah istriku, Nesa Arriana, terima kasih, Sayang karena kamu mau mendukungku selama ini,” katanya dengan lembut dengan sedikit senyuman licik khasnya yang menghiasi wajah tampannya.

Whattt?? Tunggu dulu. Aku baru tersadar ketika melihat senyuman licik itu. Jadi dia saat ini sedang mengumumkan hubungan kami kepada semua orang? Aku nggak tahu jika suamiku bisa bertindak seberani ini. Aku menatap mereka yang sedang memandangku, ada beberapa yang memandang dengan tatapan tak percaya dan terkejutnya, ada yang dengan tatapan kagumnya, bahkan tak sedikit yang memandangku dengan tatapan tak suka atau bencinya –yang ternyata tatapan benci itu adalah dari kebanyakan cewek di dalam ruangan ini.

Astaga, haruskah aku menghadapi mereka semua besok? Memikirkannya saja aku lelah, sungguh sangat lelah dengan apa yang akan terjadi padaku besok.

-TBC-

Advertisements

6 thoughts on “The Lady killer (Novel Online) – Chapter 14

  1. aahh makin seruu…. tapi agak sedikit kesel sama nessanya masa cinta dhani dan renno sekaligus-_- lanjutinnya jangan kelamaan ya cape ngewaiting terus hahaha..

    Liked by 1 person

  2. renno pergi
    jujur aja gk suka banget ama sikap nessa dia ceroboh dan bodoh juga kan akhirnya kena karmanya sendiri dia mencintai dua pria serakah banget
    kayaknya nessa hamil dech keliatan dari tanda”nya udah jelas

    Like

  3. Dhanni sbr bgt ya mnghdpi sikapnya Nessa yg meledak2 krn patah hati ama cwok lain,,,qu salut ama Dhanni yg nrima Nessa apa adanya,,wlw Nessa menghianatinya…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s