Uncategorized

The Lady Killer (Novel Online) – chapter 9

image

                  The Lady Killer
Nb : aku tidak menyangka dari rating di blog ini ternyata lumayan juga yg baca storyku ini wAlau hanya satu dua yg nyempetin koment.. bahkan ada sbagian yg inbox di fb untuk segera di lanjut… okehh walaupun laptopnya lagi ngambek aku usahain tetep ngepost… happu reading…

Chapter 9
Sebuah hukuman..

Aku masuk kedalam mobil itu, terasa sangat dingin di dalam, bukan karena AC mobil, tapi karena penumpangnya, entah kenapa aku melihat Kak Dhanni sangat menyeramkan saat ini. Apa yang akan dia lakukan terhadapku..? yah.. aku akui aku salah. Tak seharusnya aku menerima Ciuman kak Renno, bahkan membalasnya. Astaga… apa yang akan dilakukan Kak Dhanni..?

Aku meliriknya, kulihat dia sedang menegang, rahangnya mengeras, dia marah, aku tau itu. Sesekali tangannya mengepal, bahkan memukul setir mobil. Dan apa yang dia lakukan, aku baru menyadari kalau dia tak memakai Cincin pertunangan kami..? sangat tidak adil,bagaimana bisa aku mengenakannya sedangkan ia tidak. Sialan. Akupun kembali cemberut dan memalingkan mukaku kearah jendela. Kecawa, sudah pasti. Arrgghhhh… benar-benar bikin jengkel.

“Kenapa..?” tanyanya dingin.

“Nggak..” jawabku Cuek.

“Gimana Ciumannya tadi..?” dia menanyakan pertanyaan itu dengan nada sinis. Astaga… apa dia sedang menyindirku atau bagaimana..? tentu saja ciuman itu sangat hebat dan lembut, tidak seperti yang Kau lakukan.  Aku hanya bisa menggerutu dalam hati.

“Biasa saja.” Lagi-lagi aku berusaha secuek mungkin.

Emang dia fikir dia saja yang bisa bersikap dingin terhadapku..Tiba-tiba aku merasakan mobil berhenti dengan mendadak. Aku melihatnya dan dia sudah memandangku dengan tajam. Ohh astaga.. tatapannya benar-benar mematikan. Apa aku harus mati disini sekarang juga hanya karena berciuman dengan temannya…? Ohh ayolah… aku tak separah itu… aku tidak seperti dia yang dengan gampangnya berciuman dengan semua wanita menarik di belakangku. Kesalahannku tidak sefatal kesalahannya. Lagi pula bukankah kita terikat hanya karena perjodohan bodoh itu, bukan karena CINTA.

Lalu aku merasakan dia mengangkat daguku dengan jemarinya, memandangi bibirku secara intens, sebenarnya apa sihh yang akan dia lakukan,,? Lalu dia mengusap bibirku dengan ibu jarinya, seakan-akan menghapus sisa ciuman yang diberikan Kak Renno tadi.

“Jangan lakukan itu lagi.” Katanya dingin, dan jujur saja aku merasa merinding saat dia mengatakan itu dengan penuh penekannan. Dan entah kenapa aku merasa aku harus menentangnya.

“Kak Dhanni Nggak berhak…”

“Aku berhak..” dan diapun memotong kalimatku. Dan tanpa ku sangka dia langsung melumat habis bibirku, kali ini dengan perasaan menggebu. Astaga… apa yang dilakukan lelaki ini… aku merasakan sakit sekali di ujung bibir bagian bawahku, bercampur dengan rasa yang aneh, dan benar saja, ternyata dia menggigit bibir bawahku hingga berdarah.

“Ehhhmmmpptt…” kataku sambil mendorongnya menjauh. Aku melihat bibirnya penuh dengan darah, dan aku tau itu darahku. Astaga.. ini benar-benar sakit dan pedih. Aku masih menutupi bibirku dengan tanganku. Aku benar-benar tak menyangka jika Kak Dhanni akan melakukan ini terhadapku. Sialan.!

“Pakek ini.” Katanya sambil memberikan sebuah sapu tangannya dan menekannya di bibirku yang terluka. “Sorry.. ini hukuman buat kamu.” Lanjutnya lagi masih dengan menekan sapu tangannya di bibirku.Aku memandangnya dengan tatapan tanda Tanya, sepertinya dia tau apa yang ada dalam fikirannku. “Dengan begini Si Renno nggak akan Cium kamu lagi.” Jawabnya santai.

Jadi… jadi dia nggak suka liat aku ciuman dengan cowok lain..? apa dia cemburu,,? Apa dia marah..? apa dia… ohh ayolah… katakan sesuatu yang lebih jelas lagi. Dan… hening. Sudah tidak ada apa-apa lagi. Dia tak mengatakan apa-apa lagi. Sial.!

Kamipun saling berdiam diri, dia kembali menjalankan mobilnya. Aku tak tau dia akan melaju kemana karena jujur aku tak tau arah jalan yang sedang dia ambil saat ini.Setelah tiga puluh menit didalam mobil rasanya benar-benar sesak, kami tak berbicara sedikitpun satu sama lain. Aku tau dia masih marah denganku, begitupun sebaliknya, aku masih marah dengannya karena dia sudah menggigit bibirku hingga berdarah, belum lagi kekecewaan karena dia tidak memakai cincin tunangan kami. Huuuhhh benar-benar menyebalkan.

Kamipun berhenti di depan sebuh studio foto besar yang aku fikir ini adalah studio foto tempat para artis-artis berpose, studio foto ini terlihat begitu mewah dan elegan dari luar. Di dalam parkirannya aku melihat Motor Sport yang aku tau adalah Motor Kak Dhanni, tapi kenapa di sini..?

“Kita masuk dulu,” katanya mengagetkanku.

Akupun mengikuti Kak Dhanni masuk, dan benar saja setelah sampai di dalam studio foto itu akupun ternganga, berbagai macam foto artis dan model terkenal Indonesia terbingkai di dinding-dinding studio itu lengkap dengan pose-pose menawannya. Apa tempat ini milik Kak Dhanni..? kurasa tidak, tapi aku kan belum terlalu mengenal Kak Dhanni.

Kamipun menuju kesebuah ruangan yang pintunya tertutup, Kak Dhanni tidak mengetuk dan dia langsung membuka dan masuk begitu saja kedalam ruangan tersebut, Dasar, tidak tau Sopan santun, akupun mengikutinya dari belakang. Dan betapa terkejutnya ketikan aku melihat seorang lelaki yang sedang menindih seorang wanita di atas Sofa panjang, mereka saling menautkan ciumannya bahkan baju si wanita sudah melorot sampai kemana-mana.

“Hei.. mendingan  lakuin itu di kamar hotel sana..” Kata Kak Dhanni santai namun cukup untuk mengagetkan pasangan yang sedang terbuai asmara itu. Mereka lalu memandang kearahku dan Kak Dhanni, sontak aku menundukkan kepalaku, Malu, tentu saja. Ini pertama kalinya aku memergoki sepasang kekasih yang sedang memadu kasih dan hampir Making love. Oh.. sialan.. benar-benar memalukan.

Sang lelaki langsung bangkit dan berdiri sedangkan si perempuan langsung memperbaiki pakaiannnya. “Sejak kapan lo di situ..?” Tanya lelaki itu yang aku baru sadar bahwa tampangnya benar-benar sangat ganteng bahkan mendekati cantik. Hampir mirip dengan actor korea, berbeda dengan Kak Dhanni dan Kak Renno yang gantengnya terlihat Macho.

“Dari tadi.” Jawab Kak Dhanni cuek sambil melompat duduk di sebuah bangku.

“Emm.. jadi ini yang namanya Nessa… manis juga..” katanya sambil memandangi dari ujung kaki sampai ujung rambutku.

“Brengsek Lo!. Awas aja kalo sampek lo deketin dia.” Kata kak Dhanni Sewot.

“Hahahah dia memang seperti anak kecil, iyakan sayang..?” kata lelaki itu padaku dengan nada menggoda.

“Ehhemm..” Si wanita itu berdehem. Aku baru sadar jika dia masih di ruangan yang sama.

“Sialan Lo Ramm..”  Umpat Kak Dhanni.

Dan aku bau tau jika lelaki yang berada di hadapanku ini adalah Kak Ramma, Sahabat dekat dari kak Renno dan Kak Dhanni.  Karena Kak Renno sebelumnya pernah bercerita jika dia mempunyai dua sahabat yaitu Kak Dhanni dan Kak Ramma. Apakah pergaulan Kak Dhanni juga sebebas ini..?

“Sayang aku balik dulu deh… nanti kita lanjutin lagi.” Kata wanita itu sambil menghampiri kak Ramma dan menciumnya dihadapanku dan kak Dhanni tanpa rasa canggung sedikitpun. Astaga… itu membuatku mual.

Apalagi ketika melihat tampangnya, Cantik sih… tapi kurasa itu tidak Cocok dengan Kak Ramma, wanita itu mungkin saja lebih tua dari Kak Ramma. Seleranya benar-benar aneh.

“Hati-hati di jalan Bebbh..” Kata kak Ramma setelah mencium dan memeluknya balik. Mereka sudah seperti suami istri saja.Setelah perempuan itu keluar Kak Ramma menghampiriku.

“Kenalin aku Ramma Aditya, Sohibnya Dhanni sama Renno.” Kata Kak Ramma sambil mengulurkan tangannya.

“Nessa, Nessa arriana..” jawabku sambil menjabat tangan Kak Ramma.

“Tangan Tuh di jaga.. dia udah ada yang punya Ramm.” Lagi-lagi Kak Dhanni berbicara dengan nada yang tak enak di dengar. Dia kenapa sih,,? Cemburu..? astaga.. Cuma salaman doang juga. “Kamu juga… apa kamu mau ku hukum lagi kayak tadi..?” Tanyanya kali ini sambil menatapku tajam.Sontak aku langsung melepaskan uluran tanganku. Aku masih merasakan sakit pada bibir bagian bawahku yang dia gigit tadi, jadi aku tak mau menambahnya lagi. Sialan! Berani-beraninya dia mengancamku.

Aku melihat Kak Ramma hanya tersenyum. “Elo ngapain lagi kesini..? mau pinjam studioku buat  ML..?” Aku membelalakkan mata ketika mendengat kata-kata Kak Ramma yang bagiku tak sopan itu, secara tidak langsung dia menganggapku sering melakukan itu dengan Kak Dhanni.

“Sialan Lo Ramm, Lo kira dia kayak para Wanita jalang Lo itu.?” Kak Dhanni terlihat sedikit marah.Kak Ramma hanya tertawa mendengar umpatan Kak Dhanni. “Gue Cuma mau bawa mobil Lo pulang, dan ini kunci motor gue, bawa aja, Nanti malam Gue nggak ikut balapan.” Lanjut Kak Dhanni.

“Ok.. Ok… Gimana dengan Renno..?”

“Persetan Dengan Renno.” Dan pada detik itu aku tau jika Kak Dhanni masih marah denganku dan Kak Renno. Astaga,,, apa yang sudah aku lakukan..? aku sudah buat hubungan dua sahabat jadi renggang..

***

Kak Dhanni masih terdiam sambil menjalankan Mobil sedan yang kami tumpangi tadi sore, mobil yang aku tau adalah mobil Kak Ramma.Setelah kami keluar dari Studio foto Kak Ramma, kami menuju ke rumahku. Kak Dhanni memaksaku untuk mengganti baju. Katanya dia akan mengajakku makan malam. Apa makan malam yang romantis..? seperti sebuah kencan atau apalah itu…? Dan aku hanya menurutinya walau sebenarnya aku tak tau kemana tujuannya.

“Kenapa diam Saja..? apa bibirmu masih sakit..?” tanyanya memecah keheningan.Aku hanya menggeleng walau ebenarnya masih sedikit perih.

“Sorry.” Katanya lagi tanpa memandangku. Aku hanya terenyum simpul mendengarkan dia minta maaf.

“Kita mau kemana Kak..? aku kan ada janji sama Kak Renno.” Kataku kemudian.Aku melihatnya menggenggam Setir mobil dengan Erat sampai buku-buku jarinya memutih. Dia KeSal dengan perkataanku.

“Nggak akan ada janjian.” Katanya dingin.

“Tapi…”

“Nggak ada tapi Nessa… kamu tau betapa bahayanya balapan itu hahh..? Dia mulai berteriak, aku tau dia menghawatirkanku. Dan aku senang karena itu. “Kita akan makan malam di rumahku. Aku nggak mau makan malam sendiri.”

“Memangnya tante Dian sama Oom Ari kemana kak..?”

“Mereka keluar Kota.” Jawabnya singkat.

“Emmm… kenapa Kak Dhanni nggak pakai Cincinnya..?” tanyaku lagi setengah berbisik, aku tidak berani menanyakan itu padanya, aku takut, aku takut jika jawabanya tak sesuai dengan harapanku.

Dia memandangku dan mengangkat sebelah alisnya. “Cincin…? Cincin tunangan maksud kamu..?” dan aku hanya mengangguk. “Kamu nggak lihat ini..?” katanya sambil mengeluarkan kalung yang tersembunyi di balik kemejanya dan kalung itu berandul cincin tunangan kami. Ak tak menyangka jika dia juga mengenakannnya. Aku hanya berpaling darinya menghadap kejendela dan tersenyum bahagia… oh astaga.. Lelaki Ini bisa-bisa membuatku gila.

***

Kamipun makan malam bersama di dalam rumah Kak Dhanni, di ruang makannya. Rumahnya begitu Wooww… Sebuah Mansion di pinggiran Kota. Gerbangnya sangat besar, butuh bermenit-menit waktu dari gerbang menuju ke bangunan utamanya. Dan juga ada beberapa bangunan kecil diantara bangunan utama rumah ini. Astaga.. aku benar-benar ternganga melihatnya. Bahkan dia juga mempunyai lapangan Golf pribadi di halaman belakag rumahnya yan mungkin lebarnya berhektar-hektar. Kufikir ini tadi istana negara atau sejenisnya. Bahkan interior rumah ini pun membuat Kak Dhanni mengucapkan “Tutup mulutmu jika kamu tak mau air liurmu keluar” kata-kata itu tadi. Sialan!

Satu hal yang baru aku sadari saat kami makan bersama ‘Dia Tak suka Sayur’ betapa jelinya dia memilih sayuran di Nasi gorengnya. Kayak anak kecil aja.

“Sial!. Apa kamu mau milihin ini untukku..? Astaga…. Si bibi makin pikun aja, udah berkali-kali aku bilang aku nggak suka bawang bombai sama wortel tapi masih aja di campur-campur, mana kecil-kecil lagi potongannya.”Aku hanya tersenyum, walau lengkap dengan Umpatan Khasnya aku senang kartena itu adalah kalimat terpanjang yang pernah kudengar darinya.

Akupun mengambil piringnya dan mulai memilih bawang bombai dan wortel tersebut.Aku meliriknya dan dia memandangiku dengan salah satu tangannya yang menyangga Dagunya.

“Apa..?” tanyaku kemudian karena merasa gugup ketika dia memandangku seperti itu.Dia hanya tersenyum.

“Nggak.. nanti setelah kamu jadi istriku, kuharap kamu mau milihin sayur untukku tiap hari.”Dan Akupun hanya tersenyum dan menggeleng.

“Kalo aku jadi istri Kak Dhanni, aku nggak akan masak sayur tiap hari.” Kataku kemudian dan kamipun langsung tertawa bersama. Ini pertama kalinya dia tertawa lepas di hadapanku.

Tiba-tiba seorang pembantu Kak Dhanni menghampiri kami.

“Ada apa.?” Tanya Kak Dhanni kemudian.

“Ada  mas Renno diluar den,,” Kata pembantu itu Sontak membuat kami berdua Kager. Wajahnya memucat, dan aku tau wajahkupun sama. Kami saling pandang satu sama lain.

___TBC___

 

Previous Chapter  –  Next Chapter

Special Cast yaa…

image

Advertisements

10 thoughts on “The Lady Killer (Novel Online) – chapter 9

  1. Dhanni mah kasar bgt sama cewe -_- tadi yg d studio kirain Renno 😀 cemburu ngaku aj cemburu , kagak usah jaim y Dhann 😀 WHAT ???? 😮 apa yg akan terjadi ???? Kenapa Renno tiba-tiba datang ?????

    Liked by 1 person

      1. duhh ceritanya makin bikin penasaran ajaa, kenapa renno tiba2 dateng coba? lanjutnya jangan lama2 please udah kepo sama kelanjutannya hehe

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s