Novel Online · romantis

The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 12

TLK Cover

The Lady Killer

Nb : maaff lama bgt yaaa kelanjutannya.. hehhehe authornya kemaren lagi konsen menyelesaikan TPOL yang sekarang alhamdulillah udah End… Ok… tidak ada yang special ada Chapter 12 ini.. dan lagi jangan terpegaruh dengan judul Chapternya yaaa…. karena ini jenis Novel Metropop jadi bisa di pastikan tak akan ada adegan-adegan Erotis seperti di ffku yang lain (Kecewa penonton hehehe). Ok… Happy Reading aja dehh… 😉 🙂

 

Chapter  12

Honeymoon….????

 

“Ahh, kenapa susah sekali!” rutuk Kak Dhanni sedikit kesal.

“Kak, pelan-pelan.”

Aku meliriknya sekilas, keringatnya mulai bercucuran, sepertinya dia konsentrasi sekali. “Awww, Kak, pelan-pelan.” Aku berteriak karena dia menyakitiku.

“Ah, akhirnya bisa juga,” desahnya lega.

“Ya tapi ini resletingku jadi rusak kan. Aduhh, mana sakit lagi rambutku.” Aku menggerutu kesal.

Jangan bilang tadi kalian berpikir yang aneh-aneh. Kak Dhanni cuma membantuku membuka resleting dres di punggungku yang tersangkut rambutku. Hahaha.

Sudah tiga hari ini kami berada di Bandung sejak pernikahan mendadak kami di rumah sakit. Kata Kak Dhanni kami akan berada di sini selama seminggu, hitung-hitung pengganti buan madu kami. Hahahahaha bulan madu apanya, yang benar saja.

Kak Dhanni bohong tentang menginap di rumah kakeknya, kami memang masih di Bandung, tapi kami hanya tinggal berdua di Villa milik keluarga Kak Dhanni. Bisa dibayangkan sendiri kan, sepasang pengantin baru muda yang hanya tinggal berdua. Yah, kami melakukannya di mana pun dan kapan pun jika percikan gairah itu tak sengaja terpancing. Hehehe.

Seperti saat ini, setelah dia membantuku membuka resleting, tiba-tiba dia mengecup lembut punggungku. Aku tahu apa yang dia inginkan. Dasar mesum.

“Kak, jangan mulai lagi deh.”

“Kamu nggak mau?” tanyanya sedikit kesal.

“Astaga, bukan gitu, kita kan mau makan di luar, kapan makannya kalau main-main terus.”

“Kita nggak sedang main-main kok.” Suaranya mulai parau. Astaga, sejak kapan lelaki dingin bin cuek ini berubah menjadi lelaki penggoda?

“Ayooo sudah, cepet ganti baju, aku sudah kelaparan nih, Kak,” kataku sambil membalikkan tubuh kekarnya itu menuju ke kamar mandi.

“Mulai berani eh sama suami.”

“Kak Dhanni juga sudah mulai genit sama istri,” jawabku sambil bersedekap.

“Ok… Aku akan mandi dan ganti baju, tapi kiss-nya dulu,” katanya sambil memejamkan mata.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku, beginikah sisi asli Kak Dhanni? Dan mau nggak mau aku pun mengecup bibir Kak Dhanni, cuma mengecup loh ya. Dan bukan Kak Dhanni namanya kalau dia tidak membuat jantungku seakan melompat dari tempatnya, tanpa kusangka-sangka dia dia memegang tengkungku dan menekannya supaya ciuman kami tidak lepas.

Dan lagi-lagi dia memulai aksinya yaitu mengulum bahkan melumat habis bibirku seakan tak akan ada lagi hari esok. Jika ditanya bagaimana rasanya? Aku hanya bisa menggelengkan kepala, He is a good kisser.

Dia melepaskan ciumannnya lalu mengecup sekali lagi bibirku dengan singkat. “Aku mandi dulu ya, Sayang,” katanya kemudian lalu meninggalkanku yang masih ternganga begitu saja. Apa dia sudah mulai tidak waras?

***

Kami makan malam di sebuah kafe tempat nongkrong anak muda bukan sebuah restoran mewah. Sampai saat ini aku benar-benar terpesona oleh lelaki yang berada di hadapanku saat ini, Kak Dhanni, suamiku. Entah kenapa aku sama sekali tak menemukan kekurangan sedikitpun dalam dirinya– kecuali jika sifat cueknya kambuh.

Dari mulai cara berpakaian, otomotif, sampai tempat nongkrong pun seleranya benar-benar, wooww… Saat ini dia memakai T-shirt putih dengan celana pendek khasnya. Terlihat sangat tampan, tentu saja, bahkan tadi ketika kami jalan bareng tak sedikit mata perempuan yang memandangi suamiku ini.

Sedangkan aku, aku hanya mengenakan kaos oblongku dengan bawahan celana pendek di atas lutut. Tumben sekali malam ini Kak Dhanni mengizinkanku memakai pakaian seperti ini. Tapi sedikit risih juga karena sejak tadi tangan Kak Dhanni tak pernah lepas dari pinggangku.

Kami ke kafe ini mengendarai motor sport-nya, yah dia memang lebih suka naik motor dari pada naik mobil. Dan entah kenapa menurutku itu terlihat lebih macho dan hot. Astaga, apa yang sedang kupikirkan? Kenapa otakku mulai mesum begini?

Ketika kami sedang asyik makan, tiba-tiba ada sepasang kaki jenjang yang berjalan menuju ke arah kami. Siapa wanita itu? Jangan bilang kalau itu mantan apalagi masih pacar Kak Dhanni.

“Hai, Dhan, gimana kabar kamu?” sapanya yang menurutku suaranya terdengar genit. Dasar ular.

Aku melihat Kak Dhanni menegang. “Farah, kamu kok di sini,” jawab Kak Dhanni sedikit kaget.

“Aku tadi liat kamu di sana, terus kusamperin aja,” kata wanita yang barnama Farah itu sambil langsung duduk di dekat Kak Dhanni. Apa-apaan dia, nggak pakek permisi langsung duduk seenaknya.

“Siapa cewek ini? Mainan baru kamu ya?” tanyanya sambil melirik ke arahku.

Apa? Mainan? Bisa-bisanya wanita ini bilang aku mainannya Kak Dhanni.

Dan aku hanya melihat Kak Dhanni tersenyum. “Bukan, dia bukan mainanku,” kata Kak Dhanni kemudian. Ayo kak cepat bilang kalau aku istrimu. “Dia hanya teman tidurku,” kata Kak Dhanni sambil tertawa. Dan itu benar-benar membuatku sangat jengkel terhadapnya apalagi dengan wanita itu ikut tertawa dan merangkul suamiku di hadapanku. Amarahku benar-benar sudah mendidih.

Sambil berdiri kuletakkan sendok serta garpu di meja dengan sedikit membantingnya. Aku kesal, benar-benar sangat kesal. Kak Dhanni kaget dengan tingkah lakuku, dia menghentikan tawanya dan ikut berdiri. “Kenapa, Sayang?” tanyanya kemudian.

“Aku mau pulang,” kataku sedikit bergetar.

“Astaga, ayolah, Sayang. Aku cuma bercanda, dia sahabatku ketika aku tinggal di rumah kakek di Bandung,” jelasnya. Dan aku hanya terdiam.

Ok, fine. Far, kenalkan, dia adalah Nesa, istriku,” kata Kak Dhanni yang saat ini sudah berada di sebelahku dan merangkul pinggangku.

Wanita yang bernama Farah itu terlihat terkejut mendengar penjelasan Kak Dhanni. “Istri? Kamu sudah nikah?” tanyanya tak percaya.

“Ya, kami menikah tiga hari yang lalu,” jawab Kak Dhanni.

“Kenapa nggak undang-undang?”

“Cuma akad aja kok, resepsinya belom.”

“Jangan bilang kalau kamu nikah karena dia hamil dulu….”

“Hahaha Far… pliss deh yaa, dia bukan tipe cewek seperti pacar-pacarku dulu. Lagian aku nggak mungkin ngerusak orang yang kusayangi.” Dengan mendengar penjelasan Kak Dhanni yang panjang lebar itu tiba-tiba tubuhku menegang, hatiku menghangat.

Baru kali ini Kak Dhanni bilang kalau dia menyayangiku, ya walaupun itu secara tidak langsung.

“Sayang, dia Farah, sahabatku, tetangga Kakek. Sejak kecil kalau aku main ke rumah Kakek, aku selalu bermain dengannya,” kata Kak Dhanni kemudian, dan entah kenapa situasi itu membuatku tak suka. Aku lebih suka si Farah ini menjadi mantan Kak Dhanni daripada menjadi sahabatnya.

Dengan cemberut aku mengulurkan tanganku dan dia pun membalas uluran tanganku.

Tentu saja sekarang aku kembali duduk mendengarkan cerita dua sahabat yang sudah lama tak bertemu. Aku merasa asing, merasa diacuhkan. Kak Dhanni lebih suka bercerita bahkan bercanda-canda dengan wanita itu. Sial! Tahu gini aku pulang saja tadi.

Apa aku cemburu? Ya, aku memang cemburu. Aku tak akan malu mengakuinya toh sekarang status kami sudah jelas. Dia suamiku. Harusnya Kak Dhanni mempertimbangkan perasaanku.

“Far, kayaknya kita balik dulu deh. Kasihan Nesa sepertinya sudah capek,” kata Kak Dhanni kemudian.

“Iya, tahu, tahu, yang pengantin baru,” goda wanita itu yang lagi-lagi suaranya terdengar genit di telingaku. Kami pun berdiri, dan tanpa kusangka-sangka si wanita ular itu pun langsung memeluk Kak Dhanni, dan dengan lempengnya dia mencium kedua pipi Kak Dhanni. Kak Dhanni pun membiarkannya, dia terlihat sudah biasa diperlakukan seperti itu. Sialan! Lelaki bajingan.

Oke, anggap saja aku gila karena sudah mengatai suamiku bajingan. Tapi aku tak peduli. Aku benar-benar tak suka dengan pemandangan di hadapanku.

Masih dengan berwajah masam dan bibir yang manyun 5 centi, aku mengikuti Kak Dhanni ke parkiran lalu ikut menaiki motornya. Jika tadi pas berangkat aku tak segan-segan memeluknya dari belakang, kini berbeda. Aku sama sekali tak memeluknya, bahkan memegangnya pun enggan. Biar saja aku terjatuh dari atas motor aku tak peduli, hatiku masih sakit. Dan Kak Dhanni belum minta maaf kepadaku.

Dia menjalankan motornya dengan sangat pelan. Tiba-tiba diraihnya tanganku yang berada di atas pahaku lalu dilingkarkannya di perutnya mau tak mau itu membuatku seakan-akan memeluknya dari belakang. Dia masih menggenggam tanganku yang berada di perutnya dan hanya menyetir dengan satu tangan. Oh astaga, kami seperti orang yang sedang pacaran saja.

“Sayang, kamu marah ya?” tanyanya pelan. Sejak menikah, dia memang selalu memanggilku dengan sebutan sayang. Dan sumpah, ketika dia memanggilku seperti itu yang ada di otakku adalah ingin mencium habis bibirnya itu sampai dia kehabisan napas.

“Enggak,” jawabku dengan nada sedikit cuek.

“Jangan marah ya. Dia cuma temen aja kok, nggak lebih,” katanya kali ini sambil mengangkat tanganku dan menciumnya. Entah hanya aku yang terlalu lebay atau memang Kak Dhanni yang berubah menjadi sosok yang romantis. Dia benar-benar berbeda dari biasanya.

“Kita muter-muter dulu ya. Masih sore ni,” lanjutnya kemudian.

“Terserah Kak Dhanni aja.” Aku menjawab masih dengan nada cuek. Tapi kali ini tak ada balasan darinya. Dia melanjutkan mengendarai motornya hanya dengan satu tangan.

***

Tepat pada pukul 11 malam kami sampai di villa. Aku berjalan sedikit lebih cepat dan Kak Dhanni mengejarku dari belakang.

“Nes, Nesa,” katanya sambil meraih tanganku. Astaga, ini sudah seperti di adegan drama Korea yang biasa aku tonton saja.

“Ada apa, Kak? Aku capek, mau tidur,” kataku kemudian.

Lalu tanpa kuduga dia memelukku dengan sangat erat. “Jangan marah lagi ya,” katanya kemudian.

“Aku nggak marah, aku cuma kesel aja.” Dan keluarlah air mata sialan ini yang sejak tadi sudah kutahan. “Kak Dhanni keterlaluan banget tahu nggak,” kataku sambil terisak. Bodoh. Dasar anak kecil. Begini aja ditangisi, rutukku pada diriku sendiri.

“Kak Dhanni memang salah, Kak Dhanni minta maaf ya. “

“Tapi janji nggak boleh diulangi lagi.”

“Iya, Kak Dhanni janji.” Lalu tiba-tiba dia mengangkat wajahku, dan bisa ditebak, apa lagi kalau bukan menyerang bibirku secara membabi buta.

Jika kalian bertanya apa yang terjadi setelah ini, aku tak akan menjawabnya. Ya, kami melakukannya lagi dan lagi, hingga tersungkur kelelahan lalu tertidur dan terbangun pada esok sore harinya karena perut yang sudah keroncongan.

Selalu seperti itu hari-hari yang kami lalui di Bandung selama seminggu ini. Hari-hari manis semanis madu. Jika orang biasa menyebutnya honey moon, maka aku menyebutnya honey week. Karena ini terjadi hanya seminggu. Kami tak bisa terlalu lama cuti. Kak Dhanni masih disibukkan dengan pekerjaannya di kantor, sedangkan aku juga masih disibukkan dengan menggarap Skripsi yang sudah mulai aku kerjakan.

Dan selama sisa hari-hari di Bandung itu, tak ada nama Kak Renno disebut. Aku juga bingung, mau dibawa ke mana hubungan kami bertiga nantinya. Aku nggak mau memikirkannya dulu. Begitupun Kak Dhanni terlihat enggan memikirkan masalah tentang Kak Renno.

Kami berusaha memanfaatkan waktu kebersamaan kami kali ini sebaik mungkin, seindah mungkin. Karena kami tahu setelah kembali ke Jakarta masalah sudah menanti kami.

-TBC-

 

Advertisements

6 thoughts on “The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 12

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s