Novel Online · romantis

The Lady killer (Novel Online) – Chapter 13

TLK Cover

The Lady killer

Nb ; Hay….. konflik udah di mulai nihh… jangan bosen-bosen yaaa bacanya,,, hehehheehhe

 

Chapter 13

Berakhirlah sudah….

 

Akhirnya kami pun kembali Ke Jakarta. Kak Dhanni kembali menjadi pendiam sejak di perjalanan, aku tahu apa yang sedang dia pikirkan, karena pastinya pikiran kami sama. Bagaimana cara menghadapi Kak Renno nantinya.

Kak Dhanni mengantarku pulang ke rumahku terlebih dahulu, katanya dia akan kembali ke kantor karena ada urusan penting. Dia bilang dia akan kembali nanti sore untuk menjemputku, aku akan pindah ke rumahnya.

Dia mencium keningku lalu beranjak pergi. Aku melihat ada sebuah kilatan di tangannya. “Kak Dhanni memakainya?” tanyaku ketika melihat sebuah cincin melingkar di jari maninya. Cincin pernikahan kami.

“Apa kamu melarangku memakainya?” tanyanya dengan menaikkan sebelah alisnya.

“Ehh enggak, tapi bukannya nanti ada yang curiga sama hubungan kita?”

“Itu lebih baik,” katanya kemudian. “Dan aku akan memberitahu Renno tentang hubungan kita,” lanjutnya lagi membuat tubuhku menegang.

“Kak, emm izinkan aku sendiri yang memberitahu Kak Renno.”

“Kamu yakin kamu bisa memberitahu ini padanya?”

Dan aku hanya mengangguk lemah. Jujur saja aku tak yakin. Aku tak yakin bisa memberitahu masalah ini pada Kak Renno karena aku tahu ini akan menyakiti perasaannya, akan membuatnya kecewa. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus mengatakannya.

“Ya sudah, aku pergi dulu ya. Jaga diri kamu baik-baik, nanti jam lima aku jemput,” kata Kak Dhanni lalu dia mengecup singkat bibirku. Dan aku hanya diam dan mengangguk.

***

Aku membuka mata mendapati diriku terbangun di sebuah kamar yang berbeda. Oh, aku hampir saja melupakan jika aku sudah pindah ke rumah Kak Dhanni, di kamar Kak Dhanni. Entah kenapa kamar ini begitu mempengaruhiku, membuatku membayangkan kejadian-kejadian erotis yang nantinya akan aku lakukan dengan Kak Dhanni di sini. Aku sudah gila. Aku bahkan sudah merasakan pipiku yang memanas karena mengingat kejadian panas yang aku lakukan dengan Kak Dhanni pagi ini sebelum aku tertidur kembali dan baru bangun siang ini.

Siang? Aku langsung terduduk ketika aku menyadari jika ini bukan padi lagi. Sial! Jam 1 Aku ada kelas di kampus.

“Kamu kenapa?” tanya suara berat yang tanpa aku sadar sudah berada di hadapanku sejak tadi. Dia Kak Dhanni, suamiku yang saat ini sudah ganteng dan rapi mengenakan Kemeja Putihnya.

“Aku lupa, jam 1 nanti aku ada kelas, Kak,” jawabku sambil bergegas berdiri. Aku mengernyit ketika mendapati diriku yang sudah mengenakan kemeja lengan panjang kebesaran yang aku yakini adalah milik Kak Dhanni. Tanpa sehelai pakaian dalam pun. Aku merasa saat ini aku sedang berperan sebagai tokoh utama di sebuah film erotis.

Tapi, siapa yang memakaikan kemeja ini di tubuhku? Pertanyaan ini tak berlaku lama ketika aku melihat seringaian licik yang berada di wajah Kak Dhanni. “Kamu seksi saat menggunakan itu,” katanya sambil melangkah pelan menuju ke arahku. Dia sudah seperti singa yang sedang mengitari mangsanya saja.

“Kak sudah deh, jangan mulai lagi, aku sedang buru-buru.”

“Hanya lima menit.”

“Enggak,” jawabku dengan tegas.

“Ok. Ok. Tapi bantu aku pakaikan dasi ya,” katanya manja, dan astaga. Aku benar-benar geli saat melihatnya manja-manjaan gini denganku.

“Gimana caranya? Aku nggak bisa,” kataku polos, karena jujur saja aku memang tak tahu bagaimana caranya memakaikan dasi.

“Sini aku ajari.” Dan Kak Dhanni pun mengajariku dengan memegang lembut kedua tanganku, membuat sampulan-sampulan aneh. Dan jadilah dasi Rapi ala kami berdua yang melingkar dengan gagah di lehernya. “Gimana, kamu sudah tahu caranya kan?”

Aku hanya menggeleng dan tersenyum. Astaga, jujur saja aku sama sekali tak tahu karena tadi aku sama sekali tak memperhatikannya ketika dia sedang mengajariku, aku lebih sibuk mengatur detak jantungku yang semakin menggila. Aku gugup, gugup setengah mati bahkan di hadapan suamiku sendiri. Ini benar-benar tidak masuk akal. Kak Dhanni benar-benar membuatku semakin gila.

***

Aku sampai di kampus jam setengah satu karena harus naik taksi dan terjebak macetnya Jakarta yang memang membuatku ingin berteriak sekencang-kencangnya karena frustrasi.

Kak Dhanni menawariku untuk mengantarku ke kampus dengan motornya tapi tentu saja aku menolaknya mentah-mentah. Gimana pandangan anak-anak nanti ketika mereka tahu aku ke kampus dengan diantar oleh Kak Dhanni? Bisa-bisa aku dimusuhi oleh seluruh populasi wanita di kampus ini, aku belum siap dengan kejadian itu. Lagian aku juga belum memberi tahu Kak Renno tentang keadaanku yang sebenarnya. Setidaknya aku harus memberi tahunya terlebih dahulu sebelum dia mengetahui itu dari orang lain.

“Sayang, kamu ke mana aja?” Dan orang yang sedang berada di dalam pikiranku ini pun sukses mengagetkanku dengan kemunculannya secara tiba-tiba. “Kamu tahu nggak selama seminggu ini aku gila karena nyari’in kamu?” katanya lagi kali ini sambil memelukku. Aku merinding karena pelukannya.

“Kak, nggak enak dilihat yang lainnya,” kataku kemudian.

“Biar aja, mereka kan tahu kalau kita sudah pacaran,” jawab Kak Renno masih dengan memelukku. Ok. Aku kalah. Hari ini aku berniat memberitahu Kak Renno, tapi, nyaliku menciut ketika memandang wajahnya, Aku tak bisa membuatnya kecewa.

Menit demi menit, jam demi jam pun berlalu dengan Kak Renno yang selalu setia berada di sebelahku ketika kelas selesai. Bahkan saat ini dia sedang mengantarku pulang. Oh God, aku harus mengakhiri semua ini secepatnya sebelum perasan ini semakin aneh.

“Kamu telihat berbeda, ” katanya kemudian.

“Berbeda gimana, Kak?”

“Kamu lebih pendiam, ada apa? Apa ada masalah?”

Kamu masalahnya, rutukku dalam hati. “Ahh enggak kok, Kak.”

“Dari seminggu yang lalu Dhanni juga ngilang, kenapa bisa kebetulan banget ya.” Dan setelah pernyataan itu aku yakin jika saat ini wajahku memucat, Apa Kak Renno sudah curiga dengan aku dan Kak Dhanni?

Dan pada saat itu juga aku mendengar HP-ku berbunyi, aku melihat ID Callnya, dan terpampang jelas nama ‘My Hubby’ sedang meneleponku. Aku mematikannya, tentu saja aku tak mungkin mengangkatnya di hadapan Kak Renno.

“Siapa? Kenapa nggak diangkat?” tanya Kak Renno penasaran.

“Bukan siapa-siapa, Kak, cuma orang jail aja,” kataku meyakinkan.

Tapi sialnya HP-ku kembali berbunyi. “Siapa tahu penting, Nes,” kata Kak Renno lagi.

“Nomernya aja unkown, pasti cuma orang jail.” Lagi-lagi aku berbohong.

Lalu tanpa pikir panjang lagi aku mematikan HP-ku. Maaf Kak, Kalau aku terima telepon Kak Dhanni akan aku pastikan jika Kak Renno akan mengetahui semuanya, dan aku belum siap dengan kenyataan itu, kataku dalam hati.

Aku pun sampai di rumahku dengan selamat. Kak Renno lagi-lagi menciumku di kening. Walau hanya di kening tapi tetap saja aku merasa berdosa, aku sudah memiliki suami. Aku menunggu Kak Renno hingga hilang di balik tikungan blok perumahanku. Lalu aku berbalik dan beranjak masuk. Belum sempat aku membuka gerbang rumahku aku merasakan ada mobil yang berhenti tepat di belakangku.

Aku membalikkan badan kembali dan alangkah terjkejutnya aku ketika mendapati mobil Kak Dhanni yang terparkir di hadapanku. Kak Dhanni keluar dengan wajah sangarnya.

Dia sedang marah.

“Dari mana saja kamu?” tanyanya dingin.

“Aku dari….”

“Kamu tahu kalau aku mengkhawatirkanmu? Kutelepon berkali-kali tapi nggak diangkat. Aku cari di kampus tapi satpam kampus bilang semuanya sudah pulang, kamu dari mana aja?” omel Kak Dhanni panjang lebar terhadapku.

“Aku…, aku tadi makan sama Kak Renno.”

“Apa?” Dia membentakku.

“Maaf.”

“Apa dia yang nganterin kamu pulang?”

Aku hanya mengangguk.

“Apa dia cium kamu lagi?”

Lagi-lagi aku mengagguk.

“Apa kamu sudah mengatakan yang sebenarnya dengannya?” Kak Dhanni bertanya sambil menatapku tajam.

Kali ini aku menggeleng. Dan aku melihat Kak Dhanni memejamkan matanya lalu mengusap wajahnya dengan frustrasi.

“Ayoo ikut aku. Kita jelaskan sekarang juga di hadapan Renno,” katanya kemudian.

“Enggak.. enggakk Kak, Aku belum siap.”

“Apa lagi yang kamu tunggu?” kali ini Kak Dhanni berteriak dengan frustrasi.

Dia terlihat menyeramkan ketika sedang marah seperti ini. Aku takut.

“Maafin aku, aku cuma terlalu emosi, tapi kita harus segera memberi tahunya,” kata Kak Dhanni melembut. Dia mungkin tahu jika aku sudah ketakutan.

“Beri Nesa waktu, Kak. Aku janji aku sendiri yang akan memberi tahunya,” rengekku padanya. Aku melihat Kak Dhanni memejamkan matanya sambil menghela napas panjang.

“Ok. Baiklah, tapi aku nggak mau ada ciuman-ciuman lagi,” kata Kak Dhanni kemudian.

“Aku janji,” kataku sambil mengangguk.

Dan akhirnya berakhirlah pertengkaran rumah tangga kami yang terjadi di depan gerbang rumahku. Astaga, aku baru sadar jika tadi kami saling berteriak di pinggir jalan. Apa ada orang yang melihatnya? Semoga saja tidak.

***

Walau kami sudah tidak marahan lagi tapi aku tahu jika Kak Dhanni masih kesel denganku. Buktinya aja malam ini dia tidur sambil memunggungi aku. Hufftt, aku memang salah, tapi aku nggak suka didiamkan seperti ini.

Paginya…

“Kita berangkat ke kampus bareng,” kata Kak Dhanni saat sarapan dan itu sukses membuatku bengong.

“Kak, tapi aku belum….”

“Kalau kamu belom siap, aku akan nurunin kamu di jalan nanti.” Dia memotong kalimatku dengantegas, dan aku tahu jika saat ini aku tak bisa menolaknya.

Sial!

Dan sisa waktu sarapan itu kami habiskan dengan cara saling berdiam diri. Untung saja Mami sama Papi Kak Dhanni lagi di luar kota, jadi mereka nggak tahu kalau kami sedang perang dingin seperti ini.

***

Kak Dhanni nggak bohong. Benar saja, dengan dinginnya dia menurunkan aku di halte bus dekat kampus kami. Bahkan tanpa sedikit pun basa-basi dia langsung menancap gas untuk meninggalkanku. Sialan! Suami berengsek..!

Yaaa, kutuk aku karena aku sudah mengatai suamiku. Tapi mood-ku kali ini benar-benar buruk. Aku memang salah, tapi aku nggak suka cara dia perlakukan aku seperti itu. Lagian bukannya Kak Dhanni juga masih punya cewek lain selain aku?

Aku memutuskan untuk berjalan kaki saja dari halte bus, tapi baru beberapa langkah kaki aku mendengar sebuah mobil yang berjalan pelan di sebelahku mengklaksonku. Saat aku menoleh, entah mengapa senyumku pun langsung mengembang. Yapp, dia Kak Renno, pangeran penolongku.

Terlalu lebay jika aku menyebutnya sebagai pangeran penolong, tapi aku tak peduli. Toh dia memang menolongku karena sekarang aku sudah duduk manis di jok penumpang mobilnya.

“Kok kamu jalan kaki, Sayang?” Dia selalu memperlakukanku lembut. Nggak kayak Kak Dhanni yang perlakuannya musiman kayak pedagang buah aja.

“Tadi dianter Papa sampek halte aja, soalnya Papa ada meeting penting.” Aku berbohong lagi.

“Lain kali kalau Papa kamu sibuk hubungi aku aja, aku pasti jemput kamu,” kata Kak Renno sambil memasangkan sabuk pengaman untukku. Oh astaga, aku sampai menahan napas agar tak mencium aromanya yang menggoda. “Ok. Kita jalan ya,” katanya kali ini sambil mengusap-usap poniku.

Astaga, jika suatu saat nanti hubunganku dan Kak Renno memburuk, aku akan sangat merindukan saat-saat seperti ini.

Kami pun sampai di parkiran kampus. Dan sepertinya kesialanku hari ini belum berakhir karena aku melihat Kak Dhanni yang menatapku saat turun dari mobil Kak Renno. Dia menatapku sangat tajam seakan-akan tatapannya mampu membunuhku. Pagi ini dia mengenakan celana jeans hitamnya, jaket kulit serta T-shirt putih di dalamnya, bersedekap dan menyandarkan tubuhnya di mobil dengan tatapan sangarnya itu. Dia sudah mirip seperti bos-bos mafia yang akan membunuh lawannya.

“Dhan, Lo ke mana aja, baru muncul,” sapa Kak Renno sambil menggandengku ke arah Kak Dhanni. Kak Dhanni menatapku dengan tajam, dan aku hanya bisa menunduk. Rasanya aku ingin tenggelam saja ke dasar laut dari pada mendapatkan tatapan membunuh dari suamiku sendiri.

“Gue baru nikah,” jawaban Kak Dhanni dingin tapi benar-benar mampu membuat kakiku lemas. Astaga, aku mohon, Kak, jangan katakan itu saat ini.

“Omong kosong Lo Dhann. Mana mungkin Lo nikah. Hahahaha” Kak Renno nggak percaya. Semoga saja Kak Dhanni nggak menjatuhkan bom atom itu saat ini juga.

Kak Dhanni menatap Kak Renno dengan tajam. “Lo nggak liat ini, Gue benar-benar sudah nikah,” kata Kak Dhanni sambil menunjukkan jari manisnya yang dilingkari oleh cincin pernikahan kami. Kak Renno menatapnya dengan ternganga, seakan-akan tak percaya, aku juga sama, aku nggak nyangka Kak Dhanni akan melakukan hal senekat ini.

Lalu Kak Dhanni pergi begitu saja meninggalkan kebingungan kepada kami. Kak Renno memandangku. “Sayang, apa dia serius?” tanya Kak Renno yang masih dengan raut kebingungan.

“A…, aku, aku nggak tahu.” Aku tergagap dan sedikit gemetaran menanggapi pertanyaan Kak Renno.

“Kita masuk aja yuk, nanti biar aku tanya lagi sama Dhanni.”

Aku hanya mengangguk. Badanku benar-benar sudah gemetar karena membayangkan apa yang akan dilakukan Kak Dhanni selanjutnya. Aku takut, di dalam kelas pun sama, aku sama sekali tak bisa berkonsentrasi dengan pelajaran-pelajaran, pikiranku selalu tertuju pada kedua lelaki yang memporak-porandakan perasaanku.

Kelas pun selesai, aku langsung berlari menuju ke kantin tempat yang aku tahu biasa Kak Renno dan Kak Dhanni nongkrong, tanpa mempedulikan Dewi yang teriak-teriak nggak jelas karena ingin bergosip ria denganku. Tapi ketika kakiku sampai pada area kantin, betapa terkejutnya aku melihat pemandangan di hadapanku, langkahku langsung terhenti ketika melihat suamiku saling bergandeng mesra bahkan mengecup satu sama lain dengan selingkuhannya yang cantik dan seksi itu, Kak Maria.

Mataku berkaca-kaca, seperti itukah kelakuan Kak Dhanni di belakangku? Aku membalikkan badanku ingin rasanya aku menghilang dari hadapannya tapi aku mendengar langkah kaki berlari mendekatiku. Aku berharap itu kaki suamiku, tapi bukan, itu adalah kaki penolongku, Kak Renno. Tanpa pikir panjang lagi aku memeluknya erat-erat. Aku butuh sebuah dada bidang untuk meringankan tangisku. Aku butuh sebuah pundak untuk tumpuan kesedihannya. Dan dialah orangnya, Kak Renno.

Kak Renno mengajakku keluar dari area kantin sambil menggandengku. Sekilas aku melirik Kak Dhanni matanya menyala penuh dengan amarah, tapi aku tak peduli. Dia sudah menyakiti perasaanku.

***

Aku membuka mataku mendapati hari yang sudah gelap. Aku melihat jam di nakas menunjukkan pukul 8 malam, astaga, aku sudah ketiduran selama itu. Tadi siang setelah pulang dari kampus aku menangis di dalam kamar Kak Dhanni sampai ketiduran hingga baru bangun saat ini.

Aku bergegas mandi. Setelah selesai, aku mengganti bajuku dengan piama, aku ingin turun, makan dan bergegas tidur kembali, aku tak peduli apa Kak Dhanni sudah pulang atau belum. Aku masih marah dan kesal dengannya.

Tapi ketika kakiku menuruni tangga terakhir, betapa terkejutnya aku mendapati pemandangan di hadapanku. Dua orang lelaki sedang menatapku dengan tatapan masing-masing. Yang satu suamiku, sedang menatapku dengan seringaian liciknya, yang satu lagi Kak Renno, menatapku dengan tatapan terkejut dan tatapan tanda tanyanya.

“Sayang…. Kenapa, kenapa kamu di sini?” tanya Kak Renno sambil tergagap.

Aku masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Lalu Kak Dhanni pun melangkah ke arahku, merengkuh pinggangku dengan mesra. “Tadi Lo pengen tahukan siapa istri gue?” Kata Kak Dhanni kemudian. “Dialah istri gue, Nesa Arriana,” katanya dingin namun sedikit menyunggingkan senyuman liciknya.

Selesai…. Semuanya sudah selesai. Berakhir sangat buruk. Aku melihat keterkejutan yang sangat tampak di wajah Kak Renno. Wajahnya memucat, mungkin sama pucatnya dengan wajahku. Apa ini rencana Kak Dhanni? Kenapa dia tega melakukan ini semua terhadapku?

-TBC-

Advertisements

5 thoughts on “The Lady killer (Novel Online) – Chapter 13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s