romantis

The Lady Killer (Novel online) – Chapter 10

TLK Cover

The Lady Killer

Nb ; Maaf jika banyak kalahan dalam pengetikan dan terlalu lama postnya… happy reading… 😉 :*

 

Chapter  10

Kangen…

 

Aku terbangun dari tidur  indahku karena mencium aroma yang sangat harum, bukan, itu bukan Aroma masakan mama. Aroma ini sangat familiar di dalam ingatanku hari ini. Aroma Wangi Khas Seorang lelaki bercampur dengan segarnya aroma sabun mandi. Ohh astaga,,, aroma ini benar-benar sexy.  Sexy..? tunggu dulu… sebenarnya apa yang sedang ku hirup saat ini.

Sontak aku membuka mataku lebar-lebar. Dan betapa kagetnya karena pagi ini aku tidak berada di dalam kamarku yang keseluruhan interiornya berwarna ungu. semua interior kamar ini berwarrna hitam, sangat maskulin dan cocok sekali sebagai kamar seorang lelaki.

Whaatt…? aku baru ingat jika sudah sejak tadi malam aku melihat kamar ini. Kamar Kak Dhanni. Tunggu dulu, jadi maksudnya tadi malam aku tidur disini gitu..? nggak.. itu nggak mungkin kan..?

“Kamu udah bangun..?” tanya suara berat yang baru aku sadari ternyata pemilik suara itu adalah kak Dhanni yang
saat ini sedang sibuk membenarkan Dasinya di depan Kaca.

Dan ketika aku memperhatikannya, ohh God… Dia benar-benar Ha-o-te Be-ge-te…. mengenakan kemeja putih dan tatanan rambut yang sudah di sisir rapi keatas dengan sibuk mengenakan dasi hitamnya, oh astaga… baru kali ini aku melihat seorang yang mengenakan Dasi dan itu membuatku kepanasan. Apa lagi kita ada di dalam satu ruangan yang sama membuat imajinasiku pagi ini benar-benar liar.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Apa yang terjadi denganku pagi ini..

“Kok malah ngelamun sih.. di tanyain juga malah bengong.”

“Emmm kenapa aku bisa di sini Kak..?”

“kamu lupa.. tadi malam kamu ketiduran disini.”

“Trus Kak Dhanni tidur dimana..?”

“Yaa di situ lah.. emangnya mau dimana lagi.”

“Appaaaa…?”

“Udah deh.. nggak usah Lebbay, sekarang cepet mandi trus turun temenin aku sarapan.” Dan akupun menuruti semua perkataanya tanpa banyak omong lagi. Sejujurnya aku memang ingin cepat lari kekamar mandi. Bayangkan saja, dia yang berdiri disana sudah rapi ganteng dan wangi, sedangkan aku, ohh ayolah… rambut berantakan dan penampilan yang nggak banget khas orang bangun tidur, semoga saja tidak ada bekas air liur yang menempel di ujung bibirku.

***

“Aku musti cepat pulang Kak, mama pasti khawatir.” Kataku setelah mandi dan turun untuk menemani kak Dhanni sarapan. Di sana sudah ada beberapa pembantu Kak Dhanni yang siap melayani kami sedangkan kak Dhanni sendiri sudah duduk dengan Elegannya menikmati sarapannya.

“Aku sudah telepon mama, dan dia bilang kalau tidak masalah, dia senang kamu bersamaku.” Jawabnya tanpa sedikitpun melirik kearahku.

Mama..? Sejak kapan dia manggil mamaku dengan sebutan se akrab itu..?

“Kenapa Tadi malam nggak bangunin aku..? Kalo Kak Dhanni bangunin aku kan aku bisa pulang tadi malam..” kataku sedikit menggerutu.

Dia lalu meninggalkan apa yang baru saja dia lakukan, dan dia memandangku dengan tajam. “Apa kamu tau tadi malam Si Renno pacar kamu itu pulang jam berapa, Jam 3 pagi.” Jawabnya kemudian, dan aku baru mengingat kejadian tentang kak Renno.

Tadi malam Setelah pembantu Kak Dhanni memberitahukan tentang kedatangan Kak Renno, aku dan Kak Dhanni langsung panik. Kak Dhanni bahkan tak henti-hentinya mengumpat dan menyumpahi Kak Renno, sahabatnya sendiri. Lalu kak Dhanni menyeretku ke sebuah kamar di lantai tiga yang aku tau sekarang itu adalah kamar Kak Dhanni.

“Kamu di sini aja ya.. aku akan urus Renno.”

“Kak Dhanni mau apain Kak Renno.?”

“Kamu tenang aja, aku nggak akan ngapa-ngapain dia kok, aku akan nemenin dia.” Jawabnya lagi lalu bergegas pergi. Tapi baru beberapa langkah dia kembali lagi dan tanpa kusangaka-sangka dia langsung menempelkan bibirnya di bibirku. Ada sedikit rasa sakit pada bagian yang di gigitnya tadi siang, tapi aku menikmatinya, aku menikmati sentuhan lelaki ini, tunanganku, calon suamiku.

Lalu dia melepaskan ciumannya.Dan kembali mengecup bibirku dengan lembut dan singkat. “Dari tadi aku sudah menahan untuk melakukan ini.” Katanya sambil menatapku tajam. Apa-apa’an dia, bukannya tadi siang dia sudah menciumku sampai berdarah…? gerutuku dalam hati. Lalu diapun meninggalkan aku untuk menemui kak Renno.

 

Mengingat kejadian semalam itu membuat pipiku memanas, mungkin sekarang sudah memerah seperti kepiting rebus.

“Kamu kenapa merah gitu..?” tanyanya kali ini benar-benar mengagetkanku dari lamunan.

“Ahh enggak, trus Kak Renno gimana..? ngapain dia kesini..?”

“Dia kesini karena kesepian, Nggak jadi balapan karena aku ngga ikut dan kamu nggak bisa di hubungi..” katanya Secuek mungkin. Kadang aku heran Dengan Kak Dhanni. Apa dia menderita gangguan jiwa seperti kepribadian ganda atau gimana gitu. Dia benar-benar bisa membolak-balik ekspresinya, kadang tenang sejuk dan terlihat romantis, kadang Datar dingin dan cuek seperti sekarang ini yang membuatku ingin menceburkannya kedalam Bak mandi.

“Kak… apa kita nggak salah..?”

“Salah..? Salah Apa maksud kamu.?”

“Hubungan kita… apa kita nggak salah terhadap Kak Renno..?”

“Yang salah bukan Kita, tapi kamu,, siapa suruh kamu jadian sama dia.”

“Lah dianya yang maksa,”

“Yaudah berarti itu salahnya.” Lagi-lagi itu dijawab dengan nada cuek bebek. Sial!.

“Apa nggak sebaiknya kita kasih tau hubungan kita aja sama dia..?” tanyaku lagi.

“Lalu kamu mau aku dan dia berantem gitu..? Ness itu terlalu beresiko, kamu percaya deh sama aku. Renno nggak akan lama, paling lama juga sebulan dua bulan atau tiga bulan dia pasti akan cari wanita lain.”

“Tapi kalo enggak gimana..?”

“Terpaksa harus menggunakan kekerasan.”

“Kekerasan..? kekerasan apa maksud Kak Dhanni..?”

“Kamu nggak akan tau, ini urusan Cowok.” Jawabnya Singkat dan padat.

***

 

Dan pagi itupun Kak Dhanni mengantarku pulang, kami berpisah lengkap dengan Ciuman-ciuman menggoda ala dia.. Dan akupun menikmatinya.. aku merindukannya… yah… mengingat sudah tiga hari ini semenjak kejadian pagi itu aku sama sekali tak melihat batang hidungnya lagi.

Dia Sibuk.

Hanya itu jawaban yang aku dapatkan dari mama, sedangkan papa bilang jika dia harus mengurus sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya di luar kota selama beberapa hari.

Dikampus terasa hambar tanpa kedatangannya. Tak ada yang menatapku tajam, tak ada rasa was-was saat kak Renno menempel padaku. Tak ada perasaan aneh yang menuuk-nusuk jantungku saat aku melihat Kak maria. Astaga… apa aku sudah separah ini ketika tak ada dia..? bahkan si dewi juga bilang jika beberapa hari ini aku sering melamun sendiri.

Tak ada Kontak di hp, apa dia sesibuk itu..? bahkan untuk menghubungiku saja enggan. Aku sendiri terlalu malas untuk menghubunginya terlebih dahulu. Gengsiku terlalu besar.

“Sayang.. apa bibir kamu sudah sembuh..?” tanya Kak Renno yang kini berada di sebelahku, kami sedang jalan bersama di taman Kompleks perumahanku. Dan astaga.. bahkan ketika bersama kak renno pun aku masih saja memikirkannya,

“Ehh iyaa.. masih sedikit pedih..” aku berbohong. Padahal aku sudah tak merasakan apapun Cuma ini masih sedikit berbekas.

“Sayang sekali.. padahal aku menginginkannya lagi.”

“apa..?”

“Kenapa,,? Apa kamu nggak mau..?”

“Emmm… emmm…” jujur saja aku tak tau harus berbicara seperti apa, perasannku masih tak menentu. Aku akui jika aku menginginkan kak Dhanni, tapi aku juga menginginkan Kak Renno, yaa meskipun itu tak sebesar keinginannku terhadap Kak Dhanni, tapi bagiku sama saja, toh sekarang yang berada di sampingku Kak Renno bukan kak Dhanni.

Arrrrggghhhhhh…. kenapa semuanya membuatku sebingung ini….

“Ness….”

“Ehh.. iyaa kak… Udah sore nih.. kita pulang yuk..” kataku mengalihkan perhatiannya.

Kak Renno hanya tersenyum simpul terhadapku. “Aku harap kamu memiliki perasaan yang sama terhadapku..” katanya kemudian.

“Ehhh… maksud Kak Renno..?”

“Aku Rasa…. Aku benar-benar mencintaimu.”

Sialan..!

Tidak.. dia tak boleh berbicara seperti itu. Dan aku hanya menegang saat dia mengatakan kata-kata sialan tersebut.  Dan tiba-tiba dia memegang kedua bahuku, memutarku untuk menghadapnya dan mengecup lembut bibirku, hanya kecupan singkat namun mampu membuatku gemetaran.

Aku benar-benar tak tau apa yang harus kulakukan. Aku takut.. aku takut jika Kak Dhanni terlalu lama pergi dan Kak Renno selalu memperlakukanku seperti ini perasaanku jadi berubah, jadi semakin dalam untuk Kak Renno. Dan aku tau jika itu akan menyakiti kami bertiga.

“Ayoo aku antar kamu pulang..” katanya kemudian tanpa memperhatikan wajahku yang sudah memucat.

***

Ini sudah hari ke lima, dan semuanya masih sama.. Kak Dhanni sama sekali belum memberiku kabar.  Kak Renno masih setia menempel kepadaku, bahkan malam ini rencananya kami akan jalan bareng. Yah.. itu lebih baik dari pada hanya di rumah menghabiskan waktu dengan fikiran yang tidak-tidak.

Keadaanku semakin parah, Kata mama aku jadi sedikit rewel tentang makanan, menurutku biasa-biasa saja, hanya saja moodku terlalu buruk akhir-akhir ini. Apalagi ketika membayangkan Kak Dhanni. Aku benar-benar Jengkel dengan lelaki itu. Dia pergi tanpa pamit, tak sekalipun menghubungiku, tak ada kabar yang pasti. Apa dia fikir di gantung seperti ini itu menyenangkan..? Gila.!

Dan ya ampunnn… apa sihh yang aku kangenin dari dia..? seharusnya aku biasa-biasa saja, nggak terlalu lebbay kayak gini.

Aku mendengar suara Klakson mobil di depan rumahku yang aku yakini itu adalah kak Renno. Meski dia sering antar jemput aku, tapi dia tak pernah sekalipun masuk kedalam rumah. Aku tidak mau jika dia bertemu dengan mama atau papa, semuanya akan jadi berantakan apa lagi jika sampai mama atau papa membocorkan hubunganku dengan kak Dhanni pada kak Renno.

Aku memasuki Mobil Sport Tersebut, Kulihat Kak Renno makin hari makin ganteng saja, berbeda dengan Kak Dhanni yang lebih sering mengenakan Celana Pendek saat sedang santai seperti sekarang ini, Kak Renno lebih sering terlihat mengenakan Jeans Pudar dengan beberapa Robekan-robekan Khan anak muda. Dia juga memandangku dengan tatapan takjubnya. Yah… aku akui.. aku memang berbeda sekarang daripada aku yang baru pindah dari jogja. Semua itu karena campur tangan mama tentunya.

“Kita mau kemana Kak..?” tanyaku saat dia mulai tancap gas.

“Aku mau ngajak kamu ketempat biasa aku nongkrong.”

“Tapi aku nggak bisa pulang terlalu malam.”

“Iyaa… kamu tenang aja, nggak akan lebih dari jam 10 kok.” Katanya sambil mengacak-acak rambutku. Kebiasaannya.

Kamipun berangkat tempat yang akan kami kunjungi, adalah di sebuah proyek pembangunan jalan tol yang belum
sepenuhnya jadi dan belum di gunakan. Disini Full anak-anak muda yang akan melakukan balapan, dan aku baru tau jika ini adalah tempat nongkrong Kak Dhanni dan Kak Renno saat mereka balapan.

“Ayoo turun, aku akan ngenalin kamu sama temen-temennku.” katanya kemudian.

Akupun turun, dan kami segera di sambut dengan teman-teman Kak Renno. Disitu juga ada Kak Ramma yang hanya tersenyum miring kepadaku, dia masih sama dengan wanita tua yang sama saat aku pergoki di studio fotonya waktu itu. Benar-benar aneh.

“Heii… apa udah dapat kabar dari si Dhanni.?” Mendengar nama itu di sebut Kak Renno, tubuhku seketika langsung menegang.

“Dia masih sibuk katanya.” Jawab Kak Ramma kemudian.

“Oke… kalo gitu kita mulai aja Racenya sekarang.” Kata Kak Renno kemudian dan dia kemudian memandangku. “Sayang… kamu tunggu di sini yaa..” Lanjutnya lagi sambil mengecup bibirku didepan semua teman-temannya.

Shitt…!!!! Cowok  ini benar-benar tak punya malu.

Setelah Kak Renno pergi, akupun hanya berani berdiri  benyandarkan punggungku di sebuah mobil. Aku tak berani duduk, tentu saja karena malam ini aku menggunakan Rok levis mini di atas lutut. Yaa meskipun ini lebih anjang daripada Rok-Rok wanita yang berada di sini malam ini, tapi aku tetap tidak berani duduk.

Seorang Wanita yang aku yakini sebagai pacar Kak Rammapun datang menghampiriku, wanita tua waktu itu. Hehehe sebenarnya dia tidak tua, mungkin usianya terpaut 3 sampai 5 tahun dari Kak Ramma, Dia sangat cantik. Tapi sama saja, dia tak seharusnya berada di tempat anak-anak nongkrong seperti ini. Tak cocok dengan usia maupun penampilannya yang tergolong Rapi ini.

“Jadi…. Dhanni atau Renno..?” tanyanya kemudian saat dia sudah berada di sampingku.

Sial! Dia mengetahui buhungan rumitku. Akupun haya terdiam tak berani menjawab.

“Aku tidak perlu tau jawabanmu, karena siapapun akan merasa kebinngungan jika diperebytkan dua lelaki hebat seperti mereka.” Katanya kemudian.

Aku tak bingung. Kataku dalam hati.

Aku jelas sudah mengetahui masadepanku dengan Kak Dhanni. Yang aku bingungkan hanyalah bagaimana caranya aku memberi tahu kak Renno tanpa sedikitpun menyakitinya.

Dan akupun hanya diam tanpa sedikitpun menghiraukannya. Aku tak suka tempat ini.

*** 

“Kenapa diam saja..?” tanya Kak Renno sambil memandangku, sekarang kami sedang berada di dalam mobilnya, Di depan gerbang rumahku.

“Ah enggak..” Jawabku kemudian. Sebenarnya saat ini ada yang sedang kufikirkan. Apa lagi jika bukan Kak Dhanni.

Aku kangen….

“Ness…” kata Kak Renno lembut sambil memutar tubuhku.”Aku menginginkannya…” dan sebelum aku bisa mencernya kata-kata Kak Renno dia sudah menempelkan bibirnya pada bibirku. Melumatnya habis penuh dengan gairah. Sama dengan ciuman Kak Dhanni yang menggebu-nggebu. Berbeda dengan ciuman pertama kami di restoran waktu itu.

Aku merasakan tangan Kak Renno berada di tengkukku dan yang satu lagi sudah meraba-raba pahaku.  Ohh
astaga… apa yang akan dia lakukan..?

Dia masih saja mengulum bibirku meski tangannya sejak tadi masih berada di teempat yang sama tidak berani lebih namun masih sesekali mengusap pahaku. Membuatku merinding dengan sentuhannya.

“Stopp…!!” dia menghentikan ciumannya sambil berkata seperti itu. “Kita harus menghentikannya.” Katanya kemudian sambil berpaling dariku.

Aku hanya mengangguk dan menunduk. Apa yang sudah aku lakukan..? aku hampir saja tergoda dengannya.

“Cepat masuk, ini sudah malam.” Katanya kemudian.

Aku mengangguk dan aku cepat bergegas pergi darinya sebelum kejadian barusan terulang lagi. “Ness…” sebelum
aku menutup pintu mobilnya  dia memanggilku kembali dengan lembut. “I Love You…” katanya kemudian membuat aku ternganga sebentar.

“Ehhh… iyaa..” jawabku kemudian sambil menyunggingkan senyum.

“Kamu tau kan bukan jawaban itu yang aku inginkan..?”

“Emmm… emmm…”

“Yaudah,, kamu masuk aja gih… udah malem.” Potongnya kemudian.

Akupun mengangguk. “Met malem Kak… Bye,, Bye,,,” kataku kemudiaan sambil memberinya sebuah lambaian
tanganku.

Diapun membalasnya dengan senyuman lembut khas miliknya dan sebuah lambaian tangan.

*** 

Akupun melangkahkan kakiku masuk kedalam rumah.

Sepi….

Yah,,, karena hari ini mama sama papa memang sedang menghadiri pesta pernikahan salah satu saudara kami yang dilaksanakan di Bogor. Mungkin mereka belum pulang.

Dengan lelah dan langkah gontai akupun bergegas masuk kedalam kamarku yang berada di lantai dua. Sial..! Kak Renno benar-benar keterlaluan. Tadi dia meninggalkanku selama 2 jam lebih saat balapan, dan itu membuat betis dan telapak kakiku sakit karena berdiri terlalu lama. Mengingat malam ini aku mengenakan Sepatu Hak tinggi sialan ini. Huhh… jika tau akan begini aku lebih memilih mengenakan sendal jepit. Dan akupun hanya bisa menggerutu dan mengumpat.

Saat masuk kedalam kamar, alangkah terkejutnya aku mendapati sosok yang sedang berdiri dengan gagah, dengan tangan di lipat didada. Masih mengenakan kemeja berwarna hitam yang cocok sekali dengannya, rambutnya sedikit acak-acakan lengan yang sudah dilipat. Dia benar-benar Hot. Hot As Hell!. Dia seperti Roti yang baru keluar dari pemanggangan.

Aku ingin memakannya.

Menghabiskannya…

Menjilatinya…

Melumatnya…

Stopp..!!!!

Apa yang sudah kufikirkan..? sejak kapan aku berubah menjadi semesum ini..?

“Haii…” katanya dengan suara yang serak dan berat. Suara yang sudah kurindukan selama ini. Padahal ini belum
genap seminggu aku tak bertemu dengannya tapi aku sudah sangat terpengaruh dengannya. Diapun melangkah mendekat kearahku masih dengan milipat tangannya di dada.

“Ehhh… haiii…” balasku kemudian dengan sedikit gugup. Aku terpengaruh dengan atmosfir didalam kamar ini yang berubah jadi panas karena keberadaannya.

Dia masih saja mendekat. Jarak diantara kamipun sekarang semakin menipis. “Bagaimana kencannya sayang…?”

Dan setelah kata-kata itu terucap aku baru menyadari jika aku berada didalam sebuah masalah. Kak Dhanni mengetahuinya. Mungkin tadi dia melihatku saat diadalam mobil kak Renno. Melihat dari jendela kamarku.

Astaga,,, apa yang harus kulakukan…?

___TBC___

Previous Chapter  –  Next Chapter

 

 

 

Advertisements

7 thoughts on “The Lady Killer (Novel online) – Chapter 10

  1. Part ini sedikit pendek ya , dongsaeng 😀 Dhanni , what do you mean ???? Kan ini permintaanmu sendiri , kenapa marah sama Nessa ???? Lebih lembut sedikit sama Nessa ya , Dhan 😉

    Liked by 1 person

    1. nah ini dia yg ditunggu dari kmrn-_- duhh jangan smpe suka sama renno ness udah cocok sama dhani haha. ditunggu chapter berikutnya yaa dan jangan lama2

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s