Novel Online

The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 6

Screenshot_2015-06-28-02-08-48-1

The Lady killer

 

Chapter 6

Well… jadi seperti ini..??!!

Aku menguatkan kedua kakiku agar mampu menahan tubuhku yang sedikit limbung. Aku benar-benar Syokh atas kedatangannya. Dia mau apa..? kenapa dia di sini..? dan… kenapa dia mengenakan pakaian yang rapi..? penampilannya benarbenar berbeda.

“Hai..” katanya sambil tersenyum, dan senyuman itu membuatku bergetar, membuat jantungku berpacu lebih cepat lagi dari pada semenit yang lalu. Aku rasa aku akan mengalami serangan jantung malam ini. Dia berbeda.. Kak Dhani berbeda malam ini. Yah… lelaki yang berdiri dihadapanku saat ini adalah Kak Dhani. Lelaki yang beberapa hari ini kubenci, kuhindari, karena mengecewakan aku, menyakiti aku, membuatku marah, dan membuatku cemburu setengah mati. Si Lady Killer. Oh.. god… aku mohon, jangan bilang kalau dia Mr. X. aku nggak bisa membayangkan bagaimana aku akan menikah dengan lelaki yang paling tak setia sedunia ini, meskipun dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku senang karena mungkin aku akan memilikinya. Stop it.. apa yang sedang kufikirkan..?

“Ke.. kenapa.. kak.. kak Dhani di sini..?” kataku tergagap.

Dia hanya tersenyum. “ini untukmu.” Sambil menyodorkan se ikat bunga mawar merah. Dia benar-benar perayu ulung. Dan astaga… dia benar-benar berbeda dengan hari-hari biasa. Malam ini dia mengenakan kemeja lengan panjang hitam yang melekat pas di tubuhnya dengan lengan yang di singsingkan sesikunya. Celana Khaki yang lagi-lagi pas dan cocok sekali dengannya dan kemejanya. Rambut yang di sisir rapi keatas, dan tak lupa kacamata hitam nya yang membuat aku sesak nafas karena itu benar-benar membuatnya semakin keren. No maksudku dia dewasa dan Keren, Sexy dan Hot, Macho dan menggairahkan.

Stop it… aku tak boleh terpengaruh dengan penampilannya.

“I.. Inii. Untuk apa..?” aku lagi-lagi tergagap.

“Untukmu.” Lalu dia membuka kacamatanya. “Apa aku boleh masuk..?” dan diapun menyerobot masuk kedalam.

“Kak.. kak Dhani nggak bisa….”

Tapi dia tetap masuk walaupun aku melarangnya, dan belum sempat aku mlanjutkan kata-kataku, dia sudah membuatku kaget dengan sikapnya.

“Malam Oom.. Tante.. Mi.. Pi..” katanya sambil menganggukkan kepala kepada orang tuaku. No.. Wait.. Mi..? pi..? jadi maksudnya.. dia benar-benar Mr.X…? Calon suamiku..? Tapi.. bagaimana bisa..? lalu tanpa sadar dia sudah menarik lenganku menuju ke meja makan. “Ayoo.. kamu ngapain bengong di situ.” Dan aku masih tetap terperangah menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

“Wah.. kamu ganteng sekali..” kata mama yang aku perhatikan juga terperangah dengan penampilan kak Dhani, yah… dia memang ganteng dan Keren sekali, bahkan 100 kali lebih keren dari penampilan sebelum-sebelumnya pas aku lihat dia di Kampus. Dia Rapi tapi keren, Ganteng dan Cool, Dewasa dan… pokoknya aku kehabisan kata-kata untuk menggambarkannya. Yang jelas dia kelihatan berbeda. Dan seperti inikah sisi aslinya…?

“Ah.. tante bisa saja.. Tante juga cantik..” Dan mamapun ikut dibuat memerah pipinya dengan sanjungannya. Dia memang perayu ulung.

Dan kamipun makan malam bersama, mereka saling bertukar cerita saat makan, sedangkan aku, aku hanya diam. Bahkan aku tak berselera makan sama sekali. Aku tak tau apa yang terjadi denganku, bagaimana perasaanku. Lelaki yang duduk di sebelahku saat ini sudah mengaduk-aduk perasaanku beberapa hari ini. Dan apa yang dia lakuan..? dia hanya makan dan sesekali ikut tertawa tanpa ada beban yang mengganggunya.

“Apa yang kamu fikirkan..?” dia sedikit berbisik.

“Ya..” aku kaget dari lamunannku. “Emm… nggak ada.” Jawabku singkat.

“aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Berdua saja.” Dia menekankan kata ‘Berdua’. Apa maksudnya..?

“Ngomong saja.” Kataku selanjutnya.

“Nggak bisa.”

“Kenapa nggak bisa..?” aku masih tak mau menatapnya, yah.. aku takut terpesona sampai sesak nafas saat melihatnya.

“Ini pribadi, dan harus di omongin hanya empat mata denganmu.”

Aku hanya diam.

“Ness..” panggilnya menyadarkanku.

“Baiklah.. nanti setelah makan.” Jawabku pasrah. Sebenarnya aku tak yakin apa aku sanggup hanya berdua saja dengannya. Jujur saja, aku masih kaget dan masih susah menerima kenyataan ini.

***

Setelah makan.

“Ness.. ajak nak Dhani ke atas gih.. siapa tau kalian mau ngomong sesuatu.” What..? apa maksud mama dengan ‘keatas’..? mama ngggak mungkin nyuruh aku ngajak dia ke kamar kan..?

“Iya.. kekamar kamu, kemana lagi..? Mama sama Papa mau membicarakan sesuatu disini dengan tante Dian sama Oom ari. Lagian sebentar lagi kalian kan akan menikah jadi nggak apa-apa.” Dengan senyum mama mengatakannya seakan-akan mama bisa membaca fikiranku. Lagi-lagi aku hanya pasrah, aku melihat di ujung mataku kalau Kak Dhani tersenyum, ada apa dengannya..? apa aku terlihat lucu…? Persetan, aku nggak mau peduli dengan apa yang dia fikirkan.

Kulangkahkan kakiku menaiki tangga, dan kurasakan dia mengikutiku dari belakang. Tiba di depan kamarku aku membukanya.

“Mirip sekali dengan Orangnya.” Katanya tepat di belakangku membuatku terlonjak dan merinding. Kenapa dekat sekali..? hemmmbb…

“Apa maksudnya..?”

Tiba-tiba dia mendekat, menyibakkan rembutku yang tergerai kearah samping, lalu memajukan wajahnya dan mengecup lembut leherku, mengirimkan gelenyar aneh yang merayap ke sekujur tubuhku. “Tidak terlalu Feminim.” Ucapnya lembut, membuat bulu kudukku meremang. Sialan! Cowok ini bener-benar perayu ulung.

Pliss Ness.. kamu nggak boleh tergoda dengannya. Aku memejamkan mataku lalu membalikkan badanku. Menatapnya tajam “Sebenarnya Kak Dhani mau ngomong apa..?” tanyaku sedikit dingin terhadapnya.

Ada kilatan aneh di matanya, seperti perasaan marah atau kecewa, memangnya apa yang sudah kulakukan..? Tanpa kusangka dia memegang kedua bahuku lalu membalikku kearah pintu yang tadinya di  belakang kami, mendorongku dan memepetku diantara pintu. Jarak kami terasa sangat dekat, aku bisa mencium aroma parfum Musk yang sangat sexy dan maskulin darinya, bahkan nafas hangatnya yang berbau mintpun aku dapat merasakannya, membuatku ingin segera mencumbunya. Damn! Apa yang sudah aku fikirkan..?

Melihatku yang sedikit melamun membuatnya menyunggingkan senyuman miringnya yang terkesan mengejekku. “Kenapa…? Apa kamu gugup..?” katanya yang kali ini tangannya sudah menjelajahi wajahku, Oh tuhan… apa yang akan dilakukan iblis ini..?

“Kak.. Kak Dhani.. Mau.. apa..?” aku terpatah-patah mengucapkannya, menahan gelenyar aneh yang merayapi seluruh tubuhku.

Dia semakin mendekatkan tubuhnya hingga seluruh tubuh kami saling bersentuhan, aku yang mengenakan High Heels jadi mempunyai tinggi yang sama dengannya. “Apa kamu tau..? aku sangat merindukanmu beberapa hari ini. Tapi tatapanmu dingin kepadaku.” Katanya lembut lalu lagi-lagi dia mengecup lembut leherku. “Aku suka sekali dengan lehermu.. bahkan Aromamu membuatku menggila.” Katanya lagi menggodaku.

Cukup.

Aku memegang dadanya maksud hatiku ingin mendorongnya menjauh, namun saat aku menyentuhnya kurasakan debaran jantung aneh yang berdetak sangat kencang seakan-akan mau meledak. Aku menatap dadanya lalu aku menatapnya dan dia menatapku dengan tajam. Aku bingung. Kenapa jantung lelaki ini berdebar kencang hampir sama dengan debaran Jantungku.? Apa dia juga merasa Gugup.? Tiba-tiba aku merasakan tangannya menyentuh telapak tanganku yang masih berada di dadanya.

“Apa kamu merasakan Jantungku..? Yahh.. aku selalu seperti ini saat bertemu denganmu.” Lalu tanpa peringatan apapun dia mendaratkan bibirnya dengan sempurna di bibirku, melumat habis, menjejalkan lidahnya kedalam rongga mulutku, akupun tak mau kalah. Kami berdua saling membalas ciuman ini, lidah lami saling menari sesekali dia menggigit bibir bawahku. Oh… Shit! Aku tak pernah melakukan Kiss yang panas seperti sekarang ini. Apakah ini yang di sebut dengan French Kiss..? I Don’t Know.. But This Kiss is Verry Hot.. Shit..! Holly Shit..! satu hal yang ku sadari saat bertemu dengannya, aku jadi sering menyumpah. Shit!

Tanpa sadar jemariku sudah meraba-raba dada bidangnya, aku juga sudah merasakan tangannya mngusap lembut punggung dan rambutku. Dia mendesah diantara ciuman kami, dan astaga.. Desahannya benar-benar terdengar Hot.  Tiba-tiba cumbuannya beralih ke Rahangku, turun ke leherku, aku hanya memejamkan mata sambil menikmati ini semua. Tuhan.. hentikan aku saat ini, jika tidak aku tak yakin ini akan berhenti dengan sendirinya. Otakku memang memberontak, mengatakan jangan, namun tubuhku bereaksi lain, aku menikmatinya. Sialan.

Aku merasakan gaunku sudah agak longgar, rupanya dia sudah membuka Resleting gaunku yang ada di punggungku. Satu tali gaunkupun sudah melorot dia sudah mencumbui area pundakku. “Ohh God.. jangan pernah memakai pakaian seperti ini di hadapan lelaki lain.” Katanya Parau, masih dengan mencumbuku. Aku hanya mendesah pasrah. Mengalungkan lenganku di tengkuk lehernya, meremas rambutnya dengan jemariku. Kakiku lemas. Serasa tak dapat berdiri sendiri. Tuhan… tolong akhiri siksan ini..

Dia beralih ke bibirku kembali, melumatnya lagi, kali ini dengan tangan yang sudah mendarat sempurna di kedua dadaku. Apa yang dia lakukan..? apa dia akan membunuhku dengan kenikmatan..? Damn!. Tiba-tiba aku mendengar pintu belakangku di ketuk.

“Dhani.. Nessa.. ayoo keluar sebentar.” Suara maminya menghentikan aksi kami.

Thanks God..!

Ditempelkannya keningnya di keningku, nafas kami masih tersenggal-senggal. Dia menatap mataku dengan tajam.

“Dhan.. Ness.. Kalian di dalam kan..?” Suara itu muncul kembali karena kami tak menjawabnya.

“Iya mi.. tunggu sebentar.” Katanya susah payah sambil mengatur nafasnya. Dibenarkannya resleting serta letak gaunku. “Sorry.. Aku terbawa suasana.” Katanya dengan nada dingin tanpa menatap wajahku. Di bukanya pintu kamarku. Dan benar saja aku melihat tante Dian sedang berdiri terpaku melihat keadaan kami. Ada apa..? apa kami berantakan..? sontak aku langsung merapikan Rambutku.

Aku melihat kak Dhani yang rambutnya sedikit berantakan karena Ulahku, Wajahnya sedikit mengeluarkan keringat, dan itu membuatnya semakin tampan. Sialan!. Kemejanyapun basah karena keringat. Aku yakin aku juga seperti itu karena aku merasa Gerah dan ingin segera mengganti baju. Sejak kapan kamarku jadi panas seperti Oven..?

“Kalian sedang apa..?” tanyanya masih dengan tatapan tanda Tanya.

“Nggak ngapa-ngapain mi.” Jawab kak Dhani cuek. Dia paling bisa menyembunyikan perasaannya.

“Jangan Macam-macam Dhani, Mami nggak mau kamu berbuat aneh-aneh.”

“Astaga mi.. toh kita nanti juga akan menikah.” Jawabnya enteng.

“Tapi masih nanti. Sudah sekarang kita turun dulu.dan… Perbaiki penampilan kalian.” Setelah kalimat terakhir tante Dian aku jadi semakin salah tingkah. Aku kembali kedalam kamar mengaca untung saja aku tak berteriak. Aku benar-benar kaget dengan penampilanku. LipGlossku Sudah sampai kemana-mana, rambutku acak-acakan, gaunkupun terlihat basah, wajahku apalagi, merah seperti kepiting rebus. Astaga.. mau di taruh dimana mukaku nanti saat bertemu dengan Tante dian lagi, aku benar-benar malu setengah mati. Aku mendengar kak Dhani hanya tertawa melihat kelakuanku yang sudah salah tingkah. Sialan.! Cowok itu benar-benar Gila.

___TBC___

Previous Chapter  –  Next Chapter

 

 

Advertisements

7 thoughts on “The Lady Killer (Novel Online) – Chapter 6

  1. Gyaaaaa aku nge fans sama kak dhaniiii ><
    annyeonghaseo eonni,naneun cho jung rin imnida
    reader baru blog eonni
    maaf baru komen di part ini hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s