Novel Online · romantis

The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 7

lady killer cover

The Lady Killer

NB ; Untuk kali ini gk pakek catatan yaa… wes… Happy reading aja dah,,, hehhehehe

 

 

Chapter 7

Rumit..

Aku masih menatap pada sesuatu yang melingkar indah di jari manisku, sesuatu pengikat yang tak bisa aku hindari. Tadi malam setelah kami turun ke ruang tamu ternyata Kak Dhanni terang-terangan melamarku di hadapan kedua orang tua kami, melingkarkan cincin indah ini di jari manisku, akupun demikian, melingkarkan Cincin yang sudah dia siapkan ke jari manisnya, namun aku tak tau apa dia memakainya atau tidak, dan aku tak peduli.benarkah aku tak peduli,,,? Oh.. yang benar saja.

Aku masih bingung dengan hubungan ini. Dan juga dengan hubunganku dengan Kak Renno, apa aku harus memberi tahunya..? Terlebih lagi kak Dhanni mau kalau hubungan kita di rahasiakan dulu dari anak-anak, apa dia takut ketahuan apa Fansnya kalau dia sudah terikat denganku..? apa aku sememalukan itu..? Ohh Come on.. kenapa semua jadi serumit ini sih.. saat aku sedang pusing dan memijit-mijit pelipisku, tiba-tiba si pembuat onar datang, yaa.. siapa lagi kalau bukan si Dewi, temanku yang mulutnya Ember,,,

“Haii Dear,,, Kamu tau nggak.. ada kabar baru loh…” pasti dehh yang di bahas si Dewi pasti tentang Gossip.

“Aku nggak peduli Wii kepalaku pusing.” jawabku smbil memijit-mijit pelipisku.

“Tunggu-tunggu…” tiba-tiba dia menggenggam tanganku lalu melotot kearah sesuatu yang melingkar di jari manisku. Sontak aku menarik tanganku kembali dan dia menatapku dengan tajam. Oh… Ayolah.. aku mohon jangan mengada-ada deh wii…

“Kamu dilamar Kak Renno yaa…?” bagaikan di sambar petir di siang bolong aat aku mendengar pertanyaan Dewi tersebut.

“Wi, kamu nggak usah mengada-ada deh..”

“Mengada-ada gimana..? terus itu cincin apa..?”

“Cincin Mama yang beli di pasar Loak.” Jawabku asal-asalan.

“Ngaco kamu, mana ada Cincin di pasar Loak modelnya begitu.”

“Ada.. Nii buktinya..” Jawabku lagi sambil menyodorkan Tanganku.

“Ness.. kamu fikir aku Tollol apa.. semua orang juga tau kalau ini tuh cincin tunangan.”

Skak Match .. Aku sudah tak dapat menjawabnya kembali, Walau mulutnya suka nggossip seperti Ember Bocor, tapi Dewi memang tergolong sebagai mahasiswa berprestasi. Dan aku tau aku tak kan bisa membohonginya. Apa aku harus bercerita dengannya..? Nggak, itu nggak mungkin, secara Dewi ngefans banget sama Kak Dhanni, Kalau sampai dia tau aku tunangan sama Kak Dhanni, mungkin dia akan menjadi orang pertama yang jadi Heatersku, ngebully aku. Nggak.. itu nggak boleh terjadi.

“Ness.. kamu nggak coba untuk ngalihkan pembicaraan kita kan..? Tanya dewi ketika melihatku sedang melamun.

“Udah deh… mendingan kita ke kantin, yukk.. yukk..” ajakku.

“Oke.. tapi kamu yang teraktir ya,,,?” katanya sambil cengingisan. Huhh… Dasar perut karet, giliran makan aja langsung lupa sama yang lainnya.

“Iyaa…” kataku sambil menyeretnya.

***

Sesampainya di kantin aku melihat Dia..? Dia siapa..? Pacarku atau tunanganku…? Entah lah… yang jelas mereka sedang duduk bersama dengan teman-temannya, dan apa yang Kak Dhanni lakukan, dengan santainya dia membiarkan Kak Maria bergelantungan mesrah di lengannya…? Dia hanya melirikku sebentar, namun pandangannya masih sama, seakan-akan kita tak pernah kenal. Apa dia lupa sama apa yang dia lakukan tadi malam…? Sialan.! Laki-laki Brengsek..

“Nessa.. sini sayang..” Kak Renno berdiri dan memanggilku dengan mesrah di hadapan semua orang di kantin. Astaga… Cowok ini benar-benar tak tau malu.

Dengan muka memerah akupun menuju ke tempat duduk di sebelahnya, dan tanpa kusangka-sangka Kak Renno langsung memelukku. aku melirik sekilas kearah Kak Dhanni, dan… Tidak ada apa-apa, Ekspresi wajahnya datar sedatar Tembok. Pandangan matanya biasa-biasa saja, tidak menunjukkan sesuatu apapun, aku hanya sedikit melihat kalau rahangnya agak mengeras, apa dia marah..? Cemburu mungkin..? Ohh ayolah Ness.. kamu nggak usah ke Ge-eran gitu deh. Aku pun hanya menunduk lessu disitu, aku bosan, cara mereka ngomong tidak dapat kumengerti, yah,, wajar lah.. mereka anak gaul, anak Kota, Anak metropolitan, sedangkan aku, aku hanya anak rumahan. Temanku disini yang mengerti ya Cuma Si Dewi, itupun Karena dia sama kayak aku, Sama-Sama ‘Anak Rumahan.’ Dan aku baru sadar kalau sejak tadi si Dewi sudah meninggalkanku di sini sendiri, astaga… itu anak bener-bener deh..

“Sayang, nanti malam ikut Kakak yuk..” kata Kak Renno sambil membelai rambutku, aku gugup.

“Kemana Kak..?”

“temenin Kak Renno balapan yah…”

“Itukan bahaya Kak..” jujur saja aku sedikit khawatir dengannya, bagaimanapun juga aku memang menyayangi Kak Renno karena dia baik denganku selama ini.

Kak Renno malah mencubit pipiku dengan Gemas, “kamu Mengkhawatirkanku…? Tenang saja, Kak Renno sudah terbiasa balapan kok.”

“kalau ada polisi gimana..?”

“Emmm kita kabur… hahhahah” Kak Renno memang paling bisa mencairkan suasana. Tiba-tiba aku merasakan dia mencium pipiku. Dan aku hanya diam terperangah dengan apa yang dia lakukan. Yah.. walau itu Cuma di pipi tapi sama saja, aku bukan Type orang yang suka mengumbar kemesraan di depan publik. Aku malu. “Aku suka melihatmu mengenakan Pakaian seperti ini.” Lanjutnya lagi membuatku memandangi diriku sendiri.

Yahh.. hari ini aku memang agak berbeda. Mengenakan T-shirt Ketat ala cewek, dengan Rok Levis yang mempunyai tali slempang di kedua pundakku yang panjang roknya di atas lutut -tapi masih sopan- dengan kombinasi Sepatu Boots  ala korea yang panjangnya sampai mata kaki tanpa kaus kaki. Sebenarnya aku nggak PD memakai ini ke kampus, tapi kata mama tadi pagi aku terlihat berbeda, terlihat lebih Girly.. untung saja betisku putih bersih, kalau nggak mana mungkin aku berani mengenakan ini. Saat pertama kali menginjakkan kaki di kampus pagi ini, entah sudah berapa orang yang menyapaku, mereka terlihat berbeda, apa karena aku berbeda dari hari biasanya..? Sialan, mereka benar-benar menilai orang hanya dari penampilan luarnya saja.

Dan Kak Dhanni..? Dia sama sekali tak melirikku. Padahal aku dandan seperti ini juga untuk siapa… Oopppss tunggu dulu, Apa aku dandan seperti ini untuk Kak Dhanni..? Aaagggrrhh….. tak tau lah… aku pusing.. ini benar-benar rumit..

“Sayang.. nanti kita makan siang bareng yukk…” kata-kata Kak Renno menyadarkanku dari lamunan.

“Gue Duluan Ren..” Tiba-tiba suara berat itu mengagetkan kami, aku mendongak ke atas dan mendapati Kak Dhanni sudah berdiri, tanpa melirikku sama sekali.

“Mau kemana..? kok buru-buru.” Jawak Kak Renno.

“Mau Mojok sebentar.” Kata kak Dhanni sambil melirikku dengan tajam “Ayo sayang..” lanjutnya lagi sambil menarik tangan Kak maria dan menggandengnya mesrah lalu meninggalkan kami. Sialan! Benar-benar laki-laki bajingan.

“Kamu kenapa sayang?” kata Kak Renno memandang wajahku.

“Enggak,,, aku nggak apa-apa kok, memangnya kenapa kak..?”

“Kamu pucat, ada massalah..?” Oh.. Kak Renno benar-benar kekasih yang perhatian.

“Enggak kak, aku ke toilet dulu ya..”

“Ok, hati-hati ya…” Lalu Kak Renno mencium keningku, dan entah kenapa aku merasakanseperti ada sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhku.

***

Setelah merasa sudah cukup membersihkan wajah, aku keluar, dan tanpa kusadari tiba-tiba ada sebuah tangan yang sudah mencengkeram pergelangan tanganku, menyeretku deareah sepi di belakang toilet. Aku mendongak menatap siapa si pemilik tangan itu. Dan tentu saja, Itu adalah Kak Dhanni, Tunanganku yang Brengsek.

Aku menghempaskan tangannya dengan kasar. “Kak Dhanni mau apa sih..?” kataku sambil memegangi pergelangan tanganku yang sudah memerah akibat ulahnya.

Dia malah memegang bahuku, mendorongku kedinding di belakangku memepetku dengan tubuhnya, Dejavu, aku merasakan sama saat aku berada di kamar tadi malam, ohh.. Pliss.. Jangan lakukan hal yang sama di sini, bagaimana kalau ada yang melihat..

“Apa kamu tau diamana salahmu..?”

“Nggak” jawabku cuek.

“Kenapa pakai baju seperti ini..?” katanya lagi, nadanya sangat dingin, bahkan aku merasa menggigil saat di dekatnya.

“Bukan.Urusan.Kak Dhanni.” Entah kenapa ada suatu keinginan untuk melawannya. Aku melihat dia memejamkan matanya sambil menghela nafas panjang.

Kak Dhanni melangkah lagi kedepan memepetku sampai seluruh tubuhnya menempel seluruhnya di tubuhku, apa coba maksud ni orang.

“Kamu tau, kalau kamu udah bikin semua Lelaki sialan yang memandang kamu jadi seperti ini..?” nasasnya terasa sejuk di ubun-ubunku. Dan astaga,,, aku baru menyadari ucapannya ketika akumerasakan sesuatu yang keras menempel di perutku. Sontak aku langsung mendorong dadanya untuk menjauhihu.

“Kak Dhanni menjijikkan.”

“Kamu yang menjijikkan, apa kamu mau menjadi wanita jalang murahan seperti mereka, Hahh..?” dia marah, aku tau kalau dia marah. Dia berteriak kepadaku. Apa hanya karena berpenampilan seperti ini dia jadi kalap seperti ini…?

Aku merasakan mataku sudah berkaca-kaca. Apa… nangis..? nggak.. aku nggak boleh nangis di sini. Aku hanya merasa kesal sama Kak Dhanni. Kenapa dia menyebutku ‘Jalang murahan’ padahal aku ingin berpenampilan menarik di hadapannya.

“Pakai ini.” Katanya sambil melemparkan sebuah jaket untukku. Lalu dia melangkah pergi tanpa sedikitpun menoleh ke arahku, setelah beberapa langkah, aku melihatnya menghentikan langkahnya, dia berhenti. Apa diaa akan meminta maaf. Aku menunggu kata maafnya. “Ingat, jangan pakai pakaian seperti itu lagi.” Katanya tanpa membalikkan badan kearahku, lalu dia berlalu pergi meninggalkan aku begitu saja. Oh tuhan… cowok itu benar-benar membuatku jengkel.

***

“Kamu suka..?” Tanya Kak Renno saat dia melihatku menghabiskan makananku. Kami saat ini sedang makan siang bersama dia sebuah Restoran ternama di Jakarta.

Aku hanya mengangguk. Aku memang lapar, dan aku tak pernah malu-malu saat makan dengan pacar-pacarku. Biar saja mereka menganggapku sebagai babi yang kelaparan asalkan perutku kenyang aku tak peduli.

“Dari mana kamu mendapatkan jaket itu..?” untung saja aku tak tersedak saat mendengar pertanyaan Kak Renno.

“Kenapa emangnya Kak..? ini Jaketku yang dibawa Dewi.” Kataku sesantai mungkin, aku tak mau terlihat gugup.

“Ohh… aku kira itu jaket cowok, modelnya seperti punya seorang cowok.”

“Emang.” Tanpa sengaja aku keceplosan, dan menepuk bibirku sendiri. “Emm maksudku ini jaket milik mantan aku yang ada di Jogja Kak.” Lanjutku.

“Kamu masih suka yaa sama dia, kok kamu masih nyimpen barang-barangnya.”

“Kalau sudah putus yaa berarti udah nggak sayang, masalah nyimpen kan sayang, jaket Armani gitulohh masak mau di buang begitu aja sih..” dan akupun melihatnya tersenyum sambil mengacak-ack rambutku.

“Aku kira itu tadi jaketnya Dhanni. Dia punya satu yang mirip banget sama ini, bahkan Aromanyapun sama.” Dan akupun langsung menegang saat Kak renno selesai berbicara. Yahh.. aroma parfum Musk kombinasi kayu-kayuan menempel di jaket ini, Aroma Khas Kak Dhanni.

Tanpa menghiraukan aku yang masih menegang, tiba-tiba Kak Renno mengalikhan pembicaraan, “Kamu sudah selesai makannya..? aku antar pulang ya…”

“Emm.. nggak usah kak.. aku ada janji sama Dewi.”

“Kalau gitu Kakak Temenin yaa..” hadehh nii cowok kenapa sihh kok pengen nempel terus, aku sebenernya nggak ada janji sama Si Dewi, aku Cuma ingin menghindarinya dulu, entah kenapa aku merasa bersalah terhadapnya.

“Beneran, nggak usah kak,, ini bener-bener acara perempuan.” Aku nggak mau kalah.

“Kalo gitu kak renno antarin ketempat kamu janjian yaa..” iiihh.. bener-bener nggak mau ngalah nii cowok.

“kita ketemuan di sini kak..”jawabku sekali lagi mengelak. Dan kak Renno hanya menghela nafasnya.

“Oke kalau gitu.” Di berdiri akupun berdiri. Lalu dia menghampiriku. Tanpa kusangka-sangka dia mencium bibirku dengan lembut, saking lembutnya sampai aku memejamkan mataku, merasakan terbang keawan, perasaan ini kembali muncul, perasaan yang sama saat Kak Dhanni menciumku. Perasaan seperti sekujur tebuhku tersengat oleh aliran listrik.. ohh.. No… jangan bilang kalau aku sudah mulai mencintai kak Renno. Tanpa kusadari aku sudah membalas ciumannya. Ohh tuhan.. apa yang sudah aku lakukan…? Aku berciuman di depan Umumm…????  Astaga…

Dia melepaskan ciumannya lalu memandangku dengan senyuman Khasnya. “Aku sangat senang ini mencadi ciuman pertama kita.” Kata-katanya sukses membuat pipiku merona merah. “Hati-hati di jalan ya.. hubungi aku kalau ada sesuatu.” Katanya sambil membelai pipiku dengan ibu jarinya. Aku hanya mengangguk. Lalu Kak Renno lagi-lagi mengecup keningku. “Bye.. bye…” katanya lalu meninggalkanku yang berdiri terpaku memandang kepergiannya.

Astaga.. apa yang aku lakukan…? Aku sadar kalau aku akan menyakiti hati seorang yang benar-benar menyayangiku. Kak Renno. Akupun terduduk lemas sambil mengacak-acak rambutku. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Saat kulihat di layar hanya terdapat nomer baru.

“Hallo..” kataku malas-malas mengangkat telepon.

“Lihat keluar jendela.” Kata suara di sebrang dengan dingin. Sepertinya aku tau suara siapa itu. Aku mengedarkan pandanganku keluar jendela, kebetulan saat itu Kak Renno memesan tempat  duduk pas di sebelah jendela kaca transparan yang ada di restoran tersebut, jadi aku bisa memandangi pemandangan di luar jendela, begitupun sebaliknya. Tunggu.. berarti tadi pas aku ciuman di saksikan banyak orang dari luar dong… Ooh tuhan.. rasanya aku ingin menenggelamkan diri saja di dalam laut.

“Mobil sedan Hitam di sebelah pohon.” Kata suara itu kembali. Dan saat ku edarkan pandanganku, aku melihat Dia sedang memandangku dengan Tajam dari dalam mobil tersebut. Dia adalah Kak Dhanni. God..  sejak kapan dia berada di situ, jangan bilang kalau kak Dhanni melihat kejadian tadi.

Entah kenapa tiba-tina tubuhku menegang, bagaimana kalau dia melihat kejadian tadi..? astaga.. aku benar-benar merasa seperti ‘Jalang murahan’ seperti yang kak Dhanni bilang tadi.  Aku melihanya memberikanku isyarat untuk menemuinya. Akupun berjalan keluar dari restoran dan menuju ke tempatnya.

“Masuk” katanya saat aku sudah sampai di hadapannya. Nadanya benar-benar dingin. Apa yang akan dia lakukan terhadapku…?

___TBC___

Previous Chapter  –  Next Chapter

 

 

Advertisements

10 thoughts on “The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 7

  1. Dongsaeng , ceritanya makin seru >.< si Dhanni mah suka-y seenaknya aja…mending si Renno ❤ maksud sikap Dhanni apaan coba ???? Dhanni bikin sebel aja sih…kagak bisa ngbayangin gimana reaksi Renno jika tahu kalau sahabatnya sendiri Dhanni bertunangan dengan pacarnya 😀 d tunggu kelanjutanya y , dear ❤

    Liked by 1 person

  2. dhani bener” marah nich
    tapi salah dia jugakan kenapa minta dirahasiakan hubungannya dengan nessa kan kasian renno juga harus diboongin padahal nessa juga pengen jujur soal statusnya

    Like

  3. Dhanni bkin penasaran,,Renno penuh prhatian… Klo qu jd Nessa tentu bakalan bngung milih yg mana hihihihiihi
    dua2nya bkin jantung brdebarrrrr

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s